Laqadja akum rasulum


web stats

Minggu, 17 Juli 2022

7 Malaikat Penjaga Langit

7 Malaikat Penjaga Langit 

Diriwayatkan dari Ibnu Mubarak, dia meriwayatkan dari seorang lelaki bernama Khalid bin Mi`dan bahwa ia berkata kepada Mu`adz, “Ceritakan kepadaku sebuah hadis yang pernah kau dengar dari Rosululloh saw., yang kau hafal dan ingat setiap hari karena susahnya dan dalam maknanya.”

Mu`adz menjawab, “Baiklah.”

Kemudian Mu`adz menangis dalam waktu yang cukup lama lalu berkata, “Betapa rindunya aku kepada Rosululloh saw. dan betapa rindunya aku ingin berjumpa dengannya.”

Kemudian Mu`adz melanjutkan, “Aku pernah bersama Rosululloh saw. Saat itu belia sedang menaiki kuda, sedangkan aku berada di belakangnya. Kami kemudia berjalan bersama.

Tiba-tiba Rosululloh saw. menengadahkan wajahnya ke langit seraya berkata, `Wahai Mu`adz, segala puji bagi Alloh yang telah menciptakan segala sesuatu menurut kehenda-Nya.`”

Aku menjawab, “Tentu, wahai Rosululloh.”

Rosul berkata lagi, “Aku akan mengatakan kepadamu sebuah hadist, jika kau bisa menjaganya, ia akan memberikan manfaat kepadamu, tetapi jika kau menyia-nyiakannya, hujahmu di hadapan Alloh akan terputus.

Wahai Mu`adz, sesungguhnya Alloh telah menciptakan tujuh malaikat sebelum menciptakan langit dan bumi. Pada setiap langit ditempatkan satu malaikat yang menjaganya, dan pada setiap pintu-pintu langit terdapat satu malaikat penjaga sebesar pintu langit.

Malaikat pencatat amal naik membawa amal seorang hamba yang memiliki sinar dan cahaya seperti matahari, sehingga ketika sampai ke langit dunia, malaikat pencatat amal itu akan melipatgandakan dan membersihkan amal itu.

Apabila telah sampai ke pintu langit, malaikat penjaga berkata kepada malaikat pencatat amal, `Lemparkan amal itu ke muka pemiliknya! Aku adalah malaikat pemeriksa gibah. Tuhanmu telah memerintahkan untuk tidak membiarkan amal orang yang menggunjing orang lain itu melewatiku dan lolos kepada malaikat selainku.`

Selanjutnya malaikat pencatat amal naik membawa amal saleh yang bersinar dan telah dilipatgandakan dan dibersihkannya itu menuju langit kedua.

Sampai di pintu langit kedua, seorang malaikat penjaga berkata kepadanya, `Berhenti! Lemparkan amal itu ke muka pemiliknya, sebab ia hanya menginginkan gemerlapnya dunia. Tuhanku memerintahkan aku untuk tidak membiarkan amalnya melewatiku.` Para malaikat pun mengutuknya hingga petang hari.

Malaikat pencatat amal terus naik membawa amal si hamba yang bersinar-sinar dan berisi sedekah, puasa, dana mal kebaikan lainnya. Malaikat pencatat amal pun melipatgandakan dan membersihkannya.

Sesampai di langit ketiga, seorang malaikat penjaga berkata kepadanya, `Berhenti! Lemparkan amal itu ke muka pemiliknya! Aku adalah malaikat pemeriksa takabur. Tuhanku telah memerintahkanku untuk tidak membiarkan amalnya melewatiku. Dahulu ia selalu menyombongkan diri dihadapan manusia dalam setiap majelis mereka.`

Setelah itu malaikat pencatat amal naik membawa amal si hamba yang bercahaya seperti cahaya bintang yang berkilau di angkasa karena dipenuhi dzikir dan tasbih ketika sedang menjalankan puasa, sholat, haji, dan umroh.

Sesampai di pintu langit keempat, malaikat penjaga berkata, `Berhenti! Lemparkan amal itu ke muka pemiliknya! Aku adalah malaikat pemeriksa ujub (berbangga diri). Tuhanku memerintahkan aku agar amalnya tidak melewatiku. Dahulu ketika ia berbuat kebaikan, ia selalu berbangga diri karenanya.`

Malaikat pencatat amal kemudian naik dengan membawa amal si hamba hendak diantarkan sebagaimana seorang pengantin perempuan hendak diantarkan kepada suaminya.

Sesampai di pintu langit kelima dengan amal kebaikan berupa jihad, haji, dan umroh yang bersinar bagai sinar matahari, seorang malaikat penjaga berkata kepadanya, `Aku adalah malaikat pemeriksa dengki. Dahulu ia sering dengki terhadap nikmat yang diberikan kepada orang lain, dan ia murka terhadap apa yang telah diridhoi Alloh. Tuhanku memerintahkanku untuk tidak membiarkan amal itu melewatiku.`

Malaikat pencatat amal lalu naik dengan membawa amal si hamba berupa wudhu yang sempurna, sholat yang tertib, puasa, haji, dan umroh hingga sampai di pintu langit keenam.

Seorang malaikat yang diserahi menjaga pintu berkata kepada malaikat pencatat amal, `Aku adalah malaikat rahmat. Lemparkan amal itu ke muka pemiliknya! Dahulu ia tidak pernah menyanyangi sesama. Jika orang lain tertimpa musibah, ia hanya diam saja. Tuhanku memerintahkanku untuk tidak membiarkan amal itu melewatiku.`

Lalu malaikat pencatat amal naik dengan membawa amal si hamba berupa infak yang banyak, puasa, sholat, jihad, dan wara. Amal ini memiliki suara dan sinar seperti halilintar dan sinar kilat.

Sesampai di pintu langit ketujuh, seorang malaikat penjaga berkata kepadanya, `Aku adalah malaikat yang mengurusi permasalahan sebutan-sebutan. Maksudnya adalah sifat ketenaran dan kemasyuran di antara manusia.

Sesungguhnya pemilik amal ini ingin selalu disebut-sebut dalam setiap majelis, merasa lebih tinggi di hadapan para pembesar. Tuhanku telah memerintahkan aku untuk tidak membiarkan amal itu melewatiku. Setiap amal yang dilakukan tanpa keikhlasan kepada Alloh, maka amal itu adalah riya. Alloh tidak akan menerima amal orang yang riya.`

Malaikat pencatat amal terus naik membawa amal si hamba berupa sholat, zakat, puasa, haji, umroh, ahklak mulia, tidak suka bicara (hal-hal yang tidak berguna), dan zikir kepada Alloh.

Seluruh malaikat tujuh langit itu menyertainya hingga tersibaklah semua hijab menuju Alloh swt. Mereka kemudian berdiri di hadapan Tuhan yang Mahabesar dan Mahaagung.

Mereka mempersaksikan satu amal saleh yang dikerjakan dengan ikhlas yang masih tersisa dari amal hamba itu. Lalu Alloh berkata, `Kalian adalah malaikat pencatat amal hamba-Ku, sedangkan Aku adalah pengawas apa-apa yang ada di dalam hatinya. Dia beramal bukan untuk-Ku, tetapi untuk selain Aku, dan tidak mengikhlaskannya untuk-Ku. Aku lebih mengetahui apa yang ia inginkan dari amalnya.

Ia berhak memperoleh laknat-Ku. Ia telah memperdaya manuasia dan memperdaya kalian, tetapi ia tidak akan bisa memperdaya-Ku, karena Aku Maha Mengetahui hal-hal gaib. Aku juga Yang Maha Mengetahui apa yang tersimpan di dalam hati. Tidak ada sesuatu pun yang samar dari-Ku dan tidak ada yang bisa sembunyi dari-Ku sesuatu yang tersembunyi.

Aku mengetahui apa yang telah terjadi sebagaimana Aku mengetahui apa yang akan terjadi. Aku mengetahui apa yang telah lalu seperti Aku mengetahui apa yang akan datang. Pengetahuan-Ku tentang umat terdahulu sama dengan pengetahuan-Ku tentang umat yang datang kemudian.

Aku Maha Mengetahui segala rahasia dan yang tersembunyi, bagaimana hamba-Ku ingin memperdai-Ku dengan amalnya? Dia bisa saja menipu makhluk yang mereka tidak mengetahui hal-hal gaib. Sementara Aku adalah Yang Maha Mengetahui hal-hal gaib. Maka laknat-Ku pantas baginya.`

Maka berkatalah tujuh malaikat beserta tiga ribu malaikat yang menyertai mereka, `Ya Tuhan kami, baginya laknat-Mu dan laknat kami.`

Para penghuni langit pun menjawab , `Benar, baginya laknat Alloh dan laknat orang-orang yang melaknat.`”

Mendengar penjelasan ini, Mu`adz menangis dan meratap tersedu-sedu, lalu ia berkata, “Wahai Rosululloh, bagaimana caranya agar aku bisa selamat dari dosa-dosa lisan yang telah aku ucapkan?”

Rosululloh saw. berkata, “Wahai Mu`adz, ikutilah petunjuk Nabimu dalam hal keyakinan.”

Mu`adz berkata lagi, “Kau adalah Rosululloh dan aku hanyalah Mu`adz bin Jabal. Lalu bagaimana agar aku bisa selamat dan terbebas dari bahaya itu?”

Rosululloh saw. menjawab, “Wahai Mu`adz, jika ada kekurangan dalam amal ibadahmu, jagalah lisanmu dari menjelekkan orang lain dan saudara-saudaramu para penghafal al-Quran khususnya dan orang-orang awam umumnya. Apa yang kau ketahui dari aib dirimu sendiri seharusnya bisa menghalangimu mencela orang lain. Janganlah menyucikan dirimu dengan mencela saudaramu, janganlah kau mengangkat derajatmu dengan merendahkan derajat saudaramu, janganlah kau memamerkan amalmu supaya kau dikenal orang lain.

Janganlah kau memasuki urusan dunia yang bisa melupakan urusan akherat. Janganlah kau berbisik-bisik dengan seseorang ketika ada orang lain bersamamu. Janganlah merasa besar di hadapan orang lain sehingga kebaikan dunia dan akherat akan terputus darimu. Janganlah berbuat tidak senonoh di dalam suatu majelis sehingga orang lain akan menjauhimu karena perilaku burukmu. Janganlah kamu menyakiti orang lain dan merusak martabat mereka dengan perkataanmu, niscaya anjing-anjing neraka jahanam akan mencabik-cabikmu. Itulah makna firman Alloh, `Demi yang mencabut (nyawa) dengan keras` (QS. An-Naziat 79:1). Maksudnya adalah daging itu akan dicabut dari tulangnya.”

Kemudian aku bertanya kepada Rosululloh saw., “Wahai Rosululloh, siapa yang mampu melakukan hal itu semua?”

Rosul menjawab, “Wahai Mu`adz, yang aku jelaskan sifat-sifat tadi sesungguhnya mudah dikerjakan bagi orang-orang yang dimudahkan oleh Alloh swt. Cukuplah dengan itu kamu mencintai orang lain sebagaiamana kamu mencintai dirimu sendiri, dan kamu membenci orang lain sebagaimana kamu membenci dirimu sendiri. Dengan begitu, kamu akan selamat.”

Khalid bin Mi`dan melanjutkan, “Mu`adz tidak membaca al-Quran sesering dia membaca hadist itu. Sebagaimana dia sering membaca dan menyebut hadist ini dalam setiap majelisnya.”

Sumber: Kitab Minhajul `Abidin – Imam al-Ghazali

.





Tidak ada komentar: