Laqadja akum rasulum


web stats

Selasa, 10 Maret 2026

PEJUANG SERIBU BULAN Cerpen: oleh Ismilianto

PEJUANG SERIBU BULAN
Cerpen: oleh Ismilianto

Malam itu angin gurun berhembus pelan. Langit dipenuhi bintang. Di sebuah negeri dari Bani Israil, seorang lelaki berdiri sendirian di atas bukit batu.

Namanya Syam'un Al-Ghazi.
Tubuhnya kuat, tangannya menggenggam pedang. Tetapi wajahnya tidak menunjukkan kesombongan. Ia justru sering terlihat menundukkan kepala dalam doa.

Siang hari ia adalah pejuang.
Ia melawan kaum zalim yang menindas umatnya. Banyak pasukan takut menghadapi kekuatannya. Bukan hanya karena tenaga yang luar biasa, tetapi karena keberaniannya lahir dari iman kepada Allah.

Namun malam hari… ia bukan lagi pejuang.
Ia berubah menjadi hamba yang menangis dalam sujud.
Di tengah gelap malam, ia berdiri lama dalam salat. Air matanya jatuh di pasir. Bibirnya terus berzikir memohon ampun kepada Allah.

Hari berganti hari.
Tahun berganti tahun.
Perjuangan itu tidak berhenti.
Siang berjihad.
Malam beribadah.

Bukan satu tahun.
Bukan sepuluh tahun.
Tetapi seribu bulan.
Lebih dari delapan puluh tiga tahun.

Musuh-musuhnya tidak mampu mengalahkannya di medan perang. Maka mereka menggunakan cara licik.

Mereka membujuk istrinya sendiri agar mengkhianatinya.
Dengan tipu daya, akhirnya Syam’un tertangkap. Musuh-musuhnya menyiksanya.

Mereka mengikatnya dan membawanya ke sebuah bangunan besar tempat mereka berkumpul.

Mereka menertawakannya.
“Sekarang lihat,” kata mereka dengan angkuh, “di mana kekuatanmu?”

Syam’un yang terluka menundukkan kepala.
Ia tidak meminta kepada manusia.

Ia berdoa kepada Allah.
Dengan suara yang hampir tidak terdengar ia berkata:
“Ya Allah… jika Engkau masih ridha kepadaku…
berikan aku kekuatan sekali lagi.”

Doa itu naik ke langit.
Tiba-tiba tubuhnya terasa kuat kembali. Ia bangkit dengan sisa tenaga yang ada. Kedua tangannya memegang tiang bangunan besar tempat musuh-musuhnya berpesta.

Dengan satu hentakan yang dahsyat…
Tiang itu runtuh.
Bangunan itu roboh.
Musuh-musuhnya binasa.

Dan Syam’un wafat sebagai seorang pejuang di jalan Allah.
Berabad-abad setelah kisah itu berlalu…

Di kota Madinah, Nabi Muhammad menceritakan kisah orang-orang saleh dari umat terdahulu kepada para sahabat.

Ketika mereka mendengar tentang ibadah yang berlangsung seribu bulan, hati para sahabat menjadi kecil.

“Ya Rasulullah,” kata mereka pelan, “bagaimana mungkin kami bisa menyamai amal seperti itu? Umur kami pendek…”

Nabi pun memikirkan umatnya.
Saat itulah Malaikat Jibril turun membawa wahyu dari langit.

Allah menurunkan firman-Nya:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam Lailatul Qadar.
Dan tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadar itu?
Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.”
(Surah Al-Qadr: 1–3)

Para sahabat terdiam.
Air mata sebagian mereka jatuh.

Allah memberi hadiah luar biasa kepada umat Nabi Muhammad.

Jika seseorang menghidupkan satu malam Lailatul Qadar, pahalanya lebih baik daripada ibadah seribu bulan.

Seakan-akan Allah berkata kepada umat ini:
“Kalian memang tidak hidup selama mereka…
tetapi Aku berikan kepada kalian malam yang nilainya lebih panjang dari umur manusia.”

Malam itu Rasulullah memandang para sahabat dengan penuh harapan.
Dan sejak saat itu…
setiap datang sepuluh malam terakhir Ramadhan,
beliau tidak ingin kehilangan satu malam pun.

Karena bisa jadi…
di antara malam yang sunyi itu
ada satu malam yang nilainya lebih besar dari 83 tahun ibadah.

Senin, 09 Maret 2026

Cerpen Renungan Ramadhan“Malam yang Dicari Sepanjang Hidup”Cerpen: oleh Ismilianto

Cerpen Renungan Ramadhan
“Malam yang Dicari Sepanjang Hidup”
Cerpen: oleh Ismilianto

Namanya Hasan.
Sejak kecil ia sering mendengar satu kalimat dari ayahnya:
“Carilah malam Lailatul Qadar… karena satu malam itu lebih baik dari seribu bulan.”
Dulu Hasan tidak benar-benar memahami maksudnya.
Baginya Ramadhan hanya tentang puasa, buka bersama, dan shalat tarawih.
Ayahnya sering berkata dengan suara yang dalam:
“Kalau Allah mempertemukanmu dengan Lailatul Qadar, seolah-olah engkau beribadah lebih dari delapan puluh tiga tahun.”
Ayahnya lalu membaca firman Allah:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Artinya:
“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadar.
Tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadar itu?
Malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.”
Referensi:
QS Surah Al-Qadr ayat 1–3
Hasan hanya mengangguk.
Ia masih muda.
Ia merasa hidupnya masih panjang.
Namun waktu berjalan cepat.
Ayahnya meninggal dunia ketika Hasan berusia tiga puluh tahun.
Sejak saat itu, setiap Ramadhan Hasan selalu teringat kalimat ayahnya:
“Carilah malam Lailatul Qadar…”
Pada suatu malam Ramadhan, Hasan duduk sendirian di masjid setelah tarawih.
Masjid sudah mulai sepi.
Ia membuka mushaf dan membaca ayat yang sering dibacakan ayahnya dulu.
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ
سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
Artinya:
“Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan.
Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.”
Referensi:
QS Surah Al-Qadr ayat 4–5
Hasan menutup mushafnya.
Ia membayangkan sesuatu yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Bagaimana jika malam ini benar-benar Lailatul Qadar?
Bagaimana jika saat ini malaikat sedang turun memenuhi bumi?
Bagaimana jika doa yang dipanjatkannya malam ini didengar langsung oleh Allah dengan kemuliaan yang luar biasa?
Ia tiba-tiba merasa malu.
Puluhan Ramadhan sudah ia lalui.
Tetapi berapa malam yang benar-benar ia isi dengan ibadah?
Hasan teringat sebuah hadis Rasulullah ﷺ:
“Barang siapa berdiri (shalat malam) pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Referensi:
HR **Sahih Bukhari no. 1901
HR Sahih Muslim no. 760
Hasan mulai shalat.
Rakaat demi rakaat ia lakukan dengan pelan.
Malam itu terasa sangat sunyi.
Air mata mulai jatuh di sajadahnya.
Ia berbisik dalam doa:
“Ya Allah… jika malam ini adalah Lailatul Qadar, jangan Engkau lewatkan namaku dari orang-orang yang Engkau ampuni.”
Waktu berjalan.
Tanpa terasa azan Subuh berkumandang.
Hasan duduk lama di sajadahnya.
Ia tidak tahu apakah tadi malam adalah Lailatul Qadar.
Tidak ada cahaya di langit.
Tidak ada tanda yang ia lihat.
Tetapi ada sesuatu yang berbeda di hatinya.
Ada ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia teringat lagi kalimat ayahnya dulu:
“Anakku… orang yang benar-benar mencari Lailatul Qadar, sebenarnya sedang mencari Allah.”
Sejak malam itu Hasan tidak lagi hanya menunggu Lailatul Qadar.
Ia mencarinya setiap malam di sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Karena Rasulullah ﷺ bersabda:
“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.”
Referensi:
HR **Sahih Bukhari no. 2020
HR Sahih Muslim no. 1169
Dan Hasan akhirnya mengerti sesuatu yang dulu tidak ia pahami.
Lailatul Qadar bukan hanya malam yang dicari.
Tetapi malam yang bisa mengubah seluruh hidup seseorang.
Satu malam…
yang nilainya lebih panjang dari umur manusia.

Satu Ceramah Yang Bisa Mengubah Nasib Akhiratmu”Cerpen: oleh Ismilianto

Satu Ceramah Yang Bisa Mengubah Nasib Akhiratmu”
Cerpen: oleh Ismilianto

Di sebuah desa kecil, setiap malam Jumat masjid selalu penuh.
Bukan karena bangunannya megah.
Bukan pula karena penceramahnya terkenal.

Tetapi karena setiap orang yang datang merasakan hal yang sama:
hati mereka menjadi lebih tenang.
Orang-orang berkata satu sama lain,
“Kalau beliau ceramah… rasanya seperti sedang dinasihati dengan penuh kasih.”

Sebelum ceramah dimulai, ustaz itu selalu menundukkan kepala.
Pelan ia membaca doa Nabi Musa yang disebut dalam Al-Qur'an pada QS. Taha ayat 25–28:
“Rabbi syrah li shadri…
lapangkanlah dadaku, mudahkan urusanku, dan lepaskan kekakuan dari lidahku agar mereka memahami perkataanku.”

Lalu ia mengajak jamaah bershalawat bersama.
Masjid pun dipenuhi lantunan shalawat.
Setelah itu ia berkata lembut:
“Saudaraku… pahala shalawat ini kita hadiahkan untuk kedua orang tua kita… untuk nenek moyang kita… untuk kaum mukmin dan mukminat… dan untuk seluruh makhluk Allah.”

Beberapa jamaah mulai menunduk.
Ada yang diam-diam menghapus air mata.
Ceramahnya tidak pernah keras.

Ia hanya bercerita tentang kehidupan.
Tentang manusia yang terlalu sibuk mengejar dunia.
Tentang anak yang lupa mendoakan orang tua.
Tentang hati yang jauh dari Allah.

Tetapi kata-katanya terasa hidup.
Karena setiap kalimat keluar dari hati yang tulus.

Lalu tibalah bagian terakhir ceramah. Bagian yang selalu membuat masjid menjadi sangat hening.
Suara ustaz itu pelan.

“Saudaraku… kita semua sedang berjalan pulang kepada Allah.”
Ia berhenti sejenak.
Semua orang diam.

Lalu ia membaca ayat dari Al-Qur'an:
“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar ayat 53)

Masjid semakin sunyi.
Seorang pemuda yang selama ini jarang shalat menundukkan kepala.

Seorang ayah teringat ibunya yang sudah lama wafat.
Seorang ibu diam-diam berdoa agar anaknya kembali ke jalan Allah.

Ustaz itu menutup ceramahnya dengan doa.
“Ya Allah…
jika malam ini ada hati yang sedang gelisah, tenangkanlah.
Jika ada dosa yang kami bawa, ampunilah.
Jika ada orang tua kami yang telah wafat, lapangkan kuburnya.”

Suara ustaz itu semakin pelan.
“Dan ya Allah…
jika suatu hari Engkau panggil kami menghadap-Mu…
ingatlah bahwa kami pernah berkumpul di rumah-Mu…
hanya untuk mengingat-Mu.”

Beberapa jamaah mulai terisak.
Lalu ia mengucapkan kalimat terakhir:
“Semoga di antara kita yang duduk di majelis ini…
ada yang kelak masuk surga tanpa hisab.”

Masjid benar-benar hening.
Tidak ada yang bergerak beberapa detik.

Setelah jamaah pulang, seorang pemuda mendekati seorang ulama tua yang ikut hadir.

Ia bertanya:
“Mengapa ceramah ustaz itu terasa berbeda?”
Ulama tua itu tersenyum.
Lalu ia berkata pelan:
“Karena kata-kata yang keluar dari hati… akan masuk ke hati.”

Ia lalu mengingatkan sebuah hadits Nabi SAW yang diriwayatkan dalam Sahih Muslim:
Bahwa orang-orang yang berkumpul untuk mengingat Allah akan:
dikelilingi malaikat, 
diliputi rahmat, 
dan diturunkan ketenangan.

Ulama itu menatap masjid yang mulai sepi.
Kemudian ia berkata satu kalimat yang membuat pemuda itu terdiam lama.

“Anak muda… kita tidak pernah tahu…”
“Bisa jadi di antara orang-orang yang duduk di majelis tadi… ada yang kelak berdiri di hadapan Allah dan berkata:
‘Ya Allah… aku berubah karena satu ceramah malam itu.’”

Ia berhenti sejenak.
Lalu melanjutkan dengan suara yang sangat pelan:
“Dan bisa jadi… ceramah yang kita anggap biasa itu… menjadi sebab seseorang masuk surga.”

Pemuda itu terdiam.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia berpikir:
Mungkin malam ini… Allah sedang memanggilku pulang. 

Kisah Ta’ziyah yang Sangat Mengguncang“Catatan Dosa Seorang Ayah”

Kisah Ta’ziyah yang Sangat Mengguncang
“Catatan Dosa Seorang Ayah”

Hadirin yang dimuliakan Allah…
Ada sebuah kisah yang sangat menyentuh hati, yang sering diceritakan oleh para ulama sebagai pelajaran bagi kita semua.
Seorang ayah meninggal dunia.
Ia dimakamkan dengan baik.
Tetangga datang melayat.
Doa-doa dipanjatkan.
Beberapa hari setelah pemakaman, anaknya membersihkan kamar ayahnya.
Di dalam lemari, ia menemukan sebuah buku kecil.
Buku itu tampak sudah lama disimpan.
Anak itu membukanya.
Ternyata itu catatan pribadi ayahnya.
Di halaman pertama tertulis kalimat:
“Ini catatan dosaku… agar aku tidak lupa bertaubat kepada Allah.”
Anak itu terdiam.
Ia mulai membaca halaman demi halaman.
Di sana tertulis banyak hal.
Ada dosa-dosa kecil.
Ada kesalahan kepada orang lain.
Ada juga catatan yang membuat anak itu menangis.
Di salah satu halaman tertulis:
“Hari ini aku lalai dari salat Subuh berjamaah.
Ya Allah… ampuni aku.”
Di halaman lain tertulis:
“Hari ini aku memarahi seseorang dengan kata-kata kasar.
Aku takut jika kata-kata itu menjadi dosaku di akhirat.”
Di halaman berikutnya tertulis:
“Aku takut mati dalam keadaan banyak dosa.
Ya Allah… jangan Engkau ambil nyawaku sebelum Engkau mengampuniku.”
Anak itu membaca sampai halaman terakhir.
Di sana tertulis kalimat yang sangat pendek.
Tetapi membuat anak itu menangis tersedu-sedu.
“Aku tidak tahu kapan aku akan mati…
tetapi aku berharap ketika aku mati, Allah telah mengampuni dosaku.”
Beberapa hari kemudian anak itu bermimpi.
Ia melihat ayahnya.
Wajahnya tenang.
Anak itu bertanya dalam mimpi:
“Ayah… bagaimana keadaanmu di sana?”
Ayahnya menjawab:
“Allah Maha Pengampun…
Dia mengampuni orang yang sungguh-sungguh bertaubat.”
Hadirin yang dimuliakan Allah…
Allah memang membuka pintu taubat seluas-luasnya.
Allah berfirman:
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. Az-Zumar ayat 53)
Artinya:
Tidak ada dosa yang terlalu besar jika kita benar-benar kembali kepada Allah.
Penutup yang membuat jamaah hening
Hadirin yang dimuliakan Allah…
Bayangkan jika hari ini kita meninggal.
Apa yang akan ditemukan anak-anak kita di kamar kita?
Apakah mereka menemukan:
mushaf Al-Qur'an yang sering kita baca…
atau mushaf yang penuh debu?
Apakah mereka menemukan catatan amal kita…
atau justru jejak dosa kita?
Karena itu sebelum kematian datang…
perbaikilah hidup kita.
Perbaikilah salat kita.
Perbanyaklah istighfar.
Perbanyaklah amal baik.
Karena ketika kematian sudah datang…
tidak ada lagi kesempatan kedua.
Semoga Allah mengampuni dosa orang yang telah wafat dari keluarga ini.
Semoga kuburnya dilapangkan.
Dan semoga kita semua dipanggil oleh Allah dalam keadaan husnul khatimah.
Amin ya Rabbal ‘alamin.

Kisah Penutup Ta’ziyah yang Sangat Menyentuh“Mayat yang Tersenyum di Kuburnya”

Kisah Penutup Ta’ziyah yang Sangat Menyentuh
“Mayat yang Tersenyum di Kuburnya”

Hadirin yang dimuliakan Allah…
Ada sebuah kisah yang sering diceritakan oleh para ulama sebagai pelajaran bagi kita semua.
Di sebuah kampung kecil, meninggal seorang lelaki tua.
Ia bukan orang kaya.
Ia juga bukan orang terkenal.
Hidupnya sangat sederhana.
Tetapi ada satu kebiasaannya yang tidak pernah ia tinggalkan:
setiap malam ia membaca beberapa ayat dari Al-Qur'an sebelum tidur.
Tidak lama.
Tidak banyak.
Kadang hanya satu halaman.
Kadang hanya beberapa ayat.
Tetapi tidak pernah ia tinggalkan.
Suatu malam, lelaki itu wafat dengan tenang.
Ketika jenazahnya dimandikan, orang yang memandikannya terkejut.
Wajah lelaki itu sangat tenang dan seperti tersenyum.
Seolah-olah ia sedang tidur dengan damai.
Orang yang memandikannya berkata pelan:
“Subhanallah… wajahnya seperti orang yang bahagia.”
Beberapa hari kemudian, seorang lelaki di kampung itu bermimpi.
Dalam mimpinya ia melihat lelaki yang sudah meninggal tadi.
Wajahnya bersinar.
Ia duduk dengan sangat tenang.
Orang itu bertanya dalam mimpi:
“Apa yang Allah lakukan kepadamu di kubur?”
Lelaki itu menjawab dengan kalimat yang membuat orang itu terbangun sambil menangis.
Ia berkata:
“Allah memuliakanku karena ayat-ayat dari Al-Qur'an yang selalu aku baca setiap malam.”
Hadirin yang dimuliakan Allah…
Allah sendiri telah menjelaskan kemuliaan orang yang beriman ketika mereka meninggal.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka istiqamah, maka malaikat turun kepada mereka (ketika mereka wafat) seraya berkata: Jangan takut dan jangan bersedih.”
(QS. Fussilat ayat 30)
Malaikat memberi kabar gembira kepada mereka dengan surga.
Inilah yang disebut para ulama sebagai husnul khatimah.
Hadirin…
Mungkin kita tidak mampu membaca banyak.
Mungkin kita sibuk.
Tetapi bayangkan jika setiap malam kita membaca beberapa ayat saja dari Al-Qur'an.
Lalu suatu hari kita meninggal…
dan ayat-ayat itu menjadi teman kita di dalam kubur.
Penutup yang sangat menyentuh
Hadirin yang dimuliakan Allah…
Kubur itu gelap.
Kubur itu sempit.
Kubur itu sunyi.
Tetapi bagi orang yang beriman…
kubur bisa menjadi taman dari taman-taman surga.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Kubur itu bisa menjadi taman dari taman-taman surga atau lubang dari lubang-lubang neraka.”
(HR. Sunan Tirmidzi)
Karena itu sebelum kita pulang dari majelis ini, mari kita bertanya kepada diri kita sendiri:
Jika malam ini kita meninggal…
apakah kubur kita akan terang?
Ataukah kubur kita akan gelap karena amal kita sangat sedikit?
Semoga Allah mengampuni dosa orang yang telah wafat dari keluarga ini.
Semoga kuburnya dilapangkan.
Dan semoga kita semua diberi akhir hidup yang baik.
Amin ya Rabbal ‘alamin.

Kisah Penutup Ta’ziyah yang Mengguncang Hati

Kisah Penutup Ta’ziyah yang Mengguncang Hati

Hadirin yang dimuliakan Allah…
Sebelum kita pulang dari majelis ta’ziyah ini, izinkan saya menyampaikan satu kisah yang sering diceritakan para ulama sebagai pelajaran bagi kita semua.
Ada seorang lelaki yang meninggal dunia.
Ketika hidupnya, ia dikenal sebagai orang yang baik kepada manusia.
Ia ramah, suka membantu, dan mudah bergaul.
Tetapi ada satu hal yang sering ia tinggalkan: salat.
Jika diajak salat berjamaah, ia sering berkata:
“Nanti saja… masih ada waktu.”
Hari berlalu.
Bulan berlalu.
Tahun berlalu.
Sampai suatu hari ia jatuh sakit.
Sakitnya tidak lama.
Beberapa hari kemudian ia meninggal dunia.
Ia dimakamkan seperti biasa.
Orang-orang mendoakannya, lalu pulang.
Malam pertama di kubur pun tiba.
Dalam sebuah riwayat yang sering disampaikan para ulama tentang keadaan kubur, disebutkan bahwa ketika manusia dimasukkan ke dalam kubur, dua malaikat datang untuk bertanya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya seorang hamba apabila telah diletakkan di kuburnya dan para pengantarnya telah pergi, ia dapat mendengar suara sandal mereka.”
(HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim)
Lalu datanglah dua malaikat: Munkar dan Nakir.
Mereka bertanya:
Siapa Tuhanmu?
Apa agamamu?
Siapa nabimu?
Orang yang beriman dapat menjawabnya.
Tetapi orang yang lalai…
ia akan kebingungan.
Dalam kisah itu diceritakan, lelaki tadi tidak mampu menjawab dengan baik.
Kuburnya mulai menyempit.
Dan ia menjerit meminta kesempatan kembali ke dunia.
Allah menggambarkan penyesalan itu dalam firman-Nya:
“Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia agar aku dapat berbuat amal saleh.”
(QS. Al-Mu'minun ayat 99–100)
Tetapi kesempatan itu tidak pernah diberikan lagi.
Hadirin…
Bayangkan jika penyesalan itu terjadi pada kita.
Ketika di dunia kita masih bisa:
memperbaiki salat
memperbanyak dzikir
memperbanyak istighfar
dan memperbaiki hidup.
Tetapi ketika sudah di kubur…
semuanya selesai.
Karena itu Rasulullah ﷺ mengingatkan kita:
“Perjanjian antara kami dan mereka adalah salat. Barang siapa meninggalkannya, maka ia telah kafir.”
(HR. Sunan Tirmidzi)
Penutup yang biasanya membuat jamaah hening
Hadirin yang dimuliakan Allah…
Hari ini kita menyaksikan kematian seseorang.
Kematian itu seperti pesan dari Allah kepada kita:
Selagi masih hidup…
perbaiki salatmu.
Selagi masih sehat…
perbaiki amalmu.
Selagi masih ada waktu…
bertaubatlah kepada Allah.
Karena jika kematian sudah datang…
tidak ada lagi kesempatan kedua.
Semoga Allah mengampuni dosa orang yang telah wafat dari keluarga ini.
Semoga kuburnya dijadikan taman dari taman-taman surga.
Dan semoga kita semua diberi husnul khatimah.
Amin ya Rabbal ‘alamin.

CERAMAH TA’ZIYAH YANG MENYENTUH HATIJudul: “Suatu Hari Nanti, Kita yang Akan Diantar”

CERAMAH TA’ZIYAH YANG MENYENTUH HATI
Judul: “Suatu Hari Nanti, Kita yang Akan Diantar”
Pembukaan
Hadirin yang dimuliakan Allah…
Hari ini kita datang melayat.
Kita melihat seseorang terbujur kaku.
Tubuhnya diam.
Lisannya tidak lagi berbicara.
Tangannya tidak lagi bergerak.
Padahal dulu ia berjalan seperti kita.
Ia berbicara seperti kita.
Ia punya rencana hidup seperti kita.
Tetapi hari ini… semuanya selesai.
Allah telah menegaskan dalam firman-Nya:
“كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ”
Kullu nafsin dzāiqatul maut.
Artinya:
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.”
(QS. Al-Qur'an Surah Ali Imran ayat 185)
Tidak ada yang bisa menolak kematian.
Tidak ada yang bisa menundanya satu detik pun.
Nasihat untuk keluarga yang berduka
Kepada keluarga yang ditinggalkan…
kami ikut merasakan kesedihan ini.
Namun Rasulullah ﷺ mengajarkan sebuah kalimat yang sangat menenangkan hati.
Beliau bersabda:
“Sesungguhnya milik Allah apa yang Dia ambil, dan milik-Nya apa yang Dia beri. Setiap sesuatu di sisi-Nya telah ditentukan waktunya.”
(HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim)
Artinya apa?
Yang pergi ini sebenarnya milik Allah.
Kita hanya dititipi.
Dan ketika Allah mengambil kembali titipan-Nya,
maka tugas kita adalah bersabar dan mendoakan.
Pelajaran bagi yang masih hidup
Hadirin…
Kematian ini bukan hanya untuk yang wafat.
Kematian ini juga pelajaran bagi kita yang masih hidup.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.”
(HR. Sunan Tirmidzi)
Karena ketika seseorang meninggal, sebenarnya Allah sedang berkata kepada kita:
“Hari ini dia… besok bisa jadi kamu.”
Kisah yang mengguncang hati
Ada sebuah kisah yang sering diceritakan para ulama.
Seorang lelaki saleh meninggal dunia.
Ia dikenal rajin membaca Al-Qur'an.
Ketika jenazahnya dimandikan, orang yang memandikannya melihat sesuatu yang aneh.
Wajah lelaki itu sangat bercahaya.
Sampai orang-orang yang melihat berkata:
“Seperti wajah orang yang sedang tersenyum.”
Setelah ditanya kepada keluarganya, ternyata lelaki itu memiliki kebiasaan sederhana.
Setiap malam sebelum tidur, ia selalu membaca beberapa ayat dari Al-Qur'an.
Tidak pernah ia tinggalkan.
Dan ketika ia meninggal…
Al-Qur'an itulah yang menjadi temannya di kubur.
Sebaliknya kisah yang membuat orang menangis
Ada pula kisah lain yang jauh lebih menyedihkan.
Seorang lelaki meninggal dunia.
Ketika keluarganya membersihkan rumahnya, mereka menemukan sebuah mushaf Al-Qur'an di atas lemari.
Mushaf itu sangat bersih.
Bukan karena sering dibaca.
Tetapi karena tidak pernah disentuh bertahun-tahun.
Debunya tebal.
Seseorang berkata dengan suara pelan:
“Mungkin selama hidupnya… mushaf ini hanya menjadi hiasan.”
Hadirin…
Bayangkan jika suatu hari kita meninggal…
lalu anak-anak kita menemukan mushaf di rumah kita yang penuh debu.
Betapa malunya kita di hadapan Allah.
Keadaan orang yang wafat dalam kebaikan
Allah memberi kabar gembira bagi orang yang hidupnya taat.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka istiqamah, maka malaikat turun kepada mereka (saat kematian).”
(QS. Fussilat ayat 30)
Malaikat berkata:
“Jangan takut dan jangan bersedih. Bergembiralah dengan surga.”
Itulah yang disebut husnul khatimah.
Penutup yang menyentuh hati
Hadirin yang dimuliakan Allah…
Hari ini kita mengantar jenazah.
Besok atau lusa… bisa jadi kitalah yang diantar.
Hari ini kita berdiri di samping kubur.
Suatu hari nanti… kita yang berada di dalamnya.
Dan saat itu yang ikut bersama kita hanyalah:
salat kita
dzikir kita
sedekah kita
dan amal baik kita.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Sahih Muslim)
Semoga Allah mengampuni dosa orang yang telah wafat dari keluarga ini.
Semoga kuburnya dilapangkan.
Dan semoga kematian yang kita saksikan hari ini menjadi peringatan bagi kita semua untuk memperbaiki hidup sebelum terlambat.
Amin ya Rabbal ‘alamin.
Jika Pak Milit berkenan, saya juga bisa buatkan satu lagi kisah penutup ta’ziyah yang sangat mengguncang (tentang seseorang yang menjerit di alam kubur karena salatnya ditinggalkan).
Biasanya kisah itu membuat jamaah benar-benar terdiam dan menangis.