Laqadja akum rasulum


web stats

Jumat, 08 Mei 2026

SEBELUM TERLAMBAT MENGETUK PINTU LANGIT

SEBELUM TERLAMBAT MENGETUK PINTU LANGIT

Sore itu hujan turun deras.
Seorang lelaki tua berjalan tertatih menuju masjid kecil di pinggir kampung. Pakaiannya lusuh, tubuhnya kurus, wajahnya penuh garis kehidupan.
Orang-orang tak terlalu mengenalnya.

Ia bukan pejabat.
Bukan orang kaya.
Bukan pula tokoh terkenal.
Namun setiap petang, ia selalu datang paling awal ke masjid.

Suatu hari seorang pemuda bertanya:
“Pak, kenapa Bapak rajin sekali ke masjid? Bukankah hidup Bapak susah?”
Lelaki tua itu tersenyum.
Matanya berkaca-kaca.
Lalu ia berkata pelan:
“Dulu saya terlalu sibuk mengejar dunia. Saat muda saya kuat, sehat, punya usaha, punya banyak teman. Tapi saya lupa mengetuk pintu Allah…”

Ia menunduk.
“Sampai suatu malam anak saya meninggal karena kecelakaan. Saat itu saya sadar… uang tak bisa membangunkannya, jabatan tak bisa menolongnya, teman-teman pun pulang satu per satu…”
“Yang tersisa hanya sajadah dan air mata.”

Pemuda itu terdiam.
Lelaki tua melanjutkan:
“Sejak hari itu saya takut kalau dipanggil Allah dalam keadaan jauh dari-Nya.”
Allahu Akbar…

Betapa banyak manusia baru ingat akhirat setelah kehilangan.
Baru rajin berdoa setelah hancur.
Baru sujud lama setelah hidup terasa gelap.
Padahal Allah sudah memanggil kita lima kali sehari.

Allah berfirman:
“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk khusyuk hati mereka mengingat Allah?” (QS. Al-Hadid: 16)

Dan Rasulullah SAW bersabda:
“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim)

Petang ini…
mungkin Allah sedang menegur kita dengan cara yang lembut.
Lewat tubuh yang mulai lelah.
Lewat rezeki yang terasa sempit.

Lewat hati yang gelisah meski dunia terlihat baik-baik saja.
Karena kadang Allah tidak ingin menghancurkan kita…
Allah hanya ingin kita kembali pulang kepada-Nya.

Jangan tunggu kehilangan besar baru mendekat kepada Allah.
Sebab tidak semua orang diberi kesempatan untuk memperbaiki hidup sebelum ajal datang.

Lihatlah matahari petang ini…
sebentar lagi tenggelam.
Dan umur kita pun sedang menuju tenggelamnya masing-masing.

Mari sore ini kita duduk sejenak…
istighfar sejenak…
memaafkan sejenak…
dan mengetuk pintu langit dengan doa yang tulus.
“Ya Allah… jika selama ini kami terlalu jauh dari-Mu, maka jangan biarkan malam datang sebelum Engkau membuka pintu ampunan-Mu untuk kami.”
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Kamis, 07 Mei 2026

JANGAN REMEHKAN WANITA

JANGAN REMEHKAN WANITA

Di sebuah kampung kecil, ada seorang ibu tua yang setiap pagi berjalan kaki membawa pisang goreng untuk dijual. Pakaiannya sederhana. Sandalnya hampir putus. Banyak orang memandang biasa saja, bahkan ada yang meremehkannya.

Namun setiap malam, diam-diam ia menangis sambil berdoa: “Ya Allah… jadikan anakku orang yang berhasil dan jangan hina hidupnya seperti ibunya.”
Ia rela tidak makan demi biaya sekolah anaknya.

Tahun demi tahun berlalu…
Suatu hari, di sebuah acara wisuda perwira, seorang lelaki berseragam gagah turun dari panggung lalu mencari ibunya di tengah keramaian. Ketika bertemu, ia memeluk kaki ibunya sambil menangis: “Kalau bukan karena ibu… saya bukan siapa-siapa.”

Orang-orang yang dulu memandang rendah perempuan tua itu ikut menangis.
Ternyata… wanita yang dianggap lemah itu sedang membangun masa depan besar dengan air mata dan sujudnya.

Ada lagi kisah seorang istri yang sabar mendampingi suaminya dari nol. Saat hidup susah, ia ikut menjahit, berdagang kecil-kecilan, bahkan menahan lapar agar anak-anaknya makan.

Ketika suaminya sukses, orang hanya melihat keberhasilan sang suami. Padahal di belakangnya ada wanita yang diam-diam menjadi tiang kekuatan rumah tangga.
Karena itu jangan pernah meremehkan wanita.

Sebab banyak laki-laki besar lahir dari rahim wanita salehah. Banyak pemimpin hebat dibesarkan oleh doa ibu yang tidak pernah putus.
Allah sendiri mengangkat derajat wanita dalam Al-Qur’an.
“Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan.” (QS. Ali ‘Imran: 195)

Dahulu, sebelum Islam datang, wanita dianggap hina. Bayi perempuan bahkan dikubur hidup-hidup.
Allah mengecam perbuatan itu:
“Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.” (QS. At-Takwir: 8–9)

Lalu Islam datang membawa kemuliaan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR. Tirmidzi)
Bahkan Nabi SAW begitu memuliakan putrinya, Fatimah RA. Ketika Fatimah datang, Rasulullah berdiri menyambutnya, mencium tangannya, lalu mendudukkannya di tempat beliau.

Lihat pula Siti Hajar… Seorang ibu yang berlari antara Shafa dan Marwah demi mencari air untuk anaknya, Ismail AS.
Tangisan dan perjuangannya diabadikan Allah menjadi ibadah haji sampai hari kiamat.

Lihat Khadijah RA… Saat semua orang meragukan Nabi Muhammad SAW, Khadijahlah wanita pertama yang menguatkan beliau.
Lihat Maryam… Wanita suci yang namanya diabadikan menjadi nama surah dalam Al-Qur’an.

Maka jangan pernah berkata: “Ah, cuma perempuan…”
Karena bisa jadi wanita yang sederhana itu lebih mulia di sisi Allah daripada orang yang merasa hebat.
Bisa jadi doa seorang ibu menembus langit ketika banyak manusia tertolak doanya.

Dan bisa jadi air mata seorang wanita salehah menjadi sebab keselamatan satu keluarga.
Maka muliakan wanita: ibumu… istrimu… anak perempuanmu… saudara perempuanmu…

Karena Rasulullah SAW bersabda:
“Surga berada di bawah telapak kaki ibu.” (HR. An-Nasa’i)
Semoga Allah menjadikan para wanita kita wanita-wanita salehah, penjaga iman, penguat keluarga, dan penghuni surga-Nya.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

PETANG INI: JANGAN PULANG KE RUMAH DENGAN HATI KOSONG

PETANG INI: JANGAN PULANG KE RUMAH DENGAN HATI KOSONG

Ada seorang lelaki tua yang setiap petang duduk di depan rumahnya sambil memandang langit. 

Tetangganya bertanya:
“Pak, mengapa setiap sore bapak selalu termenung?”
Orang tua itu menjawab pelan:
“Karena setiap matahari tenggelam, umurku ikut tenggelam satu hari. Aku takut hari ini berlalu tanpa amal yang membuat Allah ridha.”

Kalimat itu sederhana, tetapi mengguncang hati.
Betapa banyak petang yang kita lewati hanya dengan lelah bekerja, sibuk urusan dunia, marah, mengeluh, bergosip, atau sibuk dengan HP… tetapi lupa bahwa hari itu tidak akan pernah kembali.

Allah mengingatkan:
"Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran." (QS. Al-‘Ashr: 1–3)

Petang adalah waktu evaluasi diri.
Apa yang sudah kita ucapkan hari ini?
Siapa yang sudah kita sakiti?
Berapa banyak istighfar yang sudah kita baca?
Sudahkah hari ini kita membuat orang tua bahagia?
Sudahkah kita menyenangkan hati pasangan, anak, atau tetangga?

Nabi SAW bersabda:
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."
(HR. Ahmad)

Ada kisah menyentuh tentang seorang tukang becak tua. Setiap petang ia menyisihkan sedikit uang recehnya untuk membeli nasi bungkus. Bukan untuk dirinya, tetapi untuk seorang nenek lumpuh yang tinggal sendirian.

Suatu hari ia sakit keras dan tidak bisa bekerja. Orang-orang bertanya mengapa ia tetap memikirkan nenek itu padahal dirinya sendiri kekurangan.

Ia menjawab:
“Kalau saya tidak punya harta banyak untuk dibawa mati, setidaknya saya ingin membawa hati orang yang pernah saya bantu.”

Masya Allah…
Terkadang yang menyelamatkan kita di akhirat bukan amal besar yang dipuji manusia, tetapi amal kecil yang ikhlas dan terus dilakukan.

Petang ini, sebelum Magrib tiba: • Maafkan orang yang bersalah
• Perbanyak istighfar
• Kirim doa untuk orang tua
• Sedekah walau sedikit
• Jangan tidur dengan membawa kebencian. 
Karena kita tidak tahu… mungkin ini petang terakhir dalam hidup kita.

Mari membaca istighfar:
Astaghfirullahal ‘azhim alladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyum wa atubu ilaih.

“Ya Allah, jangan Engkau biarkan hari ini berlalu kecuali Engkau ampuni dosa kami, Engkau lembutkan hati kami, Engkau lapangkan rezeki kami, Engkau sehatkan keluarga kami, dan Engkau wafatkan kami dalam husnul khatimah. Aamiin.”

Rabu, 06 Mei 2026

TURUT MENGUNDANG:

TURUT MENGUNDANG:

1. Rifa'i Tajuddin, S. Sos. – Manna
2. Tintus Hermansyah, S.E. – Bengkulu
3. Rahmat Ade Wijaya, S.H. – Kepahiang
4. Bastian Munip, A.Md. – Bkl
5. Juniwanto, M.Si. – Lubuk Linggau
6. Satrawinsi, SKM – Durian Sebatang
7. Pujitan, S. Ip. – Betungan
8. Pangku Iman, S.Pd. – Kepahiang
9. Rupinsi, S.Pd. – Manna
10. Khairul – Bengkulu
11. Siswanto, SKM – Bengkulu
12. Indayo, M.Si. – Bengkulu
13. Iduanto – Jakarta
14. Sukirman – Pringsewu, Lampung
15. Aldi Satrianto, S.Kom.
16. Sidianto, S.E. – Bengkulu
17. Indi Wilson, S.H. – Bengkulu
18. Miharman, S.E. – Bengkulu
19. Ali Wardana, S.E. – Bengkulu
20. Jaya Fitra, S. Sos. – Manna
21. Gustian Armedi, S.Hut. – Bengkulu
22. Andi Erzantara, M.Si. – Bengkulu
23. Yupratmansyah, S.IP. – Bengkulu
24. Suwarni Muhidin, S. Sos. – Bengkulu
25. Ibianto, S.Pd. – Bengkulu
26. Dudi Martoni – Bengkulu
27. Isdianto, S.Pd. – Curup
28. Syaiful Anwar – Bengkulu
29. Islin Yakardi – Bengkulu
30. Yito Rio – Bengkulu Utara
31. Julian – Bengkulu
32. Tito Utama, S.E. – Bengkulu

KONTEN PAGI SETELAH SUBUH“Andai Aku Bisa Kembali… Walau Sesaat”

KONTEN PAGI SETELAH SUBUH
“Andai Aku Bisa Kembali… Walau Sesaat”

Pagi ini… setelah Subuh…
coba kita diam sejenak.
Bayangkan…
di alam kubur sana… ada jiwa-jiwa yang menangis.
Karena terlambat.

Allah gambarkan penyesalan itu:
“Ya Rabbku… kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal shalih…”
(QS. Al-Mu’minun: 99)
Namun jawabannya tegas:
“Sekali-kali tidak! Itu hanyalah kata-kata saja…”
(QS. Al-Mu’minun: 100)
Selesai.
Tidak ada lagi kesempatan.

Lalu ada lagi suara yang lain…
suara penyesalan yang lebih dalam:
“Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku terhadap Allah…” (QS. Az-Zumar: 56)

Ia dulu punya waktu…
tapi ia menunda.
Ia tahu… tapi ia lalai.

Ada juga yang menyesal karena satu hal yang sering kita remehkan:
“Ya Rabbku, sekiranya Engkau menunda kematianku sedikit waktu lagi… agar aku dapat bersedekah…” (QS. Al-Munafiqun: 10)

Bukan minta jadi kaya.
Bukan minta panjang umur bertahun-tahun.
Hanya minta sedikit waktu saja… untuk bersedekah.

Ada pula yang menggigit tangannya karena salah jalan hidup:
“Wahai kiranya dahulu aku mengambil jalan bersama Rasul…” (QS. Al-Furqan: 27)
Salah memilih teman…
salah memilih arah…
dan semuanya baru terasa… ketika sudah terlambat.

Bahkan di hadapan Allah nanti, mereka berkata:
“Ya Rabb kami… kembalikanlah kami ke dunia, niscaya kami akan beramal shalih…” (QS. As-Sajdah: 12)

Dan di dalam neraka… mereka berteriak:
“Ya Rabb kami, keluarkanlah kami… niscaya kami akan beramal shalih…” (QS. Fatir: 37)
Tapi tidak ada jawaban selain satu:
tidak ada lagi kesempatan.

Saudaraku…
Yang sudah meninggal… ingin kembali.
Yang masih hidup… justru sering menunda.

Padahal hari ini…
kita sedang hidup dalam waktu yang mereka minta.
💧 Satu sedekah hari ini…
💧 Satu istighfar yang tulus…
💧 Satu sujud yang khusyuk…
Itu mungkin menjadi penyelamat kita nanti.
Jangan tunggu nanti…
karena “nanti” sering berubah menjadi penyesalan abadi.

DOA BERSAMA
Ya Allah…
Di pagi yang Engkau hidupkan kami kembali ini…
Ampuni dosa-dosa kami…
Dosa yang kami ingat maupun yang kami lupakan…
Ya Allah…
Jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang menyesal di akhir hayat…
Jangan Engkau cabut nyawa kami dalam keadaan lalai…
Dan jangan Engkau tunda taubat kami sampai ajal menjemput…
Lembutkan hati kami untuk bersedekah…
Ringankan langkah kami untuk beribadah…
Jauhkan kami dari menunda-nunda kebaikan…
Ya Allah…
Berkahi rezeki kami… lapangkan kehidupan kami…
Lunaskan hutang-hutang kami… angkat kesulitan kami…
Jadikan sisa umur kami penuh manfaat…
Dan akhiri hidup kami dengan husnul khatimah…
Kumpulkan kami di surga-Mu bersama orang-orang shalih…
Aamiin ya Rabbal ‘alamin 

Kesempatan Tak Akan Kembali

Kesempatan Tak Akan Kembali

Pagi ini, setelah Subuh… mari kita renungkan sejenak.
Ada sebuah kisah yang mengguncang hati.
Seorang lelaki yang sudah meninggal dunia, ketika melihat balasan amalnya di alam kubur, ia menangis tersedu-sedu. Bukan karena siksa semata… tapi karena penyesalan yang dalam.
Ia berkata:
“Ya Allah… kembalikan aku ke dunia walau hanya sesaat… hanya sebentar saja… aku ingin bersedekah…”
Namun, kesempatan itu tidak pernah diberikan.
Allah sudah menegaskan dalam Al-Qur’an:
“...Wahai Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal shalih yang telah aku tinggalkan...”

(QS. Al-Mu’minun: 99–100)
Tapi apa jawaban Allah?
“Sekali-kali tidak! Itu hanyalah kata-kata yang diucapkannya saja…” (QS. Al-Mu’minun: 100)

Saudaraku…
Yang sudah pergi, ingin kembali.
Yang masih hidup… justru sering menunda.

Padahal Nabi SAW bersabda:
“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara:
hidupmu sebelum matimu…”
(HR. Al-Hakim)
Hari ini kita masih diberi napas.
Masih bisa sujud.
Masih bisa bersedekah.
Masih bisa memperbaiki diri.
Jangan tunggu nanti.
Karena “nanti”… sering kali tidak pernah datang.
Mungkin hari ini kita masih sehat…
Tapi siapa yang menjamin kita sampai sore?
💧 Sedekah hari ini…
💧 Istighfar hari ini…
💧 Shalat yang khusyuk hari ini…
Itulah yang akan menjadi cahaya kita di alam gelap nanti.

DOA BERSAMA
Ya Allah…
Di pagi yang penuh berkah ini, kami datang dengan hati yang penuh harap.
Ampuni dosa-dosa kami…
Dosa yang kami sengaja maupun yang tidak kami sadari…

Ya Allah…
Jangan Engkau cabut nyawa kami sebelum Engkau ridha kepada kami…
Jadikan hari ini lebih baik dari kemarin…
Dan jadikan akhir hidup kami husnul khatimah…
Lembutkan hati kami untuk bersedekah…
Ringankan langkah kami untuk beribadah…
Dan kuatkan kami untuk meninggalkan maksiat…

Ya Allah…
Karuniakan rezeki yang halal, luas, dan penuh berkah…
Angkat kesulitan hidup kami…
Lunaskan hutang-hutang kami…
Kumpulkan kami kelak di surga-Mu…
Bersama orang-orang shalih…
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Menangis di Kubur Karena Sedekah yang Terlambat

Menangis di Kubur Karena Sedekah yang Terlambat

Malam ini, mari kita renungkan sebuah kisah yang mengguncang.

Ada seorang laki-laki yang dikenal kaya raya. Hartanya melimpah, rumahnya besar, usahanya maju. Setiap hari ia sibuk menghitung keuntungan, memperluas bisnis, dan menambah simpanan.

Namun satu hal yang jarang ia lakukan: bersedekah.
Bukan karena tidak mampu…
tapi karena selalu merasa, “Nanti saja… tunggu lebih banyak lagi…”

Hingga suatu hari, ajal datang tanpa izin. Ia pun wafat.
Di alam kubur, ia melihat sesuatu yang membuatnya menangis tersedu-sedu.
Ia melihat pahala orang-orang miskin yang dulu pernah ia tolak. Ia melihat derajat tinggi orang-orang yang dulunya bersedekah dengan ikhlas.

Dan ia melihat… dirinya kosong.
Lalu ia memohon:
“Ya Rabb… kembalikan aku ke dunia, walau hanya sesaat…
agar aku bisa bersedekah…”

Namun semuanya telah terlambat.
Allah telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya:
QS. Al-Munafiqun: 10
"Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.”

Saudaraku…
Banyak orang menunda sedekah bukan karena tidak punya, tetapi karena merasa belum cukup.

Padahal Rasulullah SAW bersabda:
"Sedekah tidak akan mengurangi harta."
(HR. Muslim)

Justru sedekah itulah yang akan menjadi cahaya di kubur,
menjadi naungan di hari kiamat, dan menjadi penolong saat semua harta ditinggalkan.

Malam ini…
Jika kita masih diberi nafas,
itu tanda Allah masih memberi kesempatan.
Tidak perlu menunggu kaya.
Tidak perlu menunggu sempurna.
Sedekah kecil…
yang dilakukan sekarang…
lebih berharga daripada niat besar yang ditunda.

Renungan penutup:
Jangan sampai kita seperti orang itu…
yang menangis di alam kubur,
bukan karena tidak punya harta…
tetapi karena terlambat menggunakannya di jalan Allah.

Semoga malam ini menjadi awal langkah kita…
untuk memberi, walau sedikit…
tapi ikhlas… dan tepat waktu.