Laqadja akum rasulum


web stats

Kamis, 23 April 2026

JANGAN MAIN-MAIN DENGAN AMANAH MASJID

JANGAN MAIN-MAIN DENGAN AMANAH MASJID

Petang mulai turun…
Dan kita pun perlahan mendekat kepada malam. 
Di saat seperti ini, mari kita bertanya dalam hati:
Jika hari ini kita dipanggil Allah, apakah amanah kita terhadap masjid sudah selesai dengan jujur… atau masih menyisakan beban?

Masjid bukan bangunan biasa.
Ia adalah rumah Allah… tempat sujud… tempat air mata taubat jatuh… tempat doa-doa orang lemah diangkat ke langit.

Allah berfirman:
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir…” (QS. At-Taubah: 18)

Memakmurkan bukan hanya ramai jamaahnya, tapi juga menjaga kejujuran, amanah, dan keikhlasan dalam setiap urusan masjid.

Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah beriman orang yang tidak amanah.” (HR. Ahmad)

Renungkan…
Ada orang yang ringan datang ke masjid… tapi berat menjaga amanahnya.

Ada yang semangat jadi panitia… tapi lalai dalam kejujuran.

Ada yang memegang uang umat… tapi lupa bahwa itu akan ditanya satu per satu di hadapan Allah.

Ini bukan sekadar laporan dunia… ini laporan akhirat.

Kisah Renungan
Dikisahkan, ada seorang pengurus masjid sederhana.
Setiap menerima uang infak, ia catat dengan rapi, bahkan uang receh pun tidak ia abaikan.

Suatu hari ditanya,
“Kenapa engkau begitu teliti, padahal ini hanya uang kecil?”
Ia menjawab pelan,
“Di dunia ini mungkin kecil… tapi di akhirat, semua akan diperbesar oleh Allah.”

Dan benar…
Yang membuat masjid itu hidup bukan kemegahan bangunannya, tapi kejujuran orang-orang yang mengurusnya.

Untuk kita semua…
Jika kita pengurus masjid:
luruskan niat
jaga kejujuran
transparan kepada jamaah. 

Jika kita jamaah:
dukung dengan doa
bantu dengan sedekah
jangan mudah berprasangka, tapi tetap peduli.

Petang ini…
Mari kita berdoa:
“Ya Allah, jadikan kami hamba yang amanah…
Jika kami mengurus rumah-Mu, maka bersihkan hati kami dari khianat…
Jika kami memegang titipan umat, maka kuatkan kami untuk jujur…
Dan jangan Engkau cabut keberkahan dari masjid kami karena kelalaian kami…”

Karena sejatinya…
Yang membangun masjid bukan hanya tangan…
Tapi hati yang takut kepada Allah.

Dan yang meruntuhkan bukan hanya alat…
Tapi hati yang berani berkhianat.
Semoga petang ini menjadi saksi taubat kita… sebelum malam benar-benar menutup kesempatan.

struktur DKM mesjid

Berikut deskripsi Struktur Dewan Kemakmuran Mesjid (DKM) Al Ikhsan Desa Lawang Agung yang dapat digunakan untuk SK, proposal, atau pembacaan saat rapat:

Pelindung
Dijabat oleh Kepala Desa Lawang Agung. 

Berperan sebagai penanggung jawab umum, memberikan arahan serta dukungan terhadap seluruh kegiatan kemakmuran masjid.

PENASEHAT: H. Ismuro dan Ismilianto

Terdiri dari tokoh agama, tokoh masyarakat, dan sesepuh desa. Bertugas memberikan nasihat, pertimbangan syar’i, serta menjaga agar seluruh kegiatan tetap sesuai dengan nilai-nilai Islam dan kearifan lokal.

KETUA            : ERSAN JONI
WAKIL KETUA : ... 

Memimpin seluruh kegiatan DKM, mengkoordinasikan setiap bidang, serta bertanggung jawab atas jalannya program kemakmuran masjid secara keseluruhan.
Wakil Ketua
Membantu ketua dalam menjalankan tugas, serta menggantikan peran ketua ketika berhalangan.

SEKRETARIS : ANDI 

Mengelola administrasi, surat-menyurat, pencatatan kegiatan, serta dokumentasi seluruh aktivitas masjid.

BENDAHARA : 

Mengelola keuangan masjid secara amanah, transparan, dan akuntabel, termasuk pemasukan dan pengeluaran dana.

BIDANG IDARAH (ADMINISTRASI): .... dan..... 

Bertugas dalam pengelolaan administrasi masjid, meliputi pendataan jamaah, arsip, surat-menyurat, dan dokumentasi kegiatan.

BIDANG IMARAH (KEGIATAN IBADAH): 
Bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan ibadah dan syiar Islam di masjid, meliputi:
Sholat fardhu dan Jumat dengan petugas:
Imam   : ……
Khatib  : ……
Bilal      : ……

Kajian dan pengajian rutin:  ... 
Peringatan hari besar Islam: .... 

BIDANG RI’AYAH (PEMELIHARAAN): .... 
Mengelola kebersihan, perawatan sarana dan prasarana masjid, serta menjaga keamanan lingkungan masjid agar tetap nyaman bagi jamaah.

BIDANG DAKWAH DAN PENDIDIKAN

Mengembangkan kegiatan dakwah dan pendidikan Islam seperti TPA/TPQ, pembinaan remaja masjid, serta pembinaan keluarga muslim.
Bidang Ekonomi dan Usaha
Mengelola usaha ekonomi masjid, pemberdayaan ekonomi umat, serta penggalangan dana untuk mendukung kegiatan masjid.

BIDANG HUMAS DAN KEMITRAAN : .... 

Menjalin hubungan dengan masyarakat, membangun kerjasama dengan pihak luar, serta mengelola publikasi dan informasi kegiatan masjid.

Penutup yang bisa digunakan:
“Dengan struktur ini, diharapkan Mesjid Al Ikhsan benar-benar menjadi pusat ibadah, dakwah, dan pemberdayaan umat, sehingga terwujud tujuan: Memakmurkan Masjid, Memakmurkan Umat.”

Rabu, 22 April 2026

WAKTU TAK BISA DIPUTAR ULANG

WAKTU TAK BISA DIPUTAR ULANG

Ada yang hilang setiap hari dari hidup kita…
Yaitu  waktu yang pergi… tidak pernah kembali.

Allah bersumpah dengan waktu:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian…” (QS. Al-‘Ashr: 1–2)

Allah juga mengingatkan penyesalan di akhirat:
“Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal shalih…”
(QS. Al-Mu’minun: 99–100)
Tapi jawabannya jelas…
tidak ada kembali.

Rasulullah SAW bersabda:
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)

Dan sabda beliau:
“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara…
waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu…”
(HR. Al-Hakim)

Ijmak dan Penjelasan Ulama
Para ulama sepakat:
Waktu adalah modal utama amal
Setiap detik akan dimintai pertanggungjawaban
Menyia-nyiakan waktu dalam hal yang tidak bermanfaat adalah kerugian nyata. 

Imam Asy-Syafi’i berkata:
“Seandainya manusia merenungkan Surah Al-‘Ashr, niscaya itu sudah cukup bagi mereka.”

Karena di dalamnya terangkum: iman, amal, dakwah, dan kesabaran…
semua butuh waktu… dan waktu itu terbatas.

Ada Kisah 
Ada seorang tua di rumah sakit…
Ia berkata lirih:
“Dulu saya punya waktu… tapi saya tunda ibadah.
Sekarang saya punya niat… tapi waktu saya hampir habis.”
Air matanya jatuh…
bukan karena sakit… tapi karena penyesalan.

Kisah lain…
Seorang pemuda selalu berkata:
“Nanti saja saya berubah…kini masih muda.”
Hari itu ia pergi seperti biasa…
dan tidak pernah kembali.

Teman-temannya berkata:
“Ia belum sempat menjadi baik… karena merasa masih punya waktu.”

Kisah para ulama…
Mereka sangat menjaga waktu.
Ada yang berkata:
“Jika aku melewatkan satu jam tanpa kebaikan, aku merasa kehilangan sebagian dari hidupku.”
Karena mereka tahu…
waktu bukan sekadar berjalan… tapi berkurang.

Renungankan

Waktu tidak menunggu kita taubat…
Waktu tidak menunggu kita siap…
Waktu tidak menunggu kita berubah…
Ia terus berjalan…
mendekatkan kita pada ajal.
Penutup
Hari ini kita masih punya waktu…
tapi tidak ada jaminan untuk besok.
Maka jangan tunda:
taubat
zakat
sedekah
ibadah
kebaikan sekecil apapun
Karena saat waktu habis…
yang tersisa hanya satu kalimat:
“Seandainya dulu…”
Dan kata itu…
tidak akan pernah mengubah apa-apa.

JANGAN TUNDA ZAKAT GAJIMU… HANYA 2,5%, TAPI MENENTUKAN HIDUPMU

JANGAN TUNDA ZAKAT GAJIMU… HANYA 2,5%, TAPI MENENTUKAN HIDUPMU

Setiap bulan gaji masuk…
Tapi sudahkah hak orang lain kita keluarkan?
Allah berfirman:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka…”
(QS. At-Taubah: 103)

Hanya 2,5%.
Namun aneh yang sedikit itu justru sering ditunda.

Ada kisah seorang pegawai berkata:
“Saya tunggu agak longgar dulu, baru zakat…”

Bulan demi bulan berlalu…
hutang tak kunjung ringan, hati pun gelisah.

Suatu hari ia tersentak…
Ia langsung  mengeluarkan 2,5% dari gajinya.
Tidak lama… rezeki yang datang mencarinya.
Ia berkata dengan penuh haru:
“Ternyata bukan saya yang berat memberi…
tapi saya yang selama ini menahan keberkahan.”

Allah berjanji:
“Apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya…”
(QS. Saba’: 39)

Rasulullah SAW bersabda:
“Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim)

Renungkan…
2,5% itu kecil…
Tapi bisa jadi pembuka langit.
2,5% itu ringan…
Tapi bisa jadi penolong di akhirat.

Jangan tunggu kaya…
Jangan tunggu lapang…
Karena yang membuat cukup bukan banyaknya gaji…
tapi keberkahannya.

Maka mulai hari ini… saat gaji masuk… langsung keluarkan.
Jangan ditunda.

Bisa jadi di situlah awal Allah mengubah hidupmu.

RENUNGAN PETANG

RENUNGAN PETANG

Shalallahu ‘ala Muhammad…

Petang ini matahari mulai tenggelam, dan umur kita pun ikut berkurang.
Di waktu seperti ini, mari kita dengarkan beberapa kisah berikut. 

Pertama, kisah seorang pedagang tua yang jujur

Di sebuah pasar kecil, ada seorang pedagang yang sudah renta. Dagangannya tidak banyak, keuntungannya kecil.

Suatu hari, seorang pembeli membayar lebih dari harga sebenarnya. Ia memanggil pembeli itu, lalu berkata,
“Ini kelebihan uangmu, saya tidak ingin membawanya  sebagai dosa.”

Orang-orang heran, “Pak, hidupmu saja susah, kenapa tidak diambil?” Ia menjawab pelan, “Karena saya ingin Allah cukupkan hidup saya, bukan harta saya.”

Rasulullah SAW bersabda:
“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, shiddiqin, dan syuhada.”
(HR. Tirmidzi)

Kedua, kisah seorang ibu yang diam-diam bersedekah

Seorang ibu miskin setiap hari hanya memasak seadanya. Tapi anehnya, setiap Subuh, ia selalu menyisihkan segenggam beras dan meletakkannya di depan rumah tetangga yang lebih miskin darinya.

Suatu hari anaknya bertanya,
“Ibu, kita saja kekurangan, kenapa masih memberi?”
Ibu itu menjawab, “Nak, kita memberi bukan karena mampu… tapi karena kita percaya Allah Maha Mampu.”

Beberapa bulan kemudian, tanpa diduga, anaknya mendapat pekerjaan yang layak.

Allah berfirman:
“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya…” (QS. Saba: 39)

Ketiga, kisah seorang lelaki yang menjaga lisannya

Ada seorang lelaki yang terkenal sangat pendiam. Ia jarang ikut membicarakan orang lain, bahkan saat orang lain sibuk bergunjing.

Ketika ditanya, ia berkata:
“Jika aku tidak punya pahala yang banyak, setidaknya aku tidak ingin menambah dosa dari lisanku.”
Bertahun-tahun ia menjaga diri…
Dan orang-orang akhirnya menghormatinya, bukan karena jabatan… tapi karena lisannya bersih.

Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Keempat, kisah seorang pemuda yang memilih taat

Di saat teman-temannya sibuk dengan hiburan dan kelalaian, ada seorang pemuda yang setiap malam memilih ke masjid, duduk berdzikir setelah Magrib hingga Isya.

Orang-orang menganggapnya “ketinggalan zaman”.
Namun suatu hari ia berkata:
“Aku hanya ingin dikenal di langit… meski tak dikenal di bumi.”

Kelak, pemuda seperti ini termasuk yang mendapat naungan Allah di hari kiamat…
saat tidak ada naungan selain naungan-Nya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kita ini sering ingin terlihat besar di mata manusia…
padahal yang menentukan hanyalah Allah.
Kita sering menunda kebaikan
seakan umur masih panjang.
Padahal berapa banyak orang yang pagi masih bersama kita,
petangnya ada dalam kubur.

Ya Allah…
Lembutkan hati kami di petang ini…
Jadikan kami hamba yang ringan bersedekah,
ringan tersenyum,
dan ringan untuk taat kepada-Mu…
Shalallahu ‘ala Muhammad…

Selasa, 21 April 2026

SEDEKAH TIDAK MENGGUGURKAN ZAKAT

SEDEKAH TIDAK MENGGUGURKAN ZAKAT

Aku pernah melihat seseorang rajin bersedekah…
tangannya ringan memberi, hatinya lembut membantu.
Tapi ketika ditanya tentang zakat, ia berkata:
“Saya sudah sering sedekah, itu sudah cukup.”

Di sinilah banyak yang keliru.
Allah berfirman:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka…”
(QS. At-Taubah: 103)

Zakat adalah kewajiban, bukan pilihan.
Ia memiliki aturan: ada nisab, ada haul, dan ada penerima yang telah ditentukan (QS. At-Taubah: 60).

Sedekah berbeda.
Ia adalah amalan sunnah, luas, bebas, dan tidak terikat waktu.
Rasulullah SAW bersabda:
“Islam dibangun di atas lima perkara…” (di antaranya menunaikan zakat) (HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya:
Seberapapun banyak sedekah kita, tidak akan menggantikan satu kewajiban zakat yang ditinggalkan.

Bayangkan seseorang berkata:
“Saya sering puasa sunnah, jadi tidak perlu puasa Ramadan.”
Apakah bisa diterima?
Tentu tidak.

Begitu pula zakat.
Sedekah sebanyak apapun tidak bisa menutupinya.

Lebih dalam lagi…
Zakat itu bukan sekadar memberi, tetapi mengembalikan hak orang lain yang ada dalam harta kita.

Sedangkan sedekah adalah kebaikan tambahan dari hati yang lapang.
Maka:
Jangan bangga dengan sedekah, jika zakat masih tertunda.

Jangan merasa cukup memberi, jika kewajiban belum ditunaikan.

Tunaikan zakat…
lalu hiasi dengan sedekah.

Karena harta yang bersih adalah yang:
ditunaikan kewajibannya,
dan diperindah dengan keikhlasan memberi.

KUPAS TUNTAS QURBAN (Udhiyah): hukum, tata cara, pembagian, dan upah panitia

KUPAS TUNTAS QURBAN (Udhiyah): hukum, tata cara, pembagian, dan upah panitia

Makna dan dasar syar’i
Qurban adalah ibadah menyembelih hewan ternak pada hari-hari tertentu untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Allah berfirman:
“Fa shalli li rabbika wanhar.”
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.”
(QS. Al-Kautsar: 2)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain menumpahkan darah (hewan qurban)….”
(HR. At-Tirmidzi)
Mayoritas ulama: hukumnya sunnah muakkadah (sangat dianjurkan), dan menjadi wajib menurut sebagian ulama bagi yang mampu.
Hewan yang sah untuk qurban
Hanya dari jenis ternak (al-an’am): kambing/domba, sapi/kerbau, unta.
Syarat umum:
Cukup umur:
kambing ≥ 1 tahun (domba boleh 6 bulan jika gemuk),
sapi ≥ 2 tahun,
unta ≥ 5 tahun.
Sehat dan tidak cacat berat (buta, pincang parah, sangat kurus, sakit jelas).
Milik sendiri dan halal.
Waktu penyembelihan
Dimulai setelah shalat Idul Adha (10 Dzulhijjah) sampai akhir hari Tasyrik (13 Dzulhijjah) sebelum magrib.
Tata cara penyembelihan (ringkas tapi sah)
Niat karena Allah
Mengucap Bismillah, Allahu Akbar
Menyembelih dengan alat tajam, memutus saluran makan, napas, dan dua urat leher
Menghadap kiblat dianjurkan
Tidak menyiksa hewan
Pembagian daging qurban (inti yang sering ditanya)
Allah berfirman:
“...Makanlah sebagian darinya dan berikanlah kepada orang yang tidak meminta dan yang meminta.”
(QS. Al-Hajj: 36)
Para ulama menjelaskan pembagiannya fleksibel, namun yang afdhal:
Pertama, sepertiga untuk yang berqurban dan keluarganya
Kedua, sepertiga untuk hadiah (kerabat/tetangga)
Ketiga, sepertiga untuk fakir miskin
Catatan penting:
Boleh tidak persis sepertiga, yang penting fakir miskin mendapat bagian cukup
Daging boleh dimasak atau mentah saat dibagikan
Kulit, kepala, kaki semuanya bagian qurban—tidak boleh diperjualbelikan
Berapa yang kembali kepada orang yang berqurban?
Tidak ada angka wajib.
Namun yang dianjurkan: sekitar sepertiga untuk dimakan sendiri.
Bahkan:
Boleh mengambil kurang dari itu
Boleh mengambil lebih, selama tidak menghilangkan hak fakir miskin
Intinya: qurban bukan untuk memperbanyak daging di rumah, tapi untuk berbagi dan mendekat kepada Allah.
Upah tukang jagal (penyembelih)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Kami memberikan upah kepada tukang jagal dari harta kami sendiri, bukan dari hewan qurban.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya:
Tidak boleh membayar jagal dengan daging qurban sebagai upah
Upah harus dari uang/shadaqah panitia atau dari orang yang berqurban
Namun boleh memberi daging sebagai hadiah, bukan upah
Panitia qurban (amil qurban)
Hukum dan adab:
Panitia hanya wakil (amanah), bukan pemilik
Tidak boleh mengambil bagian sebagai “jatah kerja”
Jika ingin diberi, statusnya hadiah, bukan gaji dari daging qurban
Boleh diberi upah uang dari kas atau iuran
Kesalahan yang sering terjadi:
Panitia mengambil bagian tetap → ini tidak dibenarkan jika dianggap upah
Menjual kulit untuk kas → tidak boleh, kecuali disedekahkan
Ringkasan tajamnya
Qurban adalah ibadah pengorbanan, bukan sekadar pembagian daging
Pembagian terbaik: untuk diri, hadiah, dan fakir miskin
Orang yang berqurban dianjurkan mengambil sekitar sepertiga
Jagal dan panitia tidak boleh dibayar dengan daging qurban
Semua bagian hewan adalah amanah ibadah
Penutup renungan
Yang sampai kepada Allah bukan dagingnya, tetapi ketakwaannya.
Allah berfirman:
“Daging dan darahnya itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Semoga qurban kita bukan sekadar sembelihan, tetapi menjadi bukti bahwa kita mampu mengalahkan cinta dunia demi Allah.