Laqadja akum rasulum


web stats

Jumat, 06 Maret 2026

JANGAN KITA JADI MAYAT YANG MENYESAL

JANGAN KITA JADI MAYAT YANG MENYESAL

Pagi ini, sebelum kita sibuk dengan dunia, bayangkan sejenak satu keadaan yang pasti akan datang.

Suatu hari nanti, kita akan terbujur kaku.
Tubuh kita dimandikan.
Tubuh kita dikafani.
Tubuh kita dishalatkan.
Tubuh kita diangkat menuju kubur. 
Lalu... tanah dijatuhkan.
"Bruk..." Langkah kaki orang-orang terdengar menjauh.

Dan setelah itu…
Sunyi. Tak ada lagi suara dunia. Tidak ada lagi jabatan.
Tidak ada lagi uang. Tidak ada lagi pujian manusia.

Yang tersisa hanya satu pertanyaan: “Apa yang sudah kau bawa pulang?”

Allah mengingatkan:
"Kullu nafsin dzaa'iqatul maut."
"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati."
(QS. Ali Imran: 185)

Rasulullah SAW bersabda:
"Orang yang cerdas adalah orang yang menundukkan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian."
(HR. Tirmidzi)

Betapa banyak manusia yang masih menunda shalat...
padahal malaikat maut sudah sangat dekat.

Betapa banyak manusia yang masih sibuk dengan dunia...
padahal bekal akhiratnya kosong. 

Ramadhan sedang berjalan.
Ini mungkin Ramadhan terakhir kita.

Jangan sampai nanti kita menjadi mayat yang menyesal sambil berkata:
"Ya Rabb… kembalikan aku ke dunia walau sebentar saja, agar aku bisa bersedekah dan menjadi orang yang saleh."
(QS. Al-Munafiqun: 10)

Tetapi penyesalan di kubur tidak lagi berguna.

Maka pagi ini…
sebelum umur semakin pendek, perbaiki shalat kita,
perbanyak istighfar, dan jangan biarkan Al-Qur'an hanya menjadi hiasan rumah.

Semoga Allah tidak menjadikan kita termasuk orang yang menyesal di dalam kubur.
Aamiin ya rabbal aalamin. 

Kamis, 05 Maret 2026

AL-QUR'AN BERDEBU Cerpen: oleh Ismilianto

AL-QUR'AN BERDEBU
Cerpen: oleh Ismilianto 

Di sudut ruang tamu rumah itu ada sebuah lemari kecil.
Tidak besar.
Tidak mewah.
Di dalamnya tersimpan sebuah mushaf Al-Qur’an.
Sampulnya hijau tua.
Tulisan emasnya masih indah.
Tetapi jika seseorang membuka lemari itu perlahan, akan terlihat satu hal yang menyedihkan.
Di atas mushaf itu…
terdapat lapisan debu yang tipis.
Debu yang tidak datang sehari.
Debu itu adalah kumpulan hari-hari yang berlalu.
Hari ketika pemilik rumah berkata,
“Nanti saja aku membaca.”
Hari ketika ia berkata,
“Aku sedang sibuk.”
Hari ketika ia berkata,
“Masih panjang umurku.”
Lelaki itu sebenarnya seorang Muslim.
Ia shalat kadang-kadang.
Ia tidak pernah merasa dirinya jahat.
Tetapi ada satu kebiasaan yang ia tunda terus-menerus.
Membaca Al-Qur’an.
Ramadhan datang.
Suatu malam ia membuka mushaf itu.
Hanya sebentar.
Ia membaca beberapa ayat.
Lalu meletakkannya kembali.
“Besok aku lanjutkan,” katanya.
Tetapi besok itu tidak pernah datang.
Karena beberapa hari kemudian…
ia meninggal dunia.
Tubuhnya terbujur kaku di ruang tengah rumahnya.
Orang-orang datang.
Ia dimandikan.
Air mengalir di tubuhnya yang dingin.
Ia dikafani.
Kain putih membungkus tubuhnya.
Ia dishalatkan.
Doa-doa naik ke langit.
Lalu ia dibawa ke pemakaman.
Tanah digali.
Tubuhnya diturunkan perlahan.
Seseorang membuka simpul kafannya.
Seseorang berkata lirih:
“Bismillah wa ‘ala millati Rasulillah.”
Lalu tanah mulai menutupnya.
Segenggam demi segenggam.
Suara langkah orang-orang perlahan menjauh.
Kuburan itu menjadi sunyi.
Gelap.
Sepi.
Hanya tanah…
dan seorang mayat.
Tak lama kemudian dua malaikat datang.
Wajah mereka tegas.
Suara mereka mengguncang jiwa.
Mereka mendudukkan mayat itu.
Lalu bertanya:
“Siapa Tuhanmu?”
Lelaki itu berusaha mengingat.
Jawabannya sangat mudah.
Ia tahu itu.
Ia pernah mendengarnya ribuan kali.
Tetapi lidahnya tidak bergerak.
Dadanya terasa sesak.
Ia hanya berkata:
“Aku… aku tidak tahu…”
Pertanyaan kedua datang seperti petir.
“Apa agamamu?”
Keringat ketakutan membasahi ruhnya.
Ia kembali berkata:
“Aku tidak tahu…”
Lalu pertanyaan terakhir:
“Siapa nabimu?”
Ia ingin menjawab.
Ia tahu nama itu.
Muhammad.
Tetapi bibirnya gemetar.
Yang keluar hanya suara putus-putus:
“Aku… aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu…”
Malaikat itu memandangnya lama.
Lalu datang hukuman.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa orang seperti ini akan dipukul dengan palu dari besi.
Satu pukulan saja cukup membuatnya menjerit.
Jeritan itu didengar seluruh makhluk.
Kecuali manusia dan jin.
Jeritannya mengguncang tanah.
Tetapi di dunia…
orang-orang sedang tertidur nyenyak.
Di rumahnya sendiri…
malam itu sunyi.
Angin malam masuk lewat jendela.
Menyentuh lemari kecil di ruang tamu.
Debu di atas mushaf itu bergerak sedikit.
Seolah-olah mushaf itu ingin dibuka.
Seolah-olah ia ingin berkata sesuatu.
Karena selama bertahun-tahun ia hanya menunggu.
Menunggu tangan yang jarang datang.
Menunggu mata yang jarang membaca.
Menunggu hati yang selalu menunda.
Di dalam kubur…
lelaki itu menangis.
Tangisan yang tidak didengar manusia.
Ia berkata dengan penyesalan yang dalam:
“Ya Allah…
seandainya aku bisa kembali satu hari saja…”
“Satu hari saja…”
“Aku akan membuka mushaf itu…
aku akan membaca sampai mataku menangis…”
“Tetapi sekarang semuanya sudah terlambat…”
Di rumahnya…
mushaf itu tetap berada di lemari kecil.
Masih indah.
Masih bercahaya.
Tetapi tetap tertutup.
Debunya semakin tebal.
Dan malam terus berlalu.
Seolah-olah menunggu satu orang lagi.
Seseorang yang nanti akan dimasukkan ke dalam kubur…
dan berkata dengan penyesalan yang sama:
“Ya Allah…
kenapa dulu aku tidak membaca Al-Qur’an…”

TIGA PERTANYAAN DALAM GELAP Cerpen: oleh Ismilianto

TIGA PERTANYAAN DALAM GELAP
Cerpen: oleh Ismilianto

Sore itu tanah masih basah.
Langit tampak redup ketika orang-orang berdiri mengelilingi liang kubur.

Doa dibaca pelan.
“Allahummaghfir lahu…”
“Semoga dilapangkan kuburnya…”
Tanah mulai dijatuhkan.
Sekop demi sekop.
Suara tanah yang jatuh ke papan penutup kubur terdengar seperti ketukan pelan yang menutup sebuah kehidupan.

Tak lama kemudian gundukan tanah selesai.
Batu nisan ditancapkan.
Air disiramkan.
Orang-orang perlahan pulang.
Langkah sandal mereka menjauh dari kuburan itu.
Satu langkah.
Dua langkah.
Semakin jauh.
Di dalam tanah itu… seseorang mendengarnya.

Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya seorang hamba apabila telah diletakkan di dalam kuburnya dan para pengantarnya telah pergi, ia mendengar suara sandal mereka.” (HR Bukhari no. 1338, Muslim no. 2870)

Ia mendengar semuanya.
Sampai akhirnya…
sunyi.
Gelap.
Tanah yang dingin memeluk tubuhnya. Ia ingin bangun.
Tetapi tubuhnya kaku.
Ia ingin memanggil seseorang.
Tetapi tidak ada suara yang keluar.

Tiba-tiba tanah terasa bergerak. Dua makhluk berdiri di hadapannya.
Wajah mereka tegas.
Tatapan mereka tajam.
Mereka adalah malaikat.

Para ulama menyebut mereka Munkar dan Nakir. Salah satu dari mereka bersuara.

Suara yang mengguncang seluruh kesadarannya.
“Man rabbuka?”
Siapa Tuhanmu?
Ia terdiam.
Pertanyaan itu sederhana.
Terlalu sederhana.
Tetapi hatinya kosong.
Ia mencoba mengingat hidupnya.

Dulu ia pernah salat.
Kadang ketika sempat saja. 
Sering kali ia menunda.
Sering kali ia berkata, “Nanti saja.”

Ia mencoba menjawab.
Tetapi lidahnya terasa berat seperti batu.
“Aku… aku…”
Tidak ada kata keluar.

Malaikat itu bertanya lagi.
Lebih keras.
“Man rabbuka?”
Ia gemetar.
Akhirnya keluar kalimat yang membuat langit dan bumi seolah menahan napas.
“Aku… tidak tahu…”

Kubur menjadi semakin dingin.
Malaikat kedua maju.
“Maa diinuka?”
Apa agamamu?
Ia mencoba mengingat.
Di dunia ia Islam.
Namanya Islam.
Keluarganya Islam.
Tetapi hidupnya… dipenuhi banyak hal selain Islam.

Hari-harinya habis untuk urusan dunia.
Berita.
Percakapan.
Kesibukan.
Tetapi mushaf Al-Qur'an di rumahnya sering tertutup debu.

Ia ingin menjawab.
Tetapi hatinya kosong.
“Aku… tidak tahu…”

Pertanyaan terakhir datang seperti petir yang membelah langit gelap kubur.
“Man nabiyyuka?”
Siapa nabimu?
Nama itu sebenarnya dekat.
Muhammad SAW.
Tetapi ia jarang mengenalnya.
Jarang membaca kisahnya.
Jarang bershalawat kepadanya.
Jarang meneladani hidupnya.
Ia ingin menjawab.
Tetapi yang keluar hanyalah kalimat paling menyedihkan yang pernah diucapkan manusia di dalam kubur.
“Aku… hanya mengikuti apa yang orang-orang katakan…”

Persis seperti yang disebutkan Rasulullah SAW:
“La adri… la adri… kuntu aqulu maa yaqulun naas.”
“Aku tidak tahu… aku tidak tahu… aku hanya mengikuti apa yang orang-orang katakan.” (HR Bukhari no. 1374)

Sunyi sekali. Lalu tiba-tiba suara dari langit menggema.
Suara yang membuat bumi seakan bergetar.

“Dia dusta.”
Saat itu kubur berubah.
Tanah yang tadi diam mulai menekan tubuhnya.
Perlahan.
Semakin sempit.
Semakin sempit.
Sampai tulang rusuknya saling berhimpitan.

Rasulullah SAW bersabda:
“Kuburnya disempitkan sampai tulang rusuknya saling berhimpitan.” (HR Ahmad, Tirmidzi)

Ia menjerit.
Tetapi jeritan itu tidak didengar manusia.
Lalu malaikat membawa sesuatu yang mengerikan.
Sebuah palu besar dari besi.

Rasulullah SAW bersabda:
“Didatangkan kepadanya palu dari besi, lalu ia dipukul satu kali pukulan sehingga ia menjerit dengan jeritan yang didengar semua makhluk kecuali manusia dan jin.”
(HR Bukhari no. 1374)

Palu itu diangkat.
Lalu dihantamkan.
Satu pukulan.
Jeritannya mengguncang alam.

Burung di langit mendengarnya.
Binatang di bumi mendengarnya.
Tetapi manusia… tidak.

Dunia di atas kubur tetap tenang. Orang-orang sedang makan malam. Anak-anak sedang tertawa.
Lampu rumah menyala.
Tidak ada yang tahu…
bahwa di bawah tanah itu seseorang sedang menyesali seluruh hidupnya.

Lalu kepadanya diperlihatkan sesuatu yang lebih menakutkan. Sebuah pintu dibuka di kuburnya. Lalu API terlihat di kejauhan, NERAKA. 
Itulah tempatnya di neraka.

Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap pagi dan petang diperlihatkan kepadanya tempatnya di neraka.”
(HR Bukhari no. 1379, Muslim no. 2866)

Api itu tidak menyentuhnya.
Tetapi ia tahu.
Suatu hari nanti setelah dihisab ia akan berada di sana.

Dan kubur itu menjadi sempit… gelap… menekan… tanpa akhir.

Ia baru mengerti sesuatu yang terlambat.
Dulu ia bisa membaca banyak hal.
Ia membaca berita.
Ia membaca komentar.
Ia membaca pesan setiap hari.
Tetapi ia jarang membaca Al-Qur'an.
Padahal kitab itu turun untuk menyelamatkannya.

Kini semuanya terlambat.
Gelap menjadi temannya.
Dan tiga pertanyaan itu terus bergema dalam kubur yang sempit.
Siapa Tuhanmu?
Apa agamamu?
Siapa nabimu?

Pertanyaan yang dulu sangat mudah dijawab di dunia…
tetapi kini menjadi jurang yang tidak bisa ia lewati.

Dan di atas tanah itu…
angin malam berhembus pelan.
Seolah membawa pesan bagi siapa saja yang masih hidup:
SUATU HARI… KITA SEMUA AKAN MENDENGAR TIGA PERTANYAAN YANG SAMA.

LAPORAN TERAKHIR DARI LANGIT Cerpen: oleh Ismilianto

LAPORAN TERAKHIR DARI LANGIT
Cerpen: oleh Ismilianto

Malam itu sunyi.
Seorang lelaki baru saja meninggal. Tubuhnya terbujur kaku di ruang tamu rumahnya.

Keluarga menangis. Tetangga berdatangan. Ada yang membaca doa, ada yang menenangkan.

Namun di tempat yang tak terlihat oleh manusia, dua malaikat berdiri dekat jasad itu. Mereka adalah Malaikat Raqib dan Malaikat Atid.
Sejak lelaki itu lahir, keduanya tidak pernah berpisah darinya.
Setiap kata, setiap langkah, setiap niat— semuanya mereka catat.

Allah telah berfirman dalam Al-Qur'an:
“Ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, yang satu di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri.” (QS. Qaf: 17)

Malam itu buku catatan hidup lelaki itu akhirnya ditutup.
Malaikat di sebelah kanan membuka lembarannya.
Ia berkata pelan, seolah menahan sedih.
“Di sini tertulis beberapa kebaikan.
Sedekah kecil.
Beberapa doa untuk ibunya.
Beberapa langkah menuju masjid… tapi tidak banyak.”

Lalu malaikat di sebelah kiri membuka catatannya.
“Di sini tertulis kelalaian yang panjang.
Waktu salat yang sering berlalu begitu saja.
Azan yang ia dengar… tetapi ia tidak bangkit.”

Rumah itu masih dipenuhi tangisan manusia.
Tetapi dua malaikat itu sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih besar:
laporan hidup seorang manusia kepada Allah.

Di langit, para malaikat naik membawa catatan itu.
Rasulullah SAW bersabda:
“Para malaikat malam dan siang berkumpul pada salat Subuh dan Ashar, lalu mereka naik kepada Allah.” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Namun malam ini bukan laporan harian.
Ini laporan terakhir.

Malaikat Raqib berkata:
“Wahai Tuhan kami…
kami datang kepadanya berkali-kali saat azan memanggil, tetapi ia sering memilih urusan dunia.”

Malaikat Atid melanjutkan:
“Wahai Tuhan kami…
waktu yang Engkau beri begitu panjang, namun salatnya sedikit.”

Buku amal itu ditutup.
Di bumi, manusia berkata:
“Dia orang baik.”
Tetapi di langit, yang dilihat bukan hanya ucapan manusia.
Yang dilihat adalah catatan salatnya.

Karena Rasulullah SAW telah bersabda:
“Amalan pertama yang dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salat.” (HR. Imam Tirmidzi)

Malam semakin sunyi.
Tubuh lelaki itu sebentar lagi akan dimandikan, dikafani, dishalatkan, lalu dikuburkan.

Tetapi sesuatu yang lebih dahulu sampai ke langit adalah laporan hidupnya.
Dan sejak saat itu…
Tak ada lagi kesempatan menambah satu rakaat pun.
Tak ada lagi kesempatan memperbaiki satu sujud pun.
Karena buku catatan itu telah ditutup.

Dan suatu hari nanti, setiap manusia akan dipanggil untuk membacanya sendiri.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
“Bacalah kitab catatanmu. Cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghisab atas dirimu.” (QS. Al-Isra: 14)

Maka sebelum malaikat menutup buku hidup kita…
masih ada waktu untuk memperbaiki laporan itu.
Masih ada waktu untuk berdiri di sajadah. Masih ada waktu untuk membuat Malaikat Raqib menulis lebih banyak daripada Malaikat Atid.

Karena ketika kematian datang…
yang ikut bersama kita hanyalah catatan amal itu.

KUBUR YANG KEHILANGAN RAMADHAN Cerpen: Ismilianto

KUBUR YANG KEHILANGAN RAMADHAN
Cerpen: Ismilianto

Ia wafat di penghujung sore.
Langit berwarna jingga.
Orang-orang berkata, “Wajahnya tenang.”
Doa dilangitkan. Air mata jatuh.

Semua tampak baik-baik saja.
Tak ada yang tahu— kecuali Allah— bahwa setiap kali Ramadhan datang, hatinya justru merasa terganggu.

Puasa baginya bukan kewajiban suci.
Ia menyebutnya “opsi”.
Ia makan sembunyi-sembunyi.
Ia minum dengan pintu tertutup.
Lalu berkata ringan,
“Allah Maha Pengampun.”

Benar. Allah Maha Pengampun.
Namun ia lupa firman-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Diwajibkan.
Bukan dianjurkan.
Bukan pilihan.

Malam pertama di kubur tiba.
Sunyinya berbeda.
Bukan seperti kamar gelap.
Bukan seperti mati lampu.
Ini sunyi yang hidup.
Sunyi yang sadar.
Sunyi yang membuat jiwa tak bisa lagi bersembunyi.

Pertanyaan datang.
Tentang Rabbnya.
Tentang agamanya.
Tentang nabinya.
Lisannya tahu jawabannya ketika di dunia.
Namun iman yang tak pernah dilatih dengan taat,
mendadak terasa rapuh.

Lalu yang paling menghimpit bukan tanah.
Tetapi ingatan.
Ia melihat Ramadhan-Ramadhan yang berlalu.
Adzan Subuh yang ia dengar tapi ia lanjutkan makan.

Tarawih yang ia tunda sampai akhirnya tak pernah datang.
Lapar yang seharusnya menjadi saksi ketaatan,
justru ia hindari tanpa alasan.

Ia sadar sekarang.
Puasa bukan tentang kuat atau tidak kuat.
Puasa adalah tentang tunduk atau tidak tunduk.

Rasulullah SAW bersabda:
“Islam dibangun atas lima perkara…” dan beliau menyebut di antaranya,
“berpuasa Ramadhan.”
(HR. Bukhari no. 8, Muslim no. 16)

Bukan cabang kecil.
Bukan ibadah tambahan.
Ia adalah tiang.
Dan ia pernah merobohkannya dengan santai.

Di kubur itu, tak disebutkan azabnya bagaimana.
Namun penyesalan itu nyata.
Penyesalan yang tidak bisa ditebus.
Penyesalan yang tidak bisa diedit.
Penyesalan yang tidak bisa dihapus dengan status baru.

Ia ingin kembali.
Bukan untuk bisnis.
Bukan untuk jabatan.
Bukan untuk membalas komentar.

Ia hanya ingin satu Ramadhan saja. Satu hari saja.
Untuk menahan lapar karena Allah. Untuk bangun sahur dengan niat sungguh-sungguh.
Untuk berdiri di malam hari walau hanya dua rakaat.
Namun kubur tidak mengenal kata “ulang”.

Allah berfirman tentang orang yang menyesal setelah mati:
“Ya Rabbku, kembalikanlah aku ke dunia agar aku dapat beramal saleh…” (QS. Al-Mu’minun: 99–100)

Tetapi jawabannya tegas: tidak.

Petang ini, kita masih bernapas.
Kita masih bisa merasa lapar karena memilih taat.
Kita masih bisa sujud dengan sadar.
Kita masih bisa berkata, “Ya Allah, aku ingin berubah.”

Jangan sampai nanti,
di ruang sempit yang tak bisa ditembus cahaya itu,
kita baru mengerti bahwa satu Ramadhan
lebih berharga daripada seluruh dunia.

Kubur tidak menyesal karena kehilangan harta kita.
Kubur tidak peduli pada gelar kita.
Tetapi kubur menjadi saksi
siapa yang kehilangan Ramadhan…
dan siapa yang menjaga kehormatan bulan itu.

Selama fajar masih terbit, 
selama Ramadhan masih Allah pertemukan dengan kita…
jangan biarkan kubur menjadi tempat pertama
kita benar-benar merindukan puasa yang dulu kita anggap biasa saja.

Rabu, 04 Maret 2026

Sahabat yang Tidak Pergi Cerpen: oleh Ismilianto

Sahabat yang Tidak Pergi
Cerpen: oleh Ismilianto

Namanya biasa saja. Tidak terkenal. Tidak punya jabatan. Di kampungnya ia hanya dikenal sebagai orang yang kalau malam selesai Isya, duduk sebentar membuka mushaf kecilnya.

Ia punya satu kebiasaan yang tidak pernah ia tinggalkan.
Membaca Surah Al-Mulk sebelum tidur.

Ia pernah mendengar sabda Rasulullah SAW:
"Ada satu surah dalam Al-Qur’an yang terdiri dari tiga puluh ayat, yang memberi syafaat kepada pembacanya sampai diampuni dosa-dosanya, yaitu Tabarakalladzi biyadihil mulk." (HR. Tirmidzi no. 2891)

Sejak itu ia menjaga Al-Mulk seperti sahabat.
Bertahun-tahun ia membacanya. Kadang dengan suara pelan. Kadang dengan mata yang mengantuk. Kadang dengan hati yang letih karena urusan dunia. Tapi ia tidak pernah meninggalkannya.

Sampai suatu malam… ia tidak bangun lagi.
Ia dimandikan. Dikafani. Dishalatkan. Diantar ke kubur. Tangis keluarga mengiringi. Tanah diratakan. Orang-orang pulang.
Sunyi.
Ia mendengar langkah kaki terakhir menjauh.

Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya seorang hamba ketika diletakkan di kuburnya dan para pengantarnya telah pergi, ia mendengar suara sandal mereka." (HR. Bukhari no. 1338, Muslim no. 2870)

Lalu datang dua malaikat.
Wajah mereka tegas. Suara mereka mengguncang.
Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa Nabimu?
Dengan gemetar ia menjawab.

Allah meneguhkan lisannya, sebagaimana firman-Nya:
"Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat." (QS. Ibrahim: 27)


Jawabannya lancar.
Tiba-tiba… sebelum kegelapan menjadi menakutkan, datang sesuatu yang bercahaya.
Seperti sosok lelaki tampan, harum, wajahnya menenangkan.

Ia berkata, “Jangan takut. Jangan bersedih.”
“Siapa engkau?” tanya si mayit.

“Aku adalah Surah Al-Mulk yang dulu kau baca setiap malam.”

Kuburnya yang sempit mulai meluas. Angin sejuk berhembus. Sebuah pintu kecil terbuka memperlihatkan cahaya surga.
Surah itu berdiri di antara dirinya dan azab.

Karena Rasulullah SAW bersabda:
"Surah Tabarak (Al-Mulk) adalah penghalang dari azab kubur." (HR. Al-Hakim no. 3839, dinilai sahih oleh sebagian ulama)

Hari berganti hari di alam barzakh, tapi ia tidak merasakan kesempitan. Waktu terasa seperti tidur yang nyaman.

Lalu sangkakala ditiup.
Hari yang dijanjikan itu tiba.
Manusia bangkit dari kubur dalam keadaan bingung. Mata terbelalak. Keringat mengalir. Matahari didekatkan.

Allah menggambarkan kedahsyatannya:
"Pada hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan seluruh alam." (QS. Al-Muthaffifin: 6)

Di Padang Mahsyar, manusia mencari pelindung.
Ia gemetar. Amal terasa sedikit. Dosa terasa banyak.
Tiba-tiba cahaya itu datang lagi.

Surah Al-Mulk berdiri bersamanya.
Ia menjadi pembela. Menjadi saksi bahwa hamba ini mencintai kalam Allah. Bahwa setiap malam, di saat banyak orang lalai, ia membuka dan membacanya.

Timbangan amal ditegakkan.
Kebaikannya diperberat.
Allah Maha Pengampun. Surah itu memberi syafaat hingga diampuni.

Ketika namanya dipanggil menuju surga, ia menoleh sejenak ke Padang Mahsyar yang penuh kepanikan.

Ia teringat malam-malam sederhana di dunia. Hanya tiga puluh ayat. Tidak panjang. Tidak berat.
Tapi istiqamah.
Ia pun melangkah.
Dan di gerbang itu, ia sadar…
Yang menemaninya bukan hartanya. Bukan rumahnya. Bukan jabatannya.
Tapi kebiasaan kecil yang ia jaga dengan cinta.
Surah Al-Mulk.


Senin, 02 Maret 2026

IMANNYA SEBESAR BIJI SAWI Cerpen: oleh Ismilianto

IMANNYA SEBESAR BIJI SAWI
Cerpen: oleh Ismilianto

MANUSIA itu gemetar.
Kepalanya tertunduk. Catatan amalnya sudah terbuka.

MALAIKAT berkata tegas:
“Bacalah kitabmu itu. Hari ini engkau akan menjadi saksi terhadap semua amalmu di dunia.”

Manusia itu membacanya.
Salat yang bolong-bolong.
Janji sering diingkari.
Taubat selalu ditunda.

MANUSIA itu berbisik panik:
“Aku berdosa… tapi aku tidak menyekutukan-Mu, ya Allah…”

MALAIKAT menjawab dingin:
“Benar. Engkau tidak kufur.
Namun dosa-dosamu itu menuntut keadilan.”

Langit terdiam.
Lalu firman Allah terdengar, mengguncang seluruh makhluk:
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (Al-Qur'an, QS. An-Nisa: 48)

MANUSIA itu menangis:
“Jika masih ada kehendak-Mu, aku tetap berharap… meski sedikit ya Rabb.”

MALAIKAT menunduk:
“Engkau akan disucikan dulu.”

Lalu ia dilempar ke neraka.
Api menyambutnya.
MANUSIA itu berteriak:
“Ya Allah! Aku mengaku salah! Jangan cabut imanku ini!”

MALAIKAT penjaga neraka berkata keras:
“Diam! Ini akibat dari engkau menunda-nunda taubat!”

Hari demi hari—
atau mungkin tahun demi tahun— iman itu tetap ia genggam walaupun dirinya hangus terbakar.

Hingga suatu saat…
FIRMAN ALLAH kembali terdengar:
“Keluarkan dari neraka siapa saja yang di dalam hatinya masih ada iman.”

MALAIKAT bertanya:
“Yang seberapa besar imannya, ya Rabb kami?”

Firman Allah menjawab:
“Meski hanya sebesar biji sawi.”

Lalu para malaikat mencari manusia yang masih ada imannya di neraka. 

Malaikat pun menemukan manusia yang  hangus, hitam, tak berbentuk.

MALAIKAT berkata lembut:
“Engkau selamat… karena imanmu tidak pernah kau lepaskan.”

Maka manusia yang sudah hangus terbakar api neraka itu dicelupkan ke sungai kehidupan.

Dan teringatlah ia pada sabda Nabi SAW yang dulu hanya ia dengar, kini ia alami:
“Akan keluar dari neraka orang yang di dalam hatinya terdapat iman meskipun seberat biji sawi.” (Shahih Muslim)

Saat ia berdiri di depan gerbang surga…
MANUSIA itu tersungkur menangis:
“Ya Allah… andai aku tahu rahmat-Mu sebesar ini, aku tak akan menunda taubat sehari pun selama di dunia.”

Firman Allah menenangkan:
“Masuklah dengan rahmat-Ku.
Walaupun amalmu tak seberapa.”

Ia melangkah masuk.
Dan ia paham satu hal: bahwa
IMAN bisa menyelamatkan,
tetapi TAUBATLAH yang paling menyelamatkan tanpa api neraka.