KUBUR YANG KEHILANGAN RAMADHAN
Cerpen: Ismilianto
Ia wafat di penghujung sore.
Langit berwarna jingga.
Orang-orang berkata, “Wajahnya tenang.”
Doa dilangitkan. Air mata jatuh.
Semua tampak baik-baik saja.
Tak ada yang tahu— kecuali Allah— bahwa setiap kali Ramadhan datang, hatinya justru merasa terganggu.
Puasa baginya bukan kewajiban suci.
Ia menyebutnya “opsi”.
Ia makan sembunyi-sembunyi.
Ia minum dengan pintu tertutup.
Lalu berkata ringan,
“Allah Maha Pengampun.”
Benar. Allah Maha Pengampun.
Namun ia lupa firman-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Diwajibkan.
Bukan dianjurkan.
Bukan pilihan.
Malam pertama di kubur tiba.
Sunyinya berbeda.
Bukan seperti kamar gelap.
Bukan seperti mati lampu.
Ini sunyi yang hidup.
Sunyi yang sadar.
Sunyi yang membuat jiwa tak bisa lagi bersembunyi.
Pertanyaan datang.
Tentang Rabbnya.
Tentang agamanya.
Tentang nabinya.
Lisannya tahu jawabannya ketika di dunia.
Namun iman yang tak pernah dilatih dengan taat,
mendadak terasa rapuh.
Lalu yang paling menghimpit bukan tanah.
Tetapi ingatan.
Ia melihat Ramadhan-Ramadhan yang berlalu.
Adzan Subuh yang ia dengar tapi ia lanjutkan makan.
Tarawih yang ia tunda sampai akhirnya tak pernah datang.
Lapar yang seharusnya menjadi saksi ketaatan,
justru ia hindari tanpa alasan.
Ia sadar sekarang.
Puasa bukan tentang kuat atau tidak kuat.
Puasa adalah tentang tunduk atau tidak tunduk.
Rasulullah SAW bersabda:
“Islam dibangun atas lima perkara…” dan beliau menyebut di antaranya,
“berpuasa Ramadhan.”
(HR. Bukhari no. 8, Muslim no. 16)
Bukan cabang kecil.
Bukan ibadah tambahan.
Ia adalah tiang.
Dan ia pernah merobohkannya dengan santai.
Di kubur itu, tak disebutkan azabnya bagaimana.
Namun penyesalan itu nyata.
Penyesalan yang tidak bisa ditebus.
Penyesalan yang tidak bisa diedit.
Penyesalan yang tidak bisa dihapus dengan status baru.
Ia ingin kembali.
Bukan untuk bisnis.
Bukan untuk jabatan.
Bukan untuk membalas komentar.
Ia hanya ingin satu Ramadhan saja. Satu hari saja.
Untuk menahan lapar karena Allah. Untuk bangun sahur dengan niat sungguh-sungguh.
Untuk berdiri di malam hari walau hanya dua rakaat.
Namun kubur tidak mengenal kata “ulang”.
Allah berfirman tentang orang yang menyesal setelah mati:
“Ya Rabbku, kembalikanlah aku ke dunia agar aku dapat beramal saleh…” (QS. Al-Mu’minun: 99–100)
Tetapi jawabannya tegas: tidak.
Petang ini, kita masih bernapas.
Kita masih bisa merasa lapar karena memilih taat.
Kita masih bisa sujud dengan sadar.
Kita masih bisa berkata, “Ya Allah, aku ingin berubah.”
Jangan sampai nanti,
di ruang sempit yang tak bisa ditembus cahaya itu,
kita baru mengerti bahwa satu Ramadhan
lebih berharga daripada seluruh dunia.
Kubur tidak menyesal karena kehilangan harta kita.
Kubur tidak peduli pada gelar kita.
Tetapi kubur menjadi saksi
siapa yang kehilangan Ramadhan…
dan siapa yang menjaga kehormatan bulan itu.
Selama fajar masih terbit,
selama Ramadhan masih Allah pertemukan dengan kita…
jangan biarkan kubur menjadi tempat pertama
kita benar-benar merindukan puasa yang dulu kita anggap biasa saja.