Laqadja akum rasulum


web stats

Kamis, 05 Februari 2026

Kisah Pengamal Akhir Al Hasyr

Kisah Pengamal Akhir Al Hasyr

Ada seorang ibu penjual sayur kehilangan suaminya secara tiba-tiba. Sejak itu, ia sering menangis di malam hari.

Anaknya mengajarinya satu amalan sederhana: membaca akhir Surat Al-Hasyr sebelum tidur.
Ia membaca dengan lirih:

“Huwallahu alladzi laa ilaaha illa Huwa ‘aalimul ghaibi wasy syahaadah…”artinya: Dialah Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. (QS. Al-Hasyr: 22–24)

Ia tidak memahami tafsir panjangnya, tapi dadanya tidak sesak lagi

Ia belajar bahwa menyebut Asma Allah bukan untuk mengubah takdir seketika, tetapi untuk menguatkan jiwa dalam menjalani takdir.

Kisah seorang guru yang istiqamah menggabungkan Al-Hadid dan Al-Hasyr. 
Ia memilih amalan:
pagi membaca awal Surat Al-Hadid,
malam membaca akhir Surat Al-Hasyr.

Awal Al-Hadid mengajarkannya keagungan dan kekuasaan Allah.
Akhir Al-Hasyr mengajarkannya tentang keindahan nama-nama Allah.

Ia sering berdoa,
“Ya Allah, jika dunia ini sempit, lapangkanlah dadaku.”

Suatu saat,  Sang guru itu berkata,
“Aku tidak kaya harta, tapi aku kaya makna. Al-Hadid membuatku tunduk, Al-Hasyr membuatku tenang.”

Awal Surat Al-Hadid menanamkan TAUHID KEKUASAAN—bahwa Allah Maha Mengatur segalanya.

Akhir Surat Al-Hasyr menanamkan TAUHID CINTA—bahwa Allah Maha Indah dengan nama-nama-Nya.

Siapa yang menggabungkan keduanya, insyaAllah akan kuat imannya, lembut hatinya, dan tenang langkah hidupnya.

Kisah Inspiratif Pengamal Awal Surat Al-hadid

Kisah Inspiratif Pengamal Awal Surat Al-hadid 
 
Ada seorang pedagang dikenal keras, penuh hitung-hitungan, dan sulit percaya pada siapa pun.  Hidupnya tampak berhasil, tetapi batinnya selalu gelisah.

Suatu malam, ia mendengar nasihat seorang kiai sepuh,
“Bacalah awal Surat Al-Hadid setiap selesai Subuh. Di sana Allah mengenalkan siapa Dia sebenarnya.”

Dia mulaimengamalkannya: 
“Sabbaha lillahi maa fis samaawaati wal ardhi wa Huwa Al-‘Aziizul Hakiim…”artinya: “Semua yang berada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Maha Bijaksana". (QS. Al-Hadid: 1)

Hari-hari berlalu. Ia mulai merasa kecil di hadapan kebesaran Allah. 

Ayat itu  membuatnya sadar bahwa harta, usaha, dan kekuatan bukan miliknya, tetapi titipan Allaah. 

Perlahan ia berubah menjadi jujur, lembut, dan hatinya lapang. Usahanya berkembang. Ia sering berkata,
“Al-Hadid bukan menambah uangku, tapi menghilangkan kesombonganku. Dan di situlah rezekiku datang mengalir.”



Petang Menguatkan Hati Orang-Orang Lelah

Petang Menguatkan Hati Orang-Orang Lelah

Petang itu, seorang lelaki tua masih duduk di tepi sawah.
Tangannya kotor oleh lumpur, bajunya basah oleh peluh, tapi matanya tenang menatap langit yang memerah.

Orang-orang heran. Panennya gagal.
Hujan datang tak menentu.
Harga gabah jatuh.
Namun ia tetap tersenyum.

Ketika ditanya, “Mengapa Bapak masih tampak tenang?”
Ia menjawab lirih,
“Karena tugasku hanya menanam dan merawat.
Soal hasil, itu urusan Allah.”

Petang mengajarkan kita satu pelajaran yang sering terlupa:
bahwa hidup tidak selalu tentang hasil, melainkan tentang kesetiaan dalam proses.

Allah berfirman:  Dan tidak ada satu pun makhluk melata di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya.” (QS. Hud: 6)

Ayat ini tidak berkata rezeki datang tanpa usaha.
Ayat ini menegaskan jaminan, bukan cara.
Usaha adalah adab hamba,
hasil adalah rahasia Tuhan.

Sering kali kita gelisah bukan karena kurang rezeki,
melainkan karena terlalu menghitung hari esok
hingga lupa mensyukuri hari ini.

Rasulullah SAW bersabda:
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”
(HR. Tirmidzi)

Perhatikan burung itu.
Ia tidak membawa bekal.
Ia tidak menyimpan kecemasan.
Ia terbang— bukan berdiam diri.
Ia percaya—bukan pasrah tanpa usaha.
Petang adalah waktu paling jujur untuk bercermin.

Siang mungkin kita kuat berpura-pura, tapi petang membuat hati bertanya:
“Sudahkah aku bekerja dengan ikhlas, atau aku hanya menuntut hasil tanpa ridha?”

Pertama, petang mengajarkan sabar tanpa gaduh.
Sabar yang tidak berisik di media sosial,
tidak sibuk mengeluh,
tidak menuntut pengakuan.

Kedua, petang melatih ikhlas yang sunyi. Berbuat baik meski tak dilihat, berjuang meski tak dipuji, bertahan meski tak dimengerti.

Ketiga, petang mengingatkan bahwa Allah tidak pernah terlambat.

Jika hari ini belum sampai,
bukan berarti ditolak,
bisa jadi sedang disiapkan agar datang dengan cara yang lebih indah.

Maka jika petang ini dadamu terasa sempit, ingatlah:
malam tidak datang untuk menenggelamkan cahaya,
tetapi untuk mengajarkan kita
bahwa setelah gelap,
selalu ada fajar yang setia menunggu.

Tenangkan hatimu.
Perbaiki niatmu.
Lanjutkan ikhtiarmu.
Karena apa yang dititipkan Allah kepadamu
tak akan pernah tertukar,
dan apa yang melewatimu
tak pernah ditakdirkan menjadi milikmu.

Selamat petang.
Semoga hati kita pulang dengan damai.


Rabu, 04 Februari 2026

PAGI INI, JANGAN BANGUN SEBAGAI ORANG BIASA

PAGI INI, JANGAN BANGUN SEBAGAI ORANG BIASA

Ada Seorang tukang becak pernah menggetarkan banyak hati. Karena ia menemukan dompet berisi puluhan juta rupiah. Dompet itu ia kembalikan utuh.
Kata orang, mengapa tidak diambil separuh, ia menjawab:
“Kalau itu rezeki saya, Allah pasti kirim juga.”

Ia tidak langsung kaya. Tapi
beberapa bulan kemudian, pemilik dompet itu kembali. Untuk membantu biaya sekolah anak tukang becak itu sampai tamat kuliah. 

Allah tidak selalu mengubah keadaan, tapi sering mengubah masa depan.

Ada pula seorang pegawai rendahan yang menolak suap. Akhirnya ia dimutasi ke daerah terpencil.

Namun di sanalah hidupnya justru bersih dari tekanan, tenang, dan ia dikenal masyarakat sebagai orang yang lurus. Tahun demi tahun berlalu, Ia dipercaya memegang jabatan strategis.

Ia pernah berkata lirih:
“Kalau dulu saya ambil suap, mungkin hidup saya cepat naik. Tapi juga cepat hancur.”

Mereka hanya menang dalam satu hal: percaya penuh kepada Allah.
Lalu pagi ini kita bertanya pada diri sendiri:
Apakah kita sungguh percaya, atau hanya mengaku percaya?

Allah berfirman:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. At-Talaq: 2–3)

Ayat Ini janji hidup. Tapi punya syarat: takwa, bukan sekadar cerdas. Jujur, bukan licik. Taat, bukan pandai berbicara agama.

Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Ruhul Qudus membisikkan ke dalam hatiku bahwa tidak akan mati satu jiwa pun sampai sempurna rezekinya.” (HR. Abu Nu’aim)

Kalau rezeki sudah dijamin, mengapa masih curang?
Kalau umur sudah ditentukan, mengapa masih takut berlebihan?

Masalah kita sering bukan kurang usaha, tapi kurang yakin. Kita berangkat kerja, tapi lupa membawa iman.

Maka sebelum matahari meninggi, katakanlah:
Hari ini aku mau hidup biasa, atau hidup sebagai orang yang benar-benar percaya pada Allah?

Karena orang beriman sejati, langkahnya tenang…
meski jalannya berat.

SURAT UNTUK TARWIH

Surat untuk Tarwih


Bacaan pertama
(QS. Al-Baqarah: 21–22)
Arab:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ

 وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا
 وَالسَّمَاءَ بِنَاءً
 وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Latin:
Yā ayyuhan-nāsu‘budū rabbakumu alladzī khalaqakum

walladzī na minqablikum la‘allakum tattaqūn.

Alladzī ja‘ala lakumul-ardha firā syaw was-samā ’a binā’ah. wa anzala minas-samā ’i mā ’an fa akhraja bihī minats-tsamarā ti rizqan lakum, 

fa lā taj‘alū lillāhi andā dawwa antum ta‘lamūn.

Arti (gabungan):
Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap, menurunkan air dari langit lalu mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki bagimu. Maka janganlah kamu menyekutukan Allah padahal kamu mengetahui.
Bacaan kedua
(QS. Al-Baqarah: 38–39)
Arab:
قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Latin:

Qulnah-bitū minhā jamī ‘ā, 

fa immā ya’ tiyannakum minnī hudan faman tabi‘a hudā ya fa lā khaufun ‘alaihim wa lā hum yahzanūn.

Walladzī na kafarū wa kaddzabū bi ā yā tinā ulā ’ika ash-hā bunnā ri hum fī hā khā lidūn.

Arti:
Kami berfirman, “Turunlah kamu semua. Jika datang petunjuk-Ku, siapa yang mengikutinya tidak akan takut dan tidak bersedih. Orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”
Bacaan ketiga
(QS. Ali ‘Imran: 26–27)
Arab:
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ
وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ ۖ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Latin:

Qulillāhumma mālikal-mulk tu’til-mulka man tasyā’u 
wa tanzi‘ul-mulka mimman tasyā’.
Wa tu‘izzu man tasyā’u 
wa tudzillu man tasyā’, biyadikal-khair, innaka ‘alā kulli syai’in qadīr.

Tū lijul-laila fin-nahār 
wa tū lijun-nahāra fil-lail 

wa tukhrijul-hayya minal-mayyit wa tukhrijul-mayyita minal-hayy, 

wa tarzuqu man tasyā ’ubighairi hisāb.

Arti:
Wahai Allah Pemilik kerajaan, Engkau memberi dan mencabut kekuasaan, memuliakan dan menghinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu segala kebaikan. Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu dan memberi rezeki tanpa batas.
Bacaan keempat
(QS. Al-An‘am: 162–163)
Arab:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
Latin:

Qul inna shalā tī wa nusukī wa mahyā ya wama mā tī lillāhi rabbil- ‘ā lamīn.
Lā syarī kalah, wa bidzā lika umirtu 
wa anā awwalul-muslimīn.

Arti:
Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tiada sekutu bagi-Nya.
Bacaan kelima
(QS. Al-Isra’: 70–71)
Arab:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ
وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ ۖ فَمَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَأُولَٰئِكَ يَقْرَءُونَ كِتَابَهُمْ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا
Latin:

Wa laqad karramnā banī Ādam wa hamalnā hum fil barri wal bahr 

warazaqnā hum minath-thayyibāt.

Wa fadh-dhalnā hum ‘alā katsī rim mimman khalaqnā taf dhī lā.

Yauma nad ‘ū kulla unā sim bi imā mihim, 

fa man ūtiya kitā bahū biyamī nihī 

fa ulā ’ika yaqra ’ū na kitā bahum  
wa lā yuzhlamū nafatī lā.

Arti:
Allah memuliakan anak cucu Adam dan kelak memanggil setiap manusia bersama imamnya; yang menerima kitab di tangan kanan tidak dizalimi sedikit pun.
Bacaan keenam
(QS. Az-Zumar: 53–54)
Arab:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ
Latin:

Qul yā ‘ibā diyalladzī na asrafū ‘alā anfusihim lā taqnathū mirrahmatillāh

Innallāha yaghfirudz-dzunū ba jamī ‘ā, 
innahū huwal-ghafū rur-rahīm.

Wa anī bū ilā rabbikum wa aslimū lah.

Arti:
Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Allah mengampuni semua dosa. Kembalilah dan berserah diri kepada-Nya.
Bacaan ketujuh
(QS. Muhammad: 7–8)
Arab:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ
Latin:

Yā ayyuhalladzī na ā manū in tanshurullāha yanshurkum 
wa yutsabbit aqdā makum.

Walladzī na kafarū fata‘sal lahum 
wa adhall a‘mā lahum.

Arti:
Jika kamu menolong agama Allah, Dia akan menolongmu dan meneguhkan langkahmu.
Bacaan kedelapan
(QS. Al-Hasyr: 21–22)
Arab:
لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ
وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ
Latin:

Law anzalnā hā dzal-qur’ā na ‘alā jabalil lara’aitahū khā syi‘am mutashaddi‘am min khasy-yatillāh.

Watil kal-amtsā lu nadhribuhā linnā si la‘allahum yatafakkarūn.

Huwallāhul-ladzī lā ilā ha illā huwa ‘ā limul-ghaibi wasy-syahā dah, huwar-raḥmā nurraḥīm.

Arti:
Seandainya Al-Qur’an diturunkan kepada gunung, niscaya ia tunduk karena takut kepada Allah. Dialah Allah Yang Maha Mengetahui, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Jika Pak Milit ingin, saya bisa setel jarak lebih lebar lagi khusus versi cetak Word, atau ringankan pilihan ayat untuk jamaah lansia.

Malam Mengajarkan Ikhlas

Malam Mengajarkan Ikhlas 

Malam tidak pernah datang dengan tergesa.
Ia hadir perlahan, seolah memberi isyarat: sudah cukup hari ini kita berjuang, sekarang waktunya berserah penuh pada Allaah. 

Allah berfirman:
“Dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai Pelindung.” (QS. Al-Ahzab: 3)

Ayat ini bukan untuk orang yang tidak berusaha, tetapi untuk mereka yang sudah berikhtiar semampunya.

Tawakal bukan berhenti berjuang, melainkan menyerahkan hasil kepada Allah setelah segala daya dikerahkan.

Rasulullah SAW bersabda:
“Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; pagi hari ia keluar dalam keadaan lapar, dan sore hari ia pulang dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)

Perhatikan burung itu. Ia tidak membawa bekal, tidak menyimpan kecemasan, tapi ia keluar dari sarang setiap pagi.

Usaha dan tawakal berjalan bersama.

Ada kisah nyata yang sering luput kita sadari.
Seorang pedagang kecil selalu menutup tokonya lebih awal saat azan Magrib. Padahal pembeli masih ramai. 

Ia berkata,
“Kalau rezeki saya ada di toko ini, Allah tidak akan salah alamat. Kalau tidak ada, saya tidak mau menukarnya dengan meninggalkan salat.”

Beberapa tahun berlalu, tokonya tetap hidup. Bahkan lebih tenang dari pedagang lain yang membuka sampai larut malam. 

Bukan karena tokonya paling besar, tapi karena hatinya paling lapang.


Allah berfirman:
“Ketahuilah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Malam ini, jika ada doa yang belum terkabul, lepaskan dengan ikhlas.
Jika ada luka yang belum sembuh, titipkan pada Allah.
Jika ada rencana yang belum berjalan, percayakan pada waktu-Nya.

Karena malam bukan akhir dari harapan.
Malam adalah tempat Allah menenangkan hati sebelum esok dimulai kembali.

Mari tutup malam ini dengan doa:
“Ya Allah, aku serahkan kepada-Mu semua lelahku hari ini. Ampuni kekuranganku, kuatkan imanku, dan bangunkan aku esok dengan harapan yang baru.”

Selamat beristirahat.
Allah tidak pernah tidur, dan Dia tidak pernah lalai menjaga kita. 

Petang Mengajarkan Tentang Percaya

Petang Mengajarkan Tentang Percaya

Petang selalu datang dengan sunyi yang berbeda.
Langit mulai redup, langkah melambat, dan hati sering kali mulai berbicara jujur tentang lelah yang disembunyikan sejak pagi.

Di waktu seperti ini, Allah mengingatkan kita:
“Dan bersabarlah engkau (Muhammad), sesungguhnya janji Allah itu benar.”
(QS. Ar-Rum: 60)

Ayat ini turun bukan untuk orang yang santai hidupnya, tetapi untuk orang-orang yang sedang berjuang. Untuk mereka yang sudah berusaha, sudah berdoa, namun hasilnya belum juga terlihat.

Rasulullah SAW bersabda:
“Sungguh menakjubkan urusan orang beriman. Semua urusannya adalah kebaikan. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.”
(HR. Muslim)

Petang mengajarkan kita satu hal penting:
Tidak semua doa dikabulkan dengan cepat, tapi tidak satu pun doa yang diabaikan.

Ada kisah nyata yang sederhana tapi menggetarkan hati.
Seorang petani tua di sebuah desa pernah ditanya,
“Pak, kenapa Bapak masih rajin ke sawah, padahal panennya sering gagal?”
Ia tersenyum dan berkata,
“Saya ke sawah bukan hanya untuk panen. Saya ke sawah untuk menunaikan tugas. Soal hasil, itu urusan Allah.”
Beberapa tahun kemudian, saat orang-orang muda meninggalkan ladang, tanah petani tua itu justru menjadi yang paling subur. Bukan karena ia paling pintar, tapi karena ia paling sabar dan paling setia pada proses.

Allah berfirman:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”(QS. At-Talaq: 2–3)

Petang ini, jika hati terasa berat, ingatlah:
Allah tidak pernah menunda dengan sia-sia.
Yang Dia tunda, sedang Dia siapkan dengan sempurna.

Mari tutup petang ini dengan doa lirih:
“Ya Allah, jika hari ini belum Kau beri hasil, jangan Kau cabut keyakinan. Jika langkah kami melambat, jangan Kau ambil harapan. 
Cukupkan kami dengan iman dan sabar hingga waktu-Mu tiba.”

Petang bukan tanda menyerah.
Petang adalah undangan untuk bersandar lebih dekat kepada Allah.