Laqadja akum rasulum


web stats

Kamis, 07 Mei 2026

PETANG INI: JANGAN PULANG KE RUMAH DENGAN HATI KOSONG

PETANG INI: JANGAN PULANG KE RUMAH DENGAN HATI KOSONG

Ada seorang lelaki tua yang setiap petang duduk di depan rumahnya sambil memandang langit. 

Tetangganya bertanya:
“Pak, mengapa setiap sore bapak selalu termenung?”
Orang tua itu menjawab pelan:
“Karena setiap matahari tenggelam, umurku ikut tenggelam satu hari. Aku takut hari ini berlalu tanpa amal yang membuat Allah ridha.”

Kalimat itu sederhana, tetapi mengguncang hati.
Betapa banyak petang yang kita lewati hanya dengan lelah bekerja, sibuk urusan dunia, marah, mengeluh, bergosip, atau sibuk dengan HP… tetapi lupa bahwa hari itu tidak akan pernah kembali.

Allah mengingatkan:
"Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran." (QS. Al-‘Ashr: 1–3)

Petang adalah waktu evaluasi diri.
Apa yang sudah kita ucapkan hari ini?
Siapa yang sudah kita sakiti?
Berapa banyak istighfar yang sudah kita baca?
Sudahkah hari ini kita membuat orang tua bahagia?
Sudahkah kita menyenangkan hati pasangan, anak, atau tetangga?

Nabi SAW bersabda:
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."
(HR. Ahmad)

Ada kisah menyentuh tentang seorang tukang becak tua. Setiap petang ia menyisihkan sedikit uang recehnya untuk membeli nasi bungkus. Bukan untuk dirinya, tetapi untuk seorang nenek lumpuh yang tinggal sendirian.

Suatu hari ia sakit keras dan tidak bisa bekerja. Orang-orang bertanya mengapa ia tetap memikirkan nenek itu padahal dirinya sendiri kekurangan.

Ia menjawab:
“Kalau saya tidak punya harta banyak untuk dibawa mati, setidaknya saya ingin membawa hati orang yang pernah saya bantu.”

Masya Allah…
Terkadang yang menyelamatkan kita di akhirat bukan amal besar yang dipuji manusia, tetapi amal kecil yang ikhlas dan terus dilakukan.

Petang ini, sebelum Magrib tiba: • Maafkan orang yang bersalah
• Perbanyak istighfar
• Kirim doa untuk orang tua
• Sedekah walau sedikit
• Jangan tidur dengan membawa kebencian. 
Karena kita tidak tahu… mungkin ini petang terakhir dalam hidup kita.

Mari membaca istighfar:
Astaghfirullahal ‘azhim alladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyum wa atubu ilaih.

“Ya Allah, jangan Engkau biarkan hari ini berlalu kecuali Engkau ampuni dosa kami, Engkau lembutkan hati kami, Engkau lapangkan rezeki kami, Engkau sehatkan keluarga kami, dan Engkau wafatkan kami dalam husnul khatimah. Aamiin.”

Rabu, 06 Mei 2026

TURUT MENGUNDANG:

TURUT MENGUNDANG:

1. Rifa'i Tajuddin, S. Sos. – Manna
2. Tintus Hermansyah, S.E. – Bengkulu
3. Rahmat Ade Wijaya, S.H. – Kepahiang
4. Bastian Munip, A.Md. – Bkl
5. Juniwanto, M.Si. – Lubuk Linggau
6. Satrawinsi, SKM – Durian Sebatang
7. Pujitan, S. Ip. – Betungan
8. Pangku Iman, S.Pd. – Kepahiang
9. Rupinsi, S.Pd. – Manna
10. Khairul – Bengkulu
11. Siswanto, SKM – Bengkulu
12. Indayo, M.Si. – Bengkulu
13. Iduanto – Jakarta
14. Sukirman – Pringsewu, Lampung
15. Aldi Satrianto, S.Kom.
16. Sidianto, S.E. – Bengkulu
17. Indi Wilson, S.H. – Bengkulu
18. Miharman, S.E. – Bengkulu
19. Ali Wardana, S.E. – Bengkulu
20. Jaya Fitra, S. Sos. – Manna
21. Gustian Armedi, S.Hut. – Bengkulu
22. Andi Erzantara, M.Si. – Bengkulu
23. Yupratmansyah, S.IP. – Bengkulu
24. Suwarni Muhidin, S. Sos. – Bengkulu
25. Ibianto, S.Pd. – Bengkulu
26. Dudi Martoni – Bengkulu
27. Isdianto, S.Pd. – Curup
28. Syaiful Anwar – Bengkulu
29. Islin Yakardi – Bengkulu
30. Yito Rio – Bengkulu Utara
31. Julian – Bengkulu
32. Tito Utama, S.E. – Bengkulu

KONTEN PAGI SETELAH SUBUH“Andai Aku Bisa Kembali… Walau Sesaat”

KONTEN PAGI SETELAH SUBUH
“Andai Aku Bisa Kembali… Walau Sesaat”

Pagi ini… setelah Subuh…
coba kita diam sejenak.
Bayangkan…
di alam kubur sana… ada jiwa-jiwa yang menangis.
Karena terlambat.

Allah gambarkan penyesalan itu:
“Ya Rabbku… kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal shalih…”
(QS. Al-Mu’minun: 99)
Namun jawabannya tegas:
“Sekali-kali tidak! Itu hanyalah kata-kata saja…”
(QS. Al-Mu’minun: 100)
Selesai.
Tidak ada lagi kesempatan.

Lalu ada lagi suara yang lain…
suara penyesalan yang lebih dalam:
“Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku terhadap Allah…” (QS. Az-Zumar: 56)

Ia dulu punya waktu…
tapi ia menunda.
Ia tahu… tapi ia lalai.

Ada juga yang menyesal karena satu hal yang sering kita remehkan:
“Ya Rabbku, sekiranya Engkau menunda kematianku sedikit waktu lagi… agar aku dapat bersedekah…” (QS. Al-Munafiqun: 10)

Bukan minta jadi kaya.
Bukan minta panjang umur bertahun-tahun.
Hanya minta sedikit waktu saja… untuk bersedekah.

Ada pula yang menggigit tangannya karena salah jalan hidup:
“Wahai kiranya dahulu aku mengambil jalan bersama Rasul…” (QS. Al-Furqan: 27)
Salah memilih teman…
salah memilih arah…
dan semuanya baru terasa… ketika sudah terlambat.

Bahkan di hadapan Allah nanti, mereka berkata:
“Ya Rabb kami… kembalikanlah kami ke dunia, niscaya kami akan beramal shalih…” (QS. As-Sajdah: 12)

Dan di dalam neraka… mereka berteriak:
“Ya Rabb kami, keluarkanlah kami… niscaya kami akan beramal shalih…” (QS. Fatir: 37)
Tapi tidak ada jawaban selain satu:
tidak ada lagi kesempatan.

Saudaraku…
Yang sudah meninggal… ingin kembali.
Yang masih hidup… justru sering menunda.

Padahal hari ini…
kita sedang hidup dalam waktu yang mereka minta.
💧 Satu sedekah hari ini…
💧 Satu istighfar yang tulus…
💧 Satu sujud yang khusyuk…
Itu mungkin menjadi penyelamat kita nanti.
Jangan tunggu nanti…
karena “nanti” sering berubah menjadi penyesalan abadi.

DOA BERSAMA
Ya Allah…
Di pagi yang Engkau hidupkan kami kembali ini…
Ampuni dosa-dosa kami…
Dosa yang kami ingat maupun yang kami lupakan…
Ya Allah…
Jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang menyesal di akhir hayat…
Jangan Engkau cabut nyawa kami dalam keadaan lalai…
Dan jangan Engkau tunda taubat kami sampai ajal menjemput…
Lembutkan hati kami untuk bersedekah…
Ringankan langkah kami untuk beribadah…
Jauhkan kami dari menunda-nunda kebaikan…
Ya Allah…
Berkahi rezeki kami… lapangkan kehidupan kami…
Lunaskan hutang-hutang kami… angkat kesulitan kami…
Jadikan sisa umur kami penuh manfaat…
Dan akhiri hidup kami dengan husnul khatimah…
Kumpulkan kami di surga-Mu bersama orang-orang shalih…
Aamiin ya Rabbal ‘alamin 

Kesempatan Tak Akan Kembali

Kesempatan Tak Akan Kembali

Pagi ini, setelah Subuh… mari kita renungkan sejenak.
Ada sebuah kisah yang mengguncang hati.
Seorang lelaki yang sudah meninggal dunia, ketika melihat balasan amalnya di alam kubur, ia menangis tersedu-sedu. Bukan karena siksa semata… tapi karena penyesalan yang dalam.
Ia berkata:
“Ya Allah… kembalikan aku ke dunia walau hanya sesaat… hanya sebentar saja… aku ingin bersedekah…”
Namun, kesempatan itu tidak pernah diberikan.
Allah sudah menegaskan dalam Al-Qur’an:
“...Wahai Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal shalih yang telah aku tinggalkan...”

(QS. Al-Mu’minun: 99–100)
Tapi apa jawaban Allah?
“Sekali-kali tidak! Itu hanyalah kata-kata yang diucapkannya saja…” (QS. Al-Mu’minun: 100)

Saudaraku…
Yang sudah pergi, ingin kembali.
Yang masih hidup… justru sering menunda.

Padahal Nabi SAW bersabda:
“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara:
hidupmu sebelum matimu…”
(HR. Al-Hakim)
Hari ini kita masih diberi napas.
Masih bisa sujud.
Masih bisa bersedekah.
Masih bisa memperbaiki diri.
Jangan tunggu nanti.
Karena “nanti”… sering kali tidak pernah datang.
Mungkin hari ini kita masih sehat…
Tapi siapa yang menjamin kita sampai sore?
💧 Sedekah hari ini…
💧 Istighfar hari ini…
💧 Shalat yang khusyuk hari ini…
Itulah yang akan menjadi cahaya kita di alam gelap nanti.

DOA BERSAMA
Ya Allah…
Di pagi yang penuh berkah ini, kami datang dengan hati yang penuh harap.
Ampuni dosa-dosa kami…
Dosa yang kami sengaja maupun yang tidak kami sadari…

Ya Allah…
Jangan Engkau cabut nyawa kami sebelum Engkau ridha kepada kami…
Jadikan hari ini lebih baik dari kemarin…
Dan jadikan akhir hidup kami husnul khatimah…
Lembutkan hati kami untuk bersedekah…
Ringankan langkah kami untuk beribadah…
Dan kuatkan kami untuk meninggalkan maksiat…

Ya Allah…
Karuniakan rezeki yang halal, luas, dan penuh berkah…
Angkat kesulitan hidup kami…
Lunaskan hutang-hutang kami…
Kumpulkan kami kelak di surga-Mu…
Bersama orang-orang shalih…
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Menangis di Kubur Karena Sedekah yang Terlambat

Menangis di Kubur Karena Sedekah yang Terlambat

Malam ini, mari kita renungkan sebuah kisah yang mengguncang.

Ada seorang laki-laki yang dikenal kaya raya. Hartanya melimpah, rumahnya besar, usahanya maju. Setiap hari ia sibuk menghitung keuntungan, memperluas bisnis, dan menambah simpanan.

Namun satu hal yang jarang ia lakukan: bersedekah.
Bukan karena tidak mampu…
tapi karena selalu merasa, “Nanti saja… tunggu lebih banyak lagi…”

Hingga suatu hari, ajal datang tanpa izin. Ia pun wafat.
Di alam kubur, ia melihat sesuatu yang membuatnya menangis tersedu-sedu.
Ia melihat pahala orang-orang miskin yang dulu pernah ia tolak. Ia melihat derajat tinggi orang-orang yang dulunya bersedekah dengan ikhlas.

Dan ia melihat… dirinya kosong.
Lalu ia memohon:
“Ya Rabb… kembalikan aku ke dunia, walau hanya sesaat…
agar aku bisa bersedekah…”

Namun semuanya telah terlambat.
Allah telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya:
QS. Al-Munafiqun: 10
"Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.”

Saudaraku…
Banyak orang menunda sedekah bukan karena tidak punya, tetapi karena merasa belum cukup.

Padahal Rasulullah SAW bersabda:
"Sedekah tidak akan mengurangi harta."
(HR. Muslim)

Justru sedekah itulah yang akan menjadi cahaya di kubur,
menjadi naungan di hari kiamat, dan menjadi penolong saat semua harta ditinggalkan.

Malam ini…
Jika kita masih diberi nafas,
itu tanda Allah masih memberi kesempatan.
Tidak perlu menunggu kaya.
Tidak perlu menunggu sempurna.
Sedekah kecil…
yang dilakukan sekarang…
lebih berharga daripada niat besar yang ditunda.

Renungan penutup:
Jangan sampai kita seperti orang itu…
yang menangis di alam kubur,
bukan karena tidak punya harta…
tetapi karena terlambat menggunakannya di jalan Allah.

Semoga malam ini menjadi awal langkah kita…
untuk memberi, walau sedikit…
tapi ikhlas… dan tepat waktu.

Selasa, 05 Mei 2026

Qurban Menghidupkan Hati

Qurban Menghidupkan Hati

Pagi ini kita belajar dari kisah nyata—tentang qurban yang bukan sekadar menyembelih, tapi menyentuh langit.

Allah berfirman dalam QS. Al-Hajj: 34:
“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang Allah berikan kepada mereka berupa hewan ternak.”

Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai Allah selain mengalirkan darah (qurban).”
(HR. Tirmidzi)

Mari kita simak kisah berikut:

Kisah pertama, seorang tukang becak di Jawa.
Penghasilannya pas-pasan. Untuk makan saja sering kekurangan. Tapi setiap hari ia sisihkan sedikit demi sedikit. 
Saat Idul Adha tiba, ia datang ke panitia masjid dan berkata,
“Pak, saya ingin qurban kambing.”

Orang-orang terharu.
Bukan karena jumlahnya, tapi karena keikhlasannya.
Beberapa bulan kemudian, hidupnya berubah. Ia mendapat bantuan usaha, dan rezekinya mulai terbuka.

Allah tegaskan dalam QS. Al-Hajj: 37:
“Daging dan darah qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”

Kisah kedua, seorang ibu di pelosok desa.
Ia hanya punya satu kambing—hasil peliharaan bertahun-tahun.
Itulah satu-satunya harapan ekonominya.
Saat Idul Adha, ia menyerahkannya untuk qurban.
Orang bertanya, “Bu, nanti ibu makan apa?”
Ia menjawab dengan tenang,
“Yang memberi kambing ini Allah, masa saya ragu Dia memberi lagi?”

Beberapa waktu kemudian, anaknya mendapatkan pekerjaan, dan kehidupan mereka berubah.

Kisah ketiga, seorang pengusaha.
Setiap tahun ia selalu memilih hewan qurban terbaik.
Bukan yang murah, tapi yang paling sehat dan bagus.
Ketika ditanya alasannya, ia menjawab,
“Saya tidak ingin memberi sisa untuk Allah. Saya ingin memberi yang terbaik.”

Usahanya terus berkembang.
Karena ia yakin dengan janji Allah dan keutamaan qurban.

Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa berqurban dengan hati yang ikhlas dan mengharap pahala, maka qurban itu akan menjadi pelindungnya dari api neraka.”
(HR. Thabrani)

Renungan pagi ini:
Qurban bukan tentang mampu atau tidak. Bukan tentang besar atau kecil.
Tapi tentang: Seberapa yakin kita kepada Allah
Seberapa ikhlas kita memberi
Seberapa besar kita mendahulukan akhirat. 

Bisa jadi yang sedikit tapi ikhlas… lebih tinggi nilainya di sisi Allah daripada yang besar tapi tanpa hati.

Doa pagi:
Ya Allah…
Jadikan kami hamba yang ringan berqurban,
yang ikhlas dalam memberi,
dan yang yakin bahwa setiap yang kami keluarkan di jalan-Mu akan Engkau ganti dengan keberkahan yang lebih baik.
Aamiin ya rabbal aalamin. 

Senin, 04 Mei 2026

Tata Cara Penyembelihan Hewan Qurban Sesuai Sunnah

Tata Cara Penyembelihan Hewan Qurban Sesuai Sunnah

Pertama: Niat karena Allah

Penyembelihan qurban adalah ibadah, maka harus diniatkan:
Ikhlas karena Allah;
Menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim;
Mengikuti tuntunan Nabi Muhammad SAW. 

Allah berfirman:
“Fa shalli li rabbika wanhar.” (QS. Al-Kautsar: 2)
“Salatlah untuk Tuhanmu dan berqurbanlah.”

Kedua: Memastikan Hewan Layak Qurban

Hewan harus:
Sehat (tidak sakit);
Tidak cacat (tidak buta, pincang, atau sangat kurus);
Cukup umur (misalnya kambing minimal 1 tahun). 

Sabda Nabi SAW:
“Ada empat (hewan) yang tidak sah dijadikan qurban:
yang pertama, hewan yang buta sebelah yang jelas kebutaannya;
yang kedua, hewan yang sakit yang jelas sakitnya;
yang ketiga, hewan yang pincang yang jelas pincangnya;
yang keempat, hewan yang sangat kurus hingga tidak memiliki sumsum tulang.” (HR. Abu Dawud)

Ketiga: Mengasah Pisau (Tidak di Depan Hewan)
Adab penting:
Pisau harus sangat tajam;
Tidak mengasah di depan hewan.  Tidak menyiksa hewan. 

Sabda Nabi SAW:
“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan dalam segala hal… tajamkanlah pisau dan tenangkan hewan sembelihan.” (HR. Muslim)

Keempat: Merebahkan Hewan dengan Lembut
Hewan direbahkan ke sisi kiri;
Kaki diikat secukupnya agar tidak menyiksa;
Dipegang dengan tenang, tidak kasar. 
Rasulullah SAW mencontohkan menyembelih dengan penuh kasih, bukan kekerasan.

Kelima: Menghadapkan ke Arah Kiblat
Disunnahkan:
Hewan dihadapkan ke kiblat;
Penyembelih juga menghadap kiblat;
Ini bentuk memuliakan ibadah.

Keenam: Membaca Basmalah dan Takbir
Saat menyembelih, baca:
“Bismillahi, Allahu Akbar.”
Boleh ditambah doa:
“Allahumma hadza minka wa laka…”
(Ya Allah, ini dari-Mu dan untuk-Mu)

Nabi SAW membaca basmalah dan bertakbir saat menyembelih (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketujuh: Cara Menyembelih yang Benar
Bagian yang dipotong:
Saluran napas (hulqum);
Saluran makan (mari’);
Dua urat leher (wadajain). 
Teknisnya:
Sekali sayatan kuat (tidak berulang-ulang menyiksa)
Jangan memutus leher langsung (tidak boleh dipenggal)
Biarkan darah mengalir sempurna. 
Ini penting agar hewan mati dengan cepat dan halal.

Kedelapan: Tidak Menyiksa Hewan
Larangan keras:
Menyembelih di depan hewan lain; Memukul atau menyeret kasar; Membiarkan hewan kesakitan lama. 
Islam sangat menekankan kasih sayang bahkan kepada hewan.

Kesembilan: Menunggu Hingga Hewan Benar-Benar Mati
Jangan langsung dikuliti. 
Tunggu sampai benar-benar mati (gerakan refleks berhenti)
Ini bagian dari ihsan dalam penyembelihan.

Kesepuluh: Pembagian Daging
Setelah disembelih:
Sebagian dimakan sendiri
Sebagian diberikan kepada tetangga
Sebagian disedekahkan kepada fakir miskin
Firman Allah:
“Makanlah sebagian dan berilah makan orang yang membutuhkan.” (QS. Al-Hajj: 28)

Kesebelas: Larangan Memberi Upah dari Daging Qurban

Tukang sembelih tidak boleh dibayar dari daging qurban
Harus diberi upah terpisah
Hadis:
“Kami tidak memberi upah kepada penyembelih dari hewan qurban.” (HR. Bukhari)

Penutup Renungan 
Saat tangan menggenggam pisau…
dan hewan itu rebah tak berdaya…

Sebenarnya bukan hanya hewan yang kita sembelih…
Tapi:
ego kita,  cinta dunia kita, 
dan keengganan kita untuk berkorban. 
Kalau qurban hanya berhenti pada darah…
maka itu hanya penyembelihan biasa…

Tapi kalau hati ikut tunduk…
maka di situlah qurban menjadi ibadah yang hidup.