Laqadja akum rasulum


web stats

Selasa, 18 Agustus 2026

KHUTBAH JUMAT “Ketika Nama Kita Dipanggil Dari Alam Kubur”

KHUTBAH JUMAT

“Ketika Nama Kita Dipanggil Dari Alam Kubur”

KHUTBAH PERTAMA

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Nahmaduhu wa nasta‘inuhu wa nastaghfiruh, wa na‘udzu billahi min syururi anfusina wa min sayyi’ati a‘malina. Man yahdihillahu fala mudhilla lah, wa man yudhlil fala hadiya lah.
Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh.
Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma‘in.
Amma ba‘du.
Fa qala fi kitabihil karim:
“Yaa ayyuhalladzina aamanu, ittaqullaha haqqa tuqaatihi wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun.”
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
(QS. Ali ‘Imran: 102)

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.
Takwa bukan hanya ucapan.
Takwa adalah ketika kita takut kepada Allah saat tidak ada seorang pun yang melihat.
Takwa adalah ketika kita tetap jujur meskipun kesempatan untuk berbohong terbuka lebar.
Takwa adalah ketika kita tetap salat meskipun dunia sedang sibuk memanggil.
Dan takwa adalah ketika kita sadar...
bahwa kehidupan ini akan berakhir.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Hari ini saya tidak mengajak kita melihat kesalahan orang lain.
Saya mengajak diri saya sendiri dan kita semua untuk bercermin kepada diri kita masing-masing.
Sebab ada satu perjalanan yang pasti kita tempuh.
Tidak ada manusia yang bisa menghindarinya.
Kaya atau miskin.
Pejabat atau rakyat.
Terkenal atau tidak dikenal.
Sehat atau sakit.
Muda atau tua.
Semuanya akan mati.
Allah berfirman:
“Kullu nafsin dzaa-iqatul maut, wa innamaa tuwaffauna ujuurakum yaumal qiyaamah, faman zuhziha ‘anin naari wa udkhilal jannata faqad faaz, wa mal hayaatud dunyaa illaa mataa‘ul ghuruur.”
Artinya:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)
Allahu Akbar!
Jamaah rahimakumullah,
Bayangkan suatu hari nanti...
Kita sedang duduk bersama keluarga.
Tiba-tiba tubuh kita terasa lemah.
Napas mulai berat.
Anak-anak berkumpul.
Istri menangis.
Keluarga memanggil nama kita.
Tetapi kita sudah tidak mampu menjawab.
Kemudian seseorang berkata:
“Bimbing syahadatnya...”
Lalu terdengar:
“La ilaha illallah...”
Dan setelah itu...
napas terakhir keluar.
Mata kita terpejam.
Tangan kita tidak lagi bergerak.
Mulut kita tidak lagi berbicara.
Kita yang selama puluhan tahun mengejar dunia...
akhirnya meninggalkan dunia.
Rumah yang kita bangun tetap berdiri.
Kendaraan yang kita banggakan tetap berada di halaman.
Uang yang kita kumpulkan berpindah tangan.
Pakaian yang kita cintai dilepas.
Telepon yang setiap hari kita genggam...
tidak ikut masuk ke dalam kubur.
Yang ikut bersama kita hanyalah amal.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Idzaa maatal insaanu inqatha‘a ‘anhu ‘amaluhu illaa min tsalaatsatin: shadaqatin jaariyatin, au ‘ilmin yuntafa‘u bihi, au waladin shaalihin yad‘u lahu.”
Artinya:
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ada satu pertanyaan yang harus kita jawab sebelum terlambat:
Kalau malam ini Allah memanggil kita, sudah siapkah kita?
Sudahkah kita meminta maaf kepada orang tua?
Sudahkah kita berdamai dengan saudara?
Sudahkah kita meminta maaf kepada pasangan?
Sudahkah kita mengembalikan hak orang lain?
Sudahkah kita meninggalkan maksiat?
Sudahkah kita benar-benar menjaga salat?
Jangan sampai kita begitu sibuk mengurus dunia...
tetapi lupa mempersiapkan akhirat.
Allah berfirman:
“Yaa ayyuhalladzina aamanu, ittaqullaha waltanzhur nafsun maa qaddamat lighadin, wattaqullah, innallaaha khabiirun bimaa ta‘maluun.”
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Hasyr: 18)
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Jangan tunggu tua untuk bertobat.
Sebab banyak orang yang tidak pernah sampai kepada usia tua.
Jangan tunggu sakit untuk salat.
Sebab banyak orang meninggal sebelum sempat sembuh.
Jangan tunggu kaya untuk bersedekah.
Sebab banyak orang meninggal ketika hartanya belum sempat dinikmati.
Dan jangan berkata:
“Nanti kalau sudah tua saya akan berubah.”
Sebab kita tidak pernah tahu...
apakah kita masih diberi kesempatan untuk menjadi tua.
Allah mengingatkan:
“Hattaa idzaa jaa-a ahadahumul mautu qaala rabbirji‘uun. La‘allii a‘malu shaalihan fiimaa taraktu, kallaa, innahaa kalimatun huwa qaa-iluhaa, wa min waraa-ihim barzakhun ilaa yaumi yub‘atsuun.”
Artinya:
“Hingga apabila kematian datang kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia, agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sungguh, itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.”
(QS. Al-Mu’minun: 99–100)
Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Jamaah yang dirahmati Allah,
Saat ini kita masih hidup.
Kita masih bisa bersujud.
Kita masih bisa menangis.
Kita masih bisa beristighfar.
Kita masih bisa meminta maaf.
Kita masih bisa bersedekah.
Kita masih bisa memperbaiki salat.
Berarti Allah masih memberi kita kesempatan.
Maka jangan sia-siakan kesempatan itu.
Selagi kaki masih mampu melangkah ke masjid...
melangkahlah.
Selagi tubuh masih mampu bersujud...
bersujudlah.
Selagi lidah masih mampu berzikir...
berzikirlah.
Selagi pintu taubat masih terbuka...
bertobatlah!
Karena akan datang suatu hari ketika kita ingin kembali ke dunia...
tetapi pintunya sudah tertutup.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Jangan sampai Jumat demi Jumat berlalu...
umur bertambah...
rambut memutih...
tetapi dosa tidak berkurang.
Jangan sampai kita sibuk memperbaiki rumah, tetapi lupa memperbaiki hati.
Jangan sampai kita sibuk menghias wajah, tetapi lupa menghias amal.
Jangan sampai kita takut kehilangan harta...
tetapi tidak takut kehilangan iman.
Sebab pada akhirnya akan tiba satu hari...
ketika nama kita disebut bukan untuk dipanggil makan, bukan untuk diajak bekerja, bukan untuk menerima jabatan...
Tetapi nama kita disebut untuk terakhir kalinya:
“Innalillahi wa inna ilaihi raji‘un...”
Kemudian kita diangkat.
Dimandikan.
Dikafani.
Disalatkan.
Diantar.
Dikuburkan.
Dan setelah semuanya pergi...
kita tinggal sendirian.
Tidak ada lagi yang bisa menolong kita kecuali rahmat Allah dan amal yang kita bawa.
Maka mulai hari ini...
jangan tunggu kematian untuk mengenal Allah.
Kenalilah Allah sebelum kita menghadap Allah.
A‘udzu billahi minasy-syaithanir-rajim.
Aqoolu qauli hadza, wa astaghfirullaha lii wa lakum, fastaghfiruhu innahu huwal ghafuurur rahiim.
KHUTBAH KEDUA
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.
Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh.
Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma‘in.
Amma ba‘du.
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Sekali lagi marilah kita bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.
Ya Allah...
Ampunilah dosa-dosa kami.
Ampunilah dosa kedua orang tua kami.
Ampunilah dosa pasangan kami, anak-anak kami, keluarga kami, guru-guru kami, dan seluruh kaum Muslimin dan Muslimat.
Ya Allah, dosa kami terlalu banyak, sementara amal kami terlalu sedikit.
Ya Allah, kami datang kepada-Mu dengan membawa dosa dan kelemahan.
Maka jangan Engkau tolak kami.
Ya Allah...
Jika hari ini masih Engkau beri kami kehidupan, jadikan sisa umur kami lebih baik daripada masa lalu kami.
Jika masih ada dosa yang kami lakukan, bukakan hati kami untuk meninggalkannya.
Jika masih ada hak manusia yang kami ambil, berikan kami kekuatan untuk mengembalikannya.
Jika masih ada orang yang kami sakiti, berikan kami keberanian untuk meminta maaf.
Ya Allah...
Jangan Engkau cabut nyawa kami kecuali dalam keadaan Engkau ridha kepada kami.
Jadikan akhir ucapan kami:
La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah.
Ya Allah, karuniakan kepada kami husnul khatimah.
Jadikan kubur kami taman dari taman-taman surga.
Terangkan kubur kami dengan cahaya-Mu.
Lapangkan kubur kami.
Ampuni dosa-dosa kami.
Selamatkan kami dari azab kubur dan azab neraka.
Ya Allah...
Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna...
selamatkan kami dengan rahmat-Mu.
Ya Allah, masukkan kami ke dalam surga-Mu tanpa azab dan tanpa kehinaan.
Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah, wa fil-aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban-naar.
Artinya:
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad.
Subhaana rabbika rabbil ‘izzati ‘ammaa yashifuun. Wa salaamun ‘alal mursaliin. Walhamdulillahi rabbil ‘aalamiin.
Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

Kamis, 02 Juli 2026

Jangan Menunggu Takziah Baru Bersilaturahmi

Jangan Menunggu Takziah Baru Bersilaturahmi

Suatu hari, seorang laki-laki menerima kabar bahwa sahabat masa kecilnya telah meninggal dunia. Ia segera berangkat menuju rumah duka.

Sesampainya di sana, ia memandangi wajah sahabatnya yang telah terbujur kaku. Air matanya jatuh tanpa mampu dibendung.

Dengan suara bergetar ia berkata, "Maafkan aku... sudah bertahun-tahun kita tinggal di kota yang sama, tetapi aku selalu berkata nanti... nanti aku akan datang. Ternyata yang kudatangi hari ini hanyalah jasadmu."

Orang-orang yang mendengar ucapannya ikut menundukkan kepala. Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Sejak hari itu, laki-laki tersebut mengubah hidupnya. Ia tidak lagi menunda silaturahmi. Setiap ada waktu, ia mendatangi keluarga, sahabat, tetangga, dan guru-gurunya.

Ia berkata, "Aku tidak ingin lagi hanya bertemu orang-orang yang kucintai ketika mereka sudah menjadi jenazah."

Saudaraku...
Silaturahmi bukan sekadar tradisi. Ia adalah ibadah yang sangat dicintai Allah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"...Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan..." (QS An-Nisa: 1)

Rasulullah SAW juga bersabda:
"Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi." (HR. Bukhari dan Muslim)

Banyak orang bekerja keras mencari rezeki, tetapi lupa membuka salah satu pintu rezeki yang paling besar, yaitu menyambung silaturahmi.

Betapa banyak perselisihan yang berakhir hanya karena ada yang mau datang lebih dahulu.

Betapa banyak hati yang kembali lembut hanya karena sebuah pelukan dan ucapan, "Maafkan saya."

Betapa banyak doa orang tua, guru, dan kerabat yang menjadi sebab datangnya keberkahan hidup.

Jangan merasa terlalu sibuk.
Sebab ketika ajal tiba, semua kesibukan akan berhenti. Yang tersisa hanyalah penyesalan jika selama ini kita terlalu pelit mengunjungi orang-orang yang pernah berjasa dalam hidup kita.

Mulailah hari ini.
Telepon saudara yang sudah lama tidak dihubungi.
Datangi orang tua selagi mereka masih ada.
Kunjungi kerabat tanpa menunggu hari raya.
Jenguk teman yang sedang sakit.

Sapa tetangga dengan senyum yang tulus.
Karena mungkin, pertemuan hari ini adalah pertemuan terakhir yang Allah izinkan.

Mari kita hidupkan silaturahmi sebelum datang hari ketika kita hanya bisa berdiri di samping liang kubur sambil berkata, "Seandainya dulu aku sempat datang."

Semoga konten ini menjadi pengingat yang menyentuh hati dan menggerakkan pembaca untuk segera mempererat silaturahmi.

Mengapa Masalahmu Tak Kunjung Selesai?

Mengapa Masalahmu Tak Kunjung Selesai?

Rumah tangga terasa sempit.
Rezeki terasa seret.
Hutang belum lunas.
Penyakit tak kunjung sembuh.
Anak mulai sulit dinasihati.
Hati gelisah, tidur pun tidak nyenyak.

Lalu kita mencari solusi ke mana-mana.
Mencari pinjaman.
Mencari kenalan.
Mencari orang yang dianggap bisa membantu.
Padahal, sudahkah kita mendatangi Allah?

Allah telah memberi resep yang sangat sederhana, tetapi sering kita lupakan.
"Wasta'iinu bish-shabri wash-shalah."
"Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat." (QS Al-Baqarah: 45)

Perhatikan, Allah tidak mengatakan, "Mintalah pertolongan kepada hartamu."
Allah tidak mengatakan, "Mintalah pertolongan kepada jabatanmu."
Allah tidak mengatakan, "Mintalah pertolongan kepada manusia."
Allah justru memerintahkan kita untuk meminta pertolongan melalui shalat.

Rasulullah SAW pun memberikan teladan. Setiap menghadapi persoalan besar, beliau memanggil Bilal seraya bersabda:
"Ya Bilalu, aqimis shalata arihna biha."
"Wahai Bilal, dirikanlah shalat. Istirahatkanlah hati kami dengannya."

Shalat bukan sekadar kewajiban.
Shalat adalah tempat mengadu.
Shalat adalah tempat menangis.
Shalat adalah tempat mengumpulkan kembali hati yang telah hancur.

Lihatlah para ulama terdahulu.
Imam Ahmad bin Hanbal disiksa, tetapi beliau tetap menjaga shalat.
Imam Abu Hanifah menghadapi tekanan penguasa, tetapi beliau memperbanyak shalat malam.

Sa'id bin Al-Musayyib menjaga takbiratul ihram berjamaah selama puluhan tahun.
Mereka tidak mencari ketenangan di dunia, tetapi mencarinya dalam sujud.

Hari ini, mungkin masalah kita belum selesai.
Namun jangan sampai shalat kita juga ikut rusak.
Sebab bisa jadi, bukan masalahmu yang terlalu besar.
Tetapi hubunganmu dengan Allah yang mulai renggang.

Maka mulai hari ini...
Jangan tinggalkan shalat berjamaah.
Jangan tinggalkan shalat sunnah.
Jangan tinggalkan tahajud walau hanya dua rakaat.
Karena orang yang paling dekat dengan pertolongan Allah bukanlah orang yang paling kaya, tetapi orang yang paling dekat dengan sajadahnya.
Bagaimana shalatmu hari ini? Karena mungkin, di sanalah letak solusi hidupmu.

Selasa, 30 Juni 2026

PENJEGHUM BEIJE ADIK SANAK

PENJEGHUM BEIJE ADIK SANAK

Assalamu'alaikum wr. wb. 

Dengan hormat, kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i untuk dapat hadir pada acara BEIJE ADIK SANAK, yang insya Allah akan dilaksanakan pada:

Hari/Tanggal : Malam Kamis/ Malam tgl 2 Juli 2026
Waktu   : setelah shalat Isya
Tempat : Jalan Rajawali, Manna

Atas perhatian dan kehadirannya, kami ucapkan terima kasih.

Yang Mengundang

ISMILIANTO

*CATATAN : pelaksanaan resepsi adalah Sabtu-Minggu / tgl 11-12 Juli 2026

Senin, 29 Juni 2026

Surah Al-Mulk Menjadi Pembelanya Cerpen: oleh Ismilianto

Surah Al-Mulk Menjadi Pembelanya
Cerpen: oleh Ismilianto

Malam itu langit begitu bening. Angin berembus pelan, seolah enggan mengusik keheningan.

Usai menunaikan salat Isya, Pak Hasan duduk di atas sajadahnya. Seperti malam-malam sebelumnya, kedua bibirnya kembali melantunkan Surah Al-Mulk. Tiga puluh ayat yang telah bertahun-tahun menjadi teman sebelum tidur itu mengalir lembut dari lisannya.
"Tabārakalladzī biyadihil mulku..."

Tak ada yang mengetahui bahwa itulah bacaan terakhirnya di dunia.
Sesaat kemudian, kepalanya tertunduk. Wajahnya begitu damai. Senyum tipis masih tersisa di bibirnya ketika ruhnya kembali kepada Sang Pencipta.

Keesokan harinya, rumah sederhana itu dipenuhi pelayat.
Saat jenazah dimandikan, seorang yang membantu memandikan tiba-tiba terdiam.
"Subhanallah... harum sekali..."
Yang lain mengangguk pelan. Tak ada parfum. Tak ada minyak wangi. Namun ruangan itu dipenuhi aroma yang menenangkan hati.

Ketika tubuh Pak Hasan dibungkus kain kafan, keharuman itu justru semakin semerbak. Beberapa pelayat saling berpandangan, sementara air mata mereka perlahan jatuh tanpa disadari.

Di pemakaman, keajaiban itu kembali terasa.
Seorang penggali kubur mengangkat segenggam tanah lalu mendekatkannya ke hidung.
"Wangi... tanah ini wangi..."

Mereka saling berpandangan penuh takjub. Seakan bumi pun sedang menyambut seorang hamba yang selama hidupnya selalu mengingat Tuhannya.

Usai talqin dan doa selesai dibacakan, satu demi satu pelayat meninggalkan makam.
Tangis keluarga semakin menjauh.
Langkah kaki mereka perlahan menghilang.
Kini Pak Hasan benar-benar sendiri.
Tak ada lagi istri yang menggenggam tangannya.
Tak ada lagi anak-anak yang memanggil namanya.
Tak ada lagi sahabat yang menemani.
Yang tinggal hanyalah amal-amal yang dahulu ia bawa dengan ikhlas.

Gelap menyelimuti liang kubur.
Sunyi begitu dalam.
Lalu, dengan izin Allah, datanglah dua malaikat yang diutus untuk mendatangi setiap hamba di alam barzakh.

Saat itulah, rahmat Allah turun memenuhi kubur Pak Hasan.
Liang kubur yang sempit berubah menjadi lapang.
Udara yang gelap dipenuhi cahaya ketenangan.
Rasa takut yang biasa menghampiri manusia berganti dengan ketenteraman yang sulit digambarkan.

Allah meneguhkan hati hamba-Nya.
Sebagaimana firman-Nya,
"Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat." (QS Ibrahim: 27)

Dengan hati yang mantap, Pak Hasan menjawab,
"Rabbku adalah Allah."
"Agamaku Islam."
"Nabiku Muhammad SAW."

Maka Allah memuliakannya.
Kuburnya dilapangkan sejauh mata memandang.
Sebuah pintu menuju kenikmatan surga dibukakan baginya.
Angin surga berembus lembut membawa kesejukan dan aroma yang tak pernah ada di dunia.

Di saat itulah tampak betapa berharganya amal yang selama ini dianggap sederhana.
Surah Al-Mulk yang hampir setiap malam ia baca menjadi sebab datangnya perlindungan Allah dari azab kubur.

Rasulullah SAW bersabda,
"Surah Tabārak (Al-Mulk) adalah penghalang yang melindungi pembacanya dari azab kubur."

Dalam hadis lain beliau juga bersabda,
"Ada satu surah yang terdiri dari tiga puluh ayat. Surah itu memberi syafaat kepada seseorang hingga dosanya diampuni, yaitu Surah Al-Mulk." (HR. At-Tirmidzi)

Malam demi malam, Pak Hasan dahulu mungkin tidak pernah membayangkan bahwa bacaan yang hanya memerlukan beberapa menit itu kelak menjadi salah satu sebab datangnya kasih sayang Allah di alam kubur.

Kini keluarganya hanya bisa berdoa dari dunia.
Namun Surah Al-Mulk yang dahulu ia baca dengan istiqamah telah lebih dahulu "menemaninya" sebagai amal saleh yang terus memberi manfaat dengan izin Allah.

Maka, jangan pernah merasa berat membaca Surah Al-Mulk sebelum tidur.
Kita tidak pernah tahu, malam ini mungkin masih menjadi milik kita.

Namun boleh jadi, malam esok Surah Al-Mulk-lah yang menjadi bacaan terakhir sebelum malaikat maut datang menjemput.

Semoga Allah menjadikan lisan kita selalu basah dengan Al-Qur'an, mengakhiri hidup kita dalam husnul khatimah, melapangkan kubur kita, melindungi kita dari azab kubur, dan mengumpulkan kita bersama orang-orang saleh di surga-Nya.
Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Minggu, 28 Juni 2026

Saat Malaikat Datang, Surah Al-Mulk Menjadi Pembelanya"Cerpen:oleh Ismilianto

Surah Al-Mulk Menjadi Pembelanya
Cerpen:oleh Ismilianto

Malam itu langit begitu teduh.
Pak Hasan mengembuskan napas terakhirnya setelah salat Isya. Sebelum wafat, bibirnya masih sempat berbisik membaca Surah Al-Mulk, sebagaimana kebiasaannya setiap malam.
Tidak ada yang menyangka, itulah bacaan terakhirnya di dunia.
Ketika jenazah dimandikan, seluruh ruangan dipenuhi aroma harum yang sulit dilukiskan.
"Subhanallah... wangi sekali," bisik seorang tetangga.
Saat kain kafan membungkus tubuhnya, keharuman itu justru semakin semerbak.
Di pemakaman, para penggali kubur kembali dibuat heran.
Tanah yang baru digali mengeluarkan aroma harum, seolah-olah bumi sedang menyambut seorang hamba yang dicintai Allah.
Usai pemakaman, satu per satu pelayat pulang.
Tinggallah Pak Hasan sendirian di dalam kuburnya.
Gelap.
Sunyi.
Tak ada lagi keluarga.
Tak ada lagi sahabat.
Yang tersisa hanyalah amal.
Tak lama kemudian, datanglah dua malaikat yang ditugaskan Allah untuk mendatangi setiap manusia di alam kubur.
Dengan izin Allah, mereka hendak menanyakan pertanyaan yang akan menentukan keadaan seorang hamba di alam barzakh.
Namun, pada saat itulah tampak cahaya memenuhi liang kubur.
Seakan-akan bacaan Surah Al-Mulk yang selama ini istiqamah dibaca hadir sebagai pembela.

Dalam hadis sahih, Rasulullah SAW bersabda:
"Surah Al-Mulk adalah penghalang; ia melindungi pembacanya dari azab kubur."
(Hadis dengan makna yang diriwayatkan dari beberapa jalur dan dinilai sahih oleh sejumlah ulama.)

Maka kubur itu menjadi lapang.
Udara menjadi sejuk.
Rasa takut berubah menjadi ketenangan.
Allah meneguhkan hati hamba-Nya sehingga ia mampu menjawab pertanyaan malaikat dengan benar.

Sebab Allah telah berfirman:
"Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat." (QS Ibrahim: 27)

Pak Hasan pun menjawab dengan penuh keyakinan:
"Rabbku adalah Allah."
"Agamaku Islam."
"Nabiku adalah Muhammad SAW."

Dengan izin Allah, ujian itu dilaluinya dengan mudah.
Lalu dibukakan baginya sebuah pintu menuju kenikmatan surga.
Aroma surga mulai memasuki liang kuburnya.
Kuburnya menjadi luas sejauh mata memandang.
Ia pun beristirahat dengan tenang hingga datang hari kebangkitan.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa tidak ada amal yang sia-sia.

Rasulullah SAW bersabda:
"Ada satu surah yang terdiri dari tiga puluh ayat yang memberi syafaat kepada seseorang hingga dosanya diampuni, yaitu Surah Al-Mulk." (HR. At-Tirmidzi)

Karena itu, marilah kita membiasakan membaca Surah Al-Mulk setiap malam sebelum tidur. Kita tidak tahu malam mana yang akan menjadi malam terakhir kita di dunia.

Semoga ketika seluruh manusia meninggalkan kita di liang kubur, Allah mengirimkan amal-amal saleh sebagai teman, pelindung, dan penenang hingga datang hari perjumpaan dengan-Nya.


Kuburnya Harum, Malaikat Pun Terdiam Cerpen: oleh Ismilianto

Kuburnya Harum, Malaikat Pun Terdiam
Cerpen: oleh Ismilianto

Malam itu, hujan baru saja reda. Angin berembus pelan ketika kabar duka menyebar dari rumah sederhana di ujung kampung.
Pak Hasan telah wafat.
Beliau bukan orang kaya. Bukan pula seorang ulama terkenal. Sehari-harinya hanya petani biasa. Hidupnya sederhana, tutur katanya lembut, tidak suka menyakiti hati orang lain.
Namun ada satu amalan yang hampir tidak pernah beliau tinggalkan.
Setiap selesai salat Isya, sebelum tidur, beliau selalu membaca Surah Al-Mulk hingga selesai.
Anak-anaknya sering bertanya, "Ayah, kenapa setiap malam membaca Surah Al-Mulk?"
Beliau hanya tersenyum.
"Kalau suatu saat Ayah sendirian di alam kubur, semoga Allah menjadikan Surah Al-Mulk sebagai teman dan pembela."
Tak ada yang menyangka, malam itu menjadi malam terakhir beliau membaca surah itu.
Keesokan paginya, beliau ditemukan telah berpulang dengan wajah yang begitu tenang.
Saat dimandikan, para tetangga saling berpandangan.
"Apa kalian mencium bau ini?"
"Iya... harum sekali..."
Harumnya bukan seperti minyak wangi biasa, melainkan semerbak yang menenangkan hati.
Ketika kain kafan mulai dililitkan, aroma itu justru semakin kuat.
Orang-orang yang hadir merinding.
Saat jenazah dibawa ke pemakaman, keharuman itu masih terus tercium.
Yang lebih mengherankan lagi, ketika liang lahat digali, tanah yang biasanya berbau lembap justru mengeluarkan aroma yang sangat wangi.
Seorang penggali kubur berkata lirih,
"Seumur hidup saya menggali ratusan kubur, baru kali ini tanahnya seharum ini."
Semua yang hadir meneteskan air mata.
Mereka sadar, kemuliaan seseorang tidak selalu tampak ketika hidup, tetapi sering kali Allah tampakkan ketika ia telah wafat.
Malam pertama di alam kubur adalah malam yang paling menegangkan bagi setiap manusia.
Namun Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa Surah Al-Mulk memiliki keutamaan yang sangat besar.
Beliau bersabda:
"Ada satu surah yang terdiri dari tiga puluh ayat yang memberi syafaat kepada seseorang hingga dosanya diampuni, yaitu Surah Al-Mulk."
(HR. At-Tirmidzi)
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Surah Al-Mulk menjadi pelindung dari azab kubur.
Karena itu, banyak ulama menganjurkan agar membacanya setiap malam.
Adapun cerita bahwa malaikat sama sekali tidak bertanya di dalam kubur karena seseorang membaca Surah Al-Mulk tidak memiliki dasar yang sahih dalam hadis. Yang dijelaskan dalam hadis-hadis sahih adalah bahwa Surah Al-Mulk menjadi sebab perlindungan dari azab kubur dan memberi syafaat bagi pembacanya, bukan menghapus adanya pertanyaan kubur.
Allah berfirman:
"Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya."
(QS Al-Mulk: 2)
Maut tidak memilih usia, jabatan, maupun kekayaan.
Yang akan menemani kita hanyalah iman dan amal saleh.
Mungkin kita tidak mampu menghafal banyak surah.
Namun jika mulai malam ini kita membiasakan membaca Surah Al-Mulk sebelum tidur dengan ikhlas, semoga Allah menjadikannya cahaya di alam kubur, pelindung dari azab, dan pemberi syafaat pada hari kiamat.
Karena pada akhirnya, bukan panjangnya umur yang menentukan kemuliaan seseorang, melainkan amal yang terus ia jaga hingga napas terakhir.