KHUTBAH JUMAT
KHUTBAH PERTAMA
(21-8-2026)
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Nahmaduhu wa nasta‘inuhu wa nastaghfiruh,
wa na‘udzu billahi min syururi anfusina wa min sayyi’ati a‘malina.
Mayyahdihillahu fala mudhilla lah, wa mayyudhlil fala hadiya lah.
Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. La nabiya ba'da.
Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma‘in.
Amma ba‘du.
Fa qala fi kitabihil karim:
“Yaa ayyuhalladzi na aama nuttaqullaha haqqa tuqaatihi wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun.”
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Judul: Ketika Nama Kita Dipanggil Dari Alam Kubur
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.
Takwa bukan hanya ucapan.
Melainkan:
Tetap Takwa ketika kita takut kepada Allah saat tidak ada seorang pun yang melihat kita.
Takwa ketika kita tetap jujur meskipun kesempatan untuk berbohong masih terbuka lebar.
Takwa ketika kita tetap salat meskipun kita sangat sibuk urusan dunia.
Dan takwa adalah ketika kita sadar bahwa kehidupan ini pasti akan berakhir.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Hari ini marilah kita semua bercermin kepada diri kita masing-masing.
Sebab ada satu perjalanan yang pasti kita tempuh.
Bahwasanya Semua kita akan mati.
Allah berfirman:
“Kullu nafsin dzaa-iqatul maut, wa innamaa tuwaffauna ujuu rakum yaumal qiyaamah, faman zuhziha ‘aninnaar
wa ud khilal jannah,
faqad faaz, wa mal hayaa tud dunyaa illaa mataa ‘ul ghuruur.”
Artinya:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Sungguh Kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
Jamaah Jumah rahimakumullah,
Bayangkan suatu hari nanti...
Kita sedang duduk bersama keluarga.
Tiba-tiba tubuh kita terasa lemah.
Napas mulai berat.
Anak-anak berkumpul.
Istri menangis.
Keluarga memanggil nama kita.
Tetapi kita sudah tidak mampu menjawab.
Kemudian seseorang berkata:
“Bimbing syahadatnya...”
Lalu terdengar:
“La ilaha illallah...”
Dan setelah itu...
napas terakhir keluar.
Mata kita terpejam.
Tangan kita tidak lagi bergerak.
Mulut kita tidak lagi berbicara.
Kita yang selama puluhan tahun mengejar harta dunia...
akhirnya meninggalkan dunia.
Rumah yang kita bangun tetap berdiri.
Kendaraan yang kita banggakan tetap berada di halaman.
Uang yang kita kumpulkan berpindah tangan.
Pakaian yang kita cintai pasti dilepas.
Telepon yang setiap hari kita genggam...
tidak akan ikut masuk ke dalam kubur.
Yang ikut bersama kita hanyalah amal soleh.
Rasulullah SAW bersabda:
“Idzaa maa tal insaa nu inqatha‘a ‘anhu ‘amaluhu illaa min tsalaa tsah:
shadaqatin jaariyah, au ‘ilmin yun tafa‘u bih, au waladin shaa lihin yad‘u lah.”
Artinya:
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ada satu pertanyaan yang harus kita jawab sebelum terlambat:
Kalau sekarang ini Allah memanggil kita, sudah siapkah kita?
Sudahkah kita meminta maaf kepada orang tua kita?
Sudahkah kita berdamai dengan saudara dan tetangga kita?
Sudahkah kita meminta maaf kepada istri kita?
Sudahkah kita meninggalkan maksiat selama ini?
Sudahkah kita benar-benar menjaga salat lima waktu?
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Jangan sampai kita sangat sibuk mencari harta dunia...
tetapi lupa mempersiapkan akhirat kita.
Allah berfirman:
“Yaa ayyuhalladzina aamanuttaqullaha waltanzhur nafsummaa qaddamat lighad, wattaqullah, innallaaha khabiirun bimaa ta‘maluun.”
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr: 18)
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Jangan tunggu tua untuk bertobat. Sebab banyak orang yang mati tidak pernah sampai tua.
Jangan tunggu sakit untuk salat.
Sebab banyak orang yang meninggal walaupun tak sakit.
Jangan tunggu kaya untuk bersedekah.
Sebab banyak orang meninggal tapi kekayaannya tak sempat datang.
Dan jangan berkata:
“Nanti kalau sudah tua saya akan berubah dan taat.”
Sebab kita tidak pernah tahu
apakah kita diberi kesempatan untuk sampai tua.
Allah telah mengingatkan:
“Hattaa idzaa jaa-a ahada humul maut,
qaala rabbirji‘uun.
La‘allii a‘malu shaalihan fiimaa taraktu, kallaa, innahaa kalimatun huwa qaa-iluhaa, wa min waraa-ihim barzakhun ilaa yaumi yub ‘atsuun.”
Artinya:
“ apabila kematian datang kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia, agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sungguh, itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.” ( Al-Mu’minun: 99–100)
Jamaah jumat yang dirahmati Allah,
Saat ini kita masih hidup.
Kita masih bisa bersujud.
Kita masih bisa menangis.
Kita masih bisa beristighfar.
Kita masih bisa meminta maaf.
Kita masih bisa bersedekah.
Kita masih bisa memperbaiki salat.
Berarti Allah masih memberi kita kesempatan.
Maka jangan sia-siakan kesempatan itu.
Selagi kaki masih mampu melangkah ke masjid...
melangkahlah.
Selagi tubuh masih mampu bersujud...
bersujudlah.
Selagi lidah masih mampu berzikir...
berzikirlah.
Selagi pintu taubat masih terbuka...
bertobatlah!
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Jangan sampai Jumat demi Jumat berlalu...
umur bertambah...
rambut memutih...
tetapi dosa tidak berkurang.
Jangan sampai kita sibuk memperbaiki rumah, tetapi lupa memperbaiki hati.
Jangan sampai kita sibuk menghias wajah, tetapi lupa menghias amal.
Jangan sampai kita takut kehilangan harta...
tetapi tidak takut kehilangan iman.
Sebab pada akhirnya akan tiba satu hari...
ketika nama kita dipanggil lalu ada ucapan:
“Innalillahi wa inna ilaihi raji‘un...”
Kemudian kita diangkat dan
Dimandikan.
Dikafani.
Disalatkan.
Diantar.
Dikuburkan.
kita tinggal sendirian di kuburan.
Tidak ada lagi yang bisa menolong kita kecuali rahmat Allah dan amal yang kita bawa.
Maka mulai hari ini...
jangan tunggu sakit baru ingat mesjid.
Kenalilah Allah sebelum kita menghadap Allah.
Aquulu qauli hadza, wa astaghfirullah lii wa lakum, fastaghfiruh innahu huwal ghafuurur rahiim.
KHUTBAH KEDUA
Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih kama yuhibbu rabbuna wa yardha.
Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh.
Innallaha wa malaikatahu yushalluna 'alan nabiy. Ya ayyuhalladzina amanu shallu 'alaihi wa sallimu taslima.
Allahumma shalli wa sallim wa barik 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa ashabihi ajma'in.
Allahumma aghfir lil muslimina wal muslimat, wal mu'minina wal mu'minat, al-ahya'i minhum wal amwat.
Allahumma a'inna 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik.
Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina 'adzaban nar.
Ya Allah...
Jangan Engkau cabut nyawa kami kecuali dalam keadaan Engkau ridha kepada kami.
Jadikan akhir ucapan kami:
La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah.
Ya Allah, karuniakan kepada kami husnul khatimah.
Jadikan kubur kami taman dari taman-taman surga.
Terangkan kubur kami dengan cahaya-Mu.
Lapangkan kubur kami.
Ampuni dosa-dosa kami.
Selamatkan kami dari azab kubur dan azab neraka.
Innallaha ya'muru bil 'adli wal ihsan wa ita'i dzil qurba wa yanha 'anil fahsya'i wal munkari wal baghy.
Ya'izhukum la'allakum tadzakkarun.
Fadzkurullaha al-'azhim yadzkurkum, wasykuruhu 'ala ni'amihi yazidkum, waladzikrullahi akbar
Aqimisshalah