Jangan Menunggu Takziah Baru Bersilaturahmi
Suatu hari, seorang laki-laki menerima kabar bahwa sahabat masa kecilnya telah meninggal dunia. Ia segera berangkat menuju rumah duka.
Sesampainya di sana, ia memandangi wajah sahabatnya yang telah terbujur kaku. Air matanya jatuh tanpa mampu dibendung.
Dengan suara bergetar ia berkata, "Maafkan aku... sudah bertahun-tahun kita tinggal di kota yang sama, tetapi aku selalu berkata nanti... nanti aku akan datang. Ternyata yang kudatangi hari ini hanyalah jasadmu."
Orang-orang yang mendengar ucapannya ikut menundukkan kepala. Penyesalan memang selalu datang terlambat.
Sejak hari itu, laki-laki tersebut mengubah hidupnya. Ia tidak lagi menunda silaturahmi. Setiap ada waktu, ia mendatangi keluarga, sahabat, tetangga, dan guru-gurunya.
Ia berkata, "Aku tidak ingin lagi hanya bertemu orang-orang yang kucintai ketika mereka sudah menjadi jenazah."
Saudaraku...
Silaturahmi bukan sekadar tradisi. Ia adalah ibadah yang sangat dicintai Allah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"...Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan..." (QS An-Nisa: 1)
Rasulullah SAW juga bersabda:
"Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi." (HR. Bukhari dan Muslim)
Banyak orang bekerja keras mencari rezeki, tetapi lupa membuka salah satu pintu rezeki yang paling besar, yaitu menyambung silaturahmi.
Betapa banyak perselisihan yang berakhir hanya karena ada yang mau datang lebih dahulu.
Betapa banyak hati yang kembali lembut hanya karena sebuah pelukan dan ucapan, "Maafkan saya."
Betapa banyak doa orang tua, guru, dan kerabat yang menjadi sebab datangnya keberkahan hidup.
Jangan merasa terlalu sibuk.
Sebab ketika ajal tiba, semua kesibukan akan berhenti. Yang tersisa hanyalah penyesalan jika selama ini kita terlalu pelit mengunjungi orang-orang yang pernah berjasa dalam hidup kita.
Mulailah hari ini.
Telepon saudara yang sudah lama tidak dihubungi.
Datangi orang tua selagi mereka masih ada.
Kunjungi kerabat tanpa menunggu hari raya.
Jenguk teman yang sedang sakit.
Sapa tetangga dengan senyum yang tulus.
Karena mungkin, pertemuan hari ini adalah pertemuan terakhir yang Allah izinkan.
Mari kita hidupkan silaturahmi sebelum datang hari ketika kita hanya bisa berdiri di samping liang kubur sambil berkata, "Seandainya dulu aku sempat datang."
Semoga konten ini menjadi pengingat yang menyentuh hati dan menggerakkan pembaca untuk segera mempererat silaturahmi.