Laqadja akum rasulum


web stats

Kamis, 25 Juni 2026

SETETES AIR DI HARI SENIN Cerpen: oleh Ismilianto

SETETES AIR DI HARI SENIN
Cerpen: oleh Ismilianto

Malam itu masjid kampung dipenuhi jamaah. Lantunan shalawat menggema lembut. Wajah-wajah tua dan muda tampak khusyuk mendengarkan kisah tentang kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Seorang ustaz sepuh berdiri di depan jamaah.

Beliau memulai ceramahnya dengan sebuah pertanyaan.
"Siapakah musuh Rasulullah SAW yang namanya diabadikan dalam Al-Qur'an?"
Jamaah serempak menjawab,
"Abu Lahab."

Ustaz itu mengangguk.
"Lalu tahukah kita, bahwa ada sebuah riwayat yang menyebutkan Abu Lahab mendapat keringanan azab setiap hari Senin karena pernah bergembira saat Nabi Muhammad SAW lahir?"
Masjid mendadak hening.
Beliau pun mulai berkisah.

Ketika Nabi Muhammad SAW lahir, seorang budak perempuan bernama Tsuwaibah bergegas menemui tuannya, Abu Lahab.

"Wahai tuanku, bergembiralah. Saudaramu Abdullah telah dikaruniai seorang putra."
Mendengar kabar itu, Abu Lahab sangat senang. Bayi yang lahir itu adalah keponakannya sendiri.
Karena gembira, ia memerdekakan Tsuwaibah sebagai hadiah atas berita tersebut.

Waktu terus berjalan.
Muhammad tumbuh menjadi seorang pemuda yang jujur dan terpercaya. Kemudian Allah mengangkat beliau sebagai Rasul-Nya.
Namun ironisnya, Abu Lahab justru menjadi salah satu penentang dakwah yang paling keras.

Ia mencaci Rasulullah SAW, menghalangi manusia mengikuti Islam, dan memusuhi beliau hingga akhir hayatnya.
Karena itulah Allah menurunkan firman-Nya:
"Tabbat yadaa abii lahabiw wa tabb." (QS. Al-Lahab: 1)
Abu Lahab meninggal dalam keadaan tidak beriman.
Beberapa waktu setelah kematiannya, salah seorang keluarganya bermimpi melihatnya.

Dalam mimpi itu Abu Lahab tampak sangat menderita.
Tubuhnya berada dalam kesengsaraan yang sulit digambarkan.
Lalu ia ditanya,
"Apa yang engkau dapatkan setelah kematianmu?"
Abu Lahab menjawab,
"Aku tidak menemukan kebaikan apa pun setelah mati. Aku berada dalam azab. Namun setiap hari Senin, azabku diringankan dan aku diberi setetes air yang dapat membasahi tenggorokanku. Itu karena dahulu aku bergembira atas kelahiran Muhammad dan memerdekakan Tsuwaibah."
Ketika kisah itu selesai diceritakan, suasana masjid menjadi sunyi.

Tak sedikit jamaah yang menundukkan kepala.
Ustaz itu kemudian berkata dengan suara pelan,
"Saudara-saudaraku, perhatikanlah. Abu Lahab adalah orang yang kafir dan memusuhi Rasulullah SAW. Namun kegembiraannya atas kelahiran Nabi tidak diabaikan begitu saja."
Beliau berhenti sejenak.
Air mata tampak menggenang di pelupuk matanya.

"Lalu bagaimana dengan seorang mukmin yang mencintai Rasulullah SAW, memperbanyak shalawat, menghadiri majelis ilmu, bersedekah, dan berusaha mengikuti sunnah beliau? Tentu kita berharap Allah memberikan rahmat yang jauh lebih besar."

Di saf paling belakang, seorang lelaki tua menangis.
Ia teringat puluhan tahun hidupnya.
Betapa sering ia sibuk mengejar dunia, tetapi jarang bershalawat.
Betapa sering ia mengaku mencintai Nabi SAW, tetapi masih lalai menjalankan sebagian ajaran beliau.

Malam itu ia mengangkat kedua tangannya.
"Ya Allah, aku tidak pernah melihat Rasul-Mu. Aku tidak hidup di zamannya. Tetapi aku mencintainya. Jangan pisahkan aku darinya di akhirat nanti."

Lantunan shalawat kembali bergema.
Suara tangis beberapa jamaah terdengar di sudut-sudut masjid.

Malam Maulid itu mengajarkan satu pelajaran yang sangat dalam:
Jika kegembiraan seorang musuh Nabi atas kelahiran beliau saja disebut dalam riwayat mendapat keringanan, maka seorang mukmin hendaknya lebih bersungguh-sungguh menunjukkan cintanya kepada Rasulullah ﷺ dengan iman, shalawat, akhlak mulia, dan mengikuti sunnahnya. 

Karena cinta sejati kepada Rasulullah SAW bukan hanya dirayakan pada malam Maulid, tetapi dibuktikan setiap hari hingga akhir hayat.

Sebagaimana sabda Nabi SAW:
"Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah menjadikan kita termasuk umat Nabi Muhammad SAW yang memperoleh syafaat beliau, diterangi kuburnya, dan dikumpulkan bersama beliau di surga. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.

Rabu, 24 Juni 2026

AIR MATA DI UJUNG SAJADAH Cerpen: oleh Ismilianto

AIR MATA DI UJUNG SAJADAH
Cerpen: oleh Ismilianto

Di sebuah kampung kecil, hiduplah seorang ibu tua bernama Salmah. Rambutnya telah memutih seluruhnya. Punggungnya mulai membungkuk. Langkahnya perlahan seperti menahan beban yang tak terlihat.
Suaminya telah lama meninggal dunia.

Anak tunggalnya, Farhan, merantau ke kota besar. Ketika berangkat, Farhan memeluk ibunya erat.
"Bu, doakan Farhan berhasil. Kalau sudah sukses, Farhan akan membahagiakan Ibu."

Salmah tersenyum sambil mengusap kepala anaknya.
"Ibu tidak minta apa-apa, Nak. Ibu hanya ingin kau jangan tinggalkan shalat dan jangan lupakan ibumu dalam doa."
Farhan mengangguk.

Namun waktu berjalan cepat.
Kesibukan demi kesibukan membuat Farhan jarang pulang. Telepon yang dulu setiap pekan berubah menjadi setiap bulan. Lalu beberapa bulan sekali.
Sementara itu, setiap malam Salmah selalu menunggu.
Sesudah shalat Isya, ia duduk di teras rumah tua yang mulai lapuk.

Matanya memandang jalan.
Barangkali malam ini anaknya pulang.
Barangkali malam ini ada suara motor berhenti di depan rumah.
Barangkali malam ini ada yang memanggil, "Ibu..."
Tetapi yang datang hanya angin malam.

Suatu hari tetangga bertanya,
"Mak Salmah, mengapa selalu duduk di sini?"
Dengan mata berkaca-kaca ia menjawab,
"Aku sedang menunggu seseorang yang dulu sering kupangku."

Tetangga itu terdiam.
Bertahun-tahun berlalu.
Farhan benar-benar sukses.
Rumah mewah.
Mobil mahal.
Jabatan tinggi.
Tetapi ia semakin jarang mengingat ibunya.

Sampai suatu malam, teleponnya berdering.
Suara dari kampung terdengar terbata-bata.
"Farhan... ibumu sakit keras."
Farhan terdiam.
Besoknya ia segera pulang.
Perjalanan yang dulu terasa dekat kini terasa sangat panjang.

Di sepanjang jalan, kenangan masa kecilnya bermunculan.
Ibunya yang menggendongnya saat demam.
Ibunya yang menjual gelang satu-satunya untuk biaya sekolah.

Ibunya yang sering berkata,
"Kalau Ibu sudah tua, jangan tinggalkan Ibu sendirian."
Sesampainya di rumah, suasana sudah dipenuhi tangisan.
Jantung Farhan berdegup kencang.
Ia berlari masuk.

Namun langkahnya terhenti.
Tubuh ibunya terbujur kaku di atas dipan tua.
Wajahnya tenang.
Seakan baru saja tertidur.
Farhan jatuh berlutut.

"Ibu... Farhan pulang, Bu..."
Tidak ada jawaban.
"Ibu... bangunlah. Farhan sudah pulang..."
Tetap tidak ada jawaban.
Air matanya pecah.
Ia memeluk tubuh ibunya yang sudah dingin.

Di samping bantal terdapat sebuah Al-Qur'an usang.
Di dalamnya terselip secarik kertas.
Tangan Farhan gemetar membukanya.
Tertulis dengan tulisan yang mulai pudar:
"Ya Allah, jangan hukum anakku karena jarangnya ia pulang. Jangan hukum anakku karena lupanya ia kepada ibunya. Ampunilah dia. Mudahkan rezekinya. Jagalah shalatnya. Bahagiakan hidupnya. Jika harus ada yang menanggung kesedihan, biarlah aku saja."

Farhan menangis sejadi-jadinya.
Dadanya sesak.
Selama ini ia merasa ibunya akan selalu ada.
Ternyata waktu lebih cepat daripada penyesalan.

Malam setelah pemakaman, Farhan masuk ke kamar ibunya.
Di sudut ruangan masih ada sajadah tua.
Bekas air mata masih membekas di sana.
Tiba-tiba ia sadar.

Bertahun-tahun ibunya bukan sedang menunggu kiriman uang.
Bukan menunggu hadiah.
Bukan menunggu rumah baru.
Yang ditunggu ibunya hanyalah suara sederhana:
"Bu, bagaimana kabarnya hari ini?"

Farhan sujud di atas sajadah itu.
Tangisnya pecah.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia menangis seperti anak kecil.
Ia baru mengerti bahwa ada cinta yang tak pernah meminta balasan.

Ada doa yang terus terbang ke langit meski dilupakan.
Ada hati yang tetap mencintai meski sering disakiti.
Itulah hati seorang ibu.

Rasulullah SAW bersabda:
"Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua." (HR. At-Tirmidzi)

Jika hari ini ayah atau ibu kita masih hidup, jangan tunggu esok untuk menelepon mereka. Jangan tunggu hari raya untuk memeluk mereka. Jangan tunggu pemakaman untuk menangis.

Karena ada penyesalan yang tidak bisa diperbaiki oleh air mata sebanyak apa pun.
Dan sering kali, orang yang paling kita cintai pergi saat kita masih sibuk berkata,
"Nanti...".

Semoga Allah menjaga kedua orang tua kita yang masih hidup, mengampuni yang telah wafat, dan menjadikan kita anak yang senantiasa berbakti kepada mereka. Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Selasa, 23 Juni 2026

SELAMAT dari KEPUTUSASAAN

SELAMAT dari KEPUTUSASAAN

Suatu malam, seorang sopir angkutan duduk termenung di dalam kendaraannya. Matanya memandang kosong ke arah jalan yang gelap.

Kendaraan yang menjadi sumber nafkah keluarga sering rusak. Hutang cicilan menumpuk. Istrinya mulai sering sakit. Sementara anak sulungnya akan masuk sekolah dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Malam itu, ia menangis.
Karena merasa sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa.

Keesokan harinya, setelah salat Subuh di masjid, ia membaca dzikir: 

"Ya Hayyu Ya Qayyum, birahmatika astaghits, ashlih li sya'ni kullahu, wa la takilni ila nafsi tharafata 'ain."

Artinya:  "Wahai Dzat Yang Maha Hidup, Wahai Dzat Yang Maha Mengurus segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh urusanku dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau hanya sekejap mata."
(HR. An-Nasa'i dan Al-Hakim)

Sang sopir merasa kalimat terakhir doa itu sangat menampar hatinya.
"Jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau hanya sekejap mata."
Ia sadar selama ini terlalu sibuk memikirkan kekuatannya sendiri.

Setelah itu,  hatinya menjadi lebih tenang. Lebih yakin bahwa Allah sedang mengatur jalan keluar yang belum terlihat.

Beberapa bulan kemudian,  Kendaraannya terpilih menjadi salah satu armada yang rutin digunakan. Penghasilannya mulai membaik. Hutang sedikit demi sedikit terbayar.

Ketika ditanya apa yang paling berharga dari semua itu, ia menjawab:
"Sebelum Allah memperbaiki rezeki saya, Allah lebih dulu memperbaiki hati saya."
Inilah salah satu rahasia doa yang agung ini.

Pertolongan pertama yang Allah berikan adalah ketenangan hati. Ketika hati sudah tenang, seseorang mampu melihat jalan keluar yang sebelumnya tertutup oleh kepanikan.

Karena itu Rasulullah SAW mengajarkan doa yang luar biasa ini:
"Ya Hayyu Ya Qayyum, birahmatika astaghits, ashlih li sya'ni kullahu, wa la takilni ila nafsi tharafata 'ain."

Doa ini mengandung pengakuan bahwa kita lemah.
Bahwa kita tidak mampu mengatur hidup sendiri.
Bahwa tanpa pertolongan Allah, kita tidak akan sanggup menghadapi ujian sekecil apa pun.

Allah berfirman:
"Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar." (QS. At-Talaq: 2)

Jika hari ini hidup terasa berat, jangan berhenti berusaha.
Tetapi jangan pula lupa mengetuk pintu langit.

Siapa tahu jalan keluar yang selama ini dicari sedang dipersiapkan oleh Allah, dan yang perlu kita lakukan hanyalah terus memohon:
"Ya Hayyu Ya Qayyum, birahmatika astaghits..."
Sebab tidak ada masalah yang lebih besar daripada rahmat Allah, dan tidak ada pintu yang tetap tertutup jika Allah sendiri yang membukakannya.

Assalamu'alaikum wr.wb.Dengan penuh rasa syukur ke hadirat Allah SWT, kami mengundang

Assalamu'alaikum wr.wb.
Dengan penuh rasa syukur ke hadirat Allah SWT, kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i untuk berkenan hadir pada acara resepsi pernikahan putri kami:
🌹 SELVANA ARIESTIA 🌹
Insya Allah dilaksanakan pada:

Hari/Tanggal: SABTU–MINGGU, 11–12 Juli 2026

Tempat: Jalan Rajawali,  Manna, Bengkulu Selatan

Atas Kehadiran serta doa restu Bapak/Ibu/Saudara/i kami ucapkan terima kasih.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Senin, 22 Juni 2026

Dia Sibuk ketika Semua Orang Pergi

Dia Sibuk ketika Semua Orang Pergi

Ada seorang petugas kebersihan masjid yang sudah berusia lebih dari enam puluh tahun. Setiap selesai salat berjamaah, ketika semua orang pulang, ia justru memungut tisu yang berserakan, merapikan Al-Qur'an yang tidak pada tempatnya, mengisi kembali air wudu, dan menyapu halaman masjid.

Pekerjaan itu ia lakukan selama bertahun-tahun.
Suatu hari, seorang jamaah bertanya,
"Pak, berapa gaji bapak mengurus masjid ini?"
Orang tua itu tersenyum.
"Saya tidak digaji."
"Lalu kenapa bapak tetap datang setiap hari?"
Matanya berkaca-kaca.
"Sebab saya takut datang kepada Allah nanti dengan tangan kosong."
Jawaban itu membuat jamaah tersebut terdiam.

Beberapa bulan kemudian, lelaki tua itu meninggal dunia.
Pada malam pertama setelah kepergiannya, Tidak ada lagi yang mengisi tempat air wudhu. Tidak ada lagi yang membersihkan sajadah sebelum Subuh.
Tidak ada lagi yang memungut sampah kecil. 

Barulah mereka mengerti.
Selama bertahun-tahun, ada seseorang yang diam-diam menjaga rumah Allah tanpa pernah meminta penghargaan.

Ketika jenazahnya disalatkan, masjid penuh sesak. Banyak yang menangis.
Bukan karena kehilangan orang terkenal.
Tetapi karena kehilangan seorang hamba yang hidupnya sederhana, namun umurnya dihabiskan untuk melayani agama Allah.

Sahabatku...
Tidak semua orang dikenang karena jabatannya.
Tidak semua orang dicintai karena hartanya.
Ada orang yang namanya jarang disebut di dunia, tetapi disebut dengan bangga oleh para malaikat di langit.

Maka pagi ini, jangan remehkan kebaikan kecil yang istiqamah.
Mungkin satu sajadah yang kita rapikan, satu Al-Qur'an yang kita letakkan dengan baik, satu doa yang kita panjatkan setelah Subuh, akan menjadi cahaya yang menyambut kita ketika dunia telah kita tinggalkan.

Karena di akhir perjalanan, yang dicari bukan tepuk tangan manusia, melainkan ridha Allah Yang Maha Mulia.

Minggu, 21 Juni 2026

PAGI INI: JANGAN TUNDA BERBUAT BAIK

PAGI INI: JANGAN TUNDA BERBUAT BAIK

Suatu pagi, seorang anak menerima telepon dari tetangganya.
"Segeralah pulang. Ibumu sakit."
Anak itu sebenarnya mampu pulang saat itu juga. Tetapi karena urusan pekerjaan, ia berkata, "Besok saja saya pulang."

Keesokan harinya, telepon itu datang lagi. Kali ini bukan kabar sakit.
Ibunya telah meninggal dunia.

Dengan langkah gemetar ia pulang. Di samping jenazah ibunya, ia menangis sejadi-jadinya. Ia memegang tangan yang sudah dingin itu sambil berbisik:
"Ibu, maafkan aku. Aku selalu bilang nanti, nanti, dan nanti.

Ternyata waktuku habis sebelum sempat membahagiakanmu."
Di bawah bantal sang ibu ditemukan sebuah amplop kecil. Isinya bukan uang, bukan surat wasiat.
Hanya secarik kertas bertuliskan:
"Ibu tidak butuh apa-apa. Ibu hanya rindu melihatmu pulang."
Anak itu pingsan sambil memeluk surat tersebut.

Sahabatku...
Banyak orang menangis bukan karena tidak punya kesempatan berbuat baik, tetapi karena terlalu sering menundanya.
Menunda meminta maaf. Menunda bersedekah. Menunda shalat. Menunda membahagiakan orang tua. Menunda bertobat.
Padahal kematian tidak pernah menunda kedatangannya.

Allah berfirman:
"Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu..." (QS. Al-Munafiqun: 10)

Pagi ini, jika orang tua masih ada, hubungilah mereka.
Jika ada kesalahan, segeralah meminta maaf.
Jika ada kesempatan berbuat baik, jangan tunggu esok.
Karena suatu hari nanti, yang tersisa mungkin hanya air mata dan kalimat yang paling menyakitkan:
"Seandainya aku melakukannya lebih cepat..."

Semoga Allah memanjangkan umur kita dalam ketaatan, memberkahi kedua orang tua kita yang masih hidup, dan melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka yang telah mendahului kita. Aamiin ya rabbal aalamin, Shalallahu alaa muhammad. 

Sabtu, 20 Juni 2026

JANGAN MENUNGGU HATI LEMBUT BARU BERIBADAH

JANGAN MENUNGGU HATI LEMBUT BARU BERIBADAH

Banyak orang berkata, "Nanti kalau hati saya sudah tenang, saya akan rajin shalat. Nanti kalau urusan selesai, saya akan lebih dekat kepada Allah."
Padahal yang benar justru sebaliknya.

Bukan hati tenang dulu baru rajin beribadah, tetapi beribadahlah, maka Allah akan menenangkan hati.
Allah berfirman:
"Alaa bidzikrillahi tathma'innul quluub."
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)

Jangan menunggu lapang baru bersujud. Justru sujud itulah yang akan melapangkan.

Jangan menunggu kuat baru ke masjid. Justru langkah ke masjid itulah yang akan menguatkan.

Jangan menunggu kaya baru bersedekah. Justru sedekah itulah yang membuka pintu rezeki.

Ada kisah seorang lelaki tua yang hidupnya penuh kesulitan. Usahanya merugi, hutangnya menumpuk, dan keluarganya sering kekurangan. Namun ia tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah Subuh di masjid.

Ketika ditanya rahasianya, ia menjawab,
"Kalau aku meninggalkan Allah karena masalahku, siapa yang akan menyelesaikan masalahku?"

Tahun demi tahun berlalu. Allah membukakan jalan yang tidak pernah ia sangka. Hutangnya lunas, usahanya kembali hidup, dan keluarganya berkecukupan. Namun yang paling ia syukuri bukanlah kekayaannya, melainkan nikmat tetap bisa sujud ketika hidup sedang sulit.

Pagi ini, jangan hitung berapa banyak masalah yang datang.
Hitunglah berapa banyak nikmat Allah yang masih tersisa.
Mata masih melihat.
Telinga masih mendengar.
Lidah masih berdzikir.
Dan pintu taubat masih terbuka.

Semoga pagi ini Allah menguatkan langkah kita menuju ketaatan, melapangkan rezeki kita, mengampuni dosa-dosa kita, menjaga anak cucu kita, dan menutup hidup kita dengan husnul khatimah.

Allahumma a'inna 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik. Aamiin ya Rabbal 'alamin.