Laqadja akum rasulum


web stats

Kamis, 05 Maret 2026

KUBUR YANG KEHILANGAN RAMADHAN Cerpen: Ismilianto

KUBUR YANG KEHILANGAN RAMADHAN
Cerpen: Ismilianto

Ia wafat di penghujung sore.
Langit berwarna jingga.
Orang-orang berkata, “Wajahnya tenang.”
Doa dilangitkan. Air mata jatuh.

Semua tampak baik-baik saja.
Tak ada yang tahu— kecuali Allah— bahwa setiap kali Ramadhan datang, hatinya justru merasa terganggu.

Puasa baginya bukan kewajiban suci.
Ia menyebutnya “opsi”.
Ia makan sembunyi-sembunyi.
Ia minum dengan pintu tertutup.
Lalu berkata ringan,
“Allah Maha Pengampun.”

Benar. Allah Maha Pengampun.
Namun ia lupa firman-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Diwajibkan.
Bukan dianjurkan.
Bukan pilihan.

Malam pertama di kubur tiba.
Sunyinya berbeda.
Bukan seperti kamar gelap.
Bukan seperti mati lampu.
Ini sunyi yang hidup.
Sunyi yang sadar.
Sunyi yang membuat jiwa tak bisa lagi bersembunyi.

Pertanyaan datang.
Tentang Rabbnya.
Tentang agamanya.
Tentang nabinya.
Lisannya tahu jawabannya ketika di dunia.
Namun iman yang tak pernah dilatih dengan taat,
mendadak terasa rapuh.

Lalu yang paling menghimpit bukan tanah.
Tetapi ingatan.
Ia melihat Ramadhan-Ramadhan yang berlalu.
Adzan Subuh yang ia dengar tapi ia lanjutkan makan.

Tarawih yang ia tunda sampai akhirnya tak pernah datang.
Lapar yang seharusnya menjadi saksi ketaatan,
justru ia hindari tanpa alasan.

Ia sadar sekarang.
Puasa bukan tentang kuat atau tidak kuat.
Puasa adalah tentang tunduk atau tidak tunduk.

Rasulullah SAW bersabda:
“Islam dibangun atas lima perkara…” dan beliau menyebut di antaranya,
“berpuasa Ramadhan.”
(HR. Bukhari no. 8, Muslim no. 16)

Bukan cabang kecil.
Bukan ibadah tambahan.
Ia adalah tiang.
Dan ia pernah merobohkannya dengan santai.

Di kubur itu, tak disebutkan azabnya bagaimana.
Namun penyesalan itu nyata.
Penyesalan yang tidak bisa ditebus.
Penyesalan yang tidak bisa diedit.
Penyesalan yang tidak bisa dihapus dengan status baru.

Ia ingin kembali.
Bukan untuk bisnis.
Bukan untuk jabatan.
Bukan untuk membalas komentar.

Ia hanya ingin satu Ramadhan saja. Satu hari saja.
Untuk menahan lapar karena Allah. Untuk bangun sahur dengan niat sungguh-sungguh.
Untuk berdiri di malam hari walau hanya dua rakaat.
Namun kubur tidak mengenal kata “ulang”.

Allah berfirman tentang orang yang menyesal setelah mati:
“Ya Rabbku, kembalikanlah aku ke dunia agar aku dapat beramal saleh…” (QS. Al-Mu’minun: 99–100)

Tetapi jawabannya tegas: tidak.

Petang ini, kita masih bernapas.
Kita masih bisa merasa lapar karena memilih taat.
Kita masih bisa sujud dengan sadar.
Kita masih bisa berkata, “Ya Allah, aku ingin berubah.”

Jangan sampai nanti,
di ruang sempit yang tak bisa ditembus cahaya itu,
kita baru mengerti bahwa satu Ramadhan
lebih berharga daripada seluruh dunia.

Kubur tidak menyesal karena kehilangan harta kita.
Kubur tidak peduli pada gelar kita.
Tetapi kubur menjadi saksi
siapa yang kehilangan Ramadhan…
dan siapa yang menjaga kehormatan bulan itu.

Selama fajar masih terbit, 
selama Ramadhan masih Allah pertemukan dengan kita…
jangan biarkan kubur menjadi tempat pertama
kita benar-benar merindukan puasa yang dulu kita anggap biasa saja.

Rabu, 04 Maret 2026

Sahabat yang Tidak Pergi Cerpen: oleh Ismilianto

Sahabat yang Tidak Pergi
Cerpen: oleh Ismilianto

Namanya biasa saja. Tidak terkenal. Tidak punya jabatan. Di kampungnya ia hanya dikenal sebagai orang yang kalau malam selesai Isya, duduk sebentar membuka mushaf kecilnya.

Ia punya satu kebiasaan yang tidak pernah ia tinggalkan.
Membaca Surah Al-Mulk sebelum tidur.

Ia pernah mendengar sabda Rasulullah SAW:
"Ada satu surah dalam Al-Qur’an yang terdiri dari tiga puluh ayat, yang memberi syafaat kepada pembacanya sampai diampuni dosa-dosanya, yaitu Tabarakalladzi biyadihil mulk." (HR. Tirmidzi no. 2891)

Sejak itu ia menjaga Al-Mulk seperti sahabat.
Bertahun-tahun ia membacanya. Kadang dengan suara pelan. Kadang dengan mata yang mengantuk. Kadang dengan hati yang letih karena urusan dunia. Tapi ia tidak pernah meninggalkannya.

Sampai suatu malam… ia tidak bangun lagi.
Ia dimandikan. Dikafani. Dishalatkan. Diantar ke kubur. Tangis keluarga mengiringi. Tanah diratakan. Orang-orang pulang.
Sunyi.
Ia mendengar langkah kaki terakhir menjauh.

Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya seorang hamba ketika diletakkan di kuburnya dan para pengantarnya telah pergi, ia mendengar suara sandal mereka." (HR. Bukhari no. 1338, Muslim no. 2870)

Lalu datang dua malaikat.
Wajah mereka tegas. Suara mereka mengguncang.
Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa Nabimu?
Dengan gemetar ia menjawab.

Allah meneguhkan lisannya, sebagaimana firman-Nya:
"Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat." (QS. Ibrahim: 27)


Jawabannya lancar.
Tiba-tiba… sebelum kegelapan menjadi menakutkan, datang sesuatu yang bercahaya.
Seperti sosok lelaki tampan, harum, wajahnya menenangkan.

Ia berkata, “Jangan takut. Jangan bersedih.”
“Siapa engkau?” tanya si mayit.

“Aku adalah Surah Al-Mulk yang dulu kau baca setiap malam.”

Kuburnya yang sempit mulai meluas. Angin sejuk berhembus. Sebuah pintu kecil terbuka memperlihatkan cahaya surga.
Surah itu berdiri di antara dirinya dan azab.

Karena Rasulullah SAW bersabda:
"Surah Tabarak (Al-Mulk) adalah penghalang dari azab kubur." (HR. Al-Hakim no. 3839, dinilai sahih oleh sebagian ulama)

Hari berganti hari di alam barzakh, tapi ia tidak merasakan kesempitan. Waktu terasa seperti tidur yang nyaman.

Lalu sangkakala ditiup.
Hari yang dijanjikan itu tiba.
Manusia bangkit dari kubur dalam keadaan bingung. Mata terbelalak. Keringat mengalir. Matahari didekatkan.

Allah menggambarkan kedahsyatannya:
"Pada hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan seluruh alam." (QS. Al-Muthaffifin: 6)

Di Padang Mahsyar, manusia mencari pelindung.
Ia gemetar. Amal terasa sedikit. Dosa terasa banyak.
Tiba-tiba cahaya itu datang lagi.

Surah Al-Mulk berdiri bersamanya.
Ia menjadi pembela. Menjadi saksi bahwa hamba ini mencintai kalam Allah. Bahwa setiap malam, di saat banyak orang lalai, ia membuka dan membacanya.

Timbangan amal ditegakkan.
Kebaikannya diperberat.
Allah Maha Pengampun. Surah itu memberi syafaat hingga diampuni.

Ketika namanya dipanggil menuju surga, ia menoleh sejenak ke Padang Mahsyar yang penuh kepanikan.

Ia teringat malam-malam sederhana di dunia. Hanya tiga puluh ayat. Tidak panjang. Tidak berat.
Tapi istiqamah.
Ia pun melangkah.
Dan di gerbang itu, ia sadar…
Yang menemaninya bukan hartanya. Bukan rumahnya. Bukan jabatannya.
Tapi kebiasaan kecil yang ia jaga dengan cinta.
Surah Al-Mulk.


Senin, 02 Maret 2026

IMANNYA SEBESAR BIJI SAWI Cerpen: oleh Ismilianto

IMANNYA SEBESAR BIJI SAWI
Cerpen: oleh Ismilianto

MANUSIA itu gemetar.
Kepalanya tertunduk. Catatan amalnya sudah terbuka.

MALAIKAT berkata tegas:
“Bacalah kitabmu itu. Hari ini engkau akan menjadi saksi terhadap semua amalmu di dunia.”

Manusia itu membacanya.
Salat yang bolong-bolong.
Janji sering diingkari.
Taubat selalu ditunda.

MANUSIA itu berbisik panik:
“Aku berdosa… tapi aku tidak menyekutukan-Mu, ya Allah…”

MALAIKAT menjawab dingin:
“Benar. Engkau tidak kufur.
Namun dosa-dosamu itu menuntut keadilan.”

Langit terdiam.
Lalu firman Allah terdengar, mengguncang seluruh makhluk:
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (Al-Qur'an, QS. An-Nisa: 48)

MANUSIA itu menangis:
“Jika masih ada kehendak-Mu, aku tetap berharap… meski sedikit ya Rabb.”

MALAIKAT menunduk:
“Engkau akan disucikan dulu.”

Lalu ia dilempar ke neraka.
Api menyambutnya.
MANUSIA itu berteriak:
“Ya Allah! Aku mengaku salah! Jangan cabut imanku ini!”

MALAIKAT penjaga neraka berkata keras:
“Diam! Ini akibat dari engkau menunda-nunda taubat!”

Hari demi hari—
atau mungkin tahun demi tahun— iman itu tetap ia genggam walaupun dirinya hangus terbakar.

Hingga suatu saat…
FIRMAN ALLAH kembali terdengar:
“Keluarkan dari neraka siapa saja yang di dalam hatinya masih ada iman.”

MALAIKAT bertanya:
“Yang seberapa besar imannya, ya Rabb kami?”

Firman Allah menjawab:
“Meski hanya sebesar biji sawi.”

Lalu para malaikat mencari manusia yang masih ada imannya di neraka. 

Malaikat pun menemukan manusia yang  hangus, hitam, tak berbentuk.

MALAIKAT berkata lembut:
“Engkau selamat… karena imanmu tidak pernah kau lepaskan.”

Maka manusia yang sudah hangus terbakar api neraka itu dicelupkan ke sungai kehidupan.

Dan teringatlah ia pada sabda Nabi SAW yang dulu hanya ia dengar, kini ia alami:
“Akan keluar dari neraka orang yang di dalam hatinya terdapat iman meskipun seberat biji sawi.” (Shahih Muslim)

Saat ia berdiri di depan gerbang surga…
MANUSIA itu tersungkur menangis:
“Ya Allah… andai aku tahu rahmat-Mu sebesar ini, aku tak akan menunda taubat sehari pun selama di dunia.”

Firman Allah menenangkan:
“Masuklah dengan rahmat-Ku.
Walaupun amalmu tak seberapa.”

Ia melangkah masuk.
Dan ia paham satu hal: bahwa
IMAN bisa menyelamatkan,
tetapi TAUBATLAH yang paling menyelamatkan tanpa api neraka. 

Sabtu, 28 Februari 2026

Doa Besar yang Dikabulkan

Doa Besar yang Dikabulkan

Di sebuah Ramadan, ada seorang lelaki tua sederhana. Ia tak dikenal siapa-siapa. Namun setiap menjelang berbuka, ia selalu duduk tenang dan berdoa lama dengan mata basah.
“Amalan apa yang kau jaga?” tanya seseorang.
Ia menjawab, “Doa saat berbuka. Karena saat itu Allah paling dekat.”
Hidupnya pun lapang. Bukan karena banyak amalan besar, tapi karena satu amalan kecil yang dijaga dengan yakin.
Ramadan mengajarkan kita:
bukan tentang memperbanyak yang berat,
melainkan menjaga yang sering diremehkan—
doa saat berbuka, istighfar di sela lelah, meluruskan niat, serta menjaga lisan dan hati.
Karena Allah menilai ketulusan,
bukan keramaian ibadah.
Menjelang berbuka ini,
amalan kecil apa yang sedang kita jaga dengan sepenuh hati? 

LIMA KALI PANGGILAN Cerpen: oleh Ismilianto

“LIMA KALI PANGGILAN”
Cerpen: oleh Ismilianto

“Bangun.”
Suara itu tidak keras.
Justru tenang.
Dan itulah yang membuatnya ngeri.
“Aku… aku belum tidur, kan?” gumam lelaki itu. Tangannya meraba. Tanah. Dingin. Basah. Sempit.
“Engkau sudah selesai dengan dunia.”
“Tidak… tidak mungkin! Aku masih punya rencana! Aku masih—”
“—masih meninggalkan salat.”
Sunyi.
Hanya napasnya yang memburu.
“Siapa kamu?” suaranya bergetar.
Tanah di depannya bergerak. Retak. Dari celah itu, muncul kepala licin tanpa rambut. Mata besar. Kosong. Taringnya berkilat.
Ia menjerit.
“JANGAN DEKAT-DEKAT!”
“Aku tidak datang,” desis makhluk itu, “aku dipanggil.”
“Dipanggil siapa?!”
“Olehmu.”
“BOHONG!” Ia meronta. “Aku orang baik! Aku puasa! Aku sedekah!”
Ular itu mendekat setapak. Kubur menyempit.
“Baik menurut siapa?”
“Aku tidak jahat!”
“Benar. Tapi kau sombong.”
“Kau pikir kebaikanmu cukup menggantikan sujud.”
Ia terdiam. Tenggorokannya kering.
“Aku hanya… kadang lalai,” katanya lirih. “Allah Maha Pengampun…”
Ular itu mengangkat kepalanya.
“Kau mengucapkan itu setiap azan.”
“Subuh?”
“Kau memilih selimut.”
“Zuhur?”
“Kau bilang nanti.”
“Asar?”
“Kau tunda.”
“Magrib?”
“Kau sibuk.”
“Isya?”
“Kau tertidur.”
Setiap kata membuat tanah makin menekan dadanya.
“Aku… aku mau salat sekarang!” teriaknya. “Aku janji!”
Ular itu berhenti tepat di depan wajahnya.
“Sekarang?”
“Sekarang kau hanya bisa menerima.”
BUKK!!
Ekor menghantam. Tulangnya remuk. Jeritannya pecah—lalu tubuhnya kembali utuh.
“AAAAAA—!”
“Kau tahu yang paling menyakitkan?” kata ular itu dingin.
“Bukan pukulanku.”
“Lalu… apa…?”
“Kesadaran bahwa setiap azan dulu adalah kesempatan.”
“Dan kau melewatinya… satu per satu.”
Ia menangis.
“Berapa lama ini…?”
Ular itu melingkar, menutup jalan, menutup cahaya.
“Sampai panggilan terakhir dibunyikan.”
“Dan itu… masih lama.”
Hantaman kembali turun.
Dan lagi.
Dan lagi.
Tidak ada kematian.
Tidak ada tidur.
Hanya pengulangan.
Di dunia, azan terdengar lima kali.
Di kubur, ia menjelma satu suara…
yang tak pernah berhenti.
Karena salat yang ditinggalkan
tak hilang—
ia menunggu.

SUARA dalam KUBUR Cerpen: oleh Ismilianto

SUARA DARI DALAM KUBUR
Cerpen: oleh Ismilianto

“Bangun.”
Suara itu berat. Dalam. Bergema dari segala arah.
“A-aku di mana…?” lelaki itu terengah, mencoba menggerakkan tubuhnya. Gelap. Sempit. Dadanya sesak.
“Di tempat kebenaran,” jawab suara itu dingin.
“Siapa… siapa kamu?!”
Dua cahaya menyala di hadapannya. Mata. Besar. Menyala kehijauan. Dari balik tanah yang bergerak, muncul sosok yang membuat napasnya berhenti.
Seekor ular. Besar. Kepalanya botak licin. Taringnya panjang, meneteskan cairan hitam.
“J-jangan dekat-dekat!” teriaknya panik. “Aku orang baik! Aku tak pernah mencuri! Aku bantu tetangga!”
Ular itu mendesis pelan, lalu tertawa.
“Orang baik…? Lalu di mana salatmu?”
Ia terdiam.
“Aku… aku sibuk. Aku capek. Allah Maha Pengampun, kan?”
BUM!
Ekor ular itu menghantam dadanya. Tubuhnya remuk. Hancur. Seketika tersusun kembali.
Ia menjerit.
“AAARGH!! Cukup! Tolong! Aku janji mau salat! Aku mau berubah!”
Ular itu mendekat, wajahnya hanya sejengkal dari wajah lelaki itu.
“Terlambat.”
“Siapa… siapa kamu sebenarnya…?” isaknya.
Ular itu menjawab pelan, menusuk lebih tajam dari taringnya.
“Aku adalah salat Subuh yang kau tinggalkan karena tidur.”
“Aku adalah Zuhur yang kau anggap mengganggu pekerjaan.”
“Aku adalah Asar yang kau tunda sampai matahari jatuh.”
“Aku adalah Magrib yang kau tukar dengan obrolan.”
“Dan aku adalah Isya yang kau lupakan… setiap malam.”
“Tidak… tidak…!” Ia menangis, tubuhnya gemetar. “Bukankah aku masih puasa…?”
Ular itu tertawa keras, tanah kubur bergetar.
“Puasa tanpa salat hanyalah lapar tanpa taat.”
Lelaki itu menutup wajahnya.
“Aku mohon… beri aku satu kesempatan saja…”
Ular itu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi.
“Kesempatanmu bernama hidup.
Dan kau telah menghabiskannya.”
DUARR!!
Pukulan kembali menghantam. Jeritan memecah kesunyian kubur—namun tak ada satu pun makhluk yang mendengar. Tidak istri. Tidak anak. Tidak sahabat.
Hanya tanah.
Dan azab yang tak berhenti.
Kubur tak pernah berbohong.
Ia hanya mengulang apa yang dulu kita abaikan.
Karena di dunia kita bisa berdalih,
namun di kubur…
amal berbicara, dan mulut dikunci.

Jumat, 27 Februari 2026

ANTARA ADZAN DAN PENANTIAN Cerpen: oleh Ismilianto

ANTARA ADZAN DAN PENANTIAN
Cerpen: oleh Ismilianto

Ramadhan itu ia jalani seperti biasa. Puasa, iya.
Tarawih, kadang-kadang. 
Taubat, nanti saja.
“Masih banyak Ramadhan berikutnya,” katanya suatu malam, sambil menunda sujud yang seharusnya panjang.

Hari itu ia wafat…
di antara adzan Magrib dan niat berbuka.

Ketika mata terbuka kembali, ia berdiri di sebuah tempat yang asing.

Tidak panas seperti neraka,
tidak sejuk seperti surga.

Ia melihat surga… dekat sekali. 

Ia juga melihat neraka… nyata dan mengerikan.

Di sanalah ia sadar:
ini A‘raf. Sebuah tempat penantian, sebagaimana firman Allah:
“Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada dinding, dan di atas A‘raf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dengan tanda-tandanya…”
(QS. Al-A‘raf: 46)

Ia melihat penghuni surga tersenyum dalam ketenteraman,
dan penghuni neraka merintih dalam penyesalan.

Sedangkan dirinya… tertahan.

Amal-amalnya diperlihatkan.
Puasa yang ia jaga, namun shalat yang sering ia tunda.
Sedekah yang ia niatkan,
namun taubat yang selalu ia tangguhkan.

Di dunia, ia merasa baik-baik saja. Di A‘raf, dadanya sesak.
Ia mendengar jeritan dari neraka, lalu lisannya bergetar, memohon seperti yang Allah gambarkan:

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama kaum yang zalim.”
(QS. Al-A‘raf: 47)

Baru di sini ia mengerti,
bahwa menunda taubat bukanlah kelalaian kecil,
melainkan pertaruhan besar.

Ia ingin kembali. Hanya satu sujud saja. Hanya satu istighfar yang jujur.
Hanya satu malam Ramadhan yang benar-benar ia hidupkan.

Namun tidak ada jalan pulang.
Ia teringat sabda Rasulullah SAW:
“Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan.” (HR. Tirmidzi)

Di A‘raf, hadis itu berubah menjadi kenyataan yang menyayat:
kesempatan telah habis.

Di sanalah ia belajar pelajaran paling pahit:
waktu adalah nikmat terbesar yang sering disia-siakan atas nama ‘nanti’.

Sebagaimana peringatan dalam Al-Qur'an, manusia sering tertipu oleh angan-angan panjang, sampai kematian datang tanpa janji.

Kini ia hanya bisa berharap,
bukan pada amal yang ia banggakan, tetapi pada rahmat Allah semata.

Ramadhan di dunia masih berjalan.
Adzan Magrib masih berkumandang.
Kesempatan taubat masih terbuka.
Namun Ramadhan baginya…
telah berakhir.