Laqadja akum rasulum


web stats

Rabu, 01 April 2026

Berhenti ke Masjid… Karena Sakit Hati?

Berhenti ke Masjid… Karena Sakit Hati?

Ada orang yang dulu rajin ke masjid, sekarang tidak lagi.
Bukan karena sibuk… tapi karena tersinggung.

Padahal yang kita datangi itu Allah, bukan pengurus.
Rasulullah SAW bersabda:
"Shalat berjamaah lebih utama 27 derajat." (HR. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim)

Ada Kisah Imam Ahmad bin Hanbal pernah disakiti, difitnah oleh pengurus mesjid bahkan sampai dipenjara.

Tapi setelah bebas…
beliau tetap shalat di masjid,
bahkan di belakang orang pernah yang menyakitinya.

Beliau berkata:
"Aku tidak meninggalkan rumah Allah karena manusia."

Kisah kedua,  Ada seorang lelaki berhenti ke masjid karena sakit hati. Lalu ia bermimpi yang menyebutkan: 

"Dulu engkau datang kepada-Ku… sekarang engkau tinggalkan Aku karena hamba-Ku."
Ia terbangun lalu menangis
dan kembali ke masjid.

Kalau hatimu terluka…
jangan tinggalkan masjid.
Karena bisa jadi…
yang menyembuhkanmu bukan manusia…
tapi sujudmu kepada Allah.

Selasa, 31 Maret 2026

Tadi malam… ada orang yang tidur seperti kita, Pagi ini… dia sudah dikafani

Tadi malam… ada orang yang tidur seperti kita,  Pagi ini… dia sudah dikafani

Pagi ini kita masih bangun…
Masih bisa tarik napas…
Masih sempat baca ini…
Tapi di luar sana…
ada yang tadi malam masih bercanda,
masih punya rencana,
masih bilang “besok saja taubat…”
Ternyata…
tidak pernah ada “besok” untuknya.
Allah sudah mengingatkan:
"Kullu nafsin dzaa'iqatul maut"
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.”
(Al-Qur'an, Ali Imran: 185)
Lalu kita…?
Masih menunda shalat…
Masih berat bersedekah…
Masih mudah menyakiti orang…
Masih sibuk dunia… seolah kita hidup selamanya…
Padahal…
kematian tidak menunggu kita siap.
Ia datang…
di saat kita masih banyak dosa…
di saat hati belum sempat benar-benar kembali pada Allah…
Coba tanya diri pagi ini…
Kalau hari ini Allah panggil…
apa yang bisa kita bawa?
Air mata penyesalan…?
Atau amal yang menenangkan…?
Mulai pagi ini…
Jangan tunggu nanti…
Jangan tunggu tua…
Jangan tunggu sakit…
Karena bisa jadi…
ini pagi terakhir kita diberi kesempatan.
Ya Allah…
jika hari ini adalah hari terakhir kami,
jadikan ia penutup yang baik… bukan penutup yang menyakitkan.
Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin…

Bisa Jadi Hari Ini Adalah Hari Terakhir Kita Hidup

Bisa Jadi Hari Ini Adalah Hari Terakhir Kita Hidup

Pagi ini kita bangun…
Masih bisa bernapas…
Masih bisa melihat matahari…
Tapi satu hal yang sering kita lupa:
tidak ada jaminan kita masih hidup sampai malam.
Berapa banyak orang kemarin masih tertawa…
Hari ini sudah terbujur kaku?
Allah mengingatkan:
"Kullu nafsin dzaa'iqatul maut"
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.”
(HR. Al-Qur'an, Ali Imran: 185)
Lalu… apa yang sudah kita siapkan pagi ini?
Shalat kita… masih ditunda?
Dzikir kita… masih dianggap sepele?
Hati kita… masih penuh iri dan sombong?
Padahal bisa jadi…
inilah pagi terakhir kita diberi kesempatan untuk memperbaiki diri.
Mulai sekarang…
Perbanyak istighfar…
Ringankan sedekah…
Jaga lisan…
Dan jangan tinggalkan shalat…
Karena yang kita bawa nanti…
bukan harta, bukan jabatan…
tapi amal kita.
Semoga pagi ini…
bukan sekadar kita hidup,
tapi mulai benar-benar siap pulang.
Kalau Bapak mau, saya bisa buat versi:
lebih menyentuh sampai meneteskan air mata
atau versi lebih tegas dan “menampar” hati 

Apresiasi dan Tanggapan Cerpen “Darah yang Mengalir”Karya: Resca Putri Bela

Apresiasi dan Tanggapan Cerpen “Darah yang Mengalir”
Karya: Resca Putri Bela

Cerpen ini menghadirkan sebuah gagasan yang sangat menarik dan kreatif, yakni perpaduan antara perjalanan waktu dengan sejarah lokal Bengkulu, khususnya sosok Putri Gading Cempaka. 

Penulis berhasil mengangkat tema identitas diri dengan cara yang unik, sehingga tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pesan moral yang kuat tentang pentingnya menerima asal-usul dan mencintai budaya sendiri.

Kekuatan utama cerpen ini terletak pada ide cerita yang segar serta keberanian penulis mengangkat budaya daerah, seperti rejung dan penggunaan bahasa Serawai. 

Hal ini menjadi nilai tambah karena mampu memperkenalkan kearifan lokal kepada pembaca dengan cara yang menarik dan kontekstual.

Dari sisi alur, cerita disusun dengan cukup runtut dan mampu menjaga rasa penasaran pembaca, terutama pada bagian ketika tokoh utama mengalami perpindahan ke masa lalu. 

Transisi antara dunia modern dan dunia kerajaan juga terasa cukup jelas, sehingga pembaca dapat mengikuti alur cerita dengan baik.

Namun demikian, ada beberapa hal yang dapat disempurnakan agar karya ini semakin kuat. Di antaranya adalah pendalaman emosi tokoh utama, khususnya pada proses perubahan sikap Gendis. Perubahan tersebut sebenarnya sangat menarik, tetapi akan terasa lebih menyentuh jika digambarkan secara lebih bertahap dan mendalam.

Selain itu, penggunaan bahasa masih dapat diperbaiki agar lebih konsisten, baik dari segi ejaan, tanda baca, maupun pilihan kata. Perbaikan ini akan membuat cerita terasa lebih rapi dan enak dibaca.

Pada bagian akhir, penulis menghadirkan kejutan yang menarik dengan kemunculan tokoh yang berkaitan dengan masa lalu. Ini merupakan ide yang sangat potensial, dan akan menjadi lebih kuat jika diberi sedikit penguatan atau penjelasan agar maknanya semakin jelas bagi pembaca.

Secara keseluruhan, cerpen ini menunjukkan potensi besar dari penulis dalam mengolah ide, membangun cerita, serta mengangkat nilai-nilai budaya. 

Dengan sedikit penyempurnaan pada aspek teknis dan pendalaman cerita, karya ini berpeluang menjadi karya yang sangat berkesan dan inspiratif.

Darah yang Mengalir (Versi Revisi) Karya: Resca Putri Bela

(Revisi)
Darah yang Mengalir 
Karya: Resca Putri Bela 

Apakah kalian pernah terpikir, bahwa sebuah potret bisa mengubah hidup seseorang?
“HAH? A-apa? Perangnya sudah selesai?” teriak seorang gadis.
“Duh… kenapa Bu Sari harus ngadain ulangan hari ini, sih?” gerutu Gendis sambil menatap lembar soal kosong.
Ayu menoleh santai. “Ya itu hak Bu Sari, Gendis. Kita yang harus siap.”
TAP… TAP…
Langkah kaki Bu Sari terdengar semakin dekat. Suasana kelas yang tadinya riuh mendadak sunyi.
“Gendis,” ujar Bu Sari tegas, “Ibu harap kali ini kamu tidak mengecewakan lagi.”
Ulangan dimulai. Pena-pena menari di atas kertas. Semua sibuk… kecuali Gendis. Ia hanya menatap kosong, seolah soal-soal itu bukan bagian dari dunianya.
Seperti yang sudah-sudah, sepulang sekolah ia kembali dipanggil.
“Gendis, kamu ini sebenarnya cerdas,” kata Bu Sari, kali ini dengan nada lebih lembut. “Tapi kenapa pelajaran tentang Indonesia justru kamu abaikan?”
Gendis menunduk. “Maaf, Bu…”
Namun di dalam hatinya, ada sesuatu yang tak pernah ia ucapkan:
Aku tidak suka… aku tidak bangga dengan itu semua.
Sore itu, sebuah kotak misterius tergeletak di depan rumahnya.
Dengan rasa penasaran, Gendis membukanya.
Sebuah potret.
Seorang gadis dengan pakaian adat Bengkulu, bersanggul anggun, berdiri dengan wibawa seperti putri kerajaan. Wajahnya… sangat mirip dengannya.
Di balik potret itu tertulis satu nama:
Putri Gading Cempaka.
“Ah, paling juga ulah iseng teman,” gumamnya, mencoba tak peduli.
Namun entah kenapa, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan.
Malam itu, ia merebahkan diri. Pandangannya kabur… dan dunia pun perlahan menghilang.
Ketika membuka mata, langit-langit kamarnya telah berubah.
“Ini… bukan kamarku.”
Dinding-dinding megah, ukiran kayu, dan kain-kain mewah mengelilinginya.
Dengan jantung berdebar, ia berlari ke cermin.
Dan terdiam.
“Itu… aku?”
Bukan seragam sekolah. Bukan dirinya yang biasa.
Melainkan… seorang putri.
“Ampun, Putri… apo yang tejadi?”
Seorang dayang bersujud di hadapannya.
Gendis tertegun.
Aneh… ia mengerti bahasa itu.
Bahkan, tanpa sadar ia menjawab,
“Bangunlah. Mano keghtas yang aku pinto tadi?”
Ia langsung menutup mulutnya sendiri.
Kenapa aku bisa bicara seperti ini…?
Hari-hari berlalu.
Sedikit demi sedikit, Gendis memahami kenyataan yang tak masuk akal:
Ia hidup… sebagai Putri Gading Cempaka.
Ia belajar tentang rejung, tentang bahasa Serawai, tentang adat, tentang kehormatan.
Awalnya ia bingung. Menolak. Tak percaya.
Namun semakin lama… ia merasakan sesuatu yang berbeda.
Hangat.
Dekat.
Seolah semua ini… bukan hal asing.
Hingga suatu hari, perang pecah.
Dentang pedang, teriakan prajurit, dan kilatan cahaya di bawah bulan membuat tubuhnya gemetar.
Ia bukan lagi gadis yang acuh. Ia takut kehilangan.
“Putri, kita harus pergi!” seru kakaknya.
Namun di tengah pelarian, suara benturan senjata semakin dekat.
TRANG!
Dunia berputar.
Gelap.
GEDEBUK!
“Aduh!”
Gendis terbangun. Ia kembali di kamarnya.
Napasnya memburu. Jantungnya berdegup kencang.
“Itu… mimpi?”
Namun di sampingnya, potret itu masih ada.l
Dan kini… ada tulisan baru di belakangnya:
“Jangan bantah darahmu. Kembangkanlah dirimu.”
Gendis terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak marah.
Tidak menolak.
Ia mengingat masa kecilnya. Ejekan. Penolakan. Luka yang membuatnya membenci siapa dirinya sebenarnya.
Namun kini… ia justru merasa bangga.
“Jadi… ini aku,” bisiknya pelan.
Hari-hari berikutnya berubah.
Gendis mulai belajar. Mulai menerima. Mulai mencintai.
Bukan karena dipaksa. Tapi karena ia memahami.
“Bu… saya mau ikut lomba rejung,” katanya suatu hari.
Bu Sari tersenyum haru.
Dan sejak itu, nama Gendis perlahan dikenal.
Bukan karena masa lalunya.
Tapi karena suaranya.
Karena budayanya.
Karena dirinya sendiri.
Suatu pagi…
“Kita kedatangan murid baru,” kata Bu Sari.
Seorang siswa maju.
“Namaku… Raja. Maharaja Sakti.”
Jantung Gendis berdegup.
Nama itu… tidak asing.
Ia menatapnya.
Raja tersenyum kecil.
“Aku sudah tahu siapa kamu.”
Gendis terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia sadar…
Bahwa mungkin… kisah itu belum benar-benar berakhir.
Tamat 

Senin, 30 Maret 2026

Perang Itu Nyata… Tapi Yang Lebih Nyata Adalah Lalainya Kita

Perang Itu Nyata… Tapi Yang Lebih Nyata Adalah Lalainya Kita

Dunia sedang tegang…
Rudal meluncur… manusia saling menghancurkan…

Tapi coba jujur…
Sudah berapa kali kita menunda salat hari ini?

Rasulullah SAW bersabda:
"Tidak akan terjadi kiamat hingga banyak pembunuhan."
(HR. Bukhari & Muslim)

Hari ini… itu terjadi.
Tapi yang lebih mengerikan…
bukan perang di luar sana…
tapi hati kita yang mulai jauh dari Allah…

Penutup:
“Ya Allah… saat dunia sibuk dengan perang, jangan biarkan kami kalah dalam iman.”

Mereka Kehilangan Dunia… Kita Kehilangan Akhirat

Mereka Kehilangan Dunia… Kita Kehilangan Akhirat

Di sana…
ada yang kehilangan rumah…
kehilangan keluarga…
Tapi tetap berkata:
"Hasbunallahu wa ni’mal wakil."

Sementara kita…
Hidup aman… tapi hati gelisah. 

Rezeki cukup… tapi ibadah terasa berat. 

Rasulullah SAW bersabda:
"Akan datang fitnah seperti malam gelap gulita…"
Fitnah itu bukan hanya perang…
tapi hati yang perlahan menjauh dari Allah…

Penutup:
“Mungkin kita tidak diuji dengan kehilangan segalanya… tapi diuji dengan lupa kepada Yang Maha Segalanya…”