Laqadja akum rasulum


web stats

Kamis, 14 Mei 2026

Rahasia Keluarga yang Tidak Pernah Kekurangan

Rahasia Keluarga yang Tidak Pernah Kekurangan

Ada kisah tentang seorang ayah sederhana. 
Pekerjaannya hanya buruh di pasar. Penghasilannya tidak menentu. Kadang cukup, kadang pulang dengan tangan hampir kosong.

Tetapi ada satu kebiasaan yang tidak pernah ia tinggalkan:
setiap azan berkumandang, ia mengajak anak lelakinya ke masjid.
Bahkan saat hujan.
Bahkan saat tubuh lelah.
Bahkan ketika dagangan belum habis.

Suatu hari anaknya pernah bertanya:
“Ayah… kenapa kita selalu ke masjid, padahal kita miskin?”
Ayahnya menjawab pelan:
“Nak… mungkin kita tidak punya banyak uang. Tapi Ayah takut kalau kita kehilangan pertolongan Allah.”
Tahun demi tahun berlalu.

Aneh tapi nyata…
Rumah kecil itu tidak pernah benar-benar kekurangan makan.
Selalu ada jalan rezeki.
Selalu ada orang membantu ketika kesusahan datang.
Anaknya kemudian tumbuh menjadi orang berhasil dan berkata:
“Yang menyelamatkan keluarga kami bukan harta Ayah… tapi langkah Ayah ke masjid.”

Betapa banyak keluarga hari ini mengejar dunia sampai melupakan jamaah di masjid.
Anak-anak melihat ayah sibuk di warung, sibuk di HP, sibuk di jalan…
tetapi tidak sibuk memenuhi panggilan Allah.
Padahal keberkahan keluarga sering dimulai dari langkah kaki seorang ayah menuju masjid.

Rasulullah SAW bersabda:
“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan menuju masjid dalam gelap dengan cahaya sempurna pada hari kiamat.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Dan lihatlah…
anak-anak paling mudah menjadi baik biasanya tumbuh dari rumah yang ayahnya akrab dengan masjid.
Karena anak tidak hanya mendengar nasihat.
Anak melihat teladan.
Petang ini menjelang Magrib…

Kalau masih mampu melangkah, melangkahlah ke masjid.
Ajak anak-anak lelaki ikut berjamaah.
Karena bisa jadi, satu langkah ke masjid hari ini menjadi sebab Allah menjaga keluarga kita dari kerusakan di masa depan.

Doa Petang untuk Keluarga:
Rabbij‘alnii muqiimash-shalaati wa min dzurriyyatii rabbanaa wa taqabbal du‘aa’.
“Ya Tuhanku, jadikan aku dan anak cucuku orang yang mendirikan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.”
(QS. Ibrahim: 40)

Semoga Allah menjadikan keluarga kita keluarga yang hatinya terpaut ke masjid, dilapangkan rezekinya, dijaga anak-anaknya, dan dikumpulkan kembali di surga-Nya. Aamiin.

Rabu, 13 Mei 2026

DOA BEPERGIAN

DOA BEPERGIAN

Doa pendek sebelum berangkat:
“Bismillaahi tawakkaltu ‘alallaah, laa haula wa laa quwwata illaa billaah.”
Artinya:
“Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

Lalu baca:

Doa safar (doa perjalanan) yang diajarkan Rasulullah SAW:
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Subhaanalladzii sakhkhara lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahuu muqriniin. 3X
Artinya:
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Maha Suci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. 

Di jalan terus istighfar dan shalawat



Tidak Syukur, Akhirat Hancur

Tidak Syukur, Akhirat Hancur

Pagi ini, mari kita renungkan sebuah kisah yang mengguncang hati.
Ada orang yang dulu hidupnya sangat miskin.
Pakaiannya hanya satu helai.

Kalau ia pergi salat ke masjid, istrinya menunggu di rumah karena tak ada pakaian lain sehingga dipakai bergantian.

Tetapi ketika miskin, ia rajin ke masjid. Rajin berdoa.
Rajin menangis meminta pertolongan Allah.
Lalu Allah bukakan pintu rezeki.

Awalnya hanya dua ekor kambing. Lalu berkembang menjadi puluhan.
Puluhan menjadi ratusan.
Ratusan menjadi ribuan.

Namun di situlah ujian sebenarnya dimulai.
Dulu langkahnya ringan menuju masjid.
Kini langkahnya sibuk menghitung ternak.
Dulu lisannya basah dengan doa.
Kini lisannya sibuk urusan dunia.

Dulu ia meminta kaya agar bisa bersedekah.
Namun ketika zakat datang menjemput, hatinya justru terasa berat.
Inilah musibah yang paling menakutkan: ketika nikmat dunia membuat seseorang jauh dari Allah.

Allah berfirman:
“Di antara mereka ada yang berjanji kepada Allah, ‘Jika Allah memberi kami karunia-Nya, niscaya kami akan bersedekah dan menjadi orang saleh.’ Tetapi ketika Allah memberi mereka karunia-Nya, mereka malah kikir dan berpaling.” (QS. At-Taubah: 75–76)

Saudaraku…
Tidak semua orang hancur karena miskin.
Banyak yang justru hancur karena tidak pandai bersyukur saat jadi kaya.

Ada yang dulu rajin tahajud saat susah, tetapi setelah usahanya maju malah lupa sujud.

Ada yang dulu menangis meminta pekerjaan, tetapi setelah jadi pejabat justru jarang ke masjid.

Ada yang dulu berkata: “Ya Allah, kalau saya punya rezeki lebih, saya akan bantu orang.”
Namun ketika rekening bertambah, sedekah terasa berat.

Zakat terasa rugi.
Masjid terasa jauh.
Padahal… harta itu bukan milik kita sepenuhnya.
Di dalamnya ada hak fakir miskin.
Ada hak anak yatim.
Ada hak orang lapar.

Rasulullah SAW bersabda:
“Kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang hartanya: dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan.” (HR. Tirmidzi no. 2417)

Pagi ini mari kita bertanya kepada diri sendiri:
Apakah rezeki yang Allah beri membuat kita makin dekat kepada-Nya?
Atau justru membuat kita makin lalai?
Karena sesungguhnya… orang miskin belum tentu celaka.
Tetapi orang yang tidak bersyukur, itulah yang terancam akhiratnya hancur.

Allahummaj‘alnaa minasy-syaakiriin wa laa taj‘alnaa minal ghaafiliin.
“Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang pandai bersyukur, dan jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang lalai.”

Apa Bedanya Berqurban dan Membayar Zakat

Apa Bedanya Berqurban dan Membayar Zakat

Banyak orang mengira qurban dan zakat itu sama-sama sekadar “mengeluarkan harta”. Padahal keduanya berbeda dalam hukum, tujuan, waktu, dan maknanya di sisi Allah.
Ada orang rajin berzakat tetapi belum pernah berqurban. Ada pula yang semangat berqurban tetapi masih lalai menunaikan zakat. Padahal keduanya adalah ibadah besar yang memiliki tempat masing-masing dalam Islam.

Qurban dan Zakat Sama-Sama Ibadah Harta
Keduanya sama-sama bentuk pendekatan diri kepada Allah dengan harta yang kita cintai.

Allah Ta’ala berfirman:
“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali ‘Imran: 92)

Namun meskipun sama-sama mengeluarkan harta, hakikat keduanya berbeda.
Pertama: Perbedaan dari Segi Hukum
Zakat hukumnya wajib
Zakat termasuk rukun Islam.

Rasulullah SAW bersabda:
“Islam dibangun di atas lima perkara… menunaikan zakat…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Orang yang mampu tetapi sengaja tidak membayar zakat mendapat ancaman berat.

Allah berfirman:
“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka beritahukan kepada mereka azab yang pedih.” (QS. At-Taubah: 34)

Bahkan pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq, orang yang menolak membayar zakat diperangi karena dianggap memberontak terhadap syariat Islam.

Qurban hukumnya sunnah muakkadah
Mayoritas ulama menyatakan qurban adalah sunnah yang sangat dianjurkan bagi orang mampu.
Dalilnya:
“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)

Rasulullah SAW juga rutin berqurban setiap tahun.
Dari Anas bin Malik:
“Nabi SAW berqurban dengan dua kambing kibasy yang putih dan bertanduk.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebagian ulama seperti mazhab Hanafi mewajibkan qurban bagi yang mampu, berdasarkan hadis:
“Barang siapa memiliki kelapangan tetapi tidak berqurban, maka jangan mendekati tempat salat kami.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Namun jumhur ulama memandangnya sunnah muakkadah.
Kedua: Perbedaan Tujuan
Zakat untuk membersihkan harta dan membantu mustahik
Allah berfirman:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)
Tujuan zakat:
membersihkan harta
membersihkan jiwa dari kikir
membantu fakir miskin
menegakkan keadilan sosial
Karena itu zakat memiliki penerima khusus yang disebut 8 asnaf dalam:
QS. At-Taubah: 60

Qurban untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menghidupkan syiar Nabi Ibrahim. 

Qurban bukan sekadar membagi daging.
Ia adalah simbol:
ketaatan
pengorbanan
cinta kepada Allah
kesiapan meninggalkan sesuatu demi perintah Allah. 

Allah berfirman:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)

Qurban menghidupkan kisah agung Ibrahim dan Ismail.
Ketika Nabi Ibrahim diperintahkan menyembelih anak yang sangat dicintainya, beliau taat. Ketika Ismail diminta menyerahkan dirinya demi Allah, ia pun rela.
Lalu Allah menggantinya dengan sembelihan yang besar. 

Ketiga: Perbedaan Waktu
Zakat ada waktu dan syarat tertentu
Zakat fitrah: menjelang Idulfitri
Zakat mal: ketika harta mencapai nisab dan haul
Tidak boleh sembarangan waktunya.
Qurban hanya pada hari tertentu
Qurban dilakukan:
tanggal 10 Dzulhijjah
dan hari tasyrik 11, 12, 13 Dzulhijjah

Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap hari tasyrik adalah waktu penyembelihan.” (HR. Ahmad)
Keempat: Perbedaan Jenis Harta
Zakat diambil dari harta tertentu
Misalnya:
emas
perak
uang
perdagangan
hasil pertanian
ternak
Dengan kadar tertentu seperti:
2,5%
5%
10% dan seterusnya.
Qurban berupa hewan ternak tertentu
Yaitu:
kambing
domba
sapi
kerbau
unta

Dengan syarat umur dan kondisi tertentu.
Kelima: Perbedaan Penerima
Zakat hanya untuk 8 golongan
Tidak boleh diberikan sembarangan.

Daging qurban boleh lebih luas
Boleh:
dimakan sendiri
dihadiahkan
disedekahkan
Bahkan orang kaya pun boleh menerima hadiah daging qurban.

Mana yang Didahulukan?
Jika seseorang:
sudah wajib zakat
tetapi uangnya hanya cukup untuk satu
Maka:
zakat harus didahulukan
Karena zakat adalah kewajiban yang pasti.
Sedangkan qurban adalah sunnah muakkadah menurut mayoritas ulama.

Kisah yang Menggugah
Ada orang rela membeli sapi puluhan juta untuk qurban, tetapi bertahun-tahun tidak menghitung zakat hartanya.
Padahal boleh jadi:
qurbannya diterima sebagai amal sunnah,
tetapi ia masih memikul dosa karena meninggalkan zakat wajib.

Sebaliknya ada orang miskin yang belum mampu berqurban, namun rajin membayar zakat fitrah dan bersedekah sesuai kemampuannya. Di sisi Allah, bisa jadi ia lebih mulia karena menjaga kewajiban.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadis qudsi:
“Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya.” (HR. Bukhari)

Penutup
Zakat adalah kewajiban. Qurban adalah bukti cinta dan pengorbanan.
Zakat membersihkan harta. Qurban melembutkan hati.
Zakat menjaga hak manusia. Qurban menghidupkan syiar Allah.
Maka orang beriman seharusnya:
tidak meninggalkan zakat,
dan berusaha menghidupkan qurban ketika Allah memberi kelapangan.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang ringan menunaikan kewajiban dan dimudahkan beramal sunnah.

Allahumma rzuqnaa al-ikhlaasha fiz-zakaah wal-qubuula fil-qurbaan.
“Ya Allah, karuniakan kepada kami keikhlasan dalam berzakat dan penerimaan dalam berqurban.”

ADA ORANG YANG MENANGIS KARENA SATU SUAP NASI

ADA ORANG YANG MENANGIS KARENA SATU SUAP NASI

Sore itu, seorang ibu tua duduk di sudut rumah bambu yang hampir roboh.
Lampu belum menyala.
Kompor pun dingin.

Anaknya bertanya pelan:
“Ibu… malam ini kita makan apa?”
Sang ibu tersenyum, walau dadanya sesak.
“Nanti Allah kirim rezeki…”
Padahal beras tinggal segenggam.
Uang tak ada.
Tetangga pun sama-sama susah. Menjelang Magrib, terdengar ketukan pintu.

Seorang lelaki muda datang membawa nasi bungkus, lauk sederhana, dan sedikit buah.
Ia berkata:
“Bu… tadi saya hampir makan di luar. Tapi entah kenapa hati saya tidak tenang sebelum mengantar ini.”

Ibu tua itu menangis.
Bukan karena lauknya mewah.
Bukan karena porsinya besar.
Tetapi karena ia merasa: “Allah masih melihat kami…”
Malam itu mereka makan sambil menangis haru.

Dan lelaki muda tadi pulang dengan hati yang jauh lebih tenang dibanding saat ia membeli makanan mahal untuk dirinya sendiri.

Betapa banyak orang hari ini bisa makan kenyang…
tetapi lupa bersyukur.
Betapa banyak yang membuang nasi…
sementara ada orang lain yang berdoa sepanjang sore hanya agar anaknya bisa tidur tanpa lapar.

Allah berfirman:
“Maka makanlah sebagiannya dan berilah makan orang yang sengsara lagi fakir.”
(QS. Al-Hajj: 28)

Rasulullah SAW juga mengajarkan agar kita menghormati makanan dan tidak meremehkannya.
Ada orang yang masuk surga karena memberi minum seekor anjing kehausan.
Lalu bagaimana dengan orang yang mengenyangkan manusia lapar?

Maka malam ini, sebelum makan…
Lihatlah hidangan di depan kita.
Mungkin sederhana.
Tapi itu nikmat yang tidak dimiliki semua orang.
Masih bisa berkumpul dengan keluarga…
masih bisa mengunyah makanan…
masih bisa mendengar suara azan… Semua itu karunia besar.

Jangan jadikan makan hanya rutinitas perut.
Jadikan ia jalan syukur.

Dan kalau mampu…
sisihkan sedikit makanan untuk tetangga, anak yatim, atau orang yang kesulitan.
Karena bisa jadi, satu bungkus nasi yang kita anggap biasa…
menjadi alasan seseorang kembali percaya bahwa Allah masih menyayanginya.

Doa Sebelum Makan
Bismillāh.
“Atas nama Allah.”
Jika lupa membaca di awal:
Bismillāhi awwalahu wa ākhirahu.
“Dengan nama Allah pada awal dan akhirnya.”

Doa Setelah Makan
Alhamdulillāhilladzī ath‘amanā wa saqānā wa ja‘alanā minal muslimīn.
Artinya:
“Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan, memberi kami minum, dan menjadikan kami termasuk orang-orang Islam.”

Ada pula doa yang sangat agung setelah makan:
Alhamdulillāhilladzī ath‘amanī hādzā wa razaqanīhi min ghairi haulin minnī wa lā quwwah.
Artinya:
“Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini dan merezekikannya kepadaku tanpa daya dan kekuatan dariku.”

Rasulullah SAW bersabda, siapa yang membaca doa ini setelah makan, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Maka antara Magrib dan Isya ini…
mari lembutkan hati.
Syukuri makanan.
Jangan sakiti orang tua.
Jangan sia-siakan rezeki.
Dan jangan tidur malam sebelum mendoakan orang-orang yang hari ini belum bisa makan senyaman kita.

Semoga Allah menjadikan rumah-rumah kita penuh syukur, penuh keberkahan, dan jauh dari kelaparan hati maupun kelaparan dunia. Aamiin.

Selasa, 12 Mei 2026

JANGAN TUNGGU TAK BISA JALAN BARU INGAT MASJID

JANGAN TUNGGU TAK BISA JALAN BARU INGAT MASJID

Ada seorang lelaki tua. 
Dulu tubuhnya kuat. Langkahnya tegap. Kendaraannya bagus. Hartanya cukup.

Tetapi adzan baginya hanya suara biasa.
“Masih muda...” katanya.
“Nanti kalau sudah tua, barulah rajin ke masjid...”

Tahun demi tahun berlalu.
Ketika Subuh berkumandang, ia tetap tidur.
Ketika Magrib tiba, ia sibuk di warung dan urusan dunia.
Ketika teman-temannya melangkah ke masjid, ia berkata:
“Doakan saja, saya belum dapat hidayah.”
Sampai suatu hari kakinya mulai sakit.
Awalnya hanya pegal.
Lalu tongkat mulai menemani.
Kemudian kursi roda menggantikan langkahnya.
Dan saat itulah hatinya mulai pecah.

Dari jendela rumahnya ia mendengar adzan yang dulu sering ia abaikan.
“Allahu Akbar... Allahu Akbar...”
Air matanya jatuh.
Ia berkata kepada anaknya:
“Tolong dorong Ayah ke masjid...”

Namun tubuhnya sudah terlalu lemah.
Napasnya sesak.
Jangankan berdiri lama, duduk pun sulit.

Di perjalanan menuju masjid, lelaki tua itu menangis.
Katanya:
“Dulu waktu kaki ini kuat, aku malah melangkah ke tempat maksiat.
Sekarang ketika hatiku rindu masjid, kakiku sudah tak mampu lagi.”

Betapa banyak orang baru merindukan sujud ketika punggungnya telah membungkuk.
Baru ingin duduk di saf depan ketika lututnya tak sanggup lagi berjalan.
Baru ingin membaca Al-Qur’an ketika matanya mulai kabur.
Padahal Allah sudah memanggil sejak muda.

Rasulullah SAW bersabda:
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara:
masa mudamu sebelum datang masa tuamu,
sehatmu sebelum datang sakitmu,
kayamu sebelum datang fakirmu,
waktu luangmu sebelum datang sibukmu,
dan hidupmu sebelum datang matimu.(HR. Al-Hakim, no. 7846)

Ada kisah lain yang lebih menggetarkan.
Seorang bapak tua setiap hari hanya duduk di teras rumah memandang ke arah masjid.
Orang-orang mengira ia sedang bersantai.

Ternyata ia sedang menangis diam-diam.
Ketika ditanya kenapa menangis, ia berkata:
“Aku iri melihat orang berjalan ke masjid.
Dulu aku sering mendengar adzan tapi tidak datang.
Sekarang aku ingin sekali melangkah ke rumah Allah... tapi kakiku lumpuh.”
Kalimat itu menghantam hati.

Hari ini mungkin kita masih kuat berjalan.
Masih kuat naik motor.
Masih kuat bekerja dari pagi sampai malam.

Tetapi mengapa langkah ke masjid terasa paling berat?
Jangan sampai nanti kita hanya bisa mendengar adzan dari balik jendela rumah sakit.
Atau dari atas tempat tidur ketika tubuh sudah dipenuhi selang dan obat.

Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah...”
(QS. Al-Jinn: 18)

Dan Rasulullah SAW bersabda:
“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan ke masjid dalam gelap malam dengan cahaya sempurna pada hari kiamat.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Saudaraku...
Kalau hari ini kaki kita masih kuat,
biasakan ia melangkah ke masjid.
Kalau hari ini telinga kita masih mendengar adzan,
jangan pura-pura sibuk.

Karena akan datang hari
saat kita ingin sekali bersujud panjang di masjid...
tetapi tubuh sudah tidak mengizinkan.
Dan penyesalan saat itu
tidak akan bisa memutar waktu kembali.

Ya Allah...
jangan Engkau cabut nyawa kami sebelum Engkau lembutkan hati kami mencintai masjid.
Jadikan langkah kami ringan menuju rumah-Mu.
Dan wafatkan kami dalam keadaan mencintai shalat dan jamaah.
Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn.

Jumat, 08 Mei 2026

SEPOTONG DAGING QURBAN, NENEK MENANGIS

SEPOTONG DAGING QURBAN, NENEK MENANGIS

Saat panitia menyerahkan satu kantong daging qurban, sang nenek langsung terdiam… lalu menangis.
Panitia heran.
“Nek, kenapa menangis?”
Nenek itu menjawab dengan suara bergetar:
“Cucu saya sudah lama sekali ingin makan daging… tapi saya tak mampu membelinya…”
Allahu Akbar…

Bagi sebagian orang, daging hanyalah makanan biasa.
Tetapi bagi sebagian kaum duafa, itu adalah kemewahan yang mungkin hanya hadir setahun sekali. Inilah indahnya qurban.

Qurban bukan hanya tentang menyembelih hewan.
Tetapi menyembelih ego, kesombongan, dan rasa cinta dunia berlebihan.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hajj ayat 37:
“Bukan daging dan darahnya yang sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan kalian.”

Betapa banyak orang kaya yang hartanya banyak, tetapi hatinya sempit untuk berbagi.
Namun orang yang berqurban sedang belajar menjadi hamba yang lembut hatinya.
Ia rela mengurangi hartanya agar orang lain bisa tersenyum.

Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain mengalirkan darah qurban.”
(HR. Tirmidzi)

Bayangkan…
Ada anak yatim yang tersenyum saat mencium aroma rendang.
Ada janda tua yang akhirnya bisa memasak daging untuk keluarganya.
Ada keluarga miskin yang malam itu makan bersama dengan penuh kebahagiaan.

Dan mungkin…
doa mereka naik ke langit untuk orang yang berqurban.

Kadang kita tidak sadar…
Bukan hanya kaum miskin yang menunggu qurban kita.
Tetapi keberkahan hidup kita juga sedang menunggu sedekah dan pengorbanan kita. 

Maka jika Allah masih memberi kelapangan rezeki, jangan ragu berqurban.
Karena bisa jadi…
Seekor kambing yang kita keluarkan di dunia, menjadi penyelamat kita di akhirat.

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang gemar berbagi, lembut kepada kaum duafa, dan diberi rezeki yang penuh keberkahan.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.