Laqadja akum rasulum


web stats

Senin, 04 Mei 2026

Tata Cara Penyembelihan Hewan Qurban Sesuai Sunnah

Tata Cara Penyembelihan Hewan Qurban Sesuai Sunnah

Pertama: Niat karena Allah

Penyembelihan qurban adalah ibadah, maka harus diniatkan:
Ikhlas karena Allah;
Menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim;
Mengikuti tuntunan Nabi Muhammad SAW. 

Allah berfirman:
“Fa shalli li rabbika wanhar.” (QS. Al-Kautsar: 2)
“Salatlah untuk Tuhanmu dan berqurbanlah.”

Kedua: Memastikan Hewan Layak Qurban

Hewan harus:
Sehat (tidak sakit);
Tidak cacat (tidak buta, pincang, atau sangat kurus);
Cukup umur (misalnya kambing minimal 1 tahun). 

Sabda Nabi SAW:
“Ada empat (hewan) yang tidak sah dijadikan qurban:
yang pertama, hewan yang buta sebelah yang jelas kebutaannya;
yang kedua, hewan yang sakit yang jelas sakitnya;
yang ketiga, hewan yang pincang yang jelas pincangnya;
yang keempat, hewan yang sangat kurus hingga tidak memiliki sumsum tulang.” (HR. Abu Dawud)

Ketiga: Mengasah Pisau (Tidak di Depan Hewan)
Adab penting:
Pisau harus sangat tajam;
Tidak mengasah di depan hewan.  Tidak menyiksa hewan. 

Sabda Nabi SAW:
“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan dalam segala hal… tajamkanlah pisau dan tenangkan hewan sembelihan.” (HR. Muslim)

Keempat: Merebahkan Hewan dengan Lembut
Hewan direbahkan ke sisi kiri;
Kaki diikat secukupnya agar tidak menyiksa;
Dipegang dengan tenang, tidak kasar. 
Rasulullah SAW mencontohkan menyembelih dengan penuh kasih, bukan kekerasan.

Kelima: Menghadapkan ke Arah Kiblat
Disunnahkan:
Hewan dihadapkan ke kiblat;
Penyembelih juga menghadap kiblat;
Ini bentuk memuliakan ibadah.

Keenam: Membaca Basmalah dan Takbir
Saat menyembelih, baca:
“Bismillahi, Allahu Akbar.”
Boleh ditambah doa:
“Allahumma hadza minka wa laka…”
(Ya Allah, ini dari-Mu dan untuk-Mu)

Nabi SAW membaca basmalah dan bertakbir saat menyembelih (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketujuh: Cara Menyembelih yang Benar
Bagian yang dipotong:
Saluran napas (hulqum);
Saluran makan (mari’);
Dua urat leher (wadajain). 
Teknisnya:
Sekali sayatan kuat (tidak berulang-ulang menyiksa)
Jangan memutus leher langsung (tidak boleh dipenggal)
Biarkan darah mengalir sempurna. 
Ini penting agar hewan mati dengan cepat dan halal.

Kedelapan: Tidak Menyiksa Hewan
Larangan keras:
Menyembelih di depan hewan lain; Memukul atau menyeret kasar; Membiarkan hewan kesakitan lama. 
Islam sangat menekankan kasih sayang bahkan kepada hewan.

Kesembilan: Menunggu Hingga Hewan Benar-Benar Mati
Jangan langsung dikuliti. 
Tunggu sampai benar-benar mati (gerakan refleks berhenti)
Ini bagian dari ihsan dalam penyembelihan.

Kesepuluh: Pembagian Daging
Setelah disembelih:
Sebagian dimakan sendiri
Sebagian diberikan kepada tetangga
Sebagian disedekahkan kepada fakir miskin
Firman Allah:
“Makanlah sebagian dan berilah makan orang yang membutuhkan.” (QS. Al-Hajj: 28)

Kesebelas: Larangan Memberi Upah dari Daging Qurban

Tukang sembelih tidak boleh dibayar dari daging qurban
Harus diberi upah terpisah
Hadis:
“Kami tidak memberi upah kepada penyembelih dari hewan qurban.” (HR. Bukhari)

Penutup Renungan 
Saat tangan menggenggam pisau…
dan hewan itu rebah tak berdaya…

Sebenarnya bukan hanya hewan yang kita sembelih…
Tapi:
ego kita,  cinta dunia kita, 
dan keengganan kita untuk berkorban. 
Kalau qurban hanya berhenti pada darah…
maka itu hanya penyembelihan biasa…

Tapi kalau hati ikut tunduk…
maka di situlah qurban menjadi ibadah yang hidup.


Qurban yang Tertunda… atau Hati yang Menunda?

Qurban yang Tertunda… atau Hati yang Menunda?

Langit mulai gelap…
Suara azan Isya sebentar lagi akan berkumandang…

Di waktu seperti ini, hati biasanya lebih jujur berbicara.
Aku teringat satu kisah seorang lelaki, setiap tahun selalu berkata:
“Tahun depan saja aku berqurban… sekarang belum mampu.”

Padahal… rokoknya tak pernah berhenti.
Pakaiannya selalu baru setiap lebaran.
Keinginannya selalu didahulukan… tapi qurban selalu ditunda.

Hingga suatu malam…
ia jatuh sakit keras.
Di atas tempat tidur, dengan napas yang tersengal, ia berkata lirih:
“Andai Allah beri aku satu tahun lagi… aku pasti berqurban…”
Tapi waktu tidak pernah mundur.
Kesempatan tidak pernah kembali.

Allah sudah mengingatkan kita:
“Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang telah diberikan-Nya berupa hewan ternak.”(QS. Al-Hajj: 34) 


Dan Rasulullah SAW memberi peringatan yang sangat tegas:
“Barang siapa yang memiliki kelapangan (mampu) tetapi tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.”HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Saudaraku…
Menjelang Isya ini, mari kita tanya diri kita sendiri:
Apakah benar kita belum mampu…
atau sebenarnya kita belum mau?
Qurban bukan tentang besar kecilnya hewan…
tetapi tentang besar kecilnya keikhlasan.

Ada kisah lain…
Seorang ibu tua, hidup sendiri, penghasilannya hanya dari menjual gorengan.
Setiap hari ia sisihkan seribu, dua ribu…
orang lain tak melihat, tapi Allah melihat.

Setahun berlalu…
uangnya cukup untuk membeli seekor kambing kecil.
Saat ditanya:
“Kenapa ibu bersusah payah begini?”
Ia menjawab sambil tersenyum:
“Aku ingin ketika dipanggil Allah nanti, aku punya bukti… bahwa aku pernah berqurban.”

Menjelang Isya ini…
mari kita berdoa pelan-pelan dalam hati:
“Ya Allah…
jika selama ini aku menunda qurban,
maka ampuni aku…
Jika Engkau beri aku umur dan rezeki, jadikan aku termasuk orang yang berqurban…
bukan hanya ingin, tapi benar-benar melakukannya…”

Karena bisa jadi…
ini bukan soal qurban yang tertunda…
tetapi hati yang terlalu lama menunda untuk taat.

Minggu, 03 Mei 2026

Sebelum Kita Sibuk Dengan Urusan Dunia

Sebelum Kita Sibuk Dengan Urusan Dunia

“Sudahkah aku memulai hari dengan mengingat Allah?”
Banyak orang bangun pagi, langsung membuka HP.
Melihat pesan, berita, bahkan masalah.
Padahal hati belum diisi… tapi sudah siap dibebani.
Padahal Allah sudah memberi kita kesempatan baru hari ini.
Nafas masih ada. Mata masih bisa melihat.
Itu bukan hal biasa… itu tanda Allah masih memberi waktu untuk memperbaiki diri.

Allah berfirman:
“Maka aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun.” (QS. Nuh: 10)

Bayangkan…
di pagi hari yang sunyi ini, jika kita isi dengan istighfar…
bukan hanya dosa yang diampuni, tapi jalan hidup juga dilapangkan.

Ada orang yang hidupnya terasa sempit,
bukan karena kurang harta…
tapi karena kurang istighfar.

Coba pagi ini…
jangan panjang-panjang.
Cukup duduk sejenak setelah Subuh, lalu ucapkan:
“Astaghfirullah wa atubu ilaih…”
ulang 10 kali saja… dengan hati yang hadir.

Lalu lanjutkan dengan doa sederhana:
“Ya Allah, hari ini aku serahkan hidupku kepada-Mu.
Permudahkan urusanku, lapangkan rezekiku, dan jaga hatiku dari dosa.”
Jangan remehkan amalan kecil di pagi hari.
Karena banyak keberkahan besar… dimulai dari dzikir yang sederhana.
Pagi ini bukan sekadar awal hari…
ini bisa jadi awal perubahan hidup kita.

Semoga hari ini Allah mudahkan langkah kita,
dilapangkan rezeki, ditenangkan hati,
dan dijauhkan dari segala kesulitan.
Selamat pagi… jangan lupa dekatkan hati kepada Allah.

UNDANGAN

UNDANGAN
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Dengan memohon rahmat dan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, kami bermaksud mengundang Bapak/Ibu/ Saudara/i untuk hadir dalam acara:
Pernikahan
Selvana Ariestia, S.T.
putri bungsu Ismilianto, M.Pd. dan Harmini
dengan
Aditya Gilang Permana
putra dari... dan.... 

Serta Aqiqah: 
Yumna Ruqayah Khairunnisa
putri Rahmat Ade Wijaya, S.H.
dan Tika Dwipurna, S.E.

InsyaAllah akan dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal: Sabtu, 11 Juli 2026
Pukul: 08.00 WIB s.d. selesai
Acara: Akad Nikah, dilanjutkan merempah Kaum Ibu
Tempat: Jalan Rajawali, Pasar Manna
Hiburan: Organ Tunggal

Malam Hari
Hari/Tanggal: Sabtu, 11 Juli 2026
Pukul: 20.00 WIB s.d. selesai
Acara: Pertandingan Domino
Tempat: Jalan Rajawali, Pasar Manna
Hiburan: Organ Tunggal

Hari/Tanggal: Minggu, 12 Juli 2026
Pukul: 09.00 WIB s.d. selesai
Acara: Menerima Mendah dari Bengkulu, dilanjutkan jamuan
Tempat: Jalan Rajawali, Pasar Manna
Hiburan: Organ Tunggal

Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami apabila Bapak/Ibu/Saudara/i berkenan hadir dan memberikan doa restu.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Hormat kami,
Keluarga Besar
Ismilianto, M. Pd. bin Abu asan
dan Harmini binti Munip (alm) 


TURUT MENGUNDANG:
1. Tintus Hermansyah, S.E. – Bengkulu
2. Rahmat Ade Wijaya, S.H. – Kepahiang
3. Juniwanto, M.Si. – Lubuk Linggau
4. Bastian Munip, A.Md.
5. Pangku Iman, S.Pd. – Kepahiang
6. Sukirman – Pringsewu, Lampung
7. Siswanto, SKM – Bengkulu
8. Indayo, M.Si. – Bengkulu
9. Khairul Bengkulu
10. Iduanto – Jakarta
11. Aldi Satrianto, S.Kom.
12. Sidianto, S.E. – Bengkulu
13. Indi Wilson, S.H. – Bengkulu
14. Miharman, S.E. – Bengkulu
15. Ali Wardana, S.E. – Bengkulu
16. Yupratmansyah, S.IP – Bengkulu
17. Ibianto, S.Pd. – Bengkulu
18. Dudi Martoni – Bengkulu
19. Junisman, S.P. – Palembang
20. Isdianto, S.Pd. – Curup
21. Syaiful Anwar – Bengkulu
22. Islin Yakardi – Bengkulu
23. Sudis – Kepahiang
24. Yito Rio Bengkulu Utara


TURUT MENGUNDANG
1. Satrawinsi, SKM – Durian Sebatang, Kedurang
2. Pujitan, S.I.P. – Betungan KDI
3. Rupinsi, S.Pd. – Jl. Murai, Manna
4. Siharto – Durian Sebatang, Kedurang
5. Jaya Fitra, S.Sos. – Manna
6. Minto Otoni, S.Pd. – Jl. Rajawali, Manna
7. Sirianto, S.Sos. – Suka Nanti, Kedurang
8. Sapa Dinata Lawang Agung
9. Efrianto – Suka Nanti, Kedurang
10. Wiharto Pajar ;
10. Hadorianto – Lawang Agung, Kedurang
11. Hardison – Lawang Agung
12. Isman Dahiri, S. I. P. Sukarami KDI
13. Sudianto, S. I. P. Betungan KDI
14. Jimantohari, S. E  Lubuk Ladung KDI
15. Ansridianto, M. Pd. Lw. Agung
15. Wilman Lubuk Ladung
16. Aswin Sani - Penindaian
17. Gatmir Gunawan  - Simpang Tiga Kedurang
18. Kahar (Kaal) - Lubuk Resam
19. Novianto - Nanjungan
20. Nur M. Tomi, S. Pd. - Betungan
21. Deswan Jaya, S. Pd. - Nanti Agung II 
22. Dendri, M. Pd. - Padang Gunang
23. Winto Hatodi, S. E. - Jl. Murai
24. Roni Wicaksono, S.Pd.T - Jl. Damak
25. Herdi Zaharudin - Baru Lambang
26. Hendra Zaharudin - Baru Lambang
27. Martono Herawandy - Pd. Lebar Pino
28. Amsurlian, S. Pd. Jl. Mariapan
29. Hartawan, M. H. Jl. Pemangku Basri
30. Minarman, S. H. Jl. Pemangku Basri
31. Taswan, S. Sos. Pematang Bangau
32. Dan Sahari, S. H. Jl. Kol. Barlian
33. Pasirin, S. H. Pagar Dewa
34. Subandi, S. P. Jl. Rajawali
35. Supardi Jl. Rajawali
36. Erwin Jl. Rajawali
37. Dendi, S. E. Jl. Rajawali
38. Erik Extrada Jl. Rajawali
39. Am
40. Midan Karto Jl. Rajawali
41. Isran Harianto Jl. Rajawali
42. Syofian Jr Jl. Rajawali
43. Juniarto Syarif, S. Sos. Jl. Rajawali
43. Gopala Sari Jl. Rajawali
44. Alman Siana Jl. Rajawali
45. Yisarman Jl. Rajawali
46. 





Sabtu, 02 Mei 2026

Api Dingin Karena Iman Tebal

Api Dingin Karena Iman Tebal

Di sekeliling  Nabi Ibrahim, patung-patung disembah. Tapi Ibrahim tidak ikut arus.
Ia bertanya pelan, tapi menghunjam:
“Mengapa kalian menyembah sesuatu yang tidak bisa mendengar, tidak bisa menolong?”

Kaumnya marah.
Ayahnya juga menentangnya.
Namun Ibrahim tetap teguh.

Suatu hari, ia menghancurkan semua berhala kecuali satu yang paling besar.

Ketika kaumnya kembali, mereka gempar.
“Siapa yang melakukan ini?!”
Dengan tenang Ibrahim menjawab:
“Tanyakan saja pada berhala besar itu kalau ia bisa berbicara.”
Mereka terdiam… karena sadar. Tapi kesadaran itu kalah oleh gengsi.

Akhirnya keputusan kejam pun diambil:
Ibrahim harus dibakar hidup-hidup. Api besar dinyalakan.

Begitu dahsyatnya hingga tak ada yang berani mendekat.
Ibrahim dilemparkan ke dalamnya.
Di saat genting itu…
Hanya satu kalimat di hatinya:
“Cukuplah Allah bagiku…”
Lalu Allah berfirman (QS. Al-Anbiya: 69): Qulnaa yaa naaru kuunii bardan wa salaaman ‘alaa Ibraahiim. Artinya: “Wahai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.”

Lantas, Api yang biasanya membakar,  justru menjadi sejuk. Yang biasanya memusnahkan,  justru menjadi penyelamat.

Pelajaran untuk kita:
Kadang hidup seperti api:
Masalah terasa membakar
Hutang terasa menyesakkan
Jalan terasa tertutup. 

Tapi ingat…
Kalau iman kita seperti Ibrahim,
maka “api” itu tidak akan membakar—
justru akan menjadi jalan keselamatan.

Renungan:
Bukan karena apinya kecil, Ibrahim selamat.
Tapi karena imannya besar.
Hari ini, mungkin kita tidak dilempar ke api…
tapi kita sedang diuji dengan “api kehidupan”.

Pertanyaannya:
Masihkah kita setenang Ibrahim… saat hanya Allah yang kita harapkan?

Anbiya ayat 50–90

Anbiya ayat 50–90 

sesuai permintaan:
Al-Anbiya: 50
Wa haadzaa dzikrun mubaarakun anzalnaahu afantum lahu munkiruun

Al-Anbiya: 51
Walaqad aatainaa Ibraahiima rusydahu min qablu wa kunnaa bihi ‘aalimiin

Al-Anbiya: 52
Idz qaala li abiiHi wa qaumihi maa haadzihit tamaatsiilul latii antum lahaa ‘aakifuun

Al-Anbiya: 53
Qaaluu wajadnaa aabaa-anaa lahaa ‘aabidiin

Al-Anbiya: 54
Qaala laqad kuntum antum wa aabaa-ukum fii dhalaalim mubiin
Al-Anbiya: 55
Qaaluu aji’tanaa bil haqqi am anta minal laa‘ibiin

Al-Anbiya: 56
Qaala bal rabbukum rabbus samaawaati wal ardilladzii fatharahunna wa anaa ‘alaa dzaalikum minas syaahidiin

Al-Anbiya: 57
Wa tallaahi la-akiidanna ashnaamakum ba’da an tuwalluu mudbiriin

Al-Anbiya: 58
Faja’alahum judzaadzan illaa kabiiran lahum la’allahum ilaihi yarji‘uun
Al-Anbiya: 59
Qaaluu man fa‘ala haadzaa bi aalihatinaa innahu lamina zh-zhaalimiin
Al-Anbiya: 60
Qaaluu sami‘naa fatan yadzkuruhum yuqaaluu lahu Ibraahiim
Al-Anbiya: 61
Qaaluu fa’tuu bihi ‘alaa a‘yunin naasi la’allahum yasyhaduun
Al-Anbiya: 62
Qaaluu a anta fa‘alta haadzaa bi aalihatinaa yaa Ibraahiim
Al-Anbiya: 63
Qaala bal fa‘alahu kabiiruhum haadzaa fas-aluuhum in kaanuu yanthiquun
Al-Anbiya: 64
Faraja‘uu ilaa anfusihim fa qaaluu innakum antumuzh-zhaalimuun
Al-Anbiya: 65
Tsumma nukisuu ‘alaa ruu’usihim laqad ‘alimta maa haaulaa’i yanthiquun
Al-Anbiya: 66
Qaala a fata‘buduuna min duunillaahi maa laa yanfa‘ukum syai’an wa laa yadhurrukum
Al-Anbiya: 67
Uffin lakum wa limaa ta‘buduuna min duunillaah afalaa ta‘qiluun
Al-Anbiya: 68
Qaaluu harriquuhu wanshuruu aalihatakum in kuntum faa‘iliin
Al-Anbiya: 69
Qulnaa yaa naaru kuunii bardan wa salaaman ‘alaa Ibraahiim
Al-Anbiya: 70
Wa araaduu bihi kaidan faja‘alnaahumul akhsariin
Al-Anbiya: 71
Wa najjainaahu wa Luuthan ilal ardhil latii baaraknaa fiihaa lil ‘aalamiin
Al-Anbiya: 72
Wa wahabnaa lahu Ishaaqa wa Ya‘quuba naafilah wa kullan ja‘alnaa shaalihiin
Al-Anbiya: 73
Wa ja‘alnaahum a’immatan yahduuna bi amrinaa wa awhainaa ilaihim fi‘lal khairaati wa iqaamash shalaati wa iitaa’az zakaati wa kaanuu lanaa ‘aabidiin
Al-Anbiya: 74
Wa Luuthan aatainaahu hukman wa ‘ilman wa najjainaahu minal qaryatil latii kaanat ta‘malul khabaa’its innahum kaanuu qauma saw’in faasiqiin
Al-Anbiya: 75
Wa adkhalnaahu fii rahmatinaa innahu minas shaalihiin
Al-Anbiya: 76
Wa Nuuhan idz naadaa min qablu fastajabnaa lahu fanajjainaahu wa ahlahu minal karbil ‘azhiim
Al-Anbiya: 77
Wa nasharnaahu minal qaumilladziina kadzdzabuu bi aayaatinaa innahum kaanuu qauma saw’in fa aghraqnaahum ajma‘iin
Al-Anbiya: 78
Wa Daawuuda wa Sulaimaana idz yahkumaani fil harts idz nafasyat fiihi ghanamul qaumi wa kunnaa lihukmihim syaahidiin
Al-Anbiya: 79
Fafahhamnaahaa Sulaimaan wa kullan aatainaa hukman wa ‘ilman wa sakhkharnaa ma‘a Daawuuda al-jibaala yusabbihna wath-thaira wa kunnaa faa‘iliin
Al-Anbiya: 80
Wa ‘allamnaahu shan‘ata labuusil lakum lituhsinakum min ba’sikum fahal antum syaakiruun
Al-Anbiya: 81
Wa li Sulaimaanar riih ‘aashifatan tajrii bi amrihi ilal ardhil latii baaraknaa fiihaa wa kunnaa bikulli syai’in ‘aalimiin
Al-Anbiya: 82
Wa minasy-syayaathiini man yaghuushuuna lahu wa ya‘maluuna ‘amalan duuna dzaalika wa kunnaa lahum haafizhiin
Al-Anbiya: 83
Wa Ayyuuba idz naadaa rabbahu annii massaniyadh-dhurru wa anta arhamur raahimiin
Al-Anbiya: 84
Fastajabnaa lahu fakasyafnaa maa bihi min dhurrin wa aatainaahu ahlahu wa mitslahum ma‘ahum rahmatan min ‘indinaa wa dzikraa lil ‘aabidiin
Al-Anbiya: 85
Wa Ismaa‘iila wa Idrisa wa Dzalkifli kullun minas shaabiriin
Al-Anbiya: 86
Wa adkhalnaahum fii rahmatinaa innahum minas shaalihiin
Al-Anbiya: 87
Wa dzan-nuuni idz dzahaba mughaadhiban fazhanna an lan naqdira ‘alaihi fanaadaa fizh-zhulumaati an laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minazh-zhaalimiin
Al-Anbiya: 88
Fastajabnaa lahu wa najjainaahu minal ghammi wa kadzaalika nunjil mu’miniin
Al-Anbiya: 89
Wa Zakariyyaa idz naadaa rabbahu rabbi laa tadzarnii fardan wa anta khairul waaritsiin
Al-Anbiya: 90
Fastajabnaa lahu wa wahabnaa lahu Yahyaa wa ashlahnaa lahu zawjah innahum kaanuu yusaari‘uuna fil khairaati wa yad‘uunanaa raghaban wa rahaban wa kaanuu lanaa khaasyi‘iinn
Jika Bapak mau, saya bisa pilihkan 2–3 ayat paling kuat dari rentang ini untuk dijadikan hafalan harian yang berkaitan dengan istighfar, doa mustajab, dan pembuka rezeki.

tiga ayat paling kuat untuk hafalan harian—mengandung istighfar, doa mustajab, dan pembuka jalan hidup:

tiga ayat paling kuat untuk hafalan harian—mengandung istighfar, doa mustajab, dan pembuka jalan hidup:

Pertama, QS. Al-Anbiya: 83 (Doa Nabi Ayyub – saat diuji berat)
Latin:
Wa Ayyuuba idz naadaa rabbahu annii massaniyadh-dhurru wa anta arhamur raahimiin
Artinya:
“Dan (ingatlah) Ayyub ketika ia berdoa kepada Tuhannya: ‘Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.’”
Kunci amalan:
Dibaca saat sakit, sempit hidup, atau sedang diuji berat.
Kedua, QS. Al-Anbiya: 87 (Istighfar Nabi Yunus – pembuka jalan keluar)
Latin:
Wa dzan-nuuni idz dzahaba mughaadhiban fazhanna an lan naqdira ‘alaihi fanaadaa fizh-zhulumaati an laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minazh-zhaalimiin
Artinya:
“Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim.”
Kunci amalan:
Dibaca saat terhimpit masalah, hutang, atau jalan terasa buntu.
Ketiga, QS. Al-Anbiya: 89 (Doa Nabi Zakariya – pembuka rezeki & harapan)
Latin:
Wa Zakariyyaa idz naadaa rabbahu rabbi laa tadzarnii fardan wa anta khairul waaritsiin
Artinya:
“Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri, dan Engkaulah sebaik-baik pewaris.”
Kunci amalan:
Dibaca untuk hajat besar, keturunan, rezeki, dan harapan hidup.
Penutup (rahasia dari rangkaian ini):
Ketiga ayat ini punya pola yang sama:
Mengadu kepada Allah
Mengakui kelemahan diri
Memohon dengan penuh harap
Dan Allah jawab langsung dalam ayat berikutnya dengan kata: “Fastajabnaa lahu…” (Kami kabulkan)
Kalau Bapak berkenan, saya bisa susunkan wirid harian (pagi–petang) dari tiga ayat ini agar lebih terarah untuk hajat Bapak (termasuk urusan rezeki dan penjualan rumah).