Laqadja akum rasulum


web stats

Jumat, 05 Juni 2026

PETANG INI: JANGAN MENUNGGU TERLAMBAT

PETANG INI: JANGAN MENUNGGU TERLAMBAT

Seorang anak pernah berkata kepada ibunya, "Nanti saja kalau saya sudah sukses, saya akan membahagiakan Ibu."
Tapi takdir berjalan lebih cepat. Sebelum kesuksesan itu datang, sang ibu lebih dahulu dipanggil Allah.

Kini setiap kali melihat orang lain memeluk ibunya, ia menunduk menahan air mata. Harta sudah ada, rumah sudah ada, kendaraan sudah ada. Namun satu yang tak bisa dibeli kembali: kesempatan berbakti kepada ibu.

Allah berfirman:
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua."
(QS. Al-Isra' : 23)

Petang ini, sebelum matahari tenggelam, sempatkanlah menghubungi orang tua. Jika mereka masih hidup, bahagiakan mereka. Jika mereka telah tiada, kirimkan doa terbaik untuk mereka.
Jangan sampai penyesalan datang saat yang tersisa hanya pusara dan air mata.

Semoga petang ini Allah melembutkan hati kita, melapangkan rezeki kita, mengampuni dosa kedua orang tua kita, dan mengumpulkan keluarga kita dalam kebahagiaan dunia serta surga-Nya kelak. Aamiin. 

Kamis, 04 Juni 2026

Memberikan Infak Dan Sedekah Kepada Kedua Orang Tua

Berikan Infak Sedekah Kepada Kedua Orang Tua 

Membantu orang tua yang membutuhkan lebih utama daripada bersedekah kepada orang lain, karena di dalamnya ada dua ibadah: sedekah dan berbakti kepada orang tua (birrul walidain).

Allah berfirman:
"Wa qadha rabbuka allaa ta'buduu illaa iyyaahu wa bil waalidaini ihsaanaa."
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua."
(QS. Al-Isra': 23)

Allah juga berfirman:
"Yas-aluunaka maadzaa yunfiquuna qul maa anfaqtum min khairin falil waalidaini wal-aqrabiina wal-yataamaa wal-masaakiini wabnis sabiil."
"Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah: harta apa saja yang kamu infakkan hendaklah diberikan kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang yang dalam perjalanan."
(QS. Al-Baqarah: 215)

Perhatikan bahwa dalam ayat ini, Allah menyebut kedua orang tua terlebih dahulu sebelum kerabat, yatim, dan miskin.

Rasulullah SAW juga bersabda:
"Anta wa maaluka li abiika."
"Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu." (HR. Ibnu Majah)

Maknanya bukan ayah boleh mengambil seluruh harta anak sesuka hati, tetapi menunjukkan betapa besar hak orang tua atas bantuan dan perhatian anak.

Ada kisah seorang pemuda yang bekerja di kota besar. Setiap bulan ia menyisihkan sebagian gajinya untuk berbagai kegiatan sosial. Ia dikenal dermawan dan sering membantu banyak orang.

Suatu hari ia pulang kampung. Ketika masuk rumah, ia melihat ibunya menambal pakaian lama yang sudah berkali-kali dijahit. Ayahnya yang sudah sepuh masih pergi ke kebun dengan sandal yang hampir putus.

Ia bertanya kepada ibunya, "Mengapa tidak membeli yang baru?"
Ibunya tersenyum dan menjawab, "Kami masih bisa memakainya. Uangmu gunakan saja untuk kebutuhanmu."

Saat itu hatinya bergetar. Selama ini ia bangga membantu banyak orang, tetapi ternyata orang yang paling dekat dengannya hidup dalam keterbatasan tanpa pernah mengeluh.

Sejak hari itu ia mengubah kebiasaannya. Setiap bulan ia mengirim sebagian rezekinya untuk kedua orang tuanya terlebih dahulu. 

Beberapa tahun kemudian, ketika ayahnya wafat, ia menemukan catatan kecil di lemari ayahnya:
"Ya Allah, lindungilah anakku. Jangan putuskan rezekinya. Dia tidak pernah lupa kepada kami."

Pemuda itu menangis. Ia menyadari bahwa bantuan yang ia kirim sebenarnya tidak sebanding dengan doa yang setiap malam dipanjatkan kedua orang tuanya untuk dirinya.

Yang perlu diperhatikan
Jika orang tua memang membutuhkan bantuan nafkah, maka memberi mereka bukan hanya sedekah, tetapi juga kewajiban bagi anak yang mampu.

Banyak orang bersedekah jauh ke mana-mana, tetapi lupa bahwa ayah dan ibunya mungkin sedang menunggu perhatian, telepon, kunjungan, atau bantuan sederhana dari anaknya.

Rasulullah SAW bersabda:
"Ridha Allah tergantung pada ridha kedua orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka kedua orang tua."
(HR. Tirmidzi)

Karena itu, salah satu tempat terbaik untuk menanam sedekah adalah hati ayah dan ibu. Nilainya mungkin tidak terlihat oleh manusia, tetapi doanya dapat membuka pintu-pintu keberkahan yang tidak pernah disangka-sangka.

PENUTUP MALAM: AIR MATA YANG TERLAMBAT

PENUTUP MALAM: AIR MATA YANG TERLAMBAT

Malam semakin larut.
Di sebuah rumah sakit, seorang lelaki tua terbaring lemah. Nafasnya tersengal. Di sampingnya berdiri anak-anak yang dahulu pernah ia besarkan dengan susah payah.
Saat masih kuat, ayah itu sering memanggil mereka. Kadang hanya ingin ditemani berbincang. Kadang hanya ingin didengar ceritanya.

Namun mereka sibuk dengan urusan masing-masing.
Kini, ketika ayah itu hampir pergi, mereka menangis sejadi-jadinya.
"Ayah, maafkan kami..."
Tetapi waktu tidak bisa diputar kembali.
Betapa banyak penyesalan yang baru datang setelah kesempatan hilang.
Malam ini, sebelum tidur, cobalah renungkan:
Masih adakah orang tua yang belum kita telepon? Masih adakah saudara yang belum kita sapa? Masih adakah kesalahan yang belum kita minta maaf?
Jangan menunggu esok.
Karena tidak ada yang tahu siapa yang lebih dahulu dipanggil Allah.

Allah berfirman:
"Wa anistaghfiruu rabbakum tsumma tuubuu ilaih..."
"Dan hendaklah kamu memohon ampun kepada Tuhanmu lalu bertobat kepada-Nya." (QS. Hud: 3)

Rasulullah SAW bersabda:
"Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua." (HR. Tirmidzi)

Ada orang yang malam ini tidur di kasur empuk, tetapi hatinya gelisah.

Ada orang yang rumahnya sederhana, namun hatinya tenang karena tidak menyimpan dendam, tidak durhaka kepada orang tua, dan tidak memutus silaturahmi.
Ketenangan bukan berasal dari banyaknya harta, tetapi dari dekatnya hati kepada Allah.

Sebelum memejamkan mata malam ini, mari berdoa:
"Allahummaghfir li wa li walidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira."
"Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku ketika kecil."

Selamat beristirahat.
Jika masih memiliki orang tua, bahagiakanlah mereka.
Jika mereka telah tiada, kirimkan Al-Fatihah, doa, dan sedekah atas nama mereka.
Sebab ada air mata yang menjadi rahmat, dan ada pula air mata yang datang terlambat.

Semoga malam ini Allah menutup hari kita dengan ampunan, menjaga keluarga kita, melapangkan rezeki kita, serta membangunkan kita esok hari dalam keadaan beriman dan bersyukur.
Aamiin ya Rabbal 'alamin. 

Rabu, 03 Juni 2026

SETEGUK YANG MERUSAK MASA DEPAN

SETEGUK YANG MERUSAK MASA DEPAN

Di sebuah rumah sakit, seorang pemuda berusia 24 tahun terbaring lemah. Dulu ia dikenal cerdas, ramah, dan penuh cita-cita. Namun kebiasaan minum minuman keras sejak usia belasan tahun perlahan merampas semuanya. 

Pekerjaan hilang, sahabat menjauh, orang tua menangis, dan kesehatannya hancur.

Ketika dokter menjelaskan bahwa fungsi hatinya rusak dan daya ingatnya menurun, ia hanya bisa menunduk sambil berkata:
"Andai waktu bisa diputar kembali, aku tidak akan menyentuh minuman itu sejak awal."

Kalimat seperti ini bukan hanya satu atau dua orang yang mengucapkannya. Banyak mantan pecandu alkohol menyesali langkah pertama yang dulu mereka anggap sekadar coba-coba.

Otak manusia adalah pusat kendali kehidupan. Saat seseorang mabuk, alkohol masuk ke aliran darah dan memengaruhi kerja otak.
Akibat yang sering terjadi:
• Daya ingat menurun.
• Konsentrasi melemah.
• Kemampuan mengambil keputusan menjadi buruk.
• Emosi menjadi tidak stabil.
• Risiko depresi dan gangguan mental meningkat.
• Dalam jangka panjang dapat merusak sel-sel otak.

Karena itulah banyak kecelakaan lalu lintas, perkelahian, tindak kriminal, dan keputusan fatal terjadi ketika seseorang berada dalam pengaruh alkohol.
Yang lebih menyedihkan, kerusakan itu sering terjadi saat usia masih muda, ketika otak sedang berada pada masa paling produktif untuk belajar dan berkembang.

Islam mengharamkan khamr (segala yang memabukkan) karena mudaratnya jauh lebih besar daripada manfaatnya.

Allah berfirman:
"Yaa ayyuhalladziina aamanuu innamal khamru wal maisiru wal anshaabu wal azlaamu rijsun min 'amalisy syaithaan fajtanibuuhu la'allakum tuflihuun."
"Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, judi, berhala, dan mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah agar kamu beruntung." (QS. Al-Ma'idah: 90)

Rasulullah SAW bersabda:
"Kullu muskirin haram."
"Setiap yang memabukkan adalah haram." (HR. Muslim)

Perhatikan, Allah tidak mengatakan "kurangi", tetapi "jauhilah". Sebab banyak kehancuran besar berawal dari seteguk yang dianggap kecil.

Ada kisah seorang pemuda yang sangat berbakti kepada ibunya. Namun setelah bergaul dengan teman-teman yang gemar minum, ia mulai sering mabuk. Awalnya hanya pada malam minggu. Lama-kelamaan menjadi kebiasaan.

Suatu malam ibunya menelepon berkali-kali karena khawatir. Dalam keadaan mabuk, ia menjawab dengan suara keras dan membentak ibunya.

Beberapa jam kemudian kabar datang: ibunya terkena serangan jantung dan meninggal dunia.

Sejak hari itu, ia hidup dengan penyesalan yang tidak pernah selesai. Karena kalimat terakhir yang didengar ibunya adalah bentakan dari anak yang sangat dicintainya.

Masih Ada Jalan Pulang
Jika ada anak muda yang saat ini masih terjerumus dalam minuman keras, pintu taubat Allah masih terbuka.

Allah berfirman:
"Qul yaa 'ibaadiyalladziina asrafuu 'alaa anfusihim laa taqnathuu mir rahmatillaah."
"Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah." (QS. Az-Zumar: 53)

Banyak mantan pemabuk yang berubah menjadi pribadi yang saleh, sukses, dan bermanfaat bagi masyarakat. Mereka memutus pergaulan buruk, mendekat kepada masjid, memperbanyak istighfar, dan memulai hidup baru.

Hari ini mungkin seseorang masih memegang botol.
Tetapi besok ia bisa memegang Al-Qur'an.
Hari ini mungkin ia menjadi sumber kesedihan orang tua.
Tetapi besok ia bisa menjadi kebanggaan keluarga.
Jangan tunggu tubuh rusak, jangan tunggu otak melemah, jangan tunggu air mata orang tua jatuh karena penyesalan.

Karena masa muda adalah modal terbesar kehidupan. Jika dijaga dengan iman dan akhlak yang baik, ia akan menjadi cahaya dunia dan akhirat.

SURAT NUH AYAT 10–12

SURAT NUH AYAT 10–12

Ayat 10

Faqultustagh firuu rabbakum innahuu kaana ghaffaa raa.

Ayat 11

Yursilis samaa 'a 'alaikum midraa raa.

Ayat 12

Wayum didkum bi am waa liw wa baniin, 

wa yaj'al lakum jannaa tiw wayaj 'al lakum anhaa raa.


Artinya secara ringkas:
"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan yang lebat kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan untukmu kebun-kebun dan sungai-sungai." (QS. Nuh: 10–12)

Surat Hud ayat 3–5

SURAT HUD AYAT 3–5

Ayat 3

Wa anis tagh firuu rabbakum tsumma tuu buu ilaihi

yumatti' kum mataa 'an hasanah

ilaa ajalimmusammaw wa yu' ti kulla dzii fadlin fadhlah,

wa in tawallau fa innii akhaa fu 'alaikum 'adzaa ba yaumin kabiir.

Ayat 4

Ilallaahi marji 'ukum wa huwa 'alaa kulli syai'in qadiir.

Ayat 5

Alaa innahum yats nuu na shuduu rahum liyas takh fuu minhu, 

alaa hii na yastagh syuu na tsiyaa bahum 

ya' lamu maa yusirruu nawa maa yu' linuun, 

innahu 'alii mun bidzaa tis shuduur.

PETANG INI: JANGAN PUTUSKAN TALI SILATURAHMI

PETANG INI: JANGAN PUTUSKAN TALI SILATURAHMI

Di sebuah desa, dua orang kakak beradik tidak saling berbicara selama belasan tahun. Penyebabnya hanya sebidang tanah warisan yang nilainya tidak seberapa. Keduanya merasa paling benar.

Lebaran datang dan pergi tanpa saling berkunjung.
Suatu hari, sang adik mendapat kabar bahwa kakaknya sakit keras. Ia ingin datang, tetapi gengsi menahannya.

Beberapa bulan kemudian terdengar kabar:
"Kakak sudah meninggal dunia."

Di pemakaman, sang adik menangis tersedu-sedu sambil memegang tanah kuburan yang masih basah.
"Maafkan aku, Kak. Aku terlambat."

Kalimat itu keluar, tetapi sudah tidak terdengar oleh orang yang dituju.
Betapa banyak penyesalan di dunia ini lahir bukan karena tidak sempat marah, tetapi karena terlambat memaafkan.

Allah berfirman:
"Wal ya'fu wal yashfahu. Alaa tuhibbuuna ay yaghfirallahu lakum."
"Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu?"
(QS. An-Nur: 22)

Ada pula kisah seorang ayah yang bertahun-tahun tidak berbicara dengan anaknya karena sebuah kesalahan. Sang anak berkali-kali ingin pulang meminta maaf, tetapi malu.

Takdir berkata lain.
Sebelum sempat pulang, sang anak meninggal dalam kecelakaan.

Saat melihat jenazah anaknya, sang ayah menangis sambil berbisik:
"Nak, Ayah sudah memaafkanmu. Mengapa Ayah tidak mengatakannya lebih cepat?"

Sejak hari itu, tidak ada lagi yang bisa diperbaiki selain penyesalan.
Rasulullah SAW bersabda:
"Laa yahillu limuslimin an yahjura akhaahu fauqa tsalaatsi layaalin."
"Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam." (HR. Bukhari dan Muslim)

Petang ini, mungkin ada saudara yang sudah lama tidak kita sapa. Mungkin ada sahabat yang pernah melukai hati kita. Mungkin ada keluarga yang hubungannya masih renggang.

Jangan tunggu sampai berita kematian datang. Jangan tunggu sampai kita berdiri di depan pusara. Jangan tunggu sampai kata "maaf" hanya menjadi air mata.

Karena memaafkan tidak membuat kita rendah.
Justru memaafkan adalah kemuliaan.

Allah berfirman:
"Wal kaazhimiinal ghaizha wal 'aafiina 'anin naas. Wallaahu yuhibbul muhsiniin."
"Orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan."
(QS. Ali 'Imran: 134)

Sebelum Magrib tiba, cobalah kirim satu pesan:
"Assalamu'alaikum, jika selama ini ada salah dan khilaf, saya mohon maaf."

Bisa jadi pesan sederhana itu menyelamatkan hubungan yang hampir putus. Bisa jadi itulah amal yang paling dicintai Allah pada petang ini.

Doa:
Allahumma allif baina quluubinaa, wa ashlih dzaata baininaa, wahdinaa subulas salaam, waj'alnaa minal mutasaamihiin wal mutaraahimiin.
"Ya Allah, satukan hati-hati kami, perbaikilah hubungan di antara kami, tunjukilah kami jalan keselamatan, dan jadikan kami termasuk orang-orang yang saling memaafkan dan saling menyayangi."
Aamiin ya Rabbal 'aalamiin.