PIDATO TERBUKA UNTUK NEGERI
Oleh: Ismilianto
“Ilmu Ada, Tapi Tak Memimpin Arah Bangsa”
Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air,
Saya berbicara hari ini
bukan sebagai orang besar,
bukan sebagai pemegang kuasa,
tetapi sebagai rakyat biasa
yang rindu melihat negerinya benar-benar maju.
Kita semua tahu,
tenaga kerja melimpah,
sarjana banyak,
tetapi pengangguran juga banyak.
Pertanyaannya sederhana:
di mana yang salah?
Mari kita bandingkan dengan Jepang.
Jepang tidak kaya tanah.
Jepang tidak kaya tambang.
Tapi Jepang kaya arah dan keberanian.
Teknologi pertanian mereka lahir dari sawah.
Profesor mereka turun ke ladang.
Peneliti mereka bekerja untuk produksi.
Ilmu tidak berhenti di kertas,
tapi menjelma mesin, alat, dan lapangan kerja.
Sementara di negeri kita,
pertanian masih dikerjakan dengan cara lama,
alat buatan anak bangsa berhenti di prototipe,
dan hasil riset sering mati di rak laporan.
Bukan karena petani kita bodoh.
Bukan karena mahasiswa kita malas.
Tetapi karena ilmu tidak memimpin kebijakan.
Saudara-saudara,
Mari kita bicara jujur dan terbuka.
Di negeri ini,
berapa profesor yang memimpin arah negara?
Berapa profesor yang menjadi ketua DPR?
Ketua DPD?
Ketua MPR?
Hampir tidak ada.
Akibatnya apa?
Keputusan besar tentang pendidikan, riset, pertanian, dan industri
sering dibuat tanpa napas keilmuan yang dalam.
Ilmu ada di kampus.
Kekuasaan ada di gedung lain.
Keduanya jarang bertemu.
Padahal kemajuan bangsa
lahir ketika ilmu dan kekuasaan berjalan bersama.
Di Jepang, profesor duduk di lingkar pengambil keputusan.
Peneliti menentukan arah industri.
Negara melindungi hasil riset menjadi produksi nasional.
Di Indonesia,
banyak profesor hanya jadi penonton kebijakan,
sementara rakyat menanggung akibatnya.
Saudara-saudara,
Ini bukan soal gelar.
Ini soal arah kepemimpinan.
Kalau yang memutuskan kebijakan
tidak hidup dengan dunia riset,
tidak paham teknologi,
tidak menyentuh sawah dan pabrik,
maka keputusan sering jauh dari kebutuhan rakyat.
Akibatnya jelas:
pertanian lambat maju,
industri nasional lemah,
dan anak muda kehilangan harapan.
Kami rakyat kecil ingin berkata dengan sopan tapi tegas:
negeri ini butuh kepemimpinan yang berilmu dan berpihak.
Ilmu jangan hanya mengajar.
Ilmu harus memimpin.
Ilmu harus menentukan arah kebijakan.
Kalau profesor diberi ruang memimpin,
kalau peneliti dilibatkan menentukan arah negara,
kalau kampus disatukan dengan kekuasaan demi rakyat,
maka pertanian akan bangkit,
industri akan tumbuh,
dan lapangan kerja akan terbuka.
Indonesia tidak kekurangan orang pintar.
Yang kurang adalah keberanian menempatkan ilmu di kursi pengambil keputusan.
Ini bukan tuntutan golongan.
Ini jeritan masa depan.
Kami ingin negeri yang maju
bukan karena janji,
tetapi karena kebijakan yang berilmu dan berpihak pada rakyat.
Itu suara kami.
Suara rakyat yang rindu kemakmuran.