Laqadja akum rasulum


web stats

Senin, 09 Maret 2026

Kisah Ta’ziyah yang Sangat Mengguncang“Catatan Dosa Seorang Ayah”

Kisah Ta’ziyah yang Sangat Mengguncang
“Catatan Dosa Seorang Ayah”

Hadirin yang dimuliakan Allah…
Ada sebuah kisah yang sangat menyentuh hati, yang sering diceritakan oleh para ulama sebagai pelajaran bagi kita semua.
Seorang ayah meninggal dunia.
Ia dimakamkan dengan baik.
Tetangga datang melayat.
Doa-doa dipanjatkan.
Beberapa hari setelah pemakaman, anaknya membersihkan kamar ayahnya.
Di dalam lemari, ia menemukan sebuah buku kecil.
Buku itu tampak sudah lama disimpan.
Anak itu membukanya.
Ternyata itu catatan pribadi ayahnya.
Di halaman pertama tertulis kalimat:
“Ini catatan dosaku… agar aku tidak lupa bertaubat kepada Allah.”
Anak itu terdiam.
Ia mulai membaca halaman demi halaman.
Di sana tertulis banyak hal.
Ada dosa-dosa kecil.
Ada kesalahan kepada orang lain.
Ada juga catatan yang membuat anak itu menangis.
Di salah satu halaman tertulis:
“Hari ini aku lalai dari salat Subuh berjamaah.
Ya Allah… ampuni aku.”
Di halaman lain tertulis:
“Hari ini aku memarahi seseorang dengan kata-kata kasar.
Aku takut jika kata-kata itu menjadi dosaku di akhirat.”
Di halaman berikutnya tertulis:
“Aku takut mati dalam keadaan banyak dosa.
Ya Allah… jangan Engkau ambil nyawaku sebelum Engkau mengampuniku.”
Anak itu membaca sampai halaman terakhir.
Di sana tertulis kalimat yang sangat pendek.
Tetapi membuat anak itu menangis tersedu-sedu.
“Aku tidak tahu kapan aku akan mati…
tetapi aku berharap ketika aku mati, Allah telah mengampuni dosaku.”
Beberapa hari kemudian anak itu bermimpi.
Ia melihat ayahnya.
Wajahnya tenang.
Anak itu bertanya dalam mimpi:
“Ayah… bagaimana keadaanmu di sana?”
Ayahnya menjawab:
“Allah Maha Pengampun…
Dia mengampuni orang yang sungguh-sungguh bertaubat.”
Hadirin yang dimuliakan Allah…
Allah memang membuka pintu taubat seluas-luasnya.
Allah berfirman:
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. Az-Zumar ayat 53)
Artinya:
Tidak ada dosa yang terlalu besar jika kita benar-benar kembali kepada Allah.
Penutup yang membuat jamaah hening
Hadirin yang dimuliakan Allah…
Bayangkan jika hari ini kita meninggal.
Apa yang akan ditemukan anak-anak kita di kamar kita?
Apakah mereka menemukan:
mushaf Al-Qur'an yang sering kita baca…
atau mushaf yang penuh debu?
Apakah mereka menemukan catatan amal kita…
atau justru jejak dosa kita?
Karena itu sebelum kematian datang…
perbaikilah hidup kita.
Perbaikilah salat kita.
Perbanyaklah istighfar.
Perbanyaklah amal baik.
Karena ketika kematian sudah datang…
tidak ada lagi kesempatan kedua.
Semoga Allah mengampuni dosa orang yang telah wafat dari keluarga ini.
Semoga kuburnya dilapangkan.
Dan semoga kita semua dipanggil oleh Allah dalam keadaan husnul khatimah.
Amin ya Rabbal ‘alamin.

Kisah Penutup Ta’ziyah yang Sangat Menyentuh“Mayat yang Tersenyum di Kuburnya”

Kisah Penutup Ta’ziyah yang Sangat Menyentuh
“Mayat yang Tersenyum di Kuburnya”

Hadirin yang dimuliakan Allah…
Ada sebuah kisah yang sering diceritakan oleh para ulama sebagai pelajaran bagi kita semua.
Di sebuah kampung kecil, meninggal seorang lelaki tua.
Ia bukan orang kaya.
Ia juga bukan orang terkenal.
Hidupnya sangat sederhana.
Tetapi ada satu kebiasaannya yang tidak pernah ia tinggalkan:
setiap malam ia membaca beberapa ayat dari Al-Qur'an sebelum tidur.
Tidak lama.
Tidak banyak.
Kadang hanya satu halaman.
Kadang hanya beberapa ayat.
Tetapi tidak pernah ia tinggalkan.
Suatu malam, lelaki itu wafat dengan tenang.
Ketika jenazahnya dimandikan, orang yang memandikannya terkejut.
Wajah lelaki itu sangat tenang dan seperti tersenyum.
Seolah-olah ia sedang tidur dengan damai.
Orang yang memandikannya berkata pelan:
“Subhanallah… wajahnya seperti orang yang bahagia.”
Beberapa hari kemudian, seorang lelaki di kampung itu bermimpi.
Dalam mimpinya ia melihat lelaki yang sudah meninggal tadi.
Wajahnya bersinar.
Ia duduk dengan sangat tenang.
Orang itu bertanya dalam mimpi:
“Apa yang Allah lakukan kepadamu di kubur?”
Lelaki itu menjawab dengan kalimat yang membuat orang itu terbangun sambil menangis.
Ia berkata:
“Allah memuliakanku karena ayat-ayat dari Al-Qur'an yang selalu aku baca setiap malam.”
Hadirin yang dimuliakan Allah…
Allah sendiri telah menjelaskan kemuliaan orang yang beriman ketika mereka meninggal.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka istiqamah, maka malaikat turun kepada mereka (ketika mereka wafat) seraya berkata: Jangan takut dan jangan bersedih.”
(QS. Fussilat ayat 30)
Malaikat memberi kabar gembira kepada mereka dengan surga.
Inilah yang disebut para ulama sebagai husnul khatimah.
Hadirin…
Mungkin kita tidak mampu membaca banyak.
Mungkin kita sibuk.
Tetapi bayangkan jika setiap malam kita membaca beberapa ayat saja dari Al-Qur'an.
Lalu suatu hari kita meninggal…
dan ayat-ayat itu menjadi teman kita di dalam kubur.
Penutup yang sangat menyentuh
Hadirin yang dimuliakan Allah…
Kubur itu gelap.
Kubur itu sempit.
Kubur itu sunyi.
Tetapi bagi orang yang beriman…
kubur bisa menjadi taman dari taman-taman surga.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Kubur itu bisa menjadi taman dari taman-taman surga atau lubang dari lubang-lubang neraka.”
(HR. Sunan Tirmidzi)
Karena itu sebelum kita pulang dari majelis ini, mari kita bertanya kepada diri kita sendiri:
Jika malam ini kita meninggal…
apakah kubur kita akan terang?
Ataukah kubur kita akan gelap karena amal kita sangat sedikit?
Semoga Allah mengampuni dosa orang yang telah wafat dari keluarga ini.
Semoga kuburnya dilapangkan.
Dan semoga kita semua diberi akhir hidup yang baik.
Amin ya Rabbal ‘alamin.

Kisah Penutup Ta’ziyah yang Mengguncang Hati

Kisah Penutup Ta’ziyah yang Mengguncang Hati

Hadirin yang dimuliakan Allah…
Sebelum kita pulang dari majelis ta’ziyah ini, izinkan saya menyampaikan satu kisah yang sering diceritakan para ulama sebagai pelajaran bagi kita semua.
Ada seorang lelaki yang meninggal dunia.
Ketika hidupnya, ia dikenal sebagai orang yang baik kepada manusia.
Ia ramah, suka membantu, dan mudah bergaul.
Tetapi ada satu hal yang sering ia tinggalkan: salat.
Jika diajak salat berjamaah, ia sering berkata:
“Nanti saja… masih ada waktu.”
Hari berlalu.
Bulan berlalu.
Tahun berlalu.
Sampai suatu hari ia jatuh sakit.
Sakitnya tidak lama.
Beberapa hari kemudian ia meninggal dunia.
Ia dimakamkan seperti biasa.
Orang-orang mendoakannya, lalu pulang.
Malam pertama di kubur pun tiba.
Dalam sebuah riwayat yang sering disampaikan para ulama tentang keadaan kubur, disebutkan bahwa ketika manusia dimasukkan ke dalam kubur, dua malaikat datang untuk bertanya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya seorang hamba apabila telah diletakkan di kuburnya dan para pengantarnya telah pergi, ia dapat mendengar suara sandal mereka.”
(HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim)
Lalu datanglah dua malaikat: Munkar dan Nakir.
Mereka bertanya:
Siapa Tuhanmu?
Apa agamamu?
Siapa nabimu?
Orang yang beriman dapat menjawabnya.
Tetapi orang yang lalai…
ia akan kebingungan.
Dalam kisah itu diceritakan, lelaki tadi tidak mampu menjawab dengan baik.
Kuburnya mulai menyempit.
Dan ia menjerit meminta kesempatan kembali ke dunia.
Allah menggambarkan penyesalan itu dalam firman-Nya:
“Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia agar aku dapat berbuat amal saleh.”
(QS. Al-Mu'minun ayat 99–100)
Tetapi kesempatan itu tidak pernah diberikan lagi.
Hadirin…
Bayangkan jika penyesalan itu terjadi pada kita.
Ketika di dunia kita masih bisa:
memperbaiki salat
memperbanyak dzikir
memperbanyak istighfar
dan memperbaiki hidup.
Tetapi ketika sudah di kubur…
semuanya selesai.
Karena itu Rasulullah ﷺ mengingatkan kita:
“Perjanjian antara kami dan mereka adalah salat. Barang siapa meninggalkannya, maka ia telah kafir.”
(HR. Sunan Tirmidzi)
Penutup yang biasanya membuat jamaah hening
Hadirin yang dimuliakan Allah…
Hari ini kita menyaksikan kematian seseorang.
Kematian itu seperti pesan dari Allah kepada kita:
Selagi masih hidup…
perbaiki salatmu.
Selagi masih sehat…
perbaiki amalmu.
Selagi masih ada waktu…
bertaubatlah kepada Allah.
Karena jika kematian sudah datang…
tidak ada lagi kesempatan kedua.
Semoga Allah mengampuni dosa orang yang telah wafat dari keluarga ini.
Semoga kuburnya dijadikan taman dari taman-taman surga.
Dan semoga kita semua diberi husnul khatimah.
Amin ya Rabbal ‘alamin.

CERAMAH TA’ZIYAH YANG MENYENTUH HATIJudul: “Suatu Hari Nanti, Kita yang Akan Diantar”

CERAMAH TA’ZIYAH YANG MENYENTUH HATI
Judul: “Suatu Hari Nanti, Kita yang Akan Diantar”
Pembukaan
Hadirin yang dimuliakan Allah…
Hari ini kita datang melayat.
Kita melihat seseorang terbujur kaku.
Tubuhnya diam.
Lisannya tidak lagi berbicara.
Tangannya tidak lagi bergerak.
Padahal dulu ia berjalan seperti kita.
Ia berbicara seperti kita.
Ia punya rencana hidup seperti kita.
Tetapi hari ini… semuanya selesai.
Allah telah menegaskan dalam firman-Nya:
“كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ”
Kullu nafsin dzāiqatul maut.
Artinya:
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.”
(QS. Al-Qur'an Surah Ali Imran ayat 185)
Tidak ada yang bisa menolak kematian.
Tidak ada yang bisa menundanya satu detik pun.
Nasihat untuk keluarga yang berduka
Kepada keluarga yang ditinggalkan…
kami ikut merasakan kesedihan ini.
Namun Rasulullah ﷺ mengajarkan sebuah kalimat yang sangat menenangkan hati.
Beliau bersabda:
“Sesungguhnya milik Allah apa yang Dia ambil, dan milik-Nya apa yang Dia beri. Setiap sesuatu di sisi-Nya telah ditentukan waktunya.”
(HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim)
Artinya apa?
Yang pergi ini sebenarnya milik Allah.
Kita hanya dititipi.
Dan ketika Allah mengambil kembali titipan-Nya,
maka tugas kita adalah bersabar dan mendoakan.
Pelajaran bagi yang masih hidup
Hadirin…
Kematian ini bukan hanya untuk yang wafat.
Kematian ini juga pelajaran bagi kita yang masih hidup.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.”
(HR. Sunan Tirmidzi)
Karena ketika seseorang meninggal, sebenarnya Allah sedang berkata kepada kita:
“Hari ini dia… besok bisa jadi kamu.”
Kisah yang mengguncang hati
Ada sebuah kisah yang sering diceritakan para ulama.
Seorang lelaki saleh meninggal dunia.
Ia dikenal rajin membaca Al-Qur'an.
Ketika jenazahnya dimandikan, orang yang memandikannya melihat sesuatu yang aneh.
Wajah lelaki itu sangat bercahaya.
Sampai orang-orang yang melihat berkata:
“Seperti wajah orang yang sedang tersenyum.”
Setelah ditanya kepada keluarganya, ternyata lelaki itu memiliki kebiasaan sederhana.
Setiap malam sebelum tidur, ia selalu membaca beberapa ayat dari Al-Qur'an.
Tidak pernah ia tinggalkan.
Dan ketika ia meninggal…
Al-Qur'an itulah yang menjadi temannya di kubur.
Sebaliknya kisah yang membuat orang menangis
Ada pula kisah lain yang jauh lebih menyedihkan.
Seorang lelaki meninggal dunia.
Ketika keluarganya membersihkan rumahnya, mereka menemukan sebuah mushaf Al-Qur'an di atas lemari.
Mushaf itu sangat bersih.
Bukan karena sering dibaca.
Tetapi karena tidak pernah disentuh bertahun-tahun.
Debunya tebal.
Seseorang berkata dengan suara pelan:
“Mungkin selama hidupnya… mushaf ini hanya menjadi hiasan.”
Hadirin…
Bayangkan jika suatu hari kita meninggal…
lalu anak-anak kita menemukan mushaf di rumah kita yang penuh debu.
Betapa malunya kita di hadapan Allah.
Keadaan orang yang wafat dalam kebaikan
Allah memberi kabar gembira bagi orang yang hidupnya taat.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka istiqamah, maka malaikat turun kepada mereka (saat kematian).”
(QS. Fussilat ayat 30)
Malaikat berkata:
“Jangan takut dan jangan bersedih. Bergembiralah dengan surga.”
Itulah yang disebut husnul khatimah.
Penutup yang menyentuh hati
Hadirin yang dimuliakan Allah…
Hari ini kita mengantar jenazah.
Besok atau lusa… bisa jadi kitalah yang diantar.
Hari ini kita berdiri di samping kubur.
Suatu hari nanti… kita yang berada di dalamnya.
Dan saat itu yang ikut bersama kita hanyalah:
salat kita
dzikir kita
sedekah kita
dan amal baik kita.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Sahih Muslim)
Semoga Allah mengampuni dosa orang yang telah wafat dari keluarga ini.
Semoga kuburnya dilapangkan.
Dan semoga kematian yang kita saksikan hari ini menjadi peringatan bagi kita semua untuk memperbaiki hidup sebelum terlambat.
Amin ya Rabbal ‘alamin.
Jika Pak Milit berkenan, saya juga bisa buatkan satu lagi kisah penutup ta’ziyah yang sangat mengguncang (tentang seseorang yang menjerit di alam kubur karena salatnya ditinggalkan).
Biasanya kisah itu membuat jamaah benar-benar terdiam dan menangis.

PETANG INI… SEBELUM MALAM DATANG

PETANG INI… SEBELUM MALAM DATANG

Banyak orang sibuk mencari dunia,
tetapi lupa menyiapkan pulang.
Padahal Allah telah mengingatkan:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”
(QS. Al-Qashash: 77)

Dunia boleh dikejar,
tetapi akhirat jangan ditinggal.
Sebab suatu hari,
kita semua akan sampai di satu tempat yang sama:
kubur.
Di sana…
tidak ada jabatan,
tidak ada pujian manusia,
tidak ada pengikut.

Yang ada hanya tiga yang ikut mengantar:
keluarga kembali pulang,
harta kembali ditinggal,
dan amal yang tinggal bersama kita.

Rasulullah SAW bersabda:
“Mayit diikuti oleh tiga hal: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dua kembali pulang dan satu tetap bersamanya; keluarganya dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka sebelum malam ini datang…
tanya diri kita perlahan:
Apakah bekalku pulang sudah cukup?

Minggu, 08 Maret 2026

TARAWIH BUKAN UNTUK MEMBERATKAN JAMAAH

TARAWIH BUKAN UNTUK MEMBERATKAN JAMAAH

Tadi malam aku memperhati kan sesuatu di masjid.
Imam membaca ayat dengan panjang panjang dan lambat. 

Maksudnya tentu baik: ingin membaca Al-Qur’an dengan tartil.
Namun di belakangnya…
ada yang mulai gelisah,
ada yang menguap,
ada yang menunduk menahan kantuk.

Saat itulah aku teringat pesan Rasulullah SAW.
Beliau bersabda:
“Jika salah seorang di antara kalian menjadi imam bagi manusia, maka hendaklah ia meringankan salat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Mengapa?  Nabi melanjutkan sabdanya: karena
“Di antara mereka ada yang lemah, ada yang sakit, dan ada yang sudah tua.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di dalam saf jamaah tidak semuanya kuat.
Ada yang seharian bekerja.
Ada yang badannya sudah tua.
Ada yang datang dengan niat baik tapi fisiknya terbatas.

Karena itu Nabi SAW bahkan pernah menegur sahabatnya Mu’adz bin Jabal ketika ia membaca terlalu panjang saat menjadi imam.

Nabi berkata:
“Apakah engkau ingin membuat orang merasa berat dalam agama, wahai Mu’adz?”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Padahal Mu’adz adalah sahabat yang sangat alim.
Ini menunjukkan bahwa kebaikan tetap harus disertai kebijaksanaan.

Memang benar Allah memerintahkan:
“Bacalah Al-Qur’an dengan tartil.” (QS. Al-Muzzammil: 4)

Tetapi Allah juga memberi keringanan:
“Bacalah apa yang mudah dari Al-Qur’an.” (QS. Al-Muzzammil: 20)

Para ulama pun sepakat:
imam dianjurkan membaca dengan baik, tetapi tidak memberatkan makmum.

Imam An-Nawawi berkata:
“Disunnahkan bagi imam meringankan salat agar tidak memberatkan makmum.”
(Syarh Shahih Muslim)

Tarawih memang salat malam.
Boleh lebih panjang(jika sendirian) 
Tetapi tetap ingat satu hal:
tarawih adalah ibadah bersama, bukan ibadah sendirian.
Kalau ingin membaca sangat panjang, lakukanlah saat tahajud di rumah.

Karena imam bukan hanya memimpin bacaan…
tetapi juga memimpin hati jamaah agar tetap mencintai salat.

Jangan sampai orang datang ke masjid dengan semangat,
lalu pulang dengan kelelahan.
Sebab tujuan tarawih bukan sekadar lama berdiri,
tetapi menghidupkan Ramadhan dengan hati yang ringan dan penuh cinta kepada Allah.

Sabtu, 07 Maret 2026

Tangisan Seorang Ayah yang Pernah Mengubur Anaknya Hidup-Hidup

Tangisan Seorang Ayah yang Pernah Mengubur Anaknya Hidup-Hidup

Pada masa jahiliyah sebelum Al-Qur’an turun, hati manusia bisa menjadi sangat keras.
Anak perempuan dianggap aib.
Sebagian orang Arab merasa malu jika memiliki anak perempuan. Mereka takut dicemooh oleh masyarakatnya.

Allah menggambarkan keadaan itu dalam Al-Qur’an:
“Apabila seseorang dari mereka diberi kabar kelahiran anak perempuan, wajahnya menjadi hitam karena menahan marah. Ia bersembunyi dari orang banyak karena merasa malu.”
(QS. An-Nahl: 58–59)

Karena rasa malu itulah…
sebagian dari mereka tega mengubur bayi perempuan hidup-hidup.
Al-Qur’an mengecam perbuatan itu dengan sangat keras:
“Dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya: karena dosa apa ia dibunuh?” (QS. At-Takwir: 8–9)

Ada sebuah kisah yang sangat menyentuh dari seorang sahabat Nabi.
Suatu hari ia duduk bersama Rasulullah.
Tiba-tiba ia menangis tersedu-sedu.

Nabi bertanya dengan lembut,
“Apa yang membuatmu menangis?”
Sahabat itu berkata dengan suara bergetar:
“Wahai Rasulullah… dulu pada masa jahiliyah aku memiliki seorang anak perempuan.”

Ia bercerita…
Anaknya sangat cantik dan sangat menyayanginya.
Setiap kali ia pulang, anak kecil itu berlari menyambut ayahnya.
Memeluknya.
Tertawa riang.
Namun tekanan adat dan rasa malu kepada masyarakat membuat hatinya gelap.

Suatu hari ia berkata kepada anaknya:
“Wahai anakku, ikutlah ayah.”
Anak kecil itu sangat gembira.
Ia mengira ayahnya akan mengajaknya bermain.
Ayahnya membawanya ke padang pasir yang sunyi.
Ia mulai menggali lubang.

Anak kecil itu bertanya polos:
“Ayah… untuk apa menggali tanah?”
Ayahnya tidak menjawab.
Ketika lubang itu selesai…
ia mengangkat anaknya dan menurunkannya ke dalam lubang itu.

Anak kecil itu masih belum mengerti.
Ia hanya berkata dengan suara lembut:
“Ayah… kenapa aku dimasukkan ke sini?”
Ketika tanah mulai ditimbunkan…
anak kecil itu menangis dan berkata:
“Ayah… aku takut… aku takut…”
Lalu tanah menutup tubuh kecil itu.
Ketika sahabat itu menceritakan kisah itu kepada Nabi, suaranya sudah tidak sanggup keluar.

Air matanya mengalir deras.
Ia berkata:
“Wahai Rasulullah… sejak aku masuk Islam, dosa itu selalu menghantuiku.”
Rasulullah pun ikut meneteskan air mata.
Lalu beliau berkata bahwa Islam menghapus dosa-dosa yang terjadi sebelumnya.

Nabi bersabda:
“Islam menghapus dosa yang telah lalu.” (HR. Muslim)

Kisah ini menunjukkan betapa gelapnya masa jahiliyah.
Namun Al-Qur’an datang mengubah semuanya.
Islam memuliakan perempuan.

Bahkan Nabi bersabda:
“Barang siapa memelihara dua anak perempuan hingga dewasa, maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku seperti ini.”
Lalu Nabi merapatkan dua jari beliau.(HR. Muslim)

Bayangkan…
Anak perempuan yang dulu dikubur hidup-hidup…
di dalam Islam justru menjadi jalan menuju surga.
Inilah cahaya Al-Qur’an.
Ia mengubah manusia yang paling keras…
menjadi manusia yang paling lembut.

Allah berfirman:
“Sungguh telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang jelas.”
(QS. Al-Maidah: 15)

Renungannya untuk kita hari ini:
Jika dahulu Al-Qur’an mampu mengubah orang yang tega mengubur anaknya…
mengapa hari ini masih ada hati yang tidak berubah meski setiap hari membaca Al-Qur’an?

Jangan sampai Al-Qur’an hanya lewat di lisan kita…
tetapi tidak pernah masuk ke dalam hati kita.