KHUTBAH JUMAT
(25 September 2026)
KHUTBAH PERTAMA
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruh, wa na’udzu billahi min syururi anfusina wa min sayyi’ati a’malina.
May yahdihillahu fala mudhillalah, wa may yudhlil fala hadiyalah.
Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh laa nabiya ba'da.
Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
Amma ba’du.
Faya ayyuhalladzina amanuttaqullaha haqqa tuqatihi wa la tamutunna illa wa antum muslimun.
Judul: JIKA ISTIGHFAR SUDAH, SHALAWAT SUDAH, MENGAPA MASIH BERAT TAAT?
Jamaah Jumat rahimakumullah.
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa.
Takwa bukan hanya banyak mengucapkan istighfar.
Takwa bukan hanya banyak bershalawat.
Takwa bukan hanya rajin menghadiri pengajian.
Tetapi takwa adalah ketika hati tunduk, lisan dijaga, makanan diperiksa, harta dibersihkan, dan perintah Allah benar-benar kita kerjakan.
Jamaah yang dimuliakan Allah.
Ada satu pertanyaan yang patut kita ajukan kepada diri sendiri.
Kita sudah banyak istighfar, mengapa masih berat meninggalkan dosa?
Kita sudah banyak bershalawat, mengapa hati masih berat ketika mendengar panggilan shalat?
Kita sudah sering mendengar nasihat agama, tetapi mengapa kaki masih terasa berat menuju masjid?
Kita sudah berdoa agar dekat dengan Allah, tetapi mengapa maksiat justru terasa ringan?
Jangan buru-buru menyalahkan hati.
Jangan hanya mengatakan, "Saya memang belum mendapat hidayah."
Mari kita periksa sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan kita:
Apa yang masuk ke dalam tubuh kita?
Dan...
apa yang keluar dari mulut kita?
Allah SWT berfirman:
"Ya ayyuhar-rusulu kulu minath-thayyibati wa'malu shalihan, inni bima ta'maluna 'alim."
Artinya:
"Wahai para rasul! Makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(QS Al-Mu’minun: 51)
Perhatikan ayat ini.
Allah menghubungkan makan yang baik dengan amal yang baik.
Seolah-olah Allah mengingatkan kita:
Periksa apa yang masuk ke tubuhmu sebelum bertanya mengapa tubuhmu berat melakukan kebaikan.
Jamaah Jumat rahimakumullah.
Rasulullah SAW bersabda:
"Innallaha thayyibun la yaqbalu illa thayyiba."
Artinya:
"Sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan Dia tidak menerima kecuali yang baik."
Kemudian Nabi SAW menyebutkan seseorang yang berdoa kepada Allah dengan penuh kesungguhan, tetapi makanan, minuman, pakaian, dan sumber penghidupannya berasal dari yang haram.
Lalu Nabi SAW menggambarkan keadaan itu dengan pertanyaan:
"Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?"
(HR Muslim No. 1015)
Jamaah yang dirahmati Allah.
Ini bukan berarti setiap orang yang sedang sulit beribadah pasti memperoleh makanan haram.
Tidak.
Kesulitan dalam beribadah bisa memiliki banyak sebab.
Tetapi hadis ini mengajarkan kepada kita satu hal yang sangat penting:
Jangan pernah meremehkan persoalan halal dan haram dalam mencari rezeki.
Jangan sampai tangan kita mengangkat doa kepada Allah...
sementara tangan yang sama pernah mengambil sesuatu yang bukan haknya.
Jangan sampai mulut kita mengucapkan:
"Astaghfirullah..."
tetapi mulut yang sama masih ringan memfitnah.
Jangan sampai lidah kita basah dengan shalawat...
tetapi setelah itu basah pula dengan ghibah, dusta, hinaan, dan menyakiti hati orang lain.
Jamaah Jumat rahimakumullah.
Istighfar bukan sekadar ucapan.
Istighfar berarti memohon ampun dan kembali.
Kalau kita berkata "Astaghfirullah", lalu sengaja mengulangi kezaliman tanpa penyesalan dan usaha memperbaiki diri, kita perlu bertanya:
Apa yang sedang kita minta ampun?
Demikian pula shalawat.
Shalawat adalah amalan yang mulia.
Tetapi kecintaan kepada Rasulullah SAW juga harus tampak dalam akhlak dan perilaku.
Rasulullah SAW bersabda:
"Man kana yu'minu billahi wal-yaumil-akhir falyaqul khairan au liyasmut."
Artinya:
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam."
(HR Muslim No. 47a–48)
Maka hari ini mari kita periksa lidah kita.
Berapa banyak orang yang terluka karena ucapan kita?
Berapa banyak nama orang yang kita bicarakan ketika orangnya tidak ada?
Berapa banyak aib yang kita buka?
Berapa banyak berita yang kita sebarkan tanpa memeriksa kebenarannya?
Berapa banyak kalimat yang kita ucapkan dalam keadaan marah, lalu baru kita sesali setelah hati orang lain terluka?
Jamaah yang dimuliakan Allah.
Ada makanan yang masuk melalui mulut.
Ada pula "makanan" untuk hati yang masuk melalui telinga dan mata.
Apa yang kita dengar?
Apa yang kita lihat?
Apa yang kita baca?
Apa yang kita tonton?
Karena hati juga bisa menjadi kotor.
Maka kalau kita merasa semakin jauh dari Allah, mari berhenti sejenak.
Jangan hanya menambah jumlah istighfar.
Jangan hanya menambah jumlah shalawat.
Tetapi periksa sumber rezeki.
Periksa transaksi.
Periksa utang.
Periksa amanah.
Periksa hak orang lain.
Dan yang tidak kalah penting:
periksa lisan kita.
Mungkin bukan kurangnya dzikir yang menjadi masalah kita.
Mungkin dzikir kita belum berhasil mengubah perilaku kita.
Mungkin bukan kurangnya nasihat yang kita dengar.
Mungkin hati kita masih dipenuhi sesuatu yang harus kita bersihkan.
Jamaah Jumat rahimakumullah.
Mari kita pulang hari ini dengan satu tekad:
Yang masuk harus halal.
Yang keluar harus baik.
Yang dikerjakan harus taat.
Jangan biarkan perut kita tumbuh dari sesuatu yang Allah haramkan.
Jangan biarkan lidah kita menjadi jalan orang lain terluka.
Dan jangan biarkan istighfar hanya menjadi suara di bibir, sementara dosa tetap kita pelihara dalam kehidupan.
Semoga Allah membersihkan rezeki kita, membersihkan hati kita, menjaga lisan kita, dan memberikan kepada kita kekuatan untuk taat kepada-Nya.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Shallallahu ‘ala Muhammad
KHUTBAH KEDUA
Shallallahu ‘ala Muhammad
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Wasshalatu wassalamu ‘ala Sayyidil mursalin, Sayyidina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
Ushikum wa nafsi bitaqwallahi, faqad fazal muttaqun.
Jamaah Jumat rahimakumullah.
Sekali lagi marilah kita bertakwa kepada Allah.
Mari kita periksa tiga hal dalam kehidupan kita.
Pertama, sumber makanan kita.
Halalkah?
Bersihkah?
Adakah hak orang lain di dalamnya?
Kedua, sumber rezeki kita.
Apakah diperoleh dengan cara yang Allah ridai?
Apakah ada kezaliman, penipuan, pengkhianatan, atau mengambil sesuatu yang bukan hak kita?
Ketiga, ucapan kita.
Apakah yang keluar dari mulut kita membawa pahala atau justru menjadi dosa?
Sebab kadang-kadang kita sibuk menghitung berapa kali kita mengucapkan istighfar...
tetapi lupa menghitung berapa orang yang kita sakiti dengan ucapan.
Kita menghitung berapa kali bershalawat...
tetapi lupa menghitung berapa kali kita menjelekkan orang lain.
Kita menghitung berapa rakaat shalat sunnah...
tetapi lupa memeriksa apakah rezeki yang kita makan sudah halal.
Maka mulai hari ini, jangan hanya bertanya:
"Sudah berapa banyak saya berdzikir?"
Tetapi tanyakan juga:
"Sudah sebersih apa rezeki saya?"
"Sudah sebersih apa lisan saya?"
"Sudah sebaik apa akhlak saya?"
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang bukan hanya banyak berdzikir dengan lisan, tetapi juga taat dalam kehidupan.
Allahumma inna nas’aluka rizqan halalan, wa qalban saliman, wa lisanan shadiqan, wa ‘amalan shalihan.
Ya Allah, karuniakanlah kepada kami rezeki yang halal, hati yang bersih, lisan yang jujur, dan amal yang saleh.
Ya Allah, ampuni dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa keluarga kami, dan dosa seluruh kaum muslimin dan muslimat.
Ya Allah, jika selama ini rezeki kami bercampur dengan sesuatu yang tidak Engkau ridai, tunjukkan kepada kami, ampuni kami, dan berikan kekuatan untuk meninggalkannya.
Jika lisan kami pernah menyakiti orang lain, berikan kami keberanian untuk meminta maaf dan memperbaikinya.
Jika hati kami jauh dari-Mu, dekatkanlah kembali.
Jika kami berat melakukan ketaatan, kuatkanlah langkah kami.
Ya Allah, jadikanlah istighfar yang kami ucapkan benar-benar menghapus dosa.
Jadikanlah shalawat yang kami lantunkan menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Dan jadikanlah dzikir kami bukan hanya suara di bibir, tetapi cahaya yang menerangi hati dan mengubah kehidupan kami.
Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun, waj’alna lil-muttaqina imama.
Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar.
Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
‘Ibādallah, innallaha ya’muru bil-‘adli wal-ihsani wa ita’i dzil-qurba, wa yanha ‘anil-fahsya’i wal-munkari wal-baghy. Ya’izhukum la’allakum tadzakkarun.
Fadzkurullaha yadzkurkum, wasykuruhu ‘ala ni’amihi yazidkum, wadzikrullahi akbar. Wallahu ya’lamu ma tashna’un.
Aqimishalah....