Laqadja akum rasulum


web stats

Minggu, 17 Mei 2026

KETIKA AYAH MENJAGA MASJID, ALLAH MENJAGA RUMAHNYA

KETIKA AYAH MENJAGA MASJID, ALLAH MENJAGA RUMAHNYA

Ada rumah yang terasa tenang. Jarang ada pertengkaran.
Anak-anaknya sopan.
Rezekinya selalu cukup.

Ternyata rahasianya:
AYAHNYA MENJAGA SALAT BERJAMAAH DI MASJID.
Setiap azan berkumandang, ia langsung menuju rumah Allah.
Dan langkah itulah yang mengundang keberkahan turun ke rumahnya.

Allah berfirman:
“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.” (QS. Thaha: 132)

Allah sudah menjamin:
jaga salatmu, maka Aku jaga rezekimu.

Rasulullah SAW bersabda:
“Salat berjamaah lebih utama daripada salat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bayangkan…
lima kali sehari seorang ayah membawa pulang pahala dan cahaya dari masjid ke rumahnya. Maka rumah itu akan dipenuhi ketenangan.

Ada kisah seorang ayah yang penghasilannya kecil, tetapi anak-anaknya tumbuh saleh dan hormat.

Ada pedagang yang tokonya sederhana, tetapi usahanya selalu mencukupi.
Hidupnya damai dan jauh dari kehancuran.

Karena keberkahan dari Allah
membuat hati tenang, keluarga rukun, dan anak-anak yang menjadi penyejuk mata.

Sebaliknya, tidak sedikit rumah besar yang terasa sempit.
Mewah, tetapi penuh amarah.
Lengkap fasilitasnya, tetapi kosong keberkahannya.

Abdullah bin Mas’ud berkata:
“Tidaklah seseorang menjaga salat-salat ini di mesjid kecuali Allah akan menulisnya sebagai orang yang mendapat petunjuk.” (HR. Muslim)

Maka wahai para ayah…
jika ingin rumah dijaga Allah, jangan tinggalkan mesjid. 
Karena ketika ayah menjaga masjid…
Allah menjaga istrinya, anak-anaknya, rezekinya hingga akhir hayatnya. Subhanallah. 

JANGAN SAMPAI SEMUA AMAL MENJADI HAMPA


JANGAN SAMPAI SEMUA AMAL MENJADI HAMPA

Ada orang rajin sedekah.
Suka membantu orang susah.
Lisannya lembut.
Bahkan dikenal baik di masyarakat.
Tetapi ia meninggalkan shalat.
Padahal Rasulullah SAW bersabda:
“Perjanjian antara kami dengan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, maka ia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i)

Dalam hadis lain:
“Amalan pertama yang dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, baiklah seluruh amalnya. Jika shalatnya rusak, rusaklah seluruh amalnya.” (HR. Thabrani)

Betapa banyak manusia sibuk memperbaiki dunia, tetapi lupa memperbaiki sujudnya.
Jangan sampai kita: rajin bekerja, tetapi malas ke masjid…
ringan membantu manusia, tetapi berat memenuhi panggilan Allah…
takut kehilangan uang, tetapi tidak takut kehilangan pahala.

Karena amal tanpa shalat seperti bangunan tanpa pondasi.
Tampak berdiri, tetapi mudah runtuh.

Petang ini, sebelum malam datang… mari periksa kembali: sudahkah kita menjaga shalat dengan sungguh-sungguh?

Sebab orang yang menjaga shalat, Allah jaga hidupnya.
Dan orang yang meremehkan shalat, perlahan keberkahan hidupnya akan dicabut tanpa ia sadari.

Sabtu, 16 Mei 2026

Perintah Istighfar dari Langit

Perintah Istighfar dari Langit

Kadang yang membuat hati sempit bukan karena kurang harta, tetapi karena kurang istighfar.
Banyak orang kuat menghadapi hidup setelah lisannya basah dengan dzikir istighfar. 

Allah sendiri memerintahkan hamba-Nya untuk beristighfar:
“Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. An-Nisa: 106)
Dan Allah juga berfirman:
“Maka aku berkata kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun.”
(QS. Nuh: 10)
Lalu apa balasan bagi orang yang rajin istighfar?
Allah lanjutkan:
“Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.”
(QS. Nuh: 11–12)

Betapa banyak orang yang awalnya hidupnya terasa buntu, rezeki seret, rumah tangga sering bertengkar, hati gelisah, lalu perlahan berubah setelah membiasakan istighfar setiap hari.

Ada yang usahanya mulai terbuka.
Ada yang anaknya berubah menjadi lebih baik.
Ada yang hutangnya perlahan lunas.
Ada yang hatinya menjadi tenang walau masalah belum selesai seluruhnya.
Karena istighfar bukan hanya menghapus dosa, tetapi juga mengundang pertolongan Allah.

Jangan tunggu menjadi orang suci dulu untuk beristighfar.
Justru karena kita banyak salah, maka kita sangat beristighfar.

Perbanyaklah:
“Astaghfirullahal ‘azhim wa atubu ilaih.”
“Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung dan aku bertaubat kepada-Nya.”

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, melapangkan rezeki kita, menjaga keluarga kita, dan menutup hidup kita dengan husnul khatimah. Aamiin ya rabbal aalamin. 

Ayat Istighfar

Nuh: 10–12 (agar Istighfar) 

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝١٠
يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ۝١١
وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا ۝١٢


Faqultus taghfirū rabbakum innahū kāna ghaffā rā.

Yursilis-samā ’a a'laikum midrā rā.
Wa yumdid kum bi-amwā lin wa banī na wa yaj‘al lakum jannā tiwwa yaj‘al lakum anhā rā.

Terjemahan:
“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun.’
Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu,
dan Dia akan memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.”

Silaturahmi Yang Sesungguhnya

Silaturahmi Yang Sesungguhnya

Kadang silaturahmi itu adalah menjawab telepon orang tua dengan suara yang lembut, meski kita sedang sibuk. Sebab bagi ayah dan ibu, bukan panjangnya percakapan yang paling mereka tunggu, tetapi rasa bahwa anaknya masih peduli dan tidak melupakan mereka.

Kadang silaturahmi itu adalah melangkahkan kaki mengunjungi saudara yang sedang sakit. Duduk sebentar di sampingnya, mendengarkan keluhannya, lalu mendoakannya dengan tulus.

Bisa jadi kunjungan sederhana itu lebih berharga daripada banyak bantuan yang mahal.

Kadang silaturahmi itu adalah belajar memaafkan keluarga sendiri. Menahan ego, mengubur gengsi, lalu memilih berdamai demi menjaga hubungan yang Allah cintai. 

Tidak mudah memang, apalagi jika hati pernah terluka. Tetapi orang yang mau menyambung kembali hubungan yang retak adalah orang yang sedang meninggikan derajatnya di hadapan Allah.

Dan kadang silaturahmi itu hanyalah menyapa lebih dahulu. Mengirim pesan singkat, menanyakan kabar, atau tersenyum kepada saudara yang sudah lama menjauh. 

Mungkin kita merasa, “Mengapa harus saya dulu?” Namun justru di situlah kemuliaannya. Karena yang paling mulia bukan yang menunggu disapa, tetapi yang mau memulai kebaikan.

Hubungan keluarga tidak selalu membutuhkan harta yang banyak. Kadang yang paling dirindukan hanyalah perhatian, sapaan, dan rasa ingin tetap saling memiliki.

Jangan sampai rumah kita ramai, tetapi hati antar keluarga terasa jauh. Jangan sampai kita mudah berbicara dengan orang lain, tetapi sulit berbicara lembut kepada keluarga sendiri.

Sebab silaturahmi bukan hanya tentang menjaga hubungan dengan manusia, tetapi juga jalan datangnya rahmat, ketenangan, dan keberkahan dari Allah.

Jumat, 15 Mei 2026

Rumah yang Terus Berqurban

Rumah yang Terus Berqurban

Ada keluarga sederhana. 
Tetapi selalu menjaga satu hal: setiap tahun berqurban, dan zakat tidak pernah ditunda.

Dia ngisi celengan untuk qurban Rp 8.000 tiap hari. 
Sehingga tiap menjelang hari qurban uangnya terkumpul 2.800.000 sehingga cukup untuk beli seekor kambing. 

Tahun demi tahun berlalu.
Rumah mereka memang tidak mewah. Tetapi anak-anaknya tumbuh sukses, keluarga damai, rezeki terasa cukup, dan hidup penuh ketenangan.

Sementara ada yang hartanya banyak, tetapi rumahnya penuh pertengkaran dan anak-anaknya jauh dari kebaikan.
Karena keberkahan tidak hanya diukur dari banyaknya uang.

Kadang keberkahan itu berupa:
anak yang shalih, hati yang tenang, keluarga yang rukun,
dan rezeki yang selalu cukup saat dibutuhkan.

Allah berfirman:
“Apapun yang kalian infakkan, Allah akan menggantinya.” (QS. Saba’: 39)

Jangan tunggu kaya baru berqurban dan bersedekah.
Karena banyak orang justru dibukakan pintu kecukupan setelah mereka belajar memberi.

CARA PEMBAGIAN DAGING QURBAN

CARA PEMBAGIAN DAGING QURBAN

Pembagian daging qurban memang termasuk perkara yang sering menimbulkan pertanyaan di masyarakat, terutama tentang pembagian tulang, bagian daging, hak orang yang berqurban, dan pemberian kepada tukang jagal. 

Dalam syariat, yang terpenting adalah tercapainya keadilan, kemaslahatan, dan tidak keluar dari ketentuan agama.

Allah Ta‘ala berfirman:
﴿فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ﴾
“Makanlah sebagian darinya dan berikanlah makan kepada orang yang sengsara lagi fakir.” (QS. Al-Hajj: 28)

Pada ayat lain Allah berfirman:
﴿فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ﴾
“Makanlah sebagian darinya dan berilah makan orang yang rela dengan apa yang ada padanya dan orang yang meminta.” (QS. Al-Hajj: 36)

Ayat ini menjadi dasar bahwa daging qurban:
boleh dimakan oleh orang yang berqurban,
boleh dihadiahkan,
dan disedekahkan kepada fakir miskin.

Para ulama kemudian menjelaskan pembagiannya secara rinci.

Dalam hadis riwayat Ali bin Abi Thalib, beliau berkata:
“Nabi SAW memerintahkanku mengurus unta qurban beliau, membagikan daging, kulit, dan pelananya kepada orang miskin, dan beliau melarangku memberikan sesuatu darinya kepada tukang jagal sebagai upah.” (HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim)

Dari hadis ini para ulama mengambil beberapa hukum penting.

Pertama, daging qurban boleh dibagikan seluruhnya kepada masyarakat dan fakir miskin.

Kedua, orang yang berqurban boleh mengambil sebagian untuk dirinya dan keluarganya.

Ketiga, tukang jagal tidak boleh dibayar dari bagian qurban sebagai upah kerja. Upahnya harus dari uang atau harta lain.

Namun, apabila setelah diberi upah, tukang jagal diberi daging qurban sebagai hadiah atau sedekah, maka itu boleh. 

Jadi praktik yang banyak dilakukan sekarang:
tukang jagal dibayar jasa potongnya, lalu diberi satu kupon daging tambahan sebagai hadiah, itu dibolehkan menurut mayoritas ulama.

Tentang pembagian sepertiga untuk yang berqurban, sepertiga hadiah, dan sepertiga sedekah, ini memang dikenal dalam kitab-kitab fikih. 

Namun para ulama menjelaskan bahwa pembagian itu bukan kewajiban mutlak, melainkan anjuran agar semua mendapatkan manfaat.

Mazhab Imam Nawawi menjelaskan:
sunnahnya sebagian dimakan,
sebagian dihadiahkan,
sebagian disedekahkan.
Tetapi jika kondisi masyarakat lebih membutuhkan, maka boleh mayoritas bahkan hampir seluruhnya dibagikan kepada fakir miskin.


Tentang pembagian dengan kupon dan timbangan yang sama, itu termasuk cara modern untuk menjaga keadilan dan menghindari perselisihan. 

Hal seperti ini masuk dalam kaidah maslahat dan tidak bertentangan dengan syariat selama:
tidak ada jual beli bagian qurban, tidak ada kezaliman,
dan pembagian dilakukan dengan niat ibadah.

Adapun masalah tulang, memang hewan qurban tidak semuanya berupa daging murni. Ada tulang, lemak, hati, limpa, dan bagian lain. Karena itu para ulama tidak mensyaratkan setiap paket harus identik 100 persen. Yang penting adalah keadilan secara umum.

Dalam praktiknya, panitia boleh:
mencampur daging bertulang dan tanpa tulang secara merata,
menimbang dengan perkiraan yang adil,
atau membagi tulang secara terpisah.
Karena jika dipaksakan sama persis, hampir mustahil dilakukan.

Ijmak ulama juga menetapkan bahwa:
daging qurban tidak boleh dijual, kulit dan bagian lainnya tidak boleh dijadikan upah jagal, namun boleh dimanfaatkan atau disedekahkan.

Sebagian masyarakat kadang merasa kecewa jika mendapat tulang lebih banyak tapi tak berdaging. Karena itu panitia dianjurkan amanah dan bijaksana. 

Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim)

Maka semangat qurban bukan sekadar pembagian kilogram daging, tetapi:
ibadah, pengorbanan, berbagi,
dan membahagiakan kaum muslimin.

Karena itu sistem pembagian dengan kupon, timbangan sama, tambahan hadiah untuk tukang jagal, serta pembagian tulang secara merata termasuk praktik yang dibolehkan dan sesuai dengan ruh syariat apabila dilakukan dengan jujur dan adil.