Air Mata di Ujung Senja
Cerpen: oleh Ismilianto
Sore itu langit berwarna jingga. Orang-orang sibuk membicarakan datangnya Tahun Baru 1 Muharam. Sebagian memasang spanduk, sebagian lagi membuat acara di masjid.
Di sebuah rumah sederhana, seorang kakek duduk sendiri di beranda. Rambutnya memutih. Tangannya bergetar memegang kalender tua yang tergantung di dinding.
Perlahan ia mencoret angka tahun yang akan berlalu.
Matanya menatap lama.
Lalu air matanya jatuh.
Bukan karena sedih menyambut tahun baru.
Tetapi karena ia sadar, umurnya berkurang satu tahun lagi.
Ia teringat masa mudanya.
Dulu tubuhnya kuat. Berlari ke sawah tanpa lelah. Mendaki bukit tanpa sesak. Makan apa saja tanpa takut penyakit.
Ketika azan berkumandang, sering ia berkata, "Nanti saja."
Ketika diajak ke masjid, ia menjawab, "Masih muda."
Ketika dinasihati tentang kematian, ia tersenyum, "Masih lama."
Tahun demi tahun berlalu.
"Nanti saja" berubah menjadi puluhan tahun.
Sampai suatu hari sahabat-sahabatnya mulai dipanggil satu per satu.
Ada yang meninggal karena sakit.
Ada yang wafat saat tidur.
Ada yang berangkat ke kebun lalu tak pernah pulang lagi.
Kuburan yang dulu jarang dikunjungi kini semakin penuh oleh orang-orang yang pernah dikenalnya.
Dan hari itu, menjelang 1 Muharam, ia membuka album foto lama.
Di sana ada foto ayahnya.
Ayah yang dulu menggandeng tangannya ke masjid.
Kini sudah puluhan tahun berada di alam kubur.
Ada foto ibunya.
Perempuan yang dahulu selalu mendoakannya setiap malam.
Kini tinggal nama di batu nisan.
Ada foto sahabat-sahabat masa kecilnya.
Sebagian besar sudah lebih dahulu menghadap Allah.
Tiba-tiba dadanya terasa sesak.
Ia berbisik pelan,
"Dulu aku mengantar mereka ke kuburan. Sekarang tinggal menunggu siapa yang akan mengantarku."
Tak lama kemudian terdengar azan Magrib.
Suara itu terasa berbeda.
Seolah bukan panggilan untuk salat semata.
Tetapi panggilan agar ia segera pulang kepada Allah.
Dengan langkah tertatih, ia berjalan menuju masjid.
Di tengah jalan ia melihat anak-anak muda tertawa, bercanda, berlari-lari.
Seketika ia seperti melihat dirinya sendiri puluhan tahun yang lalu.
Ia ingin menghentikan mereka dan berkata,
"Wahai anak-anak muda, jangan tertipu oleh kuatnya badanmu. Aku pernah sekuat kalian. Jangan tertipu oleh panjangnya anganmu. Aku pernah merasa kematian masih jauh. Ternyata kematian lebih cepat daripada yang kukira."
Namun kata-kata itu hanya tertahan di dalam hati.
Malam itu setelah salat Isya, ia duduk lama di masjid.
Orang-orang sudah pulang.
Lampu-lampu mulai dipadamkan.
Ia menengadahkan tangan.
Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan.
"Ya Allah... jika tahun-tahun yang lalu banyak kuisi dengan kelalaian, ampunilah aku. Jika umurku tinggal sedikit, jadikan sisa yang sedikit itu lebih baik daripada seluruh umurku yang telah lalu."
Beberapa bulan kemudian, ketika Muharam belum genap setahun berlalu, kakek itu dipanggil Allah.
Warga kampung berbondong-bondong mengantarkan jenazahnya.
Di antara mereka ada seorang pemuda yang pernah melihatnya berjalan tertatih menuju masjid pada malam 1 Muharam itu.
Pemuda tersebut menangis di tepi kuburnya.
Karena ia baru sadar...
Tahun baru bukanlah tanda umur bertambah.
Tetapi tanda jatah hidup semakin berkurang.
Dan setiap 1 Muharam yang datang sebenarnya sedang berbisik kepada kita:
"Engkau tidak sedang memasuki tahun yang baru. Engkau sedang meninggalkan satu tahun hidupmu untuk selama-lamanya."