Laqadja akum rasulum


web stats

Selasa, 21 April 2026

SERIUSLAH dalam BERIBADAH (karena maut terus mengintai)

SERIUSLAH dalam BERIBADAH
(karena maut terus mengintai)

Nabi SAW bersabda dalam hadits qudsi:
“Wahai anak Adam, bersungguh-sungguhlah engkau beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kecukupan dan Aku tanggung kefakiranmu. Jika tidak, Aku penuhi dadamu dengan kesibukan dan Aku tidak menanggung kefakiranmu.”
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
(QS. Al-‘Ankabut: 69)
“Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan tekun.”
(QS. Al-Muzzammil: 8)
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu ajal.”
(QS. Al-Hijr: 99)
“Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat… niscaya kamu memperoleh balasan yang lebih baik dan lebih besar.”
(QS. Al-Muzzammil: 20)
Suatu ketika, ada seorang pedagang sederhana di pasar. Ia bukan orang kaya, tapi ia menjaga satu hal: tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah di masjid.
Saat azan berkumandang, ia tinggalkan dagangannya begitu saja.
Orang-orang berkata, “Kau tidak takut rugi?”
Ia hanya tersenyum,
“Yang memberi rezeki itu bukan pembeli… tapi Allah.”
Aneh tapi nyata, dagangannya justru sering habis lebih cepat dari yang lain. Bahkan ada pembeli yang sengaja menunggu ia pulang dari masjid.
Ia tidak mengejar dunia… tapi dunia datang menghampirinya.
Ada lagi kisah seorang ibu tua. Tubuhnya lemah, jalannya tertatih. Tapi setiap malam ia bangun untuk tahajud.
Anaknya pernah bertanya,
“Ibu, kenapa masih bangun malam? Bukankah sudah tua?”
Ibu itu menjawab pelan,
“Justru karena sudah dekat waktuku pulang… aku ingin Allah ridha saat aku datang.”
Beberapa waktu kemudian, ia wafat dalam keadaan sujud di sajadahnya.
Ia tidak hanya menunggu ajal… ia menyambutnya dengan ibadah.
Dan ada seorang pemuda yang dulunya sibuk dengan dunia, lalai, bahkan jauh dari masjid.
Suatu hari ia menghadiri pemakaman temannya yang seusia.
Sejak itu, ia berubah.
Ia berkata,
“Aku sadar… yang mati itu bukan yang paling tua, tapi yang paling dulu dipanggil.”
Sejak hari itu, ia menjaga shalat, membaca Al-Qur’an, dan memperbaiki diri.
Hidupnya jadi lebih tenang, rezekinya terasa cukup, dan hatinya tidak lagi gelisah seperti dulu.
Saudaraku…
Jika kita serius membaca Al-Qur’an, kita akan sering mengkhatamkannya.
Jika kita serius shalat fardhu, kita akan menjaga berjamaah di masjid (bagi laki-laki) dan tepat waktu (bagi perempuan).
Jika kita serius ibadah, kita tidak akan meninggalkan tahajud dan dhuha.
Karena sejatinya…
kita ini bukan sedang mengumpulkan harta,
tetapi sedang mengumpulkan bekal pulang.
Sesibuk apa pun kita…
kita tetap butuh tiket menuju surga.
Jangan sampai kita sibuk di dunia,
tapi bangkrut saat menghadap Allah.
Semoga Allah memberi kita hati yang sungguh-sungguh dalam beribadah,
diberi keistiqamahan sampai akhir hayat,
dan dipanggil dalam keadaan husnul khatimah.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Senin, 20 April 2026

KETIKA MATA DAN TELINGA MENJADI UJIAN HATI

KETIKA MATA DAN TELINGA MENJADI UJIAN HATI

Shallallahu ‘ala Muhammad…

Bukan untuk merendahkan, tapi untuk mengingatkan:
laki-laki sering diuji dari apa yang ia lihat sedangkan perempuan sering diuji dari apa yang ia dengar.

Allah berfirman:
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menahan pandangannya…”
(QS. An-Nur: 30)

Dan Allah juga berfirman:
“...maka janganlah kamu melembutkan suara sehingga orang yang ada penyakit dalam hatinya menjadi berkeinginan…”
(QS. Al-Ahzab: 32)

Ini bukan kebetulan…
Ini adalah pintu-pintu ujian manusia.

Ada kisah seorang lelaki, awalnya hanya “tidak sengaja melihat”.
Di jalan… di layar… di media sosial…
Ia berkata, “Cuma lihat, tidak apa-apa.”
Tapi yang ia tidak sadar…
mata itu pintu hati.

Hari demi hari, hatinya mulai gelisah.
Ibadah terasa hambar.
Pikirannya mulai dipenuhi bayangan-bayangan.
Hingga akhirnya…
ia terjerumus pada sesuatu yang dulu ia sendiri benci.
Saat sadar, ia menangis:
“Semua berawal dari satu pandangan yang tidak aku jaga…”

Rasulullah SAW bersabda:
“Pandangan adalah salah satu panah beracun dari panah-panah Iblis…” (HR. Al-Hakim)

Kisah kedua:  Seorang wanita baik-baik…
tidak pernah berpikir akan terjatuh.
Sampai datang seseorang…
dengan kata-kata yang lembut… perhatian… penuh janji.
“Tidak ada yang sepertimu…”
“Aku serius…”
“Aku akan menikahimu…”
Ia tersentuh…
bukan karena ia lemah…
tapi karena hatinya tulus.

Hari demi hari ia percaya.
Ia membuka hati… bahkan menjaga komunikasi diam-diam.

Hingga suatu hari… lelaki itu hilang.
Semua janji ternyata hanya permainan.
Ia terdiam lama…
lalu berkata lirih:
“Aku tidak jatuh karena perbuatan… aku jatuh karena kata-kata…”

Kisah ketiga: ketika keduanya menjaga diri

Seorang pemuda dan seorang wanita… sama-sama diuji.
Pemuda itu menundukkan pandangan.
Ia berkata, “Aku takut satu pandangan mengundang seribu penyesalan.”

Wanita itu menjaga lisannya.
Ia tidak mudah merespons kata-kata manis.
Ia berkata, “Aku tidak ingin hati ini tergoyah oleh janji manusia.”

Waktu berlalu…
keduanya dipertemukan dalam cara yang halal.
Dan mereka berkata:
“Ternyata menjaga diri itu tidak sia-sia…”

Penjelasan psikologis (agar kita makin paham)
Laki-laki secara alami lebih cepat terangsang oleh visual, karena itu pandangan sangat berpengaruh pada hati dan tindakan.

Perempuan lebih dalam memproses kata dan emosi, karena itu ucapan bisa masuk lebih jauh ke dalam hati.

Ini bukan kelemahan…
ini adalah fitrah yang harus dijaga.

Betapa banyak dosa dimulai dari: satu pandangan yang dibiarkan, dan satu kata yang dipercaya. 

Dan betapa banyak kebaikan lahir dari: satu pandangan yang ditundukkan dan satu ucapan yang diabaikan. 

Penutup
Jika ingin menjaga hati…
jaga matamu…
jaga telingamu…
Karena hati itu lembut…
sekali tercemar, sulit kembali jernih.

Semoga Allah menjaga pandangan kita,
menjaga pendengaran kita,
dan menjaga hati kita dari jalan yang salah.
Aamiin.

HATI YANG RINGAN, LANGKAH YANG DIMUDAHKAN

HATI YANG RINGAN, LANGKAH YANG DIMUDAHKAN

Shallallahu ‘ala Muhammad…

Ada orang yang hidupnya biasa saja, tapi hatinya luar biasa.
Ringan bersedekah…
Ringan tersenyum…
Dan lembut dalam kebaikan.
Mereka mungkin tidak dikenal dunia, tapi sangat dikenal di langit.

Kisah pertama
Seorang pedagang kecil di pasar. Untungnya tidak seberapa. Tapi setiap pagi, sebelum membuka dagangan, ia selalu sisihkan sedikit untuk sedekah.
Pernah ditanya, “Kenapa tidak tunggu kaya dulu?”
Ia menjawab pelan, “Kalau menunggu kaya, bisa jadi hati saya sudah keburu keras.”

Aneh tapi nyata, dagangannya tak pernah sepi.
Bukan karena hebatnya strategi, tapi karena lembutnya hati yang suka memberi.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sedekah tidak akan mengurangi harta.”
(HR. Muslim)

Kisah kedua

Seorang ibu tua. Jalannya sudah tertatih. Tapi setiap bertemu orang, ia selalu tersenyum.
Padahal hidupnya tidak mudah.

Ada yang bertanya, “Kenapa ibu selalu tersenyum?”
Ia menjawab, “Saya tidak punya harta banyak untuk dibagi… maka saya bagi wajah yang ramah.”

Rasulullah SAW bersabda:
“Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.”
(HR. At-Tirmidzi)

Kisah ketiga
Seorang pemuda yang dulunya keras, mudah marah, dan jauh dari ibadah.

Suatu hari ia tersentuh ketika melihat orang miskin yang tetap bersyukur.
Sejak itu, ia mulai berubah.
Ia latih hatinya untuk lembut…
Ia paksa dirinya untuk memberi…

Ia biasakan lisannya untuk berkata baik…
Beberapa tahun kemudian, orang-orang mengenalnya sebagai pribadi yang menenangkan.

Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Al-Baqarah: 195)

Renungan untuk kita malam ini…

Tidak semua orang diuji dengan kemiskinan…
Sebagian diuji dengan kerasnya hati.

Tidak semua orang gagal karena tidak punya…
Sebagian gagal karena tidak mau memberi.
Dan tidak semua orang jauh dari Allah karena sibuk…
Sebagian karena hatinya tidak lagi lembut.

Maka jika hari ini:
masih bisa bersedekah walau sedikit
masih bisa tersenyum walau lelah
masih bisa berbuat baik walau berat
Itu tanda… Allah masih membukakan pintu kebaikan untuk kita.

Penutup
Mari kita latih hati ini…
Agar ringan memberi…
Ringan tersenyum…
Dan lembut dalam taat…
Karena bisa jadi, bukan banyaknya amal yang menyelamatkan…
Tapi keikhlasan dan kelembutan hati di dalamnya.

Semoga Allah melembutkan hati kita dan menjadikannya cinta pada kebaikan. Aamiin.

Minggu, 19 April 2026

YANG PALING BERHAK MENERIMA ZAKAT — DAN KE MANA SEBAIKNYA DISALURKAN

YANG PALING BERHAK MENERIMA ZAKAT — DAN KE MANA SEBAIKNYA DISALURKAN

Shalallahu ‘ala Muhammad, 
Allah sudah menetapkan dengan sangat jelas siapa yang paling berhak menerima zakat. Bukan menurut perasaan kita, tapi langsung dari wahyu-Nya:
“Innamash shadaqaatu lil fuqaraa’i wal masaakiin wal ‘aamiliina ‘alaihaa wal mu’allafati quluubuhum wa fir riqaab wal ghaarimiina wa fii sabiilillaahi wabnis sabiil…”
“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, miskin, amil zakat, orang yang dilunakkan hatinya, untuk memerdekakan budak, orang yang berhutang, di jalan Allah, dan untuk ibnu sabil…”
(QS. At-Taubah: 60)

Dari ayat ini, para ulama berijmak bahwa ADA 8 GOLONGAN PENERIMA ZAKAT:
pertama, fakir — yang hampir tidak punya apa-apa
kedua, miskin — punya, tapi tidak cukup
ketiga, amil — yang mengelola zakat
keempat, muallaf — yang dilunakkan hatinya
kelima, riqab — untuk memerdekakan hamba sahaya
keenam, gharim — orang yang terlilit hutang
ketujuh, fi sabilillah — di jalan Allah. 
kedelapan, ibnu sabil — musafir yang kehabisan bekal. 

Siapa yang paling utama?

Para ulama menjelaskan: yang paling didahulukan adalah fakir dan miskin, karena kebutuhan mereka paling mendesak.

Rasulullah SAW juga bersabda:
“Ambillah dari orang-orang kaya mereka dan kembalikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.” (HR. Bukhari no. 1395, Muslim no. 19)
Ini menunjukkan bahwa zakat adalah hak orang miskin, bukan sekadar sedekah biasa.

LALU, LEBIH UTAMA DISALURKAN KE MANA?

Pertama, melalui amil zakat (lembaga resmi seperti BAZNAS)
Ini sangat dianjurkan, karena:
Lebih merata dan terdata
Menghindari salah sasaran
Sesuai praktik zaman Rasulullah SAW, di mana zakat dikelola oleh petugas (amil)
Allah sendiri memasukkan amil sebagai bagian dari penerima zakat (QS. At-Taubah: 60), artinya sistem pengelolaan itu diakui dalam syariat.

Di zaman Nabi SAW, para sahabat tidak membagikan zakat sesuka hati, tetapi diserahkan kepada petugas yang ditunjuk.

Kedua, boleh langsung diberikan kepada yang berhak
Jika seseorang tahu dengan yakin ada fakir miskin yang sangat membutuhkan, maka boleh langsung diberikan, bahkan bisa lebih utama dalam kondisi tertentu, misalnya:
Ada tetangga kelaparan
Ada keluarga yang sangat membutuhkan
Ada orang yang malu meminta. 

Rasulullah SAW bersabda:
“Sedekah kepada orang miskin bernilai satu sedekah, sedangkan kepada kerabat bernilai dua: sedekah dan silaturahmi.” (HR. Tirmidzi no. 658)

MANA YANG LEBIH UTAMA?

Jawabannya: tergantung kondisi
Jika ingin tertib, luas, dan merata → melalui amil / BAZNAS lebih utama
Jika ada orang yang sangat butuh di depan mata → berikan langsung
Yang penting:
tepat sasaran dan ikhlas karena Allah

KISAH NYATA RENUNGAN
Ada seorang petani, setiap panen dia selalu menyerahkan zakatnya ke amil. Suatu hari, dia tergoda membagikan sendiri karena merasa lebih tahu siapa yang butuh.
Namun ternyata, ada satu keluarga fakir yang selama ini hanya terdata di amil—tidak pernah meminta, tidak pernah terlihat. Tahun itu mereka tidak menerima apa-apa.
Dari situ dia sadar:
kadang yang paling membutuhkan justru yang tidak terlihat.

PENUTUP
Zakat bukan sekadar memberi, tapi menyalurkan amanah Allah.
Jika salah sasaran, kita tidak sedang membantu—
kita sedang menahan hak orang lain.

Maka pastikan:
tahu siapa yang berhak
pilih cara penyaluran terbaik
dan luruskan niat hanya karena Allah
Karena di setiap harta kita… ada hak orang lain yang menunggu ditunaikan.

Sabtu, 18 April 2026

Bayar Zakat Dagang Maka Berkahnya Terus Mengalir

Bayar Zakat Dagang Maka Berkahnya Terus Mengalir

Sholallaahu ‘ala Muhammad

Ada seorang pedagang kecil di pasar. Tapi setiap genap setahun dan hartanya cukup, ia keluarkan zakat tanpa menunda. Orang lain heran, “Untungmu saja pas-pasan, kenapa masih berzakat?”
Ia menjawab pelan, “Justru karena ingin cukup… dan diberkahi.”

Beberapa tahun berlalu, dagangannya berkembang. Bukan hanya besar, tapi juga penuh ketenangan. Ia tidak pernah merasa kekurangan, meski kadang untung tidak terlalu banyak.

Ini rahasia zakat perdagangan.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik…” (QS. Al-Baqarah: 267)

Dan Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak akan berkurang harta karena sedekah.” (HR. Muslim no. 2588)

Apa itu zakat perdagangan?

Zakat yang dikeluarkan dari harta hasil usaha atau jual beli, seperti toko, warung, reseller, online shop, dan usaha lainnya.

Kapan wajib zakat dagang?

Ketika Hartanya mencapai nisab (setara 85 gram emas)
Sudah berjalan 1 tahun (haul)

Berapa yang dikeluarkan?

Sebesar 2,5% dari total harta dagangan bersih (yaitu: modal + keuntungan + piutang yang bisa ditagih, dikurangi utang)

Kenapa zakat dagang penting?
Karena dalam setiap keuntungan, ada hak orang lain.

Kalau ditunaikan, jadi berkah.
Kalau ditahan, bisa jadi sebab sempitnya rezeki.

Ada kisah lain, Seorang pedagang besar pernah bangkrut. Setelah direnungi, ternyata ia lalai dari zakat bertahun-tahun. Saat ia mulai memperbaiki, menunaikan zakat dengan sungguh-sungguh, Allah bukakan kembali jalan rezekinya perlahan tapi pasti.

Pesan untuk kita semua. 
Jangan tunggu kaya untuk berzakat. Karena zakat itulah yang membuka jalan menuju kecukupan.

Kalau hari ini kita masih berdagang,  coba renungkan
“Sudahkah harta ini bersih di hadapan Allah?”

Semoga usaha kita bukan hanya besar di dunia, tapi juga menyelamatkan kita di akhirat.

DOA KHATAM AL-QUR’AN (LATIN + TERJEMAH)


DOA KHATAM AL-QUR’AN (LATIN + TERJEMAH)

Allahummarhamnii bil-Qur’aan, waj’alhu lii imaaman wa nuuran wa hudan wa rahmah.
Allahumma dzakkirnii minhu maa nasiitu, wa ‘allimnii minhu maa jahiltu, warzuqnii tilaawatahu aanaal-layli wa athraafan-nahaar, waj’alhu lii hujjatan yaa Rabbal ‘aalamiin.
Allahumma ashlih lii diinii alladzii huwa ‘ishmatu amrii, wa ashlih lii dunyaaya allatii fiihaa ma’aasyii, wa ashlih lii aakhiratii allatii ilaihaa ma’aadii, waj’alil hayaata ziyaadatan lii fii kulli khair, waj’alil mauta raahatan lii min kulli syarr.
Allahumma ij’alnaa min ahlil Qur’aan alladziina hum ahluka wa khaashatuk.
Allahumma ij’alil Qur’aana rabii’a quluubinaa, wa nuura shuduurinaa, wa jalaa’a ahzaaninaa, wa dzahaaba humuuminaa wa ghumuuminaa.
Allahumma nawwir bihi quluubanaa, wa syrah bihi shuduuranaa, wa yassir bihi umuuranaa, wa aslih bihi ahwaalanaa.
Allahumma irfa’naa bil-Qur’aan, wa laa tadha’naa bil-Qur’aan, wa akrimnaa bil-Qur’aan, wa laa tuhinnaa bil-Qur’aan, wa a’thinaa bil-Qur’aan, wa laa tahrimnaa bil-Qur’aan.
Allahumma aj’alnaa mimman yuhillu halaalahu wa yuharrimu haraamahu, wa ya’malu bimuhkamatihi, wa yu’minu bimutasyabihatih.
Allahumma ij’alnaa mimman yaqra’ul Qur’aana fayartaquu bihii fii darajaatil jannaat, hatta yablugha aakhira aayatin yaqra’uhaa.
Allahumma syaffi’hu fiinaa yaumal qiyaamah, waj’alhu lanaa imaaman wa nuuran wa hudan ilaa jannatika jannatin na’iim.
Allahumma-ghfir lanaa wa liwaalidiinaa wa li-asaatidzinaa wa liman lahaaqqun ‘alainaa, wa lil-muslimiina wal-muslimaat, wal-mu’miniina wal-mu’minaat, al-ahyaa’i minhum wal-amwaat.
Allahumma taqabbal minna tilaawatanaa, wa du’aa-anaa, wa shalaatanaa, wa ruku’anaa wa sujuudanaa, innaka Antas-Samii’ul ‘Aliim, wa tub ‘alainaa innaka Antat-Tawwaabur Rahiim.
Subhaana Rabbika Rabbil ‘izzati ‘ammaa yashifuun, wa salaamun ‘alal mursaliin, walhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin.
Terjemahan:
Ya Allah, rahmatilah aku dengan Al-Qur’an, dan jadikan ia sebagai imam, cahaya, petunjuk dan rahmat bagiku.
Ya Allah, ingatkan aku terhadap apa yang aku lupa darinya, ajarkan aku apa yang aku belum ketahui, dan karuniakan aku kemampuan membacanya di waktu malam dan siang, serta jadikan ia sebagai hujjah (pembela) bagiku, wahai Tuhan seluruh alam.
Ya Allah, perbaikilah agamaku yang menjadi penjaga urusanku, perbaikilah duniaku yang menjadi tempat kehidupanku, dan perbaikilah akhiratku yang menjadi tempat kembaliku. Jadikan hidupku sebagai tambahan dalam setiap kebaikan, dan jadikan kematian sebagai istirahat dari segala keburukan.
Ya Allah, jadikan kami termasuk أهل القرآن (orang-orang yang dekat dengan Al-Qur’an), yaitu golongan-Mu yang istimewa.
Ya Allah, jadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hati kami, cahaya dada kami, penghapus kesedihan kami, dan penghilang kegelisahan kami.
Ya Allah, terangilah hati kami dengannya, lapangkan dada kami dengannya, mudahkan urusan kami dengannya, dan perbaikilah keadaan kami dengannya.
Ya Allah, angkatlah derajat kami dengan Al-Qur’an, jangan Engkau hinakan kami dengannya, muliakan kami dengannya, jangan Engkau rendahkan kami dengannya, berilah kami dengannya, dan jangan Engkau halangi kami darinya.
Ya Allah, jadikan kami termasuk orang yang menghalalkan apa yang dihalalkan Al-Qur’an dan mengharamkan apa yang diharamkannya, mengamalkan ayat-ayatnya yang jelas, dan beriman kepada ayat-ayatnya yang samar.
Ya Allah, jadikan kami termasuk orang yang membaca Al-Qur’an lalu naik derajatnya di surga, hingga mencapai ayat terakhir yang dibacanya.
Ya Allah, jadikan Al-Qur’an memberi syafaat bagi kami pada hari kiamat, dan jadikan ia sebagai imam, cahaya, dan petunjuk bagi kami menuju surga-Mu yang penuh kenikmatan.
Ya Allah, ampunilah kami, kedua orang tua kami, guru-guru kami, dan orang-orang yang berjasa kepada kami, serta seluruh kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.
Ya Allah, terimalah bacaan kami, doa kami, salat kami, ruku’ dan sujud kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
Maha Suci Tuhanmu, Tuhan Yang Maha Perkasa dari apa yang mereka sifatkan.
Salam sejahtera atas para rasul.
Dan segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.

Jumat, 17 April 2026

TERUSLAH BERTAUBAT(sampai kau bosan berbuat maksiat)

TERUSLAH BERTAUBAT
(sampai kau bosan berbuat maksiat)
Sholalla ‘ala Muhammad

Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap anak Adam pasti bersalah, dan sebaik-baik yang bersalah adalah yang bertaubat.”
(HR. At-Tirmidzi)

Allah berfirman:
“Bertaubatlah kamu kepada Allah agar kamu beruntung.”
(QS. An-Nur: 31)

Ada kisah Seorang laki-laki telah membunuh 100 orang. Namun ketika ia ingin bertaubat, ia mencari jalan kebaikan. Dalam perjalanan menuju lingkungan yang baik, ia meninggal dunia… dan Allah tetap mengampuninya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Seorang ahli maksiat tersentuh hatinya saat mendengar ayat:
“Belumkah datang waktunya hati tunduk kepada Allah?”
(QS. Al-Hadid: 16)
Sejak itu ia menangis… lalu berubah menjadi ahli ibadah.

Tak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni.
Yang ada hanya hati yang belum mau kembali.
“Sesungguhnya kebaikan menghapus keburukan.”
(QS. Hud: 114)

Maka… jangan lelah istighfar.
Allah tidak pernah bosan mengampuni.
Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin…
Sholalla ‘ala Muhammad