Laqadja akum rasulum


web stats

Sabtu, 07 Februari 2026

Bermimpilah Setinggi Langit, Lalu Menangislah di Hadapan Allah

Bermimpilah Setinggi Langit, Lalu Menangislah di Hadapan Allah

Bermimpilah…
meski mimpimu terasa keterlaluan  dan membuat orang lain tersenyum sinis.
Karena mimpi tidak butuh persetujuan manusia.
Ia hanya butuh keyakinan di dada.

Lalu bawalah mimpi itu ke tempat paling sunyi:
ke atas sajadah, di antara dua sujud, saat hanya ada engkau dan Allah.

Allah berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan.” (QS. Ghafir: 60)

Allah tidak bertanya,
“Masuk akal atau tidak?”
Allah hanya melihat,
“Seberapa yakin hamba-Ku kepada-Ku?”

Ada doa yang terlalu besar untuk diucapkan keras-keras.
Tapi Allah mendengar bahkan ada doa yang hanya bergetar di hati tak luput dari Allaah. 

Rasulullah SAW bersabda:
“Berdoalah kepada Allah dengan penuh keyakinan.”
(HR. Tirmidzi)

Jangan kecilkan doa hanya karena keadaan terlihat sempit. Jangan potong harapan hanya karena logika manusia berkata,
“Mustahil.”

Bagi Allah, yang mustahil hanyalah satu:
jika hamba berhenti berharap.

Lihatlah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
Usianya telah renta,
harapannya nyaris tinggal cerita.
Namun ia tetap berdoa.
Dan Allah membalasnya dengan kehidupan baru.
“Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan seorang anak.”
(QS. Ash-Shaffat: 101)

Doa tidak pernah mengenal kata terlambat.
Ia hanya menunggu waktu yang tepat.

Ada orang berdoa sambil menahan malu.
Takut doanya terlalu tinggi.
Padahal ALLAH MENYUKAI DOA YANG BESAR, KARENA DOA BESAR MENANDAKAN KEYAKINAN BESAR.

Rasulullah SAW bersabda:
“Mintalah surga Firdaus.”
(HR. Bukhari)

Jika surga tertinggi saja boleh diminta, mengapa rezeki, jalan hidup, dan kebahagiaan
justru kita kecilkan?

Mimpi besar bukan untuk dipamerkan. Ia untuk diperjuangkan dalam diam.
Dengan sabar.
Dengan sujud yang lama.
Dengan air mata yang jujur.

Karena sering kali,
Allah mengabulkan doa bukan untuk mengubah keadaan seketika, tetapi untuk menguatkan hati agar kita sanggup menunggu.

Dan kelak, saat doa itu benar-benar menjadi nyata,
kita akan tersenyum sambil berkata pelan:
“Dulu aku hanya berani bermimpi.

Hari ini aku bersyukur…
karena Allah mengabulkannya dengan cara-Nya yang paling indah.”

Semoga tulisan ini menjadi penguat bagi siapa pun yang sedang bermimpi dan belum melihat jawabannya.

Kisah Hidup Seperti Jalan Raya Terasa Menggetarkan

Kisah Hidup Seperti Jalan Raya Terasa Menggetarkan

Pertama,  Seorang sopir truk lintas provinsi di Jawa pernah ditanya temannya,
“Ngapain berhenti? Tidak ada polisi, tidak ada kendaraan.”
Ia menjawab pelan,
“Aku berhenti bukan karena polisi, tapi karena aturan. Kalau aku biasakan melanggar saat sepi, aku akan melanggar saat ramai.”

Beberapa bulan kemudian, di persimpangan besar yang ramai, justru ia selamat dari kecelakaan beruntun karena kebiasaannya patuh rambu.

Sopir lain yang terbiasa ‘nerobos’ justru celaka.
Inilah potret orang yang taat kepada Allah bukan karena diawasi manusia, tapi karena sadar selalu diawasi Allah.

“Bukankah Dia mengetahui apa yang tersembunyi?”
(QS. Al-Mulk: 14)

Kedua, kisah pemuda yang ngebut mengejar waktu.
Seorang pemuda di kota besar selalu memacu motor karena takut terlambat kerja. Suatu pagi ia berkata,
“Yang penting cepat sampai.”
Hari itu ia sampai… tapi ke rumah sakit. Kakinya patah, pekerjaannya hilang.
Di ranjang rumah sakit ia menangis,
“Andai aku pelan sedikit.”

Banyak orang hidup seperti ini— mengejar dunia, jabatan, harta— tanpa mengerem nafsu. 

Padahal Rasulullah SAW mengingatkan,
“Bukanlah kekayaan itu karena banyak harta, tetapi kekayaan adalah kaya jiwa.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga, kisah sopir bus malam dan lampu kecil.
Seorang sopir bus antarkota bercerita:
“Lampu utama bus pernah mati di jalan gunung yang gelap. Yang menyelamatkan kami hanya lampu kecil darurat.”

Ia lalu berkata,
“Iman itu seperti lampu. Walau kecil, kalau tetap menyala, kita masih tahu arah.”

Begitulah orang beriman. Mungkin ilmunya sedikit, amalnya belum banyak, tapi iman yang dijaga mampu menuntun di jalan gelap kehidupan.

“Allah adalah Pelindung orang-orang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya.”
(QS. Al-Baqarah: 257)

Keempat, kisah orang yang menepi untuk memperbaiki rem.
Ada pengendara yang rela berhenti lama di bahu jalan demi memperbaiki rem, sementara yang lain terus melaju dan menertawakannya.
Tak lama, di turunan tajam, kendaraan tanpa rem itu celaka.
Orang yang berhenti itu seperti orang yang bertobat. Ia menunda kesenangan demi keselamatan.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Dan yang paling sunyi…
kisah jenazah di pinggir jalan.
Seorang ustaz pernah berkata,
“Berapa banyak jenazah yang diantar lewat jalan raya hari ini, sementara mereka kemarin masih menjadi pengendara.”

Tak ada yang tahu di kilometer ke berapa hidup kita berhenti.
Maka jika hari ini Allah membuat kita melambat, diberi rambu, bahkan ditegur dengan ujian—itu bukan untuk menghalangi perjalanan, tapi agar kita tidak celaka di akhir jalan.

Hidup ini memang jalan raya.
Dan orang bijak bukan yang paling cepat, tapi yang paling siap saat sampai tujuan.

KEHIDUPAN ITU SEPERTI JALAN RAYA

KEHIDUPAN ITU SEPERTI JALAN RAYA

Bayangkan…
Sejak lahir, kita sudah “masuk jalan”. Setiap hari kita melaju, entah pelan atau kencang.

Pertama, setiap orang punya jalur masing-masing.
Ada jalan lurus dan mulus, ada yang berlubang dan berkelok. 

Allah tidak menyamakan kondisi, tapi menyamakan tujuan: apakah kita tetap menuju arah yang benar.

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.”
(QS. Al-Balad: 10)

Kedua, ada rambu dan aturan.
Di jalan raya, siapa yang melanggar lampu merah pasti berisiko celaka. Dalam hidup, rambu itu adalah Al-Qur’an dan sunnah. Larangan bukan untuk mengekang, tapi untuk menyelamatkan.

“Dan inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain yang mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.”
(QS. Al-An‘am: 153)

Ketiga, kecepatan tidak menjamin selamat.

Di jalan, yang ngebut sering justru paling rawan kecelakaan. Dalam hidup, yang tergesa mengejar dunia, sering lupa mengerem hawa nafsu.

Rasulullah SAW bersabda,
“Tenang dan perlahan itu dari Allah, tergesa-gesa itu dari setan.” (HR. Tirmidzi)

Keempat, kita butuh lampu dan rem.

Lampu adalah iman— agar tahu arah di tengah gelap. Rem adalah takwa— agar berhenti saat hampir jatuh ke dosa. Tanpa keduanya, kendaraan sehebat apa pun bisa hancur.

Kelima, setiap jalan pasti ada persimpangan.

Kadang kita harus memilih: lurus atau belok, sabar atau marah, jujur atau curang. Di persimpangan itulah kualitas iman diuji.

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar.”
(QS. At-Talaq: 2)

Dan yang paling menggetarkan…
Di ujung jalan raya kehidupan, ada pos pemeriksaan terakhir.

Semua kendaraan berhenti. Tidak ditanya seberapa cepat, tapi apakah kita taat aturan.

“Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang segala kenikmatan.”
(QS. At-Takatsur: 8)

Maka jika hari ini jalannya terasa macet, berlubang, atau membuat lelah… jangan putus asa. Yang penting bukan siapa yang paling cepat sampai, tapi siapa yang selamat sampai tujuan.

Karena hidup bukan soal ngebut di dunia,
tapi selamat tiba di akhirat.

Jangan Sampai Malam Ini Berlalu Tanpa Taubat


Jangan Sampai Malam Ini Berlalu Tanpa Taubat

Malam ini aku duduk sendiri.
Lampu redup, dunia sepi.
Dan untuk pertama kalinya hari ini, aku benar-benar jujur pada diriku sendiri.

Aku teringat firman Allah:
“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)

Ayat itu terasa seperti pelukan.
Bukan teguran keras, tapi panggilan penuh kasih.
Seolah Allah berkata,
“Aku tahu dosamu, tapi Aku juga tahu air matamu.”
Dulu ada seorang lelaki di zaman Nabi SAW.

Dosanya besar, hidupnya penuh salah.
Namun suatu malam, ia duduk menangis dan berkata,
“Ya Allah, jika Engkau tidak mengampuniku, ke mana lagi aku harus pulang?”

Nabi SAW bersabda:
“Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya daripada seseorang yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir.” (HR. Muslim)

Bayangkan…
Allah bergembira.
Bukan sekadar menerima, tapi bergembira saat seorang hamba kembali. Lalu aku menunduk. Aku merasa kecil.

Karena sering kali aku tahu Allah Maha Pengampun,
tetapi aku menunda taubat
seolah umur ini milikku sendiri.

Aku teringat ayat lain:
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)

Ayat itu tidak menakutkan,
tapi jujur.
Ia tidak berkata kapan,
karena justru di situlah ujian kita.

Hasan Al-Basri pernah berkata,
“Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari.
Setiap satu hari berlalu,
maka sebagian dari dirimu ikut pergi.”

Malam ini aku bertanya pada hatiku:
berapa bagian diriku yang sudah hilang,
sementara aku belum sungguh-sungguh kembali?
Rasulullah SAW— manusia paling suci—
masih beristighfar lebih dari 70 kali sehari.

Padahal dosanya telah diampuni.
Lalu aku…
yang lalainya bertumpuk,
yang sujudnya sering terburu-buru, yang lisannya lebih sibuk dengan dunia daripada menyebut nama Allah.

Maka malam ini,
aku tak ingin tidur dengan kesombongan kecil bernama “nanti”.
Aku ingin menutup hari dengan satu pengakuan:
“Ya Allah, aku lemah.”
Jika air mata ini jatuh,
biarlah ia menjadi saksi di hadapan-Mu.
Bahwa aku pernah takut kehilangan-Mu.
Bahwa aku pernah rindu diampuni.
Bahwa aku ingin pulang, meski tertatih.

Karena aku yakin pada satu janji-Mu:
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat.”
(QS. Al-Baqarah: 222)

Malam ini,
jika aku masih Engkau beri nafas, maka terimalah taubatku.

Dan jika malam ini adalah yang terakhir,
biarlah aku pulang dalam keadaan berharap pada rahmat-Mu.

HIDUP BERIMBANG

HIDUP BERIMBANG

Sore ini, ada sebuah kisah untuk membuka hati kita.
Ada seorang petani tua. Pagi hingga siang ia bekerja di sawah, menanam, memupuk, dan membersihkan rumput.

Menjelang sore, ketika matahari mulai condong, ia berhenti. Ia membersihkan diri, menunaikan salat, lalu duduk sebentar menatap langit yang memerah.
Ketika ditanya, “Kenapa tidak dilanjutkan saja, kan cuaca masih bagus?”
Ia tersenyum dan berkata,
“Tanaman butuh pupuk agar tumbuh. Hati juga butuh disirami, agar tidak kering.”

Seharian kita mengejar dunia.
Bekerja, berikhtiar, berjuang demi nafkah dan tanggung jawab. Itu baik. Itu mulia.
Namun…
sudahkah hari ini kita menimbangnya dengan akhirat?

Apakah tangan yang sibuk mencari rezeki sempat terangkat untuk berdoa?
Apakah lisan yang lelah berbicara urusan dunia
sempat basah menyebut nama Allaah?
Apakah hati yang penuh target dan rencana sempat kita kosongkan sejenak untuk mengingat tujuan pulang?

Dunia bukan untuk ditinggalkan, tetapi akhirat jangan sampai dilupakan.
Karena hidup yang seimbang
bukan tentang banyaknya harta yang digenggam,
melainkan tentang tenangnya hati saat matahari tenggelam.

Petang ini, mari kita periksa bekal. Bukan hanya apa yang kita kumpulkan, tetapi juga apa yang kita persembahkan.

Jumat, 06 Februari 2026

Selama Masih Pagi, Masih Ada Harapan

Selama Masih Pagi, Masih Ada Harapan

Pagi ini kita bangun.
Masih bisa menarik napas.
Masih bisa membuka mata.
Itu bukan hal kecil.
Karena banyak yang tidur semalam, tapi tidak sempat melihat pagi.

Allah berfirman:
“Dan Dialah yang menjadikan malam sebagai pakaian dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangkit berusaha.”
(QS. Al-Furqan: 47)

Selama masih diberi pagi,
artinya hidup belum ditutup.
Kesalahan belum dikunci.
Doa belum ditolak.
Tak apa kalau kemarin berat.
Tak apa kalau langkah pernah salah.
Pagi ini Allah memberi kita waktu lagi.

Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap anak Adam sering berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.”
(HR. Tirmidzi)

Maka pagi ini,
jangan hanya sibuk mengejar dunia.
Awali dengan syukur.
Perbaiki niat.
Dan luruskan langkah.
Karena selama masih pagi,
selama itu pula harapan belum dicabut. 

MALAM INI KITA BELAJAR DARI SEBUAH KISAH

MALAM INI KITA BELAJAR DARI SEBUAH KISAH

Seorang pria tua pernah bercerita dengan suara pelan.
Hidupnya penuh kegagalan menurut ukuran manusia.
Usaha jatuh, hutang menumpuk, anak-anaknya hidup pas-pasan.
Namun ada satu hal yang tidak pernah ia tinggalkan: salat tepat waktu dan menjaga lisannya.
Ia berkata,
“Saya tidak tahu kapan Allah menolong, tapi setiap malam saya tidur dengan hati yang ringan. Besok boleh susah, asal hari ini saya tidak meninggalkan Allah.”
Tahun-tahun berlalu.
Bukan hartanya yang tiba-tiba melimpah,
tetapi ketenangan yang membuat hidupnya tetap utuh.
Dan justru dari ketenangan itulah, pintu demi pintu rezeki dibukakan Allah perlahan, tanpa ia duga.

Sering kali kita ingin pertolongan Allah datang sekarang juga.
Padahal Allah lebih dulu ingin menguatkan hati kita, bukan sekadar mengubah keadaan.
Allah berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra‘d: 28)
Ketenangan hati bukan hadiah bagi orang yang hidupnya sempurna,
tetapi bagi orang yang tetap bersandar kepada Allah meski hidupnya belum selesai.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya.”
(HR. Muslim)
Baik saat diberi, ia bersyukur.
Baik saat diuji, ia bersabar.
Keduanya mendekatkan kepada Allah.

Jika malam ini masalahmu belum terjawab,
jangan buru-buru kecewa.
Bisa jadi Allah sedang:
– menenangkan jiwamu,
– membersihkan niatmu,
– atau menyiapkan jawaban yang lebih baik dari yang kau minta.
Tenanglah.
Allah tidak pernah tidur,
dan doa yang dipanjatkan di malam hari tidak pernah sia-sia.