Air Mata di Penghujung Ramadhan
Cerpen: oleh Ismilianto
Petang itu langit mulai memerah. Angin bertiup pelan, seolah ikut mengantar hari-hari terakhir Ramadhan yang hampir pergi.
Di beranda rumahnya, Hasan duduk sendirian. Tangannya memegang tasbih, tetapi lisannya lama terdiam.
Tiba-tiba ia menghela napas panjang. “Ya Allah… kenapa baru sekarang aku merasa begini?”
Sejak awal Ramadhan, Hasan sebenarnya berniat memperbanyak ibadah. Ia ingin rajin ke masjid, membaca Al-Qur’an, dan bangun malam untuk tahajud.
Namun hari demi hari berlalu begitu saja. Kadang karena lelah, kadang karena sibuk, kadang karena merasa masih ada waktu.
Awalnya ia berkata dalam hati, “Masih awal Ramadhan.”
Lalu beberapa hari kemudian ia berkata lagi, “Nanti saja di sepuluh hari terakhir.”
Tetapi kini sepuluh malam terakhir hampir berlalu.
Masjid mulai ramai dengan orang-orang yang beri’tikaf, sementara ia baru menyadari betapa banyak waktu yang telah hilang.
Sore itu, ketika ia membuka Al-Qur’an, hatinya tiba-tiba terasa sangat berat. Ia membaca firman Allah:
“Syahru Ramadhan alladzi unzila fihil Qur’an, hudan linnas…”
Artinya: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Air mata Hasan jatuh di atas halaman mushaf.
Ia teringat ceramah seorang ustaz yang pernah ia dengar. Ustaz itu mengatakan:
“Orang yang paling menyesal adalah orang yang melewati Ramadhan, tetapi dosanya tidak diampuni.”
Bahkan Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Celakalah seseorang yang menjumpai Ramadhan, lalu Ramadhan berlalu sebelum dosanya diampuni.” (HR. Tirmidzi)
Hasan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Ya Allah… apakah aku termasuk orang itu?”
Di masjid dekat rumahnya terdengar suara anak-anak membaca Al-Qur’an. Lampu-lampu mulai menyala. Orang-orang berjalan menuju masjid untuk shalat Magrib.
Hasan berdiri perlahan.
Hatinya bergetar.
“Belum terlambat… Ramadhan masih ada.”
Ia mengambil wudhu dengan air mata yang masih mengalir.
Untuk pertama kalinya di Ramadhan itu, ia merasa benar-benar takut kehilangan ampunan Allah.
Malam itu Hasan pergi ke masjid lebih awal. Ia duduk lama setelah shalat Magrib, membaca Al-Qur’an yang selama ini jarang ia buka.
Di dalam hatinya hanya ada satu doa:
“Ya Allah… mungkin Ramadhan ini hampir pergi, tapi jangan biarkan aku pergi tanpa ampunan-Mu.”
Petang itu Hasan belajar satu hal yang sangat mahal harganya:
Ramadhan tidak pernah kembali dua kali.
Tetapi pintu taubat selalu terbuka… sampai nafas terakhir kita berhenti.
Karena penyesalan paling menyakitkan adalah ketika Ramadhan pergi, sementara hati kita belum sempat kembali kepada Allah.