Laqadja akum rasulum


web stats

Sabtu, 28 Februari 2026

Doa Besar yang Dikabulkan

Doa Besar yang Dikabulkan

Di sebuah Ramadan, ada seorang lelaki tua sederhana. Ia tak dikenal siapa-siapa. Namun setiap menjelang berbuka, ia selalu duduk tenang dan berdoa lama dengan mata basah.
“Amalan apa yang kau jaga?” tanya seseorang.
Ia menjawab, “Doa saat berbuka. Karena saat itu Allah paling dekat.”
Hidupnya pun lapang. Bukan karena banyak amalan besar, tapi karena satu amalan kecil yang dijaga dengan yakin.
Ramadan mengajarkan kita:
bukan tentang memperbanyak yang berat,
melainkan menjaga yang sering diremehkan—
doa saat berbuka, istighfar di sela lelah, meluruskan niat, serta menjaga lisan dan hati.
Karena Allah menilai ketulusan,
bukan keramaian ibadah.
Menjelang berbuka ini,
amalan kecil apa yang sedang kita jaga dengan sepenuh hati? 

LIMA KALI PANGGILAN Cerpen: oleh Ismilianto

“LIMA KALI PANGGILAN”
Cerpen: oleh Ismilianto

“Bangun.”
Suara itu tidak keras.
Justru tenang.
Dan itulah yang membuatnya ngeri.
“Aku… aku belum tidur, kan?” gumam lelaki itu. Tangannya meraba. Tanah. Dingin. Basah. Sempit.
“Engkau sudah selesai dengan dunia.”
“Tidak… tidak mungkin! Aku masih punya rencana! Aku masih—”
“—masih meninggalkan salat.”
Sunyi.
Hanya napasnya yang memburu.
“Siapa kamu?” suaranya bergetar.
Tanah di depannya bergerak. Retak. Dari celah itu, muncul kepala licin tanpa rambut. Mata besar. Kosong. Taringnya berkilat.
Ia menjerit.
“JANGAN DEKAT-DEKAT!”
“Aku tidak datang,” desis makhluk itu, “aku dipanggil.”
“Dipanggil siapa?!”
“Olehmu.”
“BOHONG!” Ia meronta. “Aku orang baik! Aku puasa! Aku sedekah!”
Ular itu mendekat setapak. Kubur menyempit.
“Baik menurut siapa?”
“Aku tidak jahat!”
“Benar. Tapi kau sombong.”
“Kau pikir kebaikanmu cukup menggantikan sujud.”
Ia terdiam. Tenggorokannya kering.
“Aku hanya… kadang lalai,” katanya lirih. “Allah Maha Pengampun…”
Ular itu mengangkat kepalanya.
“Kau mengucapkan itu setiap azan.”
“Subuh?”
“Kau memilih selimut.”
“Zuhur?”
“Kau bilang nanti.”
“Asar?”
“Kau tunda.”
“Magrib?”
“Kau sibuk.”
“Isya?”
“Kau tertidur.”
Setiap kata membuat tanah makin menekan dadanya.
“Aku… aku mau salat sekarang!” teriaknya. “Aku janji!”
Ular itu berhenti tepat di depan wajahnya.
“Sekarang?”
“Sekarang kau hanya bisa menerima.”
BUKK!!
Ekor menghantam. Tulangnya remuk. Jeritannya pecah—lalu tubuhnya kembali utuh.
“AAAAAA—!”
“Kau tahu yang paling menyakitkan?” kata ular itu dingin.
“Bukan pukulanku.”
“Lalu… apa…?”
“Kesadaran bahwa setiap azan dulu adalah kesempatan.”
“Dan kau melewatinya… satu per satu.”
Ia menangis.
“Berapa lama ini…?”
Ular itu melingkar, menutup jalan, menutup cahaya.
“Sampai panggilan terakhir dibunyikan.”
“Dan itu… masih lama.”
Hantaman kembali turun.
Dan lagi.
Dan lagi.
Tidak ada kematian.
Tidak ada tidur.
Hanya pengulangan.
Di dunia, azan terdengar lima kali.
Di kubur, ia menjelma satu suara…
yang tak pernah berhenti.
Karena salat yang ditinggalkan
tak hilang—
ia menunggu.

SUARA dalam KUBUR Cerpen: oleh Ismilianto

SUARA DARI DALAM KUBUR
Cerpen: oleh Ismilianto

“Bangun.”
Suara itu berat. Dalam. Bergema dari segala arah.
“A-aku di mana…?” lelaki itu terengah, mencoba menggerakkan tubuhnya. Gelap. Sempit. Dadanya sesak.
“Di tempat kebenaran,” jawab suara itu dingin.
“Siapa… siapa kamu?!”
Dua cahaya menyala di hadapannya. Mata. Besar. Menyala kehijauan. Dari balik tanah yang bergerak, muncul sosok yang membuat napasnya berhenti.
Seekor ular. Besar. Kepalanya botak licin. Taringnya panjang, meneteskan cairan hitam.
“J-jangan dekat-dekat!” teriaknya panik. “Aku orang baik! Aku tak pernah mencuri! Aku bantu tetangga!”
Ular itu mendesis pelan, lalu tertawa.
“Orang baik…? Lalu di mana salatmu?”
Ia terdiam.
“Aku… aku sibuk. Aku capek. Allah Maha Pengampun, kan?”
BUM!
Ekor ular itu menghantam dadanya. Tubuhnya remuk. Hancur. Seketika tersusun kembali.
Ia menjerit.
“AAARGH!! Cukup! Tolong! Aku janji mau salat! Aku mau berubah!”
Ular itu mendekat, wajahnya hanya sejengkal dari wajah lelaki itu.
“Terlambat.”
“Siapa… siapa kamu sebenarnya…?” isaknya.
Ular itu menjawab pelan, menusuk lebih tajam dari taringnya.
“Aku adalah salat Subuh yang kau tinggalkan karena tidur.”
“Aku adalah Zuhur yang kau anggap mengganggu pekerjaan.”
“Aku adalah Asar yang kau tunda sampai matahari jatuh.”
“Aku adalah Magrib yang kau tukar dengan obrolan.”
“Dan aku adalah Isya yang kau lupakan… setiap malam.”
“Tidak… tidak…!” Ia menangis, tubuhnya gemetar. “Bukankah aku masih puasa…?”
Ular itu tertawa keras, tanah kubur bergetar.
“Puasa tanpa salat hanyalah lapar tanpa taat.”
Lelaki itu menutup wajahnya.
“Aku mohon… beri aku satu kesempatan saja…”
Ular itu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi.
“Kesempatanmu bernama hidup.
Dan kau telah menghabiskannya.”
DUARR!!
Pukulan kembali menghantam. Jeritan memecah kesunyian kubur—namun tak ada satu pun makhluk yang mendengar. Tidak istri. Tidak anak. Tidak sahabat.
Hanya tanah.
Dan azab yang tak berhenti.
Kubur tak pernah berbohong.
Ia hanya mengulang apa yang dulu kita abaikan.
Karena di dunia kita bisa berdalih,
namun di kubur…
amal berbicara, dan mulut dikunci.

Jumat, 27 Februari 2026

ANTARA ADZAN DAN PENANTIAN Cerpen: oleh Ismilianto

ANTARA ADZAN DAN PENANTIAN
Cerpen: oleh Ismilianto

Ramadhan itu ia jalani seperti biasa. Puasa, iya.
Tarawih, kadang-kadang. 
Taubat, nanti saja.
“Masih banyak Ramadhan berikutnya,” katanya suatu malam, sambil menunda sujud yang seharusnya panjang.

Hari itu ia wafat…
di antara adzan Magrib dan niat berbuka.

Ketika mata terbuka kembali, ia berdiri di sebuah tempat yang asing.

Tidak panas seperti neraka,
tidak sejuk seperti surga.

Ia melihat surga… dekat sekali. 

Ia juga melihat neraka… nyata dan mengerikan.

Di sanalah ia sadar:
ini A‘raf. Sebuah tempat penantian, sebagaimana firman Allah:
“Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada dinding, dan di atas A‘raf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dengan tanda-tandanya…”
(QS. Al-A‘raf: 46)

Ia melihat penghuni surga tersenyum dalam ketenteraman,
dan penghuni neraka merintih dalam penyesalan.

Sedangkan dirinya… tertahan.

Amal-amalnya diperlihatkan.
Puasa yang ia jaga, namun shalat yang sering ia tunda.
Sedekah yang ia niatkan,
namun taubat yang selalu ia tangguhkan.

Di dunia, ia merasa baik-baik saja. Di A‘raf, dadanya sesak.
Ia mendengar jeritan dari neraka, lalu lisannya bergetar, memohon seperti yang Allah gambarkan:

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama kaum yang zalim.”
(QS. Al-A‘raf: 47)

Baru di sini ia mengerti,
bahwa menunda taubat bukanlah kelalaian kecil,
melainkan pertaruhan besar.

Ia ingin kembali. Hanya satu sujud saja. Hanya satu istighfar yang jujur.
Hanya satu malam Ramadhan yang benar-benar ia hidupkan.

Namun tidak ada jalan pulang.
Ia teringat sabda Rasulullah SAW:
“Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan.” (HR. Tirmidzi)

Di A‘raf, hadis itu berubah menjadi kenyataan yang menyayat:
kesempatan telah habis.

Di sanalah ia belajar pelajaran paling pahit:
waktu adalah nikmat terbesar yang sering disia-siakan atas nama ‘nanti’.

Sebagaimana peringatan dalam Al-Qur'an, manusia sering tertipu oleh angan-angan panjang, sampai kematian datang tanpa janji.

Kini ia hanya bisa berharap,
bukan pada amal yang ia banggakan, tetapi pada rahmat Allah semata.

Ramadhan di dunia masih berjalan.
Adzan Magrib masih berkumandang.
Kesempatan taubat masih terbuka.
Namun Ramadhan baginya…
telah berakhir.

Kamis, 26 Februari 2026

Bahtera yang Ditertawakan (Dari kisah istri Nabi Nuh) Cerpen: oleh Ismilianto

Bahtera yang Ditertawakan
(Dari kisah istri Nabi Nuh) 
Cerpen: oleh Ismilianto

Palu itu berbunyi sejak matahari naik hingga senja.
Di tanah kering, seorang lelaki tua membangun bahtera—sendirian.
Perempuan itu, istri Nabi Nuh, berdiri di pintu rumah.
Bukan kagum yang tumbuh, tapi malu.
Kaumnya menertawakan.
Ia ikut tersenyum.
Zaman itu adalah zaman syirik.
Manusia menyembah berhala: Wadd, Suwa‘, Yaghuts, Ya‘uq, dan Nasr.
Tauhid dianggap ancaman, kebenaran dianggap kegilaan.
Ia tahu suaminya jujur.
Ia tahu dakwah itu benar.
Namun ia memilih aman di mata manusia.
Kekafirannya bukan zina.
Bukan pembunuhan.
Tetapi penolakan iman dan ejekan terhadap kebenaran.
Saat hujan turun, ia masih berdiri bersama pencemooh.
Saat air naik, ia masih yakin:
“Aku istri nabi.”
Namun air tidak mengenal status.
Air hanya mengenal perintah Allah.
Dan ketika dadanya dipenuhi air terakhir,
ia sadar—
iman yang ditolak seumur hidup
tak bisa dikejar di detik terakhir.
Ayat Penutup:
“Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir: istri Nuh dan istri Luth…”
(QS. At-Tahrim: 10)
Hadis Penguat:
“Barang siapa mati dalam keadaan mempersekutukan Allah, maka ia masuk neraka.”
(HR. Muslim)
Renungan Malam Pertama:
Dekat dengan orang saleh tidak menjamin keselamatan
bila hati menolak iman.
🌙 MALAM RAMADHAN KEDUA
Perempuan yang Membela Kota Dosa
Kota itu hidup dari malam.
Apa yang dulu memalukan, kini dibanggakan.
Laki-laki mendatangi laki-laki.
Dosa disebut kebebasan.
Ia, istri Nabi Luth, tahu semua itu salah.
Ia mendengar peringatan.
Ia tahu azab bukan cerita kosong.
Namun kekafirannya bukan ikut berbuat,
melainkan membela dan memberi jalan.
Ia memberi isyarat.
Ia membocorkan rahasia tamu.
Ia berkata dalam hati,
“Biarlah, ini urusan mereka.”
Malam itu perintah datang:
pergi tanpa menoleh.
Ia melangkah…
tapi hatinya tertinggal di kota dosa.
Ia menoleh—
bukan karena lupa,
tetapi karena ridha terhadap keburukan.
Langit menurunkan batu panas.
Kota itu musnah.
Ia binasa bukan karena ikut melakukan,
tetapi karena membenarkan dan membela dosa.
Ayat Penutup:
“Maka Kami hujani mereka dengan batu. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa.”
(QS. Al-A‘raf: 84)
Hadis Penguat:
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah…”
(HR. Muslim)
Renungan Malam Kedua:
Diam terhadap kemungkaran,
apalagi membelanya,
adalah tanda rusaknya iman.
🌙 MALAM RAMADHAN KETIGA
Doa yang Mengalahkan Istana
Istana itu berkilau,
namun penuh kezaliman.
Suaminya adalah Fir'aun—
mengaku tuhan,
membunuh bayi,
menindas manusia.
Namun di sudut istana,
seorang perempuan menyimpan iman.
Asiyah memilih Allah.
Ia tahu risikonya:
disiksa,
bahkan dibunuh.
Fir‘aun murka.
Ia menyiksanya hingga tubuhnya hancur.
Namun di detik akhir, Asiyah berdoa:
“Ya Rabb, bangunkan untukku rumah di sisi-Mu di surga.”
Allah memperlihatkan rumah itu.
Senyum pun menutup napasnya.
Sementara Fir‘aun tenggelam di laut.
Ia beriman saat sekarat—
namun terlambat.
Tubuhnya diselamatkan sebagai pelajaran,
ruh­nya disiksa hingga hari kiamat.
Ayat Penutup:
“Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang beriman: istri Fir‘aun…”
(QS. At-Tahrim: 11)
Hadis Penguat:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)
Renungan Malam Ketiga:
Lingkungan paling rusak
tak mampu mematikan iman
yang benar-benar hidup.
🌙 PENUTUP SERI RAMADHAN
Tiga malam.
Tiga perempuan.
Tiga akhir kehidupan.
Yang satu binasa karena menolak iman.
Yang satu hancur karena membela dosa.
Yang satu mulia karena memilih Allah meski tersiksa.
Ramadhan bertanya pada kita:
di pihak siapa kita berdiri hari ini?

Sobatku semua, mari kita urai persoalan seperti ini.

Sobatku semua, mari kita urai persoalan seperti ini. 

Pertama, penting bagi kita menahan emosi dan melihat persoalan ini dengan kepala dingin.

Isu rangkap jabatan dan penegakan hukum memang sensitif, karena menyentuh rasa keadilan masyarakat kecil.

Kedua, setiap kasus sejatinya perlu dibaca dalam konteks aturan yang berlaku.
Apa yang terjadi pada guru honorer di Probolinggo dan pada pejabat di Jakarta seharusnya diuji dengan standar hukum yang sama, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Ketiga, kritik publik adalah hal yang wajar dalam negara hukum.
Namun kritik yang paling kuat adalah yang disampaikan dengan adab, data, dan niat menjaga kebaikan bersama, bukan sekadar melampiaskan kekecewaan.

Keempat, masyarakat berhak berharap agar hukum tidak tajam ke bawah dan tumpul ke atas, melainkan tegak lurus bagi siapa pun—baik rakyat kecil maupun pejabat tinggi.

Dalam Islam, keadilan adalah fondasi kekuasaan dan hukum. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.”
(QS. An-Nisa: 58)

Amanah jabatan bukan sekadar legalitas administratif, tetapi tanggung jawab moral dan spiritual. Jabatan yang menumpuk, jika menimbulkan konflik kepentingan atau ketidakadilan, berpotensi menjadi beban hisab di akhirat.

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa kehancuran umat-umat terdahulu terjadi ketika hukum hanya tegas kepada yang lemah, namun longgar kepada yang berkuasa. 

Ini peringatan agar keadilan tidak dipilih-pilih berdasarkan status sosial.

Islam juga mengajarkan empati sosial. Guru honorer yang hidup dalam keterbatasan dan pejabat dengan fasilitas berlimpah sama-sama akan berdiri di hadapan Allah tanpa gelar dan jabatan. 

Yang membedakan hanyalah amanah yang ditunaikan dan keadilan yang ditegakkan.

Maka, kegelisahan publik atas kasus seperti ini sejatinya adalah doa agar negeri ini dijaga oleh hukum yang adil, pemimpin yang amanah, dan sistem yang tidak melukai rasa keadilan rakyatnya.

Rabu, 25 Februari 2026

Paket Doa Pendek, Tulus, Dan Kuat Untuk Anak Dan Cucu,

Paket Doa Pendek, Tulus, Dan Kuat Untuk Anak Dan Cucu,

Setiap setelah Subuh dan Magrib.

Doa pertama – ilmu dan pemahaman agama

Allahumma faqqihhum fid-dīn wa ‘allimhum at-ta’wīl.
Artinya:
“Ya Allah, pahamkanlah mereka dalam urusan agama dan ajarkanlah kepada mereka pemahaman.”

Doa kedua – akhlak dan hati yang baik

Allahumma ihdihim wa aṣliḥ qulūbahum wa ḥassin akhlāqahum.
Artinya:
“Ya Allah, berilah mereka petunjuk, perbaikilah hati mereka, dan indahkanlah akhlak mereka.”

Doa ketiga – masa depan dan keberkahan hidup

Allahummaj‘alhum min aṣ-ṣāliḥīn, mubārakīna aynamā kānū.
Artinya:
“Ya Allah, jadikanlah mereka termasuk orang-orang yang saleh dan penuh keberkahan di mana pun mereka berada.”

Doa keempat – perlindungan dari keburukan zaman

Allahumma iḥfaẓhum min bayni aidīhim wa min khalfihim wa ‘an aimānihim wa ‘an syamā’ilihim.
Artinya:
“Ya Allah, lindungilah mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka.”

Doa kelima – penutup penuh harap

Rabbanā hablana min azwājinā wa dzurriyyātinā qurrata a‘yun, waj‘alnā lil-muttaqīna imāmā.
Artinya:
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”