Laqadja akum rasulum


web stats

Selasa, 10 Februari 2026

PIDATO TERBUKA UNTUK NEGERI Oleh: Ismilianto

PIDATO TERBUKA UNTUK NEGERI
Oleh: Ismilianto

“Ilmu Ada, Tapi Tak Memimpin Arah Bangsa”
Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air,
Saya berbicara hari ini
bukan sebagai orang besar,
bukan sebagai pemegang kuasa,
tetapi sebagai rakyat biasa
yang rindu melihat negerinya benar-benar maju.
Kita semua tahu,
tenaga kerja melimpah,
sarjana banyak,
tetapi pengangguran juga banyak.
Pertanyaannya sederhana:
di mana yang salah?
Mari kita bandingkan dengan Jepang.
Jepang tidak kaya tanah.
Jepang tidak kaya tambang.
Tapi Jepang kaya arah dan keberanian.
Teknologi pertanian mereka lahir dari sawah.
Profesor mereka turun ke ladang.
Peneliti mereka bekerja untuk produksi.
Ilmu tidak berhenti di kertas,
tapi menjelma mesin, alat, dan lapangan kerja.
Sementara di negeri kita,
pertanian masih dikerjakan dengan cara lama,
alat buatan anak bangsa berhenti di prototipe,
dan hasil riset sering mati di rak laporan.
Bukan karena petani kita bodoh.
Bukan karena mahasiswa kita malas.
Tetapi karena ilmu tidak memimpin kebijakan.
Saudara-saudara,
Mari kita bicara jujur dan terbuka.
Di negeri ini,
berapa profesor yang memimpin arah negara?
Berapa profesor yang menjadi ketua DPR?
Ketua DPD?
Ketua MPR?
Hampir tidak ada.
Akibatnya apa?
Keputusan besar tentang pendidikan, riset, pertanian, dan industri
sering dibuat tanpa napas keilmuan yang dalam.
Ilmu ada di kampus.
Kekuasaan ada di gedung lain.
Keduanya jarang bertemu.
Padahal kemajuan bangsa
lahir ketika ilmu dan kekuasaan berjalan bersama.
Di Jepang, profesor duduk di lingkar pengambil keputusan.
Peneliti menentukan arah industri.
Negara melindungi hasil riset menjadi produksi nasional.
Di Indonesia,
banyak profesor hanya jadi penonton kebijakan,
sementara rakyat menanggung akibatnya.
Saudara-saudara,
Ini bukan soal gelar.
Ini soal arah kepemimpinan.
Kalau yang memutuskan kebijakan
tidak hidup dengan dunia riset,
tidak paham teknologi,
tidak menyentuh sawah dan pabrik,
maka keputusan sering jauh dari kebutuhan rakyat.
Akibatnya jelas:
pertanian lambat maju,
industri nasional lemah,
dan anak muda kehilangan harapan.
Kami rakyat kecil ingin berkata dengan sopan tapi tegas:
negeri ini butuh kepemimpinan yang berilmu dan berpihak.
Ilmu jangan hanya mengajar.
Ilmu harus memimpin.
Ilmu harus menentukan arah kebijakan.
Kalau profesor diberi ruang memimpin,
kalau peneliti dilibatkan menentukan arah negara,
kalau kampus disatukan dengan kekuasaan demi rakyat,
maka pertanian akan bangkit,
industri akan tumbuh,
dan lapangan kerja akan terbuka.
Indonesia tidak kekurangan orang pintar.
Yang kurang adalah keberanian menempatkan ilmu di kursi pengambil keputusan.
Ini bukan tuntutan golongan.
Ini jeritan masa depan.
Kami ingin negeri yang maju
bukan karena janji,
tetapi karena kebijakan yang berilmu dan berpihak pada rakyat.
Itu suara kami.
Suara rakyat yang rindu kemakmuran.

Jangan Masuk Kampus Hanya untuk Pulang Membawa IjazahOleh: Ismilianto

Jangan Masuk Kampus Hanya untuk Pulang Membawa Ijazah
Oleh: Ismilianto

Anak-anakku, para mahasiswa baru…

Hari ini kalian melangkah ke kampus dengan mata berbinar. Orang tua kalian bangga. Keluarga kalian menaruh harapan.
Dan kalian pun membawa mimpi masing-masing.

Tapi izinkan saya berpesan pelan, kampus bukan sekadar tempat mengumpulkan SKS dan menunggu wisuda.

Ada seorang mahasiswa baru, seperti kalian.
Ia selalu duduk rapi, mencatat semua materi, menghafal semua teori.
IPK-nya tinggi.
Namun ia tidak pernah bertanya, tidak pernah berdebat, tidak pernah berbeda.
Empat tahun berlalu.
Ia lulus dengan ijazah di tangan, tapi gemetar saat harus mengambil keputusan sendiri.

Ia siap bekerja, namun belum siap memimpin dirinya sendiri.
Di sinilah banyak kampus—tanpa disadari—berubah menjadi pabrik ijazah.
Mahasiswa diproses agar patuh, bukan dilatih agar berani berpikir.

Anak-anakku,
jangan jadikan dirimu sekadar buruh berpakaian rapi.
Jangan bangga hanya karena bisa menjawab soal ujian,
tapi gagap saat hidup memberi ujian.

Belajarlah bukan hanya dari dosen, tetapi dari kegelisahanmu sendiri.

Bacalah lebih banyak dari yang diwajibkan.
Bertanyalah meski pertanyaanmu dianggap aneh.
Gagalilah dengan berani,
karena kegagalan di bangku kuliah jauh lebih murah daripada kegagalan dalam kehidupan.

Ada mahasiswa yang sejak awal sadar.
Ia tidak menunggu lulus untuk berpikir.
Ia tidak menunggu gelar untuk berbuat.

Hari ini, ia bukan sekadar pencari kerja, ia adalah pencipta jalan hidupnya sendiri.

Anak-anakku,
ijazah hanyalah tiket.
Yang menentukan perjalananmu adalah cara berpikirmu.

Masuklah kampus dengan niat belajar hidup,
bukan sekadar belajar bekerja.
Dan ingatlah,
bangsa ini tidak kekurangan orang pintar,
tetapi sangat membutuhkan manusia berani dan berakal merdeka.

Petang ini, selamat datang di dunia mahasiswa.
Jadilah pembelajar sejati,
bukan produk pabrik bernama pendidikan.

Senin, 09 Februari 2026

Gen-Z atau Generasi Z

Gen-Z atau Generasi Z adalah generasi yang lahir kira-kira sejak pertengahan 1990-an sampai awal 2010-an. Mereka sering disebut anak zaman digital, karena sejak kecil sudah hidup berdampingan dengan internet, gawai, dan media sosial.
Berikut uraian ringkas tapi menyentuh tentang Gen-Z.
Pertama, lahir di dunia serba cepat
Gen-Z tumbuh saat informasi mengalir deras. Mereka terbiasa dengan kecepatan: chat dibalas cepat, video singkat, hasil instan. Karena itu mereka cerdas menyaring informasi, tapi juga mudah lelah bila terlalu banyak tekanan.
Kedua, melek teknologi, kreatif, dan adaptif
Bagi Gen-Z, teknologi bukan alat, tapi bagian dari hidup. Mereka cepat belajar aplikasi baru, kreatif membuat konten, dan berani mencoba hal yang belum pernah ada. Banyak usaha, gerakan sosial, dan dakwah kreatif lahir dari tangan Gen-Z.
Ketiga, peduli makna, bukan sekadar harta
Berbeda dengan anggapan malas, banyak Gen-Z justru keras pada diri sendiri. Mereka bekerja bukan hanya demi uang, tapi juga makna, kesehatan mental, dan keseimbangan hidup. Mereka berani berkata “cukup” pada hal yang merusak jiwa.
Keempat, jujur mengekspresikan perasaan
Gen-Z lebih terbuka soal luka batin, kecemasan, dan pencarian jati diri. Mereka ingin didengar, bukan dihakimi. Jika diarahkan dengan kasih sayang, mereka bisa tumbuh menjadi generasi yang kuat secara emosional dan spiritual.
Kelima, haus teladan, bukan ceramah panjang
Gen-Z tidak anti nasihat, tapi mereka lebih percaya pada contoh nyata. Keteladanan, kejujuran, dan konsistensi jauh lebih berpengaruh daripada kata-kata indah.
Penutup renungan
Gen-Z bukan generasi rusak. Mereka adalah amanah zaman. Jika dibimbing dengan hikmah, disentuh dengan empati, dan dikuatkan dengan nilai iman, Gen-Z bisa menjadi generasi yang bukan hanya pintar, tapi juga beradab dan berakhlak.

Bolehkah Komite Sekolah terlibat membangun gedung laboratorium?


Bolehkah Komite Sekolah terlibat membangun gedung laboratorium?

Boleh dengan syarat tertentu.
Komite Sekolah tidak dilarang mendukung pembangunan sarana prasarana, termasuk laboratorium, selama tidak melanggar prinsip sukarela dan akuntabilitas.
Dasar hukumnya tetap Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016.
Kedua, posisi Komite Sekolah dalam pembangunan
Komite Sekolah bukan pelaksana teknis proyek.
Perannya adalah:
• memberi pertimbangan kebutuhan pembangunan
• membantu mencarikan dukungan masyarakat atau dunia usaha
• mengawasi agar prosesnya transparan dan sesuai aturan
Pelaksana pembangunan tetap sekolah atau pemerintah daerah, sesuai kewenangannya.
Ketiga, sumber dana yang diperbolehkan
Dana pembangunan laboratorium tidak boleh berasal dari pungutan wajib orang tua/wali murid.
Yang diperbolehkan:
• sumbangan sukarela dari orang tua/wali murid
• bantuan masyarakat
• CSR dunia usaha/dunia industri
• hibah lembaga atau perorangan
• bantuan pemerintah (APBD/APBN)
Catatan penting:
Sumbangan harus tanpa paksaan, tanpa nominal, dan tanpa batas waktu.
Keempat, mekanisme yang benar dan aman hukum
Agar tidak bermasalah, idealnya alurnya seperti ini:
pertama, sekolah menyusun rencana kebutuhan laboratorium (proposal, RAB, desain)
kedua, rencana dibahas bersama Komite Sekolah
ketiga, Komite Sekolah menyampaikan dukungan dan membantu komunikasi ke masyarakat/mitra
keempat, jika ada sumbangan masyarakat, dicatat secara terbuka dan dilaporkan
kelima, pembangunan dikelola sekolah atau pemerintah daerah
keenam, Komite Sekolah melakukan pengawasan dan evaluasi
Kelima, pengelolaan uangnya bagaimana?
Uang tidak boleh dikelola pribadi oleh pengurus Komite Sekolah.
Pilihan yang paling aman:
• dana masuk ke rekening sekolah atau
• rekening resmi yang disepakati dan diaudit
Semua pemasukan dan pengeluaran wajib:
• diumumkan
• bisa diperiksa
• dipertanggungjawabkan
Keenam, contoh pelanggaran yang sering terjadi (dan harus dihindari)
• menentukan iuran per siswa untuk bangunan lab
• memberi tenggat waktu pembayaran
• mengaitkan sumbangan dengan nilai, layanan, atau kelulusan
• Komite bertindak sebagai kontraktor proyek
Semua ini melanggar Permendikbud 75/2016 dan berpotensi masalah hukum.
Ketujuh, rumus kalimat aman untuk sosialisasi ke wali murid
Ini sering dibutuhkan, saya berikan contoh kalimatnya:
“Pembangunan laboratorium ini merupakan kebutuhan sekolah. Partisipasi masyarakat bersifat sukarela, tidak ditentukan jumlah maupun waktunya, dan tidak memengaruhi hak peserta didik dalam layanan pendidikan.”

Komite Sekolah

Komite Sekolah tidak diatur dalam satu Undang-undang khusus, tetapi diatur melalui Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional dan peraturan turunannya.
Landasan hukumnya sebagai berikut.
Pertama, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas)
Dalam UU ini, peran serta masyarakat dalam pendidikan ditegaskan secara jelas.
Komite Sekolah diposisikan sebagai wadah partisipasi masyarakat untuk meningkatkan mutu, pemerataan, dan akuntabilitas pendidikan.
Rujukan pentingnya terdapat pada:
Pasal 56 ayat (1):
“Masyarakat berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan yang meliputi perencanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan.”
Ayat ini menjadi roh keberadaan Komite Sekolah: bukan sebagai penguasa sekolah, bukan pula sebagai penarik dana, tetapi sebagai mitra strategis.
Kedua, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah
Inilah aturan teknis yang paling utama dan masih berlaku hingga sekarang.
Dalam Permendikbud ini ditegaskan bahwa:
Komite Sekolah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orang tua/wali peserta didik, tokoh masyarakat, dan pakar pendidikan.
Tujuan pembentukannya antara lain:
• meningkatkan mutu layanan pendidikan
• mewujudkan transparansi dan akuntabilitas
• memperkuat peran serta masyarakat
Ketiga, Fungsi Komite Sekolah menurut Permendikbud 75/2016
Komite Sekolah berfungsi sebagai:
• pemberi pertimbangan (advisory agency)
• pendukung (supporting agency)
• pengontrol (controlling agency)
• mediator antara sekolah dan masyarakat
Perlu digarisbawahi dengan tegas:
Komite Sekolah tidak boleh melakukan pungutan.
Keempat, Larangan tegas bagi Komite Sekolah
Dalam Pasal 10 Permendikbud 75/2016 disebutkan:
Komite Sekolah dilarang melakukan pungutan dari peserta didik atau orang tua/walinya.
Yang diperbolehkan hanyalah:
• sumbangan
• bantuan
dan itu pun harus:
• bersifat sukarela
• tidak mengikat
• tidak ditentukan jumlah dan waktunya
• tidak menjadi syarat kelulusan atau layanan pendidikan
Kelima, Kedudukan Komite Sekolah yang sering disalahpahami
Komite Sekolah bukan:
• kepanjangan tangan kepala sekolah
• alat legitimasi pungutan
• pengelola keuangan sekolah
Komite Sekolah adalah mitra kritis dan moral, yang menjaga agar sekolah tetap berjalan sesuai aturan, adil, dan berpihak pada peserta didik.

NASIHAT UNTUK SISWA SMA NEGERI 4 MANNA pada ultah ke 35 tahun 2026, oleh: Ismilianto

NASIHAT UNTUK SISWA SMA NEGERI 4 MANNA pada ultah ke 35 tahun 2026, oleh: Ismilianto

Anak-anakku…
Siswa-siswi SMA Negeri 4 Manna yang saya banggakan!
Hari ini saya berdiri di hadapan kalian sebagai orang tua kalian di sekolah,
yang pernah memimpin SMA Negeri 4 Manna selama tiga tahun beberapa tahun lalu. 

Anak-anakku!
Saya ingin kalian jadi sukses. 
Tetapi ingat! Sukses itu tidak jatuh dari langit! Sukses itu dibangun dengan disiplin, dengan akhlak, dibangun dengan ketaatan!

Anak-anakku!
Belajarlah! Dengan tekun. 
Dan hati yang bersih!

Tahukah kalian…
Bung Karno pernah berkata,
“Berikan aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia!”

Dan tahukah kalian…
B.J. Habibie, ilmuwan besar kebanggaan bangsa ini,
memiliki kebiasaan  yang dahsyat:
setiap malam membaca Al-Qur’an sebelum belajar.

Karena ia ingin hatinya terang
sebelum pikirannya bekerja!
Dan lihatlah hasilnya!
Allah angkat ilmunya!
Allah angkat derajatnya!

Anak-anakku!
Hormatilah guru-gurumu!
Guru bukan musuh!
Guru adalah orang yang ingin engkau lebih berhasil. 

Jangan biasakan melawan!
Jangan sedikit-sedikit melaporkan ke ranah hukum!
Teguran guru adalah cinta!
Teguran guru adalah doa yang belum sempat diucapkan!

Dan di rumah…
Taatilah orang tuamu!
Ingat! Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua!

Anak-anakku!
Taatlah kepada Allah!
Jagalah shalat tepat waktu!
Jangan tunggu tua untuk taat!
Jangan tunggu susah untuk berdoa! Shalat itu bukan beban! Shalat itu penolong!

Anak-anakku!
Sekarang dengarkan baik-baik pesan saya ini…
Ketahuilah!
Perguruan tinggi di negeri kita, sebagian besar MASIH MENCETAK PENCARI KERJA,
BUKAN PENCIPTA LAPANGAN KERJA!
Akibatnya apa?
Setelah wisuda…
mereka antre! Dan menunggu!
berharap dipekerjakan negara! Sebagai: ASN! TNI! POLRI!

Bukan salah!
Bukan hina!
Itu profesi mulia!
Tetapi kalau semua ingin dilayani negara,
siapa yang membangun bangsa ini?!

Lihatlah kenyataan!
Dokter menjadi buruh kesehatan, bekerja dari rumah sakit ke rumah sakit!
Insinyur menjadi buruh mesin dan pabrik, pintar, tapi tidak diarahkan mencipta teknologi sendiri! Lihatlah teknologi pertanian di negeri sakura. 

Sarjana ekonomi menjadi buruh bank,
akuntan menjadi buruh pencatat angka dan pelaporan, BUKAN PEMIKIR EKONOMI BANGSA!

Anak-anakku!
Ini bukan untuk merendahkan profesi!
Ini untuk membangunkan kesadaran!
Jangan batasi mimpimu hanya sebagai pencari kerja!
Mulailah bertanya:
“Apa yang bisa aku ciptakan?”
“Masalah apa yang bisa aku selesaikan?”
“Lapangan kerja apa yang bisa aku buka?”

Sekolah dan kuliah bukan pabrik ijazah! Tetapi pabrik pemikiran!

Ilmu harus membuatmu mandiri!
Ilmu harus membuatmu berani!
Ilmu harus membuatmu bermanfaat!

Dan ingat!
Jangan sombong!
Jangan angkuh!
Jangan merasa paling hebat!
Kepintaran bisa hilang!
Jabatan bisa lepas!
Harta bisa habis!

Tetapi berakhlak baik
akan menyelamatkanmu
di mana pun engkau berdiri!

Anak-anakku!
Jadilah generasi SMA Negeri 4 Manna yang berani bermimpi besar, yang selalu taat kepada Allah, hormat kepada guru dan orang tua, dan hidup untuk memberi manfaat!

Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar!
Bangsa ini kekurangan
orang yang mencipta lapangan kerja. 

Dan jika itu ada pada diri kalian— maka yakinlah!
Dari sekolah ini…
akan lahir pengguncang zaman!
akan lahir pemimpin masa depan!
akan lahir manusia-manusia yang dibanggakan bumi
dan dimuliakan langit! Aamiin. 
Merdeka!
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 

Malam Terakhir yang Tak Pernah Dijadwalkan Cerpen: Ismilianto

Malam Terakhir yang Tak Pernah Dijadwalkan
Cerpen: Ismilianto

Malam itu hujan turun pelan, seperti sengaja tidak ingin mengganggu siapa pun. 

Aku duduk di teras, memandangi lampu jalan yang berkedip lelah. Tanganku menggenggam secangkir kopi yang sudah dingin, tapi pikiranku jauh lebih dingin dari itu.

Entah kenapa, dadaku terasa sesak tanpa sebab yang jelas.
Aku baru saja selesai menghitung rencana hidup.
Hutang yang belum lunas.
Rumah yang ingin direnovasi.
Janji pada anak cucu yang belum sempat kutepati.

Aku tersenyum kecil.
Lucu sekali manusia.
Selalu merasa masih punya waktu.

Di kejauhan terdengar azan Isya. Aku berdiri perlahan, melangkah ke dalam rumah. Di sajadah yang mulai kusam, aku berdiri menghadap-Nya. 

Tak ada doa panjang malam itu. Hanya satu kalimat yang keluar dari bibirku, lirih dan gemetar,
“Ya Allah… jika malam ini Engkau memanggilku, ampunilah aku.”

Air mataku jatuh tanpa komando. Aku teringat seorang tetangga lama. Lelaki sederhana, bajunya biasa, hidupnya juga biasa.

Tapi setiap selesai salat, ia duduk lama. Kadang menangis. Pernah aku bertanya kenapa.
Ia menjawab pelan,
“Aku tidak takut mati. Aku takut mati sebelum sempat benar-benar pulang.”

Kalimat itu dulu terasa berlebihan.
Malam ini… terasa menampar.

Aku sadar, selama ini aku rajin meminta: rezeki, kesehatan, umur panjang.
Tapi jarang sekali meminta hati yang siap bertemu Allah.

Padahal, Allah tidak pernah berjanji memanggil kita saat hidup sudah rapi.

Malam makin larut. Hujan berhenti. Angin menyisakan dingin. Aku kembali ke teras, memandang langit yang gelap tanpa bintang.

Jika malam ini adalah yang terakhir, aku ingin pulang bukan sebagai hamba yang merasa banyak amal,
tapi sebagai hamba yang mengaku banyak salah.

Di sudut hati, ada ketenangan aneh.
Seperti seseorang yang akhirnya berani mengetuk pintu rumahnya sendiri.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama,
aku tidak meminta apa-apa.
Aku hanya berharap, Allah masih mau menerimaku
sebagai hamba yang terlambat sadar, tapi tidak berhenti berharap.
Tamat.