SETETES AIR DI HARI SENIN
Cerpen: oleh Ismilianto
Malam itu masjid kampung dipenuhi jamaah. Lantunan shalawat menggema lembut. Wajah-wajah tua dan muda tampak khusyuk mendengarkan kisah tentang kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Seorang ustaz sepuh berdiri di depan jamaah.
Beliau memulai ceramahnya dengan sebuah pertanyaan.
"Siapakah musuh Rasulullah SAW yang namanya diabadikan dalam Al-Qur'an?"
Jamaah serempak menjawab,
"Abu Lahab."
Ustaz itu mengangguk.
"Lalu tahukah kita, bahwa ada sebuah riwayat yang menyebutkan Abu Lahab mendapat keringanan azab setiap hari Senin karena pernah bergembira saat Nabi Muhammad SAW lahir?"
Masjid mendadak hening.
Beliau pun mulai berkisah.
Ketika Nabi Muhammad SAW lahir, seorang budak perempuan bernama Tsuwaibah bergegas menemui tuannya, Abu Lahab.
"Wahai tuanku, bergembiralah. Saudaramu Abdullah telah dikaruniai seorang putra."
Mendengar kabar itu, Abu Lahab sangat senang. Bayi yang lahir itu adalah keponakannya sendiri.
Karena gembira, ia memerdekakan Tsuwaibah sebagai hadiah atas berita tersebut.
Waktu terus berjalan.
Muhammad tumbuh menjadi seorang pemuda yang jujur dan terpercaya. Kemudian Allah mengangkat beliau sebagai Rasul-Nya.
Namun ironisnya, Abu Lahab justru menjadi salah satu penentang dakwah yang paling keras.
Ia mencaci Rasulullah SAW, menghalangi manusia mengikuti Islam, dan memusuhi beliau hingga akhir hayatnya.
Karena itulah Allah menurunkan firman-Nya:
"Tabbat yadaa abii lahabiw wa tabb." (QS. Al-Lahab: 1)
Abu Lahab meninggal dalam keadaan tidak beriman.
Beberapa waktu setelah kematiannya, salah seorang keluarganya bermimpi melihatnya.
Dalam mimpi itu Abu Lahab tampak sangat menderita.
Tubuhnya berada dalam kesengsaraan yang sulit digambarkan.
Lalu ia ditanya,
"Apa yang engkau dapatkan setelah kematianmu?"
Abu Lahab menjawab,
"Aku tidak menemukan kebaikan apa pun setelah mati. Aku berada dalam azab. Namun setiap hari Senin, azabku diringankan dan aku diberi setetes air yang dapat membasahi tenggorokanku. Itu karena dahulu aku bergembira atas kelahiran Muhammad dan memerdekakan Tsuwaibah."
Ketika kisah itu selesai diceritakan, suasana masjid menjadi sunyi.
Tak sedikit jamaah yang menundukkan kepala.
Ustaz itu kemudian berkata dengan suara pelan,
"Saudara-saudaraku, perhatikanlah. Abu Lahab adalah orang yang kafir dan memusuhi Rasulullah SAW. Namun kegembiraannya atas kelahiran Nabi tidak diabaikan begitu saja."
Beliau berhenti sejenak.
Air mata tampak menggenang di pelupuk matanya.
"Lalu bagaimana dengan seorang mukmin yang mencintai Rasulullah SAW, memperbanyak shalawat, menghadiri majelis ilmu, bersedekah, dan berusaha mengikuti sunnah beliau? Tentu kita berharap Allah memberikan rahmat yang jauh lebih besar."
Di saf paling belakang, seorang lelaki tua menangis.
Ia teringat puluhan tahun hidupnya.
Betapa sering ia sibuk mengejar dunia, tetapi jarang bershalawat.
Betapa sering ia mengaku mencintai Nabi SAW, tetapi masih lalai menjalankan sebagian ajaran beliau.
Malam itu ia mengangkat kedua tangannya.
"Ya Allah, aku tidak pernah melihat Rasul-Mu. Aku tidak hidup di zamannya. Tetapi aku mencintainya. Jangan pisahkan aku darinya di akhirat nanti."
Lantunan shalawat kembali bergema.
Suara tangis beberapa jamaah terdengar di sudut-sudut masjid.
Malam Maulid itu mengajarkan satu pelajaran yang sangat dalam:
Jika kegembiraan seorang musuh Nabi atas kelahiran beliau saja disebut dalam riwayat mendapat keringanan, maka seorang mukmin hendaknya lebih bersungguh-sungguh menunjukkan cintanya kepada Rasulullah ﷺ dengan iman, shalawat, akhlak mulia, dan mengikuti sunnahnya.
Karena cinta sejati kepada Rasulullah SAW bukan hanya dirayakan pada malam Maulid, tetapi dibuktikan setiap hari hingga akhir hayat.
Sebagaimana sabda Nabi SAW:
"Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Semoga Allah menjadikan kita termasuk umat Nabi Muhammad SAW yang memperoleh syafaat beliau, diterangi kuburnya, dan dikumpulkan bersama beliau di surga. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.