Laqadja akum rasulum


web stats

Minggu, 15 Februari 2026

TIMBANGAN YANG TAK PERNAH DIBERIKAN Cerpen: oleh Ismilianto

TIMBANGAN YANG TAK PERNAH DIBERIKAN
Cerpen: oleh Ismilianto

Namanya sering disebut orang sebagai orang baik.
Dermawan, kata mereka.
Suka membantu kalau ada acara. Tak pelit— asal tidak diminta rutin.

Setiap tahun, ia berhitung cermat.
Bukan tentang untung rugi dagang, tapi tentang bagaimana zakat tidak terasa sebagai kewajiban.

“Ini kan usaha saya,” katanya pelan. “Saya yang kerja. Saya yang capek.”

Ia tetap bersedekah.
Sesekali. Sewaktu ingin dipuji.

Namun zakat…
selalu ditunda.
Selalu dicari celah.

Suatu sore, di toko yang sepi, seorang lelaki tua datang.
Bajunya lusuh, tangannya gemetar.
“Pak,” katanya sopan,
“anak saya sakit. Saya dengar Bapak orang baik.”

Ia terdiam. Bukan karena tak mampu. Tapi karena hatinya menghitung. Ia memberi sedikit. Cukup agar tetap terlihat baik. Tak cukup untuk benar-benar menolong.

Malamnya, ia bermimpi.
Ia berdiri di sebuah padang luas. Tak ada toko.
Tak ada buku catatan.
Di hadapannya, ada sebuah timbangan besar.

Di satu sisi, hartanya menggunung.
Emas. Uang. Sertifikat.
Berat. Mengkilap.
Di sisi lain… kosong.
Ia menoleh panik.

“Mana zakatku?”
Tak ada yang menjawab.

Lalu satu suara pelan terdengar—bukan menghakimi, tapi menelanjangi:
“Itu bukan milikmu.”

Timbangan itu miring.
Berat sebelah.
Ia berteriak,
“Aku bersedekah! Aku membantu!”

Suara itu menjawab,
“Kau memberi saat ingin dipuji. Bukan saat diwajibkan.”

Ia terbangun dengan napas terengah.
Keringat dingin.
Subuh belum tiba.

Ia duduk lama menatap gelap.
Pagi itu, ia datang ke lembaga zakat.

Tangannya gemetar saat menyebut angka.
Bukan karena jumlahnya besar.
Tapi karena untuk pertama kalinya, hartanya terasa kembali ringan. 

Dan sejak hari itu,
ia belajar satu hal:
Zakat bukan membuat kita miskin.

Zakat menyelamatkan harta
dari menjadi saksi yang memberatkan.

SAJADAH YANG TAK PERNAH MENGENALNYA Cerpen: oleh Ismilianto

SAJADAH YANG TAK PERNAH MENGENALNYA
Cerpen: oleh Ismilianto

Ia tak pernah meninggalkan salat. Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, Isya—lengkap.
Di masjid. Di rumah. Di perjalanan.

Semua tahu, ia “orang salat”.
Namun tak ada yang tahu,
bahwa sajadah di sudut kamarnya tak pernah mengenalnya.

Setiap takbir, tubuhnya berdiri.
Tapi pikirannya masih di kantor.

Setiap rukuk, punggungnya tunduk. Tapi egonya tetap tegak.

Ia hafal bacaan.
Lancar. Cepat.
Seolah sedang mengejar sesuatu— bukan ridha, tapi selesai.

Suatu pagi, ia terlambat Subuh berjamaah.
Masjid sudah sepi.
Hanya suara kipas tua dan bau karpet basah. Ia berdiri sendiri. Takbir. Namun tiba-tiba dadanya sesak.

Bukan sakit.
Tapi sunyi yang menampar.
“Apa kabar?”
Entah dari mana suara itu datang.

Bukan suara telinga— suara hati.
“Kapan terakhir kau datang… bukan untuk menggugurkan wajibnya?”

Ia terdiam di antara takbir dan Al-Fatihah.
Lidahnya kelu.
Ia sadar, selama ini salatnya tak pernah meminta.
Tak pernah menangis.
Tak pernah jujur.

Ia berdiri di hadapan Tuhan,
tapi sibuk membawa dunia masuk ke dalam saf.

Dalam rukuk, matanya basah.
Dalam sujud, bahunya bergetar.

Ia lupa kapan terakhir kali sujudnya lama.
Bukan karena lupa bacaan—
tapi karena takut jujur.

Di sujud terakhir, ia berbisik:
“Ya Allah…
jika salatku selama ini hanya gerakan, jangan Engkau catat sebagai pertemuan dengan-Mu.”

Air matanya jatuh ke sajadah.
Dan untuk pertama kalinya,
sajadah itu mengenalnya.

Ia tak berubah jadi ustaz.
Tak jadi orang suci.
Tapi sejak hari itu,
ia tak lagi mengejar selesai.
Ia mengejar hadir bertemu Allah. 

KALIMAT TERAKHIR Cerita: oleh Ismilianto

KALIMAT TERAKHIR
Cerita: oleh Ismilianto

Tak ada yang istimewa dari lelaki itu.
Namanya tak pernah masuk berita. Ia bukan tokoh. Bukan ustaz. Bukan pula orang jahat yang dibicarakan orang.

Ia hanya lelaki biasa— rajin bekerja, jarang ribut, dan dikenal “tidak macam-macam”.

Suatu malam, di ruang IGD yang bau obat dan dingin, napasnya tersengal.

Anak-anaknya berdiri kaku.
Istrinya menggenggam tangan yang mulai dingin.

Dokter berkata pelan,
“Mohon dibimbing… waktunya tidak lama.”
Seorang kerabat mendekat ke telinganya.
“Pak… ucapkan, laa ilaaha illallah…”

Bibir itu bergerak.
Kering. Gemetar.
Namun tak ada suara.

Dicoba lagi.
Lebih keras. Lebih dekat.
“Pak… laa ilaaha illallah…”
Air mata istrinya jatuh.

Anaknya memejamkan mata.
Lelaki itu membuka mata.
Tatapannya kosong—seolah melihat sesuatu yang tidak mereka lihat.

Dalam benaknya, hidupnya berputar cepat.
Ia teringat saat tahu sebuah kecurangan, tapi memilih diam karena “bukan urusan saya”.

Saat melihat yang lemah disalahkan, tapi ia menunduk demi aman.

Saat lisannya mengaku beriman, tapi hatinya lebih takut pada manusia daripada Tuhan.

Ia tak pernah memukul.
Tak pernah mencuri.
Tak pernah berzina.

Ia hanya… terlalu sering diam.
Dan kini, di detik terakhir hidupnya, kalimat itu terasa berat.

Bukan karena ia tak hafal.
Tapi karena hidupnya terlalu jarang membelanya.
Lidahnya kelu.
Dadanya sesak.

Dari sudut yang tak terlihat, seolah ada suara bertanya—bukan dengan amarah, tapi kejujuran yang telanjang:
“Kalimat ini dulu kau ucapkan…
tapi berapa kali kau hidup dengannya?”
Air mata lelaki itu jatuh.
Satu.
Lalu bibirnya bergerak.
Pelan. Patah.
“…Laa… ilaaha…”
Napasnya berhenti.

Ruangan sunyi.
Monitor berbunyi panjang.
Tak ada yang tahu,
apakah kalimat itu sempat sempurna.

Dan sejak malam itu, istrinya selalu terbangun menjelang Subuh.

Bukan oleh mimpi buruk,
tapi oleh satu ketakutan yang sama:
“Bagaimana jika aku hafal Syahadat…
tapi hidupku tak pernah membelanya ?”

Syahadat: Janji Jiwa yang Mengubah Arah Hidup

Syahadat: Janji Jiwa yang Mengubah Arah Hidup

Pada suatu masa, ada seorang lelaki bernama Bilal. Tubuhnya diseret di pasir panas, dadanya ditindih batu besar. Setiap kali diminta mengingkari keyakinannya, ia hanya mengucap satu kata: Ahad… Ahad…(Esa). 

Satu kata. Satu keyakinan.
Namun kata itu lebih berat daripada seluruh siksaan yang ia terima.

Bilal tidak punya kekuasaan. Tidak punya senjata.
Tapi ia punya Syahadat—dan itu cukup untuk membuatnya berdiri tegak di hadapan kezaliman.

Di masa lain, seorang pembesar Quraisy, Abu Thalib, berada di ambang ajal. Ia mencintai keponakannya, melindunginya seumur hidup. Namun satu kalimat Syahadat tak pernah keluar dari lisannya.

Cinta tanpa pengakuan iman.
Kebaikan tanpa ikrar tauhid.
Dan itulah pelajaran pedih tentang betapa Syahadat bukan sekadar simpati, tapi keputusan jiwa.

Syahadat berbunyi:
Asyhadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.
Artinya bukan hanya “aku bersaksi”, tetapi aku mengikat hidupku.

Bukan sekadar mengaku, tapi bersiap menanggung konsekuensinya.
Makna laa ilaaha illallah bukan hanya menolak berhala dari batu.

Ia menolak segala yang menguasai hati selain Allah:
jabatan yang dibela mati-matian, uang yang dituhankan,
manusia yang ditakuti melebihi Rabb-nya,
dan hawa nafsu yang ditaati tanpa kendali.

Allah menegaskan dalam Al-Qur’an Surah Muhammad ayat 19:
“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.”
Perhatikan, Allah tidak berfirman “ucapkan”, tapi “ketahuilah”.

Karena Syahadat menuntut kesadaran, bukan hafalan.
Bagian kedua, Muhammadar Rasulullah, adalah komitmen mengikuti jalan yang benar, bukan jalan yang kita suka.
Mencintai Rasul bukan hanya lewat shalawat, tapi lewat ketaatan saat ajarannya bertabrakan dengan selera pribadi.

Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa mengucapkan ‘laa ilaaha illallah’ dengan ikhlas dari hatinya, maka ia akan masuk surga.”
(HR. Bukhari)

Namun para ulama menegaskan, ikhlas itu memiliki tanda:
ucapan yang diikuti pembenaran hati,
dan dibuktikan oleh amal.

Syahadat yang benar akan tampak dalam sikap:
berani jujur meski rugi,
menolak zalim meski sendirian, memilih halal meski sempit, dan tetap taat meski tidak dilihat siapa pun.

Syahadat adalah perjanjian, bukan slogan. Ia diikrarkan sekali, tapi diuji setiap hari.
Setiap kali kita memilih takut kepada manusia daripada Allah, setiap kali kita tahu yang benar tapi diam,
setiap kali lisan mengucap iman tapi tangan berkhianat,
saat itulah Syahadat sedang dipertanyakan—bukan oleh manusia, tapi oleh langit.

Namun indahnya Islam, pintu kembali selalu terbuka.
Syahadat bukan hanya pintu masuk Islam,
ia juga pintu pulang bagi hati yang lelah dan ingin lurus kembali.
Penutup doa:
Ya Allah,
tetapkan Syahadat di hati kami,
bukan hanya di lisan kami.
Jangan Engkau jadikan kalimat tauhid ini ringan di mulut,
namun berat kami buktikan dalam hidup.
Ajari kami setia pada-Mu saat dunia menggoda,
kuatkan kami mengikuti Rasul-Mu saat jalan terasa sempit,
dan wafatkan kami dalam keadaan membawa
laa ilaaha illallah, Muhammadar Rasulullah
sebagai sebaik-baik bekal pulang.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Jika Pak Milit ingin, saya bisa melanjutkan kupasan Salat sebagai bukti Syahadat, atau menyusunnya menjadi seri renungan harian Rukun Islam.

Rukun Islam: Fondasi yang Menopang Iman dan Kehidupan

Rukun Islam: Fondasi yang Menopang Iman dan Kehidupan

Rukun Islam bukan hanya lima kewajiban ritual. Ia adalah kerangka hidup seorang Muslim, dari keyakinan, ibadah, pengendalian diri, kepedulian sosial, hingga kepasrahan total kepada Allah.

Rasulullah SAW bersabda:
“Islam dibangun di atas lima perkara…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berikut kupasan tuntasnya.

Syahadat: Pondasi Segala Amal

Syahadat adalah pintu masuk Islam, sekaligus fondasi seluruh amal.
Asyhadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.
Maknanya bukan sekadar ucapan, tapi pernyataan hidup:
Tidak ada yang lebih ditaati, ditakuti, dicintai, dan diharapkan selain Allah.

Dan tidak ada jalan hidup yang lebih benar selain jalan Rasulullah SAW.

Syahadat menuntut:
• tauhid dalam ibadah
• kejujuran dalam hidup
• keberanian meninggalkan kebatilan
• kesetiaan pada kebenaran meski berat. 
Tanpa syahadat yang hidup di hati, amal menjadi kosong.

Salat: Tiang Penyangga Kehidupan

Salat adalah hubungan langsung antara hamba dan Rabb-nya. Ia bukan sekadar kewajiban waktu, tapi penjaga arah hidup.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-‘Ankabut ayat 45:
“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”

Jika salat tidak mencegah keburukan, bukan salatnya yang salah— tetapi hati yang belum hadir di hadapan Allaah.

Salat mengajarkan:
• disiplin waktu
• kerendahan diri
• kepatuhan tanpa syarat
• kejujuran batin

Salat adalah ukuran:
baik-buruknya hubungan kita dengan Allah.

Zakat: Pembersih Harta dan Jiwa

Zakat adalah bukti bahwa iman tidak egois.
Ia menghubungkan langit dengan bumi, kaya dengan miskin, kuat dengan lemah.

Allah berfirman, Surah At-Taubah ayat 103:
“Ambillah zakat dari harta mereka, untuk membersihkan dan menyucikan mereka.”

Zakat mengajarkan:
• harta hanyalah titipan
• kepemilikan sejati ada pada Allah
• keberkahan lebih penting dari jumlah. 

Orang yang enggan zakat bukan kekurangan harta,
tapi kekurangan keyakinan.


Puasa: Pendidikan Kejujuran dan Kendali Diri

Puasa bukan sekadar menahan lapar, tapi menundukkan hawa nafsu.
Allah berfirman, Surah Al-Baqarah ayat 183:
“Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa agar kalian bertakwa.”

Puasa mendidik:
• jujur meski tak diawasi
• sabar dalam tekanan
• empati pada yang lapar
• tunduknya tubuh pada ruh. 

Puasa membuktikan:
iman bukan teori, tapi pengendalian diri saat mampu melanggar.


Haji: Kepasrahan Total kepada Allah

Haji adalah puncak ketundukan.
Semua atribut dunia dilepas: jabatan, pangkat, status, gelar.

Allah berfirman, Surah Ali ‘Imran ayat 97:
“Dan kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke Baitullah bagi yang mampu.”

Haji mengajarkan:
• semua manusia setara
• hidup hanyalah perjalanan
• kematian bisa datang kapan saja
• pulang kepada Allah adalah tujuan akhir. 

Haji bukan wisata rohani,
tapi latihan kembali suci sebelum kembali kepada-Nya.

Penutup: Jika Rukun Tegak, Hidup Akan Lurus
Rukun Islam itu satu bangunan.
Jika satu roboh, keseimbangan terganggu.
Jika semua ditegakkan, hidup akan kokoh.
Syahadat menata keyakinan.
Salat menjaga arah.
Zakat membersihkan kepemilikan.
Puasa menguatkan kendali diri.
Haji menyempurnakan kepasrahan.

Islam tidak dibangun untuk memberatkan,
tetapi untuk menyelamatkan manusia— di dunia dan akhirat.

BOLEHKAH GURU MASA BODOH? (Tegas Tanpa Kekerasan)

BOLEHKAH GURU MASA BODOH?
(Tegas Tanpa Kekerasan)

Seorang murid ada yang bersikap kasar. Itu fakta lapangan. Usia mereka belum matang, emosi masih liar, lingkungan sering tak ramah.

Namun guru tidak pernah dibenarkan untuk masa bodoh.
Islam tidak mengajarkan kemarahan yang membabi buta, tapi juga tidak mengajarkan pembiaran.

Ketika murid berlaku kasar, cara yang benar tetap harus dicari. Bukan dengan tamparan, bukan dengan teriakan, melainkan dengan langkah yang beradab, terukur, dan bertanggung jawab.

Allah berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. An-Nahl: 125)

Ayat ini adalah pedoman emas guru. Hikmah berarti bijak memilih cara. Pelajaran yang baik berarti mendidik, bukan melampiaskan emosi.

Jika murid berlaku kasar, maka jalan yang lurus bisa ditempuh:
Pertama, menegur dengan lisan yang tenang dan jelas, tidak merendahkan, tidak mempermalukan di depan umum. Tegas pada perilaku, lembut pada pribadi.

Kedua, melibatkan orang tua secara resmi dan terbuka.

Memanggil orang tua bukan untuk mengancam, tapi untuk menyatukan visi pendidikan.

Di sinilah perjanjian tertulis bersama orang tua menjadi solusi yang sah, mendidik, dan beradab.

Bukan surat intimidasi, melainkan komitmen bersama:
bahwa sekolah dan orang tua sepakat membina akhlak,
bahwa ada batas yang jelas antara mendidik dan membiarkan, bahwa anak harus dilindungi, sekaligus diarahkan.

Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu, melainkan ia akan menghiasinya. Dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu, melainkan akan memperburuknya.” (HR. Muslim)

Namun perlu diingat, lembut bukan berarti lemah.
Kelembutan tanpa ketegasan akan melahirkan generasi yang kehilangan adab.

Allah juga memperingatkan:
“Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)

Mendidik anak— termasuk murid— adalah bagian dari menyelamatkan mereka.
Dan menyelamatkan tidak selalu berarti memanjakan.

Maka jawabannya tegas:
Guru tidak boleh masa bodoh.
Tetapi guru juga tidak boleh melanggar batas kemanusiaan.

Ketika murid kasar, carilah cara yang benar.
Libatkan orang tua.
Dokumentasikan pembinaan.
Jaga marwah guru dan hak anak sekaligus.

Karena pendidikan bukan soal siapa yang paling berkuasa,
melainkan siapa yang paling bertanggung jawab.

Dan kelak, bukan undang-undang yang akan kita hadapi,
melainkan pertanyaan Allah:
“Apa yang kau lakukan saat kebenaran diuji di hadapanmu?”

Semoga Allah menguatkan para guru untuk tetap berani,
tetap lembut, dan tetap lurus di jalan amanah.
Aamiin ya rabbal aalamin. 

Jika Guru Diam, Siapa yang Mendidik?

Jika Guru Diam, Siapa yang Mendidik?

Hari ini, di banyak ruang kelas, bukan murid yang paling takut—
tetapi guru.
Bukan karena mereka kehilangan ilmu atau panggilan jiwa,
melainkan karena takut salah langkah, salah kata, salah niat,
lalu berujung laporan hukum atas nama perlindungan anak.
Undang-Undang Perlindungan Anak lahir dari niat luhur:
menjaga anak dari kekerasan dan kezaliman.
Namun dalam praktik, undang-undang ini kerap dipahami secara kaku,
tanpa membedakan antara kekerasan dan pendidikan disiplin.
Akibatnya, banyak guru memilih diam.
Bukan karena tidak peduli,
tetapi karena merasa tidak dilindungi.
Padahal negara juga memiliki Undang-Undang Guru dan Dosen
yang secara tegas menyatakan bahwa guru berhak atas perlindungan hukum,
perlindungan profesi, dan rasa aman dalam menjalankan tugas.
Masalahnya bukan ketiadaan hukum,
melainkan ketiadaan keberanian untuk menegakkan keseimbangan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Akhlak tidak tumbuh dari kebebasan tanpa batas.
Ia tumbuh dari bimbingan, ketegasan, dan kasih sayang yang beriringan.
Allah mengingatkan:
“Dan janganlah kebencian suatu kaum mendorong kamu berlaku tidak adil.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)
Ketika hukum hanya dilihat dari satu sisi,
keadilan berubah menjadi ketakutan.
Sekolah akhirnya bukan lagi ruang pembentukan karakter,
melainkan ruang administratif yang kering dari keteladanan.
Guru hadir secara fisik,
namun absen secara moral.
Jika keadaan ini dibiarkan,
kita tidak hanya kehilangan wibawa guru,
tetapi juga kehilangan arah pendidikan.
Karena anak yang tak pernah ditegur di sekolah,
akan ditegur lebih keras oleh kehidupan.
Dan ketika itu terjadi,
tak ada undang-undang yang bisa menggantikan peran guru
yang dulu memilih diam demi bertahan.
Pertanyaannya kini sederhana, namun mengguncang:
jika guru diam, siapa yang mendidik?