Laqadja akum rasulum


web stats

Minggu, 28 Juni 2026

Jangan Biarkan Waktu Antara Magrib dan Isya Berlalu Sia-Sia

Jangan Biarkan Waktu Antara Magrib dan Isya Berlalu Sia-Sia

Langit mulai gelap. Burung-burung telah kembali ke sarangnya. Azan Magrib berkumandang, lalu manusia pun berbondong-bondong menghadap Allah. Namun, setelah salam terakhir salat Magrib, tidak semua orang memilih tetap dekat dengan-Nya.

Ada yang segera sibuk dengan telepon genggam. Ada yang kembali tertawa dan bercanda. Ada pula yang menghabiskan waktu tanpa arah.
Padahal, waktu antara Magrib dan Isya adalah salah satu waktu yang sangat berharga untuk memperbanyak ibadah.

Seorang ulama pernah bercerita tentang seorang lelaki saleh yang hampir setiap malam tidak pernah meninggalkan masjid setelah Magrib. Ia mengisi waktunya dengan membaca Al-Qur'an, berzikir, berdoa, dan melaksanakan salat sunnah. Bertahun-tahun ia menjaga kebiasaan itu.
Ketika ajal menjemputnya, wajahnya tampak tenang. Orang-orang yang memandikannya mengatakan bibirnya seakan masih tersenyum. Mereka mengenangnya sebagai orang yang selalu menghidupkan waktu antara Magrib dan Isya dengan ibadah.

Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa mengerjakan salat enam rakaat setelah Magrib tanpa diselingi perkataan yang sia-sia, maka baginya pahala seperti beribadah selama dua belas tahun." (Hadis riwayat At-Tirmidzi)

Tentang orang-orang yang menghidupkan waktu setelah Magrib, Allah berfirman:
"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap..." (QS. Al-Qur'an Surah As-Sajdah: 16)

Jangan sia-siakan waktu yang singkat ini. Duduklah di masjid atau di rumah dalam keadaan suci. Bacalah Al-Qur'an, perbanyak istigfar, shalawat, doa, dan jika mampu, kerjakan salat Awwabin enam rakaat. Bisa jadi, beberapa puluh menit yang kita persembahkan setiap malam menjadi sebab Allah mengampuni dosa-dosa kita, melapangkan rezeki, menenangkan hati, dan mengangkat derajat kita di akhirat.

Malam ini, sebelum Isya tiba, jangan buru-buru meninggalkan Allah. Bisa jadi, justru di sela-sela waktu yang sering dilupakan itulah Allah sedang menyiapkan rahmat yang selama ini kita harapkan.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang menghidupkan waktu antara Magrib dan Isya dengan amal saleh, menerima seluruh ibadah kita, dan mengumpulkan kita kelak di surga bersama Rasulullah SAW. Aamiin.

Sabtu, 27 Juni 2026

Jangan Tidur Terus Nanti Rezekimu Mencari Orang Lain Cerpen: oleh Ismilianto

Jangan Tidur Terus Nanti Rezekimu Mencari Orang Lain
Cerpen: oleh Ismilianto

Pagi itu, embun masih menggantung di ujung daun. Burung-burung sudah bernyanyi, sementara matahari perlahan menyibak gelap.

Namun, di sebuah rumah sederhana, Arman masih terlelap.
Ibunya sudah beberapa kali mengetuk pintu.
"Man... bangun, Nak. Subuh sudah lama berlalu."
Tak ada jawaban.
"Kalau terus begini, kapan hidupmu berubah?"
Arman hanya membalikkan badan, lalu kembali tidur.

Hari demi hari berlalu. Ia selalu punya alasan untuk menunda. Menunda salat. Menunda bekerja. Menunda belajar. Menunda membantu orang tuanya.
Ia sering berkata, "Besok saja."
Padahal, tidak ada seorang pun yang dijamin bertemu dengan hari esok.

Suatu sore, kabar duka datang dari kampung sebelah. Seorang pemuda yang terkenal rajin, baru pulang bekerja, lalu mengeluh pusing. Tak lama kemudian ia meninggal dunia.
Usianya bahkan lebih muda daripada Arman.

Sejak hari itu, Arman mulai bertanya dalam hati,
"Kalau tadi yang dipanggil Allah adalah aku, bekal apa yang kubawa?"
Ia menangis.
Ia sadar, kemalasan bukan hanya membuat seseorang miskin. Kemalasan juga bisa membuat seseorang miskin amal.

Kisah seperti ini bukan sekadar cerita. Dalam kehidupan nyata, tidak sedikit orang yang menyesal karena terlalu sering menunda.

Ada yang baru ingin berbakti kepada orang tua ketika keduanya telah tiada.
Ada yang baru ingin rajin salat setelah divonis sakit keras.
Ada pula yang baru ingin bersedekah ketika hartanya telah habis.
Penyesalan memang selalu datang belakangan.

Allah telah mengingatkan dalam Al-Qur'an:
"Berlomba-lombalah kamu dalam mengerjakan kebaikan."
(QS. Al-Baqarah: 148)

Allah juga berfirman:
"Maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain."
(QS. Al-Insyirah: 7)

Ayat ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh tenggelam dalam kemalasan. Selesai satu amal, lanjutkan dengan amal berikutnya.

Rasulullah SAW juga bersabda:
"Mukmin yang kuat lebih Allah cintai daripada mukmin yang lemah, walaupun pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu..."
(HR. Muslim no. 2664)

Dalam hadis lain beliau mengingatkan:
"Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu."
(HR. Al-Hakim, dinilai sahih oleh banyak ulama)

Kemalasan adalah pintu yang pelan-pelan menutup masa depan. Ia mencuri waktu tanpa terasa. Ia membuat amal tertunda, rezeki terhambat, ilmu tidak bertambah, dan cita-cita hanya tinggal angan.
Jangan malas untuk salat.
Jangan malas bekerja.
Jangan malas mencari ilmu.
Jangan malas membantu sesama.
Jangan malas berbuat baik.
Sebab kita tidak tahu, mungkin amal kecil yang kita lakukan hari ini adalah amal terakhir yang mengantarkan kita menuju surga.

Mulailah sekarang. Jangan tunggu besok. Karena yang kita miliki hanyalah hari ini, sedangkan besok masih menjadi rahasia Allah.

PENJEGHUM BEIJE ADIK SANAK

PENJEGHUM BEIJE ADIK SANAK

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dengan hormat, kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i untuk dapat hadir pada acara Beije Adik Sanak, yang insya Allah akan dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal : Malam Kamis/ Malam tgl 2 Juli 2026
Tempat : Jalan Rajawali, Manna

Atas perhatian dan kehadirannya, kami ucapkan terima kasih.

Yang Mengundang

ISMILIANTO

KEMATIAN BISA DATANG SAAT KITA LENGAH

KEMATIAN BISA DATANG SAAT KITA LENGAH

Petang mulai turun. Matahari yang sejak pagi bersinar terang perlahan menghilang di balik cakrawala. Tidak ada yang mampu menahannya. Begitulah umur manusia. Setiap petang yang berlalu adalah tanda bahwa jatah hidup kita pun sedang berkurang.

Ada kisah seorang ayah berpamitan kepada istrinya.
"Sebentar ya, aku ke masjid untuk salat Magrib."
Ia berjalan seperti biasanya. Di masjid, ia mengambil wudu, lalu duduk menunggu iqamah sambil berzikir. Ketika azan selesai berkumandang, ia masih sempat tersenyum kepada jamaah di sebelahnya.
Namun beberapa saat kemudian tubuhnya perlahan rebah. Jamaah mengira ia hanya pingsan. Mereka segera mengangkatnya.

Ternyata Allah telah memanggilnya.
Ia mengembuskan napas terakhir di rumah Allah, dalam keadaan menunggu salat berjamaah.

Di rumahnya, sang istri masih menunggu suaminya pulang untuk makan malam bersama. Yang datang justru kabar duka.

Betapa banyak orang yang pagi hari masih bercanda, sore hari sudah menjadi jenazah. 

Betapa banyak yang berencana untuk besok, padahal malam ini namanya telah dipanggil oleh malaikat maut.

Karena itu, jangan lengah.
Allah berfirman:
"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati."
(QS. Ali 'Imran: 185)

Dan Allah juga mengingatkan:
"Tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati." (QS. Luqman: 34)

Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian."

Mengapa kita diperintahkan sering mengingat kematian?
Karena orang yang mengingat kematian akan lebih mudah menjaga salatnya, lebih ringan memaafkan, lebih berhati-hati dalam berbicara, lebih ikhlas bersedekah, dan tidak terlalu mencintai dunia.

Petang ini, sebelum malam benar-benar datang, mari bertanya kepada diri sendiri.

Seandainya malam ini adalah malam terakhirku, apakah salatku sudah baik?

Apakah kedua orang tuaku sudah cukup aku doakan?

Apakah masih ada orang yang tersakiti oleh lisanku?

Apakah hartaku sudah ada yang menjadi bekal akhirat melalui sedekah?

Jangan menunggu tua untuk bertobat. Jangan menunggu sakit untuk beribadah. Jangan menunggu esok untuk berbuat baik. Sebab yang dijanjikan Allah bukanlah hari esok, melainkan kesempatan yang masih kita miliki saat ini.

Semoga petang ini menjadi petang yang menghidupkan hati, memperbanyak istigfar, memperindah salat, dan mendekatkan kita kepada Allah, agar ketika saat itu tiba, kita dipanggil dalam keadaan Allah ridha kepada kita.

Ya Allah, husnul khatimah adalah harapan kami. Jangan biarkan kami lengah hingga ajal datang tanpa bekal. Aamiin.

Jumat, 26 Juni 2026

Usia Boleh Enam Puluh, Tapi Tawa Masih Seperti Anak SMA Cerpen: oleh Ismilianto

Usia Enam Puluh, Tapi Tawa Masih Anak SMA
Cerpen: oleh Ismilianto

Sabtu siang, tepat pukul 13.00 WIB, sebuah mobil melaju meninggalkan Manna menuju Kedurang. Di dalamnya duduk enam sahabat lama, alumni SMA Negeri 1 Manna angkatan tamat tahun 1985.
Milit, Yuli, Gadis, Neti, Tini, dan Ida.
Usia kami memang sudah kepala enam. Rambut mulai dihiasi uban, kacamata baca tak pernah jauh dari saku, dan pinggang sesekali mengingatkan bahwa kami bukan lagi remaja.

Namun begitu pintu mobil ditutup, usia seakan tertinggal di belakang.
Yang terdengar hanyalah tawa.
"Rupanya Milit paling banyak inspirasi cerita lama, dan sepanjang jalan dia yang paling banyak cerita," canda Yuli.

Mobil pun berguncang oleh gelak tawa.
Belum jauh meninggalkan Manna, telepon genggam sudah sibuk berpindah tangan.
"Ayo... bikin video!"
"Lho... kok mukaku nggak ada?"
"Itu kameranya masih menghadap keluar!"
"Hahaha... pantes dari tadi yang direkam pohon sawit semua."
Maklum, kami ini generasi yang baru bersahabat dengan teknologi ketika usia sudah tidak muda lagi. 

Bahkan ada yang lupa menekan tombol rekam, ada yang videonya miring, bahkan ada yang sudah lima menit berbicara di depan kamera, ternyata belum menekan tombol "record".

"Aduh... dasar kita ini. Sudah enam puluhan tahun, masih sama-sama gaptek," kata Ida sambil tertawa.

"Tidak apa-apa," sahut Tini, "yang penting bukan videonya, tapi kenangannya."

Kalimat itu disambut anggukan dan tawa. Memang benar, yang kami cari bukan video yang sempurna, tetapi kebersamaan yang tak ternilai.

Sesampainya di Kedurang, kami disambut hangat oleh sahabat lama kami, Dastian, beserta keluarganya.

Tak lama kemudian prosesi akad nikah dimulai.
Awalnya kami mengira acara akan berlangsung singkat.
Ternyata satu jam berlalu.
Lalu dua jam.
Hingga hampir tiga jam prosesi belum juga selesai.
Sesekali kami saling berpandangan.
"Aduh... belum Asar juga."

Yang lain hanya tersenyum sambil menahan tawa.
Rasa lelah memang mulai terasa. Pinggang mulai minta bersandar. Tetapi siapa yang tega mengeluh di hari bahagia sahabat sendiri?

Akhirnya akad nikah selesai. Kami pun menikmati hidangan bersama. Makan sore itu terasa begitu nikmat karena ditemani obrolan ringan yang tak pernah habis.

Barulah setelah selesai makan, kami mengajak Dastian, kedua mempelai, dan keluarganya berfoto bersama.

"Yang ini jangan ada yang merem, kata teman kami!"
"Eh... ulang lagi, senyumnya kurang lebar."
"Hahaha... kok yang motret malah ikut masuk foto?"

Berkali-kali kamera diangkat. Berkali-kali pula kami mengulang pose. Entah foto mana yang paling bagus, semuanya terasa indah karena dipenuhi tawa dan rasa syukur.

Perjalanan pulang menuju Manna terasa jauh lebih singkat.
Sepanjang jalan kami kembali membuat video.
"Lho... dari tadi ternyata belum direkam."
"Hahaha... ya ampun, salah pencet lagi."
Kami tertawa sampai perut terasa sakit.

Lalu cerita pun berganti.
Tentang guru-guru yang dulu galak tetapi kini justru paling kami rindukan.
Tentang teman-teman yang sering dihukum.
Tentang cucu-cucu kami yang lebih mahir memainkan telepon genggam daripada kakek dan neneknya.

Tanpa terasa, seseorang melihat jam.
Pukul 17.30 WIB.
"Lho... kok sudah sampai Manna?"
Padahal rasanya baru sebentar meninggalkan Kedurang.
Mobil yang sejak tadi dipenuhi tawa mendadak hening.
Entah mengapa, hati kami seperti disentuh oleh sesuatu.

Hari ini kami masih bisa duduk dalam satu mobil.
Masih bisa saling gurau.
Masih bisa membuat video yang berkali-kali gagal direkam.
Masih bisa berfoto bersama.
Masih bisa pulang dengan membawa tawa.

Tetapi...
Apakah tahun depan kami masih lengkap berenam?
Tak seorang pun mampu menjawabnya.

Di usia kami sekarang, silaturahmi bukan lagi sekadar bertemu teman lama.
Silaturahmi adalah cara mensyukuri sisa umur yang Allah titipkan.

Allah berfirman:
"…Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, serta peliharalah hubungan silaturahmi." (QS. An-Nisa: 1).

Rasulullah SAW juga bersabda:
"Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi." (HR. Bukhari No. 5986 dan Muslim No. 2557).

Saya teringat sebuah kisah nyata yang sering terjadi di sekitar kita.

Sekelompok sahabat sekolah selalu berkata, "Nanti saja kita reuni, nanti kalau sudah sama-sama senggang."

Namun ketika hari itu tiba, beberapa kursi sengaja dibiarkan kosong.
Bukan karena pemiliknya terlambat datang.
Melainkan karena mereka telah lebih dahulu dipanggil Allah.
Yang tersisa hanyalah foto lama, kenangan, dan doa.

Semoga kami tidak termasuk orang yang gemar berkata, "Masih ada waktu."
Karena sesungguhnya, tidak seorang pun mengetahui siapa yang lebih dahulu dipanggil pulang.

Saat kami saling berpamitan di Manna, langit petang mulai memerah.
Saya memandang wajah Yuli.
Lalu Gadis.
Neti.
Tini.
Ida.
Wajah-wajah yang dahulu saya lihat setiap pagi di ruang kelas SMA Negeri 1 Manna.
Kini semuanya berubah dimakan usia.

Namun persahabatan kami ternyata tidak ikut menua.
Dalam hati saya berdoa,
"Ya Allah, terima kasih karena hari ini Engkau masih mempertemukan kami dalam tawa. Panjangkan umur kami dalam ketaatan, berkahi persahabatan kami dengan silaturahmi, dan jika suatu hari Engkau memanggil kami satu per satu, semoga kami dipertemukan kembali di surga-Mu."

Hari itu kami pulang bukan hanya membawa foto.
Bukan hanya membawa video yang kadang goyang karena tangan yang mulai bergetar.
Bukan pula cerita tentang akad nikah yang hampir tiga jam.

Kami pulang membawa sebuah kesadaran.
Bahwa di ujung usia, harta bukan lagi yang paling berharga. Jabatan pun tinggal cerita. Yang paling indah adalah ketika Allah masih memberi kesempatan untuk bersilaturahmi, saling mendoakan, saling tertawa, lalu berpisah dengan hati yang penuh syukur. 

Karena suatu saat nanti, foto-foto akan menjadi kenangan, video-video akan menjadi nostalgia, tetapi doa-doa dan kasih sayang antarsahabatlah yang, dengan izin Allah, tetap mengalir hingga akhir hayat.

Kamis, 25 Juni 2026

Kematianmu Kapan? Cerpen: oleh Ismilianto


Kematianmu Kapan? 
Cerpen: oleh Ismilianto

Hujan turun tanpa suara.
Di balik jendela sebuah rumah yang mulai dimakan usia, seorang lelaki tua memandangi halaman yang basah. 

Dulu, halaman itu selalu ramai oleh tawa anak-anaknya. Kini, yang terdengar hanya desir angin dan sesekali suara daun yang gugur.

Namanya Abdullah.
Sepanjang hidupnya, ia dikenal sebagai pekerja keras. Sejak matahari belum terbit, ia sudah berangkat mencari nafkah. Ketika malam datang, tubuhnya pulang dalam keadaan letih.

"Aku melakukan semua ini demi anak-anak," begitu kalimat yang paling sering ia ucapkan.

Anak-anaknya tumbuh menjadi orang-orang berhasil. Rumah megah berdiri. Kendaraan berganti. Tanah bertambah. Orang-orang memujinya sebagai ayah yang sukses.
Namun, hanya Allah yang tahu ada ruang kosong yang tak pernah sempat ia isi.

Salat sering ditunda karena urusan dagang.
Al-Qur'an berhari-hari tersimpan tanpa disentuh.
Ia selalu berkata dalam hati, "Nanti... kalau sudah tua aku akan lebih dekat kepada Allah."

Tetapi "nanti" adalah kata yang paling sering menipu manusia.
Suatu malam, tubuh Abdullah mendadak lemah. Penyakit yang selama ini bersembunyi akhirnya memperlihatkan dirinya. Dokter hanya mampu menggeleng pelan.
Hari-hari berikutnya berlalu di atas ranjang.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia memiliki banyak waktu.
Namun tubuhnya sudah tidak lagi memiliki banyak tenaga.

Pada suatu sepertiga malam, ia meminta anak sulungnya mengambil mushaf Al-Qur'an.
Dengan tangan yang gemetar ia membukanya.
Belum sempat satu halaman selesai dibaca, air matanya jatuh membasahi lembaran-lembaran suci itu.
Tangisnya pecah.
"Ayah baru sadar... ternyata selama ini Ayah sibuk menyiapkan rumah untuk kalian... tetapi lupa menyiapkan rumah Ayah sendiri di akhirat...."

Ruangan menjadi sunyi.
Tak seorang pun sanggup menahan air mata.
Ia memandang satu per satu wajah anak-anaknya.

"Kalau kalian benar-benar mencintai Ayah..."
Ia berhenti. Napasnya terasa berat.
"...jangan tunggu tua untuk sujud kepada Allah..."
Kalimat itu menggantung bersama isak tangis keluarganya.

Beberapa saat kemudian...
dadanya berhenti bergerak.
Inilah perpisahan yang tak bisa ditunda.

Ketika liang lahat telah ditutup, semua orang pulang.
Rumah megah itu tetap berdiri.
Mobil-mobil masih berjejer.
Sawah tetap menghijau.
Tabungan masih utuh.
Tetapi tidak satu pun ikut menemani Abdullah.

Yang masuk ke dalam kubur hanyalah kain kafan, doa orang-orang yang mencintainya, dan amal yang pernah ia kerjakan.

Empat puluh hari kemudian, anak-anaknya berkumpul di rumah itu.

Mereka membuka lemari tua milik ayahnya.
Di antara tumpukan berkas dan sertifikat tanah, terselip secarik kertas yang telah menguning.

Dengan tulisan tangan yang mulai pudar, tertulis:
"Aku telah menghabiskan hidup mencari dunia untuk keluargaku. Jika Allah memberiku satu kesempatan lagi, aku akan lebih banyak mencari akhirat, karena ternyata hanya itulah yang menemaniku setelah kematian."

Tak ada satu pun yang mampu membaca tulisan itu hingga selesai.
Air mata mereka jatuh di atas kertas yang basah.
Malam itu juga, mereka berjanji.
Tak akan lagi meninggalkan salat.
Tak akan lagi menunda taubat.
Tak akan lagi merasa muda sehingga lupa bahwa kematian tidak pernah menunggu usia tua.

Sebab mereka telah melihat sendiri...
penyesalan paling menyakitkan bukanlah saat harta habis.
Melainkan saat napas telah habis, sementara amal saleh masih terlalu sedikit.

Ketika Harta Tak Menjawab Cerpen: oleh Ismilianto

Ketika Harta Tak Menjawab
Cerpen: oleh Ismilianto

Senja turun perlahan. Langit yang kemerahan seolah sedang menahan air mata. Di beranda rumah tua itu, seorang lelaki renta duduk memandang jalan yang mulai lengang. Tangannya menggenggam tasbih, tetapi jemarinya tak lagi kuat menggerakkannya.

Namanya Hasan.
Dahulu, orang-orang mengenalnya sebagai saudagar yang berhasil. Rumahnya luas, sawahnya terbentang, dan tamu tak pernah berhenti datang.
Namun, kesibukan telah mencuri begitu banyak waktu.

Shalat sering ditunda. Al-Qur'an hanya dibaca ketika ada kematian. Ia selalu berkata, "Nanti kalau sudah tua, aku akan lebih banyak beribadah."
Ternyata, usia tua datang lebih cepat daripada taubat yang direncanakannya.

Malam itu, hujan turun perlahan. Hasan memanggil putra sulungnya.
"Nak dekatkan Quran itu."
Dengan napas yang tersengal, ia membuka halaman demi halaman. Air matanya menetes sebelum lisannya sempat menyelesaikan beberapa ayat.

"Ayah baru mengerti... ternyata hidup ini bukan tentang seberapa banyak yang kita kumpulkan, tetapi seberapa banyak yang kita bawa menghadap Allah."

Anaknya tak sanggup menjawab. Ia hanya menggenggam tangan ayahnya yang mulai dingin.

Beberapa saat kemudian, bibir tua itu bergetar pelan.
"Jangan ulangi kesalahan seperti Ayah... Jangan biarkan dunia membuatmu lupa kepada akhirat..."
Itulah kalimat terakhirnya.

Ketika tanah merah menutup liang lahat, semua harta yang pernah dibanggakan tetap tinggal di dunia. Rumah masih berdiri. Kendaraan masih terparkir. Rekening masih menyimpan angka. Namun tak satu pun melangkah masuk ke dalam kubur.
Yang ikut hanyalah amal.

Malam-malam berikutnya, putra-putrinya tak pernah lagi meninggalkan shalat berjamaah. Seusai shalat, mereka membaca Al-Fatihah, berdoa, lalu bersedekah atas nama ayah mereka.

Setiap kali tangan mereka terangkat berdoa, mereka teringat wajah Hasan pada malam terakhirnya—wajah yang dipenuhi penyesalan, tetapi juga dipenuhi harapan agar anak-anaknya tidak terlambat seperti dirinya.

Konon, penyesalan yang paling berat bukanlah ketika kehilangan harta.
Melainkan ketika seseorang menyadari bahwa umurnya telah habis, sementara bekal untuk pulang masih terlalu sedikit.

Maka, jika hari ini Allah masih membangunkan kita dari tidur, mungkin itu bukan karena kita masih kuat.
Melainkan karena Dia masih memberi kesempatan untuk memperbaiki perjalanan, sebelum tiba hari ketika tak ada lagi kesempatan.