Laqadja akum rasulum


web stats

Sabtu, 18 April 2026

Bayar Zakat Dagang Maka Berkahnya Terus Mengalir

Bayar Zakat Dagang Maka Berkahnya Terus Mengalir

Sholallaahu ‘ala Muhammad

Ada seorang pedagang kecil di pasar. Tapi setiap genap setahun dan hartanya cukup, ia keluarkan zakat tanpa menunda. Orang lain heran, “Untungmu saja pas-pasan, kenapa masih berzakat?”
Ia menjawab pelan, “Justru karena ingin cukup… dan diberkahi.”

Beberapa tahun berlalu, dagangannya berkembang. Bukan hanya besar, tapi juga penuh ketenangan. Ia tidak pernah merasa kekurangan, meski kadang untung tidak terlalu banyak.

Ini rahasia zakat perdagangan.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik…” (QS. Al-Baqarah: 267)

Dan Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak akan berkurang harta karena sedekah.” (HR. Muslim no. 2588)

Apa itu zakat perdagangan?

Zakat yang dikeluarkan dari harta hasil usaha atau jual beli, seperti toko, warung, reseller, online shop, dan usaha lainnya.

Kapan wajib zakat dagang?

Ketika Hartanya mencapai nisab (setara 85 gram emas)
Sudah berjalan 1 tahun (haul)

Berapa yang dikeluarkan?

Sebesar 2,5% dari total harta dagangan bersih (yaitu: modal + keuntungan + piutang yang bisa ditagih, dikurangi utang)

Kenapa zakat dagang penting?
Karena dalam setiap keuntungan, ada hak orang lain.

Kalau ditunaikan, jadi berkah.
Kalau ditahan, bisa jadi sebab sempitnya rezeki.

Ada kisah lain, Seorang pedagang besar pernah bangkrut. Setelah direnungi, ternyata ia lalai dari zakat bertahun-tahun. Saat ia mulai memperbaiki, menunaikan zakat dengan sungguh-sungguh, Allah bukakan kembali jalan rezekinya perlahan tapi pasti.

Pesan untuk kita semua. 
Jangan tunggu kaya untuk berzakat. Karena zakat itulah yang membuka jalan menuju kecukupan.

Kalau hari ini kita masih berdagang,  coba renungkan
“Sudahkah harta ini bersih di hadapan Allah?”

Semoga usaha kita bukan hanya besar di dunia, tapi juga menyelamatkan kita di akhirat.

DOA KHATAM AL-QUR’AN (LATIN + TERJEMAH)


DOA KHATAM AL-QUR’AN (LATIN + TERJEMAH)

Allahummarhamnii bil-Qur’aan, waj’alhu lii imaaman wa nuuran wa hudan wa rahmah.
Allahumma dzakkirnii minhu maa nasiitu, wa ‘allimnii minhu maa jahiltu, warzuqnii tilaawatahu aanaal-layli wa athraafan-nahaar, waj’alhu lii hujjatan yaa Rabbal ‘aalamiin.
Allahumma ashlih lii diinii alladzii huwa ‘ishmatu amrii, wa ashlih lii dunyaaya allatii fiihaa ma’aasyii, wa ashlih lii aakhiratii allatii ilaihaa ma’aadii, waj’alil hayaata ziyaadatan lii fii kulli khair, waj’alil mauta raahatan lii min kulli syarr.
Allahumma ij’alnaa min ahlil Qur’aan alladziina hum ahluka wa khaashatuk.
Allahumma ij’alil Qur’aana rabii’a quluubinaa, wa nuura shuduurinaa, wa jalaa’a ahzaaninaa, wa dzahaaba humuuminaa wa ghumuuminaa.
Allahumma nawwir bihi quluubanaa, wa syrah bihi shuduuranaa, wa yassir bihi umuuranaa, wa aslih bihi ahwaalanaa.
Allahumma irfa’naa bil-Qur’aan, wa laa tadha’naa bil-Qur’aan, wa akrimnaa bil-Qur’aan, wa laa tuhinnaa bil-Qur’aan, wa a’thinaa bil-Qur’aan, wa laa tahrimnaa bil-Qur’aan.
Allahumma aj’alnaa mimman yuhillu halaalahu wa yuharrimu haraamahu, wa ya’malu bimuhkamatihi, wa yu’minu bimutasyabihatih.
Allahumma ij’alnaa mimman yaqra’ul Qur’aana fayartaquu bihii fii darajaatil jannaat, hatta yablugha aakhira aayatin yaqra’uhaa.
Allahumma syaffi’hu fiinaa yaumal qiyaamah, waj’alhu lanaa imaaman wa nuuran wa hudan ilaa jannatika jannatin na’iim.
Allahumma-ghfir lanaa wa liwaalidiinaa wa li-asaatidzinaa wa liman lahaaqqun ‘alainaa, wa lil-muslimiina wal-muslimaat, wal-mu’miniina wal-mu’minaat, al-ahyaa’i minhum wal-amwaat.
Allahumma taqabbal minna tilaawatanaa, wa du’aa-anaa, wa shalaatanaa, wa ruku’anaa wa sujuudanaa, innaka Antas-Samii’ul ‘Aliim, wa tub ‘alainaa innaka Antat-Tawwaabur Rahiim.
Subhaana Rabbika Rabbil ‘izzati ‘ammaa yashifuun, wa salaamun ‘alal mursaliin, walhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin.
Terjemahan:
Ya Allah, rahmatilah aku dengan Al-Qur’an, dan jadikan ia sebagai imam, cahaya, petunjuk dan rahmat bagiku.
Ya Allah, ingatkan aku terhadap apa yang aku lupa darinya, ajarkan aku apa yang aku belum ketahui, dan karuniakan aku kemampuan membacanya di waktu malam dan siang, serta jadikan ia sebagai hujjah (pembela) bagiku, wahai Tuhan seluruh alam.
Ya Allah, perbaikilah agamaku yang menjadi penjaga urusanku, perbaikilah duniaku yang menjadi tempat kehidupanku, dan perbaikilah akhiratku yang menjadi tempat kembaliku. Jadikan hidupku sebagai tambahan dalam setiap kebaikan, dan jadikan kematian sebagai istirahat dari segala keburukan.
Ya Allah, jadikan kami termasuk أهل القرآن (orang-orang yang dekat dengan Al-Qur’an), yaitu golongan-Mu yang istimewa.
Ya Allah, jadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hati kami, cahaya dada kami, penghapus kesedihan kami, dan penghilang kegelisahan kami.
Ya Allah, terangilah hati kami dengannya, lapangkan dada kami dengannya, mudahkan urusan kami dengannya, dan perbaikilah keadaan kami dengannya.
Ya Allah, angkatlah derajat kami dengan Al-Qur’an, jangan Engkau hinakan kami dengannya, muliakan kami dengannya, jangan Engkau rendahkan kami dengannya, berilah kami dengannya, dan jangan Engkau halangi kami darinya.
Ya Allah, jadikan kami termasuk orang yang menghalalkan apa yang dihalalkan Al-Qur’an dan mengharamkan apa yang diharamkannya, mengamalkan ayat-ayatnya yang jelas, dan beriman kepada ayat-ayatnya yang samar.
Ya Allah, jadikan kami termasuk orang yang membaca Al-Qur’an lalu naik derajatnya di surga, hingga mencapai ayat terakhir yang dibacanya.
Ya Allah, jadikan Al-Qur’an memberi syafaat bagi kami pada hari kiamat, dan jadikan ia sebagai imam, cahaya, dan petunjuk bagi kami menuju surga-Mu yang penuh kenikmatan.
Ya Allah, ampunilah kami, kedua orang tua kami, guru-guru kami, dan orang-orang yang berjasa kepada kami, serta seluruh kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.
Ya Allah, terimalah bacaan kami, doa kami, salat kami, ruku’ dan sujud kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
Maha Suci Tuhanmu, Tuhan Yang Maha Perkasa dari apa yang mereka sifatkan.
Salam sejahtera atas para rasul.
Dan segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.

Jumat, 17 April 2026

TERUSLAH BERTAUBAT(sampai kau bosan berbuat maksiat)

TERUSLAH BERTAUBAT
(sampai kau bosan berbuat maksiat)
Sholalla ‘ala Muhammad

Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap anak Adam pasti bersalah, dan sebaik-baik yang bersalah adalah yang bertaubat.”
(HR. At-Tirmidzi)

Allah berfirman:
“Bertaubatlah kamu kepada Allah agar kamu beruntung.”
(QS. An-Nur: 31)

Ada kisah Seorang laki-laki telah membunuh 100 orang. Namun ketika ia ingin bertaubat, ia mencari jalan kebaikan. Dalam perjalanan menuju lingkungan yang baik, ia meninggal dunia… dan Allah tetap mengampuninya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Seorang ahli maksiat tersentuh hatinya saat mendengar ayat:
“Belumkah datang waktunya hati tunduk kepada Allah?”
(QS. Al-Hadid: 16)
Sejak itu ia menangis… lalu berubah menjadi ahli ibadah.

Tak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni.
Yang ada hanya hati yang belum mau kembali.
“Sesungguhnya kebaikan menghapus keburukan.”
(QS. Hud: 114)

Maka… jangan lelah istighfar.
Allah tidak pernah bosan mengampuni.
Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin…
Sholalla ‘ala Muhammad 

KISAH-KISAH DKM

KISAH-KISAH DKM

Sepanjang sejarah Islam, banyak kisah nyata pengurus masjid yang menjadi sebab turunnya keberkahan, baik di dunia maupun akhirat. 

Kisah-kisah ini bukan sekadar cerita, tetapi pelajaran hidup bagi para pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM).

Kisah pertama, perempuan pembersih masjid yang dimuliakan Rasulullah SAW
Pada masa Nabi Muhammad SAW, ada seorang wanita (dalam riwayat lain disebut laki-laki) yang pekerjaannya sederhana: membersihkan masjid setiap hari. Ia bukan tokoh besar, bukan orang kaya, tapi sangat istiqamah menjaga kebersihan masjid.

Suatu hari ia wafat. Para sahabat menguburkannya tanpa memberi tahu Nabi SAW karena menganggap hal itu biasa saja. Ketika Nabi mengetahui, beliau bertanya dan kemudian mendatangi kuburnya, lalu menyalatkannya.

Rasulullah SAW bersabda bahwa amalnya sangat besar di sisi Allah. (HR. Bukhari dan Muslim)

Pelajarannya:
Pengurus masjid, meskipun hanya bagian kebersihan, jika ikhlas maka derajatnya bisa sangat tinggi di sisi Allah.

Kisah kedua, Umar bin Khattab yang sangat menjaga amanah masjid
Umar bin Khattab dikenal sangat tegas dalam menjaga amanah umat, termasuk urusan masjid. Beliau memastikan lampu-lampu masjid tidak digunakan untuk kepentingan pribadi.
Ketika ada urusan pribadi, beliau mematikan lampu milik negara (baitul mal), lalu menyalakan lampu pribadi.

Pelajarannya:
Pengurus DKM harus sangat hati-hati terhadap dana dan fasilitas masjid. Sekecil apa pun penyalahgunaan adalah pengkhianatan amanah.
Kisah ketiga, masjid yang hidup karena pengurusnya ikhlas. 

Di banyak daerah, ada kisah nyata—meskipun tidak tercatat dalam kitab besar—tentang masjid yang dulunya sepi, lalu hidup kembali karena pengurusnya bersungguh-sungguh.

Ada seorang ketua DKM yang setiap Subuh datang lebih awal, menyalakan lampu, mengumandangkan azan, lalu mengetuk rumah warga dengan lembut. Awalnya hanya satu-dua orang yang datang. Namun ia tidak menyerah.

Beberapa bulan kemudian, saf mulai penuh. Setahun kemudian, masjid menjadi pusat kegiatan: pengajian, santunan, hingga ekonomi umat.

Pelajarannya:
Keikhlasan dan kesabaran pengurus bisa menghidupkan masjid yang mati.
Kisah keempat, pengurus masjid yang menyalahgunakan dana lalu mendapat akibat. 

Sebaliknya, ada pula kisah nyata di masyarakat: pengurus masjid yang menggunakan dana infak untuk kepentingan pribadi tanpa izin.

Awalnya tidak ada yang tahu. Namun lama-kelamaan, hidupnya menjadi sempit, penuh masalah, bahkan kehilangan kepercayaan masyarakat.

Ini sesuai dengan peringatan Allah dalam:
Al-Qur'an QS. Al-Anfal: 27
“Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian mengkhianati amanah…”

Pelajarannya:
Amanah masjid bukan perkara ringan. Ia akan diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Kisah kelima, pemuda yang hidupnya berubah karena masjid. 
Dulunya orang ini jauh dari agama. Namun karena diajak aktif oleh pengurus masjid—dilibatkan sebagai marbot, penjaga sound system, hingga panitia kegiatan—hidupnya berubah.

Dari yang malas salat menjadi rajin berjamaah, dari yang tidak peduli menjadi peduli umat.

Pelajarannya:
Pengurus DKM bukan hanya mengurus bangunan, tapi membentuk manusia.

Sebagai Renungan

Menjadi pengurus masjid bukan sekadar jabatan, tetapi jalan menuju surga—atau sebaliknya, bisa menjadi sebab hisab yang berat jika tidak amanah.

Masjid akan menjadi saksi:
Apakah kita benar-benar memakmurkannya…
Ataukah kita hanya sekadar menjadi pengurus di atas nama.

Semoga setiap langkah pengurus DKM dicatat sebagai amal jariyah yang terus mengalir hingga hari kiamat.

Apa yang Harus Dilakukan oleh Dewan Kemakmuran Masjid?

Apa yang Harus Dilakukan oleh Dewan Kemakmuran Masjid? 

Masjid bukan sekadar bangunan tempat salat, tetapi pusat kehidupan umat. Pada masa Nabi Muhammad SAW, masjid menjadi tempat ibadah, pendidikan, musyawarah, hingga penguatan ekonomi umat. Maka, Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) memegang amanah besar untuk menghidupkan fungsi tersebut.

Allah berfirman:
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir…” (Al-Qur'an, QS. At-Taubah: 18)

Dari ayat ini, tugas DKM bukan sekadar administratif, tetapi ibadah yang bernilai tinggi di sisi Allah.
Berikut uraian tugas utama DKM secara syar’i:

Pertama, memakmurkan ibadah di dalam masjid
DKM harus memastikan salat lima waktu berjamaah berjalan dengan baik, tertib, dan khusyuk. Termasuk menjaga kualitas imam, muazin, serta kebersihan tempat ibadah. Rasulullah SAW bersabda:
“Salat berjamaah lebih utama daripada salat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua, menghidupkan majelis ilmu
Masjid harus hidup dengan pengajian, ceramah, dan pembelajaran Al-Qur’an. Ini termasuk TPA, kajian rutin, dan pembinaan generasi muda. Karena masjid tanpa ilmu akan menjadi sepi dari ruhnya.

Ketiga, mengelola zakat, infak, dan sedekah dengan amanah
DKM bertugas menjadi pengelola dana umat secara transparan dan adil. Allah telah menetapkan penerima zakat dalam QS. At-Taubah: 60. Penyalahgunaan dana masjid termasuk dosa besar karena mengkhianati amanah umat.

Keempat, menjaga persatuan dan ukhuwah
Masjid harus menjadi tempat yang menyejukkan, bukan sumber konflik. DKM wajib bersikap adil, tidak memihak golongan tertentu, serta menghindari perpecahan di tengah jamaah.

Kelima, merawat dan mengembangkan fasilitas masjid
Termasuk kebersihan, keamanan, kenyamanan, serta pembangunan jika diperlukan. Namun pembangunan fisik tidak boleh mengalahkan pembangunan ruhiyah (iman dan takwa).

Keenam, menghidupkan kegiatan sosial kemasyarakatan
Masjid harus hadir dalam kehidupan umat: membantu fakir miskin, santunan anak yatim, kegiatan kemanusiaan, dan respon terhadap musibah. Ini meneladani peran masjid di masa Rasulullah SAW.

Ketujuh, membina akhlak dan generasi muda
DKM perlu merangkul anak-anak dan remaja agar mencintai masjid. Karena pemuda yang tumbuh di masjid adalah harapan masa depan umat.

Kesimpulan. 
Memakmurkan masjid bukan hanya tugas DKM, tetapi tanggung jawab bersama. Namun DKM adalah penggeraknya. Jika DKM amanah, masjid akan hidup. Jika masjid hidup, masyarakat akan kuat. Dan jika masyarakat kuat, maka keberkahan Allah akan turun.

Semoga para pengurus masjid termasuk golongan yang disebut Allah sebagai orang-orang yang memakmurkan rumah-Nya, bukan hanya membangunnya, tetapi menghidupkannya dengan iman dan amal saleh.

Imam Besar secara Syar'i

Imam Besar secara Syar'i

Dalam praktik di banyak masjid, adanya imam besar dan imam pelaksana harian itu bukan hal yang aneh, bahkan bisa dibenarkan secara syar’i—selama dipahami fungsi dan adabnya dengan benar.

Pertama, memahami istilahnya secara syar’i
Dalam fiqih, yang dikenal adalah imam shalat—yaitu orang yang memimpin shalat pada saat itu.

Tidak ada istilah baku “imam besar” dalam dalil, tetapi dalam praktik, istilah ini biasanya bermakna:
tokoh utama keilmuan di masjid (lebih alim, lebih senior)
pembimbing umum jamaah
penanggung jawab arah ibadah dan keilmuan masjid. 

Sedangkan imam pelaksana harian adalah orang yang ditunjuk untuk secara rutin memimpin shalat lima waktu.
Ini masuk dalam kategori tanzhim (pengaturan), bukan ibadah yang ditentukan bentuknya secara khusus, sehingga hukumnya fleksibel selama tidak melanggar prinsip syariat.

Kedua, dasar syar’i tentang siapa yang berhak menjadi imam
Rasulullah SAW bersabda:
“Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling baik bacaannya terhadap Kitabullah. Jika mereka sama dalam bacaan, maka yang paling mengetahui sunnah…”
(HR. Muslim no. 673)

Hadis ini memberi kaidah:
yang utama jadi imam adalah yang paling baik bacaan Al-Qur’annya
lalu yang paling paham sunnah
lalu yang lebih dahulu hijrah atau lebih tua (jika sama)
Artinya, penunjukan imam pelaksana harian itu sah selama mempertimbangkan kriteria ini.

Ketiga, bagaimana posisi imam besar dan imam harian

Jika di satu masjid ada dua peran ini, maka secara syar’i bisa dipahami seperti ini:
Imam besar: lebih kepada posisi kehormatan dan rujukan ilmu
Imam harian: pelaksana teknis yang memimpin shalat setiap waktu

Namun ada adab penting:
Jika imam besar hadir dan ingin menjadi imam, maka ia lebih berhak selama memenuhi kriteria keutamaan tadi.

Sebagaimana kaidah fiqih:
“Tidak boleh seseorang mengimami di wilayah kekuasaan orang lain kecuali dengan izinnya.”
(HR. Muslim no. 674)
Artinya:
imam tetap (imam harian) punya hak di tempatnya
tapi jika ada yang lebih utama (ilmu dan bacaan), boleh didahulukan dengan keridhaan. 

Keempat, yang harus dijaga agar tidak melanggar syariat:
jangan sampai jabatan “imam besar” hanya simbol tanpa fungsi ilmu dan keteladanan. 

Jangan ada perebutan atau merasa paling berhak, karena ini merusak keikhlasan. 

Jangan menjadikan posisi imam sebagai kebanggaan duniawi
Karena Rasulullah SAW mengingatkan:
“Janganlah kalian saling berebut menjadi imam…”
(maknanya disebutkan dalam banyak penjelasan ulama sebagai larangan ambisi yang tidak ikhlas)

Hakikat yang paling penting
Dalam pandangan Allah, bukan gelar “imam besar” atau “imam harian” yang dinilai…
tetapi:
keikhlasan
bacaan yang benar
kekhusyukan
dan amanah dalam memimpin umat. 

Boleh jadi imam yang tidak dikenal justru lebih mulia di sisi Allah daripada yang terkenal.

Kesimpulan 

Adanya imam besar dan imam pelaksana harian itu boleh secara syar’i sebagai bentuk pengaturan masjid.
Namun yang harus dijaga adalah:
tetap mengikuti kriteria imam menurut hadis
menjaga adab, saling menghormati
menghindari riya dan perebutan kedudukan. 

Karena pada akhirnya…
imam bukan sekadar yang berdiri di depan,
tetapi yang paling bertanggung jawab di hadapan Allah atas orang-orang di belakangnya.

Petang Adalah Waktu Terbaik Untuk Merenung…

Petang Adalah Waktu Terbaik Untuk Merenung…

Ada orang sederhana di kampung, hasil panennya tidak seberapa, tapi setiap kali panen, ia sisihkan sebagian untuk zakat dan sedekah.

Saat ditanya, ia berkata pelan:
"Saya ini menanam di dunia, tapi ingin panen di akhirat."
Subhanallah…

Dia mungkin tidak dikenal di bumi, tapi namanya bisa jadi disebut di langit.

Rasulullah SAW bersabda:
“Sedekah tidak akan mengurangi harta.”
(HR. Muslim no. 2588)

Petang ini, mari kita tanya diri kita:
Apakah hari ini kita sudah bersedekah?
Apakah lisan kita lebih banyak berdzikir atau justru menyakiti?

Apakah kita sudah menyiapkan bekal, atau hanya sibuk mengumpulkan dunia?
Karena satu hal yang pasti…

Hari ini tidak akan kembali.
Dan yang tersisa hanyalah amal.
Petang ini, sebelum malam datang…
Kirimlah sesuatu untuk akhiratmu:
sebuah sedekah, satu istighfar, atau satu doa tulus.

Semoga saat matahari tenggelam,
dosa kita ikut tenggelam…
dan amal kita justru terangkat ke langit.

Selamat petang… jangan biarkan hari ini berlalu tanpa bekas di sisi Allah.