Laqadja akum rasulum


web stats

Kamis, 12 Maret 2026

SEBUAH RENUNGAN PAGI

SEBUAH RENUNGAN PAGI

Kadang kita terlalu sibuk memikirkan siapa yang salah di dunia ini…
tetapi lupa bertanya pada diri sendiri:
Sudahkah aku benar di hadapan Allah hari ini?

Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
Yā ayyuhalladzīna āmanū ittaqullāha waltanzur nafsun mā qaddamat lighad.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Pagi hari adalah awal lembaran baru.
Kalau kemarin kita banyak salah…
hari ini masih ada kesempatan memperbaiki.
Kalau kemarin kita lalai…
hari ini masih ada waktu untuk mendekat kepada Allah.

Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi)

Maka pagi ini jangan hanya bangun untuk bekerja.
Bangunlah juga untuk memperbaiki diri.

Siapa tahu…
hari ini adalah hari ketika Allah membuka pintu rezeki,
menghapus dosa,
dan mengangkat derajat kita.

Selamat pagi Sobatku, 

Semoga hari ini Allah menenangkan hati kita, melapangkan rezeki kita, dan memberkahi langkah kita.

#RenunganPagi
#MotivasiHidup
#HijrahDiri

Cendekiawan Muslim Memandang Konflik Iran – Israel – Amerika Dalam Perspektif Al-qur’an, Hadis, Dan Geopolitik Dunia Islam.

Cendekiawan Muslim Memandang Konflik Iran – Israel – Amerika Dalam Perspektif Al-qur’an, Hadis, Dan Geopolitik Dunia Islam.
 
Pertama: prinsip Al-Qur’an tentang perang dan kezaliman
Al-Qur’an tidak memerintahkan perang tanpa sebab. Prinsip dasarnya adalah melawan kezaliman dan penindasan.
Allah berfirman:
Wa mā lakum lā tuqātilūna fī sabīlillāhi wal mustaḍ‘afīn.
Artinya:
“Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan untuk membela orang-orang yang tertindas…” (QS. An-Nisa: 75)

Sebagian ulama menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dasar moral bahwa umat Islam boleh melawan ketika terjadi penindasan besar.
Kedua: pandangan banyak ulama tentang konflik Palestina dan Israel
Banyak ulama dunia Islam melihat konflik Timur Tengah terutama terkait Palestina sebagai persoalan penjajahan wilayah.
Di antara ulama yang sering menyuarakan hal ini adalah:
Yusuf al-Qaradawi
Ali Khamenei
Salman al-Ouda
Mereka berpendapat bahwa:
rakyat Palestina mengalami penindasan
pembelaan terhadap mereka dianggap bagian dari membela kaum tertindas.
Namun tentu pandangan ini tidak selalu sama antara semua ulama dan negara Muslim.
Ketiga: sikap ulama yang lebih moderat
Sebagian ulama lain menekankan bahwa konflik tersebut harus diselesaikan dengan diplomasi dan keadilan internasional, bukan hanya perang.
Contohnya ulama seperti:
Abdullah bin Bayyah
Beliau menekankan bahwa:
perdamaian lebih utama jika memungkinkan
peperangan hanya jalan terakhir.
Ini juga sejalan dengan ayat:
وَإِن جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا
Latin:
Wa in janahū lis-salmi fajnah lahā.
Artinya:
“Jika mereka condong kepada perdamaian maka condonglah kepadanya.”
(QS. Al-Anfal: 61)
Keempat: posisi Iran dalam perspektif dunia Islam
Iran sering memposisikan dirinya sebagai negara yang menentang dominasi Amerika dan Israel di Timur Tengah.
Pemimpin Iran saat ini adalah
Ali Khamenei.
Iran menyatakan bahwa dukungannya terhadap kelompok-kelompok perlawanan di Timur Tengah adalah bentuk membela rakyat yang tertindas.
Namun negara lain menilai langkah Iran juga bagian dari persaingan geopolitik dan pengaruh regional.
Kelima: posisi Israel dan Amerika
Israel dipimpin oleh
Benjamin Netanyahu.
Israel dan Amerika Serikat berpendapat bahwa:
Iran dianggap ancaman besar
program nuklir Iran dianggap berbahaya
dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata dianggap mengganggu stabilitas.
Karena itu mereka berusaha menekan kekuatan Iran.
Keenam: pandangan sebagian ulama tentang konflik besar menjelang akhir zaman
Sebagian ulama mengaitkan konflik Timur Tengah dengan hadis-hadis tentang fitnah besar di akhir zaman.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Akan terjadi fitnah-fitnah besar seperti potongan malam yang gelap.”
(HR. Muslim)
Para ulama menjelaskan bahwa pada masa fitnah besar:
banyak konflik politik
banyak perang
umat Islam terpecah.
Namun hadis ini tidak menunjuk secara pasti konflik tertentu, sehingga para ulama mengingatkan agar tidak terlalu mudah mengklaim peristiwa tertentu sebagai tanda akhir zaman.
Ketujuh: pelajaran penting bagi umat Islam
Sebagian besar ulama sepakat pada beberapa prinsip:
pertama, umat Islam harus menolak kezaliman siapa pun pelakunya.
kedua, peperangan harus mengikuti aturan syariat dan kemanusiaan.
ketiga, perdamaian lebih utama jika keadilan bisa ditegakkan.
Kesimpulan
Jika dilihat dari perspektif Islam:
konflik Iran, Israel, dan Amerika lebih banyak merupakan konflik geopolitik dan kekuasaan
sebagian ulama melihatnya sebagai perlawanan terhadap penindasan
sebagian ulama lain menekankan jalan damai dan diplomasi.
Namun yang pasti, Al-Qur’an selalu mengingatkan bahwa perang bukan tujuan utama, melainkan jalan terakhir ketika kezaliman tidak bisa dihentikan dengan cara lain.

SEBELUM PERANG, ADAPERJANJIAN NUKLIR IRAN TAHUN 2015

SEBELUM PERANG, ADA
PERJANJIAN NUKLIR IRAN TAHUN 2015

Pada tahun 2015 dibuat sebuah perjanjian internasional yang dikenal sebagai:
Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA)

Perjanjian ini dibuat antara Iran dengan enam kekuatan dunia:
Amerika Serikat
Inggris
Prancis
Rusia
China
Jerman

Perjanjian ini juga didukung oleh United Nations melalui Resolusi Dewan Keamanan 2231.

Isi utama perjanjian
Iran setuju:
membatasi program nuklirnya
mengurangi jumlah uranium yang diperkaya
membuka fasilitas nuklir untuk inspeksi internasional. 

Sebagai imbalannya:
sanksi ekonomi terhadap Iran dicabut
Iran bisa kembali berdagang minyak dan berhubungan dengan sistem keuangan dunia. �
Encyclopedia Britannica
Perjanjian ini mulai berlaku tahun 2016.

Kedua: Israel sejak awal menolak perjanjian ini. 
Perdana Menteri Israel saat itu, Benjamin Netanyahu, sejak awal sangat menentang perjanjian tersebut.

Alasan Israel:
Iran dianggap musuh utama Israel
Israel khawatir Iran tetap bisa membuat bom nuklir di masa depan
Israel menilai perjanjian itu terlalu lunak.
Karena itu Israel terus menekan Amerika Serikat untuk keluar dari perjanjian tersebut.

Ketiga: Amerika Serikat keluar dari perjanjian (2018)

Pada 8 Mei 2018, Presiden AS saat itu, Donald Trump, secara resmi menarik Amerika Serikat keluar dari JCPOA.

Langkah ini dilakukan secara sepihak.
Alasan pemerintah AS saat itu:
perjanjian dianggap “buruk dan tidak adil”
tidak membatasi program rudal Iran
tidak membatasi pengaruh Iran di Timur Tengah. �
www.ndtv.com

Setelah keluar dari perjanjian:
Amerika menerapkan kampanye “maximum pressure” yaitu: sanksi ekonomi besar terhadap Iran
larangan ekspor minyak Iran
pembatasan akses Iran ke sistem keuangan dunia.
Akibatnya ekonomi Iran sangat terpukul.

Keempat: banyak negara menilai penarikan itu sepihak

Negara-negara Eropa seperti:
Inggris
Prancis
Jerman
menyatakan bahwa perjanjian itu masih sah karena telah disahkan oleh PBB.
Mereka menilai keputusan AS merusak kesepakatan internasional. �
Wikipedia

Bahkan beberapa pejabat Amerika sendiri mengakui bahwa:
Iran sebenarnya mematuhi perjanjian tersebut pada awalnya. �
Tehran Times

Kelima: setelah AS keluar, situasi mulai memanas

Setelah Amerika keluar dari perjanjian: sanksi terhadap Iran kembali diberlakukan. 
Iran kehilangan keuntungan ekonomi dari perjanjian. 

Sebagai reaksi:
Iran mulai mengurangi kepatuhan terhadap perjanjian nuklir dan meningkatkan kembali aktivitas nuklirnya.

Ketegangan meningkat antara:
Iran vs Amerika Serikat dan
Israel.

Keenam: perang Iran – Israel – Amerika

Ketegangan yang panjang akhirnya berkembang menjadi konflik terbuka.

Beberapa peristiwa besar:
serangan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran
serangan balasan Iran
keterlibatan militer Amerika Serikat.

Konflik tersebut bahkan menimbulkan korban besar dan ketegangan global. �
The Guardian

Ketujuh: upaya diplomasi terakhir sebelum perang
Pada tahun 2025, Amerika dan Iran sebenarnya sempat melakukan perundingan baru di Oman dan beberapa tempat lain untuk membuat kesepakatan nuklir baru.
Namun setelah tenggat waktu gagal, Israel melakukan serangan yang memicu perang. �
Wikipedia

Kesimpulan
Jika diringkas secara objektif:
Memang ada perjanjian internasional antara Iran dan negara-negara besar pada 2015.

Amerika Serikat keluar dari perjanjian itu secara sepihak pada 2018.

Israel sejak awal menentang perjanjian tersebut dan mendukung tekanan terhadap Iran. 

Setelah AS keluar, hubungan Iran dengan Barat memburuk dan ketegangan meningkat hingga akhirnya terjadi konflik militer.

Air Mata di Penghujung Ramadhan Cerpen: oleh Ismilianto

Air Mata di Penghujung Ramadhan
Cerpen: oleh Ismilianto

Petang itu langit mulai memerah. Angin bertiup pelan, seolah ikut mengantar hari-hari terakhir Ramadhan yang hampir pergi. 

Di beranda rumahnya, Hasan duduk sendirian. Tangannya memegang tasbih, tetapi lisannya lama terdiam.

Tiba-tiba ia menghela napas panjang. “Ya Allah… kenapa baru sekarang aku merasa begini?”

Sejak awal Ramadhan, Hasan sebenarnya berniat memperbanyak ibadah. Ia ingin rajin ke masjid, membaca Al-Qur’an, dan bangun malam untuk tahajud. 

Namun hari demi hari berlalu begitu saja. Kadang karena lelah, kadang karena sibuk, kadang karena merasa masih ada waktu.

Awalnya ia berkata dalam hati, “Masih awal Ramadhan.”

Lalu beberapa hari kemudian ia berkata lagi, “Nanti saja di sepuluh hari terakhir.”

Tetapi kini sepuluh malam terakhir hampir berlalu.
Masjid mulai ramai dengan orang-orang yang beri’tikaf, sementara ia baru menyadari betapa banyak waktu yang telah hilang.

Sore itu, ketika ia membuka Al-Qur’an, hatinya tiba-tiba terasa sangat berat. Ia membaca firman Allah:
“Syahru Ramadhan alladzi unzila fihil Qur’an, hudan linnas…”
Artinya: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Air mata Hasan jatuh di atas halaman mushaf.
Ia teringat ceramah seorang ustaz yang pernah ia dengar. Ustaz itu mengatakan:
“Orang yang paling menyesal adalah orang yang melewati Ramadhan, tetapi dosanya tidak diampuni.”

Bahkan Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Celakalah seseorang yang menjumpai Ramadhan, lalu Ramadhan berlalu sebelum dosanya diampuni.” (HR. Tirmidzi)

Hasan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Ya Allah… apakah aku termasuk orang itu?”

Di masjid dekat rumahnya terdengar suara anak-anak membaca Al-Qur’an. Lampu-lampu mulai menyala. Orang-orang berjalan menuju masjid untuk shalat Magrib.

Hasan berdiri perlahan.
Hatinya bergetar.
“Belum terlambat… Ramadhan masih ada.”
Ia mengambil wudhu dengan air mata yang masih mengalir. 

Untuk pertama kalinya di Ramadhan itu, ia merasa benar-benar takut kehilangan ampunan Allah.

Malam itu Hasan pergi ke masjid lebih awal. Ia duduk lama setelah shalat Magrib, membaca Al-Qur’an yang selama ini jarang ia buka.

Di dalam hatinya hanya ada satu doa:
“Ya Allah… mungkin Ramadhan ini hampir pergi, tapi jangan biarkan aku pergi tanpa ampunan-Mu.”

Petang itu Hasan belajar satu hal yang sangat mahal harganya:
Ramadhan tidak pernah kembali dua kali. 

Tetapi pintu taubat selalu terbuka… sampai nafas terakhir kita berhenti.

Karena penyesalan paling menyakitkan adalah ketika Ramadhan pergi, sementara hati kita belum sempat kembali kepada Allah.

Selasa, 10 Maret 2026

PEJUANG SERIBU BULAN Cerpen: oleh Ismilianto

PEJUANG SERIBU BULAN
Cerpen: oleh Ismilianto

Malam itu angin gurun berhembus pelan. Langit dipenuhi bintang. Di sebuah negeri dari Bani Israil, seorang lelaki berdiri sendirian di atas bukit batu.

Namanya Syam'un Al-Ghazi.
Tubuhnya kuat, tangannya menggenggam pedang. Tetapi wajahnya tidak menunjukkan kesombongan. Ia justru sering terlihat menundukkan kepala dalam doa.

Siang hari ia adalah pejuang.
Ia melawan kaum zalim yang menindas umatnya. Banyak pasukan takut menghadapi kekuatannya. Bukan hanya karena tenaga yang luar biasa, tetapi karena keberaniannya lahir dari iman kepada Allah.

Namun malam hari… ia bukan lagi pejuang.
Ia berubah menjadi hamba yang menangis dalam sujud.
Di tengah gelap malam, ia berdiri lama dalam salat. Air matanya jatuh di pasir. Bibirnya terus berzikir memohon ampun kepada Allah.

Hari berganti hari.
Tahun berganti tahun.
Perjuangan itu tidak berhenti.
Siang berjihad.
Malam beribadah.

Bukan satu tahun.
Bukan sepuluh tahun.
Tetapi seribu bulan.
Lebih dari delapan puluh tiga tahun.

Musuh-musuhnya tidak mampu mengalahkannya di medan perang. Maka mereka menggunakan cara licik.

Mereka membujuk istrinya sendiri agar mengkhianatinya.
Dengan tipu daya, akhirnya Syam’un tertangkap. Musuh-musuhnya menyiksanya.

Mereka mengikatnya dan membawanya ke sebuah bangunan besar tempat mereka berkumpul.

Mereka menertawakannya.
“Sekarang lihat,” kata mereka dengan angkuh, “di mana kekuatanmu?”

Syam’un yang terluka menundukkan kepala.
Ia tidak meminta kepada manusia.

Ia berdoa kepada Allah.
Dengan suara yang hampir tidak terdengar ia berkata:
“Ya Allah… jika Engkau masih ridha kepadaku…
berikan aku kekuatan sekali lagi.”

Doa itu naik ke langit.
Tiba-tiba tubuhnya terasa kuat kembali. Ia bangkit dengan sisa tenaga yang ada. Kedua tangannya memegang tiang bangunan besar tempat musuh-musuhnya berpesta.

Dengan satu hentakan yang dahsyat…
Tiang itu runtuh.
Bangunan itu roboh.
Musuh-musuhnya binasa.

Dan Syam’un wafat sebagai seorang pejuang di jalan Allah.
Berabad-abad setelah kisah itu berlalu…

Di kota Madinah, Nabi Muhammad menceritakan kisah orang-orang saleh dari umat terdahulu kepada para sahabat.

Ketika mereka mendengar tentang ibadah yang berlangsung seribu bulan, hati para sahabat menjadi kecil.

“Ya Rasulullah,” kata mereka pelan, “bagaimana mungkin kami bisa menyamai amal seperti itu? Umur kami pendek…”

Nabi pun memikirkan umatnya.
Saat itulah Malaikat Jibril turun membawa wahyu dari langit.

Allah menurunkan firman-Nya:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam Lailatul Qadar.
Dan tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadar itu?
Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.”
(Surah Al-Qadr: 1–3)

Para sahabat terdiam.
Air mata sebagian mereka jatuh.

Allah memberi hadiah luar biasa kepada umat Nabi Muhammad.

Jika seseorang menghidupkan satu malam Lailatul Qadar, pahalanya lebih baik daripada ibadah seribu bulan.

Seakan-akan Allah berkata kepada umat ini:
“Kalian memang tidak hidup selama mereka…
tetapi Aku berikan kepada kalian malam yang nilainya lebih panjang dari umur manusia.”

Malam itu Rasulullah memandang para sahabat dengan penuh harapan.
Dan sejak saat itu…
setiap datang sepuluh malam terakhir Ramadhan,
beliau tidak ingin kehilangan satu malam pun.

Karena bisa jadi…
di antara malam yang sunyi itu
ada satu malam yang nilainya lebih besar dari 83 tahun ibadah.

Senin, 09 Maret 2026

Cerpen Renungan Ramadhan“Malam yang Dicari Sepanjang Hidup”Cerpen: oleh Ismilianto

Cerpen Renungan Ramadhan
“Malam yang Dicari Sepanjang Hidup”
Cerpen: oleh Ismilianto

Namanya Hasan.
Sejak kecil ia sering mendengar satu kalimat dari ayahnya:
“Carilah malam Lailatul Qadar… karena satu malam itu lebih baik dari seribu bulan.”
Dulu Hasan tidak benar-benar memahami maksudnya.
Baginya Ramadhan hanya tentang puasa, buka bersama, dan shalat tarawih.
Ayahnya sering berkata dengan suara yang dalam:
“Kalau Allah mempertemukanmu dengan Lailatul Qadar, seolah-olah engkau beribadah lebih dari delapan puluh tiga tahun.”
Ayahnya lalu membaca firman Allah:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Artinya:
“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadar.
Tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadar itu?
Malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.”
Referensi:
QS Surah Al-Qadr ayat 1–3
Hasan hanya mengangguk.
Ia masih muda.
Ia merasa hidupnya masih panjang.
Namun waktu berjalan cepat.
Ayahnya meninggal dunia ketika Hasan berusia tiga puluh tahun.
Sejak saat itu, setiap Ramadhan Hasan selalu teringat kalimat ayahnya:
“Carilah malam Lailatul Qadar…”
Pada suatu malam Ramadhan, Hasan duduk sendirian di masjid setelah tarawih.
Masjid sudah mulai sepi.
Ia membuka mushaf dan membaca ayat yang sering dibacakan ayahnya dulu.
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ
سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
Artinya:
“Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan.
Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.”
Referensi:
QS Surah Al-Qadr ayat 4–5
Hasan menutup mushafnya.
Ia membayangkan sesuatu yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Bagaimana jika malam ini benar-benar Lailatul Qadar?
Bagaimana jika saat ini malaikat sedang turun memenuhi bumi?
Bagaimana jika doa yang dipanjatkannya malam ini didengar langsung oleh Allah dengan kemuliaan yang luar biasa?
Ia tiba-tiba merasa malu.
Puluhan Ramadhan sudah ia lalui.
Tetapi berapa malam yang benar-benar ia isi dengan ibadah?
Hasan teringat sebuah hadis Rasulullah ﷺ:
“Barang siapa berdiri (shalat malam) pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Referensi:
HR **Sahih Bukhari no. 1901
HR Sahih Muslim no. 760
Hasan mulai shalat.
Rakaat demi rakaat ia lakukan dengan pelan.
Malam itu terasa sangat sunyi.
Air mata mulai jatuh di sajadahnya.
Ia berbisik dalam doa:
“Ya Allah… jika malam ini adalah Lailatul Qadar, jangan Engkau lewatkan namaku dari orang-orang yang Engkau ampuni.”
Waktu berjalan.
Tanpa terasa azan Subuh berkumandang.
Hasan duduk lama di sajadahnya.
Ia tidak tahu apakah tadi malam adalah Lailatul Qadar.
Tidak ada cahaya di langit.
Tidak ada tanda yang ia lihat.
Tetapi ada sesuatu yang berbeda di hatinya.
Ada ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia teringat lagi kalimat ayahnya dulu:
“Anakku… orang yang benar-benar mencari Lailatul Qadar, sebenarnya sedang mencari Allah.”
Sejak malam itu Hasan tidak lagi hanya menunggu Lailatul Qadar.
Ia mencarinya setiap malam di sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Karena Rasulullah ﷺ bersabda:
“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.”
Referensi:
HR **Sahih Bukhari no. 2020
HR Sahih Muslim no. 1169
Dan Hasan akhirnya mengerti sesuatu yang dulu tidak ia pahami.
Lailatul Qadar bukan hanya malam yang dicari.
Tetapi malam yang bisa mengubah seluruh hidup seseorang.
Satu malam…
yang nilainya lebih panjang dari umur manusia.

Satu Ceramah Yang Bisa Mengubah Nasib Akhiratmu”Cerpen: oleh Ismilianto

Satu Ceramah Yang Bisa Mengubah Nasib Akhiratmu”
Cerpen: oleh Ismilianto

Di sebuah desa kecil, setiap malam Jumat masjid selalu penuh.
Bukan karena bangunannya megah.
Bukan pula karena penceramahnya terkenal.

Tetapi karena setiap orang yang datang merasakan hal yang sama:
hati mereka menjadi lebih tenang.
Orang-orang berkata satu sama lain,
“Kalau beliau ceramah… rasanya seperti sedang dinasihati dengan penuh kasih.”

Sebelum ceramah dimulai, ustaz itu selalu menundukkan kepala.
Pelan ia membaca doa Nabi Musa yang disebut dalam Al-Qur'an pada QS. Taha ayat 25–28:
“Rabbi syrah li shadri…
lapangkanlah dadaku, mudahkan urusanku, dan lepaskan kekakuan dari lidahku agar mereka memahami perkataanku.”

Lalu ia mengajak jamaah bershalawat bersama.
Masjid pun dipenuhi lantunan shalawat.
Setelah itu ia berkata lembut:
“Saudaraku… pahala shalawat ini kita hadiahkan untuk kedua orang tua kita… untuk nenek moyang kita… untuk kaum mukmin dan mukminat… dan untuk seluruh makhluk Allah.”

Beberapa jamaah mulai menunduk.
Ada yang diam-diam menghapus air mata.
Ceramahnya tidak pernah keras.

Ia hanya bercerita tentang kehidupan.
Tentang manusia yang terlalu sibuk mengejar dunia.
Tentang anak yang lupa mendoakan orang tua.
Tentang hati yang jauh dari Allah.

Tetapi kata-katanya terasa hidup.
Karena setiap kalimat keluar dari hati yang tulus.

Lalu tibalah bagian terakhir ceramah. Bagian yang selalu membuat masjid menjadi sangat hening.
Suara ustaz itu pelan.

“Saudaraku… kita semua sedang berjalan pulang kepada Allah.”
Ia berhenti sejenak.
Semua orang diam.

Lalu ia membaca ayat dari Al-Qur'an:
“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar ayat 53)

Masjid semakin sunyi.
Seorang pemuda yang selama ini jarang shalat menundukkan kepala.

Seorang ayah teringat ibunya yang sudah lama wafat.
Seorang ibu diam-diam berdoa agar anaknya kembali ke jalan Allah.

Ustaz itu menutup ceramahnya dengan doa.
“Ya Allah…
jika malam ini ada hati yang sedang gelisah, tenangkanlah.
Jika ada dosa yang kami bawa, ampunilah.
Jika ada orang tua kami yang telah wafat, lapangkan kuburnya.”

Suara ustaz itu semakin pelan.
“Dan ya Allah…
jika suatu hari Engkau panggil kami menghadap-Mu…
ingatlah bahwa kami pernah berkumpul di rumah-Mu…
hanya untuk mengingat-Mu.”

Beberapa jamaah mulai terisak.
Lalu ia mengucapkan kalimat terakhir:
“Semoga di antara kita yang duduk di majelis ini…
ada yang kelak masuk surga tanpa hisab.”

Masjid benar-benar hening.
Tidak ada yang bergerak beberapa detik.

Setelah jamaah pulang, seorang pemuda mendekati seorang ulama tua yang ikut hadir.

Ia bertanya:
“Mengapa ceramah ustaz itu terasa berbeda?”
Ulama tua itu tersenyum.
Lalu ia berkata pelan:
“Karena kata-kata yang keluar dari hati… akan masuk ke hati.”

Ia lalu mengingatkan sebuah hadits Nabi SAW yang diriwayatkan dalam Sahih Muslim:
Bahwa orang-orang yang berkumpul untuk mengingat Allah akan:
dikelilingi malaikat, 
diliputi rahmat, 
dan diturunkan ketenangan.

Ulama itu menatap masjid yang mulai sepi.
Kemudian ia berkata satu kalimat yang membuat pemuda itu terdiam lama.

“Anak muda… kita tidak pernah tahu…”
“Bisa jadi di antara orang-orang yang duduk di majelis tadi… ada yang kelak berdiri di hadapan Allah dan berkata:
‘Ya Allah… aku berubah karena satu ceramah malam itu.’”

Ia berhenti sejenak.
Lalu melanjutkan dengan suara yang sangat pelan:
“Dan bisa jadi… ceramah yang kita anggap biasa itu… menjadi sebab seseorang masuk surga.”

Pemuda itu terdiam.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia berpikir:
Mungkin malam ini… Allah sedang memanggilku pulang.