Laqadja akum rasulum


web stats

Sabtu, 19 September 2026

KHUTBAH JUMAT (25 September 2026)

KHUTBAH JUMAT 
(25 September 2026) 

KHUTBAH PERTAMA

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruh, wa na’udzu billahi min syururi anfusina wa min sayyi’ati a’malina. 

May yahdihillahu fala mudhillalah, wa may yudhlil fala hadiyalah. 

Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh laa nabiya ba'da.

Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
Amma ba’du.

Faya ayyuhalladzina amanuttaqullaha haqqa tuqatihi wa la tamutunna illa wa antum muslimun.

Judul: JIKA ISTIGHFAR SUDAH, SHALAWAT SUDAH, MENGAPA MASIH BERAT TAAT?

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa.
Takwa bukan hanya banyak mengucapkan istighfar.
Takwa bukan hanya banyak bershalawat.
Takwa bukan hanya rajin menghadiri pengajian.
Tetapi takwa adalah ketika hati tunduk, lisan dijaga, makanan diperiksa, harta dibersihkan, dan perintah Allah benar-benar kita kerjakan.

Jamaah yang dimuliakan Allah.

Ada satu pertanyaan yang patut kita ajukan kepada diri sendiri.
Kita sudah banyak istighfar, mengapa masih berat meninggalkan dosa?
Kita sudah banyak bershalawat, mengapa hati masih berat ketika mendengar panggilan shalat?
Kita sudah sering mendengar nasihat agama, tetapi mengapa kaki masih terasa berat menuju masjid?
Kita sudah berdoa agar dekat dengan Allah, tetapi mengapa maksiat justru terasa ringan?

Jangan buru-buru menyalahkan hati.
Jangan hanya mengatakan, "Saya memang belum mendapat hidayah."

Mari kita periksa sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan kita:
Apa yang masuk ke dalam tubuh kita?
Dan...
apa yang keluar dari mulut kita?
Allah SWT berfirman:
"Ya ayyuhar-rusulu kulu minath-thayyibati wa'malu shalihan, inni bima ta'maluna 'alim."
Artinya:
"Wahai para rasul! Makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(QS Al-Mu’minun: 51)
Perhatikan ayat ini.
Allah menghubungkan makan yang baik dengan amal yang baik.
Seolah-olah Allah mengingatkan kita:
Periksa apa yang masuk ke tubuhmu sebelum bertanya mengapa tubuhmu berat melakukan kebaikan.
Jamaah Jumat rahimakumullah.
Rasulullah SAW bersabda:
"Innallaha thayyibun la yaqbalu illa thayyiba."
Artinya:
"Sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan Dia tidak menerima kecuali yang baik."
Kemudian Nabi SAW menyebutkan seseorang yang berdoa kepada Allah dengan penuh kesungguhan, tetapi makanan, minuman, pakaian, dan sumber penghidupannya berasal dari yang haram.
Lalu Nabi SAW menggambarkan keadaan itu dengan pertanyaan:
"Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?"
(HR Muslim No. 1015)
Jamaah yang dirahmati Allah.
Ini bukan berarti setiap orang yang sedang sulit beribadah pasti memperoleh makanan haram.
Tidak.
Kesulitan dalam beribadah bisa memiliki banyak sebab.
Tetapi hadis ini mengajarkan kepada kita satu hal yang sangat penting:
Jangan pernah meremehkan persoalan halal dan haram dalam mencari rezeki.
Jangan sampai tangan kita mengangkat doa kepada Allah...
sementara tangan yang sama pernah mengambil sesuatu yang bukan haknya.
Jangan sampai mulut kita mengucapkan:
"Astaghfirullah..."
tetapi mulut yang sama masih ringan memfitnah.
Jangan sampai lidah kita basah dengan shalawat...
tetapi setelah itu basah pula dengan ghibah, dusta, hinaan, dan menyakiti hati orang lain.
Jamaah Jumat rahimakumullah.
Istighfar bukan sekadar ucapan.
Istighfar berarti memohon ampun dan kembali.
Kalau kita berkata "Astaghfirullah", lalu sengaja mengulangi kezaliman tanpa penyesalan dan usaha memperbaiki diri, kita perlu bertanya:
Apa yang sedang kita minta ampun?
Demikian pula shalawat.
Shalawat adalah amalan yang mulia.
Tetapi kecintaan kepada Rasulullah SAW juga harus tampak dalam akhlak dan perilaku.
Rasulullah SAW bersabda:
"Man kana yu'minu billahi wal-yaumil-akhir falyaqul khairan au liyasmut."
Artinya:
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam."
(HR Muslim No. 47a–48)
Maka hari ini mari kita periksa lidah kita.
Berapa banyak orang yang terluka karena ucapan kita?
Berapa banyak nama orang yang kita bicarakan ketika orangnya tidak ada?
Berapa banyak aib yang kita buka?
Berapa banyak berita yang kita sebarkan tanpa memeriksa kebenarannya?
Berapa banyak kalimat yang kita ucapkan dalam keadaan marah, lalu baru kita sesali setelah hati orang lain terluka?
Jamaah yang dimuliakan Allah.
Ada makanan yang masuk melalui mulut.
Ada pula "makanan" untuk hati yang masuk melalui telinga dan mata.
Apa yang kita dengar?
Apa yang kita lihat?
Apa yang kita baca?
Apa yang kita tonton?
Karena hati juga bisa menjadi kotor.
Maka kalau kita merasa semakin jauh dari Allah, mari berhenti sejenak.
Jangan hanya menambah jumlah istighfar.
Jangan hanya menambah jumlah shalawat.
Tetapi periksa sumber rezeki.
Periksa transaksi.
Periksa utang.
Periksa amanah.
Periksa hak orang lain.
Dan yang tidak kalah penting:
periksa lisan kita.
Mungkin bukan kurangnya dzikir yang menjadi masalah kita.
Mungkin dzikir kita belum berhasil mengubah perilaku kita.
Mungkin bukan kurangnya nasihat yang kita dengar.
Mungkin hati kita masih dipenuhi sesuatu yang harus kita bersihkan.
Jamaah Jumat rahimakumullah.
Mari kita pulang hari ini dengan satu tekad:
Yang masuk harus halal.
Yang keluar harus baik.
Yang dikerjakan harus taat.
Jangan biarkan perut kita tumbuh dari sesuatu yang Allah haramkan.
Jangan biarkan lidah kita menjadi jalan orang lain terluka.
Dan jangan biarkan istighfar hanya menjadi suara di bibir, sementara dosa tetap kita pelihara dalam kehidupan.
Semoga Allah membersihkan rezeki kita, membersihkan hati kita, menjaga lisan kita, dan memberikan kepada kita kekuatan untuk taat kepada-Nya.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Shallallahu ‘ala Muhammad
KHUTBAH KEDUA
Shallallahu ‘ala Muhammad
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Wasshalatu wassalamu ‘ala Sayyidil mursalin, Sayyidina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
Ushikum wa nafsi bitaqwallahi, faqad fazal muttaqun.
Jamaah Jumat rahimakumullah.
Sekali lagi marilah kita bertakwa kepada Allah.
Mari kita periksa tiga hal dalam kehidupan kita.
Pertama, sumber makanan kita.
Halalkah?
Bersihkah?
Adakah hak orang lain di dalamnya?
Kedua, sumber rezeki kita.
Apakah diperoleh dengan cara yang Allah ridai?
Apakah ada kezaliman, penipuan, pengkhianatan, atau mengambil sesuatu yang bukan hak kita?
Ketiga, ucapan kita.
Apakah yang keluar dari mulut kita membawa pahala atau justru menjadi dosa?
Sebab kadang-kadang kita sibuk menghitung berapa kali kita mengucapkan istighfar...
tetapi lupa menghitung berapa orang yang kita sakiti dengan ucapan.
Kita menghitung berapa kali bershalawat...
tetapi lupa menghitung berapa kali kita menjelekkan orang lain.
Kita menghitung berapa rakaat shalat sunnah...
tetapi lupa memeriksa apakah rezeki yang kita makan sudah halal.
Maka mulai hari ini, jangan hanya bertanya:
"Sudah berapa banyak saya berdzikir?"
Tetapi tanyakan juga:
"Sudah sebersih apa rezeki saya?"
"Sudah sebersih apa lisan saya?"
"Sudah sebaik apa akhlak saya?"
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang bukan hanya banyak berdzikir dengan lisan, tetapi juga taat dalam kehidupan.
Allahumma inna nas’aluka rizqan halalan, wa qalban saliman, wa lisanan shadiqan, wa ‘amalan shalihan.
Ya Allah, karuniakanlah kepada kami rezeki yang halal, hati yang bersih, lisan yang jujur, dan amal yang saleh.
Ya Allah, ampuni dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa keluarga kami, dan dosa seluruh kaum muslimin dan muslimat.
Ya Allah, jika selama ini rezeki kami bercampur dengan sesuatu yang tidak Engkau ridai, tunjukkan kepada kami, ampuni kami, dan berikan kekuatan untuk meninggalkannya.
Jika lisan kami pernah menyakiti orang lain, berikan kami keberanian untuk meminta maaf dan memperbaikinya.
Jika hati kami jauh dari-Mu, dekatkanlah kembali.
Jika kami berat melakukan ketaatan, kuatkanlah langkah kami.
Ya Allah, jadikanlah istighfar yang kami ucapkan benar-benar menghapus dosa.
Jadikanlah shalawat yang kami lantunkan menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Dan jadikanlah dzikir kami bukan hanya suara di bibir, tetapi cahaya yang menerangi hati dan mengubah kehidupan kami.
Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun, waj’alna lil-muttaqina imama.
Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar.
Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
‘Ibādallah, innallaha ya’muru bil-‘adli wal-ihsani wa ita’i dzil-qurba, wa yanha ‘anil-fahsya’i wal-munkari wal-baghy. Ya’izhukum la’allakum tadzakkarun.
Fadzkurullaha yadzkurkum, wasykuruhu ‘ala ni’amihi yazidkum, wadzikrullahi akbar. Wallahu ya’lamu ma tashna’un.

Aqimishalah.... 


Selasa, 18 Agustus 2026

KHUTBAH JUMAT “Ketika Nama Kita Dipanggil Dari Alam Kubur”

KHUTBAH JUMAT
KHUTBAH PERTAMA
(21-8-2026) 

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Nahmaduhu wa nasta‘inuhu wa nastaghfiruh, 

wa na‘udzu billahi min syururi anfusina wa min sayyi’ati a‘malina. 
Mayyahdihillahu fala mudhilla lah, wa mayyudhlil fala hadiya lah.

Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. La nabiya ba'da. 

Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma‘in.
Amma ba‘du.

Fa qala fi kitabihil karim:
“Yaa ayyuhalladzi na aama nuttaqullaha haqqa tuqaatihi wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun.”

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Judul: Ketika Nama Kita Dipanggil Dari Alam Kubur

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.
Takwa bukan hanya ucapan. 
Melainkan: 
Tetap Takwa ketika kita takut kepada Allah saat tidak ada seorang pun yang melihat kita. 

Takwa ketika kita tetap jujur meskipun kesempatan untuk berbohong masih terbuka lebar.

Takwa ketika kita tetap salat meskipun kita sangat  sibuk urusan dunia.

Dan takwa adalah ketika kita sadar bahwa kehidupan ini pasti akan berakhir.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Hari ini marilah kita semua bercermin kepada diri kita masing-masing.

Sebab ada satu perjalanan yang pasti kita tempuh.
Bahwasanya  Semua kita akan mati.

Allah berfirman:
“Kullu nafsin dzaa-iqatul maut, wa innamaa tuwaffauna ujuu rakum yaumal qiyaamah, faman zuhziha ‘aninnaar
wa ud khilal jannah, 
faqad faaz, wa mal hayaa tud dunyaa illaa mataa ‘ul ghuruur.”
Artinya:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Sungguh Kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Jamaah Jumah rahimakumullah,

Bayangkan suatu hari nanti...
Kita sedang duduk bersama keluarga.
Tiba-tiba tubuh kita terasa lemah.
Napas mulai berat.
Anak-anak berkumpul.
Istri menangis.
Keluarga memanggil nama kita.
Tetapi kita sudah tidak mampu menjawab.

Kemudian seseorang berkata:
“Bimbing syahadatnya...”
Lalu terdengar:
“La ilaha illallah...”
Dan setelah itu...
napas terakhir keluar.
Mata kita terpejam.
Tangan kita tidak lagi bergerak.
Mulut kita tidak lagi berbicara.
Kita yang selama puluhan tahun mengejar harta dunia...
akhirnya meninggalkan dunia.

Rumah yang kita bangun tetap berdiri.
Kendaraan yang kita banggakan tetap berada di halaman.
Uang yang kita kumpulkan berpindah tangan.
Pakaian yang kita cintai pasti dilepas.
Telepon yang setiap hari kita genggam...
tidak akan ikut masuk ke dalam kubur.
Yang ikut bersama kita hanyalah amal soleh. 

Rasulullah SAW bersabda:
“Idzaa maa tal insaa nu inqatha‘a ‘anhu ‘amaluhu illaa min tsalaa tsah: 
shadaqatin jaariyah, au ‘ilmin yun tafa‘u bih, au waladin shaa lihin yad‘u lah.”
Artinya:
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ada satu pertanyaan yang harus kita jawab sebelum terlambat:
Kalau sekarang ini Allah memanggil kita, sudah siapkah kita?

Sudahkah kita meminta maaf kepada orang tua kita?

Sudahkah kita berdamai dengan saudara dan tetangga kita?

Sudahkah kita meminta maaf kepada istri kita?

Sudahkah kita meninggalkan maksiat selama ini?

Sudahkah kita benar-benar menjaga salat lima waktu?

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Jangan sampai kita sangat sibuk mencari harta dunia...
tetapi lupa mempersiapkan akhirat kita. 

Allah berfirman:
“Yaa ayyuhalladzina aamanuttaqullaha waltanzhur nafsummaa qaddamat lighad, wattaqullah, innallaaha khabiirun bimaa ta‘maluun.”
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr: 18)

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Jangan tunggu tua untuk bertobat. Sebab banyak orang yang mati tidak pernah sampai  tua.

Jangan tunggu sakit untuk salat.
Sebab banyak orang yang meninggal walaupun tak sakit. 

Jangan tunggu kaya untuk bersedekah.
Sebab banyak orang meninggal tapi kekayaannya tak sempat datang.

Dan jangan berkata:
“Nanti kalau sudah tua saya akan berubah dan taat.”
Sebab kita tidak pernah tahu
apakah kita diberi kesempatan untuk sampai tua.

Allah telah mengingatkan:
“Hattaa idzaa jaa-a ahada humul maut, 
qaala rabbirji‘uun. 
La‘allii a‘malu shaalihan fiimaa taraktu, kallaa, innahaa kalimatun huwa qaa-iluhaa, wa min waraa-ihim barzakhun ilaa yaumi yub ‘atsuun.”

Artinya:
“ apabila kematian datang kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia, agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sungguh, itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.” ( Al-Mu’minun: 99–100)

Jamaah jumat yang dirahmati Allah,

Saat ini kita masih hidup.
Kita masih bisa bersujud.
Kita masih bisa menangis.
Kita masih bisa beristighfar.
Kita masih bisa meminta maaf.
Kita masih bisa bersedekah.
Kita masih bisa memperbaiki salat.
Berarti Allah masih memberi kita kesempatan.

Maka jangan sia-siakan kesempatan itu.

Selagi kaki masih mampu melangkah ke masjid...
melangkahlah.

Selagi tubuh masih mampu bersujud...
bersujudlah.

Selagi lidah masih mampu berzikir...
berzikirlah.

Selagi pintu taubat masih terbuka...
bertobatlah!

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Jangan sampai Jumat demi Jumat berlalu...
umur bertambah...
rambut memutih...
tetapi dosa tidak berkurang.

Jangan sampai kita sibuk memperbaiki rumah, tetapi lupa memperbaiki hati.

Jangan sampai kita sibuk menghias wajah, tetapi lupa menghias amal.

Jangan sampai kita takut kehilangan harta...
tetapi tidak takut kehilangan iman.

Sebab pada akhirnya akan tiba satu hari...
ketika nama kita dipanggil lalu ada ucapan: 
“Innalillahi wa inna ilaihi raji‘un...”

Kemudian kita diangkat dan 
Dimandikan.
Dikafani.
Disalatkan.
Diantar.
Dikuburkan.

kita tinggal sendirian di kuburan.
Tidak ada lagi yang bisa menolong kita kecuali rahmat Allah dan amal yang kita bawa.

Maka mulai hari ini...
jangan tunggu sakit baru ingat mesjid. 
Kenalilah Allah sebelum kita menghadap Allah.

Aquulu qauli hadza, wa astaghfirullah lii wa lakum, fastaghfiruh innahu huwal ghafuurur rahiim.

KHUTBAH KEDUA

Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih kama yuhibbu rabbuna wa yardha.

Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh.

Innallaha wa malaikatahu yushalluna 'alan nabiy. Ya ayyuhalladzina amanu shallu 'alaihi wa sallimu taslima.

Allahumma shalli wa sallim wa barik 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa ashabihi ajma'in.

Allahumma aghfir lil muslimina wal muslimat, wal mu'minina wal mu'minat, al-ahya'i minhum wal amwat.

Allahumma a'inna 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik.

Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina 'adzaban nar.

Ya Allah...
Jangan Engkau cabut nyawa kami kecuali dalam keadaan Engkau ridha kepada kami.

Jadikan akhir ucapan kami:
La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah.

Ya Allah, karuniakan kepada kami husnul khatimah.

Jadikan kubur kami taman dari taman-taman surga.

Terangkan kubur kami dengan cahaya-Mu.

Lapangkan kubur kami.
Ampuni dosa-dosa kami.
Selamatkan kami dari azab kubur dan azab neraka.

Innallaha ya'muru bil 'adli wal ihsan wa ita'i dzil qurba wa yanha 'anil fahsya'i wal munkari wal baghy.

Ya'izhukum la'allakum tadzakkarun.
Fadzkurullaha al-'azhim yadzkurkum, wasykuruhu 'ala ni'amihi yazidkum, waladzikrullahi akbar

Aqimisshalah



Kamis, 02 Juli 2026

Jangan Menunggu Takziah Baru Bersilaturahmi

Jangan Menunggu Takziah Baru Bersilaturahmi

Suatu hari, seorang laki-laki menerima kabar bahwa sahabat masa kecilnya telah meninggal dunia. Ia segera berangkat menuju rumah duka.

Sesampainya di sana, ia memandangi wajah sahabatnya yang telah terbujur kaku. Air matanya jatuh tanpa mampu dibendung.

Dengan suara bergetar ia berkata, "Maafkan aku... sudah bertahun-tahun kita tinggal di kota yang sama, tetapi aku selalu berkata nanti... nanti aku akan datang. Ternyata yang kudatangi hari ini hanyalah jasadmu."

Orang-orang yang mendengar ucapannya ikut menundukkan kepala. Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Sejak hari itu, laki-laki tersebut mengubah hidupnya. Ia tidak lagi menunda silaturahmi. Setiap ada waktu, ia mendatangi keluarga, sahabat, tetangga, dan guru-gurunya.

Ia berkata, "Aku tidak ingin lagi hanya bertemu orang-orang yang kucintai ketika mereka sudah menjadi jenazah."

Saudaraku...
Silaturahmi bukan sekadar tradisi. Ia adalah ibadah yang sangat dicintai Allah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"...Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan..." (QS An-Nisa: 1)

Rasulullah SAW juga bersabda:
"Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi." (HR. Bukhari dan Muslim)

Banyak orang bekerja keras mencari rezeki, tetapi lupa membuka salah satu pintu rezeki yang paling besar, yaitu menyambung silaturahmi.

Betapa banyak perselisihan yang berakhir hanya karena ada yang mau datang lebih dahulu.

Betapa banyak hati yang kembali lembut hanya karena sebuah pelukan dan ucapan, "Maafkan saya."

Betapa banyak doa orang tua, guru, dan kerabat yang menjadi sebab datangnya keberkahan hidup.

Jangan merasa terlalu sibuk.
Sebab ketika ajal tiba, semua kesibukan akan berhenti. Yang tersisa hanyalah penyesalan jika selama ini kita terlalu pelit mengunjungi orang-orang yang pernah berjasa dalam hidup kita.

Mulailah hari ini.
Telepon saudara yang sudah lama tidak dihubungi.
Datangi orang tua selagi mereka masih ada.
Kunjungi kerabat tanpa menunggu hari raya.
Jenguk teman yang sedang sakit.

Sapa tetangga dengan senyum yang tulus.
Karena mungkin, pertemuan hari ini adalah pertemuan terakhir yang Allah izinkan.

Mari kita hidupkan silaturahmi sebelum datang hari ketika kita hanya bisa berdiri di samping liang kubur sambil berkata, "Seandainya dulu aku sempat datang."

Semoga konten ini menjadi pengingat yang menyentuh hati dan menggerakkan pembaca untuk segera mempererat silaturahmi.

Mengapa Masalahmu Tak Kunjung Selesai?

Mengapa Masalahmu Tak Kunjung Selesai?

Rumah tangga terasa sempit.
Rezeki terasa seret.
Hutang belum lunas.
Penyakit tak kunjung sembuh.
Anak mulai sulit dinasihati.
Hati gelisah, tidur pun tidak nyenyak.

Lalu kita mencari solusi ke mana-mana.
Mencari pinjaman.
Mencari kenalan.
Mencari orang yang dianggap bisa membantu.
Padahal, sudahkah kita mendatangi Allah?

Allah telah memberi resep yang sangat sederhana, tetapi sering kita lupakan.
"Wasta'iinu bish-shabri wash-shalah."
"Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat." (QS Al-Baqarah: 45)

Perhatikan, Allah tidak mengatakan, "Mintalah pertolongan kepada hartamu."
Allah tidak mengatakan, "Mintalah pertolongan kepada jabatanmu."
Allah tidak mengatakan, "Mintalah pertolongan kepada manusia."
Allah justru memerintahkan kita untuk meminta pertolongan melalui shalat.

Rasulullah SAW pun memberikan teladan. Setiap menghadapi persoalan besar, beliau memanggil Bilal seraya bersabda:
"Ya Bilalu, aqimis shalata arihna biha."
"Wahai Bilal, dirikanlah shalat. Istirahatkanlah hati kami dengannya."

Shalat bukan sekadar kewajiban.
Shalat adalah tempat mengadu.
Shalat adalah tempat menangis.
Shalat adalah tempat mengumpulkan kembali hati yang telah hancur.

Lihatlah para ulama terdahulu.
Imam Ahmad bin Hanbal disiksa, tetapi beliau tetap menjaga shalat.
Imam Abu Hanifah menghadapi tekanan penguasa, tetapi beliau memperbanyak shalat malam.

Sa'id bin Al-Musayyib menjaga takbiratul ihram berjamaah selama puluhan tahun.
Mereka tidak mencari ketenangan di dunia, tetapi mencarinya dalam sujud.

Hari ini, mungkin masalah kita belum selesai.
Namun jangan sampai shalat kita juga ikut rusak.
Sebab bisa jadi, bukan masalahmu yang terlalu besar.
Tetapi hubunganmu dengan Allah yang mulai renggang.

Maka mulai hari ini...
Jangan tinggalkan shalat berjamaah.
Jangan tinggalkan shalat sunnah.
Jangan tinggalkan tahajud walau hanya dua rakaat.
Karena orang yang paling dekat dengan pertolongan Allah bukanlah orang yang paling kaya, tetapi orang yang paling dekat dengan sajadahnya.
Bagaimana shalatmu hari ini? Karena mungkin, di sanalah letak solusi hidupmu.

Selasa, 30 Juni 2026

PENJEGHUM BEIJE ADIK SANAK

PENJEGHUM BEIJE ADIK SANAK

Assalamu'alaikum wr. wb. 

Dengan hormat, kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i untuk dapat hadir pada acara BEIJE ADIK SANAK, yang insya Allah akan dilaksanakan pada:

Hari/Tanggal : Malam Kamis/ Malam tgl 2 Juli 2026
Waktu   : setelah shalat Isya
Tempat : Jalan Rajawali, Manna

Atas perhatian dan kehadirannya, kami ucapkan terima kasih.

Yang Mengundang

ISMILIANTO

*CATATAN : pelaksanaan resepsi adalah Sabtu-Minggu / tgl 11-12 Juli 2026

Senin, 29 Juni 2026

Surah Al-Mulk Menjadi Pembelanya Cerpen: oleh Ismilianto

Surah Al-Mulk Menjadi Pembelanya
Cerpen: oleh Ismilianto

Malam itu langit begitu bening. Angin berembus pelan, seolah enggan mengusik keheningan.

Usai menunaikan salat Isya, Pak Hasan duduk di atas sajadahnya. Seperti malam-malam sebelumnya, kedua bibirnya kembali melantunkan Surah Al-Mulk. Tiga puluh ayat yang telah bertahun-tahun menjadi teman sebelum tidur itu mengalir lembut dari lisannya.
"Tabārakalladzī biyadihil mulku..."

Tak ada yang mengetahui bahwa itulah bacaan terakhirnya di dunia.
Sesaat kemudian, kepalanya tertunduk. Wajahnya begitu damai. Senyum tipis masih tersisa di bibirnya ketika ruhnya kembali kepada Sang Pencipta.

Keesokan harinya, rumah sederhana itu dipenuhi pelayat.
Saat jenazah dimandikan, seorang yang membantu memandikan tiba-tiba terdiam.
"Subhanallah... harum sekali..."
Yang lain mengangguk pelan. Tak ada parfum. Tak ada minyak wangi. Namun ruangan itu dipenuhi aroma yang menenangkan hati.

Ketika tubuh Pak Hasan dibungkus kain kafan, keharuman itu justru semakin semerbak. Beberapa pelayat saling berpandangan, sementara air mata mereka perlahan jatuh tanpa disadari.

Di pemakaman, keajaiban itu kembali terasa.
Seorang penggali kubur mengangkat segenggam tanah lalu mendekatkannya ke hidung.
"Wangi... tanah ini wangi..."

Mereka saling berpandangan penuh takjub. Seakan bumi pun sedang menyambut seorang hamba yang selama hidupnya selalu mengingat Tuhannya.

Usai talqin dan doa selesai dibacakan, satu demi satu pelayat meninggalkan makam.
Tangis keluarga semakin menjauh.
Langkah kaki mereka perlahan menghilang.
Kini Pak Hasan benar-benar sendiri.
Tak ada lagi istri yang menggenggam tangannya.
Tak ada lagi anak-anak yang memanggil namanya.
Tak ada lagi sahabat yang menemani.
Yang tinggal hanyalah amal-amal yang dahulu ia bawa dengan ikhlas.

Gelap menyelimuti liang kubur.
Sunyi begitu dalam.
Lalu, dengan izin Allah, datanglah dua malaikat yang diutus untuk mendatangi setiap hamba di alam barzakh.

Saat itulah, rahmat Allah turun memenuhi kubur Pak Hasan.
Liang kubur yang sempit berubah menjadi lapang.
Udara yang gelap dipenuhi cahaya ketenangan.
Rasa takut yang biasa menghampiri manusia berganti dengan ketenteraman yang sulit digambarkan.

Allah meneguhkan hati hamba-Nya.
Sebagaimana firman-Nya,
"Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat." (QS Ibrahim: 27)

Dengan hati yang mantap, Pak Hasan menjawab,
"Rabbku adalah Allah."
"Agamaku Islam."
"Nabiku Muhammad SAW."

Maka Allah memuliakannya.
Kuburnya dilapangkan sejauh mata memandang.
Sebuah pintu menuju kenikmatan surga dibukakan baginya.
Angin surga berembus lembut membawa kesejukan dan aroma yang tak pernah ada di dunia.

Di saat itulah tampak betapa berharganya amal yang selama ini dianggap sederhana.
Surah Al-Mulk yang hampir setiap malam ia baca menjadi sebab datangnya perlindungan Allah dari azab kubur.

Rasulullah SAW bersabda,
"Surah Tabārak (Al-Mulk) adalah penghalang yang melindungi pembacanya dari azab kubur."

Dalam hadis lain beliau juga bersabda,
"Ada satu surah yang terdiri dari tiga puluh ayat. Surah itu memberi syafaat kepada seseorang hingga dosanya diampuni, yaitu Surah Al-Mulk." (HR. At-Tirmidzi)

Malam demi malam, Pak Hasan dahulu mungkin tidak pernah membayangkan bahwa bacaan yang hanya memerlukan beberapa menit itu kelak menjadi salah satu sebab datangnya kasih sayang Allah di alam kubur.

Kini keluarganya hanya bisa berdoa dari dunia.
Namun Surah Al-Mulk yang dahulu ia baca dengan istiqamah telah lebih dahulu "menemaninya" sebagai amal saleh yang terus memberi manfaat dengan izin Allah.

Maka, jangan pernah merasa berat membaca Surah Al-Mulk sebelum tidur.
Kita tidak pernah tahu, malam ini mungkin masih menjadi milik kita.

Namun boleh jadi, malam esok Surah Al-Mulk-lah yang menjadi bacaan terakhir sebelum malaikat maut datang menjemput.

Semoga Allah menjadikan lisan kita selalu basah dengan Al-Qur'an, mengakhiri hidup kita dalam husnul khatimah, melapangkan kubur kita, melindungi kita dari azab kubur, dan mengumpulkan kita bersama orang-orang saleh di surga-Nya.
Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Minggu, 28 Juni 2026

Saat Malaikat Datang, Surah Al-Mulk Menjadi Pembelanya"Cerpen:oleh Ismilianto

Surah Al-Mulk Menjadi Pembelanya
Cerpen:oleh Ismilianto

Malam itu langit begitu teduh.
Pak Hasan mengembuskan napas terakhirnya setelah salat Isya. Sebelum wafat, bibirnya masih sempat berbisik membaca Surah Al-Mulk, sebagaimana kebiasaannya setiap malam.
Tidak ada yang menyangka, itulah bacaan terakhirnya di dunia.
Ketika jenazah dimandikan, seluruh ruangan dipenuhi aroma harum yang sulit dilukiskan.
"Subhanallah... wangi sekali," bisik seorang tetangga.
Saat kain kafan membungkus tubuhnya, keharuman itu justru semakin semerbak.
Di pemakaman, para penggali kubur kembali dibuat heran.
Tanah yang baru digali mengeluarkan aroma harum, seolah-olah bumi sedang menyambut seorang hamba yang dicintai Allah.
Usai pemakaman, satu per satu pelayat pulang.
Tinggallah Pak Hasan sendirian di dalam kuburnya.
Gelap.
Sunyi.
Tak ada lagi keluarga.
Tak ada lagi sahabat.
Yang tersisa hanyalah amal.
Tak lama kemudian, datanglah dua malaikat yang ditugaskan Allah untuk mendatangi setiap manusia di alam kubur.
Dengan izin Allah, mereka hendak menanyakan pertanyaan yang akan menentukan keadaan seorang hamba di alam barzakh.
Namun, pada saat itulah tampak cahaya memenuhi liang kubur.
Seakan-akan bacaan Surah Al-Mulk yang selama ini istiqamah dibaca hadir sebagai pembela.

Dalam hadis sahih, Rasulullah SAW bersabda:
"Surah Al-Mulk adalah penghalang; ia melindungi pembacanya dari azab kubur."
(Hadis dengan makna yang diriwayatkan dari beberapa jalur dan dinilai sahih oleh sejumlah ulama.)

Maka kubur itu menjadi lapang.
Udara menjadi sejuk.
Rasa takut berubah menjadi ketenangan.
Allah meneguhkan hati hamba-Nya sehingga ia mampu menjawab pertanyaan malaikat dengan benar.

Sebab Allah telah berfirman:
"Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat." (QS Ibrahim: 27)

Pak Hasan pun menjawab dengan penuh keyakinan:
"Rabbku adalah Allah."
"Agamaku Islam."
"Nabiku adalah Muhammad SAW."

Dengan izin Allah, ujian itu dilaluinya dengan mudah.
Lalu dibukakan baginya sebuah pintu menuju kenikmatan surga.
Aroma surga mulai memasuki liang kuburnya.
Kuburnya menjadi luas sejauh mata memandang.
Ia pun beristirahat dengan tenang hingga datang hari kebangkitan.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa tidak ada amal yang sia-sia.

Rasulullah SAW bersabda:
"Ada satu surah yang terdiri dari tiga puluh ayat yang memberi syafaat kepada seseorang hingga dosanya diampuni, yaitu Surah Al-Mulk." (HR. At-Tirmidzi)

Karena itu, marilah kita membiasakan membaca Surah Al-Mulk setiap malam sebelum tidur. Kita tidak tahu malam mana yang akan menjadi malam terakhir kita di dunia.

Semoga ketika seluruh manusia meninggalkan kita di liang kubur, Allah mengirimkan amal-amal saleh sebagai teman, pelindung, dan penenang hingga datang hari perjumpaan dengan-Nya.