Laqadja akum rasulum


web stats

Minggu, 15 Februari 2026

Jika Guru Diam, Siapa yang Mendidik?

Jika Guru Diam, Siapa yang Mendidik?

Hari ini, di banyak ruang kelas, bukan murid yang paling takut—
tetapi guru.
Bukan karena mereka kehilangan ilmu atau panggilan jiwa,
melainkan karena takut salah langkah, salah kata, salah niat,
lalu berujung laporan hukum atas nama perlindungan anak.
Undang-Undang Perlindungan Anak lahir dari niat luhur:
menjaga anak dari kekerasan dan kezaliman.
Namun dalam praktik, undang-undang ini kerap dipahami secara kaku,
tanpa membedakan antara kekerasan dan pendidikan disiplin.
Akibatnya, banyak guru memilih diam.
Bukan karena tidak peduli,
tetapi karena merasa tidak dilindungi.
Padahal negara juga memiliki Undang-Undang Guru dan Dosen
yang secara tegas menyatakan bahwa guru berhak atas perlindungan hukum,
perlindungan profesi, dan rasa aman dalam menjalankan tugas.
Masalahnya bukan ketiadaan hukum,
melainkan ketiadaan keberanian untuk menegakkan keseimbangan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Akhlak tidak tumbuh dari kebebasan tanpa batas.
Ia tumbuh dari bimbingan, ketegasan, dan kasih sayang yang beriringan.
Allah mengingatkan:
“Dan janganlah kebencian suatu kaum mendorong kamu berlaku tidak adil.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)
Ketika hukum hanya dilihat dari satu sisi,
keadilan berubah menjadi ketakutan.
Sekolah akhirnya bukan lagi ruang pembentukan karakter,
melainkan ruang administratif yang kering dari keteladanan.
Guru hadir secara fisik,
namun absen secara moral.
Jika keadaan ini dibiarkan,
kita tidak hanya kehilangan wibawa guru,
tetapi juga kehilangan arah pendidikan.
Karena anak yang tak pernah ditegur di sekolah,
akan ditegur lebih keras oleh kehidupan.
Dan ketika itu terjadi,
tak ada undang-undang yang bisa menggantikan peran guru
yang dulu memilih diam demi bertahan.
Pertanyaannya kini sederhana, namun mengguncang:
jika guru diam, siapa yang mendidik?

PETANG YANG MENGUATKAN

PETANG YANG MENGUATKAN

Menjelang petang ada kisah, 
Seorang ayah ojek online menghentikan motornya di pinggir jalan saat azan Magrib berkumandang. Helm masih di tangan, matanya basah. 

Hari itu ia belum mendapat cukup untuk susu anaknya. Namun ia memilih salat lebih dulu. “Kalau Allah kutinggalkan, siapa lagi tempatku berharap,” katanya lirih. 

Petang itu, ia pulang dengan uang pas-pasan, tapi hati yang penuh.
Allah berfirman:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2–3)

Ada pula seorang ibu tua di rumah sakit kelas tiga. Tangannya menggenggam tas plastik berisi baju lusuh.
Anaknya kritis, sementara ia tak mampu membayar tambahan obat. 

Di sudut ranjang, ia berbisik, “Ya Allah, aku tak punya siapa-siapa selain Engkau.” Malam itu, datang bantuan dari orang yang tak dikenalnya. 

Petang mengajarinya satu hal: Allah tak pernah terlambat.
Bukankah Allah telah berjanji:
“Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu.”
(QS. Ghafir: 60)

Ada juga kisah seorang lelaki yang kehilangan pekerjaannya, lalu kehilangan rasa percaya diri. Ia duduk sendirian saat matahari tenggelam, menatap langit jingga sambil menahan air mata. Ia sadar, selama ini ia kuat bukan karena jabatan, tapi karena Allah yang menegakkan hatinya. 
Petang itu ia bersujud lebih lama dari biasanya.

Rasulullah SAW bersabda:
“Ketahuilah, pertolongan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bersama kesulitan ada kemudahan.”
(HR. Tirmidzi)

Petang memang tidak selalu membawa kabar gembira. Kadang ia datang dengan sunyi, dengan luka yang belum sembuh, dengan doa yang terasa menggantung. Namun justru di waktu inilah Allah paling sering menyentuh hati yang rapuh.

Petang mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, bukan karena kalah, tapi karena sadar: hidup ini terlalu berat jika dipikul sendiri.

Maka jika dadamu terasa sesak saat senja, jangan buru-buru kuat. Duduklah. Tarik napas. Serahkan semuanya pada Allah. Sebab hati yang bersandar kepada-Nya, meski terluka, tak pernah benar-benar hancur.

Sabtu, 14 Februari 2026

PAGI YANG MENGGELEGAR

PAGI YANG MENGGELEGAR 

Ada kisah Seorang bapak tua bangun setiap pukul tiga pagi.  Untuk menunaikan salat dan menangis pelan. Anaknya pernah berkata,
“Pak, kenapa masih sekuat itu berdoa, padahal hidup kita begini-begini saja?”
Sang bapak tersenyum.
“Justru karena hidup kita begini, Nak. Kalau bukan Allah yang aku pegang, aku sudah tumbang sejak lama.”

Beberapa tahun berlalu. Anak itu kini berdiri tegak dengan pekerjaannya karena warisan doa yang tidak pernah putus di waktu subuh.

Ada pula seorang ibu penjual sayur. Dagangannya sering tersisa banyak. Pernah ia pulang dengan tangan gemetar karena uang tak cukup untuk belanja esok hari.

Tapi pagi itu, ia tetap berkata lirih,
“Ya Allah, aku berangkat bukan membawa banyak, tapi membawa percaya pada-Mu.”

Hari itu, seorang pembeli memborong seluruh dagangannya. Orang itu berkata: 
“Entah kenapa, pagi ini saya merasa harus belanja di sini.”

Kisah-kisah ini nyata. Tidak viral. Tidak ditulis di berita. Tapi menggema di langit.

Dan dari kisah-kisah inilah kita belajar:
pagi bukan soal semangat palsu, pagi adalah arena keimanan.
Jika pagi ini kita masih diberi napas, itu bukan kebetulan.
Itu tanda Allah masih mempercayai kita menjalani peran hari ini.

Mungkin doa kita belum dikabulkan.
Mungkin hidup masih berat.

Tapi ketahuilah:
Allah tidak pernah membangunkan orang di pagi hari tanpa menyiapkan kekuatan yang cukup untuk menjalaninya.

Maka berdirilah hari ini.
Bukan dengan sombong, tapi dengan yakin.
Bukan dengan banyak kata, tapi dengan niat yang lurus.

Selamat pagi.
Hari ini bukan hari biasa.
Hari ini adalah kesempatan baru untuk menang— dengan cara Allah.

Ketika Iman Umat Diukur oleh Tangisan Anak Oleh: Ismilianto

Ketika Iman Umat Diukur oleh Tangisan Anak
Oleh: Ismilianto

Di Ngada, seorang anak SD memilih mengakhiri hidupnya.
Bukan karena ia membenci hidup, melainkan karena hidup terasa terlalu berat hanya untuk membeli pulpen dan buku.

Peristiwa ini bukan sekadar tragedi sosial.
Ia adalah alarm iman.

Negeri ini memiliki kementerian yang secara khusus mengurusi iman umat: Kementerian Agama Republik Indonesia.

Namun iman bukan hanya urusan khutbah, kurikulum madrasah, atau kalender hari besar.

Iman diuji ketika anak-anak kehilangan harapan, dan orang dewasa kehilangan kepekaan.

Allah tidak bertanya berapa program yang kita buat,
tetapi siapa yang kita selamatkan.

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?
Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1–3)

Ayat ini tidak berbicara tentang akidah di langit,
melainkan iman yang membumi.

Ketika seorang anak merasa sekolah adalah beban yang memalukan karena kemiskinan, di situlah iman kolektif umat sedang diuji—
BUKAN HANYA OLEH NEGARA, TAPI OLEH LEMBAGA AGAMA, TOKOH AGAMA, DAN KITA SEMUA.

Kisah Nyata di Lapangan
Di banyak daerah, guru madrasah dan penyuluh agama menyimpan cerita pilu.

Ada murid yang datang mengaji tanpa buku.
Ada yang absen bukan karena malas, tapi karena harus membantu orang tua.
Ada yang diam menunduk ketika ditanya cita-cita—karena merasa tidak pantas bermimpi.

Jika Kementerian Agama mengurusi iman umat,
maka anak-anak inilah mihrabnya.

Mereka bukan objek bantuan, tapi tolok ukur keimanan sosial. Antara Negara, Agama, dan Nurani. 

Kritik keras mahasiswa kepada Prabowo Subianto lahir dari luka yang sama:
ketika angka-angka berbicara lebih lantang daripada air mata.

Namun sesungguhnya, yang paling sunyi suaranya justru iman yang tidak sampai ke dapur-dapur miskin dan tas sekolah anak-anak.

Negara boleh mengklaim keberhasilan, agama boleh mengklaim kesalehan,
tetapi Allah melihat siapa yang kita biarkan putus asa.

Ya Allah,
jika iman umat kami masih sering berhenti di lisan dan seremoni, ajarkan kami iman yang berjalan, menolong, dan memeluk yang lemah.

Bimbing para pemimpin negeri dan para pengurus agama
agar kebijakan dan dakwah bertemu di satu titik:
menjaga martabat anak-anak negeri.

Jangan Engkau biarkan satu pun anak merasa mati
karena hidup tak lagi memberi harapan.
Aamiin ya rabbal aalamin. 

IKHLAS MEMAAFKAN Cerpen: oleh Ismilianto


IKHLAS MEMAAFKAN 
Cerpen: oleh Ismilianto

Assalamualaika ya Sayyidi ya Rasulullah…
Hujan turun pelan sore itu, seolah ikut menundukkan langit.
Di sudut ruang rumah sakit yang sunyi, seorang lelaki paruh baya terbaring lemah. Napasnya tersengal. Matanya cekung, tapi ada satu hal yang lebih menyakitkan dari penyakit di tubuhnya: penyesalan di dadanya.
Belasan tahun lamanya ia tidak pernah menyebut satu nama.
Nama abang kandungnya sendiri.
Semua berawal dari sebidang tanah warisan.
Tanah yang seharusnya menjadi berkah, justru berubah menjadi tembok pemisah. Kata demi kata melukai. Harga diri meninggi. Ego menang.
Sejak itu, mereka menjadi dua orang asing yang lahir dari rahim yang sama.
Setiap Lebaran, mereka saling membelakangi.
Satu memilih shaf paling depan.
Satu lagi sengaja datang paling akhir.
Tak ada salam.
Tak ada jabat tangan.
Tak ada doa.
Hingga sore itu, ketika penyakit merenggut sisa kekuatannya, sang adik memanggil satu nama yang lama terkunci di dadanya.
“Bang…”
Suaranya pecah.
“Aku takut.”
Abangnya berdiri kaku di samping ranjang. Tak sanggup menatap lama.
“Kalau aku mati sebelum kita berbaikan…”
Air mata jatuh dari sudut mata sang adik.
“Bagaimana aku menghadap Allah dengan hati seperti ini?”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari apa pun.
Abangnya gemetar. Tangannya bergetar hebat saat menyentuh bahu adiknya.
Tanah itu…
Tiba-tiba terasa sangat kecil.
Sangat tidak berarti.
Ia memeluk tubuh yang dulu sering ia gendong ketika kecil.
Tangisnya pecah.
“Maafkan abang… Maafkan abang…”
Di antara isak, dua hati yang lama retak akhirnya kembali menyatu.
Sejak hari itu, bukan hanya penyakit yang perlahan reda.
Hidup mereka pun terasa lebih lapang.
Rezeki mengalir lebih tenang.
Rumah kembali hangat.
Karena ternyata…
Hati yang berdamai adalah pintu rezeki yang sering kita kunci sendiri.
Namun kisah memaafkan tidak berhenti di dunia.
Kelak, di Padang Mahsyar, ketika manusia berdiri tanpa pelindung, seorang hamba maju dengan wajah penuh harap.
Ia merasa cukup siap.
Salatnya ada. Sedekahnya ada. Puasanya ada.
Namun satu per satu orang datang menuntut.
“Ya Allah, dia pernah menzalimiku.”
Maka pahala berpindah.
Sedikit demi sedikit.
Hingga nyaris habis.
Tubuhnya gemetar.
Ia tahu… jika pahala tak cukup, dosa orang lain akan dipikulnya.
Di tengah ketakutan itu, Allah memperlihatkan sebuah istana di surga.
Indahnya tak bisa dibayangkan oleh bahasa manusia.
“Untuk siapa istana itu?” tanya orang yang menuntut.
“Untuk hamba yang mau memaafkan saudaranya.”
Hatinya luluh.
Ia menunduk.
“Ya Allah… aku telah memaafkannya.”
Dan dengan rahmat-Nya, Allah menyelamatkan keduanya.
Malam ini, mari kita jujur pada diri sendiri.
Masih adakah nama yang membuat dada kita sesak?
Masih adakah wajah yang jika teringat membuat hati panas?
Jika ada…
Mungkin justru di situlah pintu istana kita di surga.
Memaafkan bukan tanda kalah.
Memaafkan adalah kemenangan jiwa.
Maafkanlah di dunia, sebelum pahala menjadi alat tukar di akhirat.
Maafkanlah, agar Allah pun memaafkan kita.
Semoga air mata yang jatuh malam ini menjadi saksi,
bahwa kita memilih memaafkan…
sebelum berdiri sendiri di Padang Mahsyar.
Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.

Jumat, 13 Februari 2026

RENUNGAN PENUTUP MALAM

RENUNGAN PENUTUP MALAM

“Malam ini mungkin banyak yang sudah terlelap. Tapi sebelum kita benar-benar memejamkan mata, izinkan satu renungan kecil…”

Malam selalu jujur.
Di siang hari kita bisa sibuk berdebat.
Bisa keras bersuara.
Bisa lantang menyalahkan.
Tapi malam membuat kita diam.
Di keheningan seperti ini, saya sering bertanya pada diri sendiri…
Sudahkah kita benar-benar mencintai negeri ini dengan cara yang benar?
Kita ingin Indonesia maju.
Kita ingin anak-anak kita sejahtera.
Kita ingin petani tersenyum dan sarjana tidak menganggur.
Namun kemajuan tidak lahir hanya dari kemarahan.
Ia lahir dari ketekunan.
Dari ilmu yang dipakai.
Dari integritas yang dijaga meski tak ada yang melihat.
Negeri ini besar.
Terlalu besar untuk diserahkan pada keputusasaan.
Terlalu mulia untuk dipenuhi saling menjatuhkan.
Mungkin perubahan tidak langsung terasa.
Mungkin langkah kita kecil.
Tapi sejarah selalu dimulai dari orang-orang yang tidak berhenti berharap.
Malam ini, mari kita titipkan satu doa:
Ya Allah,
Jangan biarkan kami lelah mencintai negeri ini.
Teguhkan hati kami untuk tetap jujur.
Dan bangkitkan bangsa ini dengan ilmu dan keberanian.
Kita boleh lelah.
Tapi jangan kehilangan arah.
Selamat beristirahat.
Besok kita bangun lagi — dengan harapan yang tidak padam.

(Belajar dari Desa, Berpikir untuk Indonesia).

SUARA DARI BALAI DESA Cerpen: oleh Ismilianto

SUARA DARI BALAI DESA
Cerpen: oleh Ismilianto

Malam itu balai desa tidak biasanya penuh.
Lampu neon menggantung pucat, kursi-kursi plastik berderet tak beraturan. Petani, guru, pemuda, ibu-ibu PKK, semua duduk menunggu seseorang yang ingin berbicara.

Namanya Rahman.
Bukan pejabat.
Bukan anggota dewan.
Hanya rakyat biasa yang terlalu lama memendam kegelisahan.

Ia berdiri pelan. Tangannya sedikit gemetar, tapi suaranya tegas.
“Saudara-saudaraku… saya hanya rakyat biasa. Tapi saya rindu negeri ini benar-benar maju.”

Orang-orang terdiam.
“Kita punya tenaga kerja melimpah. Sarjana banyak. Tapi pengangguran juga banyak. Di mana yang salah?”

Beberapa pemuda saling pandang. Mereka lulusan universitas. Ijazah ada. Pekerjaan belum menentu.

Rahman melanjutkan.
“Kita sering membandingkan diri dengan Jepang. Negeri itu tidak kaya tambang. Tidak luas tanahnya. 

Tapi mereka kaya arah. Profesor mereka turun ke sawah. Peneliti mereka bekerja untuk produksi. Ilmu tidak berhenti di kertas.”
Ia menatap Pak Darto, petani tua di sudut ruangan.

“Sementara di desa kita, pertanian masih cara lama. Alat buatan anak bangsa berhenti di pameran. Hasil penelitian mati di rak laporan.”

Seorang guru mengangguk pelan.
“Bukan karena mahasiswa kita malas,” lanjut Rahman.
“Tapi karena ilmu tidak memimpin kebijakan.”

Suasana mulai terasa berat.
“Coba kita jujur,” katanya lagi.

“Berapa profesor yang duduk menentukan arah kebijakan negeri? 

Berapa peneliti yang ikut memutuskan masa depan pertanian dan industri?”

Tak ada yang menjawab.
“Ilmu ada di kampus. Kekuasaan ada di gedung lain.
Keduanya jarang bertemu.”

Seorang pemuda berdiri, suaranya lirih,
“Jadi… apa yang harus berubah, Bang?”

Rahman tersenyum tipis.
“Kita tidak kekurangan orang pintar. Yang kurang adalah keberanian menempatkan ilmu di kursi pengambil keputusan. 

Kalau kebijakan dibuat dengan napas keilmuan, pertanian bisa bangkit. Industri bisa tumbuh. Lapangan kerja terbuka.”

Ia menarik napas panjang.
“Ini bukan soal gelar. Ini soal arah. Kalau yang memutuskan tidak hidup dengan dunia riset, tidak paham teknologi, tidak menyentuh sawah dan pabrik… keputusan akan jauh dari kebutuhan rakyat.”

Angin malam masuk lewat jendela yang terbuka. Lampu bergoyang pelan.

Rahman menutup pidatonya dengan suara yang lebih lembut:
“Kami rakyat kecil tidak ingin banyak janji. Kami ingin kebijakan yang berilmu dan berpihak pada rakyat. Kami ingin negeri ini maju karena kerja nyata, bukan karena kata-kata.”

Balai desa sunyi beberapa detik.
Lalu terdengar tepuk tangan perlahan, yang lama-lama menjadi gemuruh.

Malam itu, tidak ada keputusan besar yang lahir.
Tidak ada undang-undang yang disahkan.

Tapi ada sesuatu yang tumbuh. Yaitu Kesadaran.
Bahwa kemajuan bangsa bukan hanya urusan istana dan gedung tinggi.

Ia bisa lahir dari balai desa sederhana, dari suara rakyat yang rindu kemakmuran,
dan dari keyakinan bahwa ilmu harus memimpin negeri.