Laqadja akum rasulum


web stats

Kamis, 18 Juni 2026

Hadapi Masalah dengan Iman dan Taqwa

Hadapi Masalah dengan Iman dan Taqwa

Dahulu ada seorang pedagang kecil yang mengalami kebangkrutan. Tokonya habis terbakar. Modal lenyap. Ia pulang ke rumah dengan langkah gontai.

Malam itu istrinya bertanya, "Apa yang tersisa dari usaha kita?"
Dengan mata berkaca-kaca ia menjawab, "Yang tersisa hanya sajadah dan keimanan."

Sejak hari itu ia memperbanyak shalat berjamaah, memperbanyak istighfar, menjaga sedekah walaupun sedikit, dan tidak pernah meninggalkan tahajud.
Orang-orang menganggapnya sudah selesai.
Tetapi ia yakin Allah belum selesai menolongnya.

Berbulan-bulan kemudian, seseorang yang mengetahui kejujurannya menawarkan kerja sama usaha. Sedikit demi sedikit kehidupannya bangkit kembali. Bahkan usahanya menjadi lebih besar daripada sebelumnya.

Ketika ditanya apa rahasia kebangkitannya, ia menjawab:
"Saat hartaku habis, aku baru sadar bahwa yang paling berharga bukan uang, melainkan hubungan dengan Allah."

Sahabatku,
Keterpurukan bukanlah akhir perjalanan.
Nabi Ayyub 'alaihis salam pernah sakit bertahun-tahun, kehilangan harta dan keluarga, tetapi tidak kehilangan iman.
Nabi Yusuf 'alaihis salam pernah dibuang ke sumur dan dipenjara, tetapi akhirnya Allah mengangkat derajatnya.

Maka jangan menyerah hanya karena hari ini keadaan belum berubah.
Tetaplah shalat.
Tetaplah berdoa.
Tetaplah bersabar.
Tetaplah bertakwa.
Sebab sering kali pertolongan Allah datang ketika manusia sudah merasa tidak memiliki apa-apa selain harapan kepada-Nya.

Jangan takut jika hidup sedang terpuruk. Takutlah jika keterpurukan itu membuat kita jauh dari Allah. Karena selama iman masih ada di dada dan takwa masih dijaga, sesungguhnya harapan belum pernah mati.

Rabu, 17 Juni 2026

Ada Nasib Saat Semua Orang Tidur

Ada Nasib Saat Semua Orang Tidur

Pagi ini saya ingin mengajak kita merenung.
Ada orang yang bangun sebelum azan Subuh. Ia berwudu dalam dinginnya air, berjalan ke masjid ketika jalanan masih gelap, lalu berdiri menghadap Allah saat kebanyakan manusia masih terlelap.

Mungkin tidak ada yang melihatnya.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada pujian.
Tetapi bisa jadi, pada saat itulah Allah sedang menulis takdir kebaikan yang besar untuk hidupnya.

Rasulullah SAW bersabda:
"Berikan kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan ke masjid dalam kegelapan malam dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Banyak orang mengejar dunia sejak pagi. Ada yang mengejar jabatan, harta, dan pujian manusia. Itu tidak salah. Namun ada satu pertanyaan yang jarang kita tanyakan:
Sudahkah kita mengejar ridha Allah sebagaimana kita mengejar dunia?

Seorang ulama pernah bercerita tentang seorang lelaki tua yang tidak pernah meninggalkan salat Subuh berjamaah selama puluhan tahun. Ketika beliau meninggal, warga kampung kehilangan satu pemandangan yang selalu mereka lihat setiap fajar.

Anak-anak muda yang biasa melihat langkahnya menuju masjid menangis.
Bukan karena ia orang kaya.
Bukan karena ia pejabat.
Tetapi karena ia meninggalkan jejak keteladanan.

Ternyata, kemuliaan seseorang tidak selalu diukur dari seberapa banyak yang mengenalnya, tetapi seberapa dekat ia dengan Allah ketika manusia lain lalai.

Allah berfirman:
"Berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan." (QS. Al-Baqarah: 148)

Pagi ini, mari bertanya kepada diri sendiri:
Jika hari ini adalah hari terakhir hidup kita, bekal apa yang sudah kita siapkan untuk pulang?

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang menjaga salat, memakmurkan masjid, memperbanyak dzikir, dan menutup usia dalam keadaan husnul khatimah.

Allahumma a'inna 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik.

Selamat pagi. Jangan hanya memulai hari dengan pekerjaan, tetapi mulailah dengan mendekat kepada Allah. Sebab rezeki terbesar bukanlah harta, melainkan hati yang selalu terhubung dengan-Nya. 

Selasa, 16 Juni 2026

Dua Cahaya di Ujung Hari Cerpen: oleh Ismilianto

Dua Cahaya di Ujung Hari
Cerpen: oleh Ismilianto

Di sebuah kampung kecil, hiduplah seorang lelaki tua bernama Hamzah.
Ia bukan orang kaya.
Rumahnya sederhana.
Pakaiannya biasa.
Namanya tidak pernah masuk koran.

Namun ada satu kebiasaan yang membuat para malaikat mengenalnya.
Setelah azan Subuh berkumandang, Hamzah selalu berjalan menuju masjid.
Usai shalat Subuh berjamaah, ia tidak segera pulang.

Ketika jamaah lain satu per satu meninggalkan masjid, Hamzah tetap duduk di saf depan.
Tasbih berputar perlahan di jemarinya.
Kadang ia membaca Al-Qur'an.
Kadang ia menundukkan kepala sambil beristighfar.
Kadang hanya memandang langit yang perlahan berubah warna.

Ia menunggu matahari terbit.
Lalu ketika matahari mulai naik setinggi tombak, ia berdiri dan melaksanakan dua rakaat shalat Syuruk.

Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa melaksanakan shalat Subuh berjamaah, lalu ia duduk berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia shalat dua rakaat, maka baginya pahala seperti pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna." (HR. At-Tirmidzi)

Hadis itu selalu membuat Hamzah terharu.
Ia sering berkata kepada dirinya sendiri,
"Kalau aku tak mampu berangkat haji setiap tahun, semoga Allah mencatatku sebagai tamu-Nya melalui amalan yang diajarkan Rasulullah SAW."

Waktu berlalu.
Rambut Hamzah semakin memutih.
Langkahnya tidak lagi sekuat dulu.
Tetapi ada satu kebiasaan lain yang tidak pernah ia tinggalkan.
Setelah shalat Magrib berjamaah, ia tidak langsung pulang.
Ia tetap berada di masjid.
Melaksanakan enam rakaat shalat Awwabin.
Lalu kembali berdzikir hingga Isya.

Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa shalat enam rakaat setelah Magrib tanpa diselingi perkataan buruk, maka baginya pahala seperti ibadah dua belas tahun."
(HR. At-Tirmidzi)

Dalam riwayat lain disebutkan:
"Shalatnya orang-orang yang kembali kepada Allah adalah ketika anak-anak unta mulai merasakan panas matahari."
(HR. Muslim)

Para ulama menyebut orang yang gemar memperbanyak shalat sunnah sebagai golongan Awwabin, yaitu orang-orang yang selalu kembali kepada Allah.

Hamzah sangat mencintai nama itu.
Ia ingin ketika dipanggil di langit, para malaikat berkata:
"Itu Hamzah, seorang yang selalu kembali kepada Allah."

Suatu malam hujan turun deras.
Angin bertiup kencang.
Jalanan berlumpur.
Sebagian orang memilih shalat di rumah.
Tetapi Hamzah tetap datang ke masjid.
Dengan payung tua dan langkah perlahan.
Seorang pemuda bertanya,
"Pak Hamzah, mengapa Bapak bersusah payah ke masjid setiap hari? Bukankah Allah Maha Mengetahui keadaan Bapak?"

Hamzah tersenyum.
Matanya berkaca-kaca.
Lalu ia berkata,
"Anakku, aku takut suatu hari Allah memanggilku, sementara aku terlalu sibuk dengan dunia dan lupa mencari bekal."
Pemuda itu terdiam.

Beberapa tahun kemudian, Hamzah jatuh sakit.
Tubuhnya melemah.
Ia tidak lagi mampu berjalan jauh.

Namun setiap Subuh ia selalu bertanya kepada anaknya,
"Sudah terbit matahari?"
Ketika diberitahu bahwa matahari telah terbit, ia shalat dua rakaat di atas kursinya.
Dan setiap selesai Magrib, ia meminta dibantu berwudhu untuk melaksanakan shalat Awwabin.

Sampai akhirnya datang hari yang tidak pernah gagal menemui siapa pun.
Hari pertemuan dengan Allah.
Pada sore hari setelah Magrib, Hamzah melaksanakan enam rakaat Awwabin seperti biasa.
Ia berdzikir cukup lama.
Malam itu ia tidur lebih awal.
Menjelang Subuh, anak-anaknya mencoba membangunkannya.

Namun Hamzah tidak menjawab.
Wajahnya tenang.
Bibirnya masih menyisakan senyum.
Ia telah pergi.

Pergi menghadap Allah yang selama puluhan tahun ia datangi dengan langkah-langkah kecil menuju masjid.

Saat jenazahnya dishalatkan, masjid penuh sesak.
Banyak orang menangis.
Bukan karena Hamzah seorang pejabat.
Bukan karena Hamzah seorang hartawan.
Tetapi karena mereka tahu siapa Hamzah di hadapan Allah.
Ia adalah lelaki yang menjaga dua cahaya.
Cahaya setelah Subuh.
Dan cahaya antara Magrib dan Isya.

Seorang imam yang mengenalnya berkata dalam sambutan takziah:
"Pak Hamzah mungkin tidak meninggalkan gedung megah. Tidak meninggalkan rekening besar. Tetapi beliau meninggalkan jejak menuju masjid yang tidak pernah putus selama puluhan tahun."

Masjid menjadi sunyi.
Banyak mata yang basah.
Sebab semua menyadari satu kenyataan:
Ketika ajal datang, yang menemani kita bukan rumah, bukan kendaraan, bukan jabatan.

Yang menemani kita hanyalah sujud-sujud yang pernah kita lakukan dengan ikhlas.
Dan mungkin, di antara sujud yang paling dirindukan seorang mukmin kelak adalah dua rakaat Syuruk setelah terbit matahari, dan enam rakaat Awwabin di antara Magrib dan Isya.

Sujud-sujud sunyi yang mungkin tidak diketahui manusia, tetapi tercatat indah di sisi Allah.
"Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih." (QS. Asy-Syu'ara: 88-89)

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang menjaga shalat, mencintai masjid, menghidupkan waktu antara Subuh dan terbit matahari, serta menghidupkan waktu antara Magrib dan Isya dengan ibadah, hingga kelak dipanggil pulang dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin.

Air Mata di Ujung Senja Cerpen: oleh Ismilianto

 Air Mata di Ujung Senja
Cerpen: oleh Ismilianto

Sore itu langit berwarna jingga. Orang-orang sibuk membicarakan datangnya Tahun Baru 1 Muharam. Sebagian memasang spanduk, sebagian lagi membuat acara di masjid.

Di sebuah rumah sederhana, seorang kakek duduk sendiri di beranda. Rambutnya memutih. Tangannya bergetar memegang kalender tua yang tergantung di dinding.

Perlahan ia mencoret angka tahun yang akan berlalu.
Matanya menatap lama.
Lalu air matanya jatuh.
Bukan karena sedih menyambut tahun baru.
Tetapi karena ia sadar, umurnya berkurang satu tahun lagi.

Ia teringat masa mudanya.
Dulu tubuhnya kuat. Berlari ke sawah tanpa lelah. Mendaki bukit tanpa sesak. Makan apa saja tanpa takut penyakit.
Ketika azan berkumandang, sering ia berkata, "Nanti saja."

Ketika diajak ke masjid, ia menjawab, "Masih muda."
Ketika dinasihati tentang kematian, ia tersenyum, "Masih lama."
Tahun demi tahun berlalu.
"Nanti saja" berubah menjadi puluhan tahun.

Sampai suatu hari sahabat-sahabatnya mulai dipanggil satu per satu.
Ada yang meninggal karena sakit.
Ada yang wafat saat tidur.
Ada yang berangkat ke kebun lalu tak pernah pulang lagi.
Kuburan yang dulu jarang dikunjungi kini semakin penuh oleh orang-orang yang pernah dikenalnya.
Dan hari itu, menjelang 1 Muharam, ia membuka album foto lama.

Di sana ada foto ayahnya.
Ayah yang dulu menggandeng tangannya ke masjid.
Kini sudah puluhan tahun berada di alam kubur. 

Ada foto ibunya.
Perempuan yang dahulu selalu mendoakannya setiap malam.
Kini tinggal nama di batu nisan.

Ada foto sahabat-sahabat masa kecilnya.
Sebagian besar sudah lebih dahulu menghadap Allah.
Tiba-tiba dadanya terasa sesak.

Ia berbisik pelan,
"Dulu aku mengantar mereka ke kuburan. Sekarang tinggal menunggu siapa yang akan mengantarku."

Tak lama kemudian terdengar azan Magrib.
Suara itu terasa berbeda.
Seolah bukan panggilan untuk salat semata.
Tetapi panggilan agar ia segera pulang kepada Allah.
Dengan langkah tertatih, ia berjalan menuju masjid.

Di tengah jalan ia melihat anak-anak muda tertawa, bercanda, berlari-lari.
Seketika ia seperti melihat dirinya sendiri puluhan tahun yang lalu.
Ia ingin menghentikan mereka dan berkata,
"Wahai anak-anak muda, jangan tertipu oleh kuatnya badanmu. Aku pernah sekuat kalian. Jangan tertipu oleh panjangnya anganmu. Aku pernah merasa kematian masih jauh. Ternyata kematian lebih cepat daripada yang kukira."

Namun kata-kata itu hanya tertahan di dalam hati.
Malam itu setelah salat Isya, ia duduk lama di masjid.
Orang-orang sudah pulang.
Lampu-lampu mulai dipadamkan.
Ia menengadahkan tangan.
Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan.

"Ya Allah... jika tahun-tahun yang lalu banyak kuisi dengan kelalaian, ampunilah aku. Jika umurku tinggal sedikit, jadikan sisa yang sedikit itu lebih baik daripada seluruh umurku yang telah lalu."

Beberapa bulan kemudian, ketika Muharam belum genap setahun berlalu, kakek itu dipanggil Allah.
Warga kampung berbondong-bondong mengantarkan jenazahnya.

Di antara mereka ada seorang pemuda yang pernah melihatnya berjalan tertatih menuju masjid pada malam 1 Muharam itu.
Pemuda tersebut menangis di tepi kuburnya.

Karena ia baru sadar...
Tahun baru bukanlah tanda umur bertambah.
Tetapi tanda jatah hidup semakin berkurang.
Dan setiap 1 Muharam yang datang sebenarnya sedang berbisik kepada kita:
"Engkau tidak sedang memasuki tahun yang baru. Engkau sedang meninggalkan satu tahun hidupmu untuk selama-lamanya."

Aku Hanya Ingin Dipuji" Cerpen: oleh Ismilianto


"Aku Hanya Ingin Dipuji"
Cerpen: oleh Ismilianto

Rian baru saja tamat SMA.
Hari kelulusan itu menjadi hari yang paling membanggakan dalam hidupnya. Ia merasa dirinya sudah menjadi orang besar.
Sejak saat itu, ada satu penyakit yang diam-diam tumbuh di hatinya: ingin dipuji.
Apa saja yang dimilikinya selalu ingin diperlihatkan kepada orang lain.
Saat membeli ponsel baru, ia sengaja meletakkannya di atas meja warung agar semua orang melihat.
Ketika memakai baju baru, ia berulang kali berjalan melewati kerumunan teman-temannya.

Ketika ayahnya membelikannya sepeda motor dengan uang hasil menjual sebidang kebun kecil, ia berkeliling kampung berkali-kali.

Dalam hati ia berkata,
"Sekarang mereka pasti tahu aku sudah sukses."
Padahal ia baru saja tamat SMA.

Ayah dan ibunya hanya tersenyum melihat tingkah anak tunggal mereka itu.
Mereka tidak pernah marah.
Mereka hanya berharap suatu hari nanti anaknya mengerti arti kehidupan.
Waktu berlalu.

Rian mendapat pekerjaan di kota.
Gajinya tidak besar, tetapi cukup untuk membeli barang-barang yang menurutnya bisa menaikkan gengsi.

Media sosialnya penuh dengan foto dirinya.
Foto di restoran.
Foto di depan mobil milik temannya.
Foto saat memegang setumpuk uang.
Semua ingin dipamerkan.
Semua ingin mendapat pujian.
Suatu malam telepon dari kampung berdering.
Ayahnya sakit keras.
Rian pulang tergesa-gesa.
Sesampainya di rumah, ia terkejut.

Rumah itu tampak semakin tua.
Dindingnya mulai lapuk.
Atapnya bocor di beberapa tempat.
Di sudut rumah, ia melihat ibunya sedang menanak nasi dengan kayu bakar.
Matanya tiba-tiba tertuju pada lemari tua.

Di dalamnya tersimpan rapi semua piagam dan foto-foto kelulusannya sejak SD.
Ibunya berkata pelan,
"Semua ini Ibu simpan baik-baik. Ibu bangga padamu."
Rian terdiam.

Malam itu kondisi ayahnya semakin memburuk.
Menjelang Subuh, ayahnya memanggilnya mendekat.
Dengan suara lemah ayah berkata,
"Rian... jangan habiskan hidupmu untuk mencari pujian manusia."

Air mata mulai mengalir dari sudut mata ayahnya.
"Lihatlah tangan Ayah."
Rian memegang tangan kasar itu.
Tangan yang penuh bekas cangkul.
Penuh luka lama.
Penuh kapalan.
"Itulah harga yang Ayah bayar agar kau bisa sekolah."

Rian menangis.
Ayah melanjutkan,
"Ayah tidak pernah bangga karena punya anak yang bergaya. Ayah bangga kalau punya anak yang rendah hati."
Kalimat itu menjadi kalimat terakhir yang didengarnya.
Beberapa saat kemudian, sang ayah menghembuskan napas terakhir.

Dunia Rian seakan runtuh.
Di pemakaman, hujan turun perlahan.
Orang-orang mulai pulang.
Ia duduk sendiri di dekat pusara ayahnya.

Tiba-tiba ia teringat semua yang pernah dipamerkannya.
Ponsel yang kini sudah usang.
Sepatu mahal yang sudah rusak.
Pakaian bermerek yang sudah tidak dipakai.
Semuanya tidak ada artinya.
Yang berharga justru tangan kasar ayahnya yang kini telah terkubur di dalam tanah.

Sambil menangis ia berbisik,
"Ayah... aku terlalu sibuk mencari tepuk tangan manusia, sampai lupa menghargai orang yang paling berjasa dalam hidupku."
Namun penyesalan selalu datang terlambat.

Sejak hari itu, Rian berubah.
Ia lebih banyak membantu ibunya.
Lebih banyak bersedekah.
Lebih banyak berbuat baik tanpa perlu diketahui orang lain.

Karena akhirnya ia memahami satu pelajaran yang sangat mahal:
Pujian manusia hanya bertahan sesaat. Tetapi doa orang tua yang ridha mampu menerangi hidup hingga dunia dan akhirat.

"Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: 'Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku waktu kecil.'" (QS. Al-Isra': 24)

Betapa banyak anak yang menangis di atas kuburan orang tuanya, bukan karena tidak mencintai mereka, tetapip karena terlambat menunjukkan cinta itu saat mereka masih hidup.

Senin, 15 Juni 2026

Jangan Lengah Saat Usia Muda dan Tubuh Masih Sehat Kuat

Jangan Lengah Saat Usia Muda dan Tubuh Masih Sehat Kuat

Banyak orang mengira masa tua masih jauh. Banyak orang merasa tubuhnya masih kuat, langkahnya masih tegap, dan napasnya masih panjang. Karena itu, ibadah ditunda, taubat ditunda, sedekah ditunda, bahkan berbuat baik pun sering ditunda.
Padahal Allah tidak pernah menjanjikan bahwa yang tua pasti meninggal lebih dahulu daripada yang muda.

Hari ini kita sering melihat anak muda meninggal karena kecelakaan, serangan jantung, sakit mendadak, atau sebab lain yang tidak pernah disangka. Kuburan tidak hanya diisi orang tua. Kuburan juga diisi anak-anak muda yang kemarin masih tertawa, bercita-cita, dan merencanakan masa depan.

Rasulullah SAW bersabda:
"Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu." (HR. Al-Hakim)

Hadis ini adalah peringatan yang sangat dalam. Masa muda dan sehat adalah modal terbesar yang sering disia-siakan manusia.

Mengapa Masa Muda Sangat Berharga?

Karena saat muda tenaga masih kuat.
Shalat malam terasa ringan.
Puasa sunnah masih kuat.
Belajar Al-Qur'an masih mudah.
Mencari rezeki halal masih bersemangat.
Berbakti kepada orang tua masih memungkinkan.

Tetapi ketika usia bertambah, tenaga mulai berkurang.
Lutut mulai sakit.
Mata mulai kabur.
Pendengaran mulai melemah.
Ingatan mulai berkurang.
Saat itu banyak orang berkata:
"Andai dulu aku rajin beribadah ketika masih kuat."
Namun waktu tidak pernah kembali.

Allah berfirman:
"Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, 'Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia agar aku dapat berbuat kebajikan terhadap yang telah aku tinggalkan.' Sekali-kali tidak." (QS. Al-Mu'minun: 99-100)

Ada kisah seorang pemuda yang terkenal sehat dan kuat. Ia sering berkata kepada teman-temannya:
"Nanti kalau umur sudah lima puluh tahun aku akan rajin ke masjid."
"Nanti kalau sudah pensiun aku akan memperbanyak ibadah."
"Nanti kalau sudah tua aku akan bertaubat."
Suatu malam ia berangkat bersama teman-temannya. Di tengah perjalanan terjadi kecelakaan. Pemuda itu meninggal saat itu juga.

Yang paling menyedihkan, semua rencana taubat yang selalu ia ucapkan tidak pernah sempat terlaksana.
Kain kafan datang lebih cepat daripada jadwal taubat yang ia buat sendiri.
Betapa banyak manusia hidup seperti itu.

Merencanakan dunia sampai puluhan tahun ke depan, tetapi tidak pernah merencanakan kematian yang bisa datang malam ini.
Kisah Nyata Imam Nawawi
Imam Nawawi wafat pada usia sekitar 45 tahun.

Usianya tidak panjang dibanding banyak orang lain. Namun keberkahannya luar biasa.
Sejak muda beliau mengisi waktunya dengan ilmu, ibadah, dan mengajar umat.
Hingga hari ini jutaan muslim masih membaca karya-karyanya.

Beliau memahami bahwa umur bukan soal panjangnya tahun, tetapi banyaknya manfaat yang ditinggalkan.
Ada orang hidup sampai 80 tahun tetapi sedikit amalnya.
Ada yang hidup 40 tahun tetapi manfaatnya terus mengalir sampai ratusan tahun setelah wafat.

Ada kisah seorang pemuda di sebuah kota selalu mendengar adzan dari masjid dekat rumahnya.
Ayahnya sering berkata:
"Nak, mari ke masjid."
Jawabannya selalu:
"Nanti saja."
Suatu hari ayahnya kembali mengajaknya untuk shalat Subuh berjamaah.
Ia menjawab:
"Nanti kalau sudah tua."
Tidak lama kemudian ia sakit mendadak dan meninggal.
Ketika jenazahnya dibawa ke masjid, orang-orang berkata dengan sedih:
"Hari ini dia akhirnya datang ke masjid, tetapi di atas pundak manusia."

Kalimat ini sangat menggetarkan hati.
Jangan sampai kaki kita enggan berjalan ke rumah Allah saat hidup, tetapi akhirnya dibawa ke sana sebagai jenazah.

Tubuh Sehat adalah Amanah
Tubuh yang kuat bukan milik kita sepenuhnya.
Ia adalah titipan Allah.
Mata yang sehat untuk membaca Al-Qur'an.
Telinga yang sehat untuk mendengar nasihat.
Kaki yang kuat untuk melangkah ke masjid.
Tangan yang kuat untuk membantu sesama.
Kelak semua akan dimintai pertanggungjawaban.

Allah berfirman:
"Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang segala nikmat." (QS. At-Takatsur: 8)

Nikmat sehat termasuk yang pertama kali akan ditanyakan.
Tujuh Golongan yang Mendapat Naungan Allah. 

Rasulullah SAW menyebutkan salah satu golongan yang mendapat naungan Allah pada hari kiamat adalah:
"Pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan, Rasulullah tidak menyebut orang tua yang rajin beribadah, tetapi secara khusus menyebut pemuda yang menggunakan masa mudanya untuk taat kepada Allah.
Karena godaan masa muda sangat besar.
Siapa yang mampu menjaga dirinya saat muda, maka kedudukannya sangat mulia di sisi Allah.

Mari Renungkan
Wahai saudaraku...

Jangan tunggu sakit untuk rajin berzikir.
Jangan tunggu tua untuk membaca Al-Qur'an.
Jangan tunggu pensiun untuk ke masjid.
Jangan tunggu musibah untuk mendekat kepada Allah.
Karena tidak ada yang tahu apakah kita akan sampai pada hari esok.

Banyak orang yang tadi pagi masih sehat, sore harinya sudah berada di liang lahat.
Banyak orang yang semalam masih bercanda dengan keluarganya, pagi harinya sudah dishalatkan.

Selama napas masih berembus, selama kaki masih mampu melangkah, selama mata masih bisa melihat, maka gunakanlah semua itu untuk mendekat kepada Allah.

Sebab ketika ajal tiba, yang menemani kita bukan jabatan, bukan harta, bukan kendaraan, bukan rumah yang megah.
Yang menemani hanyalah amal saleh.

"Ya Allah, jangan Engkau cabut nyawa kami kecuali dalam keadaan beriman, jadikan masa muda, kesehatan, dan sisa umur kami sebagai jalan menuju ridha-Mu, serta tutuplah hidup kami dengan husnul khatimah. Aamiin ya Rabbal 'alamin."

PENUTUP PETANG

PENUTUP PETANG

Petang ini, sebelum matahari benar-benar tenggelam, mari sejenak bertanya kepada diri sendiri:
"Jika malam ini adalah malam terakhirku, bekal apa yang akan kubawa menghadap Allah?"

Ada seorang lelaki tua yang hidup sederhana. Menjelang wafatnya, anak-anaknya bertanya, "Ayah, apa harta terbesar yang ayah tinggalkan untuk kami?"

Sang ayah tersenyum lalu berkata, "Aku tidak meninggalkan emas yang banyak. Tetapi aku berusaha tidak meninggalkan satu pun salat wajib dengan sengaja, dan aku selalu memohon ampun kepada Allah setiap hari."

Beberapa saat kemudian, ia mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah dan menghembuskan napas terakhirnya.
Harta akan ditinggalkan. Jabatan akan dilepaskan. Rumah dan kendaraan akan berpindah tangan. Namun salat, sedekah, istighfar, dan amal saleh akan ikut menemani hingga ke alam kubur.

Allah berfirman:
"Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa."
(QS. Al-Baqarah: 197)
Maka petang ini, sebelum malam datang:
• Maafkan orang yang pernah menyakiti kita.
• Mohon ampun atas dosa-dosa kita.
• Hubungi keluarga yang lama tidak disapa.
• Jangan tinggalkan salat Magrib berjamaah jika mampu.
• Perbanyak shalawat kepada Nabi SAW.

Siapa tahu, petang ini adalah petang biasa bagi manusia, tetapi menjadi petang yang sangat istimewa di sisi Allah karena kita pulang kepada-Nya dengan hati yang bertobat.

Ya Allah, tutuplah petang kami dengan ampunan-Mu, lapangkan rezeki kami, sehatkan tubuh kami, berkahi keluarga kami, dan jangan Engkau cabut nyawa kami kecuali dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin ya Rabbal 'alamin.