Laqadja akum rasulum


web stats

Kamis, 24 September 2026

KHUTBAH JUMAT KHUTBAH PERTAMA

KHUTBAH JUMAT

KHUTBAH PERTAMA

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruh. 

Wa na’udzu billahi min syururi anfusina wa min sayyi’ati a’malina. 

May yahdihillahu fala mudhillalah, wa may yudhlil fala hadiyalah.

Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah. Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, la nabiyya ba’dah.

Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
Amma ba’du.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Judul: BERSIHKAN REZEKI, JAGA LISAN, BERSIHKAN HATI

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Jalankan perintah-Nya dan tinggalkan segala larangan-Nya.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Saya ingin mengawali khutbah ini dengan sebuah kisah.

Suatu hari, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu memakan makanan yang diberikan kepadanya. Setelah makanan itu dimakannya, beliau baru mengetahui bahwa makanan tersebut berasal dari penghasilan yang tidak halal.

Apa yang dilakukan Abu Bakar?
Beliau berusaha mengeluarkan makanan tersebut karena takut sesuatu yang haram menetap di dalam tubuhnya.
Kisah ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Coba kita bertanya kepada diri sendiri:
Kalau Abu Bakar begitu takut terhadap sesuap makanan yang tidak halal, bagaimana dengan kita?

Jangan sampai kita sangat teliti memilih makanan yang masuk ke mulut, tetapi tidak teliti memilih sumber uang yang digunakan untuk membelinya.

Allah berfirman:
Yaa ayyuhan-naasu kuluu mimmaa fil-ardhi halaalan thayyiban wa laa tattabi'uu khuthuwaatisy-syaithaan, innahuu lakum 'aduwwum mubiin.
Artinya: 
“Wahai manusia! Makanlah dari makanan yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 168)

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Harta yang diperoleh dengan menipu, mengambil hak orang lain, korupsi, riba, suap, atau cara-cara batil itu tidak halal.

Allah berfirman:
Wa laa ta'kuluu amwaalakum bainakum bil-baathili wa tudluu bihaa ilal-hukkaami lita'kuluu fariiqam min amwaalin-naasi bil-itsmi wa antum ta'lamuun. 
Artinya: 
“Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan janganlah kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 188)

Karena itu, rezeki halal adalah bagian dari ketakwaan.
Rasulullah SAW mengingatkan tentang seseorang yang sedang melakukan perjalanan jauh. Rambutnya kusut, tubuhnya berdebu, ia mengangkat kedua tangannya ke langit dan berkata, “Ya Rabb, Ya Rabb.”
Namun makanan, minuman, pakaian dan rezekinya berasal dari yang haram.

Rasulullah SAW bersabda:
Annaa yustajaabu lidzaalik?
Artinya: 
“Bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?”
(HR. Muslim)

Maka jangan hanya bertanya:
“Mengapa doa saya belum terkabul?”
Tanyakan juga:
“Sudahkah saya memeriksa rezeki saya?”
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Kita juga harus menjaga apa yang keluar dari mulut kita.

Allah berfirman:
Maa yalfizhu min qaulin illaa ladaihi raqiibun atiid.
Artinya: 
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
(QS. Qaf: 18)

Rasulullah SAW bersabda:
Man kaana yu'minu billaahi wal-yaumil-aakhiri falyaqul khairan au liyasmut.
Artinya: 
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Lisan memang kecil.
Tetapi dosa yang dilahirkannya bisa sangat besar.
Satu kalimat bisa menghancurkan rumah tangga.
Satu ucapan bisa memutuskan persaudaraan.
Satu fitnah bisa menghancurkan kehormatan seseorang.
Satu ghibah bisa membuat kita membawa dosa yang tidak terasa ketika mengucapkannya.

Allah berfirman:
Wa laa yaghtab ba'dhukum ba'dhaa. A yuhibbu ahadukum an ya'kula lahma akhiihi maitan fakarihtumuuh. Wattaqullah. Innallaaha tawwaabur rahiim.
Artinya: 
“Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Hujurat: 12)

Perhatikan gambaran yang diberikan Allah.
Ghibah disamakan dengan memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal.
Mengapa begitu mengerikan?
Karena orang yang menjadi korban ghibah tidak berada di hadapan kita untuk membela dirinya.
Kita berbicara ketika dia tidak ada.
Dan Allah mendengar semuanya.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Kadang kita merasa dosa itu hanya sesuatu yang besar.
Padahal dosa yang terus diulang juga berbahaya.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ketika seorang hamba melakukan dosa, muncul noda pada hatinya. Jika ia bertaubat, noda itu dihapus. Tetapi jika ia kembali melakukan dosa, noda itu bertambah.

Allah berfirman:
Kallaa bal raana 'alaa quluubihim maa kaanuu yaksibuun.
Artinya: 
“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”
(QS. Al-Muthaffifin: 14)

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Inilah yang harus kita takutkan.
Bukan hanya kehilangan uang.
Bukan hanya kehilangan jabatan.
Bukan hanya kehilangan kedudukan.
Tetapi kehilangan kepekaan hati.
Awalnya berbuat dosa merasa takut.
Kemudian dosa diulang.
Lama-lama dosa terasa biasa.
Awalnya berbohong merasa bersalah.
Kemudian berbohong menjadi kebiasaan.
Awalnya ghibah merasa berdosa.
Kemudian ghibah menjadi bahan hiburan.
Awalnya menyakiti orang membuat kita meminta maaf.
Kemudian kita tidak lagi peduli.
Itulah tanda bahwa hati harus segera diselamatkan.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Maka hari ini mari kita periksa tiga pintu kehidupan kita.
Pertama, apa yang masuk ke perut kita.
Pastikan halal dan baik.
Kedua, apa yang keluar dari lisan kita.
Pastikan benar, baik dan bermanfaat.
Ketiga, apa yang tinggal di dalam hati kita.
Jangan biarkan iri, dengki, sombong, dendam dan dosa terus menetap.

Jangan sampai kita membersihkan rumah, tetapi tidak membersihkan hati.

Jangan sampai kita mengganti pakaian setiap hari, tetapi tidak pernah mengganti kebiasaan buruk.

Jangan sampai kita menjaga wajah agar terlihat bersih di hadapan manusia, tetapi membiarkan hati kotor di hadapan Allah.

Mari bertaubat sebelum hati menjadi keras.
Mari meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti.
Mari kembalikan hak orang yang pernah kita ambil.
Mari tinggalkan penghasilan yang tidak halal.
Mari hentikan ghibah.
Mari berhenti menyebarkan fitnah.
Mari belajar diam ketika perkataan kita tidak membawa kebaikan.

Karena Rasulullah SAW telah mengingatkan:
Al-muslimu man salimal-muslimuuna min lisaanihi wa yadih. 

Artinya: 
“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah menjadikan rezeki kita halal, lisan kita terjaga, dan hati kita bersih.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Sekali lagi saya berwasiat kepada diri saya dan kepada jamaah sekalian:
Bertakwalah kepada Allah.
Jaga rezeki.
Jaga lisan.
Jaga hati.
Jangan remehkan sesuap makanan yang haram.
Jangan remehkan uang yang diperoleh dengan cara yang batil.
Jangan remehkan satu kalimat yang menyakiti hati orang lain.
Karena semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Mari kita pulang dari masjid ini dengan tekad:
Yang masuk ke perut kita harus halal.
Yang keluar dari lisan kita harus baik.
Yang tinggal di hati kita harus bersih.

Aqoolu qouli haadza, wa astaghfirullaaha lii wa lakum, fastaghfiruuhu innahuu huwal-ghafuurur-rahiim.


KHUTBAH KEDUA

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih, kamaa yuhibbu rabbunaa wa yardhaa.

Asyhadu allaa ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariikalah. Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.

Allah berfirman:
Innallaaha wa malaa-ikatahu yushalluuna 'alan-nabiyy. Yaa ayyuhalladziina aamanuu shalluu 'alaihi wa sallimuu tasliimaa. Artinya: 
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
(QS. Al-Ahzab: 56)

Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Allahummaghfir lil-muslimiina wal-muslimaat, wal-mu’miniina wal-mu’minaat, al-ahyaa’i minhum wal-amwaat, waqdhi al-haajaat.

Allahumma innaa nas’aluka rizqan halaalan thayyiban, wa qalban saliiman, wa lisaanan shaadiqan.

Allahummaghfir dzunuubanaa, wa kaffir ‘annaa sayyi’aatinaa, wa thahhir quluubanaa.

Allahumma baarik lanaa fii arzaaqinaa, wa baarik lanaa fii ahliinaa, wa baarik lanaa fii a’maarinaa.

Ya Allah, jadikan rezeki kami rezeki yang halal dan penuh keberkahan.

Jauhkan kami dari harta yang haram dan cara mencari rezeki yang Engkau murkai.

Ya Allah, jaga lisan kami dari dusta, ghibah, fitnah, celaan dan ucapan yang menyakiti.

Ya Allah, bersihkan hati kami dari iri, dengki, sombong, dendam dan segala penyakit hati.

Ampunilah dosa kami.
Ampunilah dosa kedua orang tua kami.
Ampunilah dosa pasangan kami, anak-anak kami, keluarga kami dan seluruh kaum Muslimin dan Muslimat.

Ya Allah, bagi saudara-saudara kami yang sedang sakit, berikan kesembuhan.

Bagi yang sedang mengalami kesulitan, mudahkan urusannya.

Bagi yang sedang berutang, berikan kemampuan untuk melunasinya.

Bagi yang sedang mencari rezeki, bukakan pintu rezeki yang halal dan berkah.

Bagi keluarga kami, jadikan mereka keluarga yang mencintai Al-Qur’an, mencintai shalat, mencintai kebaikan dan menjauhi kemaksiatan.


Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah, wa fil-aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban-naar.

‘Ibā dallah, innallaaha ya’muru bil-‘adli wal-ihsaani wa iitaa ’idzil-qurbaa, wa yanhaa ‘anil-fahsyaa ’i wal-munkari wal-baghy. 

Ya’izhukum la’allakum tadzakkaruun.
Fadzkurullaaha yadzkurkum, wasykuruuhu ‘alaa ni’amihi yazidkum, wa la dzikrullaahi akbar, wallaahu ya’lamu maa tashna’uun.

Aqi mish-shalaah.... 


Rabu, 23 September 2026

KHUTBAH PERTAMA ( 25 Sep 2026)

KHUTBAH PERTAMA

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Judul: BERSIHKAN REZEKI, JAGA LISAN, BERSIHKAN HATI


Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Nahmaduhu wa nasta’iinuhu wa nastaghfiruh. Wa na’udzu billahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyi-aati a’maalinaa.
Asyhadu alla ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah. Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.
Allahumma shalli wa sallim wa baarik ‘alaa sayyidinaa Muhammadin, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’in.
Ammaa ba’du.
Fayaa ‘ibaadallaah, ittaqullah.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Laksanakan perintah-Nya dan tinggalkan larangan-Nya.
Pada kesempatan ini, marilah kita renungkan dua perkara yang sangat dekat dengan kehidupan kita:
Apa yang masuk melalui mulut kita, dan apa yang keluar dari mulut kita.
Yang pertama adalah makanan dan rezeki.
Yang kedua adalah perkataan dan lisan.

Allah SWT berfirman:
“Yaa ayyuhan naasu kuluu mimmaa fil-ardhi halaalan thayyiban.”
“Wahai manusia! Makanlah dari apa yang terdapat di bumi yang halal lagi baik.”
(QS Al-Baqarah: 168)

Jamaah jumat yang dimuliakan Allah,

Halal bukan hanya soal apa yang kita makan.
Tetapi juga dari mana kita mendapatkannya.
Ayamnya halal, tetapi kalau dibeli dengan uang hasil mencuri, menipu, korupsi atau mengambil hak orang lain, maka sumber hartanya menjadi masalah.

Allah berfirman:
“Wa laa ta’kuluu amwaalakum bainakum bil-baathili.”
“Janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil.”
(QS Al-Baqarah: 188)

Rasulullah SAW bersabda tentang seseorang yang berdoa kepada Allah, tetapi makanan, minuman, pakaian dan kebutuhannya berasal dari yang haram:
“Fa annaa yustajaabu lidzaalik?”
“Bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?”
(HR Muslim)

Maka jangan hanya bertanya:
“Berapa banyak rezeki saya?”
Tetapi tanyakan:
“Halalkah rezeki saya?”
Karena yang kita cari bukan hanya banyaknya rezeki.
Kita mencari keberkahannya.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Yang kedua adalah lisan.
Allah berfirman:
“Maa yalfizhu min qawlin illaa ladaihi raqiibun ‘atiid.”
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada malaikat yang selalu mencatat.” (QS Qaf: 18)

Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR Bukhari dan Muslim)

Maka jangan ringan mengucapkan:
“Cuma bercanda.”
“Cuma cerita.”
“Memang benar kok.”
Kalau perkataan itu merendahkan, menyakiti, membuka aib atau menghancurkan kehormatan seseorang, maka kita harus berhati-hati.
Terlebih lagi ghibah dan fitnah.

Allah berfirman:
“Walaa yaghtab ba’dhukum ba’dhaa.”
“Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.”

Kemudian Allah berfirman:
“A-yuhibbu ahadukum an ya’kula lahma akhiihi maytan fakarihtumuuh.”
“Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik.”
(QS Al-Hujurat: 12)

Allahu Akbar.
Ghibah digambarkan seperti memakan daging saudara sendiri yang sudah mati.
Jamaah rahimakumullah,
Mengapa kita harus sangat menjaga lisan?
Karena dosa dapat meninggalkan titik hitam di hati.

Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila seorang hamba melakukan dosa, ditorehkan pada hatinya satu titik hitam. Jika ia bertaubat, hatinya dibersihkan. Tetapi jika ia mengulangi dosa, titik itu bertambah.” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Allah berfirman:
“Kallaa bal raana ‘alaa quluubihim maa kaanuu yaksibuun.”
“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan telah menutupi hati mereka.”
(QS Al-Muthaffifin: 14)

Awalnya satu titik.
Kemudian bertambah.
Dosa diulang.
Ghibah diulang.
Dusta diulang.
Fitnah diulang.
Makanan haram terus dimakan.
Akhirnya hati menjadi keras.
Yang dahulu membuat kita takut, menjadi biasa.
Yang dahulu membuat kita malu, menjadi bahan tertawaan.
Yang dahulu membuat kita menangis karena dosa, akhirnya tidak lagi terasa.
Inilah yang harus kita takuti.
Bukan hanya banyaknya dosa.
Tetapi ketika hati sudah tidak merasa bahwa dosa itu dosa.
Karena itu, jangan tunggu hati menjadi keras.

Kalau pernah mengambil hak orang lain, kembalikan.
Kalau rezeki kita berasal dari jalan yang salah, perbaiki.
Kalau pernah menggunjing, hentikan.

Kalau pernah memfitnah, perbaiki kerusakan yang telah kita timbulkan.

Kalau pernah menyakiti seseorang dengan lisan, minta maaf jika itu menjadi jalan perbaikan.
Dan perbanyak istighfar.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Mari kita ingat empat kalimat ini:
Sebelum makan: pastikan halal.
Sebelum menerima uang: pastikan halal.
Sebelum berbicara: pastikan baik.
Sebelum membicarakan orang lain: tanyakan apakah Allah ridha.

Semoga Allah menjadikan rezeki kita halal dan berkah, lisan kita lembut dan terjaga, serta hati kita bersih dari noda dosa.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Aquulu qaulii haadza, wa astaghfirullaahal ‘azhiim lii wa lakum, fastaghfiruuh. Innahuu huwal ghafuurur rahiim.

KHUTBAH KEDUA

Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.
Wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’iin.
Fayaa ‘ibaadallaah, ittaqullah.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita bertakwa kepada Allah.
Jagalah rezeki kita dari yang haram.
Jagalah lisan kita dari dusta, ghibah, fitnah dan perkataan yang menyakitkan.
Sebab Rasulullah SAW bersabda:
“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”
(HR Bukhari dan Muslim)
Ya Allah, bersihkan hati kami dari noda dosa.
Ya Allah, halal dan berkahilah rezeki kami.
Ya Allah, jauhkan kami dari harta yang haram dan syubhat.
Ya Allah, jagalah lisan kami dari dusta, ghibah, fitnah, namimah dan perkataan yang menyakiti.
Ya Allah, jika kami pernah mengambil hak orang lain, berikan kami kekuatan untuk mengembalikannya.
Jika kami pernah menyakiti saudara kami, berikan kami keberanian untuk memperbaikinya.
Jika hati kami telah ternoda dosa, bersihkanlah.
Jika hati kami mulai keras, lembutkanlah.
Jika kami jauh dari-Mu, dekatkanlah kami kembali kepada-Mu.
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annaa.
Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah kami.
Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah, wa fil-aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban naar.
‘Ibādallaah, innallaaha ya’muru bil ‘adli wal ihsaani wa iitaa-idzil qurbaa, wa yanhaa ‘anil fahsyaa-i wal munkari wal baghy. Ya’izhukum la’allakum tadzakkaruun.
Fadzkurullaahal ‘azhiim yadzkurnaa, wasykuruuhu ‘alaa ni’amihii yazidkum, was’aluhu min fadlihi yu’thikum, wa ladzikrullaahi akbar, wallaahu ya’lamu maa tashna’uun.
Shallallahu ‘ala Muhammad.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sabtu, 19 September 2026

KHUTBAH JUMAT (25 September 2026)

KHUTBAH JUMAT 
(25 September 2026) 

KHUTBAH PERTAMA

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruh, wa na’udzu billahi min syururi anfusina wa min sayyi’ati a’malina. 

May yahdihillahu fala mudhillalah, wa may yudhlil fala hadiyalah. 

Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh laa nabiya ba'da.

Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
Amma ba’du.

Faya ayyuhalladzina amanuttaqullaha haqqa tuqatihi wa la tamutunna illa wa antum muslimun.

Judul: JIKA ISTIGHFAR SUDAH, SHALAWAT SUDAH, MENGAPA MASIH BERAT TAAT?

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa.
Takwa bukan hanya banyak mengucapkan istighfar.
Takwa bukan hanya banyak bershalawat.
Takwa bukan hanya rajin menghadiri pengajian.

Tetapi TAKWA ADALAH KETIKA HATI TUNDUK, LISAN DIJAGA, MAKANAN DIPERIKSA, HARTA DIBERSIHKAN, DAN PERINTAH ALLAH BENAR-BENAR KITA KERJAKAN.

Jamaah jumah yang dimuliakan Allah.

Ada satu pertanyaan yang patut kita ajukan kepada diri sendiri.

Kita sudah banyak istighfar, mengapa masih berat meninggalkan dosa?

Kita sudah banyak bershalawat, mengapa hati masih berat ketika mendengar panggilan shalat?

Kita sudah sering mendengar nasihat agama, tetapi mengapa kaki masih terasa berat menuju masjid?

Kita sudah berdoa agar dekat dengan Allah, tetapi mengapa maksiat justru terasa ringan dilakukan?

Oleh karena itu, Mari kita periksa dalam kehidupan kita:

Apa yang masuk ke dalam perut kita?

Dan... apa yang terucap dari lisan kita?

Allah SWT berfirman:
"Ya ayyuhar-rusulu kulu minath-thayyibati wa'malu shalihan, inni bima ta'maluna 'alim."
Artinya:
"Wahai para rasul! Makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS Al-Mu’minun: 51)

Perhatikan ayat ini.
Allah menghubungkan makan yang baik dengan amal yang baik.
Seolah-olah Allah mengingatkan kita:
Periksa apa yang masuk ke tubuhmu sebelum bertanya mengapa tubuhmu berat melakukan kebaikan.

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Rasulullah SAW bersabda:
"Innallaha thayyibun la yaqbalu illa thayyiba."
Artinya:
"Sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan Dia tidak menerima kecuali yang baik."

Kemudian Nabi SAW menyebutkan seseorang yang berdoa kepada Allah dengan penuh kesungguhan, tetapi makanan, minuman, pakaian, dan sumber penghidupannya berasal dari yang haram.

Lalu Nabi SAW menggambarkan keadaan itu dengan pertanyaan:
"Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?" (HR Muslim No. 1015)

Jamaah jumah yang dirahmati Allah.

Ini bukan berarti setiap orang yang sedang sulit beribadah pasti memperoleh makanan haram.
Tidak.
Kesulitan dalam beribadah bisa memiliki banyak sebab.

Tetapi hadis ini mengajarkan kepada kita satu hal yang sangat penting:
Jangan pernah meremehkan persoalan halal dan haram dalam mencari rezeki.

Jangan sampai tangan kita mengangkat doa kepada Allah...
sementara tangan yang sama pernah mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Jangan sampai mulut kita mengucapkan:
"Astaghfirullah..."
tetapi mulut yang sama masih ringan memfitnah.

Jangan sampai lidah kita basah dengan shalawat...
tetapi setelah itu basah pula dengan ghibah, dusta, hinaan, dan menyakiti hati orang lain.

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Istighfar bukan sekadar ucapan.
Istighfar berarti memohon ampun dan kembali kepada jalan Allah.

Kalau kita berkata "Astaghfirullah", lalu sengaja mengulangi kezaliman tanpa penyesalan dan usaha memperbaiki diri, kita perlu bertanya:
Apa yang sedang kita minta ampunkan?

Demikian pula shalawat.
Shalawat adalah amalan yang mulia.
Rasulullah SAW bersabda:
"Man kana yu'minu billahi wal-yaumil-akhir falyaqul khairan au liyasmut."
Artinya:
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR Muslim No. 47a–48)

Maka hari ini mari kita periksa lidah kita.

Berapa banyak orang yang terluka karena ucapan kita?

Berapa banyak nama orang yang kita bicarakan ketika orangnya tidak ada?

Berapa banyak aib yang kita buka?

Berapa banyak berita yang kita sebarkan tanpa memeriksa kebenarannya?

Berapa banyak kalimat yang kita ucapkan dalam keadaan marah, lalu baru kita sesali setelah hati orang lain terluka?

Jamaah jumat yang dimuliakan Allah.

Ada makanan yang masuk melalui mulut.
Ada pula "makanan" untuk hati yang masuk melalui telinga dan mata.

Apa yang kita dengar?
Apa yang kita lihat?
Apa yang kita baca?
Apa yang kita tonton?
Karena hati juga bisa menjadi kotor.

Maka kalau kita merasa semakin jauh dari Allah, maka mari periksa sumber rezeki kita. 

Periksa transaksi.
Periksa amanah.
Periksa hak orang lain.
Dan yang tidak kalah penting:
periksa lisan kita, sudah sopan atau selalu menyakitkan orang lain.

Mungkin hati kita masih dipenuhi sesuatu yang harus kita bersihkan.

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Mari kita pulang hari ini dengan satu tekad:
Yang masuk perut kita harus halal.
Ucapan harus baik.
Yang dikerjakan harus taat.

Jangan biarkan perut kita tumbuh dari sesuatu yang  haram.
Jangan biarkan lidah kita menjadi jalan orang lain terluka.
Dan jangan biarkan istighfar hanya menjadi suara di bibir, sementara dosa tetap kita pelihara dalam kehidupan.

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Mari kita periksa tiga hal dalam kehidupan kita.
Pertama, sumber makanan kita.
Halalkah?
Bersihkah?
Adakah hak orang lain di dalamnya?

Kedua, sumber rezeki kita.
Apakah diperoleh dengan cara yang Allah ridai?
Apakah ada kezaliman, penipuan, pengkhianatan, atau mengambil sesuatu yang bukan hak kita?

Ketiga, ucapan kita.
Apakah yang keluar dari mulut kita membawa pahala atau justru menjadi dosa?

Sebab kadang-kadang kita sibuk menghitung berapa kali kita mengucapkan istighfar...
tetapi lupa menghitung berapa orang yang kita sakiti dengan ucapan.

Kita menghitung berapa kali bershalawat...
tetapi lupa menghitung berapa kali kita menjelekkan orang lain.
Kita menghitung berapa rakaat shalat sunnah...
tetapi lupa memeriksa apakah rezeki yang kita makan sudah halal.
Maka mulai hari ini, jangan hanya bertanya:
"Sudah berapa banyak saya berdzikir?"
Tetapi tanyakan juga:
"Sudah sebersih apa rezeki saya?"
"Sudah sebersih apa lisan saya?"
"Sudah sebaik apa akhlak saya?"

Semoga Allah membersihkan rezeki kita, membersihkan hati kita, menjaga lisan kita, dan memberikan kepada kita kekuatan untuk taat kepada-Nya.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Aquulu qauli hadza, wa astaghfirullah lii wa lakum, fastaghfiruh innahu huwal ghafuurur rahiim.

KHUTBAH KEDUA


Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Wasshalatu wassalamu ‘ala Sayyidil mursalin, Sayyidina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
Ushikum wa nafsi bitaqwallahi, faqad fazal muttaqun.

Innallaha wa malaikatahu yushalluna 'alan nabiy. Ya ayyuhalladzina amanu shallu 'alaihi wa sallimu taslima.

Allahumma shalli wa sallim wa barik 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa ashabihi ajma'in.

Allahumma aghfir lil muslimina wal muslimat, wal mu'minina wal mu'minat, al-ahya'i minhum wal amwat.

Allahumma inna nas’aluka rizqan halalan, wa qalban saliman, wa lisanan shadiqan, wa ‘amalan shalihan.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami rezeki yang halal, hati yang bersih, lisan yang jujur, dan amal yang saleh.

Ya Allah, ampuni dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa keluarga kami, dan dosa seluruh kaum muslimin dan muslimat.

Ya Allah, jika selama ini rezeki kami bercampur dengan yang haram maka ampuni kami, dan berikan kekuatan untuk meninggalkannya.

Jika lisan kami pernah menyakiti orang lain, berikan kami keberanian untuk meminta maaf dan memperbaikinya.

Jika kami berat melakukan ketaatan, kuatkanlah langkah kami.

Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun, waj’alna lil-muttaqina imama.

Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar.
Aamiin ya rabbal aalamin. 

‘Ibādallah, innallaha ya’muru bil-‘adli wal-ihsani wa ita’i dzil-qurba, wa yanha ‘anil-fahsya’i wal-munkari wal-baghy.

Ya’izhukum la’allakum tadzakkarun.

Fadzkurullaha yadzkurkum, wasykuruhu ‘ala ni’amihi yazidkum, wala dzikrullahi akbar. Wallahu ya’lamu ma tashna’un.

Aqimishalah.... 


Selasa, 18 Agustus 2026

KHUTBAH JUMAT “Ketika Nama Kita Dipanggil Dari Alam Kubur”

KHUTBAH JUMAT
KHUTBAH PERTAMA
(21-8-2026) 

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Nahmaduhu wa nasta‘inuhu wa nastaghfiruh, 

wa na‘udzu billahi min syururi anfusina wa min sayyi’ati a‘malina. 
Mayyahdihillahu fala mudhilla lah, wa mayyudhlil fala hadiya lah.

Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. La nabiya ba'da. 

Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma‘in.
Amma ba‘du.

Fa qala fi kitabihil karim:
“Yaa ayyuhalladzi na aama nuttaqullaha haqqa tuqaatihi wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun.”

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Judul: Ketika Nama Kita Dipanggil Dari Alam Kubur

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.
Takwa bukan hanya ucapan. 
Melainkan: 
Tetap Takwa ketika kita takut kepada Allah saat tidak ada seorang pun yang melihat kita. 

Takwa ketika kita tetap jujur meskipun kesempatan untuk berbohong masih terbuka lebar.

Takwa ketika kita tetap salat meskipun kita sangat  sibuk urusan dunia.

Dan takwa adalah ketika kita sadar bahwa kehidupan ini pasti akan berakhir.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Hari ini marilah kita semua bercermin kepada diri kita masing-masing.

Sebab ada satu perjalanan yang pasti kita tempuh.
Bahwasanya  Semua kita akan mati.

Allah berfirman:
“Kullu nafsin dzaa-iqatul maut, wa innamaa tuwaffauna ujuu rakum yaumal qiyaamah, faman zuhziha ‘aninnaar
wa ud khilal jannah, 
faqad faaz, wa mal hayaa tud dunyaa illaa mataa ‘ul ghuruur.”
Artinya:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Sungguh Kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Jamaah Jumah rahimakumullah,

Bayangkan suatu hari nanti...
Kita sedang duduk bersama keluarga.
Tiba-tiba tubuh kita terasa lemah.
Napas mulai berat.
Anak-anak berkumpul.
Istri menangis.
Keluarga memanggil nama kita.
Tetapi kita sudah tidak mampu menjawab.

Kemudian seseorang berkata:
“Bimbing syahadatnya...”
Lalu terdengar:
“La ilaha illallah...”
Dan setelah itu...
napas terakhir keluar.
Mata kita terpejam.
Tangan kita tidak lagi bergerak.
Mulut kita tidak lagi berbicara.
Kita yang selama puluhan tahun mengejar harta dunia...
akhirnya meninggalkan dunia.

Rumah yang kita bangun tetap berdiri.
Kendaraan yang kita banggakan tetap berada di halaman.
Uang yang kita kumpulkan berpindah tangan.
Pakaian yang kita cintai pasti dilepas.
Telepon yang setiap hari kita genggam...
tidak akan ikut masuk ke dalam kubur.
Yang ikut bersama kita hanyalah amal soleh. 

Rasulullah SAW bersabda:
“Idzaa maa tal insaa nu inqatha‘a ‘anhu ‘amaluhu illaa min tsalaa tsah: 
shadaqatin jaariyah, au ‘ilmin yun tafa‘u bih, au waladin shaa lihin yad‘u lah.”
Artinya:
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ada satu pertanyaan yang harus kita jawab sebelum terlambat:
Kalau sekarang ini Allah memanggil kita, sudah siapkah kita?

Sudahkah kita meminta maaf kepada orang tua kita?

Sudahkah kita berdamai dengan saudara dan tetangga kita?

Sudahkah kita meminta maaf kepada istri kita?

Sudahkah kita meninggalkan maksiat selama ini?

Sudahkah kita benar-benar menjaga salat lima waktu?

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Jangan sampai kita sangat sibuk mencari harta dunia...
tetapi lupa mempersiapkan akhirat kita. 

Allah berfirman:
“Yaa ayyuhalladzina aamanuttaqullaha waltanzhur nafsummaa qaddamat lighad, wattaqullah, innallaaha khabiirun bimaa ta‘maluun.”
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr: 18)

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Jangan tunggu tua untuk bertobat. Sebab banyak orang yang mati tidak pernah sampai  tua.

Jangan tunggu sakit untuk salat.
Sebab banyak orang yang meninggal walaupun tak sakit. 

Jangan tunggu kaya untuk bersedekah.
Sebab banyak orang meninggal tapi kekayaannya tak sempat datang.

Dan jangan berkata:
“Nanti kalau sudah tua saya akan berubah dan taat.”
Sebab kita tidak pernah tahu
apakah kita diberi kesempatan untuk sampai tua.

Allah telah mengingatkan:
“Hattaa idzaa jaa-a ahada humul maut, 
qaala rabbirji‘uun. 
La‘allii a‘malu shaalihan fiimaa taraktu, kallaa, innahaa kalimatun huwa qaa-iluhaa, wa min waraa-ihim barzakhun ilaa yaumi yub ‘atsuun.”

Artinya:
“ apabila kematian datang kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia, agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sungguh, itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.” ( Al-Mu’minun: 99–100)

Jamaah jumat yang dirahmati Allah,

Saat ini kita masih hidup.
Kita masih bisa bersujud.
Kita masih bisa menangis.
Kita masih bisa beristighfar.
Kita masih bisa meminta maaf.
Kita masih bisa bersedekah.
Kita masih bisa memperbaiki salat.
Berarti Allah masih memberi kita kesempatan.

Maka jangan sia-siakan kesempatan itu.

Selagi kaki masih mampu melangkah ke masjid...
melangkahlah.

Selagi tubuh masih mampu bersujud...
bersujudlah.

Selagi lidah masih mampu berzikir...
berzikirlah.

Selagi pintu taubat masih terbuka...
bertobatlah!

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Jangan sampai Jumat demi Jumat berlalu...
umur bertambah...
rambut memutih...
tetapi dosa tidak berkurang.

Jangan sampai kita sibuk memperbaiki rumah, tetapi lupa memperbaiki hati.

Jangan sampai kita sibuk menghias wajah, tetapi lupa menghias amal.

Jangan sampai kita takut kehilangan harta...
tetapi tidak takut kehilangan iman.

Sebab pada akhirnya akan tiba satu hari...
ketika nama kita dipanggil lalu ada ucapan: 
“Innalillahi wa inna ilaihi raji‘un...”

Kemudian kita diangkat dan 
Dimandikan.
Dikafani.
Disalatkan.
Diantar.
Dikuburkan.

kita tinggal sendirian di kuburan.
Tidak ada lagi yang bisa menolong kita kecuali rahmat Allah dan amal yang kita bawa.

Maka mulai hari ini...
jangan tunggu sakit baru ingat mesjid. 
Kenalilah Allah sebelum kita menghadap Allah.

Aquulu qauli hadza, wa astaghfirullah lii wa lakum, fastaghfiruh innahu huwal ghafuurur rahiim.

KHUTBAH KEDUA

Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih kama yuhibbu rabbuna wa yardha.

Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh.

Innallaha wa malaikatahu yushalluna 'alan nabiy. Ya ayyuhalladzina amanu shallu 'alaihi wa sallimu taslima.

Allahumma shalli wa sallim wa barik 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa ashabihi ajma'in.

Allahumma aghfir lil muslimina wal muslimat, wal mu'minina wal mu'minat, al-ahya'i minhum wal amwat.

Allahumma a'inna 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik.

Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina 'adzaban nar.

Ya Allah...
Jangan Engkau cabut nyawa kami kecuali dalam keadaan Engkau ridha kepada kami.

Jadikan akhir ucapan kami:
La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah.

Ya Allah, karuniakan kepada kami husnul khatimah.

Jadikan kubur kami taman dari taman-taman surga.

Terangkan kubur kami dengan cahaya-Mu.

Lapangkan kubur kami.
Ampuni dosa-dosa kami.
Selamatkan kami dari azab kubur dan azab neraka.

Innallaha ya'muru bil 'adli wal ihsan wa ita'i dzil qurba wa yanha 'anil fahsya'i wal munkari wal baghy.

Ya'izhukum la'allakum tadzakkarun.
Fadzkurullaha al-'azhim yadzkurkum, wasykuruhu 'ala ni'amihi yazidkum, waladzikrullahi akbar

Aqimisshalah



Kamis, 02 Juli 2026

Jangan Menunggu Takziah Baru Bersilaturahmi

Jangan Menunggu Takziah Baru Bersilaturahmi

Suatu hari, seorang laki-laki menerima kabar bahwa sahabat masa kecilnya telah meninggal dunia. Ia segera berangkat menuju rumah duka.

Sesampainya di sana, ia memandangi wajah sahabatnya yang telah terbujur kaku. Air matanya jatuh tanpa mampu dibendung.

Dengan suara bergetar ia berkata, "Maafkan aku... sudah bertahun-tahun kita tinggal di kota yang sama, tetapi aku selalu berkata nanti... nanti aku akan datang. Ternyata yang kudatangi hari ini hanyalah jasadmu."

Orang-orang yang mendengar ucapannya ikut menundukkan kepala. Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Sejak hari itu, laki-laki tersebut mengubah hidupnya. Ia tidak lagi menunda silaturahmi. Setiap ada waktu, ia mendatangi keluarga, sahabat, tetangga, dan guru-gurunya.

Ia berkata, "Aku tidak ingin lagi hanya bertemu orang-orang yang kucintai ketika mereka sudah menjadi jenazah."

Saudaraku...
Silaturahmi bukan sekadar tradisi. Ia adalah ibadah yang sangat dicintai Allah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"...Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan..." (QS An-Nisa: 1)

Rasulullah SAW juga bersabda:
"Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi." (HR. Bukhari dan Muslim)

Banyak orang bekerja keras mencari rezeki, tetapi lupa membuka salah satu pintu rezeki yang paling besar, yaitu menyambung silaturahmi.

Betapa banyak perselisihan yang berakhir hanya karena ada yang mau datang lebih dahulu.

Betapa banyak hati yang kembali lembut hanya karena sebuah pelukan dan ucapan, "Maafkan saya."

Betapa banyak doa orang tua, guru, dan kerabat yang menjadi sebab datangnya keberkahan hidup.

Jangan merasa terlalu sibuk.
Sebab ketika ajal tiba, semua kesibukan akan berhenti. Yang tersisa hanyalah penyesalan jika selama ini kita terlalu pelit mengunjungi orang-orang yang pernah berjasa dalam hidup kita.

Mulailah hari ini.
Telepon saudara yang sudah lama tidak dihubungi.
Datangi orang tua selagi mereka masih ada.
Kunjungi kerabat tanpa menunggu hari raya.
Jenguk teman yang sedang sakit.

Sapa tetangga dengan senyum yang tulus.
Karena mungkin, pertemuan hari ini adalah pertemuan terakhir yang Allah izinkan.

Mari kita hidupkan silaturahmi sebelum datang hari ketika kita hanya bisa berdiri di samping liang kubur sambil berkata, "Seandainya dulu aku sempat datang."

Semoga konten ini menjadi pengingat yang menyentuh hati dan menggerakkan pembaca untuk segera mempererat silaturahmi.

Mengapa Masalahmu Tak Kunjung Selesai?

Mengapa Masalahmu Tak Kunjung Selesai?

Rumah tangga terasa sempit.
Rezeki terasa seret.
Hutang belum lunas.
Penyakit tak kunjung sembuh.
Anak mulai sulit dinasihati.
Hati gelisah, tidur pun tidak nyenyak.

Lalu kita mencari solusi ke mana-mana.
Mencari pinjaman.
Mencari kenalan.
Mencari orang yang dianggap bisa membantu.
Padahal, sudahkah kita mendatangi Allah?

Allah telah memberi resep yang sangat sederhana, tetapi sering kita lupakan.
"Wasta'iinu bish-shabri wash-shalah."
"Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat." (QS Al-Baqarah: 45)

Perhatikan, Allah tidak mengatakan, "Mintalah pertolongan kepada hartamu."
Allah tidak mengatakan, "Mintalah pertolongan kepada jabatanmu."
Allah tidak mengatakan, "Mintalah pertolongan kepada manusia."
Allah justru memerintahkan kita untuk meminta pertolongan melalui shalat.

Rasulullah SAW pun memberikan teladan. Setiap menghadapi persoalan besar, beliau memanggil Bilal seraya bersabda:
"Ya Bilalu, aqimis shalata arihna biha."
"Wahai Bilal, dirikanlah shalat. Istirahatkanlah hati kami dengannya."

Shalat bukan sekadar kewajiban.
Shalat adalah tempat mengadu.
Shalat adalah tempat menangis.
Shalat adalah tempat mengumpulkan kembali hati yang telah hancur.

Lihatlah para ulama terdahulu.
Imam Ahmad bin Hanbal disiksa, tetapi beliau tetap menjaga shalat.
Imam Abu Hanifah menghadapi tekanan penguasa, tetapi beliau memperbanyak shalat malam.

Sa'id bin Al-Musayyib menjaga takbiratul ihram berjamaah selama puluhan tahun.
Mereka tidak mencari ketenangan di dunia, tetapi mencarinya dalam sujud.

Hari ini, mungkin masalah kita belum selesai.
Namun jangan sampai shalat kita juga ikut rusak.
Sebab bisa jadi, bukan masalahmu yang terlalu besar.
Tetapi hubunganmu dengan Allah yang mulai renggang.

Maka mulai hari ini...
Jangan tinggalkan shalat berjamaah.
Jangan tinggalkan shalat sunnah.
Jangan tinggalkan tahajud walau hanya dua rakaat.
Karena orang yang paling dekat dengan pertolongan Allah bukanlah orang yang paling kaya, tetapi orang yang paling dekat dengan sajadahnya.
Bagaimana shalatmu hari ini? Karena mungkin, di sanalah letak solusi hidupmu.

Selasa, 30 Juni 2026

PENJEGHUM BEIJE ADIK SANAK

PENJEGHUM BEIJE ADIK SANAK

Assalamu'alaikum wr. wb. 

Dengan hormat, kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i untuk dapat hadir pada acara BEIJE ADIK SANAK, yang insya Allah akan dilaksanakan pada:

Hari/Tanggal : Malam Kamis/ Malam tgl 2 Juli 2026
Waktu   : setelah shalat Isya
Tempat : Jalan Rajawali, Manna

Atas perhatian dan kehadirannya, kami ucapkan terima kasih.

Yang Mengundang

ISMILIANTO

*CATATAN : pelaksanaan resepsi adalah Sabtu-Minggu / tgl 11-12 Juli 2026