Laqadja akum rasulum


web stats

Kamis, 02 April 2026

Malam Ini Bisa Mengubah Segalanya

Malam Ini Bisa Mengubah Segalanya

Malam ini… jangan anggap biasa.
Karena bisa jadi…
yang membedakan hidupmu besok, bukan kerja kerasmu hari ini— tapi doa yang kau bisikkan malam ini.

Ada orang yang siangnya biasa saja…
tak dikenal, tak dipuji, bahkan mungkin diremehkan.
Tapi malamnya…
ia bangun, berwudhu, lalu sujud dalam sepi…
Dan di situlah… hidupnya mulai berubah.

Allah berfirman:
"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap..." (QS. As-Sajdah: 16)

Yang sunyi di bumi…
ternyata ramai di langit.
Yang tak dilihat manusia…
justru diperhatikan Allah.

Rasulullah SAW bersabda:
"Pada sepertiga malam terakhir, Allah turun ke langit dunia dan berfirman: siapa yang meminta kepada-Ku, akan Aku beri..." (HR. Bukhari No. 1145, Muslim No. 758)

Malam ini masih ada kesempatan.
Tak perlu panjang…
cukup:
2 rakaat yang jujur, istighfar dengan hati yang menyesal
doa yang benar-benar dari dalam dada. 

Bisa jadi…
yang selama ini tertutup, malam ini dibuka.
Yang selama ini berat, malam ini diringankan.
Yang selama ini jauh… malam ini didekatkan.
Jangan tunggu sempurna untuk mendekat…
datang saja dulu.

Karena mungkin…
bukan hidupmu yang harus berubah dulu, tapi sujudmu.

Penutup:
Ya Allah… jika malam ini Engkau buka pintu-Mu, jangan Engkau tutup kembali untuk kami.

Jika Engkau panggil kami mendekat, jangan Engkau biarkan kami kembali jauh.

Dan jadikan malam ini… awal perubahan hidup kami menuju ridha-Mu.
Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.

KONTEN PETANG “Jangan pulang ke rumah dengan hati penuh dosa… bersihkan dulu sebelum Magrib datang.”

KONTEN PETANG 

“Jangan pulang ke rumah dengan hati penuh dosa… bersihkan dulu sebelum Magrib datang.”

Petang ini bukan sekadar pergantian waktu…
ini adalah momen Allah membuka pintu ampunan.

Rasulullah SAW mengajarkan, waktu antara sore menuju malam adalah waktu yang rawan…
banyak manusia lalai, tapi justru di situlah orang beriman menguatkan diri.

Coba kita tanya diri sendiri sore ini:
Apa yang sudah kita ucapkan hari ini?
Siapa yang mungkin tersakiti karena kita?
Dosa apa yang belum kita minta ampun?

Jangan bawa semua itu sampai malam…
Ambil waktu sebentar, duduk tenang… lalu ucapkan:
Astaghfirullahal ‘azhim (minimal 33x)
Allahumma inni zalamtu nafsi faghfirli
Artinya:
“Ya Allah, aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.”

Petang ini…
biarkan air mata jatuh,
biarkan hati kembali lembut,
biarkan Allah melihat kita kembali pulang.

Karena bisa jadi…
malam ini bukan sekadar malam biasa.
Tapi malam di mana dosa kita dihapuskan.

Rabu, 01 April 2026

KAMIS PAGI… TAPI ADA YANG BERAT DI HATI KITA…

KAMIS PAGI… TAPI ADA YANG BERAT DI HATI KITA…

Kita bangun pagi, badan segar… tapi hati terasa kosong. 
Padahal matahari sudah terbit,
rezeki sudah Allah siapkan,
tapi semangat… seperti tertinggal entah di mana.

Hati-hati…
Bisa jadi bukan tubuh yang lelah,
tapi hati yang jauh dari Allah.
Allah berfirman:
"Alaa bidzikrillahi tathma’innul quluub" (Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang) (QS. Ar-Ra’d: 28)

Pagi ini… jangan langsung sibuk dunia. Coba duduk sebentar…
Tarik nafas… lalu ucapkan pelan:
“Ya Allah… hari ini aku titip hidupku kepada-Mu…”
Dzikir ringan tapi dahsyat:
Astaghfirullah (minimal 100x)
Shalawat (minimal 100x)
“La ilaha illa anta, subhanaka inni kuntu minadz-zhalimin 100x

Kisah singkat…
Ada seorang yang setiap pagi merasa gelisah, usahanya macet, pikirannya sempit.
Suatu hari ia ubah kebiasaannya…
Bukan langsung pegang HP, tapi duduk berdzikir 10 menit.
Beberapa hari belum terasa…
Tapi minggu demi minggu… hidupnya berubah.
Bukan karena dunianya langsung kaya…
Tapi hatinya jadi kuat, tenang, dan yakin.

Dan dari situ… pintu-pintu rezeki mulai terbuka.
Pagi ini…
Bukan tentang seberapa cepat kita berlari,
tapi seberapa dekat kita kembali.
Jangan mulai hari dengan lupa…
Mulailah dengan Allah… maka Allah cukupkan segalanya.

Berhenti ke Masjid… Karena Sakit Hati?

Berhenti ke Masjid… Karena Sakit Hati?

Ada orang yang dulu rajin ke masjid, sekarang tidak lagi.
Bukan karena sibuk… tapi karena tersinggung.

Padahal yang kita datangi itu Allah, bukan pengurus.
Rasulullah SAW bersabda:
"Shalat berjamaah lebih utama 27 derajat." (HR. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim)

Ada Kisah Imam Ahmad bin Hanbal pernah disakiti, difitnah oleh pengurus mesjid bahkan sampai dipenjara.

Tapi setelah bebas…
beliau tetap shalat di masjid,
bahkan di belakang orang pernah yang menyakitinya.

Beliau berkata:
"Aku tidak meninggalkan rumah Allah karena manusia."

Kisah kedua,  Ada seorang lelaki berhenti ke masjid karena sakit hati. Lalu ia bermimpi yang menyebutkan: 

"Dulu engkau datang kepada-Ku… sekarang engkau tinggalkan Aku karena hamba-Ku."
Ia terbangun lalu menangis
dan kembali ke masjid.

Kalau hatimu terluka…
jangan tinggalkan masjid.
Karena bisa jadi…
yang menyembuhkanmu bukan manusia…
tapi sujudmu kepada Allah.

Selasa, 31 Maret 2026

Tadi malam… ada orang yang tidur seperti kita, Pagi ini… dia sudah dikafani

Tadi malam… ada orang yang tidur seperti kita,  Pagi ini… dia sudah dikafani

Pagi ini kita masih bangun…
Masih bisa tarik napas…
Masih sempat baca ini…
Tapi di luar sana…
ada yang tadi malam masih bercanda,
masih punya rencana,
masih bilang “besok saja taubat…”
Ternyata…
tidak pernah ada “besok” untuknya.
Allah sudah mengingatkan:
"Kullu nafsin dzaa'iqatul maut"
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.”
(Al-Qur'an, Ali Imran: 185)
Lalu kita…?
Masih menunda shalat…
Masih berat bersedekah…
Masih mudah menyakiti orang…
Masih sibuk dunia… seolah kita hidup selamanya…
Padahal…
kematian tidak menunggu kita siap.
Ia datang…
di saat kita masih banyak dosa…
di saat hati belum sempat benar-benar kembali pada Allah…
Coba tanya diri pagi ini…
Kalau hari ini Allah panggil…
apa yang bisa kita bawa?
Air mata penyesalan…?
Atau amal yang menenangkan…?
Mulai pagi ini…
Jangan tunggu nanti…
Jangan tunggu tua…
Jangan tunggu sakit…
Karena bisa jadi…
ini pagi terakhir kita diberi kesempatan.
Ya Allah…
jika hari ini adalah hari terakhir kami,
jadikan ia penutup yang baik… bukan penutup yang menyakitkan.
Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin…

Bisa Jadi Hari Ini Adalah Hari Terakhir Kita Hidup

Bisa Jadi Hari Ini Adalah Hari Terakhir Kita Hidup

Pagi ini kita bangun…
Masih bisa bernapas…
Masih bisa melihat matahari…
Tapi satu hal yang sering kita lupa:
tidak ada jaminan kita masih hidup sampai malam.
Berapa banyak orang kemarin masih tertawa…
Hari ini sudah terbujur kaku?
Allah mengingatkan:
"Kullu nafsin dzaa'iqatul maut"
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.”
(HR. Al-Qur'an, Ali Imran: 185)
Lalu… apa yang sudah kita siapkan pagi ini?
Shalat kita… masih ditunda?
Dzikir kita… masih dianggap sepele?
Hati kita… masih penuh iri dan sombong?
Padahal bisa jadi…
inilah pagi terakhir kita diberi kesempatan untuk memperbaiki diri.
Mulai sekarang…
Perbanyak istighfar…
Ringankan sedekah…
Jaga lisan…
Dan jangan tinggalkan shalat…
Karena yang kita bawa nanti…
bukan harta, bukan jabatan…
tapi amal kita.
Semoga pagi ini…
bukan sekadar kita hidup,
tapi mulai benar-benar siap pulang.
Kalau Bapak mau, saya bisa buat versi:
lebih menyentuh sampai meneteskan air mata
atau versi lebih tegas dan “menampar” hati 

Apresiasi dan Tanggapan Cerpen “Darah yang Mengalir”Karya: Resca Putri Bela

Apresiasi dan Tanggapan Cerpen “Darah yang Mengalir”
Karya: Resca Putri Bela

Cerpen ini menghadirkan sebuah gagasan yang sangat menarik dan kreatif, yakni perpaduan antara perjalanan waktu dengan sejarah lokal Bengkulu, khususnya sosok Putri Gading Cempaka. 

Penulis berhasil mengangkat tema identitas diri dengan cara yang unik, sehingga tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pesan moral yang kuat tentang pentingnya menerima asal-usul dan mencintai budaya sendiri.

Kekuatan utama cerpen ini terletak pada ide cerita yang segar serta keberanian penulis mengangkat budaya daerah, seperti rejung dan penggunaan bahasa Serawai. 

Hal ini menjadi nilai tambah karena mampu memperkenalkan kearifan lokal kepada pembaca dengan cara yang menarik dan kontekstual.

Dari sisi alur, cerita disusun dengan cukup runtut dan mampu menjaga rasa penasaran pembaca, terutama pada bagian ketika tokoh utama mengalami perpindahan ke masa lalu. 

Transisi antara dunia modern dan dunia kerajaan juga terasa cukup jelas, sehingga pembaca dapat mengikuti alur cerita dengan baik.

Namun demikian, ada beberapa hal yang dapat disempurnakan agar karya ini semakin kuat. Di antaranya adalah pendalaman emosi tokoh utama, khususnya pada proses perubahan sikap Gendis. Perubahan tersebut sebenarnya sangat menarik, tetapi akan terasa lebih menyentuh jika digambarkan secara lebih bertahap dan mendalam.

Selain itu, penggunaan bahasa masih dapat diperbaiki agar lebih konsisten, baik dari segi ejaan, tanda baca, maupun pilihan kata. Perbaikan ini akan membuat cerita terasa lebih rapi dan enak dibaca.

Pada bagian akhir, penulis menghadirkan kejutan yang menarik dengan kemunculan tokoh yang berkaitan dengan masa lalu. Ini merupakan ide yang sangat potensial, dan akan menjadi lebih kuat jika diberi sedikit penguatan atau penjelasan agar maknanya semakin jelas bagi pembaca.

Secara keseluruhan, cerpen ini menunjukkan potensi besar dari penulis dalam mengolah ide, membangun cerita, serta mengangkat nilai-nilai budaya. 

Dengan sedikit penyempurnaan pada aspek teknis dan pendalaman cerita, karya ini berpeluang menjadi karya yang sangat berkesan dan inspiratif.