JANGAN TUNGGU TAK BISA JALAN BARU INGAT MASJID
Ada seorang lelaki tua.
Dulu tubuhnya kuat. Langkahnya tegap. Kendaraannya bagus. Hartanya cukup.
Tetapi adzan baginya hanya suara biasa.
“Masih muda...” katanya.
“Nanti kalau sudah tua, barulah rajin ke masjid...”
Tahun demi tahun berlalu.
Ketika Subuh berkumandang, ia tetap tidur.
Ketika Magrib tiba, ia sibuk di warung dan urusan dunia.
Ketika teman-temannya melangkah ke masjid, ia berkata:
“Doakan saja, saya belum dapat hidayah.”
Sampai suatu hari kakinya mulai sakit.
Awalnya hanya pegal.
Lalu tongkat mulai menemani.
Kemudian kursi roda menggantikan langkahnya.
Dan saat itulah hatinya mulai pecah.
Dari jendela rumahnya ia mendengar adzan yang dulu sering ia abaikan.
“Allahu Akbar... Allahu Akbar...”
Air matanya jatuh.
Ia berkata kepada anaknya:
“Tolong dorong Ayah ke masjid...”
Namun tubuhnya sudah terlalu lemah.
Napasnya sesak.
Jangankan berdiri lama, duduk pun sulit.
Di perjalanan menuju masjid, lelaki tua itu menangis.
Katanya:
“Dulu waktu kaki ini kuat, aku malah melangkah ke tempat maksiat.
Sekarang ketika hatiku rindu masjid, kakiku sudah tak mampu lagi.”
Betapa banyak orang baru merindukan sujud ketika punggungnya telah membungkuk.
Baru ingin duduk di saf depan ketika lututnya tak sanggup lagi berjalan.
Baru ingin membaca Al-Qur’an ketika matanya mulai kabur.
Padahal Allah sudah memanggil sejak muda.
Rasulullah SAW bersabda:
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara:
masa mudamu sebelum datang masa tuamu,
sehatmu sebelum datang sakitmu,
kayamu sebelum datang fakirmu,
waktu luangmu sebelum datang sibukmu,
dan hidupmu sebelum datang matimu.(HR. Al-Hakim, no. 7846)
Ada kisah lain yang lebih menggetarkan.
Seorang bapak tua setiap hari hanya duduk di teras rumah memandang ke arah masjid.
Orang-orang mengira ia sedang bersantai.
Ternyata ia sedang menangis diam-diam.
Ketika ditanya kenapa menangis, ia berkata:
“Aku iri melihat orang berjalan ke masjid.
Dulu aku sering mendengar adzan tapi tidak datang.
Sekarang aku ingin sekali melangkah ke rumah Allah... tapi kakiku lumpuh.”
Kalimat itu menghantam hati.
Hari ini mungkin kita masih kuat berjalan.
Masih kuat naik motor.
Masih kuat bekerja dari pagi sampai malam.
Tetapi mengapa langkah ke masjid terasa paling berat?
Jangan sampai nanti kita hanya bisa mendengar adzan dari balik jendela rumah sakit.
Atau dari atas tempat tidur ketika tubuh sudah dipenuhi selang dan obat.
Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah...”
(QS. Al-Jinn: 18)
Dan Rasulullah SAW bersabda:
“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan ke masjid dalam gelap malam dengan cahaya sempurna pada hari kiamat.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Saudaraku...
Kalau hari ini kaki kita masih kuat,
biasakan ia melangkah ke masjid.
Kalau hari ini telinga kita masih mendengar adzan,
jangan pura-pura sibuk.
Karena akan datang hari
saat kita ingin sekali bersujud panjang di masjid...
tetapi tubuh sudah tidak mengizinkan.
Dan penyesalan saat itu
tidak akan bisa memutar waktu kembali.
Ya Allah...
jangan Engkau cabut nyawa kami sebelum Engkau lembutkan hati kami mencintai masjid.
Jadikan langkah kami ringan menuju rumah-Mu.
Dan wafatkan kami dalam keadaan mencintai shalat dan jamaah.
Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn.