Jangan Sampai Allah Kembali Mencabut Rahmat-Nya dari Kita
Ada kalanya seseorang merasa hidupnya tenang. Rezekinya cukup, tubuhnya sehat, keluarganya rukun, dan urusannya dipermudah.
Namun sering kali manusia lupa bahwa semua itu bukan semata-mata hasil kerja kerasnya, melainkan karena rahmat Allah yang masih menaunginya.
Allah berfirman:
"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya." (QS. Ibrahim: 34)
Rahmat Allah adalah sebab utama seseorang dapat hidup dalam kebaikan. Ketika rahmat itu hadir, kesulitan terasa ringan, dosa mudah ditinggalkan, hati mudah tersentuh oleh nasihat, dan jalan keluar selalu datang pada waktu yang tepat.
Tetapi yang patut ditakuti bukanlah berkurangnya harta, melainkan dicabutnya rahmat Allah.
Ketika rahmat mulai menjauh, seseorang bisa memiliki kekayaan tetapi hatinya gelisah. Bisa memiliki jabatan tetapi hidupnya tidak tenang. Bisa memiliki keluarga tetapi kehilangan kebahagiaan. Bahkan ada yang masih mampu tertawa di hadapan manusia, tetapi menangis sendirian karena hatinya terasa kosong.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya Allah itu Maha Penyayang dan menyukai kasih sayang." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Rahmat Allah bisa menjauh karena dosa yang terus-menerus dilakukan tanpa taubat. Karena shalat yang mulai ditinggalkan. Karena hati yang semakin keras. Karena merasa tidak lagi membutuhkan Allah.
Awalnya hanya menunda shalat. Kemudian mulai jarang ke masjid. Lalu jarang membaca Al-Qur'an.
Kemudian merasa biasa melakukan maksiat. Akhirnya hati menjadi gelap tanpa disadari.
Inilah yang paling berbahaya.
Dikisahkan seorang pengusaha yang dahulu hidup sederhana. Ketika usahanya berkembang, ia tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah. Bahkan setiap Subuh ia berada di saf terdepan masjid.
Tahun demi tahun usahanya semakin besar. Kesibukan bertambah. Pertemuan bisnis semakin banyak.
Mulailah ia berkata, "Sekali ini saja saya tinggalkan jamaah, urusan sedang penting."
Sekali menjadi dua kali. Dua kali menjadi kebiasaan.
Akhirnya masjid yang dahulu selalu diramaikannya mulai terasa asing baginya.
Anehnya, saat hartanya semakin bertambah, ketenangan hidupnya justru berkurang. Anak-anaknya mulai bermasalah. Hubungan keluarganya tidak harmonis. Tidurnya tidak nyenyak.
Suatu malam ia menangis setelah mendengar azan Isya dari kejauhan.
Ia berkata, "Ya Allah, jangan-jangan selama ini Engkau belum mencabut hartaku, tetapi Engkau telah mencabut sebagian rahmat-Mu dariku."
Sejak malam itu ia kembali memperbaiki shalatnya, memperbanyak istighfar, dan mendekat kepada Allah.
Perlahan-lahan ketenangan yang hilang mulai kembali hadir.
Tanda Rahmat Allah Masih Bersama Kita
Masih diberi kemudahan menjaga shalat.
Hati masih tersentuh ketika mendengar ayat Al-Qur'an.
Masih merasa bersalah setelah berbuat dosa.
Masih senang menghadiri majelis ilmu.
Masih diberi kesempatan bertaubat.
Selama tanda-tanda itu masih ada, jangan sia-siakan.
Allah berfirman:
"Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya." (QS. Az-Zumar: 53)
Wahai saudaraku, jangan takut jika harta berkurang, karena Allah bisa menggantinya. Jangan takut jika jabatan hilang, karena Allah bisa memberinya kembali. Tetapi takutlah jika Allah mencabut rahmat-Nya dari hati kita. Sebab ketika rahmat itu pergi, dunia terasa sempit meskipun segala sesuatu tampak dimiliki.
Maka perbanyaklah istighfar, jaga shalat, hormati orang tua, perbanyak sedekah, dan jangan lelah memohon:
"Allahumma la takilni ila nafsi tharafata 'ain, wa aslih li sya'ni kullah, la ilaha illa anta."
"Ya Allah, jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau hanya sekejap mata. Perbaikilah seluruh urusanku. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau."
Sebab orang yang masih berada dalam rahmat Allah adalah orang yang paling beruntung di dunia dan akhirat.