KHUTBAH JUMAT
KHUTBAH PERTAMA
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruh.
Wa na’udzu billahi min syururi anfusina wa min sayyi’ati a’malina.
May yahdihillahu fala mudhillalah, wa may yudhlil fala hadiyalah.
Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah. Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, la nabiyya ba’dah.
Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
Amma ba’du.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Judul: BERSIHKAN REZEKI, JAGA LISAN, BERSIHKAN HATI
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Jalankan perintah-Nya dan tinggalkan segala larangan-Nya.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Saya ingin mengawali khutbah ini dengan sebuah kisah.
Suatu hari, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu memakan makanan yang diberikan kepadanya. Setelah makanan itu dimakannya, beliau baru mengetahui bahwa makanan tersebut berasal dari penghasilan yang tidak halal.
Apa yang dilakukan Abu Bakar?
Beliau berusaha mengeluarkan makanan tersebut karena takut sesuatu yang haram menetap di dalam tubuhnya.
Kisah ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Coba kita bertanya kepada diri sendiri:
Kalau Abu Bakar begitu takut terhadap sesuap makanan yang tidak halal, bagaimana dengan kita?
Jangan sampai kita sangat teliti memilih makanan yang masuk ke mulut, tetapi tidak teliti memilih sumber uang yang digunakan untuk membelinya.
Allah berfirman:
Yaa ayyuhan-naasu kuluu mimmaa fil-ardhi halaalan thayyiban wa laa tattabi'uu khuthuwaatisy-syaithaan, innahuu lakum 'aduwwum mubiin.
Artinya:
“Wahai manusia! Makanlah dari makanan yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 168)
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Harta yang diperoleh dengan menipu, mengambil hak orang lain, korupsi, riba, suap, atau cara-cara batil itu tidak halal.
Allah berfirman:
Wa laa ta'kuluu amwaalakum bainakum bil-baathili wa tudluu bihaa ilal-hukkaami lita'kuluu fariiqam min amwaalin-naasi bil-itsmi wa antum ta'lamuun.
Artinya:
“Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan janganlah kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 188)
Karena itu, rezeki halal adalah bagian dari ketakwaan.
Rasulullah SAW mengingatkan tentang seseorang yang sedang melakukan perjalanan jauh. Rambutnya kusut, tubuhnya berdebu, ia mengangkat kedua tangannya ke langit dan berkata, “Ya Rabb, Ya Rabb.”
Namun makanan, minuman, pakaian dan rezekinya berasal dari yang haram.
Rasulullah SAW bersabda:
Annaa yustajaabu lidzaalik?
Artinya:
“Bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?”
(HR. Muslim)
Maka jangan hanya bertanya:
“Mengapa doa saya belum terkabul?”
Tanyakan juga:
“Sudahkah saya memeriksa rezeki saya?”
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Kita juga harus menjaga apa yang keluar dari mulut kita.
Allah berfirman:
Maa yalfizhu min qaulin illaa ladaihi raqiibun atiid.
Artinya:
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
(QS. Qaf: 18)
Rasulullah SAW bersabda:
Man kaana yu'minu billaahi wal-yaumil-aakhiri falyaqul khairan au liyasmut.
Artinya:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Lisan memang kecil.
Tetapi dosa yang dilahirkannya bisa sangat besar.
Satu kalimat bisa menghancurkan rumah tangga.
Satu ucapan bisa memutuskan persaudaraan.
Satu fitnah bisa menghancurkan kehormatan seseorang.
Satu ghibah bisa membuat kita membawa dosa yang tidak terasa ketika mengucapkannya.
Allah berfirman:
Wa laa yaghtab ba'dhukum ba'dhaa. A yuhibbu ahadukum an ya'kula lahma akhiihi maitan fakarihtumuuh. Wattaqullah. Innallaaha tawwaabur rahiim.
Artinya:
“Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Hujurat: 12)
Perhatikan gambaran yang diberikan Allah.
Ghibah disamakan dengan memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal.
Mengapa begitu mengerikan?
Karena orang yang menjadi korban ghibah tidak berada di hadapan kita untuk membela dirinya.
Kita berbicara ketika dia tidak ada.
Dan Allah mendengar semuanya.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Kadang kita merasa dosa itu hanya sesuatu yang besar.
Padahal dosa yang terus diulang juga berbahaya.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ketika seorang hamba melakukan dosa, muncul noda pada hatinya. Jika ia bertaubat, noda itu dihapus. Tetapi jika ia kembali melakukan dosa, noda itu bertambah.
Allah berfirman:
Kallaa bal raana 'alaa quluubihim maa kaanuu yaksibuun.
Artinya:
“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”
(QS. Al-Muthaffifin: 14)
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Inilah yang harus kita takutkan.
Bukan hanya kehilangan uang.
Bukan hanya kehilangan jabatan.
Bukan hanya kehilangan kedudukan.
Tetapi kehilangan kepekaan hati.
Awalnya berbuat dosa merasa takut.
Kemudian dosa diulang.
Lama-lama dosa terasa biasa.
Awalnya berbohong merasa bersalah.
Kemudian berbohong menjadi kebiasaan.
Awalnya ghibah merasa berdosa.
Kemudian ghibah menjadi bahan hiburan.
Awalnya menyakiti orang membuat kita meminta maaf.
Kemudian kita tidak lagi peduli.
Itulah tanda bahwa hati harus segera diselamatkan.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Maka hari ini mari kita periksa tiga pintu kehidupan kita.
Pertama, apa yang masuk ke perut kita.
Pastikan halal dan baik.
Kedua, apa yang keluar dari lisan kita.
Pastikan benar, baik dan bermanfaat.
Ketiga, apa yang tinggal di dalam hati kita.
Jangan biarkan iri, dengki, sombong, dendam dan dosa terus menetap.
Jangan sampai kita membersihkan rumah, tetapi tidak membersihkan hati.
Jangan sampai kita mengganti pakaian setiap hari, tetapi tidak pernah mengganti kebiasaan buruk.
Jangan sampai kita menjaga wajah agar terlihat bersih di hadapan manusia, tetapi membiarkan hati kotor di hadapan Allah.
Mari bertaubat sebelum hati menjadi keras.
Mari meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti.
Mari kembalikan hak orang yang pernah kita ambil.
Mari tinggalkan penghasilan yang tidak halal.
Mari hentikan ghibah.
Mari berhenti menyebarkan fitnah.
Mari belajar diam ketika perkataan kita tidak membawa kebaikan.
Karena Rasulullah SAW telah mengingatkan:
Al-muslimu man salimal-muslimuuna min lisaanihi wa yadih.
Artinya:
“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Semoga Allah menjadikan rezeki kita halal, lisan kita terjaga, dan hati kita bersih.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Sekali lagi saya berwasiat kepada diri saya dan kepada jamaah sekalian:
Bertakwalah kepada Allah.
Jaga rezeki.
Jaga lisan.
Jaga hati.
Jangan remehkan sesuap makanan yang haram.
Jangan remehkan uang yang diperoleh dengan cara yang batil.
Jangan remehkan satu kalimat yang menyakiti hati orang lain.
Karena semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Mari kita pulang dari masjid ini dengan tekad:
Yang masuk ke perut kita harus halal.
Yang keluar dari lisan kita harus baik.
Yang tinggal di hati kita harus bersih.
Aqoolu qouli haadza, wa astaghfirullaaha lii wa lakum, fastaghfiruuhu innahuu huwal-ghafuurur-rahiim.
KHUTBAH KEDUA
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih, kamaa yuhibbu rabbunaa wa yardhaa.
Asyhadu allaa ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariikalah. Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.
Allah berfirman:
Innallaaha wa malaa-ikatahu yushalluuna 'alan-nabiyy. Yaa ayyuhalladziina aamanuu shalluu 'alaihi wa sallimuu tasliimaa. Artinya:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
(QS. Al-Ahzab: 56)
Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
Allahummaghfir lil-muslimiina wal-muslimaat, wal-mu’miniina wal-mu’minaat, al-ahyaa’i minhum wal-amwaat, waqdhi al-haajaat.
Allahumma innaa nas’aluka rizqan halaalan thayyiban, wa qalban saliiman, wa lisaanan shaadiqan.
Allahummaghfir dzunuubanaa, wa kaffir ‘annaa sayyi’aatinaa, wa thahhir quluubanaa.
Allahumma baarik lanaa fii arzaaqinaa, wa baarik lanaa fii ahliinaa, wa baarik lanaa fii a’maarinaa.
Ya Allah, jadikan rezeki kami rezeki yang halal dan penuh keberkahan.
Jauhkan kami dari harta yang haram dan cara mencari rezeki yang Engkau murkai.
Ya Allah, jaga lisan kami dari dusta, ghibah, fitnah, celaan dan ucapan yang menyakiti.
Ya Allah, bersihkan hati kami dari iri, dengki, sombong, dendam dan segala penyakit hati.
Ampunilah dosa kami.
Ampunilah dosa kedua orang tua kami.
Ampunilah dosa pasangan kami, anak-anak kami, keluarga kami dan seluruh kaum Muslimin dan Muslimat.
Ya Allah, bagi saudara-saudara kami yang sedang sakit, berikan kesembuhan.
Bagi yang sedang mengalami kesulitan, mudahkan urusannya.
Bagi yang sedang berutang, berikan kemampuan untuk melunasinya.
Bagi yang sedang mencari rezeki, bukakan pintu rezeki yang halal dan berkah.
Bagi keluarga kami, jadikan mereka keluarga yang mencintai Al-Qur’an, mencintai shalat, mencintai kebaikan dan menjauhi kemaksiatan.
Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah, wa fil-aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban-naar.
‘Ibā dallah, innallaaha ya’muru bil-‘adli wal-ihsaani wa iitaa ’idzil-qurbaa, wa yanhaa ‘anil-fahsyaa ’i wal-munkari wal-baghy.
Ya’izhukum la’allakum tadzakkaruun.
Fadzkurullaaha yadzkurkum, wasykuruuhu ‘alaa ni’amihi yazidkum, wa la dzikrullaahi akbar, wallaahu ya’lamu maa tashna’uun.
Aqi mish-shalaah....