Laqadja akum rasulum


web stats

Selasa, 17 Maret 2026

Pesan-Pesan Setelah Ramadhan“Ujian Sesungguhnya Dimulai Setelahnya”

Pesan-Pesan Setelah Ramadhan
“Ujian Sesungguhnya Dimulai Setelahnya”

Ramadhan telah pergi…
tapi perjalanan kita kepada Allah belum selesai.
Justru sekaranglah ujian dimulai…
Pertama, jangan kembali seperti sebelum Ramadhan
Jika setelah Ramadhan kita kembali meninggalkan shalat,
kembali lalai, kembali bermaksiat…
maka kita belum benar-benar mengambil pelajaran.
Allah berfirman:
"Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan kembali benang yang sudah dipintalnya dengan kuat..."
(QS. An-Nahl: 92)
Jangan rusak amal yang sudah kita bangun selama Ramadhan.
Kedua, pertahankan amalan walau sedikit
Tidak harus sebanyak di bulan Ramadhan…
tapi jangan sampai terputus.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu, walaupun sedikit."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Lebih baik:
sedikit tapi istiqamah
daripada
banyak tapi hanya sesaat
Ketiga, lanjutkan hubungan dengan Al-Qur’an
Jangan jadikan Al-Qur’an hanya “teman Ramadhan”.
Kalau selama Ramadhan kita membaca setiap hari…
maka setelahnya tetaplah membaca, walau hanya beberapa ayat.
Karena Al-Qur’an itulah yang akan menjadi cahaya kita di dunia dan akhirat.
Keempat, jaga lisan dan hati
Ramadhan telah melatih kita menahan diri…
bukan hanya dari makan dan minum…
tapi juga dari:
ghibah
fitnah
marah
dan iri hati
Jangan lepaskan semua itu setelah Ramadhan.
Kelima, perbanyak istighfar
Kita tidak tahu apakah Ramadhan kita diterima atau tidak…
Maka para ulama justru setelah Ramadhan
lebih banyak beristighfar daripada merasa puas.
Karena orang yang sadar…
akan merasa amalnya masih penuh kekurangan.
Keenam, lanjutkan puasa sunnah (Syawal dan seterusnya)
Puasa Syawal adalah tanda kita ingin tetap dekat dengan Allah.
Ini bukan kewajiban…
tapi ini bukti cinta.
Ketujuh, tetap rendah hati
Jangan merasa sudah baik hanya karena telah melewati Ramadhan.
Bisa jadi orang yang sederhana…
justru lebih diterima oleh Allah.
Yang penting bukan banyaknya amal…
tapi keikhlasan di dalamnya.
Penutup renungan
Ramadhan bukan tujuan…
ia hanya madrasah.
Dan sekarang kita telah lulus… atau mungkin belum lulus…
Tapi satu hal yang pasti:
Allah masih membuka pintu taubat…
selama kita masih hidup.
Doa
Ya Allah…
jangan Engkau jadikan kami hamba Ramadhan saja…
tapi jadikan kami hamba-Mu sepanjang waktu…
Tetapkan hati kami di atas ketaatan…
dan jangan Engkau palingkan setelah Engkau beri petunjuk.
Aamiin.

Puasa Syawal: Penyempurna Ramadhan yang Sering Terlupa

Puasa Syawal: 
Penyempurna Ramadhan yang Sering Terlupa

Setelah Ramadhan berlalu, banyak orang merasa ibadah sudah “selesai”.
Padahal justru di sinilah tanda diterimanya Ramadhan mulai terlihat.
Salah satu amalan besar setelah Ramadhan adalah puasa 6 hari di bulan Syawal.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa berpuasa Ramadhan, kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka seakan-akan ia berpuasa sepanjang tahun."
(HR. Muslim)
Hadis ini luar biasa…
Bayangkan, hanya dengan:
puasa 30 hari Ramadhan
ditambah 6 hari Syawal
pahalanya seperti puasa setahun penuh.
Kenapa bisa begitu?
Para ulama menjelaskan:
satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh.
30 hari Ramadhan × 10 = 300 hari
6 hari Syawal × 10 = 60 hari
Totalnya = 360 hari (seperti setahun).
Inilah rahasia pahala besar puasa Syawal.
Apa makna puasa Syawal?
Pertama, tanda diterimanya Ramadhan.
Orang yang diterima amalnya, biasanya akan dimudahkan untuk melakukan amal berikutnya.
Jika setelah Ramadhan kita masih semangat berpuasa, itu pertanda baik.
Kedua, latihan istiqamah.
Ramadhan melatih kita selama sebulan.
Syawal adalah ujian: apakah kita lanjut… atau berhenti?
Ketiga, penyempurna kekurangan.
Seperti shalat sunnah menutupi kekurangan shalat wajib,
maka puasa Syawal menutupi kekurangan puasa Ramadhan kita.
Kapan puasa Syawal dilakukan?
Puasa ini dilakukan di bulan Syawal, mulai tanggal 2 (karena tanggal 1 Idul Fitri haram berpuasa).
Boleh:
berturut-turut
atau terpisah (selang-seling)
Yang penting jumlahnya 6 hari.
Mana yang didahulukan, qadha atau puasa Syawal?
Jika masih punya hutang puasa Ramadhan, maka lebih utama menyelesaikan qadha terlebih dahulu.
Namun sebagian ulama membolehkan mendahulukan puasa Syawal, lalu qadha setelahnya, selama masih dalam waktu yang cukup.
Yang terbaik:
utamakan qadha, lalu lanjutkan Syawal jika masih sempat.
Renungan untuk hati
Jangan sampai kita hanya menjadi hamba Ramadhan…
yang rajin ibadah hanya di bulan itu saja.
Puasa Syawal adalah pesan halus dari Allah:
"Apakah kamu masih ingin dekat dengan-Ku… atau cukup sampai Ramadhan saja?"
Penutup doa
Ya Allah…
sebagaimana Engkau memberi kami kekuatan di bulan Ramadhan,
maka kuatkan kami pula di bulan Syawal…
Jangan Engkau putuskan kami dari ibadah setelah Ramadhan…
dan jadikan kami hamba yang istiqamah sampai akhir hayat.
Aamiin.

Kultum Malam Idul Fitri“Saat Ramadhan Pergi… Apa yang Tertinggal di Hati?”

Kultum Malam Idul Fitri
“Saat Ramadhan Pergi… Apa yang Tertinggal di Hati?”

Malam ini… suasana berbeda.
Takbir mulai berkumandang…
“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”
Hati ini bergetar…
bukan hanya karena kemenangan…
tapi juga karena perpisahan.
Ramadhan… benar-benar akan pergi.
Aku termenung…
seakan baru kemarin aku menyambutnya dengan penuh harap.
Kini… aku harus melepasnya.
Aku bertanya dalam hati…
“Apakah aku termasuk orang yang menang… atau justru yang merugi?”
Allah berfirman:
"Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur."
(QS. Al-Baqarah: 185)
Malam ini kita bertakbir…
tapi bukan sekadar suara…
ini adalah ungkapan syukur… sekaligus tanda perpisahan.
Aku mulai mengingat kembali Ramadhan yang telah berlalu…
berapa kali aku benar-benar khusyuk dalam shalat?
berapa banyak air mata yang jatuh saat berdoa?
atau jangan-jangan… aku lebih banyak sibuk dengan urusan dunia?
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Aku berharap…
semoga aku termasuk di dalamnya…
Tapi harapan saja tidak cukup…
aku harus jujur pada diri sendiri…
apakah puasaku benar-benar karena Allah… atau hanya kebiasaan?
Malam ini… bukan hanya malam kemenangan…
ini juga malam penentuan…
Siapa yang benar-benar berubah…
dan siapa yang hanya “singgah” sebentar di Ramadhan.
Aku takut…
takut jika setelah malam ini…
aku kembali meninggalkan shalat berjamaah…
kembali jauh dari Al-Qur’an…
kembali lalai seperti dulu…
Maka malam ini… aku berjanji dalam hati…
“Ya Allah…
jika Engkau terima puasaku…
jangan Engkau cabut nikmat dekat dengan-Mu…”
“Ya Allah…
jangan jadikan aku hamba Ramadhan saja…
tapi jadikan aku hamba-Mu sepanjang waktu…”
Takbir terus berkumandang…
Dan aku sadar…
Ramadhan memang pergi…
tapi seharusnya, semangatnya tidak ikut pergi.
Jika setelah Ramadhan aku tetap menjaga shalat…
tetap menjaga lisan…
tetap dekat dengan Al-Qur’an…
maka itulah tanda kemenangan yang sebenarnya.
Ya Allah…
terimalah semua amal kami…
ampuni dosa-dosa kami…
Dan pertemukan kami kembali dengan Ramadhan yang akan datang…
dalam keadaan lebih baik dari hari ini.
Taqabbalallahu minna wa minkum…
Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.

Kultum Malam ke-29 Ramadhan“Apakah Bekalku Pulang Sudah Cukup?”

Kultum Malam ke-29 Ramadhan
“Apakah Bekalku Pulang Sudah Cukup?”
Malam ini… aku duduk sendiri.
Ramadhan hampir pergi.
Entah kenapa… hati terasa berbeda.
Tidak seperti malam-malam sebelumnya.
Aku mulai bertanya pada diriku sendiri…
“Kalau Ramadhan ini adalah yang terakhir… apa yang sudah aku bawa pulang?”
Aku ingat awal Ramadhan…
niatku begitu besar.
Targetku tinggi.
Ingin khatam Al-Qur’an…
ingin rajin tahajud…
ingin berubah total…
Tapi malam ini…
aku mulai menghitung…
berapa kali aku lalai?
berapa malam aku lewatkan tanpa ibadah?
berapa ayat yang hanya aku baca tanpa meresap?
Allah berfirman:
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi."
(QS. Ali Imran: 133)
Aku tersentak…
Ternyata Allah menyuruhku bersegera…
tapi aku justru sering menunda.
Aku pikir waktuku masih panjang…
aku kira Ramadhan masih lama…
Padahal… kini hampir habis.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Celakalah seseorang yang mendapati Ramadhan, lalu Ramadhan berlalu sebelum ia diampuni."
(HR. Tirmidzi)
Kalimat itu seperti menampar hatiku…
Jangan-jangan aku termasuk orang itu…
Malam ini aku tidak ingin lagi menunda.
Aku angkat tangan pelan-pelan…
“Ya Allah… aku akui… aku banyak kurangnya.
Ibadahku belum sempurna…
hatiku masih kotor…
amalanku masih sedikit…”
“Tapi ya Allah…
aku tidak punya pintu lain selain pintu-Mu…”
Aku menangis…
bukan karena aku sudah baik…
tapi karena aku sadar… aku belum cukup.
Malam ini… aku ingin menutup Ramadhan dengan satu tekad:
meskipun sedikit… aku tidak ingin berhenti setelah ini.
Kalau aku masih diberi umur…
aku ingin tetap shalat seperti di Ramadhan…
aku ingin tetap dekat dengan Al-Qur’an…
aku ingin tetap menjaga lisanku…
Karena aku sadar…
yang Allah lihat bukan seberapa banyak amalku…
tapi seberapa istiqamah aku setelahnya.
Ya Allah…
jika ini Ramadhan terakhirku…
terimalah aku sebagai hamba-Mu yang Engkau ampuni…
Dan jika aku masih Engkau beri umur…
jangan Engkau biarkan aku kembali seperti dulu lagi.
Aamiin.

Jangan Sampai Ramadhan Pergi Tanpa Bekas

Kultum Malam ke-28 Ramadhan
(Renungan: Jangan Sampai Ramadhan Pergi Tanpa Bekas)

Malam ini, kita sudah berada di penghujung Ramadhan. Tinggal hitungan hari… bahkan mungkin tinggal hitungan malam.
Coba kita tanyakan pada diri kita masing-masing…
Apakah Ramadhan ini benar-benar sudah mengubah kita?
Atau jangan-jangan… kita hanya berubah sementara, lalu kembali seperti semula?
Allah berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa."
(QS. Al-Baqarah: 183)
Tujuan puasa itu jelas: agar kita menjadi orang yang bertakwa.
Bukan sekadar menahan lapar… bukan sekadar bangun sahur… bukan sekadar ramai di awal lalu redup di akhir…
Tanda Ramadhan berhasil bukan saat Ramadhan berlangsung, tapi setelah Ramadhan pergi.
Kalau setelah Ramadhan:
kita masih menjaga shalat
masih ringan bersedekah
masih menjaga lisan
masih dekat dengan Al-Qur’an
maka itulah tanda Ramadhan kita diterima.
Tapi kalau setelah Ramadhan:
shalat mulai ditinggalkan
Al-Qur’an ditutup kembali
maksiat kembali dilakukan
maka kita perlu takut… jangan-jangan kita hanya mendapatkan lapar dan haus saja.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Betapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus."
(HR. Ibnu Majah)
Di malam ke-28 ini, kita belum terlambat.
Masih ada kesempatan:
memperbanyak istighfar
memperbanyak sedekah
memperbanyak doa
dan mengejar malam Lailatul Qadar
Jangan remehkan satu malam…
karena satu malam di sisi Allah bisa lebih baik dari seribu bulan.
Mungkin kita tidak mampu ibadah banyak…
tapi jangan sampai kita berhenti berusaha.
Tutup Ramadhan ini dengan kesungguhan…
agar ketika Ramadhan pergi, ia meninggalkan bekas di hati kita.
Ya Allah…
jangan jadikan Ramadhan ini yang terakhir tanpa ampunan-Mu…
dan jika ini Ramadhan terakhir kami, maka tutuplah dengan husnul khatimah. Aamiin.

RIDHO ALLAH RIDHO ORANG TUA

RIDHO ALLAH RIDHO ORANG TUA

Ada anak yang rajin ibadah, lisannya lembut. Tapi hidupnya terasa berat… rezekinya seret, hatinya gelisah, langkahnya seperti tertahan.
Bisa jadi… ada satu pintu langit yang belum terbuka.
Yaitu ridho orang tua.

Nabi SAW bersabda:
“Ridho Allah tergantung pada ridho orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi)

Maka jangan heran… Ada orang yang ilmunya biasa saja, tapi hidupnya penuh keberkahan. Karena orang tuanya diam-diam meridhoi dan mendoakan setiap malam.

Sebaliknya… Ada anak yang hebat, tapi hidupnya terasa sempit. Karena tanpa sadar, ia pernah melukai hati orang tuanya dan orang tuanya belum memaafkan dan meridhoi mereka. 

Wahai orang tua…
Jangan pelit memberikan ridho kepada anak-anakmu.
Walau mereka belum sempurna… Walau mereka sering salah… Tetaplah ridhoi dan doakan mereka.

Karena bisa jadi, Satu kalimat dari lisanmu:
“Bapak ridho… Ibu ridho…”
Itulah yang membuka pintu langit bagi mereka.

Maka setiap malam bacalah: 
“Radhītu billāhi rabbah, wa bil-islāmi dīnah, wa bi Muḥammadin nabiyyan wa rasūlā.”

Lalu lanjutkan dengan kalimat ridho menyentuh seperti ini:

“Allāhumma, sesungguhnya aku meridhai istriku…
Aku meridhai anak-anakku…
Maka ridhoilah mereka ya Allah…
Ampuni dosa-dosa mereka…
Lapangkan rezeki mereka…
Jadikan mereka anak-anak yang shalih dan shalihah…
Yang taat kepada-Mu, berbakti kepada orang tua. 

Semoga Allaah selalu meridhoi istri dan anak-anak kita, aamiin ya rabbal aalamin. 

Senin, 16 Maret 2026

PAGI INI… INGAT SATU HAL

PAGI INI… INGAT SATU HAL

Pagi ini kita bangun lagi.
Masih diberi kesempatan hidup. Padahal banyak orang kemarin masih bersama kita,
hari ini sudah kembali kepada Allah.

Karena itu jangan mulai pagi dengan keluhan.
Mulailah dengan syukur.
Mungkin rezeki kita belum banyak. Mungkin masalah kita masih ada.
Tetapi satu hal yang pasti:
Selama Allah masih memberi kita hidup hari ini,
berarti pintu harapan masih terbuka.

Allah berfirman:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar.”
(QS At-Talaq: 2)

Maka pagi ini jangan putus asa.
Perbaiki niat. Perbanyak dzikir.
Kerjakan yang halal.
Dan tetap percaya kepada Allah.

Karena sering kali pertolongan Allah datang justru pada saat kita hampir menyerah.

Semoga hari ini Allah membukakan jalan rezeki,
menenangkan hati,
dan memudahkan semua urusan kita.