LANGKAH YANG MAKIN BERAT
Cerpen: oleh Ismilianto
Setiap azan Magrib berkumandang, suara itu selalu terdengar sampai ke rumah Pak Hasan. Dulu, sebelum muazin selesai mengucapkan "Hayya 'alal falah", ia sudah berjalan menuju masjid dengan sarung dan peci kesayangannya.
Di saf pertama, wajahnya hampir selalu ada.
Anak-anak muda di kampung sering berkata, "Kalau lampu masjid sudah menyala, pasti Pak Hasan sudah di dalam."
Namun, waktu berjalan pelan-pelan.
Awalnya hanya sekali tidak hadir. Katanya sedang lelah. Lalu seminggu kemudian, dua kali tidak hadir. Setelah itu mulai sering salat di rumah.
Tidak ada yang menyadari bahwa setan jarang mengajak seseorang meninggalkan masjid sekaligus. Ia melakukannya sedikit demi sedikit.
Suatu malam, seorang sahabatnya datang berkunjung.
"Pak Hasan, sudah lama tidak terlihat di masjid."
Pak Hasan tersenyum.
"Ah, saya salat juga kok. Di rumah saja."
Sahabatnya tidak membantah.
Tetapi sejak malam itu, jarak antara rumah dan masjid yang hanya sekitar tiga ratus meter terasa semakin jauh bagi Pak Hasan.
Ketika azan berkumandang, selalu ada alasan.
Kadang karena hujan gerimis.
Kadang karena menonton berita.
Kadang karena menunggu tamu.
Kadang hanya karena malas bangun dari kursi.
Padahal dahulu ia tetap datang meski hujan deras.
Rasulullah SAW bersabda:
"Salat yang paling berat bagi orang munafik adalah salat Isya dan Subuh berjamaah. Seandainya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak." (HR. Bukhari dan Muslim)
Sampai suatu hari, seorang jamaah masjid meninggal dunia.
Orang itu bukan ustaz, bukan tokoh masyarakat, bukan orang kaya.
Tetapi ketika jenazahnya dibawa ke masjid, banyak orang menangis.
"Beliau selalu ada di saf pertama."
"Beliau tidak pernah meninggalkan Subuh berjamaah."
"Beliau yang sering membuka pintu masjid."
Kalimat-kalimat itu terus terdengar.
Pak Hasan berdiri memandangi jenazah sahabatnya.
Tiba-tiba dadanya sesak.
Ia teringat masa-masa ketika mereka berjalan bersama menuju masjid dalam gelapnya Subuh.
Kini sahabatnya telah pergi.
Sedangkan dirinya masih hidup, tetapi justru semakin jauh dari rumah Allah.
Malam itu Pak Hasan tidak bisa tidur.
Ia menangis sendirian.
"Ya Allah, dulu aku begitu mudah melangkah ke masjid. Mengapa sekarang terasa berat?"
Keesokan harinya, saat azan Subuh berkumandang, ia memaksa dirinya bangun.
Kakinya terasa berat.
Namun ia terus berjalan.
Sesampainya di masjid, beberapa jamaah terkejut.
"Alhamdulillah, Pak Hasan datang lagi."
Tidak ada yang tahu bahwa langkah-langkah pendek menuju masjid pagi itu adalah salah satu perjuangan terbesar dalam hidupnya.
Allah berfirman:
"Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." (QS. Al-'Ankabut: 69)
Kisah seperti ini nyata terjadi di banyak tempat.
Ada orang yang dulunya rajin ke masjid, lalu perlahan menjauh bukan karena tidak mampu, tetapi karena merasa aman dengan amal-amal lamanya.
Padahal iman itu naik dan turun.
Masjid yang ditinggalkan hari ini bisa menjadi penyesalan esok hari.
Jika malam ini azan masih terdengar dan kaki kita masih mampu melangkah, jangan tunggu sampai ada air mata di sisi jenazah sahabat untuk menyadari betapa berharganya satu langkah menuju rumah Allah.
Sebab tidak ada seorang pun yang tahu, azan yang mana yang terakhir kali ia dengar, dan salat berjamaah yang mana yang terakhir kali masih sempat ia ikuti.