Laqadja akum rasulum


web stats

Senin, 09 Februari 2026

NASIHAT UNTUK SISWA SMA NEGERI 4 MANNA pada ultah ke 35 tahun 2026, oleh: Ismilianto

NASIHAT UNTUK SISWA SMA NEGERI 4 MANNA pada ultah ke 35 tahun 2026, oleh: Ismilianto

Anak-anakku…
Siswa-siswi SMA Negeri 4 Manna yang saya banggakan!
Hari ini saya berdiri di hadapan kalian sebagai orang tua kalian di sekolah,
yang pernah memimpin SMA Negeri 4 Manna selama tiga tahun beberapa tahun lalu. 

Anak-anakku!
Saya ingin kalian jadi sukses. 
Tetapi ingat!
Sukses itu tidak jatuh dari langit!
Sukses itu dibangun dengan disiplin, dengan akhlak,
dibangun dengan ketaatan!

Anak-anakku!
Belajarlah! Dengan tekun. 
Dan hati yang bersih!

Tahukah kalian…
Bung Karno pernah berkata,
“Berikan aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia!”

Dan tahukah kalian…
B.J. Habibie, ilmuwan besar kebanggaan bangsa ini,
memiliki kebiasaan  yang dahsyat:
setiap malam membaca Al-Qur’an sebelum belajar.

Karena ia ingin hatinya terang
sebelum pikirannya bekerja!
Dan lihatlah hasilnya!
Allah angkat ilmunya!
Allah angkat derajatnya!

Anak-anakku!
Hormatilah guru-gurumu!
Guru bukan musuh!
Guru adalah orang yang ingin engkau lebih berhasil. 

Jangan biasakan melawan!
Jangan sedikit-sedikit melaporkan ke ranah hukum!
Teguran guru adalah cinta!
Teguran guru adalah doa yang belum sempat diucapkan!

Dan di rumah…
Taatilah orang tuamu!
Ingat!
Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua!

Anak-anakku!
Taatlah kepada Allah!
Jagalah shalat tepat waktu!
Jangan tunggu tua untuk taat!
Jangan tunggu susah untuk berdoa!
Shalat itu bukan beban!
Shalat itu penolong!

Anak-anakku!
Sekarang dengarkan baik-baik pesan saya ini…
Ketahuilah!
Perguruan tinggi di negeri kita, sebagian besar masih mencetak pencari kerja,
bukan pencipta lapangan kerja!
Akibatnya apa?
Setelah wisuda…
mereka antre! Dan menunggu!
berharap dipekerjakan negara! Sebagai: ASN! TNI! POLRI!

Bukan salah!
Bukan hina!
Itu profesi mulia!
Tetapi kalau semua ingin dilayani negara,
siapa yang membangun bangsa ini?!

Lihatlah kenyataan!
Dokter menjadi buruh kesehatan, bekerja dari rumah sakit ke rumah sakit!
Insinyur menjadi buruh mesin dan pabrik, pintar, tapi tidak diarahkan mencipta teknologi sendiri! Lihatlah teknologi pertanian di negeri sakura. 

Sarjana ekonomi menjadi buruh bank,
akuntan menjadi buruh pencatat angka dan pelaporan, BUKAN PEMIKIR EKONOMI BANGSA!

Anak-anakku!
Ini bukan untuk merendahkan profesi!
Ini untuk membangunkan kesadaran!
Jangan batasi mimpimu hanya sebagai pencari kerja!
Mulailah bertanya:
“Apa yang bisa aku ciptakan?”
“Masalah apa yang bisa aku selesaikan?”
“Lapangan kerja apa yang bisa aku buka?”

Sekolah dan kuliah bukan pabrik ijazah! Tetapi pabrik pemikiran!

Ilmu harus membuatmu mandiri!
Ilmu harus membuatmu berani!
Ilmu harus membuatmu bermanfaat!

Dan ingat!
Jangan sombong!
Jangan angkuh!
Jangan merasa paling hebat!
Kepintaran bisa hilang!
Jabatan bisa lepas!
Harta bisa habis!

Tetapi berakhlak baik
akan menyelamatkanmu
di mana pun engkau berdiri!

Anak-anakku!
Jadilah generasi SMA Negeri 4 Manna
yang berani bermimpi besar,
yang selalu taat kepada Allah,
hormat kepada guru dan orang tua, dan hidup untuk memberi manfaat!

Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar!
Bangsa ini kekurangan
orang yang mencipta lapangan kerja. 

Dan jika itu ada pada diri kalian— maka yakinlah!
Dari sekolah ini…
akan lahir pengguncang zaman!
akan lahir pemimpin masa depan!
akan lahir manusia-manusia yang dibanggakan bumi
dan dimuliakan langit! Aamiin. 
Merdeka!
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 

Malam Terakhir yang Tak Pernah Dijadwalkan Cerpen: Ismilianto

Malam Terakhir yang Tak Pernah Dijadwalkan
Cerpen: Ismilianto

Malam itu hujan turun pelan, seperti sengaja tidak ingin mengganggu siapa pun. 

Aku duduk di teras, memandangi lampu jalan yang berkedip lelah. Tanganku menggenggam secangkir kopi yang sudah dingin, tapi pikiranku jauh lebih dingin dari itu.

Entah kenapa, dadaku terasa sesak tanpa sebab yang jelas.
Aku baru saja selesai menghitung rencana hidup.
Hutang yang belum lunas.
Rumah yang ingin direnovasi.
Janji pada anak cucu yang belum sempat kutepati.

Aku tersenyum kecil.
Lucu sekali manusia.
Selalu merasa masih punya waktu.

Di kejauhan terdengar azan Isya. Aku berdiri perlahan, melangkah ke dalam rumah. Di sajadah yang mulai kusam, aku berdiri menghadap-Nya. 

Tak ada doa panjang malam itu. Hanya satu kalimat yang keluar dari bibirku, lirih dan gemetar,
“Ya Allah… jika malam ini Engkau memanggilku, ampunilah aku.”

Air mataku jatuh tanpa komando. Aku teringat seorang tetangga lama. Lelaki sederhana, bajunya biasa, hidupnya juga biasa.

Tapi setiap selesai salat, ia duduk lama. Kadang menangis. Pernah aku bertanya kenapa.
Ia menjawab pelan,
“Aku tidak takut mati. Aku takut mati sebelum sempat benar-benar pulang.”

Kalimat itu dulu terasa berlebihan.
Malam ini… terasa menampar.

Aku sadar, selama ini aku rajin meminta: rezeki, kesehatan, umur panjang.
Tapi jarang sekali meminta hati yang siap bertemu Allah.

Padahal, Allah tidak pernah berjanji memanggil kita saat hidup sudah rapi.

Malam makin larut. Hujan berhenti. Angin menyisakan dingin. Aku kembali ke teras, memandang langit yang gelap tanpa bintang.

Jika malam ini adalah yang terakhir, aku ingin pulang bukan sebagai hamba yang merasa banyak amal,
tapi sebagai hamba yang mengaku banyak salah.

Di sudut hati, ada ketenangan aneh.
Seperti seseorang yang akhirnya berani mengetuk pintu rumahnya sendiri.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama,
aku tidak meminta apa-apa.
Aku hanya berharap, Allah masih mau menerimaku
sebagai hamba yang terlambat sadar, tapi tidak berhenti berharap.
Tamat.

Sore Ini, Kita Mengejar atau Sedang Dikejar?

Sore Ini, Kita Mengejar atau
Sedang Dikejar? 

Sore selalu datang diam-diam.
Matahari turun pelan,
tapi umur kita… ikut turun tanpa permisi.

Seharian kita sibuk mengejar ini dan itu. Mengejar uang, nama, jabatan, dan pengakuan manusia.

Sampai lupa bertanya pada diri sendiri:
“Aku sedang mengejar dunia atau sedang dikejar ajal?”

Allah mengingatkan: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu…”
(QS. Ali ‘Imran: 133)

Bukan nanti. Bukan setelah mapan. Dan bukan setelah semua rencana tercapai.

Karena Rasulullah SAW bersabda: “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara…” (sehat sebelum sakit, hidup sebelum mati) (HR. Al-Hakim)

Ada kisah nyata.
Seorang pria berkata,
“Besok aku mulai BERTAUBAT.”
Malamnya ia tidur… dan ternyata ia tak bangun lagi, 
besoknya namanya disebutkan di liang lahat.

Sore ini, kalau hati tiba-tiba terasa kosong, itu bukan lelah biasa.
Itu ALARM dari Allah.

Masih ada waktu.
Masih ada napas.
Masih ada sajadah.

Jangan tunggu malam terakhir, baru merindukan TAUBAT. 

Sore adalah pengingat lembut:
hari hampir selesai,
tapi urusan akhirat jangan sampai belum dimulai.

Minggu, 08 Februari 2026

UNTUK BACAAN TARAWIHAl-Baqarah (153–156)

UNTUK BACAAN TARAWIH

Al-Baqarah (153–156)

(153) Yā ayyuhalladzīna āmanusta‘īnū bish-shabri wash-shalāh, innallāha ma‘ash-shābirīn.
(154) Wa lā taqūlū limay yuqtalu fī sabīlillāhi amwāt, bal aḥyā’un walākin lā tasy‘urūn.
(155) Wa lanabluwannakum bisyai’im minal-khaufi wal-jū‘i wa naqṣim minal-amwāli wal-anfusi wats-tsamarāt, wa basysyirish-shābirīn.
(156) Alladzīna idzā aṣābat-hum muṣībah qālū innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.

Terjemah:
(153) Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah bersama orang-orang yang sabar.
(154) Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah bahwa mereka mati; bahkan mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.
(155) Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.
(156) Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata, “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.”


Ali ‘Imran (133–134)

(133) Wa sāri‘ū ilā maghfiratim mir rabbikum wa jannatin ‘arḍuhas-samāwātu wal-arḍu u‘iddat lil-muttaqīn.
(134) Alladzīna yunfiqūna fis-sarrā’i waḍ-ḍarrā’i wal-kāẓimīnal-ghaiẓa wal-‘āfīna ‘anin-nās, wallāhu yuḥibbul-muḥsinīn.
Terjemah:
(133) Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang bertakwa.
(134) Yaitu orang-orang yang berinfak baik di waktu lapang maupun sempit, yang menahan amarah dan memaafkan manusia; dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.


An-Nisa (36–37)

(36) Wa‘budullāha wa lā tusyrikū bihi syai’ā, wa bil-wālidayni iḥsānā…
(37) Alladzīna yabkhalūna wa ya’murūnan-nāsa bil-bukhl wa yaktumūna mā ātāhumullāhu min faḍlih.

Terjemah:
(36) Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua…
(37) Yaitu orang-orang yang kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir serta menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan kepada mereka.


Al-An‘am (160–161)

(160) Man jā’a bil-ḥasanati falahū ‘asyru amtsālihā, wa man jā’a bis-sayyi’ati falā yujzā illā mitslahā wa hum lā yuẓlamūn.
(161) Qul innanī hadānī rabbī ilā ṣirāṭim mustaqīm dīnan qiyaman millata Ibrāhīma ḥanīfā.

Terjemah:
(160) Barang siapa membawa satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipat balasannya.
(161) Katakanlah, sesungguhnya Tuhanku telah memberi petunjuk kepadaku ke jalan yang lurus, agama yang benar.


Al-A‘raf (199–200)

(199) Khudzil-‘afwa wa’mur bil-‘urfi wa a‘riḍ ‘anil-jāhilīn.
(200) Wa immā yanzaghannaka minasy-syaithāni nazghun fasta‘idz billāh.

Terjemah:
(199) Jadilah pemaaf, perintahkan yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh.
(200) Dan jika engkau digoda oleh setan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah.


Yunus (57–58)

(57) Yā ayyuhan-nāsu qad jā’atkum mau‘iẓatum mir rabbikum wa syifā’un limā fiṣ-ṣudūr.
(58) Qul bifaḍlillāhi wa biraḥmatihī fabidzālika falyafraḥū.

Terjemah:
(57) Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi apa yang ada di dalam dada.
(58) Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.


Az-Zumar (53–54)

(53) Qul yā ‘ibādiyalladzīna asrafū ‘alā anfusihim lā taqnaṭū mir raḥmatillāh.
(54) Wa anībū ilā rabbikum wa aslimū lahū.

Terjemah:
(53) Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.
(54) Kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya.

Al-Hadid (20–21)

(20) I‘lamū annamal-ḥayātud-dunyā la‘ibun wa lahwun wa zīnah…
(21) Sābiqū ilā maghfiratim mir rabbikum wa jannatin ‘arḍuhā ka‘arḍis-samā’i wal-arḍ.

Terjemah:
(20) Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau.
(21) Berlomba-lombalah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seperti langit dan bumi.

RUKUN IMAN

RUKUN IMAN

Pertama, iman kepada Allah
Iman kepada Allah adalah fondasi dari seluruh keyakinan. Bukan sekadar mengakui bahwa Allah ada, tetapi meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan membuktikan dengan amal bahwa Allah Maha Esa, Maha Mengatur, Maha Mengetahui segala yang tersembunyi.
Allah berfirman dalam Surah Al-Ikhlas ayat 1–4,
“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah…”
(HR. Muslim)
Kisah inspiratif datang dari seorang tukang becak di Yogyakarta. Setiap hari ia mengawali kerjanya dengan doa sederhana, “Ya Allah, aku berangkat karena-Mu.” Penghasilannya tak menentu, tapi ia selalu bersyukur. Saat ditanya mengapa tetap tenang meski hidup sulit, ia berkata, “Kalau Allah yang mengatur, saya tidak takut kekurangan.” Iman kepada Allah membuat hatinya kaya, meski tangannya sederhana.
Kedua, iman kepada malaikat
Iman kepada malaikat mengajarkan bahwa hidup ini tidak pernah kosong dari pengawasan dan pelayanan Allah. Ada malaikat yang mencatat amal, ada yang menjaga, ada yang membawa wahyu, ada yang mendoakan orang beriman.
Allah berfirman dalam Surah At-Tahrim ayat 6,
“Dijaga oleh malaikat-malaikat yang keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka.”
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Malaikat mendoakan salah seorang di antara kalian selama ia masih berada di tempat salatnya…”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kisah nyata: seorang ibu di desa terpencil rutin bangun malam untuk salat tahajud meski tak dikenal siapa pun. Ia berkata, “Tak apa tak ada manusia yang melihat, malaikat mencatat, Allah menyaksikan.” Bertahun-tahun kemudian, anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi baik dan sukses. Ia percaya doa-doa yang diaminkan malaikat tidak pernah sia-sia.
Ketiga, iman kepada kitab-kitab Allah
Iman kepada kitab berarti yakin bahwa Allah menurunkan petunjuk hidup agar manusia tidak tersesat. Al-Qur’an adalah penyempurna dan penjaga seluruh wahyu sebelumnya.
Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 2,
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
(HR. Bukhari)
Kisah inspiratif: seorang mantan preman di Jakarta mengaku hidupnya berubah saat mulai membaca Al-Qur’an meski terbata-bata. Ia berkata, “Saya tidak paham tafsirnya, tapi ayat-ayat itu seperti menegur dan memeluk sekaligus.” Al-Qur’an bukan hanya dibaca, tetapi membentuk ulang arah hidupnya.
Keempat, iman kepada rasul-rasul Allah
Iman kepada rasul berarti meyakini bahwa mereka adalah utusan pilihan yang membawa contoh hidup nyata bagaimana menjalankan perintah Allah dalam segala kondisi.
Allah berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 21,
“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.”
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad)
Kisah nyata: seorang pejabat daerah memilih hidup sederhana dan menolak suap, meski tahu risikonya. Saat ditanya alasannya, ia menjawab, “Saya ingin meniru Rasulullah, bukan hanya dalam ibadah, tapi dalam kejujuran.” Keteladanan Nabi tetap hidup di zaman modern bagi mereka yang beriman sungguh-sungguh.
Kelima, iman kepada hari akhir
Iman kepada hari akhir membuat seseorang hidup dengan kesadaran bahwa dunia bukan tujuan akhir. Ada hari perhitungan, keadilan sempurna, dan balasan yang hakiki.
Allah berfirman dalam Surah Az-Zalzalah ayat 7–8,
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya.”
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Orang yang cerdas adalah yang menundukkan nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.”
(HR. Tirmidzi)
Kisah inspiratif: seorang pengusaha besar rutin membagikan sembako secara diam-diam. Ia berkata, “Saya tidak takut miskin, saya takut datang ke akhirat dengan tangan kosong.” Iman kepada hari akhir menjadikan dunia hanya ladang, bukan tempat menetap.
Keenam, iman kepada qada dan qadar
Iman kepada takdir mengajarkan keseimbangan antara usaha dan tawakal. Apa yang luput tidak akan pernah mengenai, dan apa yang mengenai tidak akan pernah luput.
Allah berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 22,
“Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu melainkan telah tertulis dalam Kitab sebelum Kami mewujudkannya.”
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Berimanlah kepada takdir, baik maupun buruk.”
(HR. Muslim)
Kisah nyata: seorang ayah kehilangan pekerjaannya di usia senja. Ia tidak mengeluh, hanya berkata, “Mungkin Allah ingin saya lebih banyak di masjid.” Beberapa waktu kemudian, ia justru menjadi imam tetap dan pengajar mengaji. Takdir yang pahit di awal, ternyata pintu kebaikan yang tersembunyi.
Penutup renungan
Rukun iman bukan sekadar hafalan sejak kecil. Ia adalah cahaya yang menuntun cara berpikir, bersikap, dan bertahan dalam hidup. Siapa yang imannya hidup, hidupnya akan bermakna, meski jalannya tidak selalu mudah.

NYERI SENDI? (Obatnya garam yang dipanggang)

NYERI SENDI?  (Obatnya garam yang dipanggang) 

Bukan sihir. Bukan jimat.
Hanya ikhtiar sederhana, dibalut doa dan kesabaran.

Cara memanggang dan menggunakannya

Pertama, siapkan garam dapur kasar secukupnya.
Kedua, panaskan wajan tanpa minyak, masukkan garam, sangrai sambil diaduk sampai benar-benar panas dan kering.
Ketiga, tuang garam panas ke kain katun tebal atau kaus kaki bersih, ikat rapat.
Keempat, tempelkan pada sendi yang nyeri (lutut, pergelangan, bahu dll). Pastikan suhunya hangat nyaman, bukan panas menyengat.
Kelima, diamkan sekitar 10–20 menit sampai hangatnya berkurang.
Bisa ditambahkan irisan jahe atau serai saat memanggang untuk sensasi hangat yang lebih dalam, bila kulit tidak sensitif.

MANFAAT yang dirasakan
Pertama, nyeri berkurang karena efek hangat dan relaksasi.
Kedua, sendi terasa lebih lentur, tidak kaku.
Ketiga, tubuh menjadi lebih rileks sehingga tidur lebih nyenyak.
Keempat, memberi rasa “dirawat” yang menenangkan batin— ini penting dalam proses kesembuhan.
Berapa kali digunakan?
Umumnya cukup satu sampai dua kali sehari, terutama pagi sebelum beraktivitas dan malam sebelum tidur. Lakukan secara rutin beberapa hari. Hentikan bila muncul iritasi kulit atau rasa tidak nyaman.
Pelan-pelan, rasa sakit belajar diam.

Allah berfirman:
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Isra’: 82)

Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap penyakit ada obatnya.”
(HR. Muslim)
Artinya, berobat itu sunnah, hasilnya kita serahkan sepenuhnya kepada Allah.

Seorang petani tua pernah berkata: “Bukan garamnya yang menyembuhkan. Tapi hangatnya membuatku sabar, dan doanya membuatku kuat.”

Sambil mengompres, ucapkan pelan:
Allahumma Rabbannās, adzhibil ba’sa, isyfi anta asy-syā fī, lā syifā ’a illā syifā ’uka.”
(Ya Allah, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakitku, dan sembuhkanlah. Engkaulah Maha Penyembuh, tiada kesembuhan kecuali dari-Mu.)

Kadang Allah tidak langsung mengangkat sakitnya,
tapi Dia menguatkan hati agar kita mampu menjalaninya.

Ikhtiar boleh sederhana,
tawakal jangan setengah-setengah. 

Semoga Allah angkat sakit kita, atau digugurkan dosa-dosa kita karenanya. Shalallahu'ala muhammad shalallahu'alaihi wassalam. 
Aamiin ya rabbal 'aalamiin. 

Sabtu, 07 Februari 2026

Bermimpilah Setinggi Langit, Lalu Menangislah di Hadapan Allah

Bermimpilah Setinggi Langit, Lalu Menangislah di Hadapan Allah

Bermimpilah…
meski mimpimu terasa keterlaluan  dan membuat orang lain tersenyum sinis.
Karena mimpi tidak butuh persetujuan manusia.
Ia hanya butuh keyakinan di dada.

Lalu bawalah mimpi itu ke tempat paling sunyi:
ke atas sajadah, di antara dua sujud, saat hanya ada engkau dan Allah.

Allah berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan.” (QS. Ghafir: 60)

Allah tidak bertanya,
“Masuk akal atau tidak?”
Allah hanya melihat,
“Seberapa yakin hamba-Ku kepada-Ku?”

Ada doa yang terlalu besar untuk diucapkan keras-keras.
Tapi Allah mendengar bahkan ada doa yang hanya bergetar di hati tak luput dari Allaah. 

Rasulullah SAW bersabda:
“Berdoalah kepada Allah dengan penuh keyakinan.”
(HR. Tirmidzi)

Jangan kecilkan doa hanya karena keadaan terlihat sempit. Jangan potong harapan hanya karena logika manusia berkata,
“Mustahil.”

Bagi Allah, yang mustahil hanyalah satu:
jika hamba berhenti berharap.

Lihatlah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
Usianya telah renta,
harapannya nyaris tinggal cerita.
Namun ia tetap berdoa.
Dan Allah membalasnya dengan kehidupan baru.
“Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan seorang anak.”
(QS. Ash-Shaffat: 101)

Doa tidak pernah mengenal kata terlambat.
Ia hanya menunggu waktu yang tepat.

Ada orang berdoa sambil menahan malu.
Takut doanya terlalu tinggi.
Padahal ALLAH MENYUKAI DOA YANG BESAR, KARENA DOA BESAR MENANDAKAN KEYAKINAN BESAR.

Rasulullah SAW bersabda:
“Mintalah surga Firdaus.”
(HR. Bukhari)

Jika surga tertinggi saja boleh diminta, mengapa rezeki, jalan hidup, dan kebahagiaan
justru kita kecilkan?

Mimpi besar bukan untuk dipamerkan. Ia untuk diperjuangkan dalam diam.
Dengan sabar.
Dengan sujud yang lama.
Dengan air mata yang jujur.

Karena sering kali,
Allah mengabulkan doa bukan untuk mengubah keadaan seketika, tetapi untuk menguatkan hati agar kita sanggup menunggu.

Dan kelak, saat doa itu benar-benar menjadi nyata,
kita akan tersenyum sambil berkata pelan:
“Dulu aku hanya berani bermimpi.

Hari ini aku bersyukur…
karena Allah mengabulkannya dengan cara-Nya yang paling indah.”

Semoga tulisan ini menjadi penguat bagi siapa pun yang sedang bermimpi dan belum melihat jawabannya.