Laqadja akum rasulum


web stats

Jumat, 19 Juni 2026

Jangan Sampai Allah Kembali Mencabut Rahmat-Nya dari Kita

Jangan Sampai Allah Kembali Mencabut Rahmat-Nya dari Kita

Ada kalanya seseorang merasa hidupnya tenang. Rezekinya cukup, tubuhnya sehat, keluarganya rukun, dan urusannya dipermudah.

Namun sering kali manusia lupa bahwa semua itu bukan semata-mata hasil kerja kerasnya, melainkan karena rahmat Allah yang masih menaunginya.

Allah berfirman:
"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya." (QS. Ibrahim: 34)

Rahmat Allah adalah sebab utama seseorang dapat hidup dalam kebaikan. Ketika rahmat itu hadir, kesulitan terasa ringan, dosa mudah ditinggalkan, hati mudah tersentuh oleh nasihat, dan jalan keluar selalu datang pada waktu yang tepat.
Tetapi yang patut ditakuti bukanlah berkurangnya harta, melainkan dicabutnya rahmat Allah.

Ketika rahmat mulai menjauh, seseorang bisa memiliki kekayaan tetapi hatinya gelisah. Bisa memiliki jabatan tetapi hidupnya tidak tenang. Bisa memiliki keluarga tetapi kehilangan kebahagiaan. Bahkan ada yang masih mampu tertawa di hadapan manusia, tetapi menangis sendirian karena hatinya terasa kosong.

Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya Allah itu Maha Penyayang dan menyukai kasih sayang." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Rahmat Allah bisa menjauh karena dosa yang terus-menerus dilakukan tanpa taubat. Karena shalat yang mulai ditinggalkan. Karena hati yang semakin keras. Karena merasa tidak lagi membutuhkan Allah.

Awalnya hanya menunda shalat. Kemudian mulai jarang ke masjid. Lalu jarang membaca Al-Qur'an.

Kemudian merasa biasa melakukan maksiat. Akhirnya hati menjadi gelap tanpa disadari.
Inilah yang paling berbahaya.


Dikisahkan seorang pengusaha yang dahulu hidup sederhana. Ketika usahanya berkembang, ia tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah. Bahkan setiap Subuh ia berada di saf terdepan masjid.

Tahun demi tahun usahanya semakin besar. Kesibukan bertambah. Pertemuan bisnis semakin banyak.

Mulailah ia berkata, "Sekali ini saja saya tinggalkan jamaah, urusan sedang penting."
Sekali menjadi dua kali. Dua kali menjadi kebiasaan.

Akhirnya masjid yang dahulu selalu diramaikannya mulai terasa asing baginya.
Anehnya, saat hartanya semakin bertambah, ketenangan hidupnya justru berkurang. Anak-anaknya mulai bermasalah. Hubungan keluarganya tidak harmonis. Tidurnya tidak nyenyak.

Suatu malam ia menangis setelah mendengar azan Isya dari kejauhan.
Ia berkata, "Ya Allah, jangan-jangan selama ini Engkau belum mencabut hartaku, tetapi Engkau telah mencabut sebagian rahmat-Mu dariku."

Sejak malam itu ia kembali memperbaiki shalatnya, memperbanyak istighfar, dan mendekat kepada Allah.

Perlahan-lahan ketenangan yang hilang mulai kembali hadir.
Tanda Rahmat Allah Masih Bersama Kita
Masih diberi kemudahan menjaga shalat.
Hati masih tersentuh ketika mendengar ayat Al-Qur'an.
Masih merasa bersalah setelah berbuat dosa.
Masih senang menghadiri majelis ilmu.
Masih diberi kesempatan bertaubat.
Selama tanda-tanda itu masih ada, jangan sia-siakan.

Allah berfirman:
"Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya." (QS. Az-Zumar: 53)

Wahai saudaraku, jangan takut jika harta berkurang, karena Allah bisa menggantinya. Jangan takut jika jabatan hilang, karena Allah bisa memberinya kembali. Tetapi takutlah jika Allah mencabut rahmat-Nya dari hati kita. Sebab ketika rahmat itu pergi, dunia terasa sempit meskipun segala sesuatu tampak dimiliki.

Maka perbanyaklah istighfar, jaga shalat, hormati orang tua, perbanyak sedekah, dan jangan lelah memohon:
"Allahumma la takilni ila nafsi tharafata 'ain, wa aslih li sya'ni kullah, la ilaha illa anta."
"Ya Allah, jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau hanya sekejap mata. Perbaikilah seluruh urusanku. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau."

Sebab orang yang masih berada dalam rahmat Allah adalah orang yang paling beruntung di dunia dan akhirat.

Kamis, 18 Juni 2026

Rahasia Ampunan dan Jalan Keluar dari Kesulitan

Rahasia Ampunan dan Jalan Keluar dari Kesulitan

Dzikir dan doa:
Allahummaghfir li wa tub 'alayya innaka antat-Tawwabur Rahim.
Artinya:
"Ya Allah, ampunilah aku dan terimalah tobatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang."

Khasiat dan Keutamaannya
Pertama, membuka pintu ampunan Allah
Dzikir ini adalah pengakuan bahwa kita memiliki kekurangan dan sangat membutuhkan ampunan Allah.
Allah berfirman:
"Dan barang siapa mengerjakan kejahatan atau menzalimi dirinya sendiri kemudian dia memohon ampun kepada Allah, niscaya dia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nisa: 110)

Kedua, membersihkan hati yang menghitam oleh dosa

Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya seorang mukmin apabila berbuat dosa, maka timbullah satu titik hitam di hatinya." (HR. Tirmidzi)

Istighfar yang terus-menerus akan menghapus noda tersebut sehingga hati kembali hidup.

Ketiga, mendatangkan jalan keluar dari kesulitan

Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa memperbanyak istighfar, Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dari setiap kesedihan, kelapangan dari setiap kesempitan, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." (HR. Abu Dawud)

Keempat, mengundang kasih sayang Allah

Dalam doa ini kita memanggil Allah dengan dua nama-Nya: At-Tawwab (Maha Penerima Tobat) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang). Siapa yang sering mengulangnya berarti ia terus mengetuk pintu rahmat Allah.

Kisah Inspiratif

Ada seorang pedagang kecil yang usahanya hampir bangkrut. Hutang menumpuk, pelanggan berkurang, dan setiap malam ia sulit tidur. Suatu hari ia mendengar ceramah tentang kebiasaan Rasulullah SAW yang sering beristighfar padahal beliau maksum dari dosa.

Sejak itu ia membiasakan membaca:
"Allahummaghfir li wa tub 'alayya innaka antat-Tawwabur Rahim"
seratus kali setiap selesai Subuh dan seratus kali setelah Magrib.

Bukan karena mengharapkan kekayaan mendadak, tetapi karena ingin memperbaiki hubungannya dengan Allah.

Beberapa bulan kemudian, yang Ia menjadi lebih tenang, lebih sabar, lebih rajin shalat berjamaah, dan lebih jujur dalam berdagang. 

Setelah itu perlahan-lahan pelanggan kembali datang. Hutangnya mulai terbayar satu demi satu.

Ketika ditanya apa rahasia keberhasilannya, ia menjawab:
"Bukan istighfar yang mengubah keadaan saya terlebih dahulu. Istighfar mengubah hati saya. Ketika hati berubah, Allah membuka jalan yang sebelumnya tidak saya lihat."

Renungan
Menariknya, Rasulullah SAW yang sudah dijamin surga masih beristighfar puluhan bahkan ratusan kali sehari.

Lalu bagaimana dengan kita yang setiap hari masih melakukan kesalahan dengan lisan, pandangan, hati, dan perbuatan?

Mungkin ada doa yang belum terkabul, rezeki yang terasa sempit, atau urusan yang terasa berat. Bisa jadi kita perlu lebih sering mengetuk pintu langit dengan doa yang sederhana ini:
Allahummaghfir li wa tub 'alayya innaka antat-Tawwabur Rahim.

Bacalah dengan hati yang hadir, terutama setelah salat, saat sahur, atau menjelang tidur. Tidak ada seorang hamba yang datang kepada Allah dengan tobat yang sungguh-sungguh, kecuali Allah akan menyambutnya dengan rahmat yang lebih besar daripada dosa-dosanya.

Hadapi Masalah dengan Iman dan Taqwa

Hadapi Masalah dengan Iman dan Taqwa

Dahulu ada seorang pedagang kecil yang mengalami kebangkrutan. Tokonya habis terbakar. Modal lenyap. Ia pulang ke rumah dengan langkah gontai.

Malam itu istrinya bertanya, "Apa yang tersisa dari usaha kita?"
Dengan mata berkaca-kaca ia menjawab, "Yang tersisa hanya sajadah dan keimanan."

Sejak hari itu ia memperbanyak shalat berjamaah, memperbanyak istighfar, menjaga sedekah walaupun sedikit, dan tidak pernah meninggalkan tahajud.
Orang-orang menganggapnya sudah selesai.
Tetapi ia yakin Allah belum selesai menolongnya.

Berbulan-bulan kemudian, seseorang yang mengetahui kejujurannya menawarkan kerja sama usaha. Sedikit demi sedikit kehidupannya bangkit kembali. Bahkan usahanya menjadi lebih besar daripada sebelumnya.

Ketika ditanya apa rahasia kebangkitannya, ia menjawab:
"Saat hartaku habis, aku baru sadar bahwa yang paling berharga bukan uang, melainkan hubungan dengan Allah."

Sahabatku,
Keterpurukan bukanlah akhir perjalanan.
Nabi Ayyub 'alaihis salam pernah sakit bertahun-tahun, kehilangan harta dan keluarga, tetapi tidak kehilangan iman.
Nabi Yusuf 'alaihis salam pernah dibuang ke sumur dan dipenjara, tetapi akhirnya Allah mengangkat derajatnya.

Maka jangan menyerah hanya karena hari ini keadaan belum berubah.
Tetaplah shalat.
Tetaplah berdoa.
Tetaplah bersabar.
Tetaplah bertakwa.
Sebab sering kali pertolongan Allah datang ketika manusia sudah merasa tidak memiliki apa-apa selain harapan kepada-Nya.

Jangan takut jika hidup sedang terpuruk. Takutlah jika keterpurukan itu membuat kita jauh dari Allah. Karena selama iman masih ada di dada dan takwa masih dijaga, sesungguhnya harapan belum pernah mati.

Rabu, 17 Juni 2026

Ada Nasib Saat Semua Orang Tidur

Ada Nasib Saat Semua Orang Tidur

Pagi ini saya ingin mengajak kita merenung.
Ada orang yang bangun sebelum azan Subuh. Ia berwudu dalam dinginnya air, berjalan ke masjid ketika jalanan masih gelap, lalu berdiri menghadap Allah saat kebanyakan manusia masih terlelap.

Mungkin tidak ada yang melihatnya.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada pujian.
Tetapi bisa jadi, pada saat itulah Allah sedang menulis takdir kebaikan yang besar untuk hidupnya.

Rasulullah SAW bersabda:
"Berikan kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan ke masjid dalam kegelapan malam dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Banyak orang mengejar dunia sejak pagi. Ada yang mengejar jabatan, harta, dan pujian manusia. Itu tidak salah. Namun ada satu pertanyaan yang jarang kita tanyakan:
Sudahkah kita mengejar ridha Allah sebagaimana kita mengejar dunia?

Seorang ulama pernah bercerita tentang seorang lelaki tua yang tidak pernah meninggalkan salat Subuh berjamaah selama puluhan tahun. Ketika beliau meninggal, warga kampung kehilangan satu pemandangan yang selalu mereka lihat setiap fajar.

Anak-anak muda yang biasa melihat langkahnya menuju masjid menangis.
Bukan karena ia orang kaya.
Bukan karena ia pejabat.
Tetapi karena ia meninggalkan jejak keteladanan.

Ternyata, kemuliaan seseorang tidak selalu diukur dari seberapa banyak yang mengenalnya, tetapi seberapa dekat ia dengan Allah ketika manusia lain lalai.

Allah berfirman:
"Berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan." (QS. Al-Baqarah: 148)

Pagi ini, mari bertanya kepada diri sendiri:
Jika hari ini adalah hari terakhir hidup kita, bekal apa yang sudah kita siapkan untuk pulang?

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang menjaga salat, memakmurkan masjid, memperbanyak dzikir, dan menutup usia dalam keadaan husnul khatimah.

Allahumma a'inna 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik.

Selamat pagi. Jangan hanya memulai hari dengan pekerjaan, tetapi mulailah dengan mendekat kepada Allah. Sebab rezeki terbesar bukanlah harta, melainkan hati yang selalu terhubung dengan-Nya. 

Selasa, 16 Juni 2026

Dua Cahaya di Ujung Hari Cerpen: oleh Ismilianto

Dua Cahaya di Ujung Hari
Cerpen: oleh Ismilianto

Di sebuah kampung kecil, hiduplah seorang lelaki tua bernama Hamzah.
Ia bukan orang kaya.
Rumahnya sederhana.
Pakaiannya biasa.
Namanya tidak pernah masuk koran.

Namun ada satu kebiasaan yang membuat para malaikat mengenalnya.
Setelah azan Subuh berkumandang, Hamzah selalu berjalan menuju masjid.
Usai shalat Subuh berjamaah, ia tidak segera pulang.

Ketika jamaah lain satu per satu meninggalkan masjid, Hamzah tetap duduk di saf depan.
Tasbih berputar perlahan di jemarinya.
Kadang ia membaca Al-Qur'an.
Kadang ia menundukkan kepala sambil beristighfar.
Kadang hanya memandang langit yang perlahan berubah warna.

Ia menunggu matahari terbit.
Lalu ketika matahari mulai naik setinggi tombak, ia berdiri dan melaksanakan dua rakaat shalat Syuruk.

Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa melaksanakan shalat Subuh berjamaah, lalu ia duduk berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia shalat dua rakaat, maka baginya pahala seperti pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna." (HR. At-Tirmidzi)

Hadis itu selalu membuat Hamzah terharu.
Ia sering berkata kepada dirinya sendiri,
"Kalau aku tak mampu berangkat haji setiap tahun, semoga Allah mencatatku sebagai tamu-Nya melalui amalan yang diajarkan Rasulullah SAW."

Waktu berlalu.
Rambut Hamzah semakin memutih.
Langkahnya tidak lagi sekuat dulu.
Tetapi ada satu kebiasaan lain yang tidak pernah ia tinggalkan.
Setelah shalat Magrib berjamaah, ia tidak langsung pulang.
Ia tetap berada di masjid.
Melaksanakan enam rakaat shalat Awwabin.
Lalu kembali berdzikir hingga Isya.

Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa shalat enam rakaat setelah Magrib tanpa diselingi perkataan buruk, maka baginya pahala seperti ibadah dua belas tahun."
(HR. At-Tirmidzi)

Dalam riwayat lain disebutkan:
"Shalatnya orang-orang yang kembali kepada Allah adalah ketika anak-anak unta mulai merasakan panas matahari."
(HR. Muslim)

Para ulama menyebut orang yang gemar memperbanyak shalat sunnah sebagai golongan Awwabin, yaitu orang-orang yang selalu kembali kepada Allah.

Hamzah sangat mencintai nama itu.
Ia ingin ketika dipanggil di langit, para malaikat berkata:
"Itu Hamzah, seorang yang selalu kembali kepada Allah."

Suatu malam hujan turun deras.
Angin bertiup kencang.
Jalanan berlumpur.
Sebagian orang memilih shalat di rumah.
Tetapi Hamzah tetap datang ke masjid.
Dengan payung tua dan langkah perlahan.
Seorang pemuda bertanya,
"Pak Hamzah, mengapa Bapak bersusah payah ke masjid setiap hari? Bukankah Allah Maha Mengetahui keadaan Bapak?"

Hamzah tersenyum.
Matanya berkaca-kaca.
Lalu ia berkata,
"Anakku, aku takut suatu hari Allah memanggilku, sementara aku terlalu sibuk dengan dunia dan lupa mencari bekal."
Pemuda itu terdiam.

Beberapa tahun kemudian, Hamzah jatuh sakit.
Tubuhnya melemah.
Ia tidak lagi mampu berjalan jauh.

Namun setiap Subuh ia selalu bertanya kepada anaknya,
"Sudah terbit matahari?"
Ketika diberitahu bahwa matahari telah terbit, ia shalat dua rakaat di atas kursinya.
Dan setiap selesai Magrib, ia meminta dibantu berwudhu untuk melaksanakan shalat Awwabin.

Sampai akhirnya datang hari yang tidak pernah gagal menemui siapa pun.
Hari pertemuan dengan Allah.
Pada sore hari setelah Magrib, Hamzah melaksanakan enam rakaat Awwabin seperti biasa.
Ia berdzikir cukup lama.
Malam itu ia tidur lebih awal.
Menjelang Subuh, anak-anaknya mencoba membangunkannya.

Namun Hamzah tidak menjawab.
Wajahnya tenang.
Bibirnya masih menyisakan senyum.
Ia telah pergi.

Pergi menghadap Allah yang selama puluhan tahun ia datangi dengan langkah-langkah kecil menuju masjid.

Saat jenazahnya dishalatkan, masjid penuh sesak.
Banyak orang menangis.
Bukan karena Hamzah seorang pejabat.
Bukan karena Hamzah seorang hartawan.
Tetapi karena mereka tahu siapa Hamzah di hadapan Allah.
Ia adalah lelaki yang menjaga dua cahaya.
Cahaya setelah Subuh.
Dan cahaya antara Magrib dan Isya.

Seorang imam yang mengenalnya berkata dalam sambutan takziah:
"Pak Hamzah mungkin tidak meninggalkan gedung megah. Tidak meninggalkan rekening besar. Tetapi beliau meninggalkan jejak menuju masjid yang tidak pernah putus selama puluhan tahun."

Masjid menjadi sunyi.
Banyak mata yang basah.
Sebab semua menyadari satu kenyataan:
Ketika ajal datang, yang menemani kita bukan rumah, bukan kendaraan, bukan jabatan.

Yang menemani kita hanyalah sujud-sujud yang pernah kita lakukan dengan ikhlas.
Dan mungkin, di antara sujud yang paling dirindukan seorang mukmin kelak adalah dua rakaat Syuruk setelah terbit matahari, dan enam rakaat Awwabin di antara Magrib dan Isya.

Sujud-sujud sunyi yang mungkin tidak diketahui manusia, tetapi tercatat indah di sisi Allah.
"Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih." (QS. Asy-Syu'ara: 88-89)

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang menjaga shalat, mencintai masjid, menghidupkan waktu antara Subuh dan terbit matahari, serta menghidupkan waktu antara Magrib dan Isya dengan ibadah, hingga kelak dipanggil pulang dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin.

Air Mata di Ujung Senja Cerpen: oleh Ismilianto

 Air Mata di Ujung Senja
Cerpen: oleh Ismilianto

Sore itu langit berwarna jingga. Orang-orang sibuk membicarakan datangnya Tahun Baru 1 Muharam. Sebagian memasang spanduk, sebagian lagi membuat acara di masjid.

Di sebuah rumah sederhana, seorang kakek duduk sendiri di beranda. Rambutnya memutih. Tangannya bergetar memegang kalender tua yang tergantung di dinding.

Perlahan ia mencoret angka tahun yang akan berlalu.
Matanya menatap lama.
Lalu air matanya jatuh.
Bukan karena sedih menyambut tahun baru.
Tetapi karena ia sadar, umurnya berkurang satu tahun lagi.

Ia teringat masa mudanya.
Dulu tubuhnya kuat. Berlari ke sawah tanpa lelah. Mendaki bukit tanpa sesak. Makan apa saja tanpa takut penyakit.
Ketika azan berkumandang, sering ia berkata, "Nanti saja."

Ketika diajak ke masjid, ia menjawab, "Masih muda."
Ketika dinasihati tentang kematian, ia tersenyum, "Masih lama."
Tahun demi tahun berlalu.
"Nanti saja" berubah menjadi puluhan tahun.

Sampai suatu hari sahabat-sahabatnya mulai dipanggil satu per satu.
Ada yang meninggal karena sakit.
Ada yang wafat saat tidur.
Ada yang berangkat ke kebun lalu tak pernah pulang lagi.
Kuburan yang dulu jarang dikunjungi kini semakin penuh oleh orang-orang yang pernah dikenalnya.
Dan hari itu, menjelang 1 Muharam, ia membuka album foto lama.

Di sana ada foto ayahnya.
Ayah yang dulu menggandeng tangannya ke masjid.
Kini sudah puluhan tahun berada di alam kubur. 

Ada foto ibunya.
Perempuan yang dahulu selalu mendoakannya setiap malam.
Kini tinggal nama di batu nisan.

Ada foto sahabat-sahabat masa kecilnya.
Sebagian besar sudah lebih dahulu menghadap Allah.
Tiba-tiba dadanya terasa sesak.

Ia berbisik pelan,
"Dulu aku mengantar mereka ke kuburan. Sekarang tinggal menunggu siapa yang akan mengantarku."

Tak lama kemudian terdengar azan Magrib.
Suara itu terasa berbeda.
Seolah bukan panggilan untuk salat semata.
Tetapi panggilan agar ia segera pulang kepada Allah.
Dengan langkah tertatih, ia berjalan menuju masjid.

Di tengah jalan ia melihat anak-anak muda tertawa, bercanda, berlari-lari.
Seketika ia seperti melihat dirinya sendiri puluhan tahun yang lalu.
Ia ingin menghentikan mereka dan berkata,
"Wahai anak-anak muda, jangan tertipu oleh kuatnya badanmu. Aku pernah sekuat kalian. Jangan tertipu oleh panjangnya anganmu. Aku pernah merasa kematian masih jauh. Ternyata kematian lebih cepat daripada yang kukira."

Namun kata-kata itu hanya tertahan di dalam hati.
Malam itu setelah salat Isya, ia duduk lama di masjid.
Orang-orang sudah pulang.
Lampu-lampu mulai dipadamkan.
Ia menengadahkan tangan.
Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan.

"Ya Allah... jika tahun-tahun yang lalu banyak kuisi dengan kelalaian, ampunilah aku. Jika umurku tinggal sedikit, jadikan sisa yang sedikit itu lebih baik daripada seluruh umurku yang telah lalu."

Beberapa bulan kemudian, ketika Muharam belum genap setahun berlalu, kakek itu dipanggil Allah.
Warga kampung berbondong-bondong mengantarkan jenazahnya.

Di antara mereka ada seorang pemuda yang pernah melihatnya berjalan tertatih menuju masjid pada malam 1 Muharam itu.
Pemuda tersebut menangis di tepi kuburnya.

Karena ia baru sadar...
Tahun baru bukanlah tanda umur bertambah.
Tetapi tanda jatah hidup semakin berkurang.
Dan setiap 1 Muharam yang datang sebenarnya sedang berbisik kepada kita:
"Engkau tidak sedang memasuki tahun yang baru. Engkau sedang meninggalkan satu tahun hidupmu untuk selama-lamanya."

Aku Hanya Ingin Dipuji" Cerpen: oleh Ismilianto


"Aku Hanya Ingin Dipuji"
Cerpen: oleh Ismilianto

Rian baru saja tamat SMA.
Hari kelulusan itu menjadi hari yang paling membanggakan dalam hidupnya. Ia merasa dirinya sudah menjadi orang besar.
Sejak saat itu, ada satu penyakit yang diam-diam tumbuh di hatinya: ingin dipuji.
Apa saja yang dimilikinya selalu ingin diperlihatkan kepada orang lain.
Saat membeli ponsel baru, ia sengaja meletakkannya di atas meja warung agar semua orang melihat.
Ketika memakai baju baru, ia berulang kali berjalan melewati kerumunan teman-temannya.

Ketika ayahnya membelikannya sepeda motor dengan uang hasil menjual sebidang kebun kecil, ia berkeliling kampung berkali-kali.

Dalam hati ia berkata,
"Sekarang mereka pasti tahu aku sudah sukses."
Padahal ia baru saja tamat SMA.

Ayah dan ibunya hanya tersenyum melihat tingkah anak tunggal mereka itu.
Mereka tidak pernah marah.
Mereka hanya berharap suatu hari nanti anaknya mengerti arti kehidupan.
Waktu berlalu.

Rian mendapat pekerjaan di kota.
Gajinya tidak besar, tetapi cukup untuk membeli barang-barang yang menurutnya bisa menaikkan gengsi.

Media sosialnya penuh dengan foto dirinya.
Foto di restoran.
Foto di depan mobil milik temannya.
Foto saat memegang setumpuk uang.
Semua ingin dipamerkan.
Semua ingin mendapat pujian.
Suatu malam telepon dari kampung berdering.
Ayahnya sakit keras.
Rian pulang tergesa-gesa.
Sesampainya di rumah, ia terkejut.

Rumah itu tampak semakin tua.
Dindingnya mulai lapuk.
Atapnya bocor di beberapa tempat.
Di sudut rumah, ia melihat ibunya sedang menanak nasi dengan kayu bakar.
Matanya tiba-tiba tertuju pada lemari tua.

Di dalamnya tersimpan rapi semua piagam dan foto-foto kelulusannya sejak SD.
Ibunya berkata pelan,
"Semua ini Ibu simpan baik-baik. Ibu bangga padamu."
Rian terdiam.

Malam itu kondisi ayahnya semakin memburuk.
Menjelang Subuh, ayahnya memanggilnya mendekat.
Dengan suara lemah ayah berkata,
"Rian... jangan habiskan hidupmu untuk mencari pujian manusia."

Air mata mulai mengalir dari sudut mata ayahnya.
"Lihatlah tangan Ayah."
Rian memegang tangan kasar itu.
Tangan yang penuh bekas cangkul.
Penuh luka lama.
Penuh kapalan.
"Itulah harga yang Ayah bayar agar kau bisa sekolah."

Rian menangis.
Ayah melanjutkan,
"Ayah tidak pernah bangga karena punya anak yang bergaya. Ayah bangga kalau punya anak yang rendah hati."
Kalimat itu menjadi kalimat terakhir yang didengarnya.
Beberapa saat kemudian, sang ayah menghembuskan napas terakhir.

Dunia Rian seakan runtuh.
Di pemakaman, hujan turun perlahan.
Orang-orang mulai pulang.
Ia duduk sendiri di dekat pusara ayahnya.

Tiba-tiba ia teringat semua yang pernah dipamerkannya.
Ponsel yang kini sudah usang.
Sepatu mahal yang sudah rusak.
Pakaian bermerek yang sudah tidak dipakai.
Semuanya tidak ada artinya.
Yang berharga justru tangan kasar ayahnya yang kini telah terkubur di dalam tanah.

Sambil menangis ia berbisik,
"Ayah... aku terlalu sibuk mencari tepuk tangan manusia, sampai lupa menghargai orang yang paling berjasa dalam hidupku."
Namun penyesalan selalu datang terlambat.

Sejak hari itu, Rian berubah.
Ia lebih banyak membantu ibunya.
Lebih banyak bersedekah.
Lebih banyak berbuat baik tanpa perlu diketahui orang lain.

Karena akhirnya ia memahami satu pelajaran yang sangat mahal:
Pujian manusia hanya bertahan sesaat. Tetapi doa orang tua yang ridha mampu menerangi hidup hingga dunia dan akhirat.

"Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: 'Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku waktu kecil.'" (QS. Al-Isra': 24)

Betapa banyak anak yang menangis di atas kuburan orang tuanya, bukan karena tidak mencintai mereka, tetapip karena terlambat menunjukkan cinta itu saat mereka masih hidup.