Laqadja akum rasulum


web stats

Minggu, 24 Mei 2026

PETANG ITU PENUTUP HARI… ATAU PENUTUP USIA?

PETANG ITU PENUTUP HARI… ATAU PENUTUP USIA?

Petang datang perlahan…
Langit mulai redup, suara burung kembali ke sarang, dan manusia pulang membawa hasil usahanya.
Namun ada satu pertanyaan yang jarang kita tanyakan pada diri sendiri:
“Apakah hari ini Allah ridho kepada kita?”

Betapa banyak orang yang pagi tadi masih tertawa,
siang masih bercanda,
tetapi petang ini namanya sudah dipanggil menuju alam kubur.

Allah berfirman:
"Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran." (QS. Al-‘Ashr: 1–3)

Petang adalah waktu terbaik untuk merenung.
Sudahkah lisan kita hari ini dijaga?
Sudahkah shalat kita khusyuk?
Sudahkah hati kita bersih dari iri dan dengki?

Ada kisah seorang pedagang tua di kampung.
Setiap petang ia menutup tokonya lebih awal. Saat ditanya mengapa, ia berkata:
“Kalau malam ini ternyata malam terakhirku, aku ingin pulang membawa hati yang tenang, bukan membawa dosa dari manusia.”

Orang itu mungkin tidak terkenal,
tetapi wafatnya membuat banyak orang menangis karena akhlaknya.

Rasulullah SAW bersabda:
"Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya." (HR. Tirmidzi)
Maka jangan biarkan petang berlalu tanpa dzikir, istighfar, dan doa untuk keluarga.
Karena bisa jadi…
petang hari ini adalah kesempatan terakhir kita memperbaiki diri.
Semoga Allah menutup hari kita dengan keberkahan,
menutup usia kita dengan husnul khatimah,
dan mempertemukan kita kembali di surga-Nya. Aamiin.

Sabtu, 23 Mei 2026

QURBANLAH TIAP TAHUN

QURBANLAH TIAP TAHUN

Ada orang yang gajinya besar, tetapi Idul Adha selalu lewat tanpa qurban.

Ada pula seorang tukang becak, penghasilannya pas-pasan, bajunya sederhana, tangannya kasar karena bekerja di jalanan—namun setiap tahun namanya selalu tercatat sebagai orang yang berqurban.

Apa rahasianya?

Bukan karena ia kaya.
Tetapi karena ia mencicil niatnya dengan istiqamah.
Setiap hari ia memasukkan uang Rp5.000… kadang Rp10.000… ke dalam celengan kecil bertuliskan:
“Celengan Qurban.”
Saat orang lain membeli hal yang tidak perlu, ia menahan diri.
Saat orang lain berkata,
“Aku belum mampu,”
ia berkata dalam hati:
“Kalau bukan sekarang mulai menabung, kapan lagi aku bisa menjadi tamu Allah di hari qurban?”

Hari demi hari berlalu.
Uang receh yang tampak kecil itu perlahan berubah menjadi pahala besar.
Sebulan… dua bulan… setahun…
Dan ketika takbir Idul Adha berkumandang, seekor kambing gemuk berdiri di depan rumah sederhananya.
Anak-anaknya tersenyum bangga. Istrinya menitikkan air mata haru.
Bukan karena mereka kaya, tetapi karena Allah memuliakan orang yang bersungguh-sungguh mendekat kepada-Nya.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)

Dalam ayat lain Allah menegaskan:
“Daging dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)

Qurban bukan perlombaan kemewahan.
Allah tidak melihat besar kecilnya sapi atau kambingmu.
Allah melihat perjuanganmu menundukkan cinta dunia demi taat kepada-Nya.

Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain menyembelih hewan qurban.”
(HR. Tirmidzi)

Karena itu, jika tahun ini belum mampu berqurban, jangan putus harapan.

Mulailah dari sekarang.
Buatlah celengan qurban di rumah.

Ajarkan anak-anak memasukkan receh ke dalamnya.

Biarkan rumah kecil itu menjadi saksi tumbuhnya niat ibadah.
Rp5.000 sehari mungkin terasa kecil.
Tetapi di sisi Allah, istiqamah kecil lebih dicintai daripada semangat besar yang cepat hilang.

Siapa tahu, tahun depan:
nama Anda dipanggil panitia qurban…
anak-anak Anda menyaksikan kambing qurban di halaman…
dan langit mencatat Anda sebagai hamba yang rela berkorban demi Allah.

Sebab sering kali, qurban pertama seseorang bukan dimulai dari uang banyak…
tetapi dari sebuah celengan kecil dan hati yang tidak pernah berhenti berharap kepada Allah.

Berikut contoh niat menyembelih sapi qurban

Berikut contoh niat menyembelih sapi qurban untuk 7 orang sekaligus:

Nawaitul udh hiyyata ‘an
(1) Fulan
(2) Fulan
(3) Fulan
(4) Fulan
(5) Fulan
(6) Fulan
(7) Fulan
lillahi ta‘ala.

Artinya:
“Saya niat  menyembelih qurban seekor sapi atas nama 
1. ... bin... 
2. ... bin... 
3. ... bin... 
4. ... bin... 
5. ... bin... 
6. ... bin... 
7. ... bin... 
 karena Allah Ta‘ala.

"Bismillahi Allahu Akbar, Allahumma hadza minka wa laka. 
Artinya:  Dengan nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, ini dari-Mu dan untuk-Mu.”


RAHMAT ALLAH vs MURKA ALLAH

RAHMAT ALLAH vs MURKA ALLAH

Petang ini, mari bertanya pada diri sendiri: kita sedang berjalan menuju rahmat-Nya… atau justru mendekati murka-Nya?

Ada orang hidup sederhana, rumah kecil, makan seadanya… tetapi wajahnya tenang, anak-anaknya lembut, ibadahnya ringan, hatinya damai.
Itu tanda rahmat Allah sedang turun di rumahnya.

Sebaliknya…
ada yang hartanya banyak, rumahnya megah, kendaraan berganti-ganti… tetapi hidupnya penuh pertengkaran, anak membangkang, hati gelisah, tidur tak nyenyak, ibadah terasa berat.
Bisa jadi itu peringatan murka Allah yang belum disadari.

Allah berfirman:
“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124)

Rahmat Allah bukan hanya uang.
Rahmat Allah itu hati yang tenang, keluarga yang rukun, tubuh yang sehat, anak yang taat, dan dosa yang ditutupi manusia.

Sedangkan murka Allah sering datang diam-diam…
ibadah mulai malas, lisan suka menyakiti, hati keras menerima nasihat, rezeki terasa sempit walau banyak penghasilan.
Ada kisah seorang ayah rajin ke masjid. Walau hidup pas-pasan, ia selalu menjaga Subuh berjamaah. Tetangganya heran karena hidupnya terlihat biasa saja.

Namun bertahun-tahun kemudian, anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang sopan, mudah mencari kerja, dan sayang kepada orang tua.
Orang kampung berkata,
“Rumah itu kecil, tapi terasa bercahaya.”

Sebaliknya, ada seorang yang dahulu suka meremehkan shalat dan gemar menyakiti orang dengan lisannya. Usahanya sempat besar, uangnya banyak. Namun perlahan hidupnya berubah: anak-anak sulit diatur, usaha mulai jatuh, dan orang-orang menjauh karena akhlaknya.

Bukan karena Allah tidak mampu memberi harta, tetapi karena tanpa rahmat-Nya, nikmat berubah menjadi beban.

Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka.”
(HR. Tirmidzi)

Karena itu jangan ukur rahmat Allah hanya dari kekayaan.
Kadang orang miskin tidur nyenyak dalam rahmat Allah, sementara orang kaya menangis diam-diam dalam kegelisahan.

Petang ini…
coba lihat hidup kita.
Apakah shalat makin baik?
Apakah hati makin lembut?
Apakah keluarga makin dekat kepada Allah?
Apakah lisan makin terjaga?
Sebab tanda rahmat Allah bukan sekadar bertambahnya dunia…
tetapi bertambahnya iman, ketenangan, dan rasa takut kepada-Nya.

Semoga petang ini Allah menurunkan rahmat-Nya ke rumah kita, menjauhkan murka-Nya dari keluarga kita, dan menutup hidup kita dengan husnul khatimah.
Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.

Jumat, 22 Mei 2026

Kita Meridhoi Istri dan Anak, Maka Anak Akan Sukses

Kita Meridhoi Istri dan Anak, Maka Anak Akan Sukses

Banyak orang tua sibuk mencari sekolah terbaik, guru terbaik, bahkan biaya terbesar untuk anaknya.

Namun ada satu hal yang sering terlupakan: ridha dan doa yang tulus dari hati orang tua.
Ketika seorang ayah dan ibu berkata:
“Ya Allah, aku ridha kepada istriku…
aku ridha kepada anak-anakku…
maka ridhailah mereka…”
maka kalimat itu bukan sekadar ucapan.

Itu adalah doa yang keluar dari hati yang lembut, dan doa seperti itu sangat dicintai Allah.

Rasulullah SAW bersabda:
“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi no. 1899)

Karena itu, jangan biasakan rumah dipenuhi perkataan: “Anak ini bikin malu!” “Anak ini tidak berguna!” “Istri ini menyusahkan!”

Lisan orang tua adalah doa.
Kadang yang menghancurkan masa depan anak bukan kemiskinan, tetapi ucapan buruk yang terus diterimanya setiap hari.

Biasakan membaca:
“Radhītu billāhi rabbā, wa bil-islāmi dīnā, wa bi Muḥammadin nabiyyan wa rasūlā.” (3 kali)
Lalu berdoa:
“Ya Allah, sesungguhnya aku meridhai istriku dan anak-anakku dengan keridhaan yang sempurna, maka anugerahkanlah keridhaan-Mu kepada mereka.”

Kemudian bacakan Al-Fatihah untuk mereka.
InsyaAllah rumah akan lebih tenang, anak lebih lembut hatinya, dan keberkahan perlahan turun ke dalam keluarga.

Ada kisah seorang anak yang dulu dikenal nakal, suka melawan orang tua, bahkan hampir putus sekolah.

Namun ibunya tidak pernah berhenti berkata:
“Ya Allah, aku ridha kepada anakku. Jangan palingkan dia dari rahmat-Mu.”

Setiap malam ibunya membacakan Al-Fatihah sambil menyebut namanya.
Tahun demi tahun berlalu…
anak itu berubah.
Ia menjadi orang yang berhasil dan sangat berbakti kepada ibunya.

Saat ditanya apa yang paling membuatnya berubah, ia menjawab:
“Saya selalu merasa ada doa ibu yang menjaga hidup saya.”

Kadang kesuksesan anak bukan dimulai dari sekolah mahal…
tetapi dari hati orang tua yang ridha dan tidak lelah mendoakan.

ANAK KITA BANDEL?

ANAK KITA BANDEL?

Bisa jadi… ada hati orang tua yang belum benar-benar ridho padanya.

Jangan buru-buru menyalahkan anak.
Kadang yang perlu diperiksa terlebih dahulu adalah: apakah rumah ini penuh doa… atau penuh bentakan?

Betapa banyak anak yang keras kepala, ternyata tumbuh dari suasana yang keras pula.
Betapa banyak anak sulit diatur, karena lebih sering mendengar amarah daripada nasihat yang lembut.

Rasulullah SAW bersabda:
"Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua." (HR. Tirmidzi)

Orang tua yang sering kecewa, mengeluh, memaki, bahkan mengucapkan kata-kata buruk kepada anaknya…
kadang tanpa sadar sedang menutup pintu keberkahan bagi anak itu sendiri.
Ada anak yang berubah bukan karena hukuman,
tetapi karena suatu malam ibunya menangis dalam sujud dan berkata:
“Ya Allah… aku ridho pada anakku.
Bimbing dia menjadi anak saleh.”

Sejak malam itu perlahan hidup anaknya berubah.
Doa orang tua bukan sekadar ucapan.
Ia bisa menjadi cahaya…
atau menjadi luka yang mengikuti anak sepanjang hidupnya.

Petang ini…
sebelum Magrib datang, coba peluk anak-anak kita.
Maafkan kenakalannya.
Doakan namanya satu per satu.

Karena bisa jadi, anak tidak membutuhkan teriakan kita…
tetapi membutuhkan ridho dan doa kita.
“Rabbi hab li minash shalihin.”
"Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang saleh." (QS. Ash-Shaffat: 100)

Kamis, 21 Mei 2026

Dzikir Pagar Gaib Kebun Pepaya

Dzikir Pagar Gaib Kebun Pepaya

(diamalkan sebagai doa perlindungan kepada Allah, disertai ikhtiar menjaga kebun dengan baik)
Sebelum pulang dari kebun atau setelah Magrib, berdirilah di tengah kebun atau di pintu masuk kebun. Hadapkan hati kepada Allah, lalu niatkan:
“Ya Allah, kebun ini adalah rezeki yang Engkau titipkan. Jagalah dari pencuri, perusak, orang hasad, dan segala keburukan. Jadikan siapa pun yang berniat jahat menjadi takut, bingung, lalu pergi tanpa mengambil apa pun.”
Lalu baca:
Bismillāhirrahmānirrahīm
(7x)
Dilanjutkan:
Ayat Kursi — QS. Al-Baqarah: 255
(1x atau 3x)
Kemudian baca:
Hasbunallāhu wa ni‘mal wakīl
(41x)
Lalu baca:
Yā Hafīzh, Yā Māni‘, Yā Jabbar
ihfazh zar‘anā wa rizqanā min kulli syarrin wa sāriq.
(33x)
Artinya:
“Wahai Yang Maha Menjaga, Wahai Yang Maha Mencegah, Wahai Yang Maha Perkasa, jagalah tanaman dan rezeki kami dari segala keburukan dan pencuri.”
Sesudah itu baca ayat ini sambil meniup ke empat penjuru kebun:
﴿وَجَعَلْنَا مِنۢ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ﴾
“Wa ja‘alnā min baini aidīhim saddan wa min khalfihim saddan fa aghsyaināhum fahum lā yubshirūn.”
(QS. Yasin: 9)
Artinya:
“Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding, lalu Kami tutup penglihatan mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.”
Jika memungkinkan, kelilingi batas kebun sambil membaca:
Lā haula wa lā quwwata illā billāh
(100x)
Niatkan agar Allah menanamkan rasa takut dalam hati orang yang berniat mencuri.
Ada petani kampung yang menjaga kebun pepayanya dengan rutin membaca Ayat Kursi dan Yasin ayat 9 setiap petang. Beberapa kali orang berniat mengambil buah malam-malam, tetapi entah mengapa mereka merasa tidak tenang, seperti ada yang memperhatikan. Ada yang akhirnya pulang sebelum masuk kebun. Petani itu tetap mengatakan, “Yang menjaga bukan saya, tetapi Allah.”
Namun tetap lakukan ikhtiar lahir:
pasang lampu, pagar, tanda peringatan, dan sesekali periksa kebun. Sebab tawakal yang benar adalah menggabungkan doa dan usaha.