PEJUANG SERIBU BULAN
Cerpen: oleh Ismilianto
Malam itu angin gurun berhembus pelan. Langit dipenuhi bintang. Di sebuah negeri dari Bani Israil, seorang lelaki berdiri sendirian di atas bukit batu.
Namanya Syam'un Al-Ghazi.
Tubuhnya kuat, tangannya menggenggam pedang. Tetapi wajahnya tidak menunjukkan kesombongan. Ia justru sering terlihat menundukkan kepala dalam doa.
Siang hari ia adalah pejuang.
Ia melawan kaum zalim yang menindas umatnya. Banyak pasukan takut menghadapi kekuatannya. Bukan hanya karena tenaga yang luar biasa, tetapi karena keberaniannya lahir dari iman kepada Allah.
Namun malam hari… ia bukan lagi pejuang.
Ia berubah menjadi hamba yang menangis dalam sujud.
Di tengah gelap malam, ia berdiri lama dalam salat. Air matanya jatuh di pasir. Bibirnya terus berzikir memohon ampun kepada Allah.
Hari berganti hari.
Tahun berganti tahun.
Perjuangan itu tidak berhenti.
Siang berjihad.
Malam beribadah.
Bukan satu tahun.
Bukan sepuluh tahun.
Tetapi seribu bulan.
Lebih dari delapan puluh tiga tahun.
Musuh-musuhnya tidak mampu mengalahkannya di medan perang. Maka mereka menggunakan cara licik.
Mereka membujuk istrinya sendiri agar mengkhianatinya.
Dengan tipu daya, akhirnya Syam’un tertangkap. Musuh-musuhnya menyiksanya.
Mereka mengikatnya dan membawanya ke sebuah bangunan besar tempat mereka berkumpul.
Mereka menertawakannya.
“Sekarang lihat,” kata mereka dengan angkuh, “di mana kekuatanmu?”
Syam’un yang terluka menundukkan kepala.
Ia tidak meminta kepada manusia.
Ia berdoa kepada Allah.
Dengan suara yang hampir tidak terdengar ia berkata:
“Ya Allah… jika Engkau masih ridha kepadaku…
berikan aku kekuatan sekali lagi.”
Doa itu naik ke langit.
Tiba-tiba tubuhnya terasa kuat kembali. Ia bangkit dengan sisa tenaga yang ada. Kedua tangannya memegang tiang bangunan besar tempat musuh-musuhnya berpesta.
Dengan satu hentakan yang dahsyat…
Tiang itu runtuh.
Bangunan itu roboh.
Musuh-musuhnya binasa.
Dan Syam’un wafat sebagai seorang pejuang di jalan Allah.
Berabad-abad setelah kisah itu berlalu…
Di kota Madinah, Nabi Muhammad menceritakan kisah orang-orang saleh dari umat terdahulu kepada para sahabat.
Ketika mereka mendengar tentang ibadah yang berlangsung seribu bulan, hati para sahabat menjadi kecil.
“Ya Rasulullah,” kata mereka pelan, “bagaimana mungkin kami bisa menyamai amal seperti itu? Umur kami pendek…”
Nabi pun memikirkan umatnya.
Saat itulah Malaikat Jibril turun membawa wahyu dari langit.
Allah menurunkan firman-Nya:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam Lailatul Qadar.
Dan tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadar itu?
Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.”
(Surah Al-Qadr: 1–3)
Para sahabat terdiam.
Air mata sebagian mereka jatuh.
Allah memberi hadiah luar biasa kepada umat Nabi Muhammad.
Jika seseorang menghidupkan satu malam Lailatul Qadar, pahalanya lebih baik daripada ibadah seribu bulan.
Seakan-akan Allah berkata kepada umat ini:
“Kalian memang tidak hidup selama mereka…
tetapi Aku berikan kepada kalian malam yang nilainya lebih panjang dari umur manusia.”
Malam itu Rasulullah memandang para sahabat dengan penuh harapan.
Dan sejak saat itu…
setiap datang sepuluh malam terakhir Ramadhan,
beliau tidak ingin kehilangan satu malam pun.
Karena bisa jadi…
di antara malam yang sunyi itu
ada satu malam yang nilainya lebih besar dari 83 tahun ibadah.