Laqadja akum rasulum


web stats

Sabtu, 06 Juni 2026

MALAM INI, JANGAN TERLALU KERAS PADA DIRIMU SENDIRI

MALAM INI, JANGAN TERLALU KERAS PADA DIRIMU SENDIRI

Malam telah datang.
Lampu-lampu rumah mulai menyala. Jalanan perlahan sepi. Anak-anak mulai terlelap. Namun ada sebagian hati yang masih terjaga, memikirkan hutang yang belum lunas, usaha yang belum berhasil, doa yang belum terlihat jawabannya, dan harapan yang masih menggantung di langit.
Ada sebuah kisah nyata yang pernah diceritakan seorang lelaki tua.

Di masa mudanya, ia bekerja keras siang dan malam. Namun hidupnya tidak berubah. Hutang menumpuk. Dagangannya sering rugi.

Bahkan suatu malam ia duduk sendirian di teras rumahnya sambil menangis.
Ia berkata,
"Ya Allah, aku sudah lelah."
Malam itu tidak ada keajaiban.

Tidak ada uang datang. Tidak ada orang yang menolong.
Tetapi ia bangun untuk salat tahajud.
Lalu malam berikutnya ia bangun lagi.

Dan malam berikutnya lagi.
Bulan demi bulan berlalu.
Sampai suatu hari Allah membuka jalan yang tidak pernah ia bayangkan. Sedikit demi sedikit hutangnya lunas. Anak-anaknya berhasil. Hidupnya berubah.
Ketika ditanya apa rahasianya, ia menjawab,
"Bukan karena aku kuat. Aku hanya tidak berhenti mengetuk pintu Allah."

Sahabatku...
Kadang Allah tidak langsung mengubah keadaan kita.
Allah terlebih dahulu mengubah hati kita agar lebih kuat menghadapi keadaan.
Maka jika malam ini masih ada kesedihan, simpanlah di hadapan Allah.

Jika masih ada air mata, biarkan ia jatuh dalam sujud.
Jika masih ada harapan, jangan kubur sebelum Allah yang memutuskan.
Bukankah Allah telah berfirman:
"Faqultustaghfiruu rabbakum innahu kaana ghaffaaraa. Yursilis-samaa'a 'alaikum midraaraa. Wa yumdidkum bi-amwaalin wa baniina wa yaj'al lakum jannaatin wa yaj'al lakum anhaaraa."
"Maka aku berkata: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu." (QS. Nuh: 10–12)

Malam ini, sebelum tidur...
Maafkan orang yang pernah menyakitimu.
Doakan kedua orang tuamu.
Istighfarlah atas dosamu.
Lalu tidurlah dengan hati yang lebih ringan.

Siapa tahu, ketika mata terpejam malam ini, Allah sedang menulis takdir yang lebih indah untuk esok hari.
Selamat beristirahat. Semoga Allah menjaga kita, keluarga kita, dan semua yang kita cintai hingga fajar kembali menyapa. 

Jumat, 05 Juni 2026

JANGAN MERASA MISKIN, JIKA MASIH BISA MENGETUK PINTU ALLAH

JANGAN MERASA MISKIN, JIKA MASIH BISA MENGETUK PINTU ALLAH

Suatu malam, seorang ayah duduk termenung. Utang belum lunas, usaha sepi, kebutuhan keluarga terus berjalan. Ia hampir putus asa.
Lalu ia teringat satu kalimat yang pernah diajarkan seorang ulama:
"Jika semua pintu tertutup, masih ada pintu Allah yang tidak pernah tertutup."

Sejak malam itu, setiap selesai salat ia membaca:
"Yā Hayyu, Yā Qayyūm, Yā Ghaniyyu, Yā Mughnī, Yā Dzal Jalāli wal Ikrām."

Hari demi hari berlalu. Ia tidak lagi sibuk mengeluh kepada manusia. Ia lebih banyak mengadu kepada Allah.

Beberapa bulan kemudian, jalan rezeki mulai terbuka. Ada pertolongan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Ia kemudian berkata:
"Yang pertama Allah berikan bukan uang, tetapi ketenangan. Setelah hati tenang, pertolongan-Nya datang satu per satu."

Sahabatku...
Yā Hayyu Artinya, Allah Maha Hidup. Dia tidak pernah tidur dan tidak pernah lalai memperhatikan hamba-Nya.

Yā Qayyūm Artinya, Allah mengurus seluruh urusan makhluk-Nya. Tidak ada masalah yang terlalu besar bagi-Nya.

Yā Ghaniyyu Artinya, Allah Maha Kaya. Semua kekayaan langit dan bumi milik-Nya.

Yā Mughnī Artinya, Allah Maha Memberi Kecukupan. Dia mampu mengubah kekurangan menjadi kecukupan.

Yā Dzal Jalāli wal Ikrām Artinya, Allah Pemilik Keagungan dan Kemuliaan. Dia mampu memuliakan siapa saja yang Dia kehendaki.

Allah berfirman:
"Wallāhu huwa al-ghaniyyu wa antumul fuqarā’."
"Allah-lah Yang Maha Kaya, sedangkan kalian adalah orang-orang yang membutuhkan." (QS. Muhammad: 38)

Dan Allah berjanji:
"Wa yarzuqhu min haitsu lā yahtasib."
"Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." (QS. Ath-Thalaq: 3)

Sahabatku, sebelum mengeluh kepada manusia, cobalah mengadu kepada Allah.

Bacalah dengan penuh keyakinan:
Yā Hayyu, Yā Qayyūm, Yā Ghaniyyu, Yā Mughnī, Yā Dzal Jalāli wal Ikrām.

Mungkin yang sedang menunggumu bukan sekadar rezeki yang banyak, tetapi hati yang tenang, hidup yang berkah, dan pertolongan Allah yang datang pada waktu yang paling tepat.

Karena Allah tidak pernah terlambat menolong hamba-Nya.

PETANG INI: JANGAN MENUNGGU TERLAMBAT

PETANG INI: JANGAN MENUNGGU TERLAMBAT

Seorang anak pernah berkata kepada ibunya, "Nanti saja kalau saya sudah sukses, saya akan membahagiakan Ibu."
Tapi takdir berjalan lebih cepat. Sebelum kesuksesan itu datang, sang ibu lebih dahulu dipanggil Allah.

Kini setiap kali melihat orang lain memeluk ibunya, ia menunduk menahan air mata. Harta sudah ada, rumah sudah ada, kendaraan sudah ada. Namun satu yang tak bisa dibeli kembali: kesempatan berbakti kepada ibu.

Allah berfirman:
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua."
(QS. Al-Isra' : 23)

Petang ini, sebelum matahari tenggelam, sempatkanlah menghubungi orang tua. Jika mereka masih hidup, bahagiakan mereka. Jika mereka telah tiada, kirimkan doa terbaik untuk mereka.
Jangan sampai penyesalan datang saat yang tersisa hanya pusara dan air mata.

Semoga petang ini Allah melembutkan hati kita, melapangkan rezeki kita, mengampuni dosa kedua orang tua kita, dan mengumpulkan keluarga kita dalam kebahagiaan dunia serta surga-Nya kelak. Aamiin. 

Kamis, 04 Juni 2026

Memberikan Infak Dan Sedekah Kepada Kedua Orang Tua

Berikan Infak Sedekah Kepada Kedua Orang Tua 

Membantu orang tua yang membutuhkan lebih utama daripada bersedekah kepada orang lain, karena di dalamnya ada dua ibadah: sedekah dan berbakti kepada orang tua (birrul walidain).

Allah berfirman:
"Wa qadha rabbuka allaa ta'buduu illaa iyyaahu wa bil waalidaini ihsaanaa."
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua."
(QS. Al-Isra': 23)

Allah juga berfirman:
"Yas-aluunaka maadzaa yunfiquuna qul maa anfaqtum min khairin falil waalidaini wal-aqrabiina wal-yataamaa wal-masaakiini wabnis sabiil."
"Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah: harta apa saja yang kamu infakkan hendaklah diberikan kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang yang dalam perjalanan."
(QS. Al-Baqarah: 215)

Perhatikan bahwa dalam ayat ini, Allah menyebut kedua orang tua terlebih dahulu sebelum kerabat, yatim, dan miskin.

Rasulullah SAW juga bersabda:
"Anta wa maaluka li abiika."
"Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu." (HR. Ibnu Majah)

Maknanya bukan ayah boleh mengambil seluruh harta anak sesuka hati, tetapi menunjukkan betapa besar hak orang tua atas bantuan dan perhatian anak.

Ada kisah seorang pemuda yang bekerja di kota besar. Setiap bulan ia menyisihkan sebagian gajinya untuk berbagai kegiatan sosial. Ia dikenal dermawan dan sering membantu banyak orang.

Suatu hari ia pulang kampung. Ketika masuk rumah, ia melihat ibunya menambal pakaian lama yang sudah berkali-kali dijahit. Ayahnya yang sudah sepuh masih pergi ke kebun dengan sandal yang hampir putus.

Ia bertanya kepada ibunya, "Mengapa tidak membeli yang baru?"
Ibunya tersenyum dan menjawab, "Kami masih bisa memakainya. Uangmu gunakan saja untuk kebutuhanmu."

Saat itu hatinya bergetar. Selama ini ia bangga membantu banyak orang, tetapi ternyata orang yang paling dekat dengannya hidup dalam keterbatasan tanpa pernah mengeluh.

Sejak hari itu ia mengubah kebiasaannya. Setiap bulan ia mengirim sebagian rezekinya untuk kedua orang tuanya terlebih dahulu. 

Beberapa tahun kemudian, ketika ayahnya wafat, ia menemukan catatan kecil di lemari ayahnya:
"Ya Allah, lindungilah anakku. Jangan putuskan rezekinya. Dia tidak pernah lupa kepada kami."

Pemuda itu menangis. Ia menyadari bahwa bantuan yang ia kirim sebenarnya tidak sebanding dengan doa yang setiap malam dipanjatkan kedua orang tuanya untuk dirinya.

Yang perlu diperhatikan
Jika orang tua memang membutuhkan bantuan nafkah, maka memberi mereka bukan hanya sedekah, tetapi juga kewajiban bagi anak yang mampu.

Banyak orang bersedekah jauh ke mana-mana, tetapi lupa bahwa ayah dan ibunya mungkin sedang menunggu perhatian, telepon, kunjungan, atau bantuan sederhana dari anaknya.

Rasulullah SAW bersabda:
"Ridha Allah tergantung pada ridha kedua orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka kedua orang tua."
(HR. Tirmidzi)

Karena itu, salah satu tempat terbaik untuk menanam sedekah adalah hati ayah dan ibu. Nilainya mungkin tidak terlihat oleh manusia, tetapi doanya dapat membuka pintu-pintu keberkahan yang tidak pernah disangka-sangka.

PENUTUP MALAM: AIR MATA YANG TERLAMBAT

PENUTUP MALAM: AIR MATA YANG TERLAMBAT

Malam semakin larut.
Di sebuah rumah sakit, seorang lelaki tua terbaring lemah. Nafasnya tersengal. Di sampingnya berdiri anak-anak yang dahulu pernah ia besarkan dengan susah payah.
Saat masih kuat, ayah itu sering memanggil mereka. Kadang hanya ingin ditemani berbincang. Kadang hanya ingin didengar ceritanya.

Namun mereka sibuk dengan urusan masing-masing.
Kini, ketika ayah itu hampir pergi, mereka menangis sejadi-jadinya.
"Ayah, maafkan kami..."
Tetapi waktu tidak bisa diputar kembali.
Betapa banyak penyesalan yang baru datang setelah kesempatan hilang.
Malam ini, sebelum tidur, cobalah renungkan:
Masih adakah orang tua yang belum kita telepon? Masih adakah saudara yang belum kita sapa? Masih adakah kesalahan yang belum kita minta maaf?
Jangan menunggu esok.
Karena tidak ada yang tahu siapa yang lebih dahulu dipanggil Allah.

Allah berfirman:
"Wa anistaghfiruu rabbakum tsumma tuubuu ilaih..."
"Dan hendaklah kamu memohon ampun kepada Tuhanmu lalu bertobat kepada-Nya." (QS. Hud: 3)

Rasulullah SAW bersabda:
"Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua." (HR. Tirmidzi)

Ada orang yang malam ini tidur di kasur empuk, tetapi hatinya gelisah.

Ada orang yang rumahnya sederhana, namun hatinya tenang karena tidak menyimpan dendam, tidak durhaka kepada orang tua, dan tidak memutus silaturahmi.
Ketenangan bukan berasal dari banyaknya harta, tetapi dari dekatnya hati kepada Allah.

Sebelum memejamkan mata malam ini, mari berdoa:
"Allahummaghfir li wa li walidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira."
"Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku ketika kecil."

Selamat beristirahat.
Jika masih memiliki orang tua, bahagiakanlah mereka.
Jika mereka telah tiada, kirimkan Al-Fatihah, doa, dan sedekah atas nama mereka.
Sebab ada air mata yang menjadi rahmat, dan ada pula air mata yang datang terlambat.

Semoga malam ini Allah menutup hari kita dengan ampunan, menjaga keluarga kita, melapangkan rezeki kita, serta membangunkan kita esok hari dalam keadaan beriman dan bersyukur.
Aamiin ya Rabbal 'alamin. 

Rabu, 03 Juni 2026

SETEGUK YANG MERUSAK MASA DEPAN

SETEGUK YANG MERUSAK MASA DEPAN

Di sebuah rumah sakit, seorang pemuda berusia 24 tahun terbaring lemah. Dulu ia dikenal cerdas, ramah, dan penuh cita-cita. Namun kebiasaan minum minuman keras sejak usia belasan tahun perlahan merampas semuanya. 

Pekerjaan hilang, sahabat menjauh, orang tua menangis, dan kesehatannya hancur.

Ketika dokter menjelaskan bahwa fungsi hatinya rusak dan daya ingatnya menurun, ia hanya bisa menunduk sambil berkata:
"Andai waktu bisa diputar kembali, aku tidak akan menyentuh minuman itu sejak awal."

Kalimat seperti ini bukan hanya satu atau dua orang yang mengucapkannya. Banyak mantan pecandu alkohol menyesali langkah pertama yang dulu mereka anggap sekadar coba-coba.

Otak manusia adalah pusat kendali kehidupan. Saat seseorang mabuk, alkohol masuk ke aliran darah dan memengaruhi kerja otak.
Akibat yang sering terjadi:
• Daya ingat menurun.
• Konsentrasi melemah.
• Kemampuan mengambil keputusan menjadi buruk.
• Emosi menjadi tidak stabil.
• Risiko depresi dan gangguan mental meningkat.
• Dalam jangka panjang dapat merusak sel-sel otak.

Karena itulah banyak kecelakaan lalu lintas, perkelahian, tindak kriminal, dan keputusan fatal terjadi ketika seseorang berada dalam pengaruh alkohol.
Yang lebih menyedihkan, kerusakan itu sering terjadi saat usia masih muda, ketika otak sedang berada pada masa paling produktif untuk belajar dan berkembang.

Islam mengharamkan khamr (segala yang memabukkan) karena mudaratnya jauh lebih besar daripada manfaatnya.

Allah berfirman:
"Yaa ayyuhalladziina aamanuu innamal khamru wal maisiru wal anshaabu wal azlaamu rijsun min 'amalisy syaithaan fajtanibuuhu la'allakum tuflihuun."
"Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, judi, berhala, dan mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah agar kamu beruntung." (QS. Al-Ma'idah: 90)

Rasulullah SAW bersabda:
"Kullu muskirin haram."
"Setiap yang memabukkan adalah haram." (HR. Muslim)

Perhatikan, Allah tidak mengatakan "kurangi", tetapi "jauhilah". Sebab banyak kehancuran besar berawal dari seteguk yang dianggap kecil.

Ada kisah seorang pemuda yang sangat berbakti kepada ibunya. Namun setelah bergaul dengan teman-teman yang gemar minum, ia mulai sering mabuk. Awalnya hanya pada malam minggu. Lama-kelamaan menjadi kebiasaan.

Suatu malam ibunya menelepon berkali-kali karena khawatir. Dalam keadaan mabuk, ia menjawab dengan suara keras dan membentak ibunya.

Beberapa jam kemudian kabar datang: ibunya terkena serangan jantung dan meninggal dunia.

Sejak hari itu, ia hidup dengan penyesalan yang tidak pernah selesai. Karena kalimat terakhir yang didengar ibunya adalah bentakan dari anak yang sangat dicintainya.

Masih Ada Jalan Pulang
Jika ada anak muda yang saat ini masih terjerumus dalam minuman keras, pintu taubat Allah masih terbuka.

Allah berfirman:
"Qul yaa 'ibaadiyalladziina asrafuu 'alaa anfusihim laa taqnathuu mir rahmatillaah."
"Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah." (QS. Az-Zumar: 53)

Banyak mantan pemabuk yang berubah menjadi pribadi yang saleh, sukses, dan bermanfaat bagi masyarakat. Mereka memutus pergaulan buruk, mendekat kepada masjid, memperbanyak istighfar, dan memulai hidup baru.

Hari ini mungkin seseorang masih memegang botol.
Tetapi besok ia bisa memegang Al-Qur'an.
Hari ini mungkin ia menjadi sumber kesedihan orang tua.
Tetapi besok ia bisa menjadi kebanggaan keluarga.
Jangan tunggu tubuh rusak, jangan tunggu otak melemah, jangan tunggu air mata orang tua jatuh karena penyesalan.

Karena masa muda adalah modal terbesar kehidupan. Jika dijaga dengan iman dan akhlak yang baik, ia akan menjadi cahaya dunia dan akhirat.

SURAT NUH AYAT 10–12

SURAT NUH AYAT 10–12

Ayat 10

Faqultustagh firuu rabbakum innahuu kaana ghaffaa raa.

Ayat 11

Yursilis samaa 'a 'alaikum midraa raa.

Ayat 12

Wayum didkum bi am waa liw wa baniin, 

wa yaj'al lakum jannaa tiw wayaj 'al lakum anhaa raa.


Artinya secara ringkas:
"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan yang lebat kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan untukmu kebun-kebun dan sungai-sungai." (QS. Nuh: 10–12)