Laqadja akum rasulum


web stats

Jumat, 12 Juni 2026

MENGAPA KESULITAN SELALU MENDATANGI MANUSIA?

MENGAPA KESULITAN SELALU MENDATANGI MANUSIA?

Tidak ada manusia yang hidup tanpa kesulitan.
Ada yang diuji dengan kemiskinan, ada yang diuji dengan kekayaan. Ada yang diuji dengan sakit, ada yang diuji dengan kesehatan. Ada yang diuji dengan hutang, ada yang diuji dengan jabatan. Bahkan para nabi sekalipun tidak luput dari ujian.

Mengapa demikian?
Karena dunia bukan tempat istirahat, melainkan tempat ujian.

Allah berfirman:
"Alladzi khalaqal mauta wal hayata liyabluwakum ayyukum ahsanu 'amala."
"Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu siapa di antara kamu yang terbaik amalnya." (QS. Al-Mulk: 2)

Kesulitan sering kali datang bukan karena Allah membenci hamba-Nya. Justru kadang kesulitan datang karena Allah ingin mendengar doa hamba-Nya, menghapus dosa-dosanya, meninggikan derajatnya, atau mengembalikannya ke jalan yang benar.

Betapa banyak orang yang rajin berdoa setelah ditimpa kesulitan, padahal sebelumnya jarang mengangkat tangan kepada Allah.

Betapa banyak orang yang rajin ke masjid setelah mengalami musibah, padahal sebelumnya lalai dari shalat berjamaah.
Kesulitan sering menjadi pintu yang mengantarkan manusia kembali kepada Rabb-nya.

Ada sebuah kisah nyata yang sangat mengharukan.
Seorang pedagang kecil mengalami kebangkrutan. Modal habis, dagangan tidak laku, dan hutang terus bertambah. Setiap malam ia memikirkan bagaimana memberi makan keluarganya keesokan hari.

Suatu malam, dalam keputusasaan, ia duduk sendirian di teras rumah. Air matanya jatuh. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia melakukan shalat tahajud dengan penuh kekhusyukan.

Ia mengaku bahwa selama usahanya lancar, ia sering menunda shalat dan jarang berdoa. Namun ketika semua pintu seakan tertutup, ia menemukan satu pintu yang ternyata selalu terbuka, yaitu pintu Allah.

Malam demi malam ia memperbanyak istighfar.
Membaca:
"Astaghfirullahal 'azhim wa atubu ilaih."
Ia juga mengamalkan firman Allah:
"Fastaghfiru rabbakum innahu kana ghaffara. Yursilis samaa'a 'alaikum midrara. Wa yumdidkum bi amwalin wa banin."
"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu." (QS. Nuh: 10-12)

Beberapa bulan kemudian, seorang teman lama yang tidak pernah ia sangka datang menawarkan kerja sama usaha. Dari situlah kehidupannya perlahan bangkit kembali.

Ketika ditanya apa pelajaran terbesar dari musibah yang dialaminya, ia menjawab:
"Dulu saya mengira kebangkrutan adalah bencana terbesar dalam hidup saya. Ternyata itu adalah jalan yang Allah gunakan untuk membawa saya kembali kepada-Nya."

Saudaraku,
Jika hari ini kita sedang menghadapi kesulitan, jangan terburu-buru menganggapnya sebagai keburukan.
Boleh jadi kesulitan itu adalah undangan dari Allah agar kita lebih banyak berdoa.
Boleh jadi kesulitan itu adalah penghapus dosa.
Boleh jadi kesulitan itu adalah jalan menuju rezeki yang lebih baik.
Dan boleh jadi, di balik air mata yang kita teteskan hari ini, Allah sedang menyiapkan kebahagiaan yang belum pernah kita bayangkan.

"Fa inna ma'al 'usri yusra. Inna ma'al 'usri yusra."
"Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 5-6)

Semoga Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesulitan kita, melapangkan rezeki, memudahkan urusan keluarga, dan mengganti setiap kesedihan dengan kebahagiaan yang penuh keberkahan. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.

Kamis, 11 Juni 2026

MENJAGA SHALAT WALAU SANGAT SIBUK DENGAN PEKERJAAN BERAT

JAGA SHALAT WALAU SIBUK DENGAN PEKERJAAN BERAT

Ada orang yang bekerja dari pagi hingga petang. Tangannya kasar karena cangkul, bajunya basah oleh keringat, tubuhnya lelah karena mencari nafkah halal untuk keluarga. 

Namun ketika azan berkumandang, ia meletakkan pekerjaannya sejenak, berwudhu, lalu berdiri menghadap Allah.

Sebaliknya, ada pula yang pekerjaannya tidak seberat itu, tetapi shalat sering ditunda, bahkan ditinggalkan.

Sesungguhnya, yang membuat seseorang menjaga shalat bukanlah karena banyak atau sedikitnya kesibukan, melainkan karena besarnya cinta dan rasa takutnya kepada Allah.

Allah berfirman:
"Hafizhu 'alash-shalawati wash-shalatil wustha wa qumu lillahi qanitin."
"Peliharalah semua shalatmu dan shalat wustha, dan berdirilah karena Allah dengan khusyuk." (QS. Al-Baqarah: 238)

Dikisahkan seorang buruh bangunan di sebuah kota besar. Setiap hari ia mengangkat semen dan batu bata dari pagi hingga sore.

Suatu hari temannya bertanya, "Mengapa engkau selalu shalat tepat waktu, padahal pekerjaanmu sangat berat?"
Ia menjawab dengan mata berkaca-kaca, "Aku bekerja untuk anak istriku, tetapi aku shalat untuk keselamatan diriku di hadapan Allah. 

Jika pekerjaan bisa kutinggalkan beberapa menit untuk makan dan minum, mengapa aku tidak bisa meninggalkannya beberapa menit untuk menghadap Rabb-ku?"
Jawaban sederhana itu membuat temannya terdiam.

Rasulullah SAW, manusia yang paling sibuk di muka bumi, memimpin umat, berdakwah, memimpin peperangan, mengurus keluarga dan masyarakat. Namun beliau tetap menjaga shalat dengan sempurna. Bahkan ketika sakit menjelang wafat, beliau masih bertanya:
"Ash-shalah, ash-shalah..."
"Shalat, shalat..." (HR. Abu Dawud)

Kesibukan bukan alasan meninggalkan shalat. Justru shalat adalah sumber kekuatan di tengah kesibukan.

Betapa banyak orang yang mengejar rezeki hingga melupakan shalat, padahal rezeki datang dari Allah. 

Dan betapa banyak orang yang menjaga shalat, lalu Allah bukakan jalan keluar yang tidak pernah ia sangka.

Pagi ini, mari bertanya kepada diri sendiri:
"Jika Allah masih memberi waktu untuk bekerja, mengapa aku tidak menyediakan waktu untuk bersujud?"

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang menjaga shalat dalam keadaan lapang maupun sempit, dalam keadaan ringan maupun berat, hingga kelak dipanggil dengan kemuliaan di hari kiamat.
Allahumma a'inna 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik. Aamiin.

NASKAH KHUTBAH JUMAT Judul: Melaksanakan Shalat di Tengah Kesibukan

NASKAH KHUTBAH JUMAT 
Judul: Melaksanakan Shalat di Tengah Kesibukan

Khutbah Pertama

Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Nahmaduhu wa nasta'inuhu wa nastaghfiruh, wa na'udzu billahi min syururi anfusina wa min sayyi'ati a'malina. Man yahdihillahu fala mudhilla lah, wa man yudhlil fala hadiya lah.

Faqala fi kitabihil karim:
A'udzu billahi minasy-syaithanir rajim.
Bismillahir rahmanir rahim.
Rijalul la tulhihim tijaratun wa la bai'un 'an dzikrillahi wa iqamish shalati wa ita'iz zakah, yakhafuna yauman tataqallabu fihil qulubu wal abshar.

Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh.
Amma ba'du.

Judul: Melaksanakan Shalat di Tengah Kesibukan

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Inna ash-shalata kanat 'alal mu'minina kitaban mauquta."
"Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." (QS. An-Nisa: 103)

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.

Di zaman sekarang, banyak manusia disibukkan oleh pekerjaan, usaha, perdagangan, jabatan, organisasi, perjalanan, dan berbagai urusan dunia. Tidak sedikit yang berkata, "Saya terlalu sibuk." Bahkan ada yang menunda shalat hingga akhir waktu, ada yang menggabungkannya tanpa alasan syar'i, dan ada pula yang meninggalkannya sama sekali.

Padahal kesibukan bukanlah alasan untuk meninggalkan shalat. Justru shalat adalah sumber kekuatan dalam menghadapi kesibukan.

Perhatikanlah kehidupan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau adalah kepala negara, panglima perang, hakim, guru, pemimpin keluarga, sekaligus pembimbing umat. Namun tidak pernah meninggalkan shalat tepat waktu.

Ketika Bilal mengumandangkan adzan, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Arihna biha ya Bilal."
"Wahai Bilal, hiburlah dan tenangkan kami dengan shalat." (HR. Abu Dawud)

Bagi sebagian orang, pekerjaan dianggap ketenangan. Tetapi bagi Rasulullah, ketenangan sejati adalah shalat.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

Ada sebuah kisah nyata yang sering terjadi dalam kehidupan kita.
Seorang pedagang membuka tokonya sejak pagi hingga malam. Ia takut kehilangan pembeli jika meninggalkan tokonya untuk shalat berjamaah. 

Bertahun-tahun ia mengejar keuntungan dunia. Namun suatu hari ia jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit.

Di atas tempat tidur rumah sakit ia berkata kepada anaknya, "Dulu aku mengejar pembeli sehingga sering menunda shalat. Sekarang aku ingin berdiri untuk shalat berjamaah, tetapi tubuhku sudah tidak mampu."

Betapa banyak manusia yang memiliki waktu tetapi tidak memiliki kemauan. Dan ketika kemauan itu datang, waktu telah berlalu.

Karena itu Allah mengingatkan:
"Rijalun la tulhihim tijaratun wa la bai'un 'an dzikrillahi wa iqamish shalah."
"Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingat Allah dan mendirikan shalat." (QS. An-Nur: 37)

Mereka tetap bekerja, tetap berdagang, tetap berusaha, tetapi hati mereka terikat dengan masjid dan waktu-waktu shalat.

Jamaah Jumat yang berbahagia.

Shalat bukan penghalang rezeki. Justru shalat adalah pembuka pintu rezeki dan keberkahan.

Allah berfirman:
"Wa'mur ahlaka bish-shalati wasthabir 'alaiha, la nas'aluka rizqan, nahnu narzuquk." Artinya: 
"Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu." (QS. Thaha: 132)

Maka jangan takut kehilangan rezeki karena shalat. Yang perlu ditakutkan adalah kehilangan keberkahan karena meninggalkan shalat.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.

Marilah kita merenungkan satu pertanyaan.
Jika setiap hari kita memiliki waktu untuk bekerja, berbincang, menonton, menggunakan telepon genggam, dan mengurus urusan dunia, mengapa kita merasa berat menyediakan beberapa menit untuk menghadap Allah?

Kelak ketika kita berada di alam kubur, yang pertama kali dihisab adalah shalat.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika baik shalatnya maka baik pula seluruh amalnya. Jika rusak shalatnya maka rusak pula seluruh amalnya." (HR. Tirmidzi)

Karena itu, di tengah kesibukan apa pun, jagalah shalat tepat waktu. Ajak keluarga ke masjid. Biasakan anak-anak mencintai shalat. Jangan biarkan dunia mengambil seluruh waktu kita hingga melupakan bekal menuju akhirat.

Ingatlah, pekerjaan akan selesai, jabatan akan berakhir, harta akan ditinggalkan, tetapi shalat akan menemani kita hingga ke hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Aqulu qauli hadza, wa astaghfirullaha li wa lakum, fastaghfiruhu innahu huwal ghafurur rahim.

KHUTBAH KEDUA

Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih kama yuhibbu rabbuna wa yardha.

Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh.

Innallaha wa malaikatahu yushalluna 'alan nabiy. Ya ayyuhalladzina amanu shallu 'alaihi wa sallimu taslima.

Allahumma shalli wa sallim wa barik 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa ashabihi ajma'in.

Allahumma aghfir lil muslimina wal muslimat, wal mu'minina wal mu'minat, al-ahya'i minhum wal amwat.
Allahumma a'inna 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik.
Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina 'adzaban nar.

Innallaha ya'muru bil 'adli wal ihsan wa ita'i dzil qurba wa yanha 'anil fahsya'i wal munkari wal baghy. Ya'izhukum la'allakum tadzakkarun.
Fadzkurullaha al-'azhim yadzkurkum, wasykuruhu 'ala ni'amihi yazidkum, waladzikrullahi akbar, wallahu ya'lamu ma tashna'un.

Rabu, 10 Juni 2026

PAGI INI...Peliharalah dirimu dan keluargamu

PAGI INI...
Peliharalah dirimu dan keluargamu 

Banyak orang tua bekerja keras agar anaknya tidak merasakan lapar.
Namun, jangan sampai kita sibuk menjaga mereka dari kemiskinan, tetapi lalai menjaga mereka dari api neraka.

Ada kisah Seorang ayah tidak mewariskan rumah mewah ataupun harta berlimpah. Setiap selesai Magrib, ia hanya mengajak anak-anaknya duduk bersama membaca Al-Qur'an dan berdoa.

Tahun demi tahun berlalu. Sang ayah wafat dengan meninggalkan sedikit harta.
Tetapi ia meninggalkan anak-anak yang saleh, rajin salat, berbakti kepada orang tua, dan terus mendoakannya.

Ternyata warisan terbesar bukanlah tanah dan bangunan.
Warisan terbesar adalah iman dan akhlak yang terus hidup setelah kita tiada.

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim: 6)

Pagi ini, mari bertanya kepada diri sendiri:
"Sudahkah aku mengajarkan keluargaku jalan menuju surga, sebagaimana aku mengajarkan mereka cara mencari dunia?"

Karena keluarga bukan hanya teman hidup di dunia, tetapi juga sahabat perjalanan menuju akhirat.

Semoga Allah menjaga diri kita, anak-anak kita, cucu-cucu kita, dan seluruh keluarga kita dalam lindungan-Nya serta mengumpulkan kita kembali di surga-Nya.
Aamiin Ya Rabbal 'Alamin. 

Selasa, 09 Juni 2026

LANGKAH YANG MAKIN BERATCerpen: oleh Ismilianto

LANGKAH YANG MAKIN BERAT
Cerpen: oleh Ismilianto

Setiap azan Magrib berkumandang, suara itu selalu terdengar sampai ke rumah Pak Hasan. Dulu, sebelum muazin selesai mengucapkan "Hayya 'alal falah", ia sudah berjalan menuju masjid dengan sarung dan peci kesayangannya.

Di saf pertama, wajahnya hampir selalu ada.
Anak-anak muda di kampung sering berkata, "Kalau lampu masjid sudah menyala, pasti Pak Hasan sudah di dalam."
Namun, waktu berjalan pelan-pelan.

Awalnya hanya sekali tidak hadir. Katanya sedang lelah. Lalu seminggu kemudian, dua kali tidak hadir. Setelah itu mulai sering salat di rumah.
Tidak ada yang menyadari bahwa setan jarang mengajak seseorang meninggalkan masjid sekaligus. Ia melakukannya sedikit demi sedikit.

Suatu malam, seorang sahabatnya datang berkunjung.
"Pak Hasan, sudah lama tidak terlihat di masjid."
Pak Hasan tersenyum.
"Ah, saya salat juga kok. Di rumah saja."
Sahabatnya tidak membantah.
Tetapi sejak malam itu, jarak antara rumah dan masjid yang hanya sekitar tiga ratus meter terasa semakin jauh bagi Pak Hasan.

Ketika azan berkumandang, selalu ada alasan.
Kadang karena hujan gerimis.
Kadang karena menonton berita.
Kadang karena menunggu tamu.
Kadang hanya karena malas bangun dari kursi.
Padahal dahulu ia tetap datang meski hujan deras.

Rasulullah SAW bersabda:
"Salat yang paling berat bagi orang munafik adalah salat Isya dan Subuh berjamaah. Seandainya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak." (HR. Bukhari dan Muslim)
Sampai suatu hari, seorang jamaah masjid meninggal dunia.

Orang itu bukan ustaz, bukan tokoh masyarakat, bukan orang kaya.
Tetapi ketika jenazahnya dibawa ke masjid, banyak orang menangis.
"Beliau selalu ada di saf pertama."
"Beliau tidak pernah meninggalkan Subuh berjamaah."
"Beliau yang sering membuka pintu masjid."
Kalimat-kalimat itu terus terdengar.

Pak Hasan berdiri memandangi jenazah sahabatnya.
Tiba-tiba dadanya sesak.
Ia teringat masa-masa ketika mereka berjalan bersama menuju masjid dalam gelapnya Subuh.

Kini sahabatnya telah pergi.
Sedangkan dirinya masih hidup, tetapi justru semakin jauh dari rumah Allah.
Malam itu Pak Hasan tidak bisa tidur.
Ia menangis sendirian.
"Ya Allah, dulu aku begitu mudah melangkah ke masjid. Mengapa sekarang terasa berat?"

Keesokan harinya, saat azan Subuh berkumandang, ia memaksa dirinya bangun.
Kakinya terasa berat.
Namun ia terus berjalan.
Sesampainya di masjid, beberapa jamaah terkejut.
"Alhamdulillah, Pak Hasan datang lagi."

Tidak ada yang tahu bahwa langkah-langkah pendek menuju masjid pagi itu adalah salah satu perjuangan terbesar dalam hidupnya.

Allah berfirman:
"Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." (QS. Al-'Ankabut: 69)

Kisah seperti ini nyata terjadi di banyak tempat.
Ada orang yang dulunya rajin ke masjid, lalu perlahan menjauh bukan karena tidak mampu, tetapi karena merasa aman dengan amal-amal lamanya.
Padahal iman itu naik dan turun.
Masjid yang ditinggalkan hari ini bisa menjadi penyesalan esok hari.
Jika malam ini azan masih terdengar dan kaki kita masih mampu melangkah, jangan tunggu sampai ada air mata di sisi jenazah sahabat untuk menyadari betapa berharganya satu langkah menuju rumah Allah.
Sebab tidak ada seorang pun yang tahu, azan yang mana yang terakhir kali ia dengar, dan salat berjamaah yang mana yang terakhir kali masih sempat ia ikuti.

Minggu, 07 Juni 2026

Enggan Shalat Berjamaah di Masjid, Padahal Dulu Rajin?

Enggan Shalat Berjamaah di Masjid, Padahal Dulu Rajin?

Setan membisikkan:
"Besok saja ke masjid." "Shalat di rumah juga sah." "Kamu capek." "Hujan sedikit saja tidak apa-apa."

Fenomena ini sering terjadi. Seseorang yang dahulu hampir tidak pernah absen dari masjid, tiba-tiba mulai jarang datang. Awalnya hanya sesekali, lalu semakin sering, hingga akhirnya masjid menjadi tempat yang asing baginya.

Allah telah mengingatkan bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang. Karena itu, semangat beribadah juga bisa naik dan turun.

Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya setiap amal memiliki masa semangat, dan setiap masa semangat memiliki masa lemah." (HR. Ahmad)

Beberapa penyebabnya antara lain:
Karena dosa-dosa yang tidak disadari
Dosa memiliki pengaruh besar terhadap hati. Hati yang tadinya ringan melangkah ke masjid menjadi berat.

Allah berfirman:
"Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka." (QS. Al-Muthaffifin: 14)

Imam Hasan Al-Bashri pernah berkata:
"Seseorang terhalang melakukan kebaikan karena dosa yang dilakukannya."

Karena merasa sudah cukup baik
Ini termasuk perangkap yang halus. Ketika seseorang merasa dirinya sudah baik, kebutuhan untuk memperbaiki diri menjadi berkurang.

Allah berfirman:
"Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa." (QS. An-Najm: 32)

Karena terlalu sibuk dengan urusan dunia. 
Pekerjaan, bisnis, pergaulan, media sosial, dan berbagai kesibukan dapat menggeser prioritas.

Allah berfirman:
"Janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah." (QS. Al-Munafiqun: 9)

Karena kehilangan lingkungan yang baik
Teman-teman yang dahulu mengajak ke masjid mungkin sudah pindah, sibuk, atau meninggal dunia.

Rasulullah SAW bersabda:
"Seseorang mengikuti agama teman dekatnya." (HR. Abu Dawud)

Ketika lingkungan berubah, semangat ibadah juga sering ikut berubah.

Karena godaan setan yang tidak pernah berhenti

Setan tidak terlalu sibuk menggoda orang yang sudah jauh dari masjid. Justru orang yang berada di jalan kebaikan sering menjadi sasaran utama.

Allah berfirman:
"Kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka." (QS. Al-A'raf: 17)

Setan membisikkan:
"Besok saja ke masjid." "Shalat di rumah juga sah." "Kamu capek." "Hujan sedikit saja tidak apa-apa."

Lama-kelamaan kebiasaan baik pun hilang.

Dikisahkan ada seorang lelaki tua yang selama puluhan tahun selalu hadir di masjid sebelum azan. Warga kampung mengenalnya sebagai penghuni saf pertama.

Suatu hari ia mulai jarang terlihat. Beberapa bulan kemudian seorang sahabatnya datang menjenguk.

Dengan mata berkaca-kaca lelaki tua itu berkata:
"Awalnya saya hanya sekali meninggalkan jamaah tanpa alasan. Besoknya terasa lebih mudah. Minggu berikutnya semakin mudah. Sekarang saya ingin kembali seperti dulu, tetapi hati saya terasa berat sekali."

Ia lalu menangis dan berkata:
"Jangan pernah meremehkan satu kali meninggalkan masjid tanpa uzur. Karena saya kehilangan kebiasaan yang saya bangun puluhan tahun hanya karena sedikit kelalaian."

Betapa banyak orang yang menyesal ketika usia sudah senja, sementara langkah menuju masjid tidak lagi sekuat dahulu.
L
Sebaliknya, ada pula seorang pedagang yang sempat bertahun-tahun meninggalkan jamaah. Suatu Subuh ia mendengar kabar bahwa sahabat dekatnya meninggal mendadak pada malam hari.

Saat melihat jenazah sahabatnya di masjid, ia berkata dalam hati:
"Kemarin kami masih berbicara. Hari ini ia sudah dibawa ke kubur."

Sejak hari itu ia kembali menjaga jamaah lima waktu. Ketika ditanya apa yang mengubahnya, ia menjawab:
"Saya sadar bahwa kematian tidak menunggu saya menjadi lebih siap."

Rasulullah SAW bersabda:
"Shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan Subuh berjamaah. Seandainya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak." (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, jika suatu hari hati terasa berat menuju masjid, jangan ikuti rasa berat itu. Paksa diri melangkah. Sering kali yang berat bukan kaki kita, melainkan hati yang sedang diuji.

Sebab orang yang masih merasa kehilangan ketika tidak ke masjid adalah orang yang insya Allah masih memiliki cahaya iman dalam hatinya. Dan salah satu tanda Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba adalah ketika Allah mengembalikannya lagi ke saf-saf jamaah yang pernah ia cintai.

Sabtu, 06 Juni 2026

SETAN SELALU MENGGODA ORANG YANG INGIN BAIK

SETAN SELALU MENGGODA ORANG YANG INGIN BAIK

Setan tidak terlalu sibuk mengejar orang yang sudah jauh dari Allah. Yang paling sering menjadi sasaran adalah orang yang sedang berusaha taat, sedang memperbaiki diri, sedang rajin salat, sedang gemar bersedekah, dan sedang mendekat kepada Al-Qur'an.

Allah mengabadikan sumpah Iblis:
"Qala fabima aghwaitani la aq'udanna lahum shirathakal mustaqim."
"Iblis berkata: Karena Engkau telah menghukumku tersesat, pasti aku akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus." (QS. Al-A'raf: 16)

Perhatikan, Iblis tidak berkata, "Aku akan menunggu mereka di tempat maksiat." Tetapi ia berkata, "Aku akan menghalangi mereka di jalan yang lurus."
Kisah nyata sering terjadi di sekitar kita.

Ada seseorang yang bertahun-tahun tidak pernah ke masjid. Hidupnya biasa saja. Namun ketika ia mulai rajin salat berjamaah, tiba-tiba muncul berbagai gangguan. Kadang malas yang luar biasa, kadang ada urusan mendadak saat azan berkumandang, kadang ada bisikan, "Besok saja lebih rajin."

Ada pula seorang wanita yang mulai berhijab syar'i. Sebelumnya hidupnya tenang. Ketika mulai menutup aurat dengan baik, ia justru mendapat ejekan dan cibiran. Hatinya sempat goyah.

Padahal itu salah satu cara setan agar ia kembali mundur.
Bahkan orang yang rajin bersedekah pun tidak luput dari godaan.
Saat hendak membantu fakir miskin, tiba-tiba muncul bisikan:
"Kalau uangmu habis bagaimana?"
"Anakmu nanti makan apa?"
"Jangan dulu sedekah, tunggu kaya."

Padahal Allah berfirman:
"Asy-syaithanu ya'idukumul faqra wa ya'murukum bil fahsya'. Wallahu ya'idukum maghfiratan minhu wa fadhlan."
"Setan menjanjikan kemiskinan kepadamu dan menyuruh berbuat kejahatan, sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu."
(QS. Al-Baqarah: 268)

Seorang ulama berkata, jika engkau tidak pernah diganggu setan, periksa kembali arah perjalananmu. Sebab pencuri tidak mengejar rumah yang kosong.

Ketika seseorang mulai bangun tahajud, setan membuatnya mengantuk.
Ketika seseorang mulai berbakti kepada orang tua, setan membisikkan rasa kesal.

Ketika seseorang mulai menjaga lisan, setan memancing amarah.
Ketika seseorang mulai gemar berzikir, setan membuatnya sibuk dengan hal-hal yang tidak penting.
Namun kabar baiknya, semakin besar godaan yang berhasil dilawan, semakin tinggi pula derajat di sisi Allah.

Karena itu jangan heran jika setelah menjadi lebih baik, ujian terasa lebih berat. Jangan menganggap itu tanda Allah meninggalkan kita. Justru sering kali itu tanda bahwa kita sedang berada di jalan yang benar dan sedang diperjuangkan untuk dipalingkan.

Malam ini, jika hati terasa berat untuk beribadah, jangan menyerah.
Boleh jadi setan sedang bekerja keras karena ia melihat Anda sedang melangkah menuju kebaikan yang lebih besar.

"Innasy-syaithana lakum 'aduwwun fattakhidzuhu 'aduwwa."
"Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuhmu."
(QS. Fatir: 6)

Semoga Allah meneguhkan langkah kita di atas jalan yang lurus, menjaga hati kita dari tipu daya setan, dan mengakhiri hidup kita dalam husnul khatimah. Aamiin.