Laqadja akum rasulum


web stats

Sabtu, 16 Mei 2026

Perintah Istighfar dari Langit

Perintah Istighfar dari Langit

Kadang yang membuat hati sempit bukan karena kurang harta, tetapi karena kurang istighfar.
Banyak orang kuat menghadapi hidup setelah lisannya basah dengan dzikir istighfar. 

Allah sendiri memerintahkan hamba-Nya untuk beristighfar:
“Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. An-Nisa: 106)
Dan Allah juga berfirman:
“Maka aku berkata kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun.”
(QS. Nuh: 10)
Lalu apa balasan bagi orang yang rajin istighfar?
Allah lanjutkan:
“Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.”
(QS. Nuh: 11–12)

Betapa banyak orang yang awalnya hidupnya terasa buntu, rezeki seret, rumah tangga sering bertengkar, hati gelisah, lalu perlahan berubah setelah membiasakan istighfar setiap hari.

Ada yang usahanya mulai terbuka.
Ada yang anaknya berubah menjadi lebih baik.
Ada yang hutangnya perlahan lunas.
Ada yang hatinya menjadi tenang walau masalah belum selesai seluruhnya.
Karena istighfar bukan hanya menghapus dosa, tetapi juga mengundang pertolongan Allah.

Jangan tunggu menjadi orang suci dulu untuk beristighfar.
Justru karena kita banyak salah, maka kita sangat beristighfar.

Perbanyaklah:
“Astaghfirullahal ‘azhim wa atubu ilaih.”
“Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung dan aku bertaubat kepada-Nya.”

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, melapangkan rezeki kita, menjaga keluarga kita, dan menutup hidup kita dengan husnul khatimah. Aamiin ya rabbal aalamin. 

Ayat Istighfar

Nuh: 10–12 (agar Istighfar) 

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝١٠
يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ۝١١
وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا ۝١٢


Faqultus taghfirū rabbakum innahū kāna ghaffā rā.

Yursilis-samā ’a a'laikum midrā rā.
Wa yumdid kum bi-amwā lin wa banī na wa yaj‘al lakum jannā tiwwa yaj‘al lakum anhā rā.

Terjemahan:
“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun.’
Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu,
dan Dia akan memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.”

Silaturahmi Yang Sesungguhnya

Silaturahmi Yang Sesungguhnya

Kadang silaturahmi itu adalah menjawab telepon orang tua dengan suara yang lembut, meski kita sedang sibuk. Sebab bagi ayah dan ibu, bukan panjangnya percakapan yang paling mereka tunggu, tetapi rasa bahwa anaknya masih peduli dan tidak melupakan mereka.

Kadang silaturahmi itu adalah melangkahkan kaki mengunjungi saudara yang sedang sakit. Duduk sebentar di sampingnya, mendengarkan keluhannya, lalu mendoakannya dengan tulus.

Bisa jadi kunjungan sederhana itu lebih berharga daripada banyak bantuan yang mahal.

Kadang silaturahmi itu adalah belajar memaafkan keluarga sendiri. Menahan ego, mengubur gengsi, lalu memilih berdamai demi menjaga hubungan yang Allah cintai. 

Tidak mudah memang, apalagi jika hati pernah terluka. Tetapi orang yang mau menyambung kembali hubungan yang retak adalah orang yang sedang meninggikan derajatnya di hadapan Allah.

Dan kadang silaturahmi itu hanyalah menyapa lebih dahulu. Mengirim pesan singkat, menanyakan kabar, atau tersenyum kepada saudara yang sudah lama menjauh. 

Mungkin kita merasa, “Mengapa harus saya dulu?” Namun justru di situlah kemuliaannya. Karena yang paling mulia bukan yang menunggu disapa, tetapi yang mau memulai kebaikan.

Hubungan keluarga tidak selalu membutuhkan harta yang banyak. Kadang yang paling dirindukan hanyalah perhatian, sapaan, dan rasa ingin tetap saling memiliki.

Jangan sampai rumah kita ramai, tetapi hati antar keluarga terasa jauh. Jangan sampai kita mudah berbicara dengan orang lain, tetapi sulit berbicara lembut kepada keluarga sendiri.

Sebab silaturahmi bukan hanya tentang menjaga hubungan dengan manusia, tetapi juga jalan datangnya rahmat, ketenangan, dan keberkahan dari Allah.

Jumat, 15 Mei 2026

Rumah yang Terus Berqurban

Rumah yang Terus Berqurban

Ada keluarga sederhana. 
Tetapi selalu menjaga satu hal: setiap tahun berqurban, dan zakat tidak pernah ditunda.

Dia ngisi celengan untuk qurban Rp 8.000 tiap hari. 
Sehingga tiap menjelang hari qurban uangnya terkumpul 2.800.000 sehingga cukup untuk beli seekor kambing. 

Tahun demi tahun berlalu.
Rumah mereka memang tidak mewah. Tetapi anak-anaknya tumbuh sukses, keluarga damai, rezeki terasa cukup, dan hidup penuh ketenangan.

Sementara ada yang hartanya banyak, tetapi rumahnya penuh pertengkaran dan anak-anaknya jauh dari kebaikan.
Karena keberkahan tidak hanya diukur dari banyaknya uang.

Kadang keberkahan itu berupa:
anak yang shalih, hati yang tenang, keluarga yang rukun,
dan rezeki yang selalu cukup saat dibutuhkan.

Allah berfirman:
“Apapun yang kalian infakkan, Allah akan menggantinya.” (QS. Saba’: 39)

Jangan tunggu kaya baru berqurban dan bersedekah.
Karena banyak orang justru dibukakan pintu kecukupan setelah mereka belajar memberi.

CARA PEMBAGIAN DAGING QURBAN

CARA PEMBAGIAN DAGING QURBAN

Pembagian daging qurban memang termasuk perkara yang sering menimbulkan pertanyaan di masyarakat, terutama tentang pembagian tulang, bagian daging, hak orang yang berqurban, dan pemberian kepada tukang jagal. 

Dalam syariat, yang terpenting adalah tercapainya keadilan, kemaslahatan, dan tidak keluar dari ketentuan agama.

Allah Ta‘ala berfirman:
﴿فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ﴾
“Makanlah sebagian darinya dan berikanlah makan kepada orang yang sengsara lagi fakir.” (QS. Al-Hajj: 28)

Pada ayat lain Allah berfirman:
﴿فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ﴾
“Makanlah sebagian darinya dan berilah makan orang yang rela dengan apa yang ada padanya dan orang yang meminta.” (QS. Al-Hajj: 36)

Ayat ini menjadi dasar bahwa daging qurban:
boleh dimakan oleh orang yang berqurban,
boleh dihadiahkan,
dan disedekahkan kepada fakir miskin.

Para ulama kemudian menjelaskan pembagiannya secara rinci.

Dalam hadis riwayat Ali bin Abi Thalib, beliau berkata:
“Nabi SAW memerintahkanku mengurus unta qurban beliau, membagikan daging, kulit, dan pelananya kepada orang miskin, dan beliau melarangku memberikan sesuatu darinya kepada tukang jagal sebagai upah.” (HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim)

Dari hadis ini para ulama mengambil beberapa hukum penting.

Pertama, daging qurban boleh dibagikan seluruhnya kepada masyarakat dan fakir miskin.

Kedua, orang yang berqurban boleh mengambil sebagian untuk dirinya dan keluarganya.

Ketiga, tukang jagal tidak boleh dibayar dari bagian qurban sebagai upah kerja. Upahnya harus dari uang atau harta lain.

Namun, apabila setelah diberi upah, tukang jagal diberi daging qurban sebagai hadiah atau sedekah, maka itu boleh. 

Jadi praktik yang banyak dilakukan sekarang:
tukang jagal dibayar jasa potongnya, lalu diberi satu kupon daging tambahan sebagai hadiah, itu dibolehkan menurut mayoritas ulama.

Tentang pembagian sepertiga untuk yang berqurban, sepertiga hadiah, dan sepertiga sedekah, ini memang dikenal dalam kitab-kitab fikih. 

Namun para ulama menjelaskan bahwa pembagian itu bukan kewajiban mutlak, melainkan anjuran agar semua mendapatkan manfaat.

Mazhab Imam Nawawi menjelaskan:
sunnahnya sebagian dimakan,
sebagian dihadiahkan,
sebagian disedekahkan.
Tetapi jika kondisi masyarakat lebih membutuhkan, maka boleh mayoritas bahkan hampir seluruhnya dibagikan kepada fakir miskin.


Tentang pembagian dengan kupon dan timbangan yang sama, itu termasuk cara modern untuk menjaga keadilan dan menghindari perselisihan. 

Hal seperti ini masuk dalam kaidah maslahat dan tidak bertentangan dengan syariat selama:
tidak ada jual beli bagian qurban, tidak ada kezaliman,
dan pembagian dilakukan dengan niat ibadah.

Adapun masalah tulang, memang hewan qurban tidak semuanya berupa daging murni. Ada tulang, lemak, hati, limpa, dan bagian lain. Karena itu para ulama tidak mensyaratkan setiap paket harus identik 100 persen. Yang penting adalah keadilan secara umum.

Dalam praktiknya, panitia boleh:
mencampur daging bertulang dan tanpa tulang secara merata,
menimbang dengan perkiraan yang adil,
atau membagi tulang secara terpisah.
Karena jika dipaksakan sama persis, hampir mustahil dilakukan.

Ijmak ulama juga menetapkan bahwa:
daging qurban tidak boleh dijual, kulit dan bagian lainnya tidak boleh dijadikan upah jagal, namun boleh dimanfaatkan atau disedekahkan.

Sebagian masyarakat kadang merasa kecewa jika mendapat tulang lebih banyak tapi tak berdaging. Karena itu panitia dianjurkan amanah dan bijaksana. 

Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim)

Maka semangat qurban bukan sekadar pembagian kilogram daging, tetapi:
ibadah, pengorbanan, berbagi,
dan membahagiakan kaum muslimin.

Karena itu sistem pembagian dengan kupon, timbangan sama, tambahan hadiah untuk tukang jagal, serta pembagian tulang secara merata termasuk praktik yang dibolehkan dan sesuai dengan ruh syariat apabila dilakukan dengan jujur dan adil.

Jangan Biarkan Jumat Berlalu Tanpa Air Mata Taubat

Jangan Biarkan Jumat Berlalu Tanpa Air Mata Taubat

Matahari Jumat mulai tenggelam.
Sebagian orang sibuk menghitung keuntungan dunia,
tetapi sedikit yang duduk menghitung dosa-dosanya sendiri.
Padahal boleh jadi…
ini Jumat terakhir dalam hidup kita.

Ada seorang lelaki tua di sebuah kampung.
Setiap Jumat petang ia duduk di teras masjid setelah Asar.
Tasbihnya berputar pelan. Air matanya sering jatuh diam-diam.
Seorang anak muda pernah bertanya:
“Pak, mengapa setiap Jumat bapak selalu menangis?”

Orang tua itu menjawab lirih:
“Aku takut Jumat ini terakhir bagiku.
Aku takut datang kepada Allah sementara salatku masih bolong, lisanku masih menyakiti orang, dan dosaku belum selesai kuistighfari.”

Tidak lama kemudian, lelaki tua itu benar-benar wafat pada malam Jumat berikutnya.
Warga kampung berkata, malam terakhir sebelum wafat ia masih terlihat duduk di masjid menunggu Isya sambil membaca istighfar.

Betapa banyak manusia tertawa di penghujung Jumat,
tetapi lupa bahwa malaikat sedang menutup catatan amal pekanannya.

Allah berfirman dalam QS. An-Nur ayat 31:
“Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung.”

Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya pada hari Jumat terdapat satu waktu, tidaklah seorang muslim memohon kebaikan kepada Allah bertepatan dengan waktu itu melainkan Allah akan memberinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka sebelum Jumat pergi:
Istighfarilah dosa-dosa kita.
Maafkan orang yang pernah menyakiti kita.
Doakan orang tua yang telah tiada.
Perbanyak shalawat kepada Nabi saw.

“Ya Allah, jadikan penutup amal kami sebagai amal terbaik, dan jadikan hari terbaik kami adalah hari saat bertemu dengan-Mu.”

Kamis, 14 Mei 2026

Jangan Sampai Jumat Berlalu, Tetapi Hati Kita Tetap Kosong


Jangan Sampai Jumat Berlalu, Tetapi Hati Kita Tetap Kosong

Ada orang yang rumahnya sederhana, pakaiannya biasa, kendaraannya pun mungkin tak mewah. Tetapi setiap Jumat, langkahnya selalu lebih dulu menuju masjid. Wajahnya tenang, lisannya lembut, dan hidupnya terasa penuh keberkahan.

Sebaliknya, ada yang hartanya melimpah, jabatan tinggi, dikenal banyak orang, tetapi azan Jumat terasa seperti suara biasa. Tak ada getaran di hati. Tak ada rindu menuju rumah Allah.

Padahal boleh jadi, keberkahan hidup seseorang bukan karena banyaknya harta, tetapi karena ia memuliakan hari Jumat.

Rasulullah SAW bersabda:
"Sebaik-baik hari di mana matahari terbit adalah hari Jumat." (HR. Muslim no. 854)

Hari Jumat bukan sekadar pergantian hari. Ia adalah hari pengampunan, hari doa-doa diangkat, dan hari di mana hati yang keras bisa kembali lembut jika mau mendekat kepada Allah.

Ada kisah seorang lelaki tua penjual sayur di kampung kecil. Setiap Jumat ia selalu menutup dagangannya lebih awal. Ketika ditanya mengapa, ia menjawab:
“Rezeki bukan hanya soal uang. Kadang rezeki terbesar adalah hati yang masih mau sujud.”

Tahun demi tahun berlalu. Dagangannya memang tidak membuatnya kaya raya, tetapi anak-anaknya berhasil, keluarganya damai, dan wajahnya selalu teduh. Banyak orang yang lebih kaya darinya justru hidup penuh pertengkaran dan kegelisahan.
Keberkahan itu nyata.

Maka di Jumat yang suci ini:
Perbanyak shalawat.
Jangan tinggalkan salat berjamaah.
Bacalah Surah Al-Kahfi.
Ringankan sedekah walau sedikit.
Dan jangan lupa mendoakan orang tua, baik yang masih hidup maupun yang telah kembali kepada Allah.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (QS. Al-Jumu’ah: 9)

Semoga Jumat ini menjadi pembuka segala kebaikan, penghapus kesedihan, pelapang rezeki, dan penguat iman kita semua. Aamiin.