Laqadja akum rasulum


web stats

Rabu, 27 Mei 2026

KEBAHAGIAAN SEJATI

KEBAHAGIAAN SEJATI

Bahagia yang hakiki dimulai dari keberkahan hidup. Dan keberkahan itu lahir dari: • makanan yang halal, • ketaatan kepada Allah, • bakti kepada orang tua, • serta taat kepada pemimpin dalam perkara yang ma’ruf.
Pertama, makanan yang halal.

Allah berfirman:
“Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik.” (QS. Al-Baqarah: 168)

Makanan halal bukan sekadar soal daging atau sembelihan, tetapi juga: • halal cara mendapatkannya, • halal usahanya, • halal dari penipuan, • halal dari korupsi, • halal dari merampas hak orang lain.

Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim)

Para ulama berijmak bahwa harta haram menjadi penghalang keberkahan doa dan ibadah. 

Makanan haram dapat mengeraskan hati dan menjauhkan seorang hamba dari cahaya ketaatan.

Ada kisah nyata yang sering diceritakan para ulama: seorang pedagang kecil di kampung hidup sederhana. Dagangannya sedikit, tetapi ia sangat menjaga kehalalan. Bahkan jika timbangan lebih, ia rela rugi daripada memakan hak orang lain. Bertahun-tahun kemudian anak-anaknya tumbuh menjadi anak saleh, rumahnya damai, dan wajahnya selalu tenang.

Sementara ada orang kaya yang hartanya melimpah, tetapi berasal dari suap dan kezaliman. Rumahnya besar, namun anak-anaknya rusak dan hidupnya penuh ketakutan.

Kedua, taat kepada Allah.
Allah berfirman:
“Barangsiapa beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97)

Perhatikan: Allah tidak menjanjikan hidup tanpa ujian, tetapi Allah menjanjikan “hayatan thayyibah” — kehidupan yang baik dan penuh ketenangan.

Orang yang menjaga shalat, dzikir, dan hubungan dengan Allah biasanya lebih kuat menghadapi masalah. Hatinya tidak mudah hancur oleh dunia.

Ketiga, berbakti kepada orang tua.
Allah menggandengkan perintah menyembah-Nya dengan berbakti kepada orang tua:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isra’: 23)

Rasulullah SAW bersabda:
“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi)

Para ulama sepakat bahwa durhaka kepada orang tua termasuk dosa besar.

Banyak kisah nyata memperlihatkan: anak yang dahulu miskin tetapi sangat hormat kepada ibunya, mencium tangan ayahnya setiap pagi, akhirnya hidupnya dibukakan jalan oleh Allah.

Sebaliknya ada orang pintar dan sukses, tetapi hidupnya penuh masalah karena menyakiti hati orang tuanya.

Keempat, taat kepada pemimpin dalam perkara yang baik.

Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian.” (QS. An-Nisa’: 59)

Ahlus Sunnah wal Jamaah berijmak tentang wajibnya menaati pemimpin muslim dalam perkara yang ma’ruf, selama tidak diperintah bermaksiat kepada Allah.

Rasulullah SAW bersabda:
“Wajib atas seorang muslim mendengar dan taat pada perkara yang ia suka maupun tidak suka, selama tidak diperintah bermaksiat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mengapa ini penting?
Karena masyarakat yang dipenuhi kebencian, fitnah, dan pemberontakan hati akan kehilangan ketenangan sosial. Islam mengajarkan adab, nasihat yang baik, dan menjaga persatuan.

Bukan berarti pemimpin selalu sempurna. Tetapi Islam mengajarkan agar umat tidak mudah memprovokasi kebencian yang merusak persaudaraan dan keamanan.

Maka kebahagiaan sejati itu bukan sekadar tertawa. Bahagia sejati adalah: • hati yang tenang, • rumah yang penuh berkah, • anak-anak yang saleh, • tidur yang nyenyak, • dan hidup yang dekat dengan Allah.

Dan semua itu sering dimulai dari hal-hal yang tampak sederhana: makanan halal, shalat yang dijaga, bakti kepada orang tua, serta hidup dalam ketaatan dan adab yang baik.

Setelah gema takbir Idul Adha mulai perlahan reda,

Setelah gema takbir Idul Adha mulai perlahan reda,

Sesungguhnya ada pertanyaan besar yang tersisa di dalam hati:
“Apakah yang sudah kita sembelih hanya hewan qurban… atau juga kesombongan, dosa, dan kerasnya hati kita?”
Banyak orang mampu membeli sapi atau kambing, tetapi belum mampu menyembelih: • amarahnya, • lisannya yang menyakitkan, • sifat pelitnya, • dendamnya, • dan kesibukan dunianya yang melupakan Allah.
Padahal hakikat qurban bukan sekadar darah dan daging. 

Allah berfirman:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)

Maka yang paling pantas setelah hari raya qurban adalah:
• hati yang lebih lembut, • shalat yang lebih khusyuk, • sedekah yang lebih ringan, • lisan yang lebih santun, • dan hidup yang lebih dekat kepada Allah.
Jangan sampai setelah Idul Adha: takbir berhenti, dzikir berhenti, sedekah berhenti, lalu hati kembali keras seperti sebelum qurban.
Para ulama dahulu menangis setelah amal besar selesai. Mereka takut ibadahnya tidak diterima.

Allah berfirman:
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut karena mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60)

Maka setelah hari raya qurban, yang paling pantas adalah: bersyukur karena masih diberi umur, memohon agar amal diterima, dan menjaga semangat ibadah agar tidak hanya hidup di hari raya.
Karena tidak sedikit orang yang tahun lalu masih bertakbir… namun tahun ini sudah berada di alam kubur.
Semoga qurban kita menjadi jalan penghapus dosa, pelembut hati, pembuka rezeki, dan pemberat timbangan amal di akhirat kelak. Aamiin.

Selasa, 26 Mei 2026

SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1447 HIJRIAH

SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1447 HIJRIAH

Semoga semangat pengorbanan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan keikhlasan Nabi Ismail ‘alaihis salam tumbuh dalam hati kita.
Semoga Allah menerima amal ibadah, qurban, doa, dan seluruh kebaikan kita.

Di hari yang penuh berkah ini, mari sucikan hati, eratkan silaturahmi, dan saling memaafkan.

Semoga rumah-rumah kita dipenuhi keberkahan, kesehatan, rezeki yang halal, serta keluarga yang selalu dalam lindungan Allah.

Allah Ta’ala berfirman:
“Daging dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)

Taqabbalallahu minna wa minkum.
Mohon maaf lahir dan batin.
Selamat merayakan Idul Adha 1447 H.


IMILIANTO dan KELUARGA

MENJELANG MALAM 10 Zulhijah

MENJELANG MALAM 10 Zulhijah

Malam ketika jutaan takbir mulai menggema…
Langit mulai gelap.
Angin malam terasa berbeda.
Di rumah-rumah orang beriman, suara takbir mulai perlahan terdengar:
Allahu Akbar… Allahu Akbar… Laa ilaaha illallah…

Besok adalah hari besar.
Hari ketika Nabi Ibrahim ‘alaihis salam membuktikan cinta tertinggi kepada Allah.
Hari ketika Nabi Ismail ‘alaihis salam menunjukkan kepatuhan yang luar biasa.

Dan hari ketika kaum muslimin menyembelih ego, kesombongan, dan cinta dunia melalui ibadah qurban.

Allah berfirman:
“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.”
(QS. Al-Kautsar: 2)

Malam ini bukan sekadar pergantian tanggal.
Ini malam untuk membersihkan hati.
Maafkan yang pernah menyakiti.
Doakan anak-anak dengan penuh ridho.
Lembutkan lisan kepada pasangan.
Karena boleh jadi, esok Allah membuka pintu rahmat yang besar bagi rumah yang penuh takbir dan kasih sayang.

Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain mengalirkan darah qurban.”
(HR. Tirmidzi)

Bagi yang sudah berqurban, semoga Allah menerima dengan kemuliaan.
Bagi yang belum mampu, jangan bersedih.
Niat yang tulus, doa yang sungguh-sungguh, dan usaha menabung untuk qurban tahun depan juga dicatat sebagai jalan menuju kebaikan.

Malam ini…
Perbanyak takbir.
Perbanyak istighfar.
Perbanyak doa untuk orang tua yang telah tiada.
Dan mintalah kepada Allah agar keluarga kita dipenuhi keberkahan serta dijauhkan dari musibah dunia dan akhirat.

Karena ada hati yang kembali tenang hanya karena mendengar takbir di malam 10 Zulhijah.
Allahu Akbar… Allahu Akbar… Walillahil hamd.

untuk Yumna

Untuk Yumna

Untuk anak kecil yang sering terkejut saat tidur atau ngigau, para ulama menganjurkan memperbanyak dzikir perlindungan dan ketenangan sebelum tidur. 

Dzikir ini bukan sekadar bacaan, tetapi juga menghadirkan suasana rumah yang penuh rahmat dan ketenangan.

Dzikir penguat yang sangat baik dibaca dekat Yumna sebelum tidur:

Bismillahil ladzi laa yadhurru ma‘asmihi syai’un fil ardhi wa laa fis samaa’i wa huwas samii‘ul ‘aliim. 3X
Artinya:
“Dengan nama Allah yang bersama nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang dapat membahayakan di bumi maupun di langit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa membacanya tiga kali pada pagi dan petang, maka tidak ada sesuatu yang membahayakannya.”
(HR. Abu Dawud no. 5088)
Bacakan 3 kali sambil mengusap kepala Yumna dengan lembut.

Lalu dzikir yang sangat menenangkan hati anak:

Hasbiyallaahu laa ilaaha illa huwa, ‘alaihi tawakkaltu wa huwa rabbul ‘arsyil ‘azhiim 7X
Artinya:
“Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada Tuhan selain Dia. Kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia Tuhan pemilik Arsy yang agung.”


Dan ini sangat baik untuk perlindungan anak kecil:

U‘iidzuhaa bikalimaatillaahit taammah min kulli syaitaanin wa haammah wa min kulli ‘ainin laammah.
Artinya:
“Aku memohon perlindungan untuknya dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan, binatang berbisa, dan pandangan mata yang buruk.”

Doa ini dahulu dibaca Nabi Ibrahim untuk Ismail dan Ishaq, dan Rasulullah SAW juga membacakannya untuk Hasan dan Husain.
(HR. Bukhari no. 3371)

Jika memungkinkan:
putarkan murattal Surah Ar-Rahman atau Al-Mulk dengan suara lembut,
biasakan lampu redup,
jangan biarkan anak tidur sambil menangis,
dan usahakan orang tua atau kakek-nenek dalam keadaan berwudhu saat menidurkannya.

Karena anak kecil sering menangkap ketenangan dari orang dewasa di sekitarnya. Jika rumah dipenuhi dzikir, biasanya tidur anak pun menjadi lebih teduh.

Semoga Yumna Rukaya Khairunisa tumbuh sehat, tenang jiwanya, kuat hafalannya, dan dijaga Allah siang malam. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.

Senin, 25 Mei 2026

Keutamaan dan Anjuran pada Hari Arafah

Keutamaan dan Anjuran pada Hari Arafah

Hari Arafah adalah salah satu hari paling agung dalam Islam. Ia jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah, sehari sebelum Idul Adha. Bagi jamaah haji, inilah puncak ibadah haji. Sedangkan bagi kaum muslimin yang tidak berhaji, Hari Arafah adalah kesempatan emas untuk memperbanyak ibadah, doa, dzikir, dan taubat.
Allah ﷻ berfirman:
“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.”
(QS. Al-Fajr: 1–2)
Sebagian besar ulama menafsirkan “malam yang sepuluh” adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah, termasuk Hari Arafah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan hamba dari api neraka selain Hari Arafah.”
(HR. Muslim no. 1348)
Bayangkan…
Pada hari itu, jutaan manusia menangis di Padang Arafah. Langit dipenuhi doa-doa. Malaikat turun membawa rahmat. Dan Allah membanggakan hamba-hamba-Nya di hadapan para malaikat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah membanggakan ahli Arafah di hadapan penduduk langit.”
(HR. Ahmad)
Amalan yang sangat dianjurkan pada Hari Arafah
Pertama, berpuasa Arafah bagi yang tidak berhaji.
Puasa ini sangat luar biasa keutamaannya. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Puasa pada hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”
(HR. Muslim no. 1162)
Betapa besarnya rahmat Allah. Hanya satu hari berpuasa, dosa dua tahun diampuni.
Kedua, memperbanyak doa.
Hari Arafah disebut hari mustajab. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik doa adalah doa pada Hari Arafah.”
(HR. Tirmidzi no. 3585)
Perbanyaklah berdoa untuk:
ampunan dosa,
keberkahan keluarga,
anak yang saleh,
rezeki halal,
kesehatan,
husnul khatimah,
dan keselamatan akhirat.
Jangan malu menangis di hadapan Allah pada hari itu.
Ketiga, memperbanyak dzikir dan takbir.
Rasulullah ﷺ menganjurkan memperbanyak:
tahmid,
tahlil,
takbir,
dan tasbih.
Dzikir yang sangat dianjurkan pada Hari Arafah:
“Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir.”
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik dzikir yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan pada Hari Arafah adalah…” lalu beliau membaca dzikir tersebut.
(HR. Tirmidzi)
Keempat, memperbanyak istighfar dan taubat.
Bisa jadi selama ini hati terasa sempit, rezeki terasa berat, rumah tangga sering gelisah, atau ibadah terasa hambar karena dosa-dosa yang belum ditaubati.
Hari Arafah adalah momentum membersihkan jiwa.
Ada orang yang bertahun-tahun hidup dalam kesulitan, lalu pada Hari Arafah ia benar-benar menangis memohon ampun kepada Allah. Setelah itu hidupnya berubah. Hatinya lebih tenang, ibadahnya lebih nikmat, dan pintu rezekinya terbuka dari arah yang tak disangka.
Karena Allah tidak pernah menolak hamba yang datang dengan hati yang hancur dan penuh penyesalan.
Kelima, memperbanyak sedekah dan amal kebaikan.
Sekecil apa pun amal pada hari mulia akan bernilai besar di sisi Allah. Memberi makan orang, membantu tetangga, menyenangkan keluarga, bersedekah untuk masjid, atau mengirim pahala doa untuk orang tua yang telah wafat — semuanya menjadi amal yang sangat bernilai.
Jangan biarkan Hari Arafah berlalu hanya dengan urusan dunia.
Matikan sejenak kesibukan yang tidak penting. Dekatkan diri kepada Allah. Karena kita tidak tahu, mungkin inilah Hari Arafah terakhir dalam hidup kita.
Doa Renungan Hari Arafah
“Ya Allah…
Jika selama ini kami terlalu banyak dosa, maka Hari Arafah ini jadikanlah kami hamba yang Engkau ampuni.
Jika hati kami keras, lembutkanlah dengan dzikir kepada-Mu.
Jika hidup kami sempit, lapangkanlah dengan rahmat-Mu.
Ampuni kedua orang tua kami, sayangi keluarga kami, dan wafatkan kami dalam keadaan husnul khatimah.”
Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.

JANGAN BIARKAN MALAM DATANG TANPA TAUBAT

JANGAN BIARKAN MALAM DATANG TANPA TAUBAT

Langit mulai gelap.
Suara kendaraan perlahan berkurang.
Burung kembali ke sarangnya.
Dan manusia… satu demi satu mulai masuk ke rumahnya.

Namun ada satu pertanyaan yang jarang kita tanyakan pada diri sendiri:
“Kalau malam ini Allah memanggilku pulang, apakah aku sudah siap?”
Menjelang Isya adalah waktu yang sering dilalaikan.
Padahal banyak orang yang siangnya masih sehat, sorenya masih tertawa, ternyata malamnya telah terbujur kaku.

Allah berfirman:
“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah wahai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung.”
(QS. An-Nur: 31)

Maka sebelum Isya datang:
maafkan orang lain,
hentikan pertengkaran,
bersihkan hati,
perbanyak istighfar,
dan jangan tinggalkan shalat berjamaah.

Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa melaksanakan shalat Isya berjamaah maka seakan-akan ia shalat setengah malam.”
(HR. Muslim)

Betapa banyak hati yang keras kembali lembut hanya karena rutin melangkah ke masjid saat Isya.

Betapa banyak rumah tangga yang mulai tenang setelah ayahnya menjaga shalat berjamaah.
Dan betapa banyak rezeki yang terasa berkah ketika malam dibuka dengan sujud, bukan dengan maksiat.
Ada kisah seorang lelaki tua yang selalu berjalan perlahan menuju masjid menjelang Isya.

Ketika ditanya kenapa masih bersusah payah datang ke masjid dalam keadaan lemah, ia menjawab:
“Aku takut jika malam ini adalah malam terakhirku, lalu Allah memanggilku saat aku sedang menuju rumah-Nya.”

Kalimat itu sederhana, tetapi mengguncang hati.
Malam akan segera tiba.
Mari tutup hari ini dengan wudhu, istighfar, dzikir, dan langkah menuju masjid.
Karena tidak semua orang yang melihat gelapnya malam… masih diberi kesempatan melihat cahaya Subuh.