Laqadja akum rasulum


web stats

Selasa, 03 Februari 2026

Subuh Adalah Titik Balik

Subuh Adalah Titik Balik

Tidak semua orang dibangunkan Subuh.
Yang terjaga bukan yang paling kuat, tapi yang masih Allah beri perhatian.

Allah berfirman:
“Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”
(QS. Al-Ahzab: 42)

Subuh adalah garis pemisah:
antara yang menunda hidup
dan yang berani memulainya.

Rasulullah SAW bersabda:
“Dua rakaat sholat Subuh lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim)

Artinya, siapa yang menjaga Subuh, Allah jaga hidupnya—
meski prosesnya berat,
meski hasilnya belum terlihat.


Kisah nyata.
Seorang pedagang kecil memaksa dirinya bangun Subuh bertahun-tahun. Dagangannya biasa, hidupnya sederhana. Tapi satu hal berbeda: rezekinya tenang, keluarganya rukun, dan hatinya kuat. Ia tidak viral, tapi hidupnya selamat.

Itulah berkah Subuh— tidak selalu kaya, tapi selalu cukup.
Jika Subuh ini kamu masih berdiri, jangan sia-siakan.

Hari besar dimulai dari Subuh yang dijaga. Bangkit.
Tegakkan sholat. Luruskan niat.

Dan biarkan Allah yang mengatur sisanya.
Alhamdulillah 

#MotivasiSubuh
#JagaSubuh
#BerkahPagi
#AllahMahaMenepati
#FbPro #Fyp

Ketika Malam Menjadi Saksi Keajaiban

Ketika Malam Menjadi Saksi Keajaiban


Saat manusia terlelap,
langit justru sibuk mencatat doa. Malam bukan hanya gelap, ia adalah waktu paling jujur ketika topeng dilepas
dan hati berbicara apa adanya.

Ada orang yang siang hari terlihat kuat, namun malamnya basah oleh air mata.

Ada yang siangnya tersenyum,
tapi malamnya berjuang antara harap dan takut.
Dan di saat seperti itulah,
Allah membuka pintu yang jarang diketuk manusia.

Rasulullah SAW bersabda:
“Tuhan kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, lalu berfirman:
Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, Aku beri. Siapa yang memohon ampun, Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ada kisah seorang lelaki biasa, penuh hutang dan tekanan hidup, memutuskan bangun setiap malam. Bukan untuk mengeluh pada manusia, tapi bersujud lama dalam sunyi. 

Ia tidak langsung kaya, tapi satu per satu pintu solusi terbuka. Yang menakjubkan, bukan hanya masalahnya yang terurai— Tapi hatinya lebih dulu ditenangkan.

Malam itu saksi,
bahwa keajaiban tidak selalu berupa uang dan jabatan,
kadang ia hadir sebagai ketenangan yang membuat kita kuat menghadapi esok hari.

Jika malam ini bebanmu masih berat, jangan bawa ke media sosial, bawalah ke sajadah.

Karena malam adalah waktu
ketika langit paling dekat
dan doa paling cepat sampai.
Selamat bermunajat.

Semoga malam ini menjadi titik balik hidup kita.
Alhamdulillah 
Assalamu’alaikum.

#RenunganMalam
#KeajaibanDoa
#SepertigaMalam
#AllahMahaDekat
#FbPro #Fyp

Sore Mengajarkan Arti Menunggu

Sore Mengajarkan Arti Menunggu

Sore itu, seorang ayah duduk lama di teras rumahnya.
Usianya tak muda lagi, pekerjaannya serabutan.
Sudah berkali-kali ia pulang sore dengan tangan kosong,
namun lisannya tak pernah lepas dari istighfar.

Setiap senja, ia menunggu anaknya pulang membawa kabar.
Bukan kabar besar,
cukup satu kalimat: “Ayah, saya diterima kerja.”

Sudah puluhan lamaran dikirim.
Penolakan datang silih berganti.

Dan setiap sore, sang ayah hanya berkata,
“Tidak apa-apa, Nak. Rezeki tidak pernah salah alamat.”

Suatu hari, menjelang Magrib, ponsel anak itu berdering.
Ia diterima bekerja—
bukan di tempat yang ia kejar mati-matian,
tetapi di tempat yang lebih dekat, lebih halal, dan lebih menenangkan hati.

Ayahnya menangis pelan.
Bukan karena jumlah gajinya,
melainkan karena satu doa sore yang akhirnya dijawab.

Allah berfirman:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Sore mengajarkan kita bahwa
menunggu bukanlah kalah,
tetapi cara Allah melatih sabar sebelum memberi.

Jika sore ini hatimu masih berat, jangan putus asa.
Bisa jadi jawaban doamu
sedang menunggu waktu Magrib untuk turun.
Alhamdulillah 
Assalamu’alaikum.
#RenunganSore
#KisahNyata
#BelajarSabar
#RezekiAllah
#FbPro #Fyp

Senin, 02 Februari 2026

Hakikat Malam Nisfu Sya’ban

Hakikat Malam Nisfu Sya’ban

Malam Nisfu Sya’ban adalah malam pertengahan bulan Sya’ban, tepatnya malam tanggal lima belas. Ia berada di antara dua bulan agung: Rajab dan Ramadan. Banyak ulama menyebutnya sebagai malam pengangkatan laporan amal tahunan, malam pengampunan, dan malam persiapan ruhani sebelum Ramadan.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini menjadi ruh dari Nisfu Sya’ban: pintu ampunan dibuka lebar-lebar bagi siapa saja yang kembali dengan hati yang jujur.
Hadis-Hadis tentang Keutamaan Nisfu Sya’ban
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah melihat kepada seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni semua hamba-Nya kecuali orang yang musyrik dan orang yang saling bermusuhan.”
(HR. Ibnu Majah)
Dalam hadis lain, ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha mendapati Rasulullah ﷺ beribadah panjang di malam itu, beliau bersabda:
“Ini adalah malam Nisfu Sya’ban. Allah membebaskan hamba-hamba-Nya dari neraka lebih banyak daripada jumlah bulu kambing Bani Kalb.”
(HR. Ahmad)
Maknanya sangat dalam: ampunan Allah melimpah, tetapi terhalang oleh dua penyakit besar hati—syirik dan kebencian.
Mengapa Malam Ini Begitu Istimewa
Pertama, karena pada bulan Sya’ban amal-amal diangkat kepada Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Itu adalah bulan yang sering dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadan. Pada bulan itu amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin amalanku diangkat dalam keadaan aku berpuasa.”
(HR. An-Nasa’i)
Kedua, karena Nisfu Sya’ban adalah momentum evaluasi hidup. Banyak ulama salaf berkata, “Barang siapa tidak memperbaiki dirinya di Sya’ban, ia akan berat memasuki Ramadan.”
Ketiga, karena malam ini mendidik kita untuk berdamai dengan sesama sebelum berharap damai dengan Allah.
Amalan-Amalan Utama di Malam Nisfu Sya’ban
Yang paling utama bukan ritual yang rumit, tetapi keikhlasan dan kesungguhan.
Memperbanyak istighfar dan taubat
Allah berfirman:
“Dan mohonlah ampun kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. An-Nisa: 106)
Memperbanyak shalawat
Karena shalawat adalah pintu terkabulnya doa.
Membaca Al-Qur’an
Meski satu halaman, asal dengan hati hadir.
Shalat malam
Dua rakaat dengan tangisan yang jujur lebih berat nilainya daripada banyak rakaat tanpa rasa.
Membersihkan hati
Memaafkan, melepas dendam, berdamai dengan takdir.
Kisah Inspiratif Ulama Salaf
Dikisahkan tentang Hasan Al-Bashri rahimahullah. Pada suatu malam Nisfu Sya’ban, beliau menangis begitu lama hingga muridnya bertanya, “Wahai guru, mengapa engkau menangis di malam penuh ampunan?”
Beliau menjawab,
“Aku takut Allah mengampuni semua orang, kecuali aku yang merasa sudah aman.”
Ada pula kisah seorang lelaki pendosa di Basrah. Setiap Nisfu Sya’ban ia hanya berkata, “Ya Allah, aku malu memohon surga, tapi aku takut neraka.” Hingga wafatnya, ia dikenal sebagai ahli ibadah. Ketulusan hatinya mengubah hidupnya.
Penutup Renungan
Malam Nisfu Sya’ban bukan tentang seberapa panjang doa kita,
tetapi seberapa jujur air mata kita.
Bukan tentang seberapa banyak lafaz yang kita ucapkan,
tetapi seberapa sungguh kita ingin berubah.
Jika malam ini hati kita bergetar,
itu pertanda Allah sedang memanggil kita pulang.
Semoga malam Nisfu Sya’ban ini menjadi titik balik hidup kita.
Bukan sekadar tradisi tahunan,
tetapi awal kedekatan yang hakiki dengan Allah.


Doa Malam Nisfu Sya’ban

Doa Malam Nisfu Sya’ban

Allahumma ya Allah,
di malam pertengahan bulan Sya’ban ini, kami hadir sebagai hamba yang lemah, penuh dosa, penuh khilaf, penuh harap akan rahmat-Mu.

Ya Allah,
jika namaku Engkau catat sebagai orang yang celaka,
hapuslah dan gantilah dengan kebahagiaan.

Jika Engkau tetapkan rezekiku sempit, lapangkanlah dengan keberkahan.

Jika usiaku Engkau dekatkan pada ajal, panjangkanlah dalam ketaatan dan husnul khatimah.

Ya Allah,
ampuni dosa-dosa kami yang tampak dan tersembunyi,
yang disengaja maupun yang kami lalaikan.

Bersihkan hati kami dari dengki, sombong, iri, dan kebencian.

Satukan kembali hati-hati yang tercerai, lembutkan jiwa-jiwa yang keras, dan kuatkan kami untuk tetap istiqamah di jalan-Mu.

Ya Allah,
jadikan malam ini sebagai awal perubahan hidup kami,
dari lalai menuju sadar,
dari jauh menuju dekat,
dari berharap kepada makhluk menuju tawakkal kepada-Mu semata.

Shallallahu ‘ala Sayyidina Muhammad
wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.



Minggu, 01 Februari 2026

RUKYAH PAMUNGKAS

RUKYAH PAMUNGKAS 

Pilih satu waktu saja: setelah Subuh atau setelah Magrib.

PERSIAPAN
• Anda dan dia berwudu
• Dia duduk tenang
• Anda duduk di samping atau di depan
• Letakkan tangan kanan Anda di bahu 

NIAT (dalam hati Anda)

“Ya Allah, aku berniat merukyah dia dengan ayat-ayat-Mu, memohon Engkau tenangkan jiwanya, sembuhkan lukanya, dan lindungi dia dari segala gangguan dan ketakutan yang tidak Engkau ridai.”

BACAAN INTI

Baca pelan dan berwibawa, jangan tergesa.
• Al-Fatihah – 1x
• Ayat Kursi – 1x
• Al-Ikhlas – 3x
• Al-Falaq – 3x
• An-Naas – 3x

Setelah selesai, tiup perlahan ke arah dada dan kepala dia.

AYAT PAMUNGKAS
Tangan tetap di dada atau bahu dia.
QS. Al-Baqarah ayat 286 – 3x
Setelah setiap bacaan, ucapkan pelan:
“Cukuplah Allah baginya.”

DOA PELEPAS KETAKUTAN
Baca dengan suara lembut:
“Ya Allah, jika ketakutan dalam dirinya datang karena manusia, cukupkan dia dengan penjagaan-Mu.
Jika dirinya keras karena terluka, lembutkanlah dengan rahmat-Mu.
Jika ada gangguan yang menempel padanya, keluarkanlah dengan izin-Mu.”

DZIKIR PENGUNCI
Masih dalam posisi yang sama:
• Hasbiyallahu la ilaha illa Huwa – 7x
• Ya Latif – 33x
• Shalawat – 11x

PENUTUP
Usap kepala atau bahunya, lalu ucapkan:
“Dia berada dalam lindungan Allah.”
Diamkan dia 5–10 menit, jangan langsung diajak bicara.

HAL YANG WAJIB DIPERHATIKAN
✔ Jangan menasihati setelah rukyah
✔ Jangan membahas masa lalu
✔ Jika dia menangis, biarkan
✔ Jika dia diam, jangan dipaksa bicara

TANDA RUKYAH BEKERJA
• Napas lebih dalam
• Air mata keluar
• Badan terasa lemas atau ringan
• Wajah lebih tenang
Itu tanda pelepasan, bukan gangguan.

PENEGASAN AKHIR
Rukyah ini cukup dilakukan sekali hari itu.
Jika esok hari masih terasa sisa ketakutan, cukup Ayat Kursi + 3 Qul sebelum tidur, tanpa rukyah ulang.

Guru Tak Dihargai (Sebuah Kupasan Hukum, Moral, dan Realitas Sosial) Oleh: Ismilianto, M. Pd.

Guru Tak Dihargai
(Sebuah Kupasan Hukum, Moral, dan Realitas Sosial) 
Oleh: Ismilianto, M. Pd. 

Pertama, dari sisi Undang-Undang Perlindungan Anak.

UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak menegaskan bahwa setiap anak berhak mendapat perlindungan dari kekerasan fisik maupun psikis. 

Niat undang-undang ini mulia. Namun dalam praktiknya, sering terjadi salah tafsir: setiap ketegasan guru dianggap kekerasan. Teguran, pendisiplinan, bahkan pembatasan perilaku negatif kerap dipersepsikan sebagai pelanggaran hak anak. 

Akibatnya, guru mendidik dengan rasa takut. Padahal pendidikan tanpa ketegasan ibarat kapal tanpa kemudi—berjalan, tapi tak berarah.

Kedua, dari perspektif Undang-Undang Guru dan Dosen.

UU Nomor 14 Tahun 2005 secara jelas menyebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional yang memiliki tugas mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.

Dalam Pasal 39 ditegaskan bahwa guru berhak memperoleh perlindungan hukum, profesi, serta rasa aman dalam menjalankan tugas. 

Ironisnya, yang sering terjadi di lapangan justru sebaliknya: guru dituntut bertanggung jawab penuh, namun ketika berhadapan dengan konflik, ia kerap dibiarkan sendirian. 

Perlindungan hadir terlambat, atau bahkan tidak hadir sama sekali.

Ketiga, pendidikan yang bergeser menjadi logika jasa.
Sekolah diposisikan seperti penyedia layanan, orang tua sebagai pelanggan, murid sebagai konsumen. 

Dalam logika pasar, pelanggan selalu benar. Maka guru pun dipaksa mengalah, bahkan ketika berada di jalur kebenaran. 

Pendidikan yang seharusnya membentuk karakter berubah menjadi transaksi kepuasan. Padahal mendidik bukan soal menyenangkan, melainkan menuntun— dan tuntunan tak selalu terasa manis.

Keempat, ruang digital yang meruntuhkan wibawa.

Satu insiden direkam, diunggah, lalu divonis oleh publik. Seribu kebaikan guru dianggap kewajiban, satu kekeliruan dianggap kejahatan. 

Tak ada proses klarifikasi, tak ada asas praduga tak bersalah. 

Wibawa guru runtuh bukan di ruang kelas, melainkan di layar ponsel. Padahal Rasulullah SAW bersabda:
“Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Kelima, hilangnya ekosistem penghormatan.

Dahulu, guru dihormati bukan hanya karena dirinya, tapi karena rumah dan lingkungan ikut mendukung. Orang tua dan guru sejalan. Kini, rumah, sekolah, dan lingkungan sering saling melempar tanggung jawab. 

Padahal Al-Qur’an mengingatkan:
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Mendidik anak adalah tanggung jawab bersama, bukan beban satu pihak.

Keenam, dari sisi nilai Qur’an dan Hadis tentang adab kepada pendidik.

Allah mengangkat derajat orang berilmu:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Imam Ali bin Abi Thalib berkata:
“Aku adalah hamba bagi orang yang mengajariku satu huruf.”
Ini bukan soal kultus, tapi penghormatan pada proses ilmu.

Ketujuh, kisah nyata yang jarang diangkat.

Ada guru yang tetap datang mengajar meski dihina muridnya. 
Ada guru yang sabar menghadapi laporan polisi hanya karena menegur siswa agar salat atau disiplin. 
Ada pula guru yang gajinya kecil, tapi tetap membeli kapur, spidol, bahkan membantu murid miskin dengan uang pribadi. 

Kisah-kisah ini jarang viral. Yang viral justru potongan video tanpa konteks.


Hormat itu diajarkan, bukan diwariskan.

Jika guru diberi ruang mendidik dengan wibawa, maka penghargaan akan tumbuh dengan sendirinya.
Jika guru terus ditekan tanpa perlindungan, jangan heran bila seragam bu guru hanya berakhir di keranjang cucian, bukan lagi simbol kehormatan.