Laqadja akum rasulum


web stats

Kamis, 19 Februari 2026

Godaan Syaitan, Nafsu, dan Akal

Godaan Syaitan, Nafsu, dan Akal

Puasa mengajarkan kita satu rahasia besar: nafsu itu bisa ditahan dan amarah tidak harus dituruti.
Dan di situlah Ramadhan bekerja untuk menundukkan
nafsu. 

Ada orang alim berkata,
“Ketika Ramadhan tiba, aku heran… setan dibelenggu, tapi dosaku tetap datang.”

Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur'an:
“Sesungguhnya nafsu itu benar-benar selalu menyuruh kepada kejahatan.” (Q

Allah SWT juga menegaskan dalam Al-Qur'an:
“Adapun orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.”
(QS. An-Nazi‘at: 40–41)

Dikisahkan, ketika Allah menciptakan akal, Allah bertanya: “Siapakah engkau?”
Akal menjawab dengan tunduk, “Aku adalah ciptaan-Mu yang taat.”

Lalu Allah memerintahkan,
“Menghadaplah.” Akal menghadap.
“Berpalinglah.” Akal pun berpaling.

Maka Allah berfirman,
“Denganmu Aku memberi pahala, dan denganmu Aku memberi siksa.”

Kemudian Allah menciptakan nafsu. Allah bertanya,
“Siapakah engkau?” Nafsu menjawab dengan sombong,
“Engkau adalah Engkau, dan aku adalah aku.”
Nafsu membangkang,
tak mau tunduk, tak mau taat.

Maka Allah menundukkan nafsu dengan lapar,
dengan haus, dengan ujian (puasa) — hingga akhirnya nafsu berkata, “Engkau adalah Tuhanku.”

Inilah rahasia puasa.
Akal tunduk dengan perintah,
nafsu tunduk dengan lapar atau puasa. 

Rasulullah SAW bersabda:
“Puasa adalah perisai.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Perisai dari apa? Dari syaitan,
dan lebih dalam lagi—
dari liarnya hawa nafsu.
Maka Ramadhan bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi latihan menempatkan akal di atas nafsu.

Syaitan boleh dibelenggu,
namun jika nafsu dibiarkan liar,
manusia tetap bisa jatuh ke maksiat.

Pagi ini, mari kita berbisik pada diri sendiri:
“Wahai jiwaku, jika lapar saja kau mampu bertahan,
mengapa amarah dan maksiat tak mampu kau tahan?

Jika haus saja kau sanggup menunggu, mengapa syahwat ingin selalu dituruti?”

Ya Allah, jadikan Ramadhan ini akal memimpin, nafsu menunduk, dan hati kembali lurus menuju-Mu.

Selamat menjemput pagi Ramadhan, bulan agar manusia belajar menjadi tuan atas dirinya sendiri. 

PEREMPUAN PENGHUNI SURGA

PEREMPUAN PENGHUNI SURGA

“Jika seorang perempuan menjaga shalatnya, berpuasa Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya:
‘Masuklah ke surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.’” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani)

Kalimat Nabi SAW ini singkat, tetapi sangat dalam. Empat amalan disebutkan, namun ganjarannya bukan sekadar surga—melainkan kebebasan memilih pintu surga.
Mari kita kupas satu per satu.
Pertama, menjaga shalat lima waktu.
Shalat disebut pertama karena ia adalah tiang agama. Bukan sekadar dikerjakan, tetapi dijaga: waktunya, kekhusyukannya, dan adabnya.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya, mereka itulah yang akan mewarisi surga Firdaus.”
(QS. Al-Mu’minun: 9–11)
Kisah inspiratif:
Diriwayatkan dari para salaf, ada seorang perempuan tua yang hidup sederhana, pakaiannya kasar, rumahnya kecil. Namun ia tidak pernah meninggalkan shalat tepat waktu. Ketika ditanya rahasianya tetap tenang meski hidup pas-pasan, ia menjawab,
“Bagaimana aku tidak tenang, sedangkan aku sudah ‘menghadap Raja’ lima kali sehari?”
Perempuan ini mungkin tak dikenal di bumi, tetapi namanya dikenal di langit.
Kedua, berpuasa Ramadhan.
Puasa adalah ibadah yang melatih kejujuran. Tidak ada yang tahu seseorang benar-benar berpuasa kecuali Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kisah inspiratif:
Seorang ibu rumah tangga, siang hari lelah mengurus anak dan rumah, panas, lapar, dan haus. Namun lisannya tetap berdzikir, tangannya tetap bekerja dengan niat ibadah. Puasanya bukan hanya menahan perut, tetapi juga menahan emosi dan keluh kesah. Puasa seperti inilah yang dicintai Allah.
Ketiga, menjaga kehormatan diri.
Ini mencakup menjaga aurat, pandangan, lisan, pergaulan, dan kesetiaan. Di zaman ketika membuka aurat dianggap biasa, menjaga diri adalah jihad sunyi.
Allah berfirman:
“Dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatannya, Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.”
(QS. Al-Ahzab: 35)
Kisah inspiratif:
Dalam sejarah Islam, banyak perempuan yang menolak popularitas dan pujian demi menjaga kehormatan. Mereka mungkin tidak viral, tetapi amalnya berat di timbangan. Mereka memilih Allah, meski harus berbeda dari arus zaman.
Keempat, taat kepada suami dalam kebaikan.
Ini sering disalahpahami. Ketaatan di sini bukan perbudakan, tetapi ibadah—selama tidak dalam maksiat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah perempuan shalihah.”
(HR. Muslim)
Perempuan shalihah adalah yang menenangkan suaminya ketika dilihat, menjaga dirinya ketika ditinggal, dan taat dalam perkara yang diridhai Allah.
Kisah inspiratif:
Ada istri para sahabat yang hidup serba terbatas, namun tidak pernah mencela suaminya. Ketika suaminya pulang tanpa hasil, ia berkata,
“Kita beribadah kepada Allah, bukan kepada harta.”
Kalimat sederhana ini menjadi sebab rumah tangga mereka dipenuhi sakinah.
Penutup yang mengguncang hati.
Perhatikan, Rasulullah ﷺ tidak menyebut kecantikan, harta, jabatan, atau ketenaran.
Yang disebut hanya:
hubungan dengan Allah (shalat dan puasa),
penjagaan diri,
dan akhlak dalam rumah tangga.
Dan balasannya bukan sekadar “masuk surga”, tetapi:
“Masuklah dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.”
Artinya, surga benar-benar merindukan perempuan seperti ini.
Semoga Allah menjadikan kita, istri-istri kita, anak-anak perempuan kita, dan seluruh muslimah termasuk golongan perempuan yang dipanggil dengan panggilan mulia itu.
Āmīn.

Enam Adab Berpuasa Yang Penting Dijaga Agar Puasa Bernilai Tinggi Di Sisi Allah

Enam Adab Berpuasa Yang Penting Dijaga Agar Puasa Bernilai Tinggi Di Sisi Allah

Pertama, meluruskan niat karena Allah.
Puasa adalah ibadah rahasia antara hamba dan Rabb-nya. Menata niat sejak malam atau sebelum Subuh menjadikan puasa bernilai ikhlas, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.
Kedua, menjaga lisan dari dosa.
Puasa bukan hanya menahan perut, tetapi juga menahan lidah. Menghindari dusta, ghibah, fitnah, kata kotor, dan perdebatan sia-sia adalah adab utama. Rasulullah mengingatkan, jika seseorang diajak bertengkar, hendaknya ia berkata, “Aku sedang berpuasa.”
Ketiga, menjaga pandangan dan pendengaran.
Mata dan telinga juga ikut berpuasa. Menundukkan pandangan dari yang haram dan menjauhkan telinga dari gosip, musik yang melalaikan, serta pembicaraan maksiat menjaga kesucian puasa.
Keempat, menahan anggota tubuh dari maksiat.
Tangan, kaki, dan seluruh anggota badan dijaga dari perbuatan yang dilarang. Puasa yang baik adalah puasa yang membuat seluruh tubuh tunduk dalam ketaatan.
Kelima, tidak berlebihan saat berbuka dan sahur.
Adab puasa adalah sederhana. Berbuka secukupnya, tidak berlebihan, dan mendahulukan yang dianjurkan seperti kurma dan air. Perut yang terlalu penuh seringkali mematikan semangat ibadah malam.
Keenam, memperbanyak ibadah dan amal kebaikan.
Puasa seharusnya mendekatkan diri kepada Allah. Memperbanyak Al-Qur’an, dzikir, doa, sedekah, salat malam, dan membantu sesama adalah adab yang menyempurnakan puasa.
Puasa yang dijaga adabnya akan melahirkan takwa, bukan hanya rasa lapar. Semoga Allah menjadikan puasa kita bukan sekadar gugurnya kewajiban, tetapi benar-benar menjadi jalan perubahan hati.

Menunggu Adzan, Menata Hati

Menunggu Adzan, Menata Hati

Shalallahu'ala muhammad shalallahu'alaihi wassalam. 
Petang ini, warna langit mulai menua. Perut mungkin lapar,
tapi jiwa sedang diajar sabar.

Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum,
ia adalah latihan halus
untuk menahan kata yang melukai, pandangan yang berlebihan, dan hati yang mudah berprasangka.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Takwa itu sering lahir
bukan dari kenyang, tetapi dari lapar yang dijaga ikhlas.

Menjelang berbuka, 
Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk banyak berdoa.
Karena ada satu waktu
yang hampir tak pernah tertolak: doa orang yang berpuasa saat ia menunggu berbuka.

Maka jika hari ini hatimu lelah,
jika ada doa yang belum terjawab, jika hidup terasa berat, sebutkan semuanya perlahan kepada Allah.

Tak perlu kata yang indah,
cukup hati yang jujur.

Ya Allah, jika hari ini puasa kami masih penuh kekurangan,
terimalah niat baik kami.
Ampuni khilaf yang kami sadari maupun yang luput kami jaga.
Jadikan lapar ini cahaya,
dan berbuka nanti sebagai awal kedekatan yang lebih dalam dengan-Mu.

Sebentar lagi adzan akan tiba.
Mari sambut bukan hanya dengan takjil, tetapi dengan hati yang kembali pulang.

Semoga berbuka kita hari ini
menjadi pembuka rahmat
dan penutup dosa-dosa yang lalu.
Aamiin ya rabbal aalamin. 

Rabu, 18 Februari 2026

PAGI PERTAMA RAMADHAN

PAGI PERTAMA RAMADHAN

Pagi ini, Udara terasa sama, matahari terbit seperti biasa, tetapi hati tahu:
kita sedang memasuki bulan Ramadhan. 

Ada seorang sahabat Nabi SAW yang menangis karena takut Ramadhan datang sementara dosanya belum diampuni.

Ia berkata, “Aku khawatir Ramadhan berlalu, tapi aku tetap seperti kemarin.”

Allah mengingatkan kita:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Puasa untuk menahan hati dari sombong, menahan lisan dari menyakiti, dan menahan jiwa dari lalai mengingat Allah.

Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hari pertama ini kita luruskan niat kesungguhan memulai.
Jika hari ini masih berat, jangan putus asa.
Allah tidak menunggu kita sempurna, Allah menunggu kita mau kembali.

Doa singkat pagi Ramadhan
Allahumma taqabbal shiyamana, ashlih qulubana, waghfir dzunubana: 
Ya Allah, terimalah puasa kami, perbaikilah hati kami, dan ampunilah dosa-dosa kami.

Selamat menunaikan puasa hari pertama.
Semoga Ramadhan ini benar-benar mengubah kita,
bukan hanya jadwal makan,
tetapi arah hidup menuju takwa. 

Petang Terakhir Sebelum Puasa

Petang Terakhir Sebelum Puasa

Petang ini langit merendah,
seolah mengajak kita ikut menunduk. Karena kita sadar bahwa banyak langkah kita yang terlalu jauh,
banyak rasa yang kita titipkan pada manusia, dan bukan kepada Allah.

Ada kisah seorang hamba
yang sepanjang tahun sibuk memperbaiki hidupnya,
tapi lupa memperbaiki hatinya.

Ketika Ramadhan datang,
ia hanya berkata lirih,
“Ya Allah, izinkan aku dalam ampunan dan rahmat Ramadhan meski dengan amal yang compang-camping.”

Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Puasa bukan sekadar menahan lapar, tapi menahan diri untuk tidak kembali
menjadi diri yang lama.

Rasulullah SAW mengingatkan:
“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim)

Perhatikan…
bukan puasa karena tradisi,
bukan karena ikut-ikutan,
tapi karena iman dan pengharapan.

Ada pula kisah seseorang yang menangis di malam pertama Ramadhan.
Bukan karena takut lapar,
tapi karena takut:
“Bagaimana jika ini Ramadhan terakhirku,
sementara dosaku masih lebih banyak daripada taubatku?”
Tangisan seperti itu tidak sia-sia.

Karena Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap anak Adam banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.” (HR. Sunan At-Tirmidzi)

Maka petang ini,
sebelum fajar memanggil kita untuk berpuasa, ada baiknya kita pulang kepada Allaah dengan taubat.

Ya Allah, sungguh aku telah banyak menzalimi diriku sendiri.
Dan tidak ada yang mengampuni dosa selain Engkau.
Maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu,
Dan rahmatilah aku, sungguh Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Semoga Ramadhan ini benar-benar mengubah arah hidup kita lebih takwa.

Judul: “Ramadhan Sibuk Kerja, Puasa Ditinggal, Meja Makan Dimenangkan?”

Judul: “Ramadhan Sibuk Kerja, Puasa Ditinggal, Meja Makan Dimenangkan?”

Mukadimah (realistis & membumi)
Ramadhan datang setiap tahun.
Tapi pemandangannya sering sama:
Kita bilang,
“Pak, saya tidak puasa karena kerja berat.”
“Bu, saya tidak kuat puasa, harus cari uang buat Lebaran.”
Tapi anehnya…
meja sahur penuh.
menu berbuka berlapis-lapis.
uang tetap keluar untuk rasa, bukan untuk taat.
Di sini Ramadhan perlu jujur kita evaluasi.
Bagian inti pertama: Bekerja bukan alasan mutlak meninggalkan puasa
Islam tidak anti kerja.
Islam justru memuliakan orang yang mencari nafkah halal.
Namun Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Perhatikan:
➡️ Puasa diwajibkan kepada orang beriman, bukan kepada orang yang senggang.
Kerja keras bukan otomatis uzur syar‘i.
Uzur yang dibenarkan syariat: – sakit yang membahayakan
– safar
– kondisi medis nyata
Bukan sekadar: – capek
– takut lapar
– khawatir lemas padahal belum mencoba
Bagian inti kedua: Ironi “tak puasa demi Lebaran”
Ini bagian yang sering tidak disadari.
Ada yang berkata: “Saya tidak puasa karena harus kuat kerja, cari uang buat Lebaran.”
Tapi faktanya: – Lebaran cuma sehari
– Ramadhan sebulan
– Puasa kewajiban
– Lebaran perayaan
Apakah pantas kewajiban dikorbankan demi perayaan?
Lebih ironis lagi: puasa ditinggal,
tapi sahur tetap mewah,
berbuka tetap berlebihan.
Ini bukan soal makanan,
tapi soal orientasi hati.

Dalil peringatan 
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan.” (HR. Sunan At-Tirmidzi)

Makna penting: Bukan cuma cara mencari uang yang ditanya,
tapi untuk apa uang itu digunakan.

Bagian inti ketiga: 
Budaya berfoya-foya di bulan puasa

Ramadhan seharusnya: – bulan menahan
– bulan menyederhanakan
– bulan membersihkan jiwa
Tapi yang terjadi: – sahur seperti pesta
– berbuka seperti balas dendam
– puasa jadi alasan kuliner

Padahal Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada bejana yang lebih buruk yang diisi oleh manusia selain perutnya.” (HR. Sunan Ibnu Majah)

Ironinya: puasa ditinggal karena kerja,
tapi energi dihabiskan untuk kenyang.

Kisah Nyata 

Ada buruh bangunan.
Kerjanya berat, panas, fisik.
Ia berkata: “Awalnya saya takut puasa. Tapi setelah dicoba, ternyata bisa. Capek iya, tapi hati tenang.”

Sebaliknya,
ada yang kerja di ruang ber-AC, puasa ditinggal,
tapi menu buka puasa seperti jamuan pesta.

Bukan soal kuat atau tidak,
tapi soal mau atau tidak.
Pesan korektif yang lembut (untuk jamaah)
Islam tidak memaksa di luar kemampuan,
tapi Islam juga tidak membenarkan alasan yang dimanja-manjakan.

Kalau memang: – benar-benar tidak mampu → ada qadha
– tapi kalau hanya takut lapar → itu ujian iman

Ramadhan bukan bulan pembuktian kekuatan fisik,
tapi kejujuran hati kepada Allah.

Solusi praktis (tanpa menghakimi)

Pertama, coba dulu puasa, jangan putuskan dari malam
Kedua, sederhanakan sahur dan berbuka
Ketiga, niatkan kerja sebagai ibadah
Keempat, kalau terpaksa batal, jangan bangga, tapi sesali dan qadha
Yang berbahaya bukan batal puasa,
tapi meremehkan puasa.

Kesimpulan kuat untuk ceramah
• Kerja bukan alasan mutlak meninggalkan puasa
• Lebaran tidak boleh mengalahkan Ramadhan
• Berfoya-foya merusak ruh puasa
• Ramadhan mengajarkan cukup, bukan menumpuk

Allah tidak menilai seberapa mewah meja kita,
tapi seberapa tunduk hati kita.

Doa penutup 

Allahumma la taj‘al Ramadhanana Ramadhanal akli wasy syurbi.

Ya Allah, jangan jadikan Ramadhan kami hanya bulan makan dan minum.
Allahumma qawwi imanina wa shiyamana.

Ya Allah, kuatkan iman dan puasa kami. 

Allahumma barik lana fi a‘malina wa arzaqina bila ma‘siyah.

Ya Allah, berkahi pekerjaan dan rezeki kami tanpa harus bermaksiat kepada-Mu.