Laqadja akum rasulum


web stats

Jumat, 13 Februari 2026

RENUNGAN PENUTUP MALAM

RENUNGAN PENUTUP MALAM

“Malam ini mungkin banyak yang sudah terlelap. Tapi sebelum kita benar-benar memejamkan mata, izinkan satu renungan kecil…”

Malam selalu jujur.
Di siang hari kita bisa sibuk berdebat.
Bisa keras bersuara.
Bisa lantang menyalahkan.
Tapi malam membuat kita diam.
Di keheningan seperti ini, saya sering bertanya pada diri sendiri…
Sudahkah kita benar-benar mencintai negeri ini dengan cara yang benar?
Kita ingin Indonesia maju.
Kita ingin anak-anak kita sejahtera.
Kita ingin petani tersenyum dan sarjana tidak menganggur.
Namun kemajuan tidak lahir hanya dari kemarahan.
Ia lahir dari ketekunan.
Dari ilmu yang dipakai.
Dari integritas yang dijaga meski tak ada yang melihat.
Negeri ini besar.
Terlalu besar untuk diserahkan pada keputusasaan.
Terlalu mulia untuk dipenuhi saling menjatuhkan.
Mungkin perubahan tidak langsung terasa.
Mungkin langkah kita kecil.
Tapi sejarah selalu dimulai dari orang-orang yang tidak berhenti berharap.
Malam ini, mari kita titipkan satu doa:
Ya Allah,
Jangan biarkan kami lelah mencintai negeri ini.
Teguhkan hati kami untuk tetap jujur.
Dan bangkitkan bangsa ini dengan ilmu dan keberanian.
Kita boleh lelah.
Tapi jangan kehilangan arah.
Selamat beristirahat.
Besok kita bangun lagi — dengan harapan yang tidak padam.

(Belajar dari Desa, Berpikir untuk Indonesia).

SUARA DARI BALAI DESA Cerpen: oleh Ismilianto

SUARA DARI BALAI DESA
Cerpen: oleh Ismilianto

Malam itu balai desa tidak biasanya penuh.
Lampu neon menggantung pucat, kursi-kursi plastik berderet tak beraturan. Petani, guru, pemuda, ibu-ibu PKK, semua duduk menunggu seseorang yang ingin berbicara.

Namanya Rahman.
Bukan pejabat.
Bukan anggota dewan.
Hanya rakyat biasa yang terlalu lama memendam kegelisahan.

Ia berdiri pelan. Tangannya sedikit gemetar, tapi suaranya tegas.
“Saudara-saudaraku… saya hanya rakyat biasa. Tapi saya rindu negeri ini benar-benar maju.”

Orang-orang terdiam.
“Kita punya tenaga kerja melimpah. Sarjana banyak. Tapi pengangguran juga banyak. Di mana yang salah?”

Beberapa pemuda saling pandang. Mereka lulusan universitas. Ijazah ada. Pekerjaan belum menentu.

Rahman melanjutkan.
“Kita sering membandingkan diri dengan Jepang. Negeri itu tidak kaya tambang. Tidak luas tanahnya. 

Tapi mereka kaya arah. Profesor mereka turun ke sawah. Peneliti mereka bekerja untuk produksi. Ilmu tidak berhenti di kertas.”
Ia menatap Pak Darto, petani tua di sudut ruangan.

“Sementara di desa kita, pertanian masih cara lama. Alat buatan anak bangsa berhenti di pameran. Hasil penelitian mati di rak laporan.”

Seorang guru mengangguk pelan.
“Bukan karena mahasiswa kita malas,” lanjut Rahman.
“Tapi karena ilmu tidak memimpin kebijakan.”

Suasana mulai terasa berat.
“Coba kita jujur,” katanya lagi.

“Berapa profesor yang duduk menentukan arah kebijakan negeri? 

Berapa peneliti yang ikut memutuskan masa depan pertanian dan industri?”

Tak ada yang menjawab.
“Ilmu ada di kampus. Kekuasaan ada di gedung lain.
Keduanya jarang bertemu.”

Seorang pemuda berdiri, suaranya lirih,
“Jadi… apa yang harus berubah, Bang?”

Rahman tersenyum tipis.
“Kita tidak kekurangan orang pintar. Yang kurang adalah keberanian menempatkan ilmu di kursi pengambil keputusan. 

Kalau kebijakan dibuat dengan napas keilmuan, pertanian bisa bangkit. Industri bisa tumbuh. Lapangan kerja terbuka.”

Ia menarik napas panjang.
“Ini bukan soal gelar. Ini soal arah. Kalau yang memutuskan tidak hidup dengan dunia riset, tidak paham teknologi, tidak menyentuh sawah dan pabrik… keputusan akan jauh dari kebutuhan rakyat.”

Angin malam masuk lewat jendela yang terbuka. Lampu bergoyang pelan.

Rahman menutup pidatonya dengan suara yang lebih lembut:
“Kami rakyat kecil tidak ingin banyak janji. Kami ingin kebijakan yang berilmu dan berpihak pada rakyat. Kami ingin negeri ini maju karena kerja nyata, bukan karena kata-kata.”

Balai desa sunyi beberapa detik.
Lalu terdengar tepuk tangan perlahan, yang lama-lama menjadi gemuruh.

Malam itu, tidak ada keputusan besar yang lahir.
Tidak ada undang-undang yang disahkan.

Tapi ada sesuatu yang tumbuh. Yaitu Kesadaran.
Bahwa kemajuan bangsa bukan hanya urusan istana dan gedung tinggi.

Ia bisa lahir dari balai desa sederhana, dari suara rakyat yang rindu kemakmuran,
dan dari keyakinan bahwa ilmu harus memimpin negeri.

ADA PERTOLONGAN SAAT HAMPIR MENYERAH Cerpen: oleh Ismilianto

ADA PERTOLONGAN  SAAT HAMPIR MENYERAH
Cerpen: oleh Ismilianto

Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang ibu penjual gorengan. Setiap pagi ia berjalan kaki menyusuri gang, membawa keranjang dagangannya.

Suaminya telah lama wafat. Dua anaknya masih sekolah dan menjadi satu-satunya alasan ia terus bertahan.

Suatu sore, hujan turun deras. Dagangannya tak habis. Ia berteduh di emperan toko, memeluk keranjang yang masih setengah penuh. Air matanya jatuh, bercampur dengan rintik hujan.

Dalam hati ia berbisik,
“Ya Allah… kalau bukan karena anak-anak, mungkin aku sudah menyerah.”

Tak lama kemudian, seorang pemuda datang menghampiri. Ia membeli semua sisa gorengan. Bahkan memberinya uang lebih.

Ibu itu menolak.
Namun pemuda itu tersenyum dan berkata pelan,
“Ibu, dulu waktu saya masih sekolah dan tidak punya uang, Ibu pernah memberi saya gorengan gratis. Hari ini saya hanya membalas.”

Ibu itu terdiam. Dadanya sesak oleh haru. Ternyata Allah tidak pernah lupa.

Di kota lain, seorang pria duduk termenung di lantai rumah kontrakannya. Usahanya bangkrut. Hutang menumpuk. Ia pernah dihina, diremehkan, bahkan dijauhi.
Malam itu ia sujud lama sekali.
Bukan meminta kaya.
Ia hanya berkata,
“Ya Allah, jangan Kau tinggalkan aku sendirian menghadapi ini.”
Bertahun-tahun kemudian, usahanya bangkit. Hutangnya lunas. Bahkan ia menjadi penolong bagi orang-orang yang dulu senasib dengannya.
Saat ditanya apa rahasianya, ia menjawab singkat,
“Saya tidak kuat. Tapi Allah yang menguatkan.”
Kisah-kisah seperti itu bukan kebetulan.
Allah berfirman:
"Fa inna ma'al 'usri yusra. Inna ma'al 'usri yusra."
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(Al-Qur'an, Surah Al-Insyirah 94:5–6)
Perhatikan… bukan setelah kesulitan.
Tetapi bersama kesulitan.
Artinya, di saat dada terasa paling sempit, di saat air mata jatuh tanpa suara, di saat kita merasa sendirian — di situlah Allah sedang menyiapkan pintu pertolongan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ketahuilah, pertolongan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bersama kesulitan ada kemudahan.”
(HR. Ahmad no. 2803)
Mengapa banyak orang berhenti tepat sebelum pertolongan datang?
Karena manusia hanya melihat hari ini.
Sedangkan Allah melihat seluruh jalan hidupnya.
Kadang kita merasa doa belum dijawab.
Padahal Allah sedang mengatur jawabannya agar datang di waktu yang paling tepat.
Allah juga berfirman:
"Wa may yatawakkal ‘alallahi fahuwa hasbuh."
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.”
(Al-Qur'an, Surah At-Talaq 65:3)
Bukan manusia yang mencukupkan.
Bukan jabatan.
Bukan relasi.
Tetapi Allah.
Jika hari ini engkau merasa lelah…
jangan berhenti di titik lelahmu.
Karena sering kali, pertolongan Allah datang
tepat ketika kita hampir menyerah.

ANAK DESA BERMIMPI BESAR Cerpen: oleh Ismilianto

ANAK DESA BERMIMPI BESAR
Cerpen: oleh Ismilianto

Namanya Arga. Anak petani desa yang tanahnya subur, tetapi hasilnya tak pernah benar-benar melimpah.
Setiap hari setelah pulang sekolah, Arga membantu ayahnya di sawah.

Ia melihat tangan ayahnya yang kasar, punggung yang mulai membungkuk, dan cara bertani yang tak berubah sejak zaman kakeknya.

Suatu hari ia bertanya,
“Ayah, kenapa kita tidak pakai alat seperti di Jepang itu? Yang bisa tanam cepat dan panennya banyak?”

Ayahnya tersenyum tipis.
“Kita ingin, Nak. Tapi belum sampai ke sana.”

Jawaban itu sederhana. Tapi bagi Arga, itu seperti api kecil yang menyala di dadanya.

Di sekolah, gurunya bercerita tentang Jepang yang pernah hancur, tentang Korea Selatan yang dulu miskin, dan tentang Singapura yang nyaris tanpa sumber daya alam.

“Tapi mereka maju,” kata gurunya.
“Mereka menjadikan ilmu sebagai panglima.”

Arga pulang dengan pikiran yang penuh. Jika mereka bisa, mengapa negerinya tidak?

Bukankah lautnya luas?
Bukankah tanahnya subur?
Bukankah anak-anaknya cerdas?

Tahun-tahun berlalu. Arga tumbuh menjadi mahasiswa pertanian. Ia belajar tentang teknologi drone, sensor tanah, dan rekayasa benih. Ia membaca jurnal-jurnal internasional sampai larut malam.

Namun semakin ia belajar, semakin ia sadar:
Ilmu sering berhenti di ruang kelas.

Profesor hebat jarang didengar dalam arah kebijakan.
Petani tetap berjuang sendiri.
Ia pun berjanji pada dirinya sendiri:
Ilmu tidak boleh hanya jadi gelar.

Ia harus menjadi solusi.
Ketika Arga kembali ke desa, ia tidak membawa janji. Ia membawa data. Ia membawa rancangan irigasi sederhana. Ia mengajarkan cara membaca kelembapan tanah melalui aplikasi.

Panen pertama meningkat.
Petani tersenyum.
Ayahnya terdiam lama sebelum berkata, “Ternyata ilmu bisa mengubah sawah.”

Arga tersenyum.
“Bukan hanya sawah, Yah. Ilmu bisa mengubah bangsa.”

Di balai desa, Arga berbicara kepada pemuda-pemudi:
“Bangsa besar tidak dibangun oleh orang yang pesimis. Ia dibangun oleh orang yang bermimpi dan bekerja. 

Guru harus kita muliakan. Ilmu harus kita dengarkan. Pemimpin harus berintegritas, bukan sekadar pandai bicara.”

Anak-anak desa mendengarnya dengan mata berbinar.
Di antara mereka, mungkin ada calon ilmuwan dunia.
Mungkin ada calon pemimpin jujur masa depan.

Malam itu, Arga menatap langit desa yang penuh bintang.
Ia berdoa pelan:
“Ya Allah…
Jangan biarkan negeri ini berjalan tanpa arah.
Satukan ilmu dan kebijakan.
Satukan integritas dan kekuasaan. Bangkitkan negeri kami menjadi bangsa yang bermartabat.”

Angin berhembus pelan melewati sawah yang mulai menguning.

Dan di desa kecil itu, lahir keyakinan baru:
Kemajuan bukan milik kota besar saja.
Ia bisa tumbuh dari lumpur sawah, dari tangan petani,
dari mimpi anak desa
yang berani percaya bahwa bangsanya bisa berdiri sejajar dengan dunia. 

KETIKA ALLAH MENGUBAH TAKDIR DI UJUNG KEPUTUSASAAN

KETIKA ALLAH MENGUBAH TAKDIR DI UJUNG KEPUTUSASAAN

Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang ibu penjual gorengan. Setiap hari ia berjalan kaki membawa dagangannya. 
Suaminya telah lama wafat. Anaknya dua, masih sekolah.

Suatu sore, dagangannya tak habis. Hujan turun deras. Ia duduk di emperan toko, memeluk keranjang yang masih setengah penuh. Air matanya jatuh bercampur hujan.
Dalam hati ia berkata,
“Ya Allah… kalau bukan karena anak-anak, mungkin aku sudah menyerah.”

Tiba-tiba seorang pemuda menghampiri. Ia membeli semua sisa dagangan. Bahkan memberi uang lebih. Ibu itu menolak, tapi pemuda itu berkata,
“Ibu, dulu saya pernah Ibu beri gorengan gratis karena saya tak punya uang. Hari ini saya hanya membalas.”
Ibu itu terdiam. Allah tidak pernah lupa.

Di tempat lain, ada seorang pria yang gagal dalam usaha. Hutangnya banyak. Ia pernah dihina, diremehkan, bahkan ditinggalkan orang terdekat.

Suatu malam ia sujud lama sekali. Bukan meminta kaya. Ia hanya berkata,
“Ya Allah, jangan Kau tinggalkan aku sendirian menghadapi ini.”

Bertahun-tahun kemudian, usahanya bangkit. Bukan hanya lunas hutang, ia justru membantu orang-orang yang dulu senasib dengannya.

Ketika ditanya rahasianya, ia hanya menjawab,
“Saya tidak kuat. Tapi Allah yang menguatkan.”

Sekarang mari kita kupas.
Allah berfirman:
"Fa inna ma'al 'usri yusra. Inna ma'al 'usri yusra."
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(Al-Qur'an, Surah Al-Insyirah 94:5–6)

Perhatikan… bukan setelah kesulitan.
Tetapi bersama kesulitan.
Artinya, ketika kita merasa paling terhimpit, saat itu pula pintu pertolongan sedang dipersiapkan.

Rasulullah SAW bersabda:
"Ketahuilah, pertolongan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bersama kesulitan ada kemudahan."
(HR. Ahmad no. 2803)

Mengapa banyak orang menyerah tepat sebelum pertolongan datang?

Karena manusia hanya melihat hari ini. Sedangkan Allah melihat seluruh jalan hidupnya.

Kadang kita merasa doa belum dijawab.
Padahal Allah sedang mengatur jawabannya agar datang pada waktu yang paling tepat.

Bisa jadi kita menangis hari ini agar kita bersyukur lebih dalam esok hari.

Bisa jadi kita jatuh hari ini agar kita tahu bagaimana rasanya berdiri dengan tawakal.

Ingatlah…
Allah berfirman:
"Wa may yatawakkal 'alallahi fahuwa hasbuh."
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.”
(Al-Qur'an, Surah At-Talaq 65:3)

Bukan manusia yang mencukupkan. Bukan jabatan.
Bukan relasi. Tapi Allah.

Jika hari ini ada yang sedang merasa lelah…
Jangan berhenti di titik lelahmu.
Karena sering kali, takdir terbaik Allah dimulai tepat setelah kita hampir menyerah.

Kamis, 12 Februari 2026

BERANI PERCAYA SAAT SEMUANYA RUNTUH?

BERANI PERCAYA SAAT SEMUANYA RUNTUH?

Seorang petani pernah kehilangan segalanya.
Sawahnya gagal panen. Anaknya merantau tanpa kabar. Rumahnya bocor seperti langit menangis.

Tetangganya berkata, “Sudahlah, mungkin memang sudah nasibmu.”

Ia tidak membantah. Ia hanya bangkit, mengambil air wudhu, lalu berdiri dalam gelap. Di antara sunyi dan suara jangkrik, ia membaca pelan:
"Hasbunallahu wa ni’mal wakil, sebanyak-banyaknya" Artinya: 
“Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik Pelindung”

Kalimat ini terdapat dalam Al-Qur'an, Surah Ali 'Imran ayat 173, sebagai ungkapan tawakal orang-orang beriman ketika menghadapi ancaman.

Dalam diam air matanya jatuh. Bukan karena putus asa. Tapi karena ia memilih sangat percaya kepada Allaah. 

Beberapa bulan kemudian, seorang pengusaha tertarik menyewa lahannya untuk pertanian organik. Tanah yang dulu dianggap gagal, justru menjadi ladang terbaik di desa itu. 

Anaknya pulang. Rumahnya diperbaiki. Orang-orang berkata, “Beruntung sekali kau.”

Petani itu hanya tersenyum.
“Bukan keberuntungan,” katanya pelan, “ini tentang tidak berhenti percaya ketika semuanya terasa hancur.”

Allah berfirman dalam Surah Al-Qur'an, tepatnya Surah At-Talaq ayat 2–3:
"Wa man yattaqillāha yaj‘al lahu makhrajā. Wa yarzuqhu min haitsu lā yahtasib..."
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya. Dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”

Ayat ini bukan sekadar janji.
Ia adalah tantangan untuk tetap bertakwa saat dunia memojokkan. Tantangan untuk tetap jujur saat rugi. Tantangan untuk tetap sabar saat dihina.
Tantangan untuk tetap sujud saat tidak ada lagi yang bisa diandalkan.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Sunan At-Tirmidzi:
"Ketahuilah, jika seluruh umat berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu memberi manfaat kecuali yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan mampu mencela kakanmu kecuali yang telah Allah tetapkan atasmu."

Hadis ini mengguncang rasa takut kita. Mengapa masih gentar pada manusia, jika takdir sudah ditulis?
Mengapa masih ragu melangkah, jika rezeki sudah dijamin?
Mengapa masih cemas kehilangan, jika Allah adalah Pemilik segalanya?

Hidup ini adalah tentang siapa yang paling berani menyerahkan segalanya kepada Allaah.

Ada saatnya Allah meruntuh kan satu pintu, untuk memaksa kita melihat pintu lain yang lebih luas.

Ada saatnya Allah membiarkan kita sendirian, agar kita sadar bahwa yang paling setia hanyalah Allaah.

Mukjizat datang saat hati memilih yakin — meski logika berkata mustahil.
Dan di situlah, Allah bekerja dengan cara-Nya yang paling indah.

Tukang Sapu Tak Malu-malu

Tukang Sapu Tak Malu-malu

Di sebuah kota kecil, ada seorang tukang sapu jalanan. Setiap pagi sebelum matahari terbit, ia sudah mendorong gerobaknya. 
Suatu hari, seorang anak kecil bertanya,
“Pak, kenapa Bapak selalu tersenyum? Bukankah pekerjaan ini berat?”
Ia berhenti sejenak, lalu berkata pelan,
“Nak, yang membuat hidup ini berat bukan pekerjaannya. Tapi kalau hati kita merasa hina.” Anak itu terdiam.

Bertahun-tahun kemudian, anak kecil itu tumbuh menjadi seorang pejabat. Saat diwawancarai tentang siapa yang paling menginspirasi hidupnya, ia tidak menyebut profesor, tidak menyebut tokoh besar.
Ia menyebut tukang sapu itu.
“Dia mengajarkan saya bahwa kemuliaan bukan pada jabatan, tapi pada cara kita menjalani amanah.”
Dan yang lebih mengharukan, pejabat itu kemudian memperjuangkan kesejahteraan para petugas kebersihan di kotanya.

Hidup ini bukan tentang seberapa tinggi posisi kita.
Tapi seberapa tulus kita bekerja.

Bukan tentang dilihat manusia. Tapi tentang dinilai Allah. Jangan malu dengan prosesmu.
Jangan kecil hati dengan keadaanmu.
Karena bisa jadi, dari tempat yang paling sederhana,
lahir pengaruh yang luar biasa.