Laqadja akum rasulum


web stats

Selasa, 16 Juni 2026

Air Mata di Ujung Senja Cerpen: oleh Ismilianto

 Air Mata di Ujung Senja
Cerpen: oleh Ismilianto

Sore itu langit berwarna jingga. Orang-orang sibuk membicarakan datangnya Tahun Baru 1 Muharam. Sebagian memasang spanduk, sebagian lagi membuat acara di masjid.

Di sebuah rumah sederhana, seorang kakek duduk sendiri di beranda. Rambutnya memutih. Tangannya bergetar memegang kalender tua yang tergantung di dinding.

Perlahan ia mencoret angka tahun yang akan berlalu.
Matanya menatap lama.
Lalu air matanya jatuh.
Bukan karena sedih menyambut tahun baru.
Tetapi karena ia sadar, umurnya berkurang satu tahun lagi.

Ia teringat masa mudanya.
Dulu tubuhnya kuat. Berlari ke sawah tanpa lelah. Mendaki bukit tanpa sesak. Makan apa saja tanpa takut penyakit.
Ketika azan berkumandang, sering ia berkata, "Nanti saja."

Ketika diajak ke masjid, ia menjawab, "Masih muda."
Ketika dinasihati tentang kematian, ia tersenyum, "Masih lama."
Tahun demi tahun berlalu.
"Nanti saja" berubah menjadi puluhan tahun.

Sampai suatu hari sahabat-sahabatnya mulai dipanggil satu per satu.
Ada yang meninggal karena sakit.
Ada yang wafat saat tidur.
Ada yang berangkat ke kebun lalu tak pernah pulang lagi.
Kuburan yang dulu jarang dikunjungi kini semakin penuh oleh orang-orang yang pernah dikenalnya.
Dan hari itu, menjelang 1 Muharam, ia membuka album foto lama.

Di sana ada foto ayahnya.
Ayah yang dulu menggandeng tangannya ke masjid.
Kini sudah puluhan tahun berada di alam kubur. 

Ada foto ibunya.
Perempuan yang dahulu selalu mendoakannya setiap malam.
Kini tinggal nama di batu nisan.

Ada foto sahabat-sahabat masa kecilnya.
Sebagian besar sudah lebih dahulu menghadap Allah.
Tiba-tiba dadanya terasa sesak.

Ia berbisik pelan,
"Dulu aku mengantar mereka ke kuburan. Sekarang tinggal menunggu siapa yang akan mengantarku."

Tak lama kemudian terdengar azan Magrib.
Suara itu terasa berbeda.
Seolah bukan panggilan untuk salat semata.
Tetapi panggilan agar ia segera pulang kepada Allah.
Dengan langkah tertatih, ia berjalan menuju masjid.

Di tengah jalan ia melihat anak-anak muda tertawa, bercanda, berlari-lari.
Seketika ia seperti melihat dirinya sendiri puluhan tahun yang lalu.
Ia ingin menghentikan mereka dan berkata,
"Wahai anak-anak muda, jangan tertipu oleh kuatnya badanmu. Aku pernah sekuat kalian. Jangan tertipu oleh panjangnya anganmu. Aku pernah merasa kematian masih jauh. Ternyata kematian lebih cepat daripada yang kukira."

Namun kata-kata itu hanya tertahan di dalam hati.
Malam itu setelah salat Isya, ia duduk lama di masjid.
Orang-orang sudah pulang.
Lampu-lampu mulai dipadamkan.
Ia menengadahkan tangan.
Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan.

"Ya Allah... jika tahun-tahun yang lalu banyak kuisi dengan kelalaian, ampunilah aku. Jika umurku tinggal sedikit, jadikan sisa yang sedikit itu lebih baik daripada seluruh umurku yang telah lalu."

Beberapa bulan kemudian, ketika Muharam belum genap setahun berlalu, kakek itu dipanggil Allah.
Warga kampung berbondong-bondong mengantarkan jenazahnya.

Di antara mereka ada seorang pemuda yang pernah melihatnya berjalan tertatih menuju masjid pada malam 1 Muharam itu.
Pemuda tersebut menangis di tepi kuburnya.

Karena ia baru sadar...
Tahun baru bukanlah tanda umur bertambah.
Tetapi tanda jatah hidup semakin berkurang.
Dan setiap 1 Muharam yang datang sebenarnya sedang berbisik kepada kita:
"Engkau tidak sedang memasuki tahun yang baru. Engkau sedang meninggalkan satu tahun hidupmu untuk selama-lamanya."

Aku Hanya Ingin Dipuji" Cerpen: oleh Ismilianto


"Aku Hanya Ingin Dipuji"
Cerpen: oleh Ismilianto

Rian baru saja tamat SMA.
Hari kelulusan itu menjadi hari yang paling membanggakan dalam hidupnya. Ia merasa dirinya sudah menjadi orang besar.
Sejak saat itu, ada satu penyakit yang diam-diam tumbuh di hatinya: ingin dipuji.
Apa saja yang dimilikinya selalu ingin diperlihatkan kepada orang lain.
Saat membeli ponsel baru, ia sengaja meletakkannya di atas meja warung agar semua orang melihat.
Ketika memakai baju baru, ia berulang kali berjalan melewati kerumunan teman-temannya.

Ketika ayahnya membelikannya sepeda motor dengan uang hasil menjual sebidang kebun kecil, ia berkeliling kampung berkali-kali.

Dalam hati ia berkata,
"Sekarang mereka pasti tahu aku sudah sukses."
Padahal ia baru saja tamat SMA.

Ayah dan ibunya hanya tersenyum melihat tingkah anak tunggal mereka itu.
Mereka tidak pernah marah.
Mereka hanya berharap suatu hari nanti anaknya mengerti arti kehidupan.
Waktu berlalu.

Rian mendapat pekerjaan di kota.
Gajinya tidak besar, tetapi cukup untuk membeli barang-barang yang menurutnya bisa menaikkan gengsi.

Media sosialnya penuh dengan foto dirinya.
Foto di restoran.
Foto di depan mobil milik temannya.
Foto saat memegang setumpuk uang.
Semua ingin dipamerkan.
Semua ingin mendapat pujian.
Suatu malam telepon dari kampung berdering.
Ayahnya sakit keras.
Rian pulang tergesa-gesa.
Sesampainya di rumah, ia terkejut.

Rumah itu tampak semakin tua.
Dindingnya mulai lapuk.
Atapnya bocor di beberapa tempat.
Di sudut rumah, ia melihat ibunya sedang menanak nasi dengan kayu bakar.
Matanya tiba-tiba tertuju pada lemari tua.

Di dalamnya tersimpan rapi semua piagam dan foto-foto kelulusannya sejak SD.
Ibunya berkata pelan,
"Semua ini Ibu simpan baik-baik. Ibu bangga padamu."
Rian terdiam.

Malam itu kondisi ayahnya semakin memburuk.
Menjelang Subuh, ayahnya memanggilnya mendekat.
Dengan suara lemah ayah berkata,
"Rian... jangan habiskan hidupmu untuk mencari pujian manusia."

Air mata mulai mengalir dari sudut mata ayahnya.
"Lihatlah tangan Ayah."
Rian memegang tangan kasar itu.
Tangan yang penuh bekas cangkul.
Penuh luka lama.
Penuh kapalan.
"Itulah harga yang Ayah bayar agar kau bisa sekolah."

Rian menangis.
Ayah melanjutkan,
"Ayah tidak pernah bangga karena punya anak yang bergaya. Ayah bangga kalau punya anak yang rendah hati."
Kalimat itu menjadi kalimat terakhir yang didengarnya.
Beberapa saat kemudian, sang ayah menghembuskan napas terakhir.

Dunia Rian seakan runtuh.
Di pemakaman, hujan turun perlahan.
Orang-orang mulai pulang.
Ia duduk sendiri di dekat pusara ayahnya.

Tiba-tiba ia teringat semua yang pernah dipamerkannya.
Ponsel yang kini sudah usang.
Sepatu mahal yang sudah rusak.
Pakaian bermerek yang sudah tidak dipakai.
Semuanya tidak ada artinya.
Yang berharga justru tangan kasar ayahnya yang kini telah terkubur di dalam tanah.

Sambil menangis ia berbisik,
"Ayah... aku terlalu sibuk mencari tepuk tangan manusia, sampai lupa menghargai orang yang paling berjasa dalam hidupku."
Namun penyesalan selalu datang terlambat.

Sejak hari itu, Rian berubah.
Ia lebih banyak membantu ibunya.
Lebih banyak bersedekah.
Lebih banyak berbuat baik tanpa perlu diketahui orang lain.

Karena akhirnya ia memahami satu pelajaran yang sangat mahal:
Pujian manusia hanya bertahan sesaat. Tetapi doa orang tua yang ridha mampu menerangi hidup hingga dunia dan akhirat.

"Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: 'Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku waktu kecil.'" (QS. Al-Isra': 24)

Betapa banyak anak yang menangis di atas kuburan orang tuanya, bukan karena tidak mencintai mereka, tetapip karena terlambat menunjukkan cinta itu saat mereka masih hidup.

Senin, 15 Juni 2026

Jangan Lengah Saat Usia Muda dan Tubuh Masih Sehat Kuat

Jangan Lengah Saat Usia Muda dan Tubuh Masih Sehat Kuat

Banyak orang mengira masa tua masih jauh. Banyak orang merasa tubuhnya masih kuat, langkahnya masih tegap, dan napasnya masih panjang. Karena itu, ibadah ditunda, taubat ditunda, sedekah ditunda, bahkan berbuat baik pun sering ditunda.
Padahal Allah tidak pernah menjanjikan bahwa yang tua pasti meninggal lebih dahulu daripada yang muda.

Hari ini kita sering melihat anak muda meninggal karena kecelakaan, serangan jantung, sakit mendadak, atau sebab lain yang tidak pernah disangka. Kuburan tidak hanya diisi orang tua. Kuburan juga diisi anak-anak muda yang kemarin masih tertawa, bercita-cita, dan merencanakan masa depan.

Rasulullah SAW bersabda:
"Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu." (HR. Al-Hakim)

Hadis ini adalah peringatan yang sangat dalam. Masa muda dan sehat adalah modal terbesar yang sering disia-siakan manusia.

Mengapa Masa Muda Sangat Berharga?

Karena saat muda tenaga masih kuat.
Shalat malam terasa ringan.
Puasa sunnah masih kuat.
Belajar Al-Qur'an masih mudah.
Mencari rezeki halal masih bersemangat.
Berbakti kepada orang tua masih memungkinkan.

Tetapi ketika usia bertambah, tenaga mulai berkurang.
Lutut mulai sakit.
Mata mulai kabur.
Pendengaran mulai melemah.
Ingatan mulai berkurang.
Saat itu banyak orang berkata:
"Andai dulu aku rajin beribadah ketika masih kuat."
Namun waktu tidak pernah kembali.

Allah berfirman:
"Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, 'Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia agar aku dapat berbuat kebajikan terhadap yang telah aku tinggalkan.' Sekali-kali tidak." (QS. Al-Mu'minun: 99-100)

Ada kisah seorang pemuda yang terkenal sehat dan kuat. Ia sering berkata kepada teman-temannya:
"Nanti kalau umur sudah lima puluh tahun aku akan rajin ke masjid."
"Nanti kalau sudah pensiun aku akan memperbanyak ibadah."
"Nanti kalau sudah tua aku akan bertaubat."
Suatu malam ia berangkat bersama teman-temannya. Di tengah perjalanan terjadi kecelakaan. Pemuda itu meninggal saat itu juga.

Yang paling menyedihkan, semua rencana taubat yang selalu ia ucapkan tidak pernah sempat terlaksana.
Kain kafan datang lebih cepat daripada jadwal taubat yang ia buat sendiri.
Betapa banyak manusia hidup seperti itu.

Merencanakan dunia sampai puluhan tahun ke depan, tetapi tidak pernah merencanakan kematian yang bisa datang malam ini.
Kisah Nyata Imam Nawawi
Imam Nawawi wafat pada usia sekitar 45 tahun.

Usianya tidak panjang dibanding banyak orang lain. Namun keberkahannya luar biasa.
Sejak muda beliau mengisi waktunya dengan ilmu, ibadah, dan mengajar umat.
Hingga hari ini jutaan muslim masih membaca karya-karyanya.

Beliau memahami bahwa umur bukan soal panjangnya tahun, tetapi banyaknya manfaat yang ditinggalkan.
Ada orang hidup sampai 80 tahun tetapi sedikit amalnya.
Ada yang hidup 40 tahun tetapi manfaatnya terus mengalir sampai ratusan tahun setelah wafat.

Ada kisah seorang pemuda di sebuah kota selalu mendengar adzan dari masjid dekat rumahnya.
Ayahnya sering berkata:
"Nak, mari ke masjid."
Jawabannya selalu:
"Nanti saja."
Suatu hari ayahnya kembali mengajaknya untuk shalat Subuh berjamaah.
Ia menjawab:
"Nanti kalau sudah tua."
Tidak lama kemudian ia sakit mendadak dan meninggal.
Ketika jenazahnya dibawa ke masjid, orang-orang berkata dengan sedih:
"Hari ini dia akhirnya datang ke masjid, tetapi di atas pundak manusia."

Kalimat ini sangat menggetarkan hati.
Jangan sampai kaki kita enggan berjalan ke rumah Allah saat hidup, tetapi akhirnya dibawa ke sana sebagai jenazah.

Tubuh Sehat adalah Amanah
Tubuh yang kuat bukan milik kita sepenuhnya.
Ia adalah titipan Allah.
Mata yang sehat untuk membaca Al-Qur'an.
Telinga yang sehat untuk mendengar nasihat.
Kaki yang kuat untuk melangkah ke masjid.
Tangan yang kuat untuk membantu sesama.
Kelak semua akan dimintai pertanggungjawaban.

Allah berfirman:
"Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang segala nikmat." (QS. At-Takatsur: 8)

Nikmat sehat termasuk yang pertama kali akan ditanyakan.
Tujuh Golongan yang Mendapat Naungan Allah. 

Rasulullah SAW menyebutkan salah satu golongan yang mendapat naungan Allah pada hari kiamat adalah:
"Pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan, Rasulullah tidak menyebut orang tua yang rajin beribadah, tetapi secara khusus menyebut pemuda yang menggunakan masa mudanya untuk taat kepada Allah.
Karena godaan masa muda sangat besar.
Siapa yang mampu menjaga dirinya saat muda, maka kedudukannya sangat mulia di sisi Allah.

Mari Renungkan
Wahai saudaraku...

Jangan tunggu sakit untuk rajin berzikir.
Jangan tunggu tua untuk membaca Al-Qur'an.
Jangan tunggu pensiun untuk ke masjid.
Jangan tunggu musibah untuk mendekat kepada Allah.
Karena tidak ada yang tahu apakah kita akan sampai pada hari esok.

Banyak orang yang tadi pagi masih sehat, sore harinya sudah berada di liang lahat.
Banyak orang yang semalam masih bercanda dengan keluarganya, pagi harinya sudah dishalatkan.

Selama napas masih berembus, selama kaki masih mampu melangkah, selama mata masih bisa melihat, maka gunakanlah semua itu untuk mendekat kepada Allah.

Sebab ketika ajal tiba, yang menemani kita bukan jabatan, bukan harta, bukan kendaraan, bukan rumah yang megah.
Yang menemani hanyalah amal saleh.

"Ya Allah, jangan Engkau cabut nyawa kami kecuali dalam keadaan beriman, jadikan masa muda, kesehatan, dan sisa umur kami sebagai jalan menuju ridha-Mu, serta tutuplah hidup kami dengan husnul khatimah. Aamiin ya Rabbal 'alamin."

PENUTUP PETANG

PENUTUP PETANG

Petang ini, sebelum matahari benar-benar tenggelam, mari sejenak bertanya kepada diri sendiri:
"Jika malam ini adalah malam terakhirku, bekal apa yang akan kubawa menghadap Allah?"

Ada seorang lelaki tua yang hidup sederhana. Menjelang wafatnya, anak-anaknya bertanya, "Ayah, apa harta terbesar yang ayah tinggalkan untuk kami?"

Sang ayah tersenyum lalu berkata, "Aku tidak meninggalkan emas yang banyak. Tetapi aku berusaha tidak meninggalkan satu pun salat wajib dengan sengaja, dan aku selalu memohon ampun kepada Allah setiap hari."

Beberapa saat kemudian, ia mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah dan menghembuskan napas terakhirnya.
Harta akan ditinggalkan. Jabatan akan dilepaskan. Rumah dan kendaraan akan berpindah tangan. Namun salat, sedekah, istighfar, dan amal saleh akan ikut menemani hingga ke alam kubur.

Allah berfirman:
"Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa."
(QS. Al-Baqarah: 197)
Maka petang ini, sebelum malam datang:
• Maafkan orang yang pernah menyakiti kita.
• Mohon ampun atas dosa-dosa kita.
• Hubungi keluarga yang lama tidak disapa.
• Jangan tinggalkan salat Magrib berjamaah jika mampu.
• Perbanyak shalawat kepada Nabi SAW.

Siapa tahu, petang ini adalah petang biasa bagi manusia, tetapi menjadi petang yang sangat istimewa di sisi Allah karena kita pulang kepada-Nya dengan hati yang bertobat.

Ya Allah, tutuplah petang kami dengan ampunan-Mu, lapangkan rezeki kami, sehatkan tubuh kami, berkahi keluarga kami, dan jangan Engkau cabut nyawa kami kecuali dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Minggu, 14 Juni 2026

SAKIT ITU JALAN PERTEMUAN DENGAN ALLAH

SAKIT ITU JALAN PERTEMUAN DENGAN ALLAH

Tidak ada seorang pun yang ingin sakit.
Ketika tubuh lemah, langkah menjadi lambat. Ketika penyakit datang, harta terkuras, tenaga berkurang, dan hari-hari terasa lebih panjang dari biasanya.
Namun, ada satu rahasia besar yang sering tidak disadari:
Banyak orang justru menemukan Allah saat mereka sakit.

Saat sehat, manusia sering merasa kuat. Merasa masih punya waktu panjang. Merasa masih mampu mengatur hidupnya sendiri.
Tetapi ketika terbaring di atas ranjang, saat jarum infus menempel di tangan, saat dokter berkata, "Kita lihat perkembangannya dulu," barulah hati menyadari betapa lemahnya diri ini di hadapan Allah.

Rasulullah SAW bersabda:
"Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, gangguan, kegundahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya karenanya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Ada sebuah kisah nyata yang sangat menyentuh.
Seorang pengusaha sukses pernah berkata bahwa selama puluhan tahun hidupnya ia jarang shalat tepat waktu.

Kesibukan usaha membuatnya merasa tidak punya waktu. Semua berjalan baik hingga suatu hari dokter menemukan penyakit berat dalam tubuhnya.

Berbulan-bulan ia keluar masuk rumah sakit.
Pada malam-malam yang sunyi, ketika keluarganya tertidur dan hanya suara alat medis yang terdengar, ia mulai menangis.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia mengangkat kedua tangan dan berdoa dengan sungguh-sungguh.
Ia berkata,
"Ya Allah, dulu aku terlalu sibuk mengejar dunia sampai melupakan-Mu. Jika Engkau memberi kesempatan hidup lagi, aku ingin lebih dekat kepada-Mu."

Penyakit itu belum tentu langsung sembuh. Namun sejak saat itu hidupnya berubah.
Ia menjaga shalat berjamaah, memperbanyak sedekah, membaca Al-Qur'an, dan memperbaiki hubungannya dengan keluarga.

Suatu hari ia berkata kepada sahabatnya,
"Aku tidak pernah mengucapkan terima kasih kepada penyakitku. Tetapi melalui sakit itulah aku menemukan jalan pulang kepada Allah."

Betapa banyak orang yang sehat jasadnya tetapi sakit hatinya.
Dan betapa banyak orang yang sakit jasadnya tetapi hatinya semakin dekat kepada Allah.

Karena itu, jika hari ini kita masih sehat, dekatlah kepada Allah sebelum sakit datang.
Dan jika hari ini kita sedang sakit, jangan hanya melihat rasa sakitnya.
Mungkin Allah sedang membersihkan dosa-dosa kita.
Mungkin Allah sedang meninggikan derajat kita.
Mungkin Allah sedang memanggil kita untuk lebih dekat kepada-Nya.

Sebab terkadang, sakit bukanlah akhir perjalanan, melainkan jalan pertemuan yang lebih dekat dengan Allah.
"Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku." (QS. Asy-Syu'ara: 80)

Semoga setiap sakit yang kita rasakan menjadi penghapus dosa, pengangkat derajat, dan jalan yang mengantarkan kita kepada ridha Allah. Aamiin.

Sabtu, 13 Juni 2026

PAGI INI .... Ketika Pikun, Apakah Pahala Masih Mengalir?

PAGI INI  .... 
Ketika Pikun, Apakah Pahala Masih Mengalir?

Tidak sedikit orang yang di masa mudanya kuat, cerdas, hafal banyak hal, rajin bekerja, dan aktif beribadah. Namun ketika usia senja tiba, sebagian di antara mereka mengalami pikun. Mereka lupa nama anaknya, lupa rumahnya, bahkan terkadang lupa dirinya sendiri.

Allah telah mengingatkan hal ini dalam Al-Qur'an:
"Wallahu khalaqakum tsumma yatawaffakum, wa minkum man yuraddu ila ardzalil 'umuri likaila ya'lama ba'da 'ilmin syai'a."
"Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu, dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang dahulu telah diketahuinya." (QS. An-Nahl: 70)

Lalu bagaimana dengan orang yang pikun sebelum meninggal?

Jika pikunnya telah menghilangkan kesadaran dan kemampuan memahami kewajiban agama, maka Allah Yang Maha Adil tidak lagi membebaninya. Shalat, puasa, dan kewajiban lainnya gugur sesuai kemampuannya.
Yang lebih menenangkan, apabila semasa sehat ia rajin beribadah, maka kita berharap pahala amal-amal yang biasa dilakukannya tetap mengalir.

Rasulullah SAW bersabda:
"Apabila seorang hamba sakit atau bepergian, maka dicatat baginya pahala seperti yang biasa ia kerjakan ketika sehat dan mukim." (HR. Bukhari)

Ada sebuah kisah yang membuat hati bergetar.
Seorang kakek yang dahulu tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah mulai mengalami pikun. Ia tidak mengenali anak-anaknya dan sering lupa banyak hal. Namun suatu dini hari, menjelang Subuh, ia bangun dengan tergesa-gesa mencari sarung dan kopiahnya.
Ketika ditanya hendak ke mana, ia menjawab,
"Ayo ke masjid... nanti terlambat."
Padahal ia sudah tidak mengenali orang yang bertanya kepadanya.

Subhanallah...
Ternyata ingatannya kepada manusia telah memudar, tetapi kebiasaan menghadap Allah masih tersimpan kuat dalam jiwanya.

Karena itu, jangan menunda amal saleh. Biasakan shalat berjamaah, membaca Al-Qur'an, berdzikir, bersedekah, dan berbuat baik sejak hari ini.
Boleh jadi suatu saat tubuh kita melemah, ingatan kita memudar, dan lisan kita tak lagi mampu berdzikir. Namun amal-amal yang telah menjadi kebiasaan akan tetap menjadi cahaya yang menemani kita hingga akhir perjalanan.

"Jangan tunggu tua untuk menjadi ahli ibadah. Beribadahlah sejak muda, agar ketika tua datang, pahala tetap berjalan meski tenaga telah hilang."

Semoga Allah menjaga akal kita, memberkahi usia kita, dan mengakhiri hidup kita dengan husnul khatimah. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin. 

Jumat, 12 Juni 2026

MENGAPA KESULITAN SELALU MENDATANGI MANUSIA?

MENGAPA KESULITAN SELALU MENDATANGI MANUSIA?

Tidak ada manusia yang hidup tanpa kesulitan.
Ada yang diuji dengan kemiskinan, ada yang diuji dengan kekayaan. Ada yang diuji dengan sakit, ada yang diuji dengan kesehatan. Ada yang diuji dengan hutang, ada yang diuji dengan jabatan. Bahkan para nabi sekalipun tidak luput dari ujian.

Mengapa demikian?
Karena dunia bukan tempat istirahat, melainkan tempat ujian.

Allah berfirman:
"Alladzi khalaqal mauta wal hayata liyabluwakum ayyukum ahsanu 'amala."
"Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu siapa di antara kamu yang terbaik amalnya." (QS. Al-Mulk: 2)

Kesulitan sering kali datang bukan karena Allah membenci hamba-Nya. Justru kadang kesulitan datang karena Allah ingin mendengar doa hamba-Nya, menghapus dosa-dosanya, meninggikan derajatnya, atau mengembalikannya ke jalan yang benar.

Betapa banyak orang yang rajin berdoa setelah ditimpa kesulitan, padahal sebelumnya jarang mengangkat tangan kepada Allah.

Betapa banyak orang yang rajin ke masjid setelah mengalami musibah, padahal sebelumnya lalai dari shalat berjamaah.
Kesulitan sering menjadi pintu yang mengantarkan manusia kembali kepada Rabb-nya.

Ada sebuah kisah nyata yang sangat mengharukan.
Seorang pedagang kecil mengalami kebangkrutan. Modal habis, dagangan tidak laku, dan hutang terus bertambah. Setiap malam ia memikirkan bagaimana memberi makan keluarganya keesokan hari.

Suatu malam, dalam keputusasaan, ia duduk sendirian di teras rumah. Air matanya jatuh. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia melakukan shalat tahajud dengan penuh kekhusyukan.

Ia mengaku bahwa selama usahanya lancar, ia sering menunda shalat dan jarang berdoa. Namun ketika semua pintu seakan tertutup, ia menemukan satu pintu yang ternyata selalu terbuka, yaitu pintu Allah.

Malam demi malam ia memperbanyak istighfar.
Membaca:
"Astaghfirullahal 'azhim wa atubu ilaih."
Ia juga mengamalkan firman Allah:
"Fastaghfiru rabbakum innahu kana ghaffara. Yursilis samaa'a 'alaikum midrara. Wa yumdidkum bi amwalin wa banin."
"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu." (QS. Nuh: 10-12)

Beberapa bulan kemudian, seorang teman lama yang tidak pernah ia sangka datang menawarkan kerja sama usaha. Dari situlah kehidupannya perlahan bangkit kembali.

Ketika ditanya apa pelajaran terbesar dari musibah yang dialaminya, ia menjawab:
"Dulu saya mengira kebangkrutan adalah bencana terbesar dalam hidup saya. Ternyata itu adalah jalan yang Allah gunakan untuk membawa saya kembali kepada-Nya."

Saudaraku,
Jika hari ini kita sedang menghadapi kesulitan, jangan terburu-buru menganggapnya sebagai keburukan.
Boleh jadi kesulitan itu adalah undangan dari Allah agar kita lebih banyak berdoa.
Boleh jadi kesulitan itu adalah penghapus dosa.
Boleh jadi kesulitan itu adalah jalan menuju rezeki yang lebih baik.
Dan boleh jadi, di balik air mata yang kita teteskan hari ini, Allah sedang menyiapkan kebahagiaan yang belum pernah kita bayangkan.

"Fa inna ma'al 'usri yusra. Inna ma'al 'usri yusra."
"Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 5-6)

Semoga Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesulitan kita, melapangkan rezeki, memudahkan urusan keluarga, dan mengganti setiap kesedihan dengan kebahagiaan yang penuh keberkahan. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.