Laqadja akum rasulum


web stats

Rabu, 03 Juni 2026

SURAT NUH AYAT 10–12

SURAT NUH AYAT 10–12

Ayat 10

Faqultustagh firuu rabbakum innahuu kaana ghaffaa raa.

Ayat 11

Yursilis samaa 'a 'alaikum midraa raa.

Ayat 12

Wayum didkum bi am waa liw wa baniin, 

wa yaj'al lakum jannaa tiw wayaj 'al lakum anhaa raa.


Artinya secara ringkas:
"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan yang lebat kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan untukmu kebun-kebun dan sungai-sungai." (QS. Nuh: 10–12)

Surat Hud ayat 3–5

SURAT HUD AYAT 3–5

Ayat 3

Wa anis tagh firuu rabbakum tsumma tuu buu ilaihi

yumatti' kum mataa 'an hasanah

ilaa ajalimmusammaw wa yu' ti kulla dzii fadlin fadhlah,

wa in tawallau fa innii akhaa fu 'alaikum 'adzaa ba yaumin kabiir.

Ayat 4

Ilallaahi marji 'ukum wa huwa 'alaa kulli syai'in qadiir.

Ayat 5

Alaa innahum yats nuu na shuduu rahum liyas takh fuu minhu, 

alaa hii na yastagh syuu na tsiyaa bahum 

ya' lamu maa yusirruu nawa maa yu' linuun, 

innahu 'alii mun bidzaa tis shuduur.

PETANG INI: JANGAN PUTUSKAN TALI SILATURAHMI

PETANG INI: JANGAN PUTUSKAN TALI SILATURAHMI

Di sebuah desa, dua orang kakak beradik tidak saling berbicara selama belasan tahun. Penyebabnya hanya sebidang tanah warisan yang nilainya tidak seberapa. Keduanya merasa paling benar.

Lebaran datang dan pergi tanpa saling berkunjung.
Suatu hari, sang adik mendapat kabar bahwa kakaknya sakit keras. Ia ingin datang, tetapi gengsi menahannya.

Beberapa bulan kemudian terdengar kabar:
"Kakak sudah meninggal dunia."

Di pemakaman, sang adik menangis tersedu-sedu sambil memegang tanah kuburan yang masih basah.
"Maafkan aku, Kak. Aku terlambat."

Kalimat itu keluar, tetapi sudah tidak terdengar oleh orang yang dituju.
Betapa banyak penyesalan di dunia ini lahir bukan karena tidak sempat marah, tetapi karena terlambat memaafkan.

Allah berfirman:
"Wal ya'fu wal yashfahu. Alaa tuhibbuuna ay yaghfirallahu lakum."
"Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu?"
(QS. An-Nur: 22)

Ada pula kisah seorang ayah yang bertahun-tahun tidak berbicara dengan anaknya karena sebuah kesalahan. Sang anak berkali-kali ingin pulang meminta maaf, tetapi malu.

Takdir berkata lain.
Sebelum sempat pulang, sang anak meninggal dalam kecelakaan.

Saat melihat jenazah anaknya, sang ayah menangis sambil berbisik:
"Nak, Ayah sudah memaafkanmu. Mengapa Ayah tidak mengatakannya lebih cepat?"

Sejak hari itu, tidak ada lagi yang bisa diperbaiki selain penyesalan.
Rasulullah SAW bersabda:
"Laa yahillu limuslimin an yahjura akhaahu fauqa tsalaatsi layaalin."
"Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam." (HR. Bukhari dan Muslim)

Petang ini, mungkin ada saudara yang sudah lama tidak kita sapa. Mungkin ada sahabat yang pernah melukai hati kita. Mungkin ada keluarga yang hubungannya masih renggang.

Jangan tunggu sampai berita kematian datang. Jangan tunggu sampai kita berdiri di depan pusara. Jangan tunggu sampai kata "maaf" hanya menjadi air mata.

Karena memaafkan tidak membuat kita rendah.
Justru memaafkan adalah kemuliaan.

Allah berfirman:
"Wal kaazhimiinal ghaizha wal 'aafiina 'anin naas. Wallaahu yuhibbul muhsiniin."
"Orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan."
(QS. Ali 'Imran: 134)

Sebelum Magrib tiba, cobalah kirim satu pesan:
"Assalamu'alaikum, jika selama ini ada salah dan khilaf, saya mohon maaf."

Bisa jadi pesan sederhana itu menyelamatkan hubungan yang hampir putus. Bisa jadi itulah amal yang paling dicintai Allah pada petang ini.

Doa:
Allahumma allif baina quluubinaa, wa ashlih dzaata baininaa, wahdinaa subulas salaam, waj'alnaa minal mutasaamihiin wal mutaraahimiin.
"Ya Allah, satukan hati-hati kami, perbaikilah hubungan di antara kami, tunjukilah kami jalan keselamatan, dan jadikan kami termasuk orang-orang yang saling memaafkan dan saling menyayangi."
Aamiin ya Rabbal 'aalamiin.

Selasa, 02 Juni 2026

SELAMATKAN KELUARGAMU, DUNIA DAN AKHIRAT

SELAMATKAN KELUARGAMU, DUNIA DAN AKHIRAT

Seorang ayah tua pernah menangis di depan makam anaknya.
Bukan karena anaknya meninggal muda.
Bukan karena kehilangan harta.
Tetapi karena sebuah kalimat yang terus menghantuinya:
"Dulu aku bekerja siang malam agar anakku kaya, tetapi aku lupa mengajarinya salat."

Anaknya tumbuh menjadi orang berhasil. Rumah besar, mobil mewah, usaha berkembang. Namun salat ditinggalkan, Al-Qur'an jarang dibaca, dan orang tua tidak lagi dihormati.
Ketika ajal menjemput sang anak, yang tersisa hanyalah penyesalan.

Ayah itu berkata,
"Aku berhasil menyelamatkan masa depan dunianya, tetapi aku gagal menyelamatkan akhiratnya."
Inilah tragedi yang sering terjadi.

Banyak orang tua sangat khawatir anaknya tidak lulus sekolah, tetapi tidak khawatir jika anaknya meninggalkan salat.
Sangat takut anaknya miskin, tetapi tidak takut anaknya jauh dari Allah.
Padahal Allah telah memberikan perintah yang sangat jelas:
"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. At-Tahrim: 6)

Tugas terbesar seorang ayah dan ibu bukan hanya memberi makan, pakaian, dan pendidikan dunia.
Tetapi membimbing keluarga menuju keselamatan akhirat.

Allah juga memuji orang-orang beriman yang selalu berdoa:
"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata kami..."
(QS. Al-Furqan: 74)

Dalam hadis, Rasulullah SAW bersabda:
"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ada kisah nyata yang sering diceritakan para ulama.
Seorang ibu miskin di kampung selalu membangunkan anak-anaknya untuk salat Subuh. Ia tidak memiliki harta banyak untuk diwariskan. Namun ia mewariskan iman, adab, dan kecintaan kepada Al-Qur'an.

Puluhan tahun kemudian, anak-anaknya menjadi orang-orang yang berhasil. Ada yang menjadi guru, pengusaha, dan pemimpin masyarakat. Mereka tetap mencintai ibunya dan selalu mendoakannya.

Ketika sang ibu wafat, anak-anaknya tidak berhenti mengirim doa dan sedekah.
Warisan terbaik ternyata bukan tanah dan rumah.
Warisan terbaik adalah iman yang terus hidup setelah kita mati.

Maka jika ingin menyelamatkan keluargamu dunia dan akhirat:

Pertama, tegakkan salat di rumah, tapi suami di mesjid dan berkahnya sampai ke rumah. 

Kedua, biasakan membaca Al-Qur'an bersama.

Ketiga, hormati dan berbakti kepada orang tua.

Keempat, carilah rezeki yang halal.

Kelima, jadilah teladan sebelum menjadi penasehat.
Jangan sampai rumah kita megah di dunia, tetapi kosong dari dzikir kepada Allah.
Jangan sampai anak-anak kita sukses di dunia, tetapi tersesat di akhirat.

Karena kebahagiaan sejati bukan sekadar berkumpul di ruang tamu.
Melainkan berkumpul kembali di surga, dalam rahmat Allah yang abadi.

"Ya Allah, selamatkanlah kami, pasangan kami, anak-anak kami, cucu-cucu kami, serta seluruh keluarga kami dalam urusan dunia dan akhirat. Jadikan rumah kami rumah yang dipenuhi iman, keberkahan, dan keselamatan hingga kami berkumpul kembali di surga-Mu." Aamiin.

SUARANYA LEBIH KERAS

SUARANYA LEBIH KERAS

Di sebuah kampung, hiduplah seorang ibu tua yang membesarkan anaknya seorang diri.

Sejak kecil, anak itu sangat cerdas. Sekolahnya tinggi, pekerjaannya bagus, penghasilannya besar. Orang-orang memuji keberhasilannya.
Namun ada satu kebiasaan buruk yang tidak pernah ia tinggalkan.

Setiap kali berbicara dengan ibunya, suaranya selalu lebih keras.
Jika ibunya memberi saran, ia membantah.
Jika ibunya mengingatkan, ia merasa paling benar.

Jika ibunya bertanya, ia menjawab dengan nada tinggi.
Bukan karena ia membenci ibunya. Ia hanya merasa dirinya lebih tahu.

Suatu hari ibunya berkata pelan,
"Nak, Ibu sudah tua. Jika Ibu salah bicara, jangan dibentak. Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu."
Anak itu diam. Tetapi kebiasaan itu tidak berubah.

Tahun demi tahun berlalu.
Hingga suatu pagi, ibunya meninggal dunia.
Rumah yang biasanya ramai mendadak sunyi.
Ketika jenazah ibunya dimandikan, anak itu berdiri memandang wajah yang telah terbujur kaku.

Tiba-tiba ia teringat semua perdebatan yang pernah terjadi.
Ia teringat saat meninggikan suara.
Ia teringat saat memotong pembicaraan ibunya.
Ia teringat saat membuat ibunya terdiam karena tidak ingin bertengkar.

Saat itulah dadanya sesak.
Ia mendekat ke wajah ibunya dan berkata sambil menangis,
"Ibu... sekali saja lagi berbicaralah. Kali ini aku akan mendengarkan."

Tetapi yang pergi tidak akan kembali.
Air mata yang mengalir saat itu tidak mampu menghapus satu kalimat kasar pun yang pernah keluar dari mulutnya.

Allah berfirman:
"Maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah', dan janganlah engkau membentak keduanya..." (QS. Al-Isra': 23)

Para ulama menjelaskan, jika ucapan ringan seperti "ah" saja dilarang, maka membentak, menghardik, atau meninggikan suara kepada orang tua lebih berat lagi dosanya.

Banyak anak menyesal setelah orang tuanya wafat.
Bukan karena kurang memberi uang.
Bukan karena kurang memberi hadiah.
Tetapi karena terlalu banyak membantah dan terlalu sedikit mendengarkan.

Ingatlah.
Suara yang paling keras dalam rumah belum tentu suara yang paling benar.

Kadang-kadang suara yang pelan dari seorang ibu atau ayah lebih dekat kepada kebenaran karena keluar dari hati yang penuh kasih sayang.

Jika hari ini ayah atau ibu masih hidup, cobalah berbicara dengan lembut kepada mereka.

Karena suatu hari nanti, ketika kursi mereka kosong dan kamar mereka sunyi, yang paling sering membuat seseorang menangis bukanlah apa yang pernah dilakukan orang tuanya.
Melainkan kata-kata kasar yang pernah ia ucapkan kepada mereka.
Dan penyesalan seperti itu sering datang ketika sudah terlambat. 

Senin, 01 Juni 2026

AIR MATA AYAH DI DEPAN JENAZAH ANAKNYA

AIR MATA AYAH DI DEPAN JENAZAH ANAKNYA

Di sebuah kampung, seorang ayah dikenal sebagai pekerja keras. Pagi berangkat, malam pulang. Rumahnya megah, kendaraannya bertambah, tabungannya banyak.

Tetapi ada satu yang sering ia tunda. Bermain dengan anaknya.

Setiap kali anaknya mengajak bicara, jawabannya hampir selalu sama:
"Nanti ya, Ayah sibuk."
"Nanti ya, Ayah capek."
"Nanti ya, Ayah ada urusan."
Hari demi hari berlalu.
Anaknya tumbuh.

Lalu suatu hari, takdir Allah datang tanpa pemberitahuan.
Anak yang selama ini selalu menunggu waktu luang ayahnya jatuh sakit. Tidak lama kemudian, ia meninggal dunia.

Di depan jenazah anaknya, sang ayah menangis sejadi-jadinya.
Ia memeluk tubuh yang sudah tak bernyawa itu sambil berkata:
"Maafkan Ayah... sekarang Ayah punya banyak waktu, tapi kamu sudah tidak ada."

Kalimat itu membuat seluruh pelayat menangis.
Apa yang paling menyakitkan?
Bukan kehilangan harta.
Bukan kehilangan jabatan.
Tetapi kehilangan kesempatan yang tidak akan pernah kembali.

Allah berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini bukan hanya tentang memberi makan dan pakaian.
Tetapi juga tentang memberi perhatian, kasih sayang, pendidikan iman, dan waktu.

Banyak orang tua bekerja keras demi anak.
Namun jangan sampai anak hanya menerima uang, sementara ia kekurangan pelukan, doa, dan kebersamaan.

Ada anak yang tidak membutuhkan mainan mahal.
Ia hanya ingin ayahnya mendengarkan ceritanya lima menit.
Ia hanya ingin ibunya tersenyum kepadanya.
Ia hanya ingin merasa dicintai.

Hari ini, jika anak Anda masih ada di samping Anda, peluklah dia.
Jika orang tua Anda masih hidup, teleponlah mereka.
Jika pasangan Anda masih menemani, berterima kasihlah kepadanya.

Karena suatu hari nanti, kita mungkin memiliki banyak penyesalan, tetapi tidak memiliki kesempatan lagi.
Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari nilai sebuah kebersamaan.
Malam ini, sebelum tidur, lihatlah wajah orang-orang yang Anda cintai.

Lalu berdoalah:
"Ya Allah, jangan Engkau cabut nikmat kebersamaan ini sebelum aku mampu mensyukurinya."
Semoga kita tidak termasuk orang yang baru menangis ketika kesempatan itu telah pergi selamanya. Aamiin.

AIR MATA YANG TERLAMBAT

AIR MATA YANG TERLAMBAT

Suatu hari seorang anak yang sukses pulang ke kampung. Rumahnya besar, mobilnya mewah, tabungannya banyak.
Tetapi ketika ia masuk ke rumah tuanya, yang ia lihat hanya sebuah ranjang kosong.
Ibunya telah meninggal beberapa hari sebelumnya.

Di atas meja ada sebuah kotak kecil. Di dalamnya tersimpan uang recehan, lembar demi lembar yang sudah lusuh.

Ada secarik tulisan:
"Ini tabungan ibu. Kalau anakku pulang dan kesulitan uang, berikan ini kepadanya."
Anak itu menangis tersedu-sedu.

Saat hidup, ibunya tidak pernah meminta apa-apa.
Ketika meninggal, yang dipikirkannya masih anaknya.
Ia memeluk bantal bekas ibunya. Ia mencari suara yang dulu selalu membangunkannya untuk salat Subuh. Ia mencari tangan yang dulu mengusap kepalanya saat sedih.
Tetapi semua sudah terlambat.

Allah berfirman:
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua."
(QS. Al-Isra': 23)

Banyak orang menangis di makam orang tuanya sambil berkata:
"Seandainya ibu masih hidup sehari saja..." "Seandainya ayah masih bisa saya peluk sekali lagi..." "Seandainya saya lebih sering menelepon mereka..."
Namun waktu tidak pernah kembali.

Jika hari ini ayah dan ibu masih hidup, jangan tunggu besok untuk berbakti.
Teleponlah mereka.
Peluklah mereka.
Mintalah doa mereka.
Karena suatu hari nanti kita akan berdiri di samping pusara mereka, dan saat itu yang tersisa hanyalah doa dan penyesalan.

Malam ini, sebelum tidur, cobalah kirim pesan kepada ayah atau ibu:
"Ayah, Ibu, terima kasih telah membesarkanku. Maafkan semua kesalahanku. Doakan aku agar selamat dunia dan akhirat."

Mungkin bagi kita itu hanya beberapa kalimat.
Tetapi bagi orang tua, itu bisa menjadi kebahagiaan yang membuat mereka menangis dalam sujud malamnya.

Dan jika ayah atau ibu telah tiada, jangan lupa kirimkan Al-Fatihah, doa, dan sedekah atas nama mereka.
Karena di antara banyak amal, tidak ada yang lebih mengharukan daripada seorang anak yang tetap mengingat orang tuanya setelah mereka berada di alam kubur.

Semoga Allah merahmati kedua orang tua kita, yang masih hidup maupun yang telah mendahului kita.
"Ya Allah, ampunilah dosa kedua orang tua kami, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami ketika kami kecil." Aamiin.