Akankah yang Hilang Kembali ke Pelukan? SEBELUM REVISI
Karya: Resca Putri Bela
Yang sudah pergi mendahului, tak akan pernah bisa kembali. Kalian hanya bisa mengabadikannya di dalam hati, atau menyusul kemana mereka pergi. Manusia itu tercipta dari tanah, jadi relakan seseorang yang sudah kembali menjadi tanah.
“Aruna, aku… merindukanmu.” Seorang pemuda tengah tenggelam dalam kesedihan.
Menurut kalian, bagaimana rasanya ditinggalkan kekasih yang sangat kalian cintai? Perasaan sedih, kecewa, dan marah bercampur aduk. Terlebih lagi jika sampai tak pernah bisa melihatnya lagi. Seperti kisah Bumi yang ditinggalkan Aruna, kekasihnya yang telah pergi meninggalkan dirinya beserta dunia fana.
Bertahun-tahun ia lalui dengan terus melantunkan nama kekasihnya yang tak kunjung kembali. Sampai akhirnya Bumi berpikir untuk menggunakan artefak kuno milik keluarganya. Konon, artefak yang ia miliki itu dipercaya bisa menghidupkan kembali orang yang telah meninggal dunia. Cara kerjanya adalah dengan memasukan barang peninggalan orang yang ingin kita hidupkan, ke dalam artefak lalu menguburnya di bawah pohon.
“Aku kubur satu dari sepasang anting kesayanganmu, ya,” ucap Bumi.
Sangat besar harapan Bumi untuk bisa kembali bertemu dengan Aruna. Ia memilih mengubur anting Aruna di bawah pohon kamboja yang harumnya mirip seperti kekasihnya itu. BRUK! Badan Bumi ambruk seperti ada yang memukulnya dari belakang. Saat membuka mata, hal aneh terjadi.
Pandangannya berputar-putar efek menghantam tanah dengan keras, “Tunggu, apa sekarang aku suka berhalusinasi? Kenapa pohon kamboja di belakang rumahku berubah menjadi pohon cendana?”
Bumi kebingungan. Seperti telah berpindah tempat dalam sekejap. Ia menemukan dirinya tengah berada di ladang rumput yang sangat luas dengan pohon cendana besar di tengahnya. Dalam genggaman tangannya, terdapat sepasang anting milik Aruna yang tadi ia kubur salah satunya. Aneh pikirnya, kenapa sepasang anting itu masih lengkap di tangannya.
Dalam banyaknya kejanggalan, Bumi memutuskan untuk menggali tanah dan mengubur lagi satu anting di bawah pohon cendana itu, sedangkan yang satunya lagi ingin tetap ia simpan. Tiba-tiba rasa kantuk menghantui Bumi. Akhirnya ia terlelap tepat di sebelah lubang galiannya sebelum sempat mengubur apa pun. Saat terbangun ia mendapati satu anting milik kekasihnya telah hilang dengan tanah rata di sampingnya. Bumi yakin bahwa ia belum sama sekali mengubur anting milik Aruna. Di samping pohon cendana, muncul sebuah bunga Rafflesia arnoldii. Bumi tak menyadari adanya bunga itu sebelumnya, ia pun mencoba menyentuhnya. Saat tersentuh, pohon itu berubah menjadi wujud kekasihnya, Aruna. Wajah rupawan, rambut indah, tinggi semampai, dengan kulit yang bersih.
“A-Aruna?” Bumi menangis dan memeluknya seakan kenangan indah masa lalu terputar kembali.
Bunga itu sangat mirip dengan Aruna tanpa celah sedikit pun. Namun tak bisa berbicara dan tak berekspresi. Saat melepaskan tangannya, bunga itu kembali berubah wujud seperti semula. Tangisnya terhenti. Dengan bingung Bumi kembali menyentuh bunga itu. Benar saja, dihadapannya kembali berdiri seseorang berwujud seperti Aruna.
Setahun telah berlalu, Bumi masih tak memahami apa yang terjadi dengan dirinya. Ia yang tiba-tiba berpindah tempat masih menjadi misteri. Bumi sangat senang bisa kembali melihat wujud kekasihnya lagi. Walaupun hanya raganya saja yang sama, tidak dengan jiwanya. Ia menamakan bunga Rafflesia arnoldii dengan nama Damba, karena Bumi mendambakan selalu bersama kekasihnya.
Saat itu, di mana Bumi tengah kebingungan dengan bunga yang bisa berubah wujud sebagai Aruna, datang seorang perempuan yang mengaku akan berperan sebagai ibunya. Perempuan itu bernama Santi. Sejak saat itu, Santi merawat Bumi dengan sepenuh hati seakan Bumi memanglah benar anaknya. Santi mempunyai bisnis toko kue tepat di seberang rumahnya. Santi mengizinkan Bumi tinggal dirumahnya dengan syarat menjadi asisten di toko kuenya. Aneh rasanya jika Bumi langsung mengiyakan untuk tinggal di rumah seorang perempuan yang baru di temuinya. Tetapi ia tak mempunyai pilihan lain. Jangankan bertemu Aruna kembali, Bumi mungkin saja akan meninggal jika tak ditolong dan dirawat oleh Santi.
Sejak saat itu, Bumi tak pernah absen untuk mengunjungi Damba. Ia terus menyentuh dan tak mau melepaskan Damba agar tetap berwujud seperti Aruna. Walaupun Damba tak pernah bereaksi atau bahkan membalas ucapannya, Bumi tetap bersyukur. Ia menceritakan kesehariannya menjadi asisten di toko roti milik Santi.
“Kau tahu? Hari ini ada pelanggan perempuan yang merepotkan. Dia sangat ingin tahu informasi pribadiku, Na. Dia juga sangat genit. Rasanya memuakkan. Untung ada kamu, rasa muakku langsung hilang, haha!” ujar Bumi.
KRIK KRIK! Suara jangkrik terdengar mengejek tepat setelah Bumi selesai berbicara. Seolah tahu bahwa jelmaan Aruna itu tak bisa menjawab.
“Sebenarnya, kamu ini memang Aruna atau bukan?” tanya Bumi mengharapkan jawaban.
Bumi kembali dibuat berpikir keras. Bagaimana jika selama ini yang sedang ia lihat memanglah bukan Aruna yang ia harapkan? Namun hal itu tidaklah terlalu penting baginya. Karena bisa melihat orang terkasih suduh cukup bagi Bumi. Ia kembali melanjutkan ceritanya dengan bersandar kepada Damba.
suatu hari sepulangnya Bumi dari mengunjungi Damba, Santi sudah berdiri menunggunya di depan rumah.
“Bumi, cepatlah kemari,” Santi menyuruh Bumi segera masuk ingin menceritakan sesuatu.
Santi mengaku bahwa ia mengetahui setiap hari Bumi selalu mengunjungi Damba.
Kata Santi, lahan itu memanglah tidak biasa, “Jika kamu mengubur jam tangan, tanah akan menumbuhkan pohon yang daunnya berdetak. Jika kamu mengubur surat cinta, bunganya akan beraroma parfum sang pengirim. Pohon besar di tengah lahan itu adalah hasil dari suamiku yang aku kubur bertahun-tahun yang lalu.”
Bumi sontak terkejut mendengar pernyataan itu. Ia bertanya mengapa ia mengubur suaminya sendiri.
“Kau tak perlu tahu,” ucap Santi menolak memberitahukan alasannya, “Maukah kau bertemu kembali dengan kekasih yang kau nantikan selama ini?”
DAG DIG DUG! Jantung Bumi berdebar-debar.
Bumi akhirnya tersadar bahwa selama ini Damba memang bukanlah Aruna yang asli. Tetapi Bumi tak tahu bagaimana Santi tahu tentang kisah dirinya dan kekasihnya itu. Bumi tak pernah menceritakan hal tersebut kepada siapa pun. Bumi marah, merasa Santi telah membuntutinya, dan mengetahui hal yang seharusnya Santi tak perlu tahu. Namun, bagaimana jika Santi benar-benar bisa mempertemukannya kembali dengan Aruna, sang kekasih tercintanya? Dan apakah Santi sebenarnya adalah dalang dibalik berpindahnya tempat Bumi menuju tempat asing?
“Sepertinya ada banyak sekali yang harus kau jelaskan kepadaku,” kata Bumi.
“Kau hanya perlu menjawab ya atau tidak.” Santi berbalik ingin melangkah pergi.
“TUNGGU! Baiklah, aku mau. Tapi… bagaimana caranya?” Bumi kebingungan.
Santi memberikan instruksi agar Bumi menutup matanya dengan kain penutup mata berwana putih. TIK TIK! Seperti suara jentikan jari Santi. Tak lama kemudian terdengar suara Santi menyuruhnya membuka mata. Saat Bumi membuka kain di matanya, Santi sudah menghilang tak menyisakan jejak.
Bumi melihat kedepan. Kini ia sedang berada di taman yang sangat indah. Bunga bunga bermekaran, burung burung berkicau merdu, dan air mengalir menenangkan hati, layaknya di surga. Tak jauh darinya, Bumi menemukan seorang gadis berkain sutra yang tampak belakangnya mirip seperti Aruna.
“A-Aruna?” gumam Bumi.
Gadis itu berbalik, “Ada apa, Bumi?”
Bumi tak langsung percaya bahwa gadis itu benar-benar adalah Aruna. Ia menggosok matanya seribu kali, barangkali itu adalah Damba lagi. Namun tak ada yang berubah, Bumi tidak sedang memegang bunga, dan gadis di depannya bisa berbicara bahkan berekspresi. Aruna tengah berdiri tepat di hadapannya.
“Bumi, tenang. Aku Aruna yang asli, kok!” ucap Aruna.
Mata Bumi berkaca-kaca lalu memeluk Aruna. Ia tak menyangka akan terjadi hal seperti ini di hidupnya. Akhirnya Bumi bisa bertemu kembali dengan Aruna.
“Aruna, Aruna! B-benar kamu, kan? Aku tidak sedang bermimpi, kan?” Bumi bertanya berkali-kali memastikan bahwa ia sedang berada pada kenyataan.
Aruna menenangkan Bumi yang menggebu-gebu. Lalu mereka menghabiskan waktu dengan berbincang bincang, dan tertawa lepas sebagai tanda melepas rindu atas kesedihan Bumi selama ini. Namun seakan takdir berkata lain.
“Bumi, kekasihku tersayang. Waktumu sudah habis, terima kasih telah mengunjungiku. Nanti, kau bisa menemuiku lagi di waktu yang seharusnya,” jelas Aruna.
Di sela kebingungan, seketika badan Bumi terlempar kembali ke depan pohon Cendana di belakang rumahnya. Namun ada yang berbeda. Kali ini ada Santi dihadapannya.
“Tidak… Di mana Aruna? Apa yang telah kau perbuat, Santi?” Bumi marah dan bertanya tanya mengapa semua kebahagiaannya diambil kembali.
“Aku hanya berkata akan mempertemukan dirimu dengan kekasihmu, bukan membuatmu bersama dengannya kembali. Lanjutkanlah hidupmu di tempat yang seharusnya kau berada.” Santi pun perlahan menghilang.
“TIDAK, TIDAK! DIMANA ARUNA? MENGAPA KAU MEMISAHKAN KAMI LAGI?” terdengar suara Bumi yang menggelegar.
Tak ada yang harus dijelaskan lagi. Yang sudah pergi mendahului, tak akan pernah bisa kembali. Kalian hanya bisa mengabadikannya di dalam hati, atau menyusul kemana mereka pergi. Manusia itu tercipta dari tanah, jadi relakan seseorang yang sudah kembali menjadi tanah. Jika kalian berpikir akan bisa menemukan mereka di waktu yang tak seharusnya, kalian salah besar. Janganlah kalian sesekali mencari mereka, terlebih dengan cara yang tak masuk akal.
Kembali berlarut dalam kesedihan yang tak berujung. Bumi akhirnya mengubur anting terakhir milik kekasihnya di bawah pohon Cendana. Berharap alam semesta akan terus mengingat kenangan mereka pada masa ini, masa nanti, dan masa indah lainnya.
Setelah Revisi
Akankah yang Hilang Kembali ke Pelukan?
Karya: Resca Putri Bela
Yang telah pergi mendahului tak pernah benar-benar kembali. Mereka hanya tinggal di ingatan, di doa-doa yang diam-diam dipanjatkan, atau di luka yang tak kunjung sembuh. Sebab manusia berasal dari tanah, dan pada akhirnya akan kembali menjadi tanah.
“Aku merindukanmu, Aruna…”
Suara Bumi tenggelam bersama angin malam.
Sudah dua tahun sejak Aruna meninggal dunia. Namun bagi Bumi, waktu seolah berhenti tepat pada hari ketika tubuh kekasihnya diturunkan ke liang lahat. Sejak saat itu, hidupnya tak lagi utuh.
Ia masih menyimpan pesan suara terakhir Aruna di ponselnya. Hampir setiap malam ia memutarnya berulang-ulang hanya untuk mendengar satu kalimat sederhana:
“Jangan tidur larut lagi, Bumi.”
Kadang Bumi takut. Takut suatu hari ia lupa bagaimana suara perempuan itu terdengar.
Di kamar kecilnya, terdapat sebuah kotak kayu tua peninggalan keluarganya. Konon, kotak itu adalah artefak kuno yang mampu mempertemukan seseorang dengan hal yang telah hilang. Namun ada syaratnya: pemilik harus mengubur benda paling berharga milik orang yang dirindukan di bawah pohon tertentu.
Bumi tak pernah percaya cerita itu.
Sampai rasa kehilangan membuat manusia rela mempercayai apa pun.
Dengan tangan gemetar, ia menggenggam sepasang anting milik Aruna, hadiah ulang tahunnya dua tahun lalu. Anting berbentuk bulan sabit kecil yang selalu dikenakan Aruna ke mana pun pergi.
“Aku cuma ingin melihatmu sekali lagi,” bisiknya lirih.
Malam itu, Bumi berjalan menuju pohon kamboja di belakang rumahnya. Harumnya samar mengingatkannya pada aroma rambut Aruna.
Ia memasukkan salah satu anting ke dalam artefak, lalu menguburnya di bawah pohon.
BRUK!
Tiba-tiba kepalanya terasa dihantam sesuatu. Pandangannya gelap.
Saat membuka mata, Bumi membeku.
Pohon kamboja itu telah hilang.
Kini di hadapannya berdiri pohon cendana raksasa di tengah hamparan padang rumput luas yang tak pernah ia kenali sebelumnya. Langit tampak pucat, seolah matahari lupa menyinari tempat itu.
“Apa aku… bermimpi?”
Bumi bangkit dengan tubuh gemetar. Dalam genggamannya masih ada sepasang anting Aruna, utuh.
Padahal satu anting tadi telah ia kubur.
Jantungnya berdegup semakin cepat.
Dengan bingung, ia menggali tanah di bawah pohon cendana itu. Namun sebelum sempat mengubur antingnya kembali, rasa kantuk luar biasa menyerangnya.
Kelopak matanya terasa berat.
Bumi tertidur tepat di samping lubang galian.
Saat terbangun, satu anting milik Aruna telah hilang.
Tanah di hadapannya kembali rata seolah tak pernah digali.
Dan di samping pohon cendana itu tumbuh bunga raksasa berwarna merah tua.
Rafflesia arnoldii.
Bumi yakin bunga itu sebelumnya tidak ada.
Dengan ragu, ia menyentuh kelopaknya.
Seketika tubuhnya menegang.
Bunga itu perlahan berubah bentuk.
Rambut hitam panjang.
Kulit pucat bersih.
Mata teduh yang sangat dikenalnya.
“Aruna…”
Air mata Bumi jatuh begitu saja.
Perempuan itu berdiri di hadapannya dengan wajah yang sama persis seperti kekasihnya.
Tanpa berpikir panjang, Bumi memeluknya erat.
Namun tubuh itu dingin.
Tak ada pelukan balasan.
Tak ada senyum.
Tak ada suara.
Saat Bumi melepaskan tangannya, sosok itu kembali berubah menjadi bunga.
Napas Bumi memburu.
Dengan gemetar ia menyentuhnya lagi.
Dan sosok Aruna kembali muncul.
Hari-hari berikutnya berubah aneh.
Bumi tetap berada di tempat asing itu, seolah dunia lamanya telah menghilang. Ia tak tahu bagaimana cara pulang.
Ia hanya memiliki satu tempat tujuan: pohon cendana.
Setiap hari ia datang menemui bunga itu.
Ia menamainya Damba.
Karena hanya itulah yang tersisa dalam hidupnya, damba untuk kembali bersama Aruna.
Bumi akan duduk berjam-jam sambil bercerita.
“Hari ini aku melihat hujan lagi,” katanya suatu sore.
“Tahukah kamu? Aku masih tidak berani melewati toko es krim tempat kita pertama kali bertemu.”
Damba hanya diam.
Kadang Bumi merasa dirinya gila. Namun melihat wajah Aruna sekali saja sudah cukup membuatnya bertahan hidup.
Suatu malam, saat pulang dari pohon cendana, seorang perempuan tua telah berdiri di depan rumah kecil yang selama ini ia tempati.
Perempuan itu bernama Santi.
Sejak pertama bertemu, Santi selalu bersikap seolah mengenal Bumi sejak lama. Ia memberinya makan, tempat tinggal, bahkan pekerjaan membantu di toko kuenya.
Namun malam itu tatapan Santi berbeda.
“Kau selalu mengunjungi bunga itu, ya?” tanyanya pelan.
Tubuh Bumi menegang.
“Apa maksud Ibu?”
Santi tersenyum tipis.
“Tanah di tempat ini memang menyimpan banyak kerinduan.”
Ia berjalan perlahan menuju jendela.
“Jika seseorang mengubur jam tangan, tanah akan menumbuhkan pohon yang berdetak seperti waktu. Jika seseorang mengubur surat cinta, bunganya akan beraroma seperti pengirimnya.”
Santi memandang pohon cendana besar di kejauhan.
“Dan pohon itu… berasal dari suamiku.”
Bumi terdiam.
“Apa maksud Ibu?”
“Aku juga pernah kehilangan seseorang yang sangat kucintai.”
Untuk pertama kalinya, suara Santi terdengar rapuh.
“Aku mencoba menahannya tetap hidup di sini. Sama sepertimu.”
Bumi menelan ludah.
“Kalau begitu… Damba memang bukan Aruna?”
“Tidak.”
Jawaban itu menusuk lebih dalam daripada pisau.
“Itu hanya bentuk kerinduanmu.”
Air mata mulai memenuhi mata Bumi.
Namun sebelum ia sempat berbicara, Santi kembali berkata pelan,
“Kalau kau diberi kesempatan bertemu Aruna sekali lagi… maukah kau?”
Jantung Bumi berdetak keras.
“Mau.”
Santi mengeluarkan kain putih dan menutup mata Bumi.
“Kalau begitu jangan membuka mata sebelum aku menyuruhmu.”
Terdengar suara jentikan jari.
Lalu sunyi.
“Sekarang buka matamu.”
Saat kain itu terlepas, napas Bumi tercekat.
Ia berdiri di taman yang sangat indah.
Bunga-bunga bermekaran.
Air mengalir jernih.
Udara terasa hangat dan damai.
Dan di bawah pohon berdaun keemasan, berdiri seorang perempuan berkain putih.
“Aruna…”
Perempuan itu berbalik.
Dan kali ini, matanya hidup.
“Aku di sini, Bumi.”
Tubuh Bumi bergetar hebat.
Ia berlari dan memeluk Aruna sekuat tenaga.
Hangat.
Nyata.
Aruna membalas pelukannya.
Tangis Bumi pecah sejadi-jadinya.
“Aku pikir aku kehilanganmu selamanya…”
Aruna tersenyum lembut sambil menghapus air matanya.
“Kamu belum kehilangan aku.”
“Kalau begitu ikut pulang denganku.”
Senyum Aruna perlahan memudar.
“Aku tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Karena tempat kita sudah berbeda sekarang.”
Bumi menggeleng keras.
“Tidak! Aku bisa tinggal di sini bersamamu!”
Aruna memegang wajahnya perlahan.
“Bumi… cinta bukan alasan untuk berhenti hidup.”
Kalimat itu menghantam dadanya.
“Aku sedih melihatmu terus terjebak dalam kehilangan.”
Air mata Aruna ikut jatuh.
“Kamu masih punya hidup yang harus dijalani.”
Bumi menatap perempuan di hadapannya dengan putus asa.
“Aku tidak tahu caranya hidup tanpamu.”
“Kamu akan belajar.”
Tiba-tiba tubuh Bumi terasa ringan.
Dunia di sekelilingnya mulai memudar.
“Aruna! Jangan pergi lagi!”
Aruna tersenyum untuk terakhir kalinya.
“Nanti, saat waktunya benar, kita akan bertemu lagi.”
Gelap.
Saat membuka mata, Bumi telah kembali berada di depan pohon cendana.
Malam terasa sunyi.
Tak ada Aruna.
Tak ada taman indah.
Hanya angin dingin dan suara daun bergesekan.
Di tangannya masih tersisa satu anting terakhir milik Aruna.
Perlahan Bumi menggali tanah di bawah pohon cendana.
Lalu mengubur anting itu dengan hati-hati.
Bumi tersenyum kecil meski air matanya jatuh.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia memahami sesuatu:
Melepaskan bukan berarti berhenti mencintai.
Kadang, cinta yang paling tulus adalah merelakan seseorang tinggal di tempat yang tak lagi bisa kita jangkau.
Angin malam berembus lembut.
Dan entah mengapa, untuk sesaat, Bumi merasa mendengar suara Aruna sekali lagi.
“Jangan tidur larut lagi, Bumi.”