Laqadja akum rasulum


web stats

Selasa, 09 Juni 2026

LANGKAH YANG MAKIN BERATCerpen: oleh Ismilianto

LANGKAH YANG MAKIN BERAT
Cerpen: oleh Ismilianto

Setiap azan Magrib berkumandang, suara itu selalu terdengar sampai ke rumah Pak Hasan. Dulu, sebelum muazin selesai mengucapkan "Hayya 'alal falah", ia sudah berjalan menuju masjid dengan sarung dan peci kesayangannya.

Di saf pertama, wajahnya hampir selalu ada.
Anak-anak muda di kampung sering berkata, "Kalau lampu masjid sudah menyala, pasti Pak Hasan sudah di dalam."
Namun, waktu berjalan pelan-pelan.

Awalnya hanya sekali tidak hadir. Katanya sedang lelah. Lalu seminggu kemudian, dua kali tidak hadir. Setelah itu mulai sering salat di rumah.
Tidak ada yang menyadari bahwa setan jarang mengajak seseorang meninggalkan masjid sekaligus. Ia melakukannya sedikit demi sedikit.

Suatu malam, seorang sahabatnya datang berkunjung.
"Pak Hasan, sudah lama tidak terlihat di masjid."
Pak Hasan tersenyum.
"Ah, saya salat juga kok. Di rumah saja."
Sahabatnya tidak membantah.
Tetapi sejak malam itu, jarak antara rumah dan masjid yang hanya sekitar tiga ratus meter terasa semakin jauh bagi Pak Hasan.

Ketika azan berkumandang, selalu ada alasan.
Kadang karena hujan gerimis.
Kadang karena menonton berita.
Kadang karena menunggu tamu.
Kadang hanya karena malas bangun dari kursi.
Padahal dahulu ia tetap datang meski hujan deras.

Rasulullah SAW bersabda:
"Salat yang paling berat bagi orang munafik adalah salat Isya dan Subuh berjamaah. Seandainya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak." (HR. Bukhari dan Muslim)
Sampai suatu hari, seorang jamaah masjid meninggal dunia.

Orang itu bukan ustaz, bukan tokoh masyarakat, bukan orang kaya.
Tetapi ketika jenazahnya dibawa ke masjid, banyak orang menangis.
"Beliau selalu ada di saf pertama."
"Beliau tidak pernah meninggalkan Subuh berjamaah."
"Beliau yang sering membuka pintu masjid."
Kalimat-kalimat itu terus terdengar.

Pak Hasan berdiri memandangi jenazah sahabatnya.
Tiba-tiba dadanya sesak.
Ia teringat masa-masa ketika mereka berjalan bersama menuju masjid dalam gelapnya Subuh.

Kini sahabatnya telah pergi.
Sedangkan dirinya masih hidup, tetapi justru semakin jauh dari rumah Allah.
Malam itu Pak Hasan tidak bisa tidur.
Ia menangis sendirian.
"Ya Allah, dulu aku begitu mudah melangkah ke masjid. Mengapa sekarang terasa berat?"

Keesokan harinya, saat azan Subuh berkumandang, ia memaksa dirinya bangun.
Kakinya terasa berat.
Namun ia terus berjalan.
Sesampainya di masjid, beberapa jamaah terkejut.
"Alhamdulillah, Pak Hasan datang lagi."

Tidak ada yang tahu bahwa langkah-langkah pendek menuju masjid pagi itu adalah salah satu perjuangan terbesar dalam hidupnya.

Allah berfirman:
"Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." (QS. Al-'Ankabut: 69)

Kisah seperti ini nyata terjadi di banyak tempat.
Ada orang yang dulunya rajin ke masjid, lalu perlahan menjauh bukan karena tidak mampu, tetapi karena merasa aman dengan amal-amal lamanya.
Padahal iman itu naik dan turun.
Masjid yang ditinggalkan hari ini bisa menjadi penyesalan esok hari.
Jika malam ini azan masih terdengar dan kaki kita masih mampu melangkah, jangan tunggu sampai ada air mata di sisi jenazah sahabat untuk menyadari betapa berharganya satu langkah menuju rumah Allah.
Sebab tidak ada seorang pun yang tahu, azan yang mana yang terakhir kali ia dengar, dan salat berjamaah yang mana yang terakhir kali masih sempat ia ikuti.

Minggu, 07 Juni 2026

Enggan Shalat Berjamaah di Masjid, Padahal Dulu Rajin?

Enggan Shalat Berjamaah di Masjid, Padahal Dulu Rajin?

Setan membisikkan:
"Besok saja ke masjid." "Shalat di rumah juga sah." "Kamu capek." "Hujan sedikit saja tidak apa-apa."

Fenomena ini sering terjadi. Seseorang yang dahulu hampir tidak pernah absen dari masjid, tiba-tiba mulai jarang datang. Awalnya hanya sesekali, lalu semakin sering, hingga akhirnya masjid menjadi tempat yang asing baginya.

Allah telah mengingatkan bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang. Karena itu, semangat beribadah juga bisa naik dan turun.

Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya setiap amal memiliki masa semangat, dan setiap masa semangat memiliki masa lemah." (HR. Ahmad)

Beberapa penyebabnya antara lain:
Karena dosa-dosa yang tidak disadari
Dosa memiliki pengaruh besar terhadap hati. Hati yang tadinya ringan melangkah ke masjid menjadi berat.

Allah berfirman:
"Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka." (QS. Al-Muthaffifin: 14)

Imam Hasan Al-Bashri pernah berkata:
"Seseorang terhalang melakukan kebaikan karena dosa yang dilakukannya."

Karena merasa sudah cukup baik
Ini termasuk perangkap yang halus. Ketika seseorang merasa dirinya sudah baik, kebutuhan untuk memperbaiki diri menjadi berkurang.

Allah berfirman:
"Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa." (QS. An-Najm: 32)

Karena terlalu sibuk dengan urusan dunia. 
Pekerjaan, bisnis, pergaulan, media sosial, dan berbagai kesibukan dapat menggeser prioritas.

Allah berfirman:
"Janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah." (QS. Al-Munafiqun: 9)

Karena kehilangan lingkungan yang baik
Teman-teman yang dahulu mengajak ke masjid mungkin sudah pindah, sibuk, atau meninggal dunia.

Rasulullah SAW bersabda:
"Seseorang mengikuti agama teman dekatnya." (HR. Abu Dawud)

Ketika lingkungan berubah, semangat ibadah juga sering ikut berubah.

Karena godaan setan yang tidak pernah berhenti

Setan tidak terlalu sibuk menggoda orang yang sudah jauh dari masjid. Justru orang yang berada di jalan kebaikan sering menjadi sasaran utama.

Allah berfirman:
"Kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka." (QS. Al-A'raf: 17)

Setan membisikkan:
"Besok saja ke masjid." "Shalat di rumah juga sah." "Kamu capek." "Hujan sedikit saja tidak apa-apa."

Lama-kelamaan kebiasaan baik pun hilang.

Dikisahkan ada seorang lelaki tua yang selama puluhan tahun selalu hadir di masjid sebelum azan. Warga kampung mengenalnya sebagai penghuni saf pertama.

Suatu hari ia mulai jarang terlihat. Beberapa bulan kemudian seorang sahabatnya datang menjenguk.

Dengan mata berkaca-kaca lelaki tua itu berkata:
"Awalnya saya hanya sekali meninggalkan jamaah tanpa alasan. Besoknya terasa lebih mudah. Minggu berikutnya semakin mudah. Sekarang saya ingin kembali seperti dulu, tetapi hati saya terasa berat sekali."

Ia lalu menangis dan berkata:
"Jangan pernah meremehkan satu kali meninggalkan masjid tanpa uzur. Karena saya kehilangan kebiasaan yang saya bangun puluhan tahun hanya karena sedikit kelalaian."

Betapa banyak orang yang menyesal ketika usia sudah senja, sementara langkah menuju masjid tidak lagi sekuat dahulu.
L
Sebaliknya, ada pula seorang pedagang yang sempat bertahun-tahun meninggalkan jamaah. Suatu Subuh ia mendengar kabar bahwa sahabat dekatnya meninggal mendadak pada malam hari.

Saat melihat jenazah sahabatnya di masjid, ia berkata dalam hati:
"Kemarin kami masih berbicara. Hari ini ia sudah dibawa ke kubur."

Sejak hari itu ia kembali menjaga jamaah lima waktu. Ketika ditanya apa yang mengubahnya, ia menjawab:
"Saya sadar bahwa kematian tidak menunggu saya menjadi lebih siap."

Rasulullah SAW bersabda:
"Shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan Subuh berjamaah. Seandainya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak." (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, jika suatu hari hati terasa berat menuju masjid, jangan ikuti rasa berat itu. Paksa diri melangkah. Sering kali yang berat bukan kaki kita, melainkan hati yang sedang diuji.

Sebab orang yang masih merasa kehilangan ketika tidak ke masjid adalah orang yang insya Allah masih memiliki cahaya iman dalam hatinya. Dan salah satu tanda Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba adalah ketika Allah mengembalikannya lagi ke saf-saf jamaah yang pernah ia cintai.

Sabtu, 06 Juni 2026

SETAN SELALU MENGGODA ORANG YANG INGIN BAIK

SETAN SELALU MENGGODA ORANG YANG INGIN BAIK

Setan tidak terlalu sibuk mengejar orang yang sudah jauh dari Allah. Yang paling sering menjadi sasaran adalah orang yang sedang berusaha taat, sedang memperbaiki diri, sedang rajin salat, sedang gemar bersedekah, dan sedang mendekat kepada Al-Qur'an.

Allah mengabadikan sumpah Iblis:
"Qala fabima aghwaitani la aq'udanna lahum shirathakal mustaqim."
"Iblis berkata: Karena Engkau telah menghukumku tersesat, pasti aku akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus." (QS. Al-A'raf: 16)

Perhatikan, Iblis tidak berkata, "Aku akan menunggu mereka di tempat maksiat." Tetapi ia berkata, "Aku akan menghalangi mereka di jalan yang lurus."
Kisah nyata sering terjadi di sekitar kita.

Ada seseorang yang bertahun-tahun tidak pernah ke masjid. Hidupnya biasa saja. Namun ketika ia mulai rajin salat berjamaah, tiba-tiba muncul berbagai gangguan. Kadang malas yang luar biasa, kadang ada urusan mendadak saat azan berkumandang, kadang ada bisikan, "Besok saja lebih rajin."

Ada pula seorang wanita yang mulai berhijab syar'i. Sebelumnya hidupnya tenang. Ketika mulai menutup aurat dengan baik, ia justru mendapat ejekan dan cibiran. Hatinya sempat goyah.

Padahal itu salah satu cara setan agar ia kembali mundur.
Bahkan orang yang rajin bersedekah pun tidak luput dari godaan.
Saat hendak membantu fakir miskin, tiba-tiba muncul bisikan:
"Kalau uangmu habis bagaimana?"
"Anakmu nanti makan apa?"
"Jangan dulu sedekah, tunggu kaya."

Padahal Allah berfirman:
"Asy-syaithanu ya'idukumul faqra wa ya'murukum bil fahsya'. Wallahu ya'idukum maghfiratan minhu wa fadhlan."
"Setan menjanjikan kemiskinan kepadamu dan menyuruh berbuat kejahatan, sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu."
(QS. Al-Baqarah: 268)

Seorang ulama berkata, jika engkau tidak pernah diganggu setan, periksa kembali arah perjalananmu. Sebab pencuri tidak mengejar rumah yang kosong.

Ketika seseorang mulai bangun tahajud, setan membuatnya mengantuk.
Ketika seseorang mulai berbakti kepada orang tua, setan membisikkan rasa kesal.

Ketika seseorang mulai menjaga lisan, setan memancing amarah.
Ketika seseorang mulai gemar berzikir, setan membuatnya sibuk dengan hal-hal yang tidak penting.
Namun kabar baiknya, semakin besar godaan yang berhasil dilawan, semakin tinggi pula derajat di sisi Allah.

Karena itu jangan heran jika setelah menjadi lebih baik, ujian terasa lebih berat. Jangan menganggap itu tanda Allah meninggalkan kita. Justru sering kali itu tanda bahwa kita sedang berada di jalan yang benar dan sedang diperjuangkan untuk dipalingkan.

Malam ini, jika hati terasa berat untuk beribadah, jangan menyerah.
Boleh jadi setan sedang bekerja keras karena ia melihat Anda sedang melangkah menuju kebaikan yang lebih besar.

"Innasy-syaithana lakum 'aduwwun fattakhidzuhu 'aduwwa."
"Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuhmu."
(QS. Fatir: 6)

Semoga Allah meneguhkan langkah kita di atas jalan yang lurus, menjaga hati kita dari tipu daya setan, dan mengakhiri hidup kita dalam husnul khatimah. Aamiin.

MALAM INI, JANGAN TERLALU KERAS PADA DIRIMU SENDIRI

MALAM INI, JANGAN TERLALU KERAS PADA DIRIMU SENDIRI

Malam telah datang.
Lampu-lampu rumah mulai menyala. Jalanan perlahan sepi. Anak-anak mulai terlelap. Namun ada sebagian hati yang masih terjaga, memikirkan hutang yang belum lunas, usaha yang belum berhasil, doa yang belum terlihat jawabannya, dan harapan yang masih menggantung di langit.
Ada sebuah kisah nyata yang pernah diceritakan seorang lelaki tua.

Di masa mudanya, ia bekerja keras siang dan malam. Namun hidupnya tidak berubah. Hutang menumpuk. Dagangannya sering rugi.

Bahkan suatu malam ia duduk sendirian di teras rumahnya sambil menangis.
Ia berkata,
"Ya Allah, aku sudah lelah."
Malam itu tidak ada keajaiban.

Tidak ada uang datang. Tidak ada orang yang menolong.
Tetapi ia bangun untuk salat tahajud.
Lalu malam berikutnya ia bangun lagi.

Dan malam berikutnya lagi.
Bulan demi bulan berlalu.
Sampai suatu hari Allah membuka jalan yang tidak pernah ia bayangkan. Sedikit demi sedikit hutangnya lunas. Anak-anaknya berhasil. Hidupnya berubah.
Ketika ditanya apa rahasianya, ia menjawab,
"Bukan karena aku kuat. Aku hanya tidak berhenti mengetuk pintu Allah."

Sahabatku...
Kadang Allah tidak langsung mengubah keadaan kita.
Allah terlebih dahulu mengubah hati kita agar lebih kuat menghadapi keadaan.
Maka jika malam ini masih ada kesedihan, simpanlah di hadapan Allah.

Jika masih ada air mata, biarkan ia jatuh dalam sujud.
Jika masih ada harapan, jangan kubur sebelum Allah yang memutuskan.
Bukankah Allah telah berfirman:
"Faqultustaghfiruu rabbakum innahu kaana ghaffaaraa. Yursilis-samaa'a 'alaikum midraaraa. Wa yumdidkum bi-amwaalin wa baniina wa yaj'al lakum jannaatin wa yaj'al lakum anhaaraa."
"Maka aku berkata: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu." (QS. Nuh: 10–12)

Malam ini, sebelum tidur...
Maafkan orang yang pernah menyakitimu.
Doakan kedua orang tuamu.
Istighfarlah atas dosamu.
Lalu tidurlah dengan hati yang lebih ringan.

Siapa tahu, ketika mata terpejam malam ini, Allah sedang menulis takdir yang lebih indah untuk esok hari.
Selamat beristirahat. Semoga Allah menjaga kita, keluarga kita, dan semua yang kita cintai hingga fajar kembali menyapa. 

Jumat, 05 Juni 2026

JANGAN MERASA MISKIN, JIKA MASIH BISA MENGETUK PINTU ALLAH

JANGAN MERASA MISKIN, JIKA MASIH BISA MENGETUK PINTU ALLAH

Suatu malam, seorang ayah duduk termenung. Utang belum lunas, usaha sepi, kebutuhan keluarga terus berjalan. Ia hampir putus asa.
Lalu ia teringat satu kalimat yang pernah diajarkan seorang ulama:
"Jika semua pintu tertutup, masih ada pintu Allah yang tidak pernah tertutup."

Sejak malam itu, setiap selesai salat ia membaca:
"Yā Hayyu, Yā Qayyūm, Yā Ghaniyyu, Yā Mughnī, Yā Dzal Jalāli wal Ikrām."

Hari demi hari berlalu. Ia tidak lagi sibuk mengeluh kepada manusia. Ia lebih banyak mengadu kepada Allah.

Beberapa bulan kemudian, jalan rezeki mulai terbuka. Ada pertolongan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Ia kemudian berkata:
"Yang pertama Allah berikan bukan uang, tetapi ketenangan. Setelah hati tenang, pertolongan-Nya datang satu per satu."

Sahabatku...
Yā Hayyu Artinya, Allah Maha Hidup. Dia tidak pernah tidur dan tidak pernah lalai memperhatikan hamba-Nya.

Yā Qayyūm Artinya, Allah mengurus seluruh urusan makhluk-Nya. Tidak ada masalah yang terlalu besar bagi-Nya.

Yā Ghaniyyu Artinya, Allah Maha Kaya. Semua kekayaan langit dan bumi milik-Nya.

Yā Mughnī Artinya, Allah Maha Memberi Kecukupan. Dia mampu mengubah kekurangan menjadi kecukupan.

Yā Dzal Jalāli wal Ikrām Artinya, Allah Pemilik Keagungan dan Kemuliaan. Dia mampu memuliakan siapa saja yang Dia kehendaki.

Allah berfirman:
"Wallāhu huwa al-ghaniyyu wa antumul fuqarā’."
"Allah-lah Yang Maha Kaya, sedangkan kalian adalah orang-orang yang membutuhkan." (QS. Muhammad: 38)

Dan Allah berjanji:
"Wa yarzuqhu min haitsu lā yahtasib."
"Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." (QS. Ath-Thalaq: 3)

Sahabatku, sebelum mengeluh kepada manusia, cobalah mengadu kepada Allah.

Bacalah dengan penuh keyakinan:
Yā Hayyu, Yā Qayyūm, Yā Ghaniyyu, Yā Mughnī, Yā Dzal Jalāli wal Ikrām.

Mungkin yang sedang menunggumu bukan sekadar rezeki yang banyak, tetapi hati yang tenang, hidup yang berkah, dan pertolongan Allah yang datang pada waktu yang paling tepat.

Karena Allah tidak pernah terlambat menolong hamba-Nya.

PETANG INI: JANGAN MENUNGGU TERLAMBAT

PETANG INI: JANGAN MENUNGGU TERLAMBAT

Seorang anak pernah berkata kepada ibunya, "Nanti saja kalau saya sudah sukses, saya akan membahagiakan Ibu."
Tapi takdir berjalan lebih cepat. Sebelum kesuksesan itu datang, sang ibu lebih dahulu dipanggil Allah.

Kini setiap kali melihat orang lain memeluk ibunya, ia menunduk menahan air mata. Harta sudah ada, rumah sudah ada, kendaraan sudah ada. Namun satu yang tak bisa dibeli kembali: kesempatan berbakti kepada ibu.

Allah berfirman:
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua."
(QS. Al-Isra' : 23)

Petang ini, sebelum matahari tenggelam, sempatkanlah menghubungi orang tua. Jika mereka masih hidup, bahagiakan mereka. Jika mereka telah tiada, kirimkan doa terbaik untuk mereka.
Jangan sampai penyesalan datang saat yang tersisa hanya pusara dan air mata.

Semoga petang ini Allah melembutkan hati kita, melapangkan rezeki kita, mengampuni dosa kedua orang tua kita, dan mengumpulkan keluarga kita dalam kebahagiaan dunia serta surga-Nya kelak. Aamiin. 

Kamis, 04 Juni 2026

Memberikan Infak Dan Sedekah Kepada Kedua Orang Tua

Berikan Infak Sedekah Kepada Kedua Orang Tua 

Membantu orang tua yang membutuhkan lebih utama daripada bersedekah kepada orang lain, karena di dalamnya ada dua ibadah: sedekah dan berbakti kepada orang tua (birrul walidain).

Allah berfirman:
"Wa qadha rabbuka allaa ta'buduu illaa iyyaahu wa bil waalidaini ihsaanaa."
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua."
(QS. Al-Isra': 23)

Allah juga berfirman:
"Yas-aluunaka maadzaa yunfiquuna qul maa anfaqtum min khairin falil waalidaini wal-aqrabiina wal-yataamaa wal-masaakiini wabnis sabiil."
"Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah: harta apa saja yang kamu infakkan hendaklah diberikan kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang yang dalam perjalanan."
(QS. Al-Baqarah: 215)

Perhatikan bahwa dalam ayat ini, Allah menyebut kedua orang tua terlebih dahulu sebelum kerabat, yatim, dan miskin.

Rasulullah SAW juga bersabda:
"Anta wa maaluka li abiika."
"Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu." (HR. Ibnu Majah)

Maknanya bukan ayah boleh mengambil seluruh harta anak sesuka hati, tetapi menunjukkan betapa besar hak orang tua atas bantuan dan perhatian anak.

Ada kisah seorang pemuda yang bekerja di kota besar. Setiap bulan ia menyisihkan sebagian gajinya untuk berbagai kegiatan sosial. Ia dikenal dermawan dan sering membantu banyak orang.

Suatu hari ia pulang kampung. Ketika masuk rumah, ia melihat ibunya menambal pakaian lama yang sudah berkali-kali dijahit. Ayahnya yang sudah sepuh masih pergi ke kebun dengan sandal yang hampir putus.

Ia bertanya kepada ibunya, "Mengapa tidak membeli yang baru?"
Ibunya tersenyum dan menjawab, "Kami masih bisa memakainya. Uangmu gunakan saja untuk kebutuhanmu."

Saat itu hatinya bergetar. Selama ini ia bangga membantu banyak orang, tetapi ternyata orang yang paling dekat dengannya hidup dalam keterbatasan tanpa pernah mengeluh.

Sejak hari itu ia mengubah kebiasaannya. Setiap bulan ia mengirim sebagian rezekinya untuk kedua orang tuanya terlebih dahulu. 

Beberapa tahun kemudian, ketika ayahnya wafat, ia menemukan catatan kecil di lemari ayahnya:
"Ya Allah, lindungilah anakku. Jangan putuskan rezekinya. Dia tidak pernah lupa kepada kami."

Pemuda itu menangis. Ia menyadari bahwa bantuan yang ia kirim sebenarnya tidak sebanding dengan doa yang setiap malam dipanjatkan kedua orang tuanya untuk dirinya.

Yang perlu diperhatikan
Jika orang tua memang membutuhkan bantuan nafkah, maka memberi mereka bukan hanya sedekah, tetapi juga kewajiban bagi anak yang mampu.

Banyak orang bersedekah jauh ke mana-mana, tetapi lupa bahwa ayah dan ibunya mungkin sedang menunggu perhatian, telepon, kunjungan, atau bantuan sederhana dari anaknya.

Rasulullah SAW bersabda:
"Ridha Allah tergantung pada ridha kedua orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka kedua orang tua."
(HR. Tirmidzi)

Karena itu, salah satu tempat terbaik untuk menanam sedekah adalah hati ayah dan ibu. Nilainya mungkin tidak terlihat oleh manusia, tetapi doanya dapat membuka pintu-pintu keberkahan yang tidak pernah disangka-sangka.