Hasan bin Ali
Imam
Al-Hasan bin 'Ali adalah putra Ali bin Abi Thalib dan Fatima Zahra dan cucu dari Nabi. Dia adalah Imam kedua Syiah dan nenek moyang ibu dari Dua Belas Imam, dari Muhammad al-Baqir hingga Muhammad al-Mahdi, serta para Imam Ismailiyah. Muslim, terutama Syiah, menyebutnya sebagai Imam Hasan Mojtaba. Wikipedia
Kelahiran: 4 Maret 625 M, Madinah, Arab Saudi
Meninggal: 2 April 670 M, Madinah, Arab Saudi
Tempat pemakaman: Jannatul Baqi
Pasangan: Ja’dah binti al-Asy’ats (m. ?–670 M), Hind bint Suhail bin Amr, lainnya
Orang tua: Ali bin Abi Thalib, Fatimah az-Zahra
Al-Hasan bin 'Ali (bahasa Arab: الحسن بن علي; sekitar 624 – 669) adalah putra Ali bin Abi Thalib dan Fatima Zahra dan cucu dari Nabi. Dia adalah Imam kedua Syiah dan nenek moyang ibu dari Dua Belas Imam, dari Muhammad al-Baqir hingga Muhammad al-Mahdi, serta para Imam Ismailiyah. Muslim, terutama Syiah, menyebutnya sebagai Imam Hasan Mojtaba. Nama panggilannya adalah Abu Muhammad. Dia dianggap dari Ahlul Bait dan Al-Kisa. Menurut beberapa Sunni seperti Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar, dia adalah khalifah kelima dan terakhir dari Khalifah yang Benar. Dia juga dikenal karena kemurahan hatinya, kepeduliannya terhadap orang miskin, kebaikan hati, kecerdasan dan, tentu saja, keberaniannya.
Sayyidina Hasan bin Ali ra dilahirkan pada bulan Ramadhan tahun 3 H (624 M).
Awal pemberian nama beliau dengan ditahnik (memasukkan kurma yang dihaluskan ke dalam mulut) oleh Rasulullah dengan air liurnya dan diberi nama Hasan.
Rasulullah sangat mencintainya, saat masih kecil sering memeluknya dan bercanda dengannya.
Rasulullah pernah sujud dalam shalat, tiba-tiba Hasan datang dan menaiki punggungnya, selama Sayyidina Hasan di atas punggungnya, beliau tidak bangkit dari sujudnya.
Pada 17 Mei tahun 660, Sayyidina Hasan dibai’at sebagai Khalifah ke 5. Adalah Qais bin Sa’ad, panglima perang pasukan Ali bin Abi Thalib orang pertama yang memba’iat Hasan sebagai Khalifah, kemudian diikuti oleh penduduk Kufah (Iraq).
Berita Sayyidina Hasan telah dibai’at menjadi Khalifah terdengar oleh Gubernur Mu’awiyah di Damaskus (Suriah) yang sebelumnya berperang dengan Khalifah Ali pada Perang Shiffin.
Mu’awiyah terkejut dengan naiknya Hasan sebagai khalifah karena ia sendiri berambisi menduduki posisi itu.
Khalifah Sayyidina Hasan sejak awal berusaha untuk menjaga persatuan. Beliau berpidato:
“Kalian harus sepenuhnya patuh padaku berdamai dengan siapa yang aku ajak berdamai, atau perang dengan siapa yang aku perintahkan untuk kita perangi.”
Ini berbeda dengan sikap Qais bin Sa’ad (panglima perang Ali ra) yang masih semangat hendak menumpas gerakan makar Mu’awiyah. Itu sebabnya langkah awal yang Khalifah Hasan lakukan justru mencopot Qais bin Sa’ad dan mengganti kannya dengan Ibnu Abbas ra. Moral pasukan menjadi runtuh akibat pergantian panglima ini.
Imam Thabari menceritakan bagaimana para pejabat berebutan harta bahkan sampai karpet tempat Khalifah Hasan duduk pun diperebutkan untuk mereka miliki. Mereka merasa Khalifah Hasan akan segera ditaklukkan pasukan Mu’awiyah.
Khalifah Hasan bergerak meninggalkan Kufah dan sementara menetap di Mada’in (desa di pingiran Madinah). Terjadilah surat-menyurat antara Sayyidina Hasan dan Mu’awiyah. Masing-masing berargumen tentang siapa yang lebih pantas dan layak menjadi khalifah.
Hasan berargumen tentang keutamaan dan kedekatannya secara nasab dg Rasulullah.
Mu’awiyah mengajukan alasan senioritas dan juga pengalam an. Singkatnya Mu’awiyah menawarkan sejumlah kompensasi bila Sayyidina Hasan bersedia menyerahkan posisi Khalifah kepadanya.
Khalifah Sayyidina Hasan akhirnya menyetujui mundur dari posisinya. Dengan mundurnya Sayyidina Hasan, perang saudara yang sudah dimulai sejak “Perang Jamal dan Perang Shiffin” bisa dihentikan.
Setelah peristiwa itu, kemudian Sayyidina Hasan mengajak saudaranya, Sayyidina Husain serta saudara-saudara mereka yang lainnya dan keponakan mereka, Abdullah bin Ja’far, meninggalkan tanah Iraq (Kuffah) menuju Kota Madinah.
Setiap kali Sayyidina Hasan beserta keluarganya melewati kabilah yg menjadi pendukung nya, mereka mencela kebijakan nya yang menyerahkan kekha lifahan kepada Muawiyah.
Namun demikian, sama sekali Hasan tidak merasa keberatan, menggerutu atau menyesal. Bahkan ia rela dan menyambutnya dengan gembira.
Demikian ulasan khusus terkait Kisah Cucu Rasulullah, Sayyidina Hasan bin Ali Turun dari Kursi Khalifah. Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar