Laqadja akum rasulum


web stats

Selasa, 11 Juni 2024

orang kaya uang bekerja untuk mereka, tetapi untuk orang miskin mereka yang harus bekerja untuk uang?

orang kaya uang bekerja untuk mereka, tetapi untuk orang miskin mereka yang harus bekerja untuk uang?

Mantan pengajar merangkap tukang sapu di Shinjuku Les (2018–2020)Penulis punya 974 jawaban dan 9,8 jt tayangan jawabanDiperbarui 1thn
Semula Dijawab: Kenapa bagi orang kaya uang bekerja untuk mereka, tetapi untuk orang miskin mereka yang harus bekerja untuk uang?

Gini bos, aye lagi males jawab panjang. Misalkan ente punya uang Rp 100 M, terus didepositoin, bunga 1,2% setaun (kayaknya kalo duitnya segitu bisa nego bunga sampe 4% p.a. deh), jadi dapet Rp 1,2 M setahun atau Rp 80 juta sebuan (pajak deposito adalah 20%).

Rp 80 juta sebulan itu engga ngapa2in, dari bunga doang, kagak harus kerja dapet uang di atas Rp 2,5 juta sehari, 7 hari seminggu. Ente tidur pun, istilahnya dibayar sekitar Rp 1 juta. Faktanya, orang dengan aset Rp 100 M ke atas mengetahui instrumen lain yang memberikan return di atas 1% per tahunnya. Ini masih belum bahas compounding interest. Udah itu aja, aye males nulis panjang…

Edit (27/07/2022)

Nah, ane mau bahas sedikit tentang yang namanya compounding interest… bahasa gampangnya, bunga berbunga. Dalam kehidupan nyata, sistem finansial (bank, dll.) kita sebenarnya mengadopsi sistem ini. Nah, anggaplah begini. Si Jojon menyimpan deposito sebesar Rp 1 juta di bank dengan bunga 5% (potong PPh 20%, jadinya 4%), maka dalam 3 tahun uangnya akan menjadi Rp 1,124 juta. Bunganya adalah Rp 124.800… untuk 3 tahun loh yah… dibagi dengan 3 tahun (36 bulan), kira-kira sebulan bisa dapet sedikit di bawah 3500 perak lah yah… atau per harinya sekitar seratus perak, untuk beli kerupuk aja engga bisa. Sekarang ada yang namanya Jane, anaknya orang kaya, menyimpan Rp 100 juta di bank yang sama. Dalam 3 tahun ia akan menerima bunga deposito Rp 12.480.000 untuk 3 tahun… lumayan yah?? Dapatnya memang tidak besar, tetapi kan tidak berusaha juga, hanya menabung (deposito saja). Kalau punya modal lebih besar dan 'mau usaha sedikit', bisa dapat keuntungan lebih besar. Modal Rp 800 juta bisa dapat Rp 600 juta dalam 5 tahun, misalnya di cerita ini :

Jawaban Sétsuna Meioh untuk Saya punya tabungan kurang lebih 800 juta. Investasi apa yang bisa saya lakukan? Teman menawarkan investasi robot trading. Apakah itu aman?

Orang kaya itu secara gampangnya terdiri dari 2 + 1 golongan : orang yang punya faktor produksi sama orang yang cerdas finansial, dan kalau sekarang nambah satu golongan lagi yaitu orang yang cerdas teknologi. Orang yang punya faktor produksi itu hampir pasti adalah orang yang punya tanah yang luas. Nah, tanah ini bisa dijadiin macem-macem : bikin rumah / kos / ruko lalu dikontrakin, bikin kebon, bikin peternakan, bikin tambak, bikin showroom mobil, bikin cafe, dll. Mereka yang punya tanah itu minimal sudah gaperlu kontrak lagi buat ngejalanin usahanya. Komponen biaya operasional yang besar itu ada 3 : sewa lahan, bahan baku & penunjang, dan tenaga kerja. Tenaga kerja ini bisa diminimalisir dengan otomatisasi / mekanisasi, bahan baku / penunjang bisa dikurangin sedikit dengan cara beli dari grosir / pabrik atau cari barang substitusi, tapi pengeluaran karena sewa lahan itu gabisa dikurangin, kecuali kalau mau pindah tempat. Nah, orang yang punya lahan (apalagi dalam jumlah besar) ini ya hampir pasti termasuk orang kaya, dan uanglah yang bekerja buat mereka, walaupun tampangnya dekil-dekil. Banyak pemilik lahan (perkebunan / peternakan / perikanan) yang menghasilkan keuntungan tahunan di atas 50% investasi awal, karena mereka sudah punya lahannya, jadi tidak beli dan tidak kontrak.

Orang kaya tipe kedua ini adalah mereka yang cerdas finansial. Selain compounding interest, mereka tahu satu lagi celah finansial yang bernama annuity, yang bahasa gampangnya adalah setoran rutin periodik. Orang kaya yang ingin menyekolahkan anaknya ke Aussie, yang tahu akan rahasia annuity, akan mengalokasikan uang Rp 10 juta sebulan dari anaknya balita (katakanlah, 1 tahun) selama 17 tahun (total : 200 bulan) pada suatu program annuity dengan equivalent rate 12% p.a. dan ketika anaknya akan kuliah di umur 18 akan mencairkan uang Rp 5,91 M. Padahal dengan setoran Rp 10 juta selama 17 tahun, total uang yang disetorkan adalah Rp 2 M tetapi yang didapatkannya adalah Rp 5,9 M… keuntungannya hampir 200%. Tetapi andaikan, ketika enyak-babenye mulai menabung Rp 10 juta sebulan sejak melihat dua garis biru (positif hamil), maka dengan equivalent rate yang sama, ekstra 20 bulan (menambah Rp 200 juta) akan menghasilkan Rp 7,36 M (bertambah Rp 1,46 M) pada saat anaknya berumur 18 nanti. Total setoran Rp 2,2 M tetapi mendapatkan Rp 5,36 M, keuntungan hampir 250%… dan orang yang cerdas finansial hanya perlu menganalisa laporan keuangan untuk berinvestasi pada saham yang tepat, atau melakukan analisis lainnya untuk memilih instrumen lainnya.

Kesamaan dari orang kaya tipe 1 dan tipe 2 adalah bahwa mereka bisa menunda keinginan. Kenapa? Karena menyisihkan 10 atau 50 juta sebulan itu relatif mudah bagi mereka, sementara orang biasa menyisihkan Rp 1 juta untuk depositi, bunganya hanya Rp 35 ribu sebulan, engga berarti…!!! Ini sebabnya, orang biasa (bahasa ekstrimnya, orang miskin) tidak akan membuat uang dari uang. Orang kaya ketika menunda keinginannya, uangnya akan menjadi uang lagi. Bahkan ketika orang kaya beli koleksi motor sport langka berharga belasan milyar, ketika bosan dipakai motornya dijual harganya malah lebih mahal, karena motornya langka…!!!

Nah, golongan ketiga ini adalah orang yang cerdas dan melek teknologi. Nah, orang kaya tipe tiga ini bisa dibilang golongan baru, yang baru muncul sekitar 3 dekade lalu (sejak 1990an) tetapi baru nyata dirasakan sekitar satu dekade ini. Orang yang [memiliki orangtua] kaya, dapat 'memperkenalkan' anaknya terhadap teknologi terkini yang tercanggih, yang belum bisa diakses bahkan diketahui oleh orang banyak. Ya tentunya anaknya harus rajin dan pintar, tetapi tanpa dukungan finansial orangtua yang sangat berlebih, maka anaknya takkan berhasil. Sehingga, orang kaya tipe ini biasanya melibatkan lintas generasi.


Pendiri Gojek belajar tentang IT, pemrograman, UI, dll. Bapaknya pejabat di era Soeharto, sehingga bisa menyekolahkan anaknya ke universitas terbaik. Ahmad Dhani juga merupakan anak pejabat di era Soeharto. Karena anaknya hobi musik, ya ia diperkenalkan kepada berbagai jenis teknologi dan teori seputar musik. Makanya, sehebat-hebatnya Ariel No'Ah tetap saja secara komprehensif si Ahmad Dhani lebih unggul. Ane yakin ente pasti bisalah yang namanya MS Office. Ya mungkin seperti MS Access, kagak semua bisa, tetapi Excel-Word-PPT bisa lah yah. Bayangin jaman 30 tahun lalu, ketika program ini pertama diluncurkan. Hanya orang-orang tertentu yang memiliki akses terhadap program ini, apalagi jaman dulu belum ada Internet.

 Pintar itu harus, tetapi juga harus punya komputer, harus punya programnya, dan harus ada yang mengajarinya.

 Seseorang yang belajar MS Excell pada awal-awal kemunculannya harus kaya, pintar, dan punya akses (baik software maupun cara pemakaiannya) ke teknologi itu (lihat kurva daerah merah di atas). Dan jaman itu, tahun 1993 - 1999, jika menguasai MS Office maka mungkin akan bisa bekerja langsung jadi wakil / asisten direktur atau konsultan.





Tidak ada komentar: