Rabiah Al Adawiyah lahir tahun 713 M di Basrah (Irak). Kedua orang tuanya meninggal tatkala ia masih kecil dan ketiga kakaknya juga meninggal saat wabah kelaparan melanda Basrah.
Rabiah Al Adawiyah kecil harus hidup mandiri dan asing. Ia pernah menjadi budak dan ketika bebas ia memilih menjalani hidup di tempat-tempat sunyi untuk bermeditasi. Sebuah tikar lusuh, sebuah periuk dari tanah, dan sebuah batu bata adalah harta yang ia miliki pada saat itu.
Sejak saat itu, Rabiah Al Adawiyah mengabdikan seluruh hidupnya pada Allah SWT. Setiap waktu ia terus berdoa dan berzikir. Hidupnya benar-benar semata untuk kehidupan akhirat sampai ia mengabaikan urusan dunianya.
Konsep Cinta dalam Sufisme Rabiah Al Adawiyah
Kecintaan Rabiah Al Adawiyah pada Allah SWT membuatnya memilih untuk melajang seumur hidup. Sufisme Rabiah Al Adawiyah telah mencapai mahabbattullah (cinta pada Allah) dan konsep mahabbah inilah yang membuatnya menjadi pembawa 'agama cinta'.
Cinta Rabiah Al Adawiyah bukanlah cinta yang mengharap balasan. Ia justru menempuh perjalanan mencapai ketulusan. Dalam salah satu syairnya ia berujar,
Jika aku menyembah-Mu karena takut pada api neraka maka masukkan aku di dalamnya! Dan jika aku menyembah-Mu karena tamak kepada surga-Mu, maka haramkanlah aku daripadanya! Tetapi jika aku menyembah-Mu karena kecintaanku kepada-Mu, maka berikanlah aku balasan yang besar, berilah aku kesempatan untuk melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha Mulia itu.
Rabiah Al Adawiyah Menghadapi Munkar dan Nakir
Rabiah Al-Adawiyah Meninggal dan Menghadapi Malaikat Munkar dan Nakir Miftah H.
Ketika Rabiah Al-Adawiyah sakit keras ia menolak pengobatan dari siapapun. Dia mengatakan yang dia butuhkan hanya penerimaan dari Allah SWT tentang sholat dan amal ibadahnya.
“Wahai jiwa yang damai, kembalilah kepada Tuhanmu dengan bahagia.”
Dan Rabiah pun menghadap Sang Pencipta.
Ketika tiba waktunya Rabiah Al-Adawiyah menghadapi kematian, mereka yang berada di sana meninggalkan ruangan dan menutup pintu. Kemudian terdengar sebuah suara berkata, “Wahai jiwa yang damai, kembalilah kepada Tuhanmu dengan bahagia.”
Waktu berlalu dan tidak ada lagi suara yang terdengar dari ruangan, kemudian mereka membuka pintu dan mendapati bahwa Rabiah telah meninggal.
Setelah kematiannya, seseorang bertemu dengan Rabiah dalam mimpi. Dia bertanya, “Bagaimana engkau menghadapai malaikat Munkar dan Nakir?” Rabiah menjawab, “Para pemuda itu (Munkar dan Nakir) datang kepadaku dan berkata, ‘Siapakah Tuhanmu?’ Aku menjawab, ‘Kembalilah dan katakan kepada Allah, di antara ribuan makhluk, janganlah Engkau melupakan seorang wanita tua yang lemah ini. Aku, yang hanya memiliki-Mu di dunia, tidak akan pernah melupakan-Mu, mengapa Engkau harus mengirim utusan untuk bertanya ‘siapakah Tuhanmu?'"
MAKA MUNKAR DAN NAKIR BERLARI KETAKUTAN (TIDAK BERANI LAGI MENDEKAT)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar