Laqadja akum rasulum


web stats

Selasa, 24 Desember 2024

Sholat Dhuha dan membaca Al-Qur'an dilandasi oleh keikhlasan kepada Allah SWT.

Sholat Dhuha dan membaca Al-Qur'an dilandasi oleh keikhlasan kepada Allah SWT. 

Pemahaman ini sejalan dengan prinsip keikhlasan dalam ibadah yang diajarkan oleh para ulama, termasuk Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Dalam kitab-kitab tasawufnya, beliau sering menekankan bahwa ibadah, baik yang wajib maupun sunnah, harus dilakukan dengan hati yang lapang dan niat yang tulus. Jika ibadah sunnah dilakukan ketika hati sedang tidak siap atau penuh keterpaksaan, dikhawatirkan ibadah tersebut kehilangan esensi dan justru menjadi beban.

Kupasan Pemikiran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

1. Ibadah Sunnah dalam Keikhlasan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengajarkan bahwa ibadah sunnah seperti sholat Dhuha, tahajud, atau sedekah sebaiknya dilakukan ketika hati merasa nyaman, sehingga seorang hamba bisa merasakan hubungan yang mendalam dengan Allah SWT. Jika ibadah dilakukan hanya untuk tujuan duniawi (seperti berharap kaya, sukses, dll.), maka ketika harapan tersebut tidak tercapai, seseorang mungkin akan menyalahkan ibadahnya atau bahkan Allah SWT.

2. Menjaga Hati dari Kekecewaan Dalam salah satu nasihatnya, beliau mengingatkan agar seorang mukmin menjaga hatinya dari sikap mengharap dunia melalui ibadah. Jika seseorang mengaitkan ibadah sunnah dengan keuntungan materi, maka ibadah tersebut kehilangan nilai spiritualnya. Allah SWT tidak membutuhkan ibadah kita, tetapi kitalah yang membutuhkan rahmat dan ridha-Nya.

3. Keselarasan dengan Al-Qur'an dan Sunnah Prinsip ini sejalan dengan firman Allah: "Barang siapa yang mengharap pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya."
(QS. Al-Kahfi: 110)

Juga hadis Nabi SAW:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kalian atau rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian."
(HR. Muslim, no. 2564)

Penekanan dari Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Dalam Al-Fath ar-Rabbani, beliau sering menekankan bahwa amal ibadah, baik wajib maupun sunnah, harus dijalankan dengan dasar kecintaan kepada Allah, bukan karena tuntutan duniawi. Ketika hati sedang tidak enak, seorang hamba sebaiknya memperbaiki kondisinya terlebih dahulu, misalnya dengan dzikir atau istighfar, sebelum melaksanakan ibadah sunnah agar dapat melakukannya dengan khusyuk.

Kesimpulan

Pemahaman Syekh Abdul Qadir Al-Jailani ini menuntun kita untuk lebih fokus pada kualitas dan niat dalam ibadah daripada kuantitasnya. Melakukan ibadah sunnah ketika suasana hati enak adalah cara untuk menjaga keikhlasan dan menghindari kekecewaan jika hasil duniawi tidak sesuai harapan. Ini sekaligus melatih seorang hamba untuk beribadah dengan cinta kepada Allah semata.


Berikut ini adalah dalil-dalil terkait:

1. Dalil tentang Sholat Dhuha
Qāla Rasūlullāh ṣallallāhu 'alaihi wa sallam: "Yusbihu 'alā kulli sulāmi ahadikum ṣadaqah, fakullu tasbīḥatin ṣadaqah, wa kullu taḥmīdatin ṣadaqah, wa kullu tahlīlatin ṣadaqah, wa kullu takbīratin ṣadaqah, wa amrun bil-ma'rūf ṣadaqah, wa nahyun 'anil-munkar ṣadaqah, wa yujzi' min dzālika rak'atāni yarkāuhumā minad-duḥā."
("Setiap pagi, diwajibkan atas setiap persendian tubuh kalian untuk bersedekah: setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan yang baik adalah sedekah, mencegah yang mungkar adalah sedekah, dan itu semua bisa diganti dengan dua rakaat Dhuha." (HR. Muslim, no. 720)

Kupasan:
Sholat Dhuha adalah ibadah yang dianjurkan untuk mendatangkan keberkahan dan sebagai bentuk syukur kepada Allah atas nikmat tubuh yang diberikan. 

2. Dalil tentang Membaca Al-Qur'an

Qāla Rasūlullāh ṣallallāhu 'alaihi wa sallam: "Iqra’ul-Qur’āna fa innahu ya’tī yawmal-qiyāmati syafī‘an li asḥābih." ("Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembaca nya." (HR. Muslim, no. 804)

Kupasan:
Membaca Al-Qur'an adalah ibadah yang membawa ketenangan hati (lihat QS. Ar-Ra'd: 28) dan menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah. Bahkan saat hati sedang tidak senang, membaca Al-Qur'an bisa menjadi terapi untuk mendapatkan kedamaian dan solusi.



Tidak ada komentar: