AKU DAN MALAIKAT YANG TAK BERSAYAP ITU
Aku tumbuh di bawah bayang tubuh seorang wanita kuat,
yang tubuhnya melemah seiring aku tumbuh,
yang langkahnya perlahan karena terlalu sering berlari demi hidupku.
Ia tak bersayap…
tapi cintanya menjulang seperti langit,
doanya menembus batas bumi,
dan lelahnya tak pernah meminta bayaran.
Dialah ibuku.
Malaikat tanpa sayap yang tak pernah minta dihormati,
tapi di bawah telapak kakinya—tersimpan surga yang dicari manusia seumur hidup.
Aku baru tahu…
Bahwa ridha Allah, tergantung pada ridha orang tua.
Dan bahwa ketika ibuku tersenyum padaku, langit pun membukakan berkahnya.
"Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua."
(HR. Tirmidzi)
Dan surga… ternyata bukan sesuatu yang jauh.
Ia ada di bawah kakinya yang dulu menuntunku berjalan.
Yang kini mungkin tak kuat lagi berdiri terlalu lama.
"Surga itu di bawah telapak kaki ibu."(HR. Ahmad dll)
Dan saat aku bertanya kepada hatiku—
Siapa manusia paling berjasa setelah Allah dan Rasul-Nya?
Jawabannya bukan hanya satu,
tapi tiga kali berturut-turut: ibumu, ibumu, ibumu... baru ayahmu.(HR. Bukhari dan Muslim)
Aku pun mulai berhati-hati…
Karena kutahu, doa ibu itu tak pernah tertolak.
Sekali ia mengadu kepada Tuhan karena lukanya dari ucapanku,
maka aku tahu, aku sedang berjalan menjauhi ridha-Nya.
"Tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan lagi:
doa orang tua kepada anaknya, doa orang yang terzalimi, dan doa musafir."(HR. Tirmidzi)
Dan saat aku merasa telah banyak berkorban untuk hidup,
aku terdiam membaca kisah Uwais al-Qarni.
Ia menggendong ibunya dari Yaman ke Makkah.
Tak banyak bicara, tak pandai tampil di depan ulama,
tapi doanya diminta oleh Umar dan Ali—karena ridha ibunya mengangkatnya ke langit.
"Jika kalian bertemu Uwais, mintalah doa darinya."(HR. Muslim)
Aku juga teringat seorang wanita miskin,
yang tak pernah mengenyam kemewahan,
tapi mengantar anaknya menjadi Imam Besar bernama Syafi’i.
Ia bukan lulusan pesantren besar,
tapi tangannya membentuk manusia agung dari air susu dan air matanya.
Lalu aku menangis membaca kisah anak kampung yang kini menjadi profesor,
karena ibunya menjual gorengan setiap subuh.
Sambil berdoa: “Ya Allah, aku titipkan anakku ke langit-Mu.”
Dan anak itu kini mencuci kaki ibunya setiap pulang,
karena katanya, “surga itu ada di bawah telapak kaki ibu.”
Kini aku mengerti…
Kenapa ibu disebut malaikat tak bersayap.
Karena ia lebih dari itu.
Ia adalah rahmat Tuhan dalam bentuk manusia,
yang tak pernah berhenti mencintai, bahkan saat hatinya sendiri patah.
Jika ibuku masih hidup,
aku ingin setiap hari mencium kening dan kakinya.
Dan jika ia telah tiada,
biarlah doaku menjelma cahaya dalam gelap kuburnya.
"Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada ibu-bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu."
(QS. Luqman: 14)
Wahai Ibu…
Jangan pernah lelah menjadi malaikat kami.
Karena dari doamulah, aku belajar terbang di dunia yang keras ini.
Ya Allah, ampuni ibuku. Sayangilah ia sebagaimana ia menyayangiku di waktu kecil. Jadikan aku anak yang tak lalai mencintai dan mendoakannya, hingga akhir usiaku…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar