Kamu Bilang Tidak Dendam,
Kamu bilang tidak dendam. Tapi kenapa setiap kali namanya disebut, dadamu masih sesak? Kenapa setiap kali bayangannya datang, hatimu masih panas?
Aku pun dulu berkata begitu. “Aku tidak dendam. Kalau dia ingin baik, aku akan lebih baik. Tapi kalau tidak… aku pun tak akan baikan dan tak akan mendekat.”
Kedengarannya adil, bahkan terhormat. Tapi mengapa hatiku tetap berat?
Sampai aku temukan ayat ini:
“Balasan kejahatan adalah kejahatan yang setimpal. Tetapi barangsiapa memaafkan dan memperbaiki, maka pahalanya di sisi Allah.” (QS. Asy-Syura: 40)
Pahalanya di sisi Allah! Bukan sekadar damai di dunia, tapi dapat rumah di surga.
Rasulullah saw bersabda:
“Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan pertengkaran, walau ia benar.” (HR. Abu Dawud)
Dan aku ingat hadist lain,
“Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam… Barangsiapa memutus (silaturahim), ia tidak akan masuk surga.” (HR. Bukhari-Muslim)
Aku gemetar. Jadi ini bukan sekadar gengsi. Ini soal surga dan neraka!
Aku pun belajar dari Nabi Yusuf, yang berkata kepada saudara-saudaranya:
“Tidak ada celaan atas kalian hari ini.”
Dan Rasulullah saw, yang berkata kepada orang-orang yang ingin membunuhnya:
“Pergilah, kalian bebas.”
Jika mereka bisa memaafkan luka yang jauh lebih dalam, siapa aku yang masih menyimpan bara kecil ini?
Hari itu aku sadar, memaafkan bukan karena dia layak, tapi karena aku ingin Allah mencintaiku… dan membangunkan rumah untukku di surga.
Karena kalau aku terus memelihara gengsi, aku takut satu langkah lagi, aku jatuh ke neraka.
Dan aku memilih satu hal:
Menang. Bukan atas dia… tapi atas diriku sendiri karena Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar