Perjalanan Sunyi Bersama Nasihat Imam Syafi’i"
Aku berjalan di lorong yang sunyi, ditemani bisikan bijak dari Imam Syafi’i. Setiap nasihatnya bagai pelita di jalan yang gelap.
“Bila kau tak mau merasakan lelahnya belajar, maka kau akan menanggung pahitnya kebodohan.”
Aku terdiam. Betapa benar kata beliau. Aku pernah memilih malas, dan kebodohan itu memelukku erat, menutup semua pintu. Kini, aku mengerti mengapa Allah berfirman: "Rabbi zidni ‘ilma". Aku pun bangkit, menahan kantuk, menelan lelah, demi manisnya ilmu.
Lalu kudengar lagi suaranya:
“Jangan cintai orang yang tidak mencintai Allah, kalau Allah saja ia tinggalkan, apalagi kamu.”
Hatiku pernah jatuh pada yang salah. Aku mencintai manusia lebih dari Tuhanku. Aku lupa, jika ia tidak setia pada Rabbnya, bagaimana bisa ia setia padaku? Ayat Allah kembali terngiang: "Orang beriman sangat besar cintanya kepada Allah." Maka kupelajari cinta yang benar—cinta yang membawa ke surga, bukan ke neraka.
Di satu malam, aku termenung di bawah cahaya rembulan.
“Barangsiapa yang menginginkan husnul khatimah, hendaklah ia selalu bersangka baik dengan manusia.”
Aku mengingat hari-hari ketika prasangka buruk menodai hatiku. Padahal Rasul sudah berkata: "Jauhilah prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa." Sejak itu, kubiasakan memandang manusia dengan kaca bening, bukan kaca buram.
Hening makin dalam. Aku terbangun di sepertiga malam.
“Doa di saat tahajud adalah umpama panah yang tepat mengenai sasaran.”
Aku rasakan itu. Di saat dunia terlelap, aku menunduk, memanah langit dengan doa. Dan setiap panah yang kupanjatkan seakan kembali dengan kabar gembira. Sungguh, janji Allah tak pernah dusta.
Hari-hariku kembali bersahabat dengan ilmu.
“Ilmu itu bukan yang dihafal tetapi yang memberi manfaat.”
Aku dulu bangga dengan hafalan, tapi aku lupa mengamalkan. Kini kutahu, ilmu sejati adalah yang menumbuhkan amal, yang menuntun langkah, bukan sekadar angka di kepala.
Hari-hari berlalu, aku melihat banyak manusia tertawa...
“Berapa banyak manusia yang masih hidup dalam kelalaian, padahal kain kafan sedang ditenun.”
Aku bergidik. Aku pun pernah lalai, padahal kematian selalu di pelupuk mata. Setiap detik, benang kain kafanku mungkin sedang dirajut.
Aku juga belajar tiga hal yang berat, seperti kata Imam Syafi’i:
“Dermawan saat sedikit, menghindari maksiat saat sunyi, berkata benar di hadapan penguasa.”
Ketiganya kutemui dalam hidup. Dan kutahu, hanya iman yang menguatkan.
Aku juga bertemu dengan kemiskinan.
“Orang hebat adalah yang mampu menyembunyikan kemiskinan.”
Aku belajar menjaga harga diri, meski isi dompet kering. Allah suka yang sabar, bukan yang mengeluh.
Lalu datang amarah.
“Orang hebat adalah yang mampu menyembunyikan amarah.”
Aku menahan bara di dada, mengubahnya jadi sabar. Karena Allah mencintai orang yang menahan marah.
Kesusahan pun kerap mampir.
“Orang hebat adalah yang mampu menyembunyikan kesusahan.”
Aku belajar tersenyum ketika dadaku sempit. Karena aku yakin, setelah kesulitan, ada kemudahan.
Kini, setelah semua nasihat itu meresap, aku mengerti: hidup adalah perjalanan singkat. Ilmu adalah pelita, sabar adalah kendaraan, dan sahabat saleh adalah penuntun. Aku hanya berharap, ketika kain kafan itu selesai ditenun, aku siap menyambutnya dengan husnul khatimah.
Aamiin ya rabbal alamin, jazallahu anna muhammad saw bima huwa ahluh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar