Renungan Kita setelah 80 Tahun Merdeka
Anak-anakku yang selalu kusayang,
Hari ini, 80 tahun sudah kita menghirup udara kemerdekaan.
Delapan puluh tahun yang lalu, para syuhada kita berjuang dengan darah, dengan air mata, dengan jiwa yang tulus demi satu kata yang agung: MERDEKA!
Tetapi aku ingin bertanya—dan biarlah kalian menjawab di dalam hati—
apakah kita hari ini benar-benar merdeka?
Apakah merdeka itu hanya berarti bendera berkibar di langit biru?
Apakah merdeka itu hanya berarti kita bebas dari penjajah asing?
Tidak! Seribu kali tidak!
Kemerdekaan yang sejati bukan hanya kebebasan lahiriah. Kemerdekaan yang sejati adalah kebebasan batiniah!
Bebas dari penjajahan syirik! Bebas dari perbudakan hawa nafsu!
Bebas dari korupsi yang mencengkeram!
Bebas dari kemiskinan yang dibiarkan begitu saja!
Anak-anakku yang kusayang, dengarkan baik-baik...
Kemerdekaan ini lahir dari darah para syuhada, dari lidah-lidah yang berdoa, dari takbir yang menggema di antara pekik merdeka! Dengarlah kembali suara itu, walau 80 tahun sudah berlalu!
Ingatlah kisah Thariq bin Ziyad, ketika ia menyeberang ke Andalusia. Kapalnya dibakar! Ia berkata: “Laut di belakang kalian, musuh di depan kalian. Tiada jalan pulang kecuali kemenangan!” Betapa mencekam, tetapi betapa mempesona tekadnya! Inilah jiwa merdeka—jiwa yang tak tunduk kepada SELAIN ALLAH!
Atau kisah Salahuddin Al-Ayyubi, yang menundukkan Yerusalem bukan dengan kekejaman, tetapi dengan keadilan dan kasih sayang. Saat perang, ia tegak bagaikan singa. Tapi ketika musuh kalah, ia berkata: “Kami datang bukan untuk membalas dendam, tetapi untuk menegakkan kebenaran!”
Anak-anakku,
Bangsa kita pun lahir dari jiwa yang sama.
Jiwa yang tak kenal menyerah! Jiwa yang tak tunduk kecuali kepada Allah!
Namun aku bertanya:
Apakah kita kini setia kepada cita-cita itu?
Apakah kita masih menjadi bangsa yang merdeka lahir dan batin?
Atau kita hanya bebas secara politik, tapi terjajah oleh hawa nafsu, oleh korupsi, oleh kemalasan?
Allah mengingatkan kita:
"Berpeganglah kamu semuanya kepada tali agama Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai..." (Ali ‘Imran: 103)
Ayat ini adalah pesan yang TIDAK PERNAH KADALUARSA. Ia menggema dalam setiap detak sejarah. Ia memanggil kita, anak-anak bangsa, untuk kembali bersatu, untuk berpegang kepada iman, bukan kepada ego dan kepentingan pribadi.
Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau, dan Allah menjadikan kamu sebagai khalifah di dalamnya, maka Dia akan melihat bagaimana kamu berbuat.” (HR. Muslim)
Apa maknanya? Bahwa 80 tahun kemerdekaan ini bukan sekadar angka di kalender!
Ia adalah amanah! Amanah yang akan Allah tanya kelak: “Apa yang kamu lakukan untuk bangsamu? Untuk agamamu? Untuk dirimu?”
Anak-anakku,
Jangan biarkan kita menjadi generasi yang merdeka di kertas, tetapi terjajah di hati.
Jangan biarkan korupsi menggerogoti iman. Jangan biarkan kebodohan membelenggu masa depan anak cucu kita.
Jangan biarkan perpecahan merobek persaudaraan kita!
Mari kita isi kemerdekaan ini dengan tiga hal:
- Takwa yang tegak di dada.
- Ilmu yang membebaskan jiwa.
- Persaudaraan yang menghapuskan dendam dan iri hati.
Karena kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
Kita pernah sama-sama punya mimpi. Maka mari kita lanjutkan mimpi itu—mimpi Indonesia yang merdeka bukan hanya secara politik, tapi juga merdeka dalam iman, akhlak, dan amal.
Allahu Akbar! Merdeka!
Hiduplah Indonesiaku yang taat kepada Allah!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar