Untaian Doa di Ujung 37 Musim
Aku masih ingat hari itu… puluhan tahun lalu, saat kau menerima tanganku sebagai takdirmu.
Sejak itu, 37 tahun kita berjalan beriring — kadang di jalan mulus, kadang di tanah berlumpur penuh ujian. Tapi tak sekalipun kau lepaskan genggamanku.
Kita menanam mimpi bersama, menyiangi harapan, lalu memanen tiga anugerah terindah:
Frenty Purnasetya, Tika Dwipurna, dan Selvana Ariestia.
Mereka tumbuh dari pelukanmu, dari doa-doamu yang tak pernah putus, dari kesabaranmu yang bahkan langit pun malu menandinginya.
Hari ini, Harmini… usiamu bertambah, tapi bagiku kau tetap rumah tempat aku pulang.
Tetap pelabuhan yang menenangkan ombak-ombak lelahku.
Kerut di wajahmu adalah peta perjalanan kita, dan setiap garisnya menyimpan cerita cinta yang tak lekang oleh waktu.
Ya Allah… Engkaulah yang menakdirkannya menjadi belahan jiwaku. Titipkan ia dalam penjagaan-Mu yang tak pernah lelah.
Lapangkan hatinya dengan kesabaran, tumbuhkan senyumnya dengan syukur, dan penuhi hari-harinya dengan cinta-Mu yang tak terbatas.
Jadikan setiap langkahnya ladang pahala, setiap napasnya dzikir yang Engkau ridhai, dan setiap air matanya penghapus dosa.
Bahagiakan ia di dunia dan akhirat. Panjangkan umurnya dalam ketaatan. Kuatkan tubuhnya dalam ibadah.
Dan pertemukan kami kembali di surga-Mu, di bawah naungan kasih sayang yang Engkau ciptakan untuk orang-orang beriman.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin…
Shalallahu ‘ala Muhammad, shalallahu ‘alaihi wasallam.
Selamat ulang tahun, istriku…
Aku mencintaimu — dengan cinta yang tumbuh dari doa,
dan akan tetap mekar, bahkan saat rambut kita sama-sama memutih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar