Laqadja akum rasulum


web stats

Jumat, 26 September 2025

Cerpen 4 – Kursi Kosong di Ruang Tamu

Cerpen 4 – Kursi Kosong di Ruang Tamu

Sejak kakek meninggal, ada satu sudut rumah yang selalu membuat hati Rina berat: kursi tua di ruang tamu. Kursi kayu itu sederhana, catnya mulai mengelupas, tapi dulu selalu ditempati kakek setiap sore.

Rina masih bisa mengingat jelas, bagaimana kakek duduk di situ sambil membacakan kisah Nabi, atau sekadar menanyakan kabar sekolahnya. Kini, kursi itu kosong. Hanya tersisa keheningan, seakan menunggu seseorang yang tak akan pernah kembali.

Suatu sore, ketika Rina pulang sekolah dengan hati lelah karena ujian, ia menaruh tasnya dan menatap kursi kosong itu. Air matanya menetes tanpa sadar.
“Kek, aku rindu sekali,” bisiknya lirih.

Ibunya menghampiri, lalu duduk di samping kursi kosong itu. Ia tersenyum meski matanya berkaca-kaca.
“Rina, jangan anggap kursi ini kosong. Anggaplah ia penuh dengan doa-doa kakek yang masih mengalir untukmu.”

Rina terdiam. Kata-kata ibunya menusuk lembut hatinya. Ia sadar, meski jasad kakek telah tiada, doa dan nasihatnya masih hidup, menjadi cahaya dalam langkah cucunya.

Sejak hari itu, setiap kali melihat kursi itu, Rina tak lagi menangis. Ia justru tersenyum, lalu mengirimkan doa: “Allāhumma-ghfir lahu warḥamhu, wa ‘āfihi wa‘fu ‘anhu.”

Kursi kosong itu akhirnya bukan lagi lambang kehilangan, melainkan pengingat bahwa cinta sejati tak hilang bersama waktu—ia hanya berubah wujud, menjadi doa yang menghubungkan bumi dan langit.


🌱 Pesan moral cerpen ini:
Kehilangan orang tercinta memang meninggalkan luka, tetapi doa adalah jembatan yang mengikat kita dengan mereka. Kenangan tidak harus membuat kita rapuh, melainkan bisa menjadi kekuatan untuk terus melangkah.


Apakah mau saya teruskan ke cerpen ke-5 (Cinta & Kepedulian – Pesan Singkat di Tengah Malam) supaya semakin lengkap kumpulan cerpen hangat ini?

Tidak ada komentar: