Cerpen 6 – Cinta: Senja di Balkon Kos
Hujan baru saja reda. Senja meneteskan warna jingga ke dinding balkon kos sederhana di pinggiran kota. Dina duduk dengan secangkir teh hangat, matanya masih menatap layar ponsel. Ada satu pesan belum sempat ia balas sejak pagi. Dari Raka.
Sejak beberapa bulan terakhir, hubungan mereka seperti terhenti di persimpangan. Raka sibuk dengan pekerjaannya di luar kota, sementara Dina tenggelam dengan skripsinya. Chat sering tertunda, telepon kadang berakhir hanya dengan “Nanti cerita ya.”
Namun sore itu, sesuatu berbeda. Raka tiba-tiba muncul di depan kos dengan wajah lelah, jas hujan masih menempel. Dina terkejut, tak percaya ia menempuh perjalanan ratusan kilometer hanya untuk datang.
“Kenapa nggak bilang mau ke sini?” Dina membuka pintu kamar kos, hatinya berdebar.
Raka menunduk sebentar, lalu tersenyum tipis. “Aku takut kalau bilang, kamu keburu bilang jangan. Jadi aku langsung datang aja.”
Hening sejenak, hanya suara rintik sisa hujan. Dina menahan air mata, rasa rindu yang dipendam akhirnya pecah. Ia menyodorkan teh hangat. Mereka duduk di balkon kos, ditemani sisa cahaya senja.
“Aku nggak tahu ini jalan kita bakal panjang atau berhenti di sini,” ucap Dina lirih, “tapi aku cuma pengen kita sama-sama jujur.”
Raka menatap langit jingga yang perlahan memudar. “Aku juga. Cinta itu kan bukan soal selalu bersama, tapi berani tetap menjaga meski jarak dan waktu sering jadi penghalang.”
Dina terdiam, lalu tersenyum kecil. Senja itu menjadi saksi: cinta tak selalu harus besar dan mewah. Kadang ia sederhana, seperti secangkir teh hangat di balkon kos, setelah hujan reda.
—
Apakah mau saya teruskan cerpen ke-7 (tema lain, misalnya: kehidupan sosial atau perjuangan pribadi) agar kumpulan cerpen ini semakin lengkap?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar