Kisah Pengamal Akhir Al Hasyr
Ada seorang ibu penjual sayur kehilangan suaminya secara tiba-tiba. Sejak itu, ia sering menangis di malam hari.
Anaknya mengajarinya satu amalan sederhana: membaca akhir Surat Al-Hasyr sebelum tidur.
Ia membaca dengan lirih:
“Huwallahu alladzi laa ilaaha illa Huwa ‘aalimul ghaibi wasy syahaadah…”artinya: Dialah Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. (QS. Al-Hasyr: 22–24)
Ia tidak memahami tafsir panjangnya, tapi dadanya tidak sesak lagi
Ia belajar bahwa menyebut Asma Allah bukan untuk mengubah takdir seketika, tetapi untuk menguatkan jiwa dalam menjalani takdir.
Kisah seorang guru yang istiqamah menggabungkan Al-Hadid dan Al-Hasyr.
Ia memilih amalan:
pagi membaca awal Surat Al-Hadid,
malam membaca akhir Surat Al-Hasyr.
Awal Al-Hadid mengajarkannya keagungan dan kekuasaan Allah.
Akhir Al-Hasyr mengajarkannya tentang keindahan nama-nama Allah.
Ia sering berdoa,
“Ya Allah, jika dunia ini sempit, lapangkanlah dadaku.”
Suatu saat, Sang guru itu berkata,
“Aku tidak kaya harta, tapi aku kaya makna. Al-Hadid membuatku tunduk, Al-Hasyr membuatku tenang.”
Awal Surat Al-Hadid menanamkan TAUHID KEKUASAAN—bahwa Allah Maha Mengatur segalanya.
Akhir Surat Al-Hasyr menanamkan TAUHID CINTA—bahwa Allah Maha Indah dengan nama-nama-Nya.
Siapa yang menggabungkan keduanya, insyaAllah akan kuat imannya, lembut hatinya, dan tenang langkah hidupnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar