Lapar Disembunyikan Langit
Cerpen: oleh Ismilianto
Subuh terbit dengan dingin yang jujur. Langit pucat, masjid setengah terjaga.
Adzan mengalun—
namun hatinya tak ikut bangun.
Ia berniat puasa. Tubuhnya patuh. Jiwanya tertinggal.
Perutnya kosong, tapi dadanya penuh amarah.
Tenggorokannya kering,
namun lisannya basah oleh keluhan. Ia menahan makan,
namun melepas kendali.
Menahan minum, namun membiarkan dosa mengalir pelan.
Siang merambat berat.
Ia mengeluh pada panas,
marah pada rezeki yang terasa lambat, kesal pada manusia—
lupa bahwa yang sedang mengujinya adalah Allah.
Ia tak sadar, puasa bukan hanya menutup pintu perut,
tetapi membuka pintu hati
agar cahaya masuk dan dosa pergi.
Magrib pun tiba. Gelas diangkat. Kurma dikunyah.
Senyum terbit seolah menang peperangan.
Namun malam itu,
langit mencatat dengan tinta yang lain. Yang terangkat bukan puasanya, melainkan keluh kesahnya.
Hingga di ujung Ramadhan,
ia bertanya lirih,
“Mengapa hatiku tetap keras,
padahal sebulan aku menahan lapar?”
Langit diam lama.
Karena yang ia puasakan hanyalah perut,
bukan jiwa.
Padahal Allah telah berfirman sejak awal:
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 183)
Dan Rasulullah SAW pernah berkata dengan suara yang membuat jiwa gemetar:
Betapa banyak orang berpuasa, namun tak ia dapatkan selain lapar dan haus. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Maka Ramadhan bukan soal kuat menahan lapar,
tetapi sejauh mana puasa
melembutkan hati
dan mematikan dosa-dosa yang diam-diam hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar