Laqadja akum rasulum


web stats

Senin, 09 Februari 2026

Malam Terakhir yang Tak Pernah Dijadwalkan Cerpen: Ismilianto

Malam Terakhir yang Tak Pernah Dijadwalkan
Cerpen: Ismilianto

Malam itu hujan turun pelan, seperti sengaja tidak ingin mengganggu siapa pun. 

Aku duduk di teras, memandangi lampu jalan yang berkedip lelah. Tanganku menggenggam secangkir kopi yang sudah dingin, tapi pikiranku jauh lebih dingin dari itu.

Entah kenapa, dadaku terasa sesak tanpa sebab yang jelas.
Aku baru saja selesai menghitung rencana hidup.
Hutang yang belum lunas.
Rumah yang ingin direnovasi.
Janji pada anak cucu yang belum sempat kutepati.

Aku tersenyum kecil.
Lucu sekali manusia.
Selalu merasa masih punya waktu.

Di kejauhan terdengar azan Isya. Aku berdiri perlahan, melangkah ke dalam rumah. Di sajadah yang mulai kusam, aku berdiri menghadap-Nya. 

Tak ada doa panjang malam itu. Hanya satu kalimat yang keluar dari bibirku, lirih dan gemetar,
“Ya Allah… jika malam ini Engkau memanggilku, ampunilah aku.”

Air mataku jatuh tanpa komando. Aku teringat seorang tetangga lama. Lelaki sederhana, bajunya biasa, hidupnya juga biasa.

Tapi setiap selesai salat, ia duduk lama. Kadang menangis. Pernah aku bertanya kenapa.
Ia menjawab pelan,
“Aku tidak takut mati. Aku takut mati sebelum sempat benar-benar pulang.”

Kalimat itu dulu terasa berlebihan.
Malam ini… terasa menampar.

Aku sadar, selama ini aku rajin meminta: rezeki, kesehatan, umur panjang.
Tapi jarang sekali meminta hati yang siap bertemu Allah.

Padahal, Allah tidak pernah berjanji memanggil kita saat hidup sudah rapi.

Malam makin larut. Hujan berhenti. Angin menyisakan dingin. Aku kembali ke teras, memandang langit yang gelap tanpa bintang.

Jika malam ini adalah yang terakhir, aku ingin pulang bukan sebagai hamba yang merasa banyak amal,
tapi sebagai hamba yang mengaku banyak salah.

Di sudut hati, ada ketenangan aneh.
Seperti seseorang yang akhirnya berani mengetuk pintu rumahnya sendiri.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama,
aku tidak meminta apa-apa.
Aku hanya berharap, Allah masih mau menerimaku
sebagai hamba yang terlambat sadar, tapi tidak berhenti berharap.
Tamat.

Tidak ada komentar: