TAUBAT MENDADAK
Kita mengira taubat itu harus menunggu waktu yang tepat.
Menunggu hidup lebih rapi.
Menunggu dosa berkurang.
Ramadhan mengajarkan bahwa taubat sering kali datang mendadak.
Kita belajar dari seorang lelaki bernama Fudhail bin Iyadh. Hidupnya diisi maksiat dan perampokan.
Suatu malam di bulan Ramadhan, ia mendengar satu ayat Al-Qur’an Surah Al-Hadid ayat 16 dibacakan:
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mengingat Allah…”
Ayat itu tidak panjang.
Namun malam itu, hatinya runtuh.
Ia berkata, “Ya Allah, saat itu telah datang.”
Dan sejak malam Ramadhan itu, hidupnya berbalik arah jadi taubat nasuha.
Ada pula kisah Malik bin Dinar.
Dahulu ia tenggelam dalam dosa. Namun suatu Ramadhan, di waktu sahur, hatinya disentuh oleh kesadaran:
“Apa gunanya hidup jika berakhir dalam murka Allah?”
Malam itu, ia meninggalkan maksiatnya karena takut bertemu Allah dalam keadaan kotor.
Allah tidak bertanya berapa lama kita bermaksiat.
Allah hanya melihat seberapa cepat kita kembali.
Ramadhan bukan menunggu kita suci. Ramadhan datang agar kita dibersihkan.
Jika hari ini kita masih bergelimang salah,
jangan tunda berkata,
“Besok aku akan berubah.”
Karena bisa jadi,
Ramadhan ini adalah undangan terakhir
untuk pulang menghadap Allaah.
Allahumma innā nas’aluka riḍāka wal-jannah,
wa na‘ūdzu bika min sakhathika wan-nār.
Ya Allah,
jangan tunda taubat kami sampai ajal menjemput.
Terimalah taubat kami,
meski datang mendadak dan penuh dosa.
Aamiin ya rabbal aalamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar