CAHAYA DI MALAM NUJUH LIKUR
Oleh: Khairunnisa Khalilah (Versi Revisi)
Tiba-tiba Vira menoleh ke arah Raissa.
“Berani banget kamu unggah video itu,” katanya tajam. “Kamu nggak takut dihujat?”
“Video yang mana?”
“Yang makan beantagh itu.”
Vira memperlihatkan layar ponselnya. Video itu menampilkan orang-orang duduk lesehan di atas tikar. Hidangan tersusun di atas belabar. Suasana hangat, sederhana, dan penuh kebersamaan.
Raissa tersenyum kecil. “Kalau itu budaya kita, kenapa harus takut?”
Vira menghela napas. “Masalahnya bukan itu. Kamu tulis caption ketinggalan zaman. Orang sekarang gampang tersinggung. Apalagi ini bulan puasa. Banyak yang lagi sensitif.”
Raissa mengangkat bahu. “Santai saja. Tidak akan ada apa-apa.”
Vira menatapnya lebih dalam. “Kamu ini benar-benar mau menjaga budaya… atau cuma menjadikannya konten?”
Raissa terdiam.
Vira pergi meninggalkannya.
Sampai di rumah, Raissa langsung merebahkan tubuhnya. Hari itu terasa melelahkan.
Ia membuka ponselnya.
Notifikasi terus berdatangan.
Video makan beantagh itu sudah ditonton ratusan orang. Tanda suka bertambah cepat. Komentar berdatangan.
Sebagian memuji.
Sebagian bertanya.
Raissa tersenyum.
Namun tiba-tiba jarinya berhenti.
Satu komentar muncul dari akun tanpa nama.
“Jangan urus makan beantagh itu, anak ingusan! Belajar dulu tentang budaya!”
Raissa mengerutkan kening.
Belum sempat ia menggulir, komentar lain muncul.
“Ah, paling juga cuma cari perhatian. Ibunya saja tukang cuci rumah ke rumah.”
Raissa terpaku.
Dadanya terasa sesak.
Kalimat itu… terlalu tepat.
Ia menutup aplikasi itu cepat-cepat.
Namun kata-kata itu tidak ikut tertutup.
Ibunya saja tukang cuci…
Raissa memejamkan mata.
Selama ini… ia memang tidak pernah menceritakan tentang ibunya.
Ia bicara tentang budaya.
Tentang kampung.
Tentang tradisi.
Tapi tidak pernah tentang rumahnya sendiri.
Tentang tangan ibunya yang selalu basah oleh air sabun.
Tentang lelah yang tidak pernah dikeluhkan.
Raissa menarik napas panjang.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bukan marah.
Tapi… malu.
Malam itu, ia membuka kembali videonya.
Menatap tombol hapus.
Satu sentuhan saja, semuanya selesai.
Tidak ada hujatan.
Tidak ada rasa malu.
Namun jarinya tidak bergerak.
Ia hanya menutup ponsel itu.
Dan menangis dalam diam.
Keesokan harinya, di sekolah, Raissa melihat orang-orang berbisik saat ia lewat.
Tatapan-tatapan itu membuat langkahnya terasa berat.
Di koridor, ia melihat Vira.
Raissa langsung mendekat.
“Apa kamu yang kirim komentar itu?” tanyanya.
Vira terkejut. “Komentar apa?”
Raissa menunjukkan ponselnya.
“Karena cuma kamu yang tahu keluargaku!”
Vira menggeleng keras. “Fitnah! Aku memang tahu, tapi bukan aku yang menyebarkannya!”
Napas Vira tiba-tiba tidak teratur.
“Aku cuma… nggak mau kamu hancur karena medsos…” katanya terbata.
Tiba-tiba wajahnya pucat.
Ia memegang dada.
“Vir?”
Tubuh Vira goyah… lalu jatuh pingsan.
Sore itu, Raissa pulang dengan hati kacau.
“Ibu… orang-orang menghujat Raissa,” katanya lirih. “Mereka mengolok pekerjaan Ibu.”
Ibunya terdiam.
“Ibu cuma kerja, Nak. Ibu tidak mencuri.”
Raissa menunduk.
“Yang Ibu takutkan,” lanjut ibunya pelan, “bukan orang lain tahu… tapi kamu sendiri yang tidak mau mengakuinya.”
Raissa tidak menjawab.
Malam nujuh likur, Raissa duduk di beranda rumah kakeknya.
Lampu tempurung menyala di sepanjang kampung.
Api kecil bergoyang tertiup angin.
Kakeknya duduk di sampingnya.
“Dulu,” katanya pelan, “pernah ada orang sekampung bertengkar hanya karena iri. Padahal lampu di depan rumah mereka… sama-sama kecil.”
Raissa menoleh.
“Kadang bukan gelapnya yang membuat orang tersesat,” lanjut kakeknya, “tapi keinginannya untuk terlihat lebih terang dari orang lain.”
Api kecil itu bergoyang lagi.
“Padahal… cahaya kecil pun cukup… kalau ia jujur menyala.”
Raissa menunduk.
Ia membuka ponselnya.
Komentar masih berdatangan.
Tangannya gemetar.
Ia menyalakan kamera.
Lalu mematikannya lagi.
Ia mencoba lagi.
Bayangan ejekan muncul di kepalanya.
Ia menarik napas panjang.
“Kalau bukan sekarang… aku akan terus bersembunyi,” bisiknya.
Ia menekan rekam.
“Aku Raissa,” katanya pelan. “Dan benar… ibuku bekerja mencuci dari rumah ke rumah.”
Ia berhenti sejenak.
Air matanya hampir jatuh.
“Tapi aku bangga… karena dari tangannya, aku bisa berdiri di sini.”
Ia tersenyum kecil.
Dan mengunggah video itu.
Di rumah, ia memeluk ibunya.
“Ibu… ada yang jahat di komentar…”
Ibunya meletakkan ponsel di meja.
Raissa melihat layar itu.
Akun anonim.
Baru saja keluar.
“Ibu…?”
“Iya,” kata ibunya tenang. “Ibu yang menulisnya.”
Dunia Raissa terasa berhenti.
“Ibu ingin kamu tahu… seberapa sakitnya kalau kamu sendiri belum berdamai dengan hidupmu.”
Air mata Raissa jatuh.
“Kalau kamu kuat menerima siapa kita… tidak ada kata orang yang bisa merobohkanmu.”
Raissa keluar rumah.
Lampu tempurung masih menyala.
Dari ujung jalan, Vira datang.
“Aku sudah lihat videomu,” katanya pelan. “Kamu berani.”
Raissa menunduk. “Aku hampir tidak jadi.”
Mereka terdiam.
Melihat cahaya kecil di sepanjang jalan.
Di dalam rumah, tikar sudah digelar.
Mereka makan bersama.
Sederhana.
Hangat.
Raissa memandang ibunya.
Lalu tersenyum.
Malam itu…
ia tidak lagi sibuk mencari cahaya di mata orang lain.
Karena untuk pertama kalinya…
ia menemukan cahaya itu di rumahnya sendiri.
Kalau versi ini Bapak perhatikan, perbaikannya ada pada:
emosi Raissa lebih dalam (malu → hancur → bangkit)
twist ibu lebih kuat dan masuk akal
Vira lebih manusiawi
nasihat tidak terasa menggurui
ending lebih “diam tapi menghantam”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar