Darah yang Mengalir
(Versi Revisi)
Karya: Resca Putri Bela
Apakah kalian pernah terpikir, bahwa sebuah potret bisa mengubah hidup seseorang?
“HAH? A-apa? Perangnya sudah selesai?” teriak seorang gadis.
“Duh… kenapa Bu Sari harus ngadain ulangan hari ini, sih?” gerutu Gendis sambil menatap lembar soal kosong.
Ayu menoleh santai. “Ya itu hak Bu Sari, Gendis. Kita yang harus siap.”
TAP… TAP…
Langkah kaki Bu Sari terdengar semakin dekat. Suasana kelas yang tadinya riuh mendadak sunyi.
“Gendis,” ujar Bu Sari tegas, “Ibu harap kali ini kamu tidak mengecewakan lagi.”
Ulangan dimulai. Pena-pena menari di atas kertas. Semua sibuk… kecuali Gendis. Ia hanya menatap kosong, seolah soal-soal itu bukan bagian dari dunianya.
Seperti yang sudah-sudah, sepulang sekolah ia kembali dipanggil.
“Gendis, kamu ini sebenarnya cerdas,” kata Bu Sari, kali ini dengan nada lebih lembut. “Tapi kenapa pelajaran tentang Indonesia justru kamu abaikan?”
Gendis menunduk. “Maaf, Bu…”
Namun di dalam hatinya, ada sesuatu yang tak pernah ia ucapkan:
Aku tidak suka… aku tidak bangga dengan itu semua.
Sore itu, sebuah kotak misterius tergeletak di depan rumahnya.
Dengan rasa penasaran, Gendis membukanya.
Sebuah potret.
Seorang gadis dengan pakaian adat Bengkulu, bersanggul anggun, berdiri dengan wibawa seperti putri kerajaan. Wajahnya… sangat mirip dengannya.
Di balik potret itu tertulis satu nama:
Putri Gading Cempaka.
“Ah, paling juga ulah iseng teman,” gumamnya, mencoba tak peduli.
Namun entah kenapa, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan.
Malam itu, ia merebahkan diri. Pandangannya kabur… dan dunia pun perlahan menghilang.
Ketika membuka mata, langit-langit kamarnya telah berubah.
“Ini… bukan kamarku.”
Dinding-dinding megah, ukiran kayu, dan kain-kain mewah mengelilinginya.
Dengan jantung berdebar, ia berlari ke cermin.
Dan terdiam.
“Itu… aku?”
Bukan seragam sekolah. Bukan dirinya yang biasa.
Melainkan… seorang putri.
“Ampun, Putri… apo yang tejadi?”
Seorang dayang bersujud di hadapannya.
Gendis tertegun.
Aneh… ia mengerti bahasa itu.
Bahkan, tanpa sadar ia menjawab,
“Bangunlah. Mano keghtas yang aku pinto tadi?”
Ia langsung menutup mulutnya sendiri.
Kenapa aku bisa bicara seperti ini…?
Hari-hari berlalu.
Sedikit demi sedikit, Gendis memahami kenyataan yang tak masuk akal:
Ia hidup… sebagai Putri Gading Cempaka.
Ia belajar tentang rejung, tentang bahasa Serawai, tentang adat, tentang kehormatan.
Awalnya ia bingung. Menolak. Tak percaya.
Namun semakin lama… ia merasakan sesuatu yang berbeda.
Hangat.
Dekat.
Seolah semua ini… bukan hal asing.
Hingga suatu hari, perang pecah.
Dentang pedang, teriakan prajurit, dan kilatan cahaya di bawah bulan membuat tubuhnya gemetar.
Ia bukan lagi gadis yang acuh. Ia takut kehilangan.
“Putri, kita harus pergi!” seru kakaknya.
Namun di tengah pelarian, suara benturan senjata semakin dekat.
TRANG!
Dunia berputar.
Gelap.
GEDEBUK!
“Aduh!”
Gendis terbangun. Ia kembali di kamarnya.
Napasnya memburu. Jantungnya berdegup kencang.
“Itu… mimpi?”
Namun di sampingnya, potret itu masih ada.
Dan kini… ada tulisan baru di belakangnya:
“Jangan bantah darahmu. Kembangkanlah dirimu.”
Gendis terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak marah.
Tidak menolak.
Ia mengingat masa kecilnya. Ejekan. Penolakan. Luka yang membuatnya membenci siapa dirinya sebenarnya.
Namun kini… ia justru merasa bangga.
“Jadi… ini aku,” bisiknya pelan.
Hari-hari berikutnya berubah.
Gendis mulai belajar. Mulai menerima. Mulai mencintai.
Bukan karena dipaksa. Tapi karena ia memahami.
“Bu… saya mau ikut lomba rejung,” katanya suatu hari.
Bu Sari tersenyum haru.
Dan sejak itu, nama Gendis perlahan dikenal.
Bukan karena masa lalunya.
Tapi karena suaranya.
Karena budayanya.
Karena dirinya sendiri.
Suatu pagi…
“Kita kedatangan murid baru,” kata Bu Sari.
Seorang siswa maju.
“Namaku… Raja. Maharaja Sakti.”
Jantung Gendis berdegup.
Nama itu… tidak asing.
Ia menatapnya.
Raja tersenyum kecil.
“Aku sudah tahu siapa kamu.”
Gendis terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia sadar…
Bahwa mungkin… kisah itu belum benar-benar berakhir.
Tamat (Versi Revisi Lebih Kuat & Emosional)
tingkat nasional (lebih rapi lagi dan kuat pesan moralnya)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar