Laqadja akum rasulum


web stats

Rabu, 04 Maret 2026

Sahabat yang Tidak Pergi Cerpen: oleh Ismilianto

Sahabat yang Tidak Pergi
Cerpen: oleh Ismilianto

Namanya biasa saja. Tidak terkenal. Tidak punya jabatan. Di kampungnya ia hanya dikenal sebagai orang yang kalau malam selesai Isya, duduk sebentar membuka mushaf kecilnya.

Ia punya satu kebiasaan yang tidak pernah ia tinggalkan.
Membaca Surah Al-Mulk sebelum tidur.

Ia pernah mendengar sabda Rasulullah SAW:
"Ada satu surah dalam Al-Qur’an yang terdiri dari tiga puluh ayat, yang memberi syafaat kepada pembacanya sampai diampuni dosa-dosanya, yaitu Tabarakalladzi biyadihil mulk." (HR. Tirmidzi no. 2891)

Sejak itu ia menjaga Al-Mulk seperti sahabat.
Bertahun-tahun ia membacanya. Kadang dengan suara pelan. Kadang dengan mata yang mengantuk. Kadang dengan hati yang letih karena urusan dunia. Tapi ia tidak pernah meninggalkannya.

Sampai suatu malam… ia tidak bangun lagi.
Ia dimandikan. Dikafani. Dishalatkan. Diantar ke kubur. Tangis keluarga mengiringi. Tanah diratakan. Orang-orang pulang.
Sunyi.
Ia mendengar langkah kaki terakhir menjauh.

Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya seorang hamba ketika diletakkan di kuburnya dan para pengantarnya telah pergi, ia mendengar suara sandal mereka." (HR. Bukhari no. 1338, Muslim no. 2870)

Lalu datang dua malaikat.
Wajah mereka tegas. Suara mereka mengguncang.
Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa Nabimu?
Dengan gemetar ia menjawab.

Allah meneguhkan lisannya, sebagaimana firman-Nya:
"Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat." (QS. Ibrahim: 27)


Jawabannya lancar.
Tiba-tiba… sebelum kegelapan menjadi menakutkan, datang sesuatu yang bercahaya.
Seperti sosok lelaki tampan, harum, wajahnya menenangkan.

Ia berkata, “Jangan takut. Jangan bersedih.”
“Siapa engkau?” tanya si mayit.

“Aku adalah Surah Al-Mulk yang dulu kau baca setiap malam.”

Kuburnya yang sempit mulai meluas. Angin sejuk berhembus. Sebuah pintu kecil terbuka memperlihatkan cahaya surga.
Surah itu berdiri di antara dirinya dan azab.

Karena Rasulullah SAW bersabda:
"Surah Tabarak (Al-Mulk) adalah penghalang dari azab kubur." (HR. Al-Hakim no. 3839, dinilai sahih oleh sebagian ulama)

Hari berganti hari di alam barzakh, tapi ia tidak merasakan kesempitan. Waktu terasa seperti tidur yang nyaman.

Lalu sangkakala ditiup.
Hari yang dijanjikan itu tiba.
Manusia bangkit dari kubur dalam keadaan bingung. Mata terbelalak. Keringat mengalir. Matahari didekatkan.

Allah menggambarkan kedahsyatannya:
"Pada hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan seluruh alam." (QS. Al-Muthaffifin: 6)

Di Padang Mahsyar, manusia mencari pelindung.
Ia gemetar. Amal terasa sedikit. Dosa terasa banyak.
Tiba-tiba cahaya itu datang lagi.

Surah Al-Mulk berdiri bersamanya.
Ia menjadi pembela. Menjadi saksi bahwa hamba ini mencintai kalam Allah. Bahwa setiap malam, di saat banyak orang lalai, ia membuka dan membacanya.

Timbangan amal ditegakkan.
Kebaikannya diperberat.
Allah Maha Pengampun. Surah itu memberi syafaat hingga diampuni.

Ketika namanya dipanggil menuju surga, ia menoleh sejenak ke Padang Mahsyar yang penuh kepanikan.

Ia teringat malam-malam sederhana di dunia. Hanya tiga puluh ayat. Tidak panjang. Tidak berat.
Tapi istiqamah.
Ia pun melangkah.
Dan di gerbang itu, ia sadar…
Yang menemaninya bukan hartanya. Bukan rumahnya. Bukan jabatannya.
Tapi kebiasaan kecil yang ia jaga dengan cinta.
Surah Al-Mulk.


Tidak ada komentar: