Laqadja akum rasulum


web stats

Kamis, 16 April 2026

Jumat:“Bayarlah Zakat Hasil Pertanian, Bersihkan Harta, Datangkan Berkah Khutbah Pertama

Judul Khutbah Jumat:“Bayarlah Zakat Hasil Pertanian, Bersihkan Harta, Datangkan Berkah ji

Khutbah Pertama

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruh. Wa na’udzu billahi min syururi anfusina wa min sayyi’ati a’malina. 

Mayyahdihillahu fala mudhilla lah, wa mayyudhlil fala hadiya lah.
Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna u ‘abduhu wa rasuluh la nabiya ba'da. 

Allahumma shalli wa sallim ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
Amma ba’du…

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Judul: Bayarlah Zakat Hasil Pertanian, Bersihkan Harta, Datangkan Berkah

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa.

Allah Ta’ala berfirman:
“Wa aatu haqqahu yauma hasaadih…”
Artinya: “Dan tunaikanlah haknya (zakatnya) pada hari memetik hasilnya.”
(HR. QS. Al-An’am: 141)

Ayat ini menjadi dasar kuat bahwa hasil pertanian—baik padi, jagung, sawit, kopi, pepaya dan lainnya—memiliki kewajiban zakat yang harus ditunaikan saat panen.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Fimaa saqat as-sama’u wal ‘uyuun aw kaana ‘atsariyyan al-‘usyur, wa fimaa suqiya bin nadhh asysyatrul ‘usyur.”
Artinya: “Tanaman yang diairi oleh air hujan atau mata air, zakatnya sepersepuluh (10%). Dan yang diairi dengan biaya, zakatnya setengah dari sepersepuluh (5%).”
(HR. Bukhari)

Para ulama telah berijmak bahwa zakat hasil pertanian wajib jika mencapai nisab, yaitu sekitar 5 wasaq (±653 kg gabah atau ±522 kg beras).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Mari kita renungkan sebuah kisah nyata.

Ada seorang petani sederhana. Setiap panen padi, ia selalu menyisihkan sebagian untuk zakat, meskipun hasilnya tidak seberapa. Tetangganya heran, “Kenapa engkau keluarkan zakat, padahal hasilmu sedikit?”
Petani itu menjawab, “Saya takut hasil yang sedikit ini justru hilang berkahnya jika tidak saya keluarkan hak Allah.”
Subhanallah… 

Beberapa tahun kemudian, sawahnya tidak pernah gagal panen. Bahkan saat musim sulit, tanamannya tetap tumbuh subur. Sementara sebagian petani lain mengalami kerugian.

Inilah janji Allah:
“Wa maa anfaqtum min syai’in fahuwa yukhlifuh…”
Artinya: “Apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.”
(QS. Saba’: 39)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Zakat bukan mengurangi harta, tapi menyucikan dan menumbuhkannya.

Allah berfirman:
“Khudz min amwaa lihim shadaqatan tuthahhiruhum wa tuzakkihim bihaa…”
Artinya: “Ambillah zakat dari harta mereka, dengan itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.”
(QS. At-Taubah: 103)

Perlu kita pahami juga, jika hasil pertanian itu tidak langsung habis dan disimpan, misalnya dijual lalu uangnya disimpan di rekening, maka jika sudah mencapai nisab dan haul (satu tahun), wajib pula dikeluarkan zakat mal sebesar 2,5%.

Jangan sampai kita hanya semangat bekerja, tetapi lalai menunaikan kewajiban zakat.
Na’udzubillah…

Mari kita bertakwa dan tunaikan zakat kita.

Aqulu qauli hadza wa astaghfirullaha lii wa lakum, fastaghfiruuhu innahu huwal ghafuurur rahiim.

KHUTBAH KEDUA

Alhamdulillahi hamdan katsiran tayyiban mubarakan fiih kama yuhibbu rabbuna wa yardha.

Ashhadu an la ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita perhatikan peringatan keras dari Allah bagi orang yang tidak menunaikan zakat:
“Walladziina yaknizuuna adz-dzahaba wal fidhdhata wala yunfiqunaha fii sabiilillah fabassyirhum bi ‘adzaabin aliim.”
Artinya: “Orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahukan kepada mereka azab yang pedih.”
(QS. At-Taubah: 34)

Dan Rasulullah bersabda:
“Ma min shaahibi dzahabin wala fidhdhah la yu’addi minha haqqaha illa idzaa kaana yaumul qiyaamah shufihat lahu shafaa’ih min naar…”
Artinya: “Tidaklah seseorang memiliki emas dan perak lalu tidak menunaikan zakatnya, melainkan pada hari kiamat akan dipanaskan baginya lempengan dari neraka…”
(HR. Muslim)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Zakat adalah tanda syukur kita kepada Allah. Siapa yang bersyukur, Allah tambahkan nikmatnya.
“La’in syakartum la’aziidannakum…”
Artinya: “Jika kamu bersyukur, pasti Aku tambah nikmatmu.”
(QS. Ibrahim: 7)

Mari kita tutup khutbah ini dengan doa:

Allahumma aghnina bihalaalika ‘an haraamika, wa bifadhlika ‘amman siwaak.

Allahumma baarik lanaa fii arzaaqinaa, wa thahhir amwaalanaa biz-zakaah.

Allahumma ja’alnaa minal muttaqiin.

Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar.

Ibadallah…
Innallaha ya’muru bil ‘adli wal ihsaan wa iitaa’i dzil qurbaa, wa yanhaa ‘anil fahsyaa’i wal munkari wal baghy.

Ya’izhukum la’allakum tadzakkaruun.

Fadzkurullaha yadzkurkum, wasykuruuhu ‘alaa ni’amih yazidkum. Wala zikrullahi akbar. 

Aqimish shalaah.

Tidak ada komentar: