Api Dingin Karena Iman Tebal
Di sekeliling Nabi Ibrahim, patung-patung disembah. Tapi Ibrahim tidak ikut arus.
Ia bertanya pelan, tapi menghunjam:
“Mengapa kalian menyembah sesuatu yang tidak bisa mendengar, tidak bisa menolong?”
Kaumnya marah.
Ayahnya juga menentangnya.
Namun Ibrahim tetap teguh.
Suatu hari, ia menghancurkan semua berhala kecuali satu yang paling besar.
Ketika kaumnya kembali, mereka gempar.
“Siapa yang melakukan ini?!”
Dengan tenang Ibrahim menjawab:
“Tanyakan saja pada berhala besar itu kalau ia bisa berbicara.”
Mereka terdiam… karena sadar. Tapi kesadaran itu kalah oleh gengsi.
Akhirnya keputusan kejam pun diambil:
Ibrahim harus dibakar hidup-hidup. Api besar dinyalakan.
Begitu dahsyatnya hingga tak ada yang berani mendekat.
Ibrahim dilemparkan ke dalamnya.
Di saat genting itu…
Hanya satu kalimat di hatinya:
“Cukuplah Allah bagiku…”
Lalu Allah berfirman (QS. Al-Anbiya: 69): Qulnaa yaa naaru kuunii bardan wa salaaman ‘alaa Ibraahiim. Artinya: “Wahai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.”
Lantas, Api yang biasanya membakar, justru menjadi sejuk. Yang biasanya memusnahkan, justru menjadi penyelamat.
Pelajaran untuk kita:
Kadang hidup seperti api:
Masalah terasa membakar
Hutang terasa menyesakkan
Jalan terasa tertutup.
Tapi ingat…
Kalau iman kita seperti Ibrahim,
maka “api” itu tidak akan membakar—
justru akan menjadi jalan keselamatan.
Renungan:
Bukan karena apinya kecil, Ibrahim selamat.
Tapi karena imannya besar.
Hari ini, mungkin kita tidak dilempar ke api…
tapi kita sedang diuji dengan “api kehidupan”.
Pertanyaannya:
Masihkah kita setenang Ibrahim… saat hanya Allah yang kita harapkan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar