JANGAN REMEHKAN WANITA
Di sebuah kampung kecil, ada seorang ibu tua yang setiap pagi berjalan kaki membawa pisang goreng untuk dijual. Pakaiannya sederhana. Sandalnya hampir putus. Banyak orang memandang biasa saja, bahkan ada yang meremehkannya.
Namun setiap malam, diam-diam ia menangis sambil berdoa: “Ya Allah… jadikan anakku orang yang berhasil dan jangan hina hidupnya seperti ibunya.”
Ia rela tidak makan demi biaya sekolah anaknya.
Tahun demi tahun berlalu…
Suatu hari, di sebuah acara wisuda perwira, seorang lelaki berseragam gagah turun dari panggung lalu mencari ibunya di tengah keramaian. Ketika bertemu, ia memeluk kaki ibunya sambil menangis: “Kalau bukan karena ibu… saya bukan siapa-siapa.”
Orang-orang yang dulu memandang rendah perempuan tua itu ikut menangis.
Ternyata… wanita yang dianggap lemah itu sedang membangun masa depan besar dengan air mata dan sujudnya.
Ada lagi kisah seorang istri yang sabar mendampingi suaminya dari nol. Saat hidup susah, ia ikut menjahit, berdagang kecil-kecilan, bahkan menahan lapar agar anak-anaknya makan.
Ketika suaminya sukses, orang hanya melihat keberhasilan sang suami. Padahal di belakangnya ada wanita yang diam-diam menjadi tiang kekuatan rumah tangga.
Karena itu jangan pernah meremehkan wanita.
Sebab banyak laki-laki besar lahir dari rahim wanita salehah. Banyak pemimpin hebat dibesarkan oleh doa ibu yang tidak pernah putus.
Allah sendiri mengangkat derajat wanita dalam Al-Qur’an.
“Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan.” (QS. Ali ‘Imran: 195)
Dahulu, sebelum Islam datang, wanita dianggap hina. Bayi perempuan bahkan dikubur hidup-hidup.
Allah mengecam perbuatan itu:
“Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.” (QS. At-Takwir: 8–9)
Lalu Islam datang membawa kemuliaan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR. Tirmidzi)
Bahkan Nabi SAW begitu memuliakan putrinya, Fatimah RA. Ketika Fatimah datang, Rasulullah berdiri menyambutnya, mencium tangannya, lalu mendudukkannya di tempat beliau.
Lihat pula Siti Hajar… Seorang ibu yang berlari antara Shafa dan Marwah demi mencari air untuk anaknya, Ismail AS.
Tangisan dan perjuangannya diabadikan Allah menjadi ibadah haji sampai hari kiamat.
Lihat Khadijah RA… Saat semua orang meragukan Nabi Muhammad SAW, Khadijahlah wanita pertama yang menguatkan beliau.
Lihat Maryam… Wanita suci yang namanya diabadikan menjadi nama surah dalam Al-Qur’an.
Maka jangan pernah berkata: “Ah, cuma perempuan…”
Karena bisa jadi wanita yang sederhana itu lebih mulia di sisi Allah daripada orang yang merasa hebat.
Bisa jadi doa seorang ibu menembus langit ketika banyak manusia tertolak doanya.
Dan bisa jadi air mata seorang wanita salehah menjadi sebab keselamatan satu keluarga.
Maka muliakan wanita: ibumu… istrimu… anak perempuanmu… saudara perempuanmu…
Karena Rasulullah SAW bersabda:
“Surga berada di bawah telapak kaki ibu.” (HR. An-Nasa’i)
Semoga Allah menjadikan para wanita kita wanita-wanita salehah, penjaga iman, penguat keluarga, dan penghuni surga-Nya.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar