Padi yang Tak Pernah Habis
Cerpen: oleh Ismilianto
Pagi itu embun masih menggantung di ujung daun padi.
Pak Harun berdiri di pematang sawah sambil memandang hamparan gabah yang mulai menguning.
“Alhamdulillah… tahun ini panen kita lumayan,” gumamnya pelan.
Namun wajahnya tidak sepenuhnya tenang.
Sudah beberapa hari ia memikirkan satu hal: zakat pertanian.
Di warung kopi kampung, ia sering mendengar orang berkata,
“Sekarang susah cari uang. Panen belum tentu cukup. Tak usah terlalu dipikirkan zakat itu.”
Kata-kata itu sempat masuk ke hatinya.
Apalagi anak sulungnya akan masuk kuliah. Atap rumah juga bocor di sana-sini. Belum lagi pupuk yang makin mahal.
Malam harinya, selepas salat Isya di masjid, Pak Harun duduk lama mendengar ceramah ustaz kampung.
Ustaz itu membaca firman Allah:
“Makanlah dari buahnya apabila berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya.”
(QS. Al-An’am: 141)
Lalu ustaz berkata pelan,
“Kadang kita takut harta berkurang karena zakat. Padahal justru banyak sawah kehilangan berkah karena hak orang miskin tertahan di dalamnya.”
Kalimat itu seperti mengetuk dada Pak Harun.
Sepanjang jalan pulang ia terdiam.
Sesampainya di rumah, istrinya bertanya,
“Abang kenapa?”
Pak Harun menarik napas panjang.
“Besok… kita keluarkan zakat panen.”
Istrinya tersenyum lembut.
“Kalau itu perintah Allah, jangan takut miskin karena menaatinya.”
Hari panen tiba.
Beberapa karung gabah disusun di halaman rumah. Tetangga dan buruh panen hilir mudik membantu.
Pak Harun memisahkan sebagian hasil panennya.
“Apa tidak terlalu banyak, Pak?” tanya seorang kerabat.
Pak Harun hanya tersenyum.
“Itu bukan milik saya sepenuhnya.”
Sebagian gabah dibagikan kepada janda tua di ujung kampung. Sebagian lagi untuk keluarga miskin yang selama ini jarang makan nasi layak.
Seorang nenek sampai menangis ketika menerima beras itu.
“Sudah lama saya tak beli beras sebanyak ini…”
Pak Harun pulang dengan hati yang aneh.
Karung padinya memang berkurang.
Tetapi dadanya terasa penuh.
Malam itu rumahnya terasa lebih tenang.
Beberapa bulan kemudian, musim sulit datang.
Banyak sawah diserang hama.
Anehya, sawah Pak Harun termasuk yang paling sedikit rusaknya.
Tetangganya heran.
“Padahal bibit dan pupuk kita hampir sama.”
Pak Harun hanya menjawab pendek,
“Mungkin ada doa orang-orang yang pernah kita bantu.”
Tahun demi tahun berlalu.
Anak sulungnya akhirnya kuliah dengan jalan yang tak disangka-sangka. Ada orang baik yang membantu biaya pendidikannya.
Panen Pak Harun juga tidak selalu melimpah. Kadang biasa saja.
Tetapi anehnya, keluarganya tak pernah benar-benar kekurangan.
Makanan selalu ada.
Anak-anak jarang sakit.
Rumah terasa damai.
Suatu sore, anak bungsunya bertanya,
“Pak… kenapa setiap panen Bapak selalu keluarkan zakat dulu sebelum membeli apa-apa?”
Pak Harun memandang sawah yang diterpa cahaya senja.
Lalu ia berkata pelan,
“Nak… kita ini cuma menanam. Yang menumbuhkan Allah.”
Ia melanjutkan dengan mata berkaca-kaca,
“Kalau hujan ditahan Allah, kita tak bisa apa-apa. Kalau tanah tak subur, kita tak mampu apa-apa. Jadi saat panen datang, jangan cuma lihat hasil kerja kita. Lihat juga rahmat Allah di dalamnya.”
Anaknya terdiam.
Pak Harun tersenyum.
“Dan satu lagi… zakat itu bukan membuat kita miskin. Justru ia menjaga agar rezeki kita tidak kehilangan berkah.”
Senja makin turun.
Di kejauhan, azan Magrib mulai berkumandang.
Hamparan padi bergoyang perlahan tertiup angin… seakan ikut mengaminkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar