Laqadja akum rasulum


web stats

Rabu, 27 Mei 2026

Setelah gema takbir Idul Adha mulai perlahan reda,

Setelah gema takbir Idul Adha mulai perlahan reda,

Sesungguhnya ada pertanyaan besar yang tersisa di dalam hati:
“Apakah yang sudah kita sembelih hanya hewan qurban… atau juga kesombongan, dosa, dan kerasnya hati kita?”
Banyak orang mampu membeli sapi atau kambing, tetapi belum mampu menyembelih: • amarahnya, • lisannya yang menyakitkan, • sifat pelitnya, • dendamnya, • dan kesibukan dunianya yang melupakan Allah.
Padahal hakikat qurban bukan sekadar darah dan daging. 

Allah berfirman:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)

Maka yang paling pantas setelah hari raya qurban adalah:
• hati yang lebih lembut, • shalat yang lebih khusyuk, • sedekah yang lebih ringan, • lisan yang lebih santun, • dan hidup yang lebih dekat kepada Allah.
Jangan sampai setelah Idul Adha: takbir berhenti, dzikir berhenti, sedekah berhenti, lalu hati kembali keras seperti sebelum qurban.
Para ulama dahulu menangis setelah amal besar selesai. Mereka takut ibadahnya tidak diterima.

Allah berfirman:
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut karena mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60)

Maka setelah hari raya qurban, yang paling pantas adalah: bersyukur karena masih diberi umur, memohon agar amal diterima, dan menjaga semangat ibadah agar tidak hanya hidup di hari raya.
Karena tidak sedikit orang yang tahun lalu masih bertakbir… namun tahun ini sudah berada di alam kubur.
Semoga qurban kita menjadi jalan penghapus dosa, pelembut hati, pembuka rezeki, dan pemberat timbangan amal di akhirat kelak. Aamiin.

Tidak ada komentar: