KHUTBAH JUMAT
“Ketika Nama Kita Dipanggil Dari Alam Kubur”
KHUTBAH PERTAMA
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Nahmaduhu wa nasta‘inuhu wa nastaghfiruh, wa na‘udzu billahi min syururi anfusina wa min sayyi’ati a‘malina. Man yahdihillahu fala mudhilla lah, wa man yudhlil fala hadiya lah.
Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh.
Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma‘in.
Amma ba‘du.
Fa qala fi kitabihil karim:
“Yaa ayyuhalladzina aamanu, ittaqullaha haqqa tuqaatihi wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun.”
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
(QS. Ali ‘Imran: 102)
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.
Takwa bukan hanya ucapan.
Takwa adalah ketika kita takut kepada Allah saat tidak ada seorang pun yang melihat.
Takwa adalah ketika kita tetap jujur meskipun kesempatan untuk berbohong terbuka lebar.
Takwa adalah ketika kita tetap salat meskipun dunia sedang sibuk memanggil.
Dan takwa adalah ketika kita sadar...
bahwa kehidupan ini akan berakhir.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Hari ini saya tidak mengajak kita melihat kesalahan orang lain.
Saya mengajak diri saya sendiri dan kita semua untuk bercermin kepada diri kita masing-masing.
Sebab ada satu perjalanan yang pasti kita tempuh.
Tidak ada manusia yang bisa menghindarinya.
Kaya atau miskin.
Pejabat atau rakyat.
Terkenal atau tidak dikenal.
Sehat atau sakit.
Muda atau tua.
Semuanya akan mati.
Allah berfirman:
“Kullu nafsin dzaa-iqatul maut, wa innamaa tuwaffauna ujuurakum yaumal qiyaamah, faman zuhziha ‘anin naari wa udkhilal jannata faqad faaz, wa mal hayaatud dunyaa illaa mataa‘ul ghuruur.”
Artinya:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)
Allahu Akbar!
Jamaah rahimakumullah,
Bayangkan suatu hari nanti...
Kita sedang duduk bersama keluarga.
Tiba-tiba tubuh kita terasa lemah.
Napas mulai berat.
Anak-anak berkumpul.
Istri menangis.
Keluarga memanggil nama kita.
Tetapi kita sudah tidak mampu menjawab.
Kemudian seseorang berkata:
“Bimbing syahadatnya...”
Lalu terdengar:
“La ilaha illallah...”
Dan setelah itu...
napas terakhir keluar.
Mata kita terpejam.
Tangan kita tidak lagi bergerak.
Mulut kita tidak lagi berbicara.
Kita yang selama puluhan tahun mengejar dunia...
akhirnya meninggalkan dunia.
Rumah yang kita bangun tetap berdiri.
Kendaraan yang kita banggakan tetap berada di halaman.
Uang yang kita kumpulkan berpindah tangan.
Pakaian yang kita cintai dilepas.
Telepon yang setiap hari kita genggam...
tidak ikut masuk ke dalam kubur.
Yang ikut bersama kita hanyalah amal.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Idzaa maatal insaanu inqatha‘a ‘anhu ‘amaluhu illaa min tsalaatsatin: shadaqatin jaariyatin, au ‘ilmin yuntafa‘u bihi, au waladin shaalihin yad‘u lahu.”
Artinya:
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ada satu pertanyaan yang harus kita jawab sebelum terlambat:
Kalau malam ini Allah memanggil kita, sudah siapkah kita?
Sudahkah kita meminta maaf kepada orang tua?
Sudahkah kita berdamai dengan saudara?
Sudahkah kita meminta maaf kepada pasangan?
Sudahkah kita mengembalikan hak orang lain?
Sudahkah kita meninggalkan maksiat?
Sudahkah kita benar-benar menjaga salat?
Jangan sampai kita begitu sibuk mengurus dunia...
tetapi lupa mempersiapkan akhirat.
Allah berfirman:
“Yaa ayyuhalladzina aamanu, ittaqullaha waltanzhur nafsun maa qaddamat lighadin, wattaqullah, innallaaha khabiirun bimaa ta‘maluun.”
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Hasyr: 18)
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Jangan tunggu tua untuk bertobat.
Sebab banyak orang yang tidak pernah sampai kepada usia tua.
Jangan tunggu sakit untuk salat.
Sebab banyak orang meninggal sebelum sempat sembuh.
Jangan tunggu kaya untuk bersedekah.
Sebab banyak orang meninggal ketika hartanya belum sempat dinikmati.
Dan jangan berkata:
“Nanti kalau sudah tua saya akan berubah.”
Sebab kita tidak pernah tahu...
apakah kita masih diberi kesempatan untuk menjadi tua.
Allah mengingatkan:
“Hattaa idzaa jaa-a ahadahumul mautu qaala rabbirji‘uun. La‘allii a‘malu shaalihan fiimaa taraktu, kallaa, innahaa kalimatun huwa qaa-iluhaa, wa min waraa-ihim barzakhun ilaa yaumi yub‘atsuun.”
Artinya:
“Hingga apabila kematian datang kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia, agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sungguh, itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.”
(QS. Al-Mu’minun: 99–100)
Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Jamaah yang dirahmati Allah,
Saat ini kita masih hidup.
Kita masih bisa bersujud.
Kita masih bisa menangis.
Kita masih bisa beristighfar.
Kita masih bisa meminta maaf.
Kita masih bisa bersedekah.
Kita masih bisa memperbaiki salat.
Berarti Allah masih memberi kita kesempatan.
Maka jangan sia-siakan kesempatan itu.
Selagi kaki masih mampu melangkah ke masjid...
melangkahlah.
Selagi tubuh masih mampu bersujud...
bersujudlah.
Selagi lidah masih mampu berzikir...
berzikirlah.
Selagi pintu taubat masih terbuka...
bertobatlah!
Karena akan datang suatu hari ketika kita ingin kembali ke dunia...
tetapi pintunya sudah tertutup.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Jangan sampai Jumat demi Jumat berlalu...
umur bertambah...
rambut memutih...
tetapi dosa tidak berkurang.
Jangan sampai kita sibuk memperbaiki rumah, tetapi lupa memperbaiki hati.
Jangan sampai kita sibuk menghias wajah, tetapi lupa menghias amal.
Jangan sampai kita takut kehilangan harta...
tetapi tidak takut kehilangan iman.
Sebab pada akhirnya akan tiba satu hari...
ketika nama kita disebut bukan untuk dipanggil makan, bukan untuk diajak bekerja, bukan untuk menerima jabatan...
Tetapi nama kita disebut untuk terakhir kalinya:
“Innalillahi wa inna ilaihi raji‘un...”
Kemudian kita diangkat.
Dimandikan.
Dikafani.
Disalatkan.
Diantar.
Dikuburkan.
Dan setelah semuanya pergi...
kita tinggal sendirian.
Tidak ada lagi yang bisa menolong kita kecuali rahmat Allah dan amal yang kita bawa.
Maka mulai hari ini...
jangan tunggu kematian untuk mengenal Allah.
Kenalilah Allah sebelum kita menghadap Allah.
A‘udzu billahi minasy-syaithanir-rajim.
Aqoolu qauli hadza, wa astaghfirullaha lii wa lakum, fastaghfiruhu innahu huwal ghafuurur rahiim.
KHUTBAH KEDUA
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.
Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh.
Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma‘in.
Amma ba‘du.
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Sekali lagi marilah kita bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.
Ya Allah...
Ampunilah dosa-dosa kami.
Ampunilah dosa kedua orang tua kami.
Ampunilah dosa pasangan kami, anak-anak kami, keluarga kami, guru-guru kami, dan seluruh kaum Muslimin dan Muslimat.
Ya Allah, dosa kami terlalu banyak, sementara amal kami terlalu sedikit.
Ya Allah, kami datang kepada-Mu dengan membawa dosa dan kelemahan.
Maka jangan Engkau tolak kami.
Ya Allah...
Jika hari ini masih Engkau beri kami kehidupan, jadikan sisa umur kami lebih baik daripada masa lalu kami.
Jika masih ada dosa yang kami lakukan, bukakan hati kami untuk meninggalkannya.
Jika masih ada hak manusia yang kami ambil, berikan kami kekuatan untuk mengembalikannya.
Jika masih ada orang yang kami sakiti, berikan kami keberanian untuk meminta maaf.
Ya Allah...
Jangan Engkau cabut nyawa kami kecuali dalam keadaan Engkau ridha kepada kami.
Jadikan akhir ucapan kami:
La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah.
Ya Allah, karuniakan kepada kami husnul khatimah.
Jadikan kubur kami taman dari taman-taman surga.
Terangkan kubur kami dengan cahaya-Mu.
Lapangkan kubur kami.
Ampuni dosa-dosa kami.
Selamatkan kami dari azab kubur dan azab neraka.
Ya Allah...
Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna...
selamatkan kami dengan rahmat-Mu.
Ya Allah, masukkan kami ke dalam surga-Mu tanpa azab dan tanpa kehinaan.
Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah, wa fil-aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban-naar.
Artinya:
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad.
Subhaana rabbika rabbil ‘izzati ‘ammaa yashifuun. Wa salaamun ‘alal mursaliin. Walhamdulillahi rabbil ‘aalamiin.
Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar