Laqadja akum rasulum


web stats

Rabu, 23 September 2026

KHUTBAH PERTAMA ( 25 Sep 2026)

KHUTBAH PERTAMA

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Judul: BERSIHKAN REZEKI, JAGA LISAN, BERSIHKAN HATI


Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Nahmaduhu wa nasta’iinuhu wa nastaghfiruh. Wa na’udzu billahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyi-aati a’maalinaa.
Asyhadu alla ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah. Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.
Allahumma shalli wa sallim wa baarik ‘alaa sayyidinaa Muhammadin, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’in.
Ammaa ba’du.
Fayaa ‘ibaadallaah, ittaqullah.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Laksanakan perintah-Nya dan tinggalkan larangan-Nya.
Pada kesempatan ini, marilah kita renungkan dua perkara yang sangat dekat dengan kehidupan kita:
Apa yang masuk melalui mulut kita, dan apa yang keluar dari mulut kita.
Yang pertama adalah makanan dan rezeki.
Yang kedua adalah perkataan dan lisan.

Allah SWT berfirman:
“Yaa ayyuhan naasu kuluu mimmaa fil-ardhi halaalan thayyiban.”
“Wahai manusia! Makanlah dari apa yang terdapat di bumi yang halal lagi baik.”
(QS Al-Baqarah: 168)

Jamaah jumat yang dimuliakan Allah,

Halal bukan hanya soal apa yang kita makan.
Tetapi juga dari mana kita mendapatkannya.
Ayamnya halal, tetapi kalau dibeli dengan uang hasil mencuri, menipu, korupsi atau mengambil hak orang lain, maka sumber hartanya menjadi masalah.

Allah berfirman:
“Wa laa ta’kuluu amwaalakum bainakum bil-baathili.”
“Janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil.”
(QS Al-Baqarah: 188)

Rasulullah SAW bersabda tentang seseorang yang berdoa kepada Allah, tetapi makanan, minuman, pakaian dan kebutuhannya berasal dari yang haram:
“Fa annaa yustajaabu lidzaalik?”
“Bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?”
(HR Muslim)

Maka jangan hanya bertanya:
“Berapa banyak rezeki saya?”
Tetapi tanyakan:
“Halalkah rezeki saya?”
Karena yang kita cari bukan hanya banyaknya rezeki.
Kita mencari keberkahannya.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Yang kedua adalah lisan.
Allah berfirman:
“Maa yalfizhu min qawlin illaa ladaihi raqiibun ‘atiid.”
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada malaikat yang selalu mencatat.” (QS Qaf: 18)

Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR Bukhari dan Muslim)

Maka jangan ringan mengucapkan:
“Cuma bercanda.”
“Cuma cerita.”
“Memang benar kok.”
Kalau perkataan itu merendahkan, menyakiti, membuka aib atau menghancurkan kehormatan seseorang, maka kita harus berhati-hati.
Terlebih lagi ghibah dan fitnah.

Allah berfirman:
“Walaa yaghtab ba’dhukum ba’dhaa.”
“Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.”

Kemudian Allah berfirman:
“A-yuhibbu ahadukum an ya’kula lahma akhiihi maytan fakarihtumuuh.”
“Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik.”
(QS Al-Hujurat: 12)

Allahu Akbar.
Ghibah digambarkan seperti memakan daging saudara sendiri yang sudah mati.
Jamaah rahimakumullah,
Mengapa kita harus sangat menjaga lisan?
Karena dosa dapat meninggalkan titik hitam di hati.

Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila seorang hamba melakukan dosa, ditorehkan pada hatinya satu titik hitam. Jika ia bertaubat, hatinya dibersihkan. Tetapi jika ia mengulangi dosa, titik itu bertambah.” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Allah berfirman:
“Kallaa bal raana ‘alaa quluubihim maa kaanuu yaksibuun.”
“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan telah menutupi hati mereka.”
(QS Al-Muthaffifin: 14)

Awalnya satu titik.
Kemudian bertambah.
Dosa diulang.
Ghibah diulang.
Dusta diulang.
Fitnah diulang.
Makanan haram terus dimakan.
Akhirnya hati menjadi keras.
Yang dahulu membuat kita takut, menjadi biasa.
Yang dahulu membuat kita malu, menjadi bahan tertawaan.
Yang dahulu membuat kita menangis karena dosa, akhirnya tidak lagi terasa.
Inilah yang harus kita takuti.
Bukan hanya banyaknya dosa.
Tetapi ketika hati sudah tidak merasa bahwa dosa itu dosa.
Karena itu, jangan tunggu hati menjadi keras.

Kalau pernah mengambil hak orang lain, kembalikan.
Kalau rezeki kita berasal dari jalan yang salah, perbaiki.
Kalau pernah menggunjing, hentikan.

Kalau pernah memfitnah, perbaiki kerusakan yang telah kita timbulkan.

Kalau pernah menyakiti seseorang dengan lisan, minta maaf jika itu menjadi jalan perbaikan.
Dan perbanyak istighfar.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Mari kita ingat empat kalimat ini:
Sebelum makan: pastikan halal.
Sebelum menerima uang: pastikan halal.
Sebelum berbicara: pastikan baik.
Sebelum membicarakan orang lain: tanyakan apakah Allah ridha.

Semoga Allah menjadikan rezeki kita halal dan berkah, lisan kita lembut dan terjaga, serta hati kita bersih dari noda dosa.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Aquulu qaulii haadza, wa astaghfirullaahal ‘azhiim lii wa lakum, fastaghfiruuh. Innahuu huwal ghafuurur rahiim.

KHUTBAH KEDUA

Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.
Wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’iin.
Fayaa ‘ibaadallaah, ittaqullah.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita bertakwa kepada Allah.
Jagalah rezeki kita dari yang haram.
Jagalah lisan kita dari dusta, ghibah, fitnah dan perkataan yang menyakitkan.
Sebab Rasulullah SAW bersabda:
“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”
(HR Bukhari dan Muslim)
Ya Allah, bersihkan hati kami dari noda dosa.
Ya Allah, halal dan berkahilah rezeki kami.
Ya Allah, jauhkan kami dari harta yang haram dan syubhat.
Ya Allah, jagalah lisan kami dari dusta, ghibah, fitnah, namimah dan perkataan yang menyakiti.
Ya Allah, jika kami pernah mengambil hak orang lain, berikan kami kekuatan untuk mengembalikannya.
Jika kami pernah menyakiti saudara kami, berikan kami keberanian untuk memperbaikinya.
Jika hati kami telah ternoda dosa, bersihkanlah.
Jika hati kami mulai keras, lembutkanlah.
Jika kami jauh dari-Mu, dekatkanlah kami kembali kepada-Mu.
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annaa.
Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah kami.
Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah, wa fil-aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban naar.
‘Ibādallaah, innallaaha ya’muru bil ‘adli wal ihsaani wa iitaa-idzil qurbaa, wa yanhaa ‘anil fahsyaa-i wal munkari wal baghy. Ya’izhukum la’allakum tadzakkaruun.
Fadzkurullaahal ‘azhiim yadzkurnaa, wasykuruuhu ‘alaa ni’amihii yazidkum, was’aluhu min fadlihi yu’thikum, wa ladzikrullaahi akbar, wallaahu ya’lamu maa tashna’uun.
Shallallahu ‘ala Muhammad.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tidak ada komentar: