Aku, Guru yang Katanya Beban
Kala aku berdiri di depan kelas seperti biasa. Kapur putih di tanganku, papan tulis di hadapanku.
Dan aku tersenyum dalam ruhnya anak-anak, sebab inilah bahagiaku begitu terasa.
Di ruang sederhana ini, dengan gaji yang kadang tak cukup untuk sebuah impian, aku tetap berdiri. Untuk mengukir masa depan anak-anak bangsa.
Siang itu aku mendengar berita…
Katanya, guru adalah beban negara.
Aku terdiam. Jemariku berhenti di atas buku pelajaran.
Dadaku sesak tapi aku ingat wajah-wajah polos itu.
Apakah mereka, yang sedang mengeja huruf dengan susah payah, akan disebut beban juga?
Aku ingin bertanya pada mereka yang bicara seperti itu:
Siapa yang pertama kali mengajarimu membaca namamu?
Siapa yang sabar mendengar suaramu terbata-bata,
hingga lidahmu fasih menyebut kata “anggaran”?
Siapa yang mengajarimu 1 + 1 = 2,
sebelum kau mengenal kata “APBN” dan “defisit”?
Kalau aku beban, maka aku adalah beban yang menyalakan cahaya.
Aku adalah beban yang mengubah gelap menjadi terang.
Aku tidak marah.
Aku hanya menunduk,
menatap papan tulis yang penuh coretan kecil tangan anak-anak itu.
Dan aku tersenyum—sebab di balik setiap coretan itu,
ada doa, ada cita-cita, ada harapan besar untuk negeri.
Saat hatiku gelisah, aku teringat janji Allah:
"Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (Al-Mujadilah: 11)
Dan aku juga ingat sabda Rasulullah saw:
"Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, bahkan semut di sarangnya dan ikan di lautan, semuanya bershalawat (mendoakan) orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia." (HR. Tirmidzi)
Aku menutup pelajaran dengan menulis satu kata di papan tulis:
“HARAPAN.”
Karena itulah aku di sini.
Sekalipun dunia mencibir,
aku akan tetap berdiri, tetap mengajar, tetap menyalakan cahaya.
Karena sesakit apa pun ucapan dunia, aku tidak akan berhenti menyalakan cahaya generasi
untuk negeri ini.
Karena aku tahu, pahala tidak datang dari kata manusia,
pahala datang dari Dia yang Maha Menghargai setiap tetes keringat guru.
Dan jika suatu hari negeri ini berdiri megah, ingatlah…
di setiap tiangnya ada tetes keringat kami.
Di setiap nafas kemajuan ada doa kami. Karena guru bukan beban.
Guru adalah pondasi peradaban.
Tetaplah semangat hai para guru, namamu telah menghiasi langit.
Sampai jumpa, ya sayyidi ya rasulullah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar