Laqadja akum rasulum


web stats

Selasa, 19 Agustus 2025

JIKA PAGI INI, HARI TERAKHIRKU

JIKA PAGI INI, HARI TERAKHIRKU

Shalallahu alaa muhammad, 

Aku terbangun pagi ini, tapi jujur… hatiku berat. Alarm sudah berbunyi sejak pukul 4.30,
tapi aku menekannya berulang kali.
“Aku lelah,” gumamku.
Shubuh pun hampir terlewat.

Akhirnya aku shalat dengan terburu-buru. Tanpa khusyuk.
Tanpa dzikir panjang.
Apalagi doa panjang yang dulu sering kudengar disebut Sayyidul Istighfar.

Aku bergumam dalam hati, “Nanti saja. Hari ini masih panjang.”
Ah, aku terlalu percaya masih ada NANTI.

Siang harinya, hidupku berjalan seperti biasa. Tawa, pekerjaan, obrolan, semuanya normal.
Sampai tiba-tiba ponselku bergetar.

Sebuah pesan singkat:
“Innalillahi… Andi meninggal dunia.”

Aku terpaku. ANDI? 

Temanku yang kemarin masih bercerita tentang liburan?
Yang tadi malam masih aktif  chatingan? 
SEKARANG… SUDAH TIADA?

Tiba-tiba tubuhku gemetar.
Aku menatap tanganku sendiri.
HARI INI AKU MASIH HIDUP…
tapi siapa yang bisa menjamin malam nanti aku masih ada?

Aku ingat sebuah hadis yang dulu pernah kubaca:


“Barangsiapa membaca Sayyidul Istighfar di pagi hari dengan yakin, lalu ia meninggal sebelum petang, maka ia masuk surga.
Barangsiapa membacanya di malam hari, lalu ia meninggal sebelum Subuh, maka ia masuk surga.”
(HR. Bukhari)


Aku menelan ludah.
Pagi tadi… aku tak membacanya.
Aku menundanya.

Seandainya aku yang dipanggil tadi, bukan Andi…

Apakah SURGA akan menyambutku?
Atau NERAKA yang bergegas menarikku?


Malam itu aku pulang dengan hati remuk. Aku ambil wudhu, duduk lama di sajadah,
dan kuucapkan doa itu, perlahan, dengan suara bergetar…


Allahumma anta rabbī lā ilāha illā anta, khalaqtanī wa anā ‘abduka, wa anā ‘alā ‘ahdika wa wa‘dika mastatha‘tu, a‘ūdzu bika min sharri mā ṣana‘tu, abū’u laka bini‘matika ‘alayya, wa abū’u laka bidzanbī, faghfir lī fa innahu lā yaghfiru dz-dzunūba illā anta.

Artinya:
“Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau. Engkau yang menciptakanku, dan aku hamba-Mu. Aku setia pada semampuku janji-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang kulakukan. Aku mengakui nikmat-Mu, aku nengakui dosa-dosaku, maka ampunilah aku, karena tiada yang mengampuni dosa selain Engkau.”


Air mataku terjatuh. Doa ini… bukan sekadar kata. TETAPI


Ini sebuah pengakuan.
Ini merupakan janji yang setia kepada Allah. Dan ini sebuh harapan untuk pulang dalam keadaan selamat lagi dimaafkan.


Aku menatap ke langit, sambil berbisik lirih:


“Ya Allah… jika Engkau beri aku esok hari, JANGAN BIARKAN AKU LALAI LAGI.”


Dan jika kamu tulisan membaca ini, PERCAYALAH… kematian itu TIDAK PERNAH MENGIRIM NOTIFIKASI.


Jangan tunggu sampai kehilang an doa ini YANG MENAMPARMU.

Bacalah doa ini, setiap pagi dan petang karena kita tak tahu…
apakah kita punya waktu yang menanti.

Jazallahu anna muhammad saw bima huwa ahluh 

(“Semoga Allah memberikan balasan kepada Nabi Muhammad saw dari kami dengan balasan yang layak bagi beliau.”

Tidak ada komentar: