Laqadja akum rasulum


web stats

Rabu, 20 Agustus 2025

Tersadar di Ujung Nafas

Tersadar di Ujung Nafas

Assalamualaika Ayyuhannabiyu warahmatullahi wabarokatuh, 

Aku benar-benar terbaring. Nafasku terpotong-potong.
Udara seperti pisau yang panas, menusuk dada.

Inikah akhir hidupku?


Tiba-tiba, ada bayangan hitam berdiri di ujung kakiku.
Tinggi, seram, matanya tajam.
Dia menatapku tanpa berkedip.

“Siapa… siapa kamu?”
suara hatiku lirih.
Dan ia menjawab tanpa suara,
tapi kalimatnya menghantam jiwaku:

“Aku yang selalu kau tahu tapi kau lupakan.
Aku yang tak pernah kau siapkan.
Aku adalah AJAL yang kau tunda dengan kata ‘nanti’.
Sekarang… nanti itu sudah tiba.”

Air mataku meleleh.
Aku mencoba bicara, tapi lidahku kelu. Aku menangis dalam hati:
“Berikan aku waktu, sebentar saja…
Aku akan shalat… aku janji… satu rakaat saja!”


Ia mendekat, suaranya seperti petir di kepalaku:

“Satu rakaat?
Bukankah tadi adzan memanggilmu lima kali sehari?
Bukankah engkau berkata, ‘Aku sibuk’? Sibuk dengan apa?
Apa sibuk menggenggam dunia yang kini kau tinggalkan?”

Aku terdiam. Tubuhku menggigil.
Aku ingin menjerit, tapi suaraku tertahan di tenggorokan.


Malaikat itu melanjutkan:
“Engkau tahu sabda Nabi-mu:
‘Batas antara seseorang dengan kekufuran adalah meninggalkan shalat.’ Namun engkau tetap memilih tidur daripada sujud.
Sekarang katakan padaku,
apa bekalmu menghadao Rabb-mu?”


Aku menangis, tersedu dalam hati. “Aku menyesal… aku lalai…”
Bisikan itu pecah menjadi isak,
tapi ia memotong tajam:
“Penyesalanmu tidak bisa MEMBELI WAKTU.
Bukankah Rabb-mu telah memberimu tahun demi tahun,
hari demi hari,
adzan demi adzan?
Kini… semua janjimu dengan sebutan ‘NANTI’ telah mati bersama nafasmu.”


Aku ingin berteriak:
“Ya Allah… kembalikan aku!
Satu sajadah, satu sujud, satu tangis untuk-Mu! Ya Allah... 


Tapi malaikat itu menggeleng,
“Tidak ada kembali. Yang ada hanya hisab dan azab, atau rahmat yang engkau abaikan.”

Lalu ia mendekat. Aku merasakan dinginnya menyapu dada.
Mataku perlahan tertutup…
dan aku pergi dengan penyesalan
yang tak akan pernah bisa kute­bus.

Wahai pembaca yang budiman, mari kita berdoa, ya Rabb hidupkanlah kami dalam Islam yang taat dan matikanlah kami dalam keadaan beriman, berilah kami husnul khatimah dan hindarkanlah kami dari su'ul khatimah, aamiin ya rabbal alamin, shalallahu alaa muhammad shalallahu'alaihi wassalam. 



Tidak ada komentar: