Kisah 1:
Doa Subuh untuk Yumna
Subuh itu sunyi. Hanya suara adzan yang baru saja reda, berganti dengan lantunan ayat-ayat Qur’an dari mushalla kecil di ujung kampung. Aku duduk di sajadah, dan di sampingku, Yumna kecil sudah duduk bersila. Matanya masih agak sayu, tapi senyumnya hangat.
“Ayo Cung, kita baca doa dulu,” kataku sambil mengelus rambutnya.
“Iya Tuk…” jawabnya pelan.
Aku mulai dengan Al-Fatihah. Perlahan tapi pasti, bibir mungil Yumna mengikuti. Tujuh kali kami ulang bersama. Lalu doa “Allahumma faqih fid-din wa ‘allim at-ta’wil” tujuh kali. Aku pandang wajah cucuku itu dengan hati yang bergetar—doa ini bukan hanya permintaan ilmu, tapi cahaya masa depan baginya.
“Tuk, kenapa harus tujuh kali?” tanyanya polos.
Aku tersenyum. “Karena setiap bacaan itu seperti mengetuk pintu. Semakin sering kita ketuk, semakin terdengar di dalam, semakin besar peluang pintu itu dibuka.”
Yumna mengangguk kecil, lalu melanjutkan bacaannya dengan lebih khusyuk.
Selesai wirid, aku terdiam sejenak. Ada rasa haru yang tak bisa kutahan. Dalam hati, aku berdoa: “Ya Allah, jadikan cucuku ini anak yang faqih dalam agama-Mu, lapangkan dadanya, mudahkan langkahnya, jadikan ia cahaya di tengah umat-Mu.”
Renunganku melayang ke masa lalu. Aku teringat kisah Imam Asy-Syafi’i kecil, yang sejak usia belia sudah hafal Al-Qur’an dan senang duduk di majelis ilmu. Ibunya, seorang janda miskin, tak pernah lelah mendoakannya setiap Subuh. Dari doa seorang ibu yang tulus, lahirlah seorang ulama besar yang menerangi dunia.
Aku sadar, aku mungkin bukan siapa-siapa. Tapi doa seorang kakek untuk cucunya, siapa tahu kelak menjadi cahaya yang menyinari jalan panjang kehidupannya.
“Yumna,” panggilku lembut.
“Iya Datuk?”
“Ingat ya, doa yang kita baca tadi jangan dianggap cuma bacaan. Itu pelita. Kalau kamu rajin, cahaya itu akan terus menemanimu, bahkan ketika Datuk sudah tiada.”
Yumna menatapku, lalu meraih tanganku dan menciumnya. “Aku janji, Tuk.”
Air mataku menetes. Subuh itu, aku yakin, doa-doa kami tak berhenti di langit-langit kamar, tapi terangkat tinggi, mengetuk pintu-pintu rahmat Allah.
#tunggu sesi berikutnya#
🌿 Ibrah Kisah
Setiap doa di waktu Subuh adalah investasi abadi. Apa yang dibacakan kakek kepada cucunya bukan sekadar ritual, melainkan warisan cahaya. Sebab doa yang tulus, apalagi dipanjatkan di waktu penuh berkah, akan menjadi penopang hidup bagi generasi penerus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar