Kisah 2:
Magrib Bersama, Cahaya yang Turun
Senja turun perlahan, jingga langit meredup di balik pepohonan. Dari kejauhan terdengar adzan Magrib, memecah kesunyian sore. Aku menggandeng tangan Yumna menuju ruang shalat kecil di rumah.
“Datuk, langitnya indah sekali…” ujarnya sambil menunjuk awan yang berwarna keemasan.
Aku tersenyum. “Itu tanda Allah sedang melukis sore kita dengan rahmat-Nya. Indah sekali kan, Cung? Mari kita shalat, agar keindahan ini sempurna dengan cahaya doa.”
Kami berdiri sejajar. Suara lembut Yumna mengikuti bacaan shalat, meski masih terbata. Seusai salam, aku mulai wirid, dan Yumna duduk manis meniru gerakanku.
Aku bacakan Al-Fatihah tujuh kali, lalu doa “Allahumma faqih fid-din wa ‘allim at-ta’wil” tujuh kali. Yumna menirukan dengan suara lirih. Lalu kulanjutkan “Rabbisrahli shadri wayassirli amri wahlul ‘uqdatan min lisani yafqahu qawli” tujuh kali.
Tiba-tiba ia bertanya polos, “Datuk, kenapa kita harus baca doa itu terus?”
Aku tersenyum, mengusap bahunya. “Karena hidup ini penuh simpul yang rumit. Doa itu meminta Allah melapangkan hati kita, memudahkan urusan kita, dan menjadikan kata-kata kita mudah dipahami orang. Dengan doa itu, insyaa Allah, Yumna akan selalu dimudahkan dalam belajar dan bergaul.”
Ia mengangguk serius. Matanya berbinar, seakan mengerti bahwa bacaan itu adalah bekal yang lebih berharga dari apa pun.
Selesai wirid, aku memandang keluar jendela. Langit sudah gelap, tapi di hatiku ada cahaya yang sulit diungkapkan. Aku teringat kisah seorang ulama masa lalu, Hasan al-Bashri. Diceritakan, setiap kali Magrib tiba, beliau menangis dan berkata, “Wahai jiwa, berkuranglah umurmu satu hari, dan engkau belum tentu menambah bekalmu untuk akhirat.”
Aku menoleh pada Yumna. Betapa beruntungnya aku, bisa menanamkan kesadaran sejak dini kepadanya: bahwa setiap Magrib bukan hanya pergantian waktu, tapi juga panggilan untuk menyiapkan bekal perjalanan panjang menuju Allah.
“Yumna,” kataku lembut.
“Iya Datuk?”
“Kalau nanti Datuk sudah tiada, jangan lupa, setiap Magrib bacalah doa-doa ini. Karena di saat matahari tenggelam, Allah menurunkan cahaya-Nya ke dalam hati orang-orang yang berzikir.”
Yumna memelukku erat. “Aku janji, Tuk…”
Air mataku jatuh, bercampur dengan rasa syukur. Malam itu, aku percaya, cahaya yang turun di waktu Magrib bukan hanya menerangi ruang rumah kami, tapi juga masa depan cucuku.
#tunggu sesi berikutnya#
Tidak ada komentar:
Posting Komentar