Laqadja akum rasulum


web stats

Minggu, 28 September 2025

cerpen Yumna – Sesi 3Doa Dzuhur untuk Yumna – Cahaya Siang itu

cerpen Yumna – Sesi 3


Cahaya Siang itu

Siang itu, sinar matahari menembus jendela kecil rumah kami, mengisi ruang dengan hangat yang menenangkan. Yumna duduk di tikar, tangannya bersila, menunggu arahanku.

“Datuk, waktunya dzuhur, ya?” tanyanya polos, matanya berbinar.

“Benar, Cung. Ayo kita wudhu dulu, lalu shalat,” jawabku sambil tersenyum, menepuk bahunya lembut.

Kami berwudhu bersama. Air yang menetes dari ujung rambut Yumna membuatku tersenyum. Ada ketulusan yang lahir dari kesederhanaan anak ini, sebuah cahaya kecil yang menenangkan hati.

Setelah shalat, kami duduk bersila di sajadah. Aku mengulang doa yang sama dari Subuh dan Magrib, Al-Fatihah tujuh kali, lalu doa ilmu: “Allahumma faqih fid-din wa ‘allim at-ta’wil” tujuh kali. Yumna menirukan dengan suara lirih, namun tekun.

“Datuk, kenapa kita selalu baca doa itu?” tanyanya, sedikit penasaran.

Aku menarik napas, menatapnya. “Cung, doa itu seperti lentera. Kadang jalan kita gelap dan membingungkan. Tapi dengan doa, Allah menyalakan cahaya yang membimbing langkahmu. Semakin sering kita menyalakan lentera itu, semakin terang jalan kita.”

Yumna mengangguk, wajahnya serius, seolah menyerap setiap kata yang kuucapkan.

Aku kemudian menambahkan doa baru, khusus untuk siang hari: “Rabbighfirli wa li walidayya wa li man dalaka ‘ala al-huda, wa anshurni bi barakatika”—Ya Allah, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan semua yang menolongku di jalan-Mu, dan lapangkanlah hidupku dengan keberkahan-Mu.

Yumna menirukan doa itu pelan, menutup matanya, dan seketika aku merasa hatinya bersinar dengan ketulusan yang murni.

“Datuk, doa ini buat apa?” tanyanya setelah selesai.

“Untuk minta Allah memudahkan setiap urusan kita, Cung. Termasuk urusan belajar, persahabatan, dan kelak ketika kamu menghadapi ujian hidup. Ingat, cahaya Allah selalu mengikuti hamba-Nya yang sabar dan rajin berdoa.”

Aku teringat kisah Imam Malik yang sejak kecil rajin menulis hadits dan selalu berdoa kepada Allah agar dimudahkan memahami ilmu. Dari doa yang sederhana dan konsisten itulah, ia menjadi sumber ilmu yang memberi manfaat kepada banyak orang.

Yumna menatapku, lalu meraih tanganku dan menciumnya lembut. “Datuk, aku janji akan selalu baca doa ini setiap dzuhur.”

Air mataku menetes, terselip rasa haru dan syukur. Betapa beruntungnya aku bisa menanamkan cahaya iman dan doa sejak dini pada cucuku.

“Insyaa Allah, Cung. Datuk yakin, cahaya ini akan selalu menemanimu, bahkan ketika Datuk sudah tiada.”

Yumna tersenyum. “Aku janji, Datuk. Aku akan selalu ingat.”

Siang itu, di tengah cahaya matahari yang hangat, kami duduk bersama, memeluk doa dan harapan. Aku yakin, setiap detik yang kami habiskan untuk berdoa adalah benih cahaya yang akan tumbuh besar, menerangi langkah hidup Yumna di masa depan.

# nantikan seri berikutnya#

Tidak ada komentar: