Cerpen Yumna – Sesi 4,
Hening yang Menyala
(untuk Yumna)
Malam itu sunyi dan hening. Ada pula suara jangkrik dan hembusan angin yang seakan menebalkan gelapnya malam.
Yumna sudah bersiap untuk tidur beristirahat. Aku duduk di sampingnya, menatap matanya yang berbinar lemah oleh kantuk.
“Datuk, aku terasa takut dengan gelap,” bisiknya pelan.
Aku tersenyum lembut. “Tidak apa-apa, Cung. Gelap itu hanya ruang yang belum diterangi cahaya.
Kita bisa menyalakan lentera hati kita dengan doa. Ayo kita berdoa sebelum tidur, agar tidurmu tenang dan mimpi indah akan menyertaimu.”
Kami mengambil posisi duduk bersila di samping ranjangnya. Aku memulai dengan Al-Fatihah tujuh kali, lalu doa ilmu “Allahumma faqih fid-din wa ‘allim at-ta’wil” tujuh kali. Suara Yumna lirih mengikuti, berirama dengan tatapan matanya yang serius dan penuh perhatian.
Setelah itu, aku menambahkan doa malam: “Bismika Allahumma amutu wa ahya”
(Ya Allah, dengan nama-Mu aku mati dan hidup kembali).
Doa ini sederhana, tapi mengingatkan kita bahwa setiap malam adalah amanah dan kesempatan untuk bersyukur kepada Alloh.
Yumna menatapku. “Datuk, kenapa kita harus doa sebelum tidur?”
Aku menarik napas lalu tersenyum senyum.
“Cung, malam itu adalah waktu di mana jiwa kita bersih dari hiruk-pikuk siang tadi.
Doa sebelum tidur adalah tameng, agar hati dan tubuh kita aman dari gangguan, dan agar mimpi-mimpi buruk tidak masuk dalam tidur kita.
Doa itu juga menyiapkan kita untuk bangun subuh, dan siap menyambut cahaya baru dari Allah.”
Ia menunduk, lalu menirukan doa yang kubacakan. Aku melihatnya tersenyum lembut, seakan hatinya sudah mulai tenang.
“Doa ini selalu dibaca Hasan al-Bashri sebelum tidur, agar ia selalu mengingat Allah setiap malam."
"Yumna, doa itu adalah amalan yang baik. Ingatlah..., yang penting itu bukan seberapa panjang doa kita, melainkan istiqamah dan ketulusan hati kita melakukannya.
Karena doa yang rutin akan menyalakan cahaya dalam jiwa, yang kelak akan selalu menuntunmu di setiap jalan hidup.”
Aku kemudian menutupkan tanganku ke ubun-ubun kepala Yumna, lalu membacakan doa penutup malam: “Allahumma inni as’aluka khayraha wa khayra ma fiha, wa a’udzu bika min sharriha wa sharri ma fiha”
(Ya Allah, aku mohon kebaikan malam ini dan segala yang ada di dalamnya, dan aku berlindung dari semua keburukannya).
Yumna menunduk, tangannya menempel di dadanya, menutup matanya perlahan. Aku melihat napasnya tenang, wajahnya damai.
“Datuk, sungguh aku merasa telah tenang sekarang,” bisiknya, menatapku dengan senyum kecil.
Aku mengangguk, hati penuh syukur. “Itulah cahaya malam, Cung.
Jangan lupakan doa ini, agar setiap malammu diterangi rahmat Allah dan setiap pagi menyambutmu dengan keberkahan yang melimpah.”
Malam itu, di tengah hening yang menyelimuti rumah, aku yakin benih doa yang ditanam akan tumbuh menjadi cahaya yang membimbing Yumna menuju redho Alloh di sepanjang hidupnya.
#nantikan sesi berikutnya#
Tidak ada komentar:
Posting Komentar