Laqadja akum rasulum


web stats

Selasa, 09 September 2025

LAWATAN SANG PUTRI, DALAM DOA TAK HENTI

LAWATAN SANG PUTRI, DALAM DOA TAK HENTI

Aku masih ingat jelas detik itu—jantungku berdentum seperti genderang perang ketika anak gadisku, Selvana Ariestia, memutuskan melakukan perjalanan jauh ke Jakarta. Ia membawa mobil sendiri, ditemani sahabat-sahabatnya.

Jakarta saat itu bukanlah kota yang tenang. Negeri terasa rapuh. Di jalan-jalan, massa berteriak, demonstrasi besar meledak bagai ombak yang tak terbendung. Kabar penjarahan menyebar, wajah-wajah yang tega merampas harta orang lain berkelebat di layar berita. Bahkan gedung DPR pun dilalap api.

Bagaimana aku bisa tenang? Hatiku dag-dig-dug, seolah ada awan hitam pekat bergantung di atas kepala.

Namun aku teringat firman Allah:
“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupinya.” (Ath-Thalaq: 3)

Aku pun pasrah, menyerahkan semuanya kepada Allah, Ya Hafizh, Yang Maha Memelihara.

Bersama istriku, seminggu penuh kami jadikan malam sebagai sajadah panjang. Bibir kami basah oleh asma-Nya yang indah: Ya Hafizh, Ya Muhaimin, Ya Salam. Nama-nama suci yang menjadi benteng, perisai yang tak terlihat namun kokoh.

Dalam setiap sujud panjang, dari hati yang paling dalam kupanjatkan doa:

Ya Allah, Ya Hafizh, Ya Muhaimin, Ya Salam… 

hanya kepada-Mu kutitipkan Selvana Ariestia, putri terkecilku. Engkau yang menjaga langit tanpa tiang, Engkau yang menahan bumi agar tak terguncang, maka jagalah setiap langkah kakinya di jalan yang panjang.

Lindungilah ia dengan cahaya-Mu yang tak pernah padam. Lapangkan jalan yang sempit, mudahkan urusan yang sulit, jauhkan ia dari fitnah zaman, dari zalimnya manusia, dan dari mara bahaya yang tampak maupun tersembunyi.

Ya Latif, Ya Rahman, Ya Rahim…

lembutkan hatinya dengan kasih-Mu, kuatkan imannya dengan cahaya-Mu, dan tuntunlah ia untuk selalu dekat dengan-Mu. Sebab Engkaulah sebaik-baik Penjaga, sebaik-baik Penolong.

Tak lupa kuucapkan doa Nabi:
Rabbana aatina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar. (Al-Baqarah: 201)

Aku pun teringat pesan Rasulullah saw:
“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (HR. Tirmidzi)

Kalimat itu menguatkanku. Penjagaan sejati bukanlah pagar besi, bukan pula tembok tinggi, melainkan doa yang tulus dari seorang ayah dan ibu.

Hari-hari itu berjalan lambat, malam terasa panjang, siang penuh resah. Setiap bunyi notifikasi di ponsel membuat jantungku berdegup lebih cepat. 

Aku menatap layar yang hening, seolah dari sana akan muncul kabar gembira atau kabar apalah. 

Kadang kubuka WhatsApp berulang-ulang, hanya untuk memastikan tak ada pesan yang terlewat. Setiap detik menjadi penantian yang menyesakkan.

Hingga akhirnya, tepat pukul tiga dini hari, telepon itu berdering. Suara Selvana Ariestia terdengar di hp, lega terasa:


“Ayah, kami sudah sampai Bengkulu dengan selamat.”


Air mataku luruh tanpa bisa kutahan. Alhamdulillah. Dadaku lapang bagai padang setelah hujan. Aku menatap langit dini hari yang masih bertabur bintang, lalu berbisik lirih:
“Segala puji bagi-Mu, Ya Rabb. Engkau telah menjaga anakku. Engkau Maha Menjawab, Ya Mujib.”

Kini aku semakin yakin, doa orang tua adalah benteng yang tak kasat mata, tapi teguh bagai gunung. Ia menjelma sayap malaikat, mengiringi setiap langkah anak, meski mata kita tak bisa selalu melihatnya.

Perjalanan Selvana Ariestia bukan sekadar lawatan ke kota, tapi pelajaran iman bagi diriku: bahwa hidup ini tak sepenuhnya bisa kuatur, hanya bisa kuserahkan kepada Dia yang menggenggam jiwa.

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 153)

Dan aku akan selalu ingat, meski dunia riuh dan gaduh, DOA DAN DZIKIR ADALAH KAPAL TERKUAT yang mengantarkan anak-anak kita pulang dengan selamat.

Jazallahu ‘anna muhammadan shallallahu ‘alaihi wasallam bima huwa ahluh.

Tidak ada komentar: