Laqadja akum rasulum


web stats

Rabu, 10 September 2025

Ciuman di Kening, Balas di Tangan

Ciuman di Kening dan di Tangan

Sungguh, betapa dahsyat maknanya mencium kening seorang istri. Itu bukan sekadar ciuman mesra, tapi doa yang melayang ke langit:
“Ya Allah, jagalah ia dalam lindungan-Mu, karena ia adalah amanah-Mu untukku.”

Dan, betapa indahnya saat tangan ini dicium lembut oleh istri yang tercinta. 

Dari bibirnya seakan keluar bisikan:
“Aku ridha dipimpinmu, selama engkau menuntunku di jalan Allah.”

Aku teringat firman Allah :
“Dia menciptakan pasangan-pasangan agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum: 21).

Benar adanya. Kasih sayang itu sering tak terucap lewat kata, melainkan lewat tanda-tanda kecil yang lahir dari hati tulus. Ciuman di kening, ciuman di tangan—itulah bahasa cinta paling murni, tanda saling ridha, saling doa, dan saling menjaga.

Rasulullah saw pernah menyandarkan kepala di pangkuan Aisyah, minum dari gelas yang sama dengan istrinya, bahkan tetap lembut ketika istrinya cemburu. 

Suami yang mengecup kening istrinya sejatinya sedang mengikuti jejak Nabi penuh rahmah.

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Ia yang keras di medan perang, ternyata lembut pada istrinya di rumah. 

Pernah ia berkata: “Bagaimana aku tidak lembut kepadanya, sementara ia yang menenangkan hatiku dan mendidik anak-anakku?” Dari Umar aku belajar, kekuatan lelaki sejati justru tampak dari kelembutannya pada istri.

Begitu pun Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha. Ketika anaknya wafat, ia tetap menyambut suaminya Abu Thalhah dengan senyum, melayani dengan penuh kasih, lalu menyampaikan kabar duka dengan ketabahan luar biasa. Rasulullah saw pun mendoakan mereka, dan doa itu dikabulkan dengan lahirnya anak-anak penuh berkah. 

Dari Ummu Sulaim kita belajar, kelembutan seorang istri adalah pintu datangnya rahmat Allah.

Demikian juga pada Imam Ahmad bin Hanbal. Istrinya hidup sederhana bersamanya, tanpa mengeluh, bahkan selalu bersyukur. Imam Ahmad pernah berkata: “Aku tidak pernah menemukan wanita yang lebih banyak bersyukur atas hidup sederhana selain istriku.” 

Dari mereka kita tangkap, bahwa ciuman di tangan suami bukan hanya gerakan, melainkan bahasa syukur seorang istri yang ridha pada takdir Allah.

Kini aku mengerti. Jangan pernah sepelekan ciuman di kening dan ciuman di tangan. Di sanalah rahasia cinta bersemayam. Di sanalah sakinah, mawaddah, dan rahmah tumbuh. Dan di sanalah keberkahan Allah turun, seperti hujan rahmat yang tak pernah kering. 

In syaa Alloh, kita semua selalu dan redho dan rahmat Alloh, aamiin ya rabbal alamin. 

Tidak ada komentar: