🍲 Cerpen 2 – Sepiring Sayur Bening Ibu
Malam itu, Andi baru tiba di rumah setelah dua tahun merantau. Ranselnya masih penuh debu perjalanan. Di ruang tamu, ibunya langsung menyambut dengan senyum yang tak pernah berubah sejak ia kecil.
“Capek, Nak?” tanya ibu lembut.
Andi mengangguk, lalu duduk di kursi kayu yang mulai berderit dimakan usia. Ia menatap meja makan. Di sana, sudah terhidang sepiring sayur bening dengan jagung, bayam, dan wortel. Aroma sederhana itu membuat dadanya sesak.
“Ibu masih ingat, ya?” suaranya parau.
Ibu tersenyum sambil mengaduk perlahan. “Tentu, itu kesukaanmu sejak kecil. Biar sederhana, tapi itulah yang selalu membuatmu lahap makan.”
Andi menyendok sayur itu. Hangatnya kuah merembes ke seluruh tubuh, seolah menyapu letih, sepi, dan kerasnya hidup di kota. Ingatannya melayang ke masa kecil—pulang sekolah, tubuh basah kuyup kehujanan, lalu ibu selalu menyodorkan sepiring sayur bening dengan nasi hangat.
Air mata Andi menetes. “Bu, di kota aku sering makan enak, tapi tak ada yang bisa menyaingi rasa ini. Ternyata, rasa bukan cuma dari bahan masakan, tapi dari cinta yang menyertainya.”
Ibu terdiam sebentar, lalu mengusap kepala anaknya. “Nak, ibu tak bisa memberi harta berlimpah. Tapi selama masih bisa memasak untukmu, itu sudah cukup bagi ibu.”
Andi terisak. Sepiring sayur bening sederhana itu mengajarkannya satu hal: rumah adalah tempat cinta tumbuh dari hal-hal paling sederhana.
Malam itu, ia berjanji pada dirinya sendiri—sebanyak apapun rezeki yang datang, jangan pernah melupakan cinta dan doa seorang ibu.
🌱 Pesan moral cerpen ini:
Kasih sayang seorang ibu tidak selalu ditunjukkan dengan kata-kata besar, melainkan lewat perhatian sederhana. Bahkan sepiring sayur bening bisa menjadi simbol cinta, doa, dan pengorbanan yang tak ternilai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar