AMAL YANG BETERBANGAN
(puasa tak shalat)
Cerpen: oleh Ismilianto
(Dampak orang berpuasa tetapi meninggalkan shalat di Padang Mahsyar)
Ia datang membawa banyak amal.
Puasa—ada.
Sedekah—ada.
Dzikir—ada.
Ia tersenyum.
Merasa cukup.
Namun saat timbangan ditegakkan,
sesuatu terjadi.
Amal-amalnya terangkat…
lalu terlepas.
Bukan naik,
melainkan beterbangan
seperti debu diterpa angin.
Ia panik.
Ia mencoba meraih.
Tangannya menembus kosong.
“Bukankah aku berpuasa?”
teriaknya dalam hati.
Lalu terdengar jawaban
bukan dari arah langit,
melainkan dari kebenaran itu sendiri:
“Engkau menahan lapar,
namun engkau meninggalkan shalat.”
Ia teringat.
Subuh sering ia lewatkan.
Isya kerap ia ringankan.
Shalat ia anggap bisa menyusul.
Puasa ia jaga—
karena terlihat oleh manusia.
Kini di Mahsyar,
semua yang dulu ia banggakan
tak punya akar.
Allah telah berfirman:
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
Maka datanglah generasi setelah mereka yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu, maka mereka akan menemui kesesatan.
(QS. Maryam: 59)
Dan Rasulullah ﷺ bersabda dengan tegas:
الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, sungguh ia telah jatuh dalam kekufuran.
(HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Puasa tanpa shalat
ibarat bangunan tanpa pondasi.
Terlihat berdiri di dunia,
namun runtuh
saat dihadapkan kepada Allah.
Di Mahsyar itu ia menangis—
bukan karena amalnya sedikit,
tetapi karena amalnya
tak pernah diserahkan
melalui pintu yang benar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar