HAUS TAK BISA BERBUKA
Cerpen: oleh Ismilianto
(Dampak orang yang sengaja tidak berpuasa di Padang Mahsyar)
Padang Mahsyar terbentang tanpa ujung.
Matahari diturunkan begitu dekat,
hingga keringat manusia menggenang
sesuai kadar dosanya.
Ia berdiri di sana.
Tenggorokannya terbakar.
Lidahnya kaku.
Haus—
haus yang tak pernah ia kenal di dunia.
Ia menoleh.
Ada wajah-wajah yang teduh.
Mereka dipayungi.
Air mengalir untuk mereka.
Wajah mereka bercahaya.
Ia ingin ikut mendekat.
Namun kakinya berat.
Seakan tanah menolaknya.
Lalu ia ingat.
Ramadhan dulu datang berkali-kali.
Ia sehat.
Ia mampu.
Namun ia memilih kenyang
saat orang lain menahan lapar.
“Allah Maha Pengampun,”
itu kalimat yang dulu ia jadikan alasan.
Kini kalimat itu menjauh—
karena ia menggunakannya
bukan untuk bertobat,
melainkan untuk menunda.
Ia ingin seteguk air.
Satu saja.
Namun haus di Mahsyar
bukan haus yang bisa ditebus.
Karena dulu,
ketika Allah memintanya lapar
demi keselamatan akhirat,
ia memilih kenyang
demi kesenangan sesaat.
Allah telah memperingatkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa agar kalian bertakwa.
(QS. Al-Baqarah: 183)
Dan Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ رُخْصَةٍ وَلَا مَرَضٍ لَمْ يَقْضِهِ صَوْمُ الدَّهْرِ
Barang siapa berbuka satu hari di bulan Ramadhan tanpa uzur dan tanpa sakit, maka tidak akan mampu menebusnya meski berpuasa seumur hidup.
(HR. Abu Dawud)
Di Mahsyar itu ia mengerti:
Haus di dunia adalah rahmat,
karena ada waktu berbuka.
Namun haus di akhirat
adalah penyesalan
yang tak pernah selesai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar