ANAK DESA BERMIMPI BESAR
Cerpen: oleh Ismilianto
Namanya Arga. Anak petani desa yang tanahnya subur, tetapi hasilnya tak pernah benar-benar melimpah.
Setiap hari setelah pulang sekolah, Arga membantu ayahnya di sawah.
Ia melihat tangan ayahnya yang kasar, punggung yang mulai membungkuk, dan cara bertani yang tak berubah sejak zaman kakeknya.
Suatu hari ia bertanya,
“Ayah, kenapa kita tidak pakai alat seperti di Jepang itu? Yang bisa tanam cepat dan panennya banyak?”
Ayahnya tersenyum tipis.
“Kita ingin, Nak. Tapi belum sampai ke sana.”
Jawaban itu sederhana. Tapi bagi Arga, itu seperti api kecil yang menyala di dadanya.
Di sekolah, gurunya bercerita tentang Jepang yang pernah hancur, tentang Korea Selatan yang dulu miskin, dan tentang Singapura yang nyaris tanpa sumber daya alam.
“Tapi mereka maju,” kata gurunya.
“Mereka menjadikan ilmu sebagai panglima.”
Arga pulang dengan pikiran yang penuh. Jika mereka bisa, mengapa negerinya tidak?
Bukankah lautnya luas?
Bukankah tanahnya subur?
Bukankah anak-anaknya cerdas?
Tahun-tahun berlalu. Arga tumbuh menjadi mahasiswa pertanian. Ia belajar tentang teknologi drone, sensor tanah, dan rekayasa benih. Ia membaca jurnal-jurnal internasional sampai larut malam.
Namun semakin ia belajar, semakin ia sadar:
Ilmu sering berhenti di ruang kelas.
Profesor hebat jarang didengar dalam arah kebijakan.
Petani tetap berjuang sendiri.
Ia pun berjanji pada dirinya sendiri:
Ilmu tidak boleh hanya jadi gelar.
Ia harus menjadi solusi.
Ketika Arga kembali ke desa, ia tidak membawa janji. Ia membawa data. Ia membawa rancangan irigasi sederhana. Ia mengajarkan cara membaca kelembapan tanah melalui aplikasi.
Panen pertama meningkat.
Petani tersenyum.
Ayahnya terdiam lama sebelum berkata, “Ternyata ilmu bisa mengubah sawah.”
Arga tersenyum.
“Bukan hanya sawah, Yah. Ilmu bisa mengubah bangsa.”
Di balai desa, Arga berbicara kepada pemuda-pemudi:
“Bangsa besar tidak dibangun oleh orang yang pesimis. Ia dibangun oleh orang yang bermimpi dan bekerja.
Guru harus kita muliakan. Ilmu harus kita dengarkan. Pemimpin harus berintegritas, bukan sekadar pandai bicara.”
Anak-anak desa mendengarnya dengan mata berbinar.
Di antara mereka, mungkin ada calon ilmuwan dunia.
Mungkin ada calon pemimpin jujur masa depan.
Malam itu, Arga menatap langit desa yang penuh bintang.
Ia berdoa pelan:
“Ya Allah…
Jangan biarkan negeri ini berjalan tanpa arah.
Satukan ilmu dan kebijakan.
Satukan integritas dan kekuasaan. Bangkitkan negeri kami menjadi bangsa yang bermartabat.”
Angin berhembus pelan melewati sawah yang mulai menguning.
Dan di desa kecil itu, lahir keyakinan baru:
Kemajuan bukan milik kota besar saja.
Ia bisa tumbuh dari lumpur sawah, dari tangan petani,
dari mimpi anak desa
yang berani percaya bahwa bangsanya bisa berdiri sejajar dengan dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar