Laqadja akum rasulum


web stats

Kamis, 26 Februari 2026

Bahtera yang Ditertawakan (Dari kisah istri Nabi Nuh) Cerpen: oleh Ismilianto

Bahtera yang Ditertawakan
(Dari kisah istri Nabi Nuh) 
Cerpen: oleh Ismilianto

Palu itu berbunyi sejak matahari naik hingga senja.
Di tanah kering, seorang lelaki tua membangun bahtera—sendirian.
Perempuan itu, istri Nabi Nuh, berdiri di pintu rumah.
Bukan kagum yang tumbuh, tapi malu.
Kaumnya menertawakan.
Ia ikut tersenyum.
Zaman itu adalah zaman syirik.
Manusia menyembah berhala: Wadd, Suwa‘, Yaghuts, Ya‘uq, dan Nasr.
Tauhid dianggap ancaman, kebenaran dianggap kegilaan.
Ia tahu suaminya jujur.
Ia tahu dakwah itu benar.
Namun ia memilih aman di mata manusia.
Kekafirannya bukan zina.
Bukan pembunuhan.
Tetapi penolakan iman dan ejekan terhadap kebenaran.
Saat hujan turun, ia masih berdiri bersama pencemooh.
Saat air naik, ia masih yakin:
“Aku istri nabi.”
Namun air tidak mengenal status.
Air hanya mengenal perintah Allah.
Dan ketika dadanya dipenuhi air terakhir,
ia sadar—
iman yang ditolak seumur hidup
tak bisa dikejar di detik terakhir.
Ayat Penutup:
“Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir: istri Nuh dan istri Luth…”
(QS. At-Tahrim: 10)
Hadis Penguat:
“Barang siapa mati dalam keadaan mempersekutukan Allah, maka ia masuk neraka.”
(HR. Muslim)
Renungan Malam Pertama:
Dekat dengan orang saleh tidak menjamin keselamatan
bila hati menolak iman.
🌙 MALAM RAMADHAN KEDUA
Perempuan yang Membela Kota Dosa
Kota itu hidup dari malam.
Apa yang dulu memalukan, kini dibanggakan.
Laki-laki mendatangi laki-laki.
Dosa disebut kebebasan.
Ia, istri Nabi Luth, tahu semua itu salah.
Ia mendengar peringatan.
Ia tahu azab bukan cerita kosong.
Namun kekafirannya bukan ikut berbuat,
melainkan membela dan memberi jalan.
Ia memberi isyarat.
Ia membocorkan rahasia tamu.
Ia berkata dalam hati,
“Biarlah, ini urusan mereka.”
Malam itu perintah datang:
pergi tanpa menoleh.
Ia melangkah…
tapi hatinya tertinggal di kota dosa.
Ia menoleh—
bukan karena lupa,
tetapi karena ridha terhadap keburukan.
Langit menurunkan batu panas.
Kota itu musnah.
Ia binasa bukan karena ikut melakukan,
tetapi karena membenarkan dan membela dosa.
Ayat Penutup:
“Maka Kami hujani mereka dengan batu. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa.”
(QS. Al-A‘raf: 84)
Hadis Penguat:
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah…”
(HR. Muslim)
Renungan Malam Kedua:
Diam terhadap kemungkaran,
apalagi membelanya,
adalah tanda rusaknya iman.
🌙 MALAM RAMADHAN KETIGA
Doa yang Mengalahkan Istana
Istana itu berkilau,
namun penuh kezaliman.
Suaminya adalah Fir'aun—
mengaku tuhan,
membunuh bayi,
menindas manusia.
Namun di sudut istana,
seorang perempuan menyimpan iman.
Asiyah memilih Allah.
Ia tahu risikonya:
disiksa,
bahkan dibunuh.
Fir‘aun murka.
Ia menyiksanya hingga tubuhnya hancur.
Namun di detik akhir, Asiyah berdoa:
“Ya Rabb, bangunkan untukku rumah di sisi-Mu di surga.”
Allah memperlihatkan rumah itu.
Senyum pun menutup napasnya.
Sementara Fir‘aun tenggelam di laut.
Ia beriman saat sekarat—
namun terlambat.
Tubuhnya diselamatkan sebagai pelajaran,
ruh­nya disiksa hingga hari kiamat.
Ayat Penutup:
“Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang beriman: istri Fir‘aun…”
(QS. At-Tahrim: 11)
Hadis Penguat:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)
Renungan Malam Ketiga:
Lingkungan paling rusak
tak mampu mematikan iman
yang benar-benar hidup.
🌙 PENUTUP SERI RAMADHAN
Tiga malam.
Tiga perempuan.
Tiga akhir kehidupan.
Yang satu binasa karena menolak iman.
Yang satu hancur karena membela dosa.
Yang satu mulia karena memilih Allah meski tersiksa.
Ramadhan bertanya pada kita:
di pihak siapa kita berdiri hari ini?

Tidak ada komentar: