HIDUP BERIMBANG
Sore ini, ada sebuah kisah untuk membuka hati kita.
Ada seorang petani tua. Pagi hingga siang ia bekerja di sawah, menanam, memupuk, dan membersihkan rumput.
Menjelang sore, ketika matahari mulai condong, ia berhenti. Ia membersihkan diri, menunaikan salat, lalu duduk sebentar menatap langit yang memerah.
Ketika ditanya, “Kenapa tidak dilanjutkan saja, kan cuaca masih bagus?”
Ia tersenyum dan berkata,
“Tanaman butuh pupuk agar tumbuh. Hati juga butuh disirami, agar tidak kering.”
Seharian kita mengejar dunia.
Bekerja, berikhtiar, berjuang demi nafkah dan tanggung jawab. Itu baik. Itu mulia.
Namun…
sudahkah hari ini kita menimbangnya dengan akhirat?
Apakah tangan yang sibuk mencari rezeki sempat terangkat untuk berdoa?
Apakah lisan yang lelah berbicara urusan dunia
sempat basah menyebut nama Allaah?
Apakah hati yang penuh target dan rencana sempat kita kosongkan sejenak untuk mengingat tujuan pulang?
Dunia bukan untuk ditinggalkan, tetapi akhirat jangan sampai dilupakan.
Karena hidup yang seimbang
bukan tentang banyaknya harta yang digenggam,
melainkan tentang tenangnya hati saat matahari tenggelam.
Petang ini, mari kita periksa bekal. Bukan hanya apa yang kita kumpulkan, tetapi juga apa yang kita persembahkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar