Laqadja akum rasulum


web stats

Sabtu, 07 Februari 2026

Jangan Sampai Malam Ini Berlalu Tanpa Taubat


Jangan Sampai Malam Ini Berlalu Tanpa Taubat

Malam ini aku duduk sendiri.
Lampu redup, dunia sepi.
Dan untuk pertama kalinya hari ini, aku benar-benar jujur pada diriku sendiri.

Aku teringat firman Allah:
“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)

Ayat itu terasa seperti pelukan.
Bukan teguran keras, tapi panggilan penuh kasih.
Seolah Allah berkata,
“Aku tahu dosamu, tapi Aku juga tahu air matamu.”
Dulu ada seorang lelaki di zaman Nabi SAW.

Dosanya besar, hidupnya penuh salah.
Namun suatu malam, ia duduk menangis dan berkata,
“Ya Allah, jika Engkau tidak mengampuniku, ke mana lagi aku harus pulang?”

Nabi SAW bersabda:
“Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya daripada seseorang yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir.” (HR. Muslim)

Bayangkan…
Allah bergembira.
Bukan sekadar menerima, tapi bergembira saat seorang hamba kembali. Lalu aku menunduk. Aku merasa kecil.

Karena sering kali aku tahu Allah Maha Pengampun,
tetapi aku menunda taubat
seolah umur ini milikku sendiri.

Aku teringat ayat lain:
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)

Ayat itu tidak menakutkan,
tapi jujur.
Ia tidak berkata kapan,
karena justru di situlah ujian kita.

Hasan Al-Basri pernah berkata,
“Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari.
Setiap satu hari berlalu,
maka sebagian dari dirimu ikut pergi.”

Malam ini aku bertanya pada hatiku:
berapa bagian diriku yang sudah hilang,
sementara aku belum sungguh-sungguh kembali?
Rasulullah SAW— manusia paling suci—
masih beristighfar lebih dari 70 kali sehari.

Padahal dosanya telah diampuni.
Lalu aku…
yang lalainya bertumpuk,
yang sujudnya sering terburu-buru, yang lisannya lebih sibuk dengan dunia daripada menyebut nama Allah.

Maka malam ini,
aku tak ingin tidur dengan kesombongan kecil bernama “nanti”.
Aku ingin menutup hari dengan satu pengakuan:
“Ya Allah, aku lemah.”
Jika air mata ini jatuh,
biarlah ia menjadi saksi di hadapan-Mu.
Bahwa aku pernah takut kehilangan-Mu.
Bahwa aku pernah rindu diampuni.
Bahwa aku ingin pulang, meski tertatih.

Karena aku yakin pada satu janji-Mu:
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat.”
(QS. Al-Baqarah: 222)

Malam ini,
jika aku masih Engkau beri nafas, maka terimalah taubatku.

Dan jika malam ini adalah yang terakhir,
biarlah aku pulang dalam keadaan berharap pada rahmat-Mu.

Tidak ada komentar: