Judul: “Ramadhan Sibuk Kerja, Puasa Ditinggal, Meja Makan Dimenangkan?”
Mukadimah (realistis & membumi)
Ramadhan datang setiap tahun.
Tapi pemandangannya sering sama:
Kita bilang,
“Pak, saya tidak puasa karena kerja berat.”
“Bu, saya tidak kuat puasa, harus cari uang buat Lebaran.”
Tapi anehnya…
meja sahur penuh.
menu berbuka berlapis-lapis.
uang tetap keluar untuk rasa, bukan untuk taat.
Di sini Ramadhan perlu jujur kita evaluasi.
Bagian inti pertama: Bekerja bukan alasan mutlak meninggalkan puasa
Islam tidak anti kerja.
Islam justru memuliakan orang yang mencari nafkah halal.
Namun Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Perhatikan:
➡️ Puasa diwajibkan kepada orang beriman, bukan kepada orang yang senggang.
Kerja keras bukan otomatis uzur syar‘i.
Uzur yang dibenarkan syariat: – sakit yang membahayakan
– safar
– kondisi medis nyata
Bukan sekadar: – capek
– takut lapar
– khawatir lemas padahal belum mencoba
Bagian inti kedua: Ironi “tak puasa demi Lebaran”
Ini bagian yang sering tidak disadari.
Ada yang berkata: “Saya tidak puasa karena harus kuat kerja, cari uang buat Lebaran.”
Tapi faktanya: – Lebaran cuma sehari
– Ramadhan sebulan
– Puasa kewajiban
– Lebaran perayaan
Apakah pantas kewajiban dikorbankan demi perayaan?
Lebih ironis lagi: puasa ditinggal,
tapi sahur tetap mewah,
berbuka tetap berlebihan.
Ini bukan soal makanan,
tapi soal orientasi hati.
Dalil peringatan
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan.” (HR. Sunan At-Tirmidzi)
Makna penting: Bukan cuma cara mencari uang yang ditanya,
tapi untuk apa uang itu digunakan.
Bagian inti ketiga:
Budaya berfoya-foya di bulan puasa
Ramadhan seharusnya: – bulan menahan
– bulan menyederhanakan
– bulan membersihkan jiwa
Tapi yang terjadi: – sahur seperti pesta
– berbuka seperti balas dendam
– puasa jadi alasan kuliner
Padahal Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada bejana yang lebih buruk yang diisi oleh manusia selain perutnya.” (HR. Sunan Ibnu Majah)
Ironinya: puasa ditinggal karena kerja,
tapi energi dihabiskan untuk kenyang.
Kisah Nyata
Ada buruh bangunan.
Kerjanya berat, panas, fisik.
Ia berkata: “Awalnya saya takut puasa. Tapi setelah dicoba, ternyata bisa. Capek iya, tapi hati tenang.”
Sebaliknya,
ada yang kerja di ruang ber-AC, puasa ditinggal,
tapi menu buka puasa seperti jamuan pesta.
Bukan soal kuat atau tidak,
tapi soal mau atau tidak.
Pesan korektif yang lembut (untuk jamaah)
Islam tidak memaksa di luar kemampuan,
tapi Islam juga tidak membenarkan alasan yang dimanja-manjakan.
Kalau memang: – benar-benar tidak mampu → ada qadha
– tapi kalau hanya takut lapar → itu ujian iman
Ramadhan bukan bulan pembuktian kekuatan fisik,
tapi kejujuran hati kepada Allah.
Solusi praktis (tanpa menghakimi)
Pertama, coba dulu puasa, jangan putuskan dari malam
Kedua, sederhanakan sahur dan berbuka
Ketiga, niatkan kerja sebagai ibadah
Keempat, kalau terpaksa batal, jangan bangga, tapi sesali dan qadha
Yang berbahaya bukan batal puasa,
tapi meremehkan puasa.
Kesimpulan kuat untuk ceramah
• Kerja bukan alasan mutlak meninggalkan puasa
• Lebaran tidak boleh mengalahkan Ramadhan
• Berfoya-foya merusak ruh puasa
• Ramadhan mengajarkan cukup, bukan menumpuk
Allah tidak menilai seberapa mewah meja kita,
tapi seberapa tunduk hati kita.
Doa penutup
Allahumma la taj‘al Ramadhanana Ramadhanal akli wasy syurbi.
Ya Allah, jangan jadikan Ramadhan kami hanya bulan makan dan minum.
Allahumma qawwi imanina wa shiyamana.
Ya Allah, kuatkan iman dan puasa kami.
Allahumma barik lana fi a‘malina wa arzaqina bila ma‘siyah.
Ya Allah, berkahi pekerjaan dan rezeki kami tanpa harus bermaksiat kepada-Mu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar