Laqadja akum rasulum


web stats

Rabu, 18 Februari 2026

Petang Terakhir Sebelum Puasa

Petang Terakhir Sebelum Puasa

Petang ini langit merendah,
seolah mengajak kita ikut menunduk. Karena kita sadar bahwa banyak langkah kita yang terlalu jauh,
banyak rasa yang kita titipkan pada manusia, dan bukan kepada Allah.

Ada kisah seorang hamba
yang sepanjang tahun sibuk memperbaiki hidupnya,
tapi lupa memperbaiki hatinya.

Ketika Ramadhan datang,
ia hanya berkata lirih,
“Ya Allah, izinkan aku dalam ampunan dan rahmat Ramadhan meski dengan amal yang compang-camping.”

Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Puasa bukan sekadar menahan lapar, tapi menahan diri untuk tidak kembali
menjadi diri yang lama.

Rasulullah SAW mengingatkan:
“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim)

Perhatikan…
bukan puasa karena tradisi,
bukan karena ikut-ikutan,
tapi karena iman dan pengharapan.

Ada pula kisah seseorang yang menangis di malam pertama Ramadhan.
Bukan karena takut lapar,
tapi karena takut:
“Bagaimana jika ini Ramadhan terakhirku,
sementara dosaku masih lebih banyak daripada taubatku?”
Tangisan seperti itu tidak sia-sia.

Karena Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap anak Adam banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.” (HR. Sunan At-Tirmidzi)

Maka petang ini,
sebelum fajar memanggil kita untuk berpuasa, ada baiknya kita pulang kepada Allaah dengan taubat.

Ya Allah, sungguh aku telah banyak menzalimi diriku sendiri.
Dan tidak ada yang mengampuni dosa selain Engkau.
Maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu,
Dan rahmatilah aku, sungguh Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Semoga Ramadhan ini benar-benar mengubah arah hidup kita lebih takwa.

Tidak ada komentar: