Laqadja akum rasulum


web stats

Sabtu, 07 Februari 2026

Kisah Hidup Seperti Jalan Raya Terasa Menggetarkan

Kisah Hidup Seperti Jalan Raya Terasa Menggetarkan

Pertama,  Seorang sopir truk lintas provinsi di Jawa pernah ditanya temannya,
“Ngapain berhenti? Tidak ada polisi, tidak ada kendaraan.”
Ia menjawab pelan,
“Aku berhenti bukan karena polisi, tapi karena aturan. Kalau aku biasakan melanggar saat sepi, aku akan melanggar saat ramai.”

Beberapa bulan kemudian, di persimpangan besar yang ramai, justru ia selamat dari kecelakaan beruntun karena kebiasaannya patuh rambu.

Sopir lain yang terbiasa ‘nerobos’ justru celaka.
Inilah potret orang yang taat kepada Allah bukan karena diawasi manusia, tapi karena sadar selalu diawasi Allah.

“Bukankah Dia mengetahui apa yang tersembunyi?”
(QS. Al-Mulk: 14)

Kedua, kisah pemuda yang ngebut mengejar waktu.
Seorang pemuda di kota besar selalu memacu motor karena takut terlambat kerja. Suatu pagi ia berkata,
“Yang penting cepat sampai.”
Hari itu ia sampai… tapi ke rumah sakit. Kakinya patah, pekerjaannya hilang.
Di ranjang rumah sakit ia menangis,
“Andai aku pelan sedikit.”

Banyak orang hidup seperti ini— mengejar dunia, jabatan, harta— tanpa mengerem nafsu. 

Padahal Rasulullah SAW mengingatkan,
“Bukanlah kekayaan itu karena banyak harta, tetapi kekayaan adalah kaya jiwa.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga, kisah sopir bus malam dan lampu kecil.
Seorang sopir bus antarkota bercerita:
“Lampu utama bus pernah mati di jalan gunung yang gelap. Yang menyelamatkan kami hanya lampu kecil darurat.”

Ia lalu berkata,
“Iman itu seperti lampu. Walau kecil, kalau tetap menyala, kita masih tahu arah.”

Begitulah orang beriman. Mungkin ilmunya sedikit, amalnya belum banyak, tapi iman yang dijaga mampu menuntun di jalan gelap kehidupan.

“Allah adalah Pelindung orang-orang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya.”
(QS. Al-Baqarah: 257)

Keempat, kisah orang yang menepi untuk memperbaiki rem.
Ada pengendara yang rela berhenti lama di bahu jalan demi memperbaiki rem, sementara yang lain terus melaju dan menertawakannya.
Tak lama, di turunan tajam, kendaraan tanpa rem itu celaka.
Orang yang berhenti itu seperti orang yang bertobat. Ia menunda kesenangan demi keselamatan.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Dan yang paling sunyi…
kisah jenazah di pinggir jalan.
Seorang ustaz pernah berkata,
“Berapa banyak jenazah yang diantar lewat jalan raya hari ini, sementara mereka kemarin masih menjadi pengendara.”

Tak ada yang tahu di kilometer ke berapa hidup kita berhenti.
Maka jika hari ini Allah membuat kita melambat, diberi rambu, bahkan ditegur dengan ujian—itu bukan untuk menghalangi perjalanan, tapi agar kita tidak celaka di akhir jalan.

Hidup ini memang jalan raya.
Dan orang bijak bukan yang paling cepat, tapi yang paling siap saat sampai tujuan.

Tidak ada komentar: