Laqadja akum rasulum


web stats

Sabtu, 28 Februari 2026

LIMA KALI PANGGILAN Cerpen: oleh Ismilianto

“LIMA KALI PANGGILAN”
Cerpen: oleh Ismilianto

“Bangun.”
Suara itu tidak keras.
Justru tenang.
Dan itulah yang membuatnya ngeri.
“Aku… aku belum tidur, kan?” gumam lelaki itu. Tangannya meraba. Tanah. Dingin. Basah. Sempit.
“Engkau sudah selesai dengan dunia.”
“Tidak… tidak mungkin! Aku masih punya rencana! Aku masih—”
“—masih meninggalkan salat.”
Sunyi.
Hanya napasnya yang memburu.
“Siapa kamu?” suaranya bergetar.
Tanah di depannya bergerak. Retak. Dari celah itu, muncul kepala licin tanpa rambut. Mata besar. Kosong. Taringnya berkilat.
Ia menjerit.
“JANGAN DEKAT-DEKAT!”
“Aku tidak datang,” desis makhluk itu, “aku dipanggil.”
“Dipanggil siapa?!”
“Olehmu.”
“BOHONG!” Ia meronta. “Aku orang baik! Aku puasa! Aku sedekah!”
Ular itu mendekat setapak. Kubur menyempit.
“Baik menurut siapa?”
“Aku tidak jahat!”
“Benar. Tapi kau sombong.”
“Kau pikir kebaikanmu cukup menggantikan sujud.”
Ia terdiam. Tenggorokannya kering.
“Aku hanya… kadang lalai,” katanya lirih. “Allah Maha Pengampun…”
Ular itu mengangkat kepalanya.
“Kau mengucapkan itu setiap azan.”
“Subuh?”
“Kau memilih selimut.”
“Zuhur?”
“Kau bilang nanti.”
“Asar?”
“Kau tunda.”
“Magrib?”
“Kau sibuk.”
“Isya?”
“Kau tertidur.”
Setiap kata membuat tanah makin menekan dadanya.
“Aku… aku mau salat sekarang!” teriaknya. “Aku janji!”
Ular itu berhenti tepat di depan wajahnya.
“Sekarang?”
“Sekarang kau hanya bisa menerima.”
BUKK!!
Ekor menghantam. Tulangnya remuk. Jeritannya pecah—lalu tubuhnya kembali utuh.
“AAAAAA—!”
“Kau tahu yang paling menyakitkan?” kata ular itu dingin.
“Bukan pukulanku.”
“Lalu… apa…?”
“Kesadaran bahwa setiap azan dulu adalah kesempatan.”
“Dan kau melewatinya… satu per satu.”
Ia menangis.
“Berapa lama ini…?”
Ular itu melingkar, menutup jalan, menutup cahaya.
“Sampai panggilan terakhir dibunyikan.”
“Dan itu… masih lama.”
Hantaman kembali turun.
Dan lagi.
Dan lagi.
Tidak ada kematian.
Tidak ada tidur.
Hanya pengulangan.
Di dunia, azan terdengar lima kali.
Di kubur, ia menjelma satu suara…
yang tak pernah berhenti.
Karena salat yang ditinggalkan
tak hilang—
ia menunggu.

Tidak ada komentar: