SUARA DARI DALAM KUBUR
Cerpen: oleh Ismilianto
“Bangun.”
Suara itu berat. Dalam. Bergema dari segala arah.
“A-aku di mana…?” lelaki itu terengah, mencoba menggerakkan tubuhnya. Gelap. Sempit. Dadanya sesak.
“Di tempat kebenaran,” jawab suara itu dingin.
“Siapa… siapa kamu?!”
Dua cahaya menyala di hadapannya. Mata. Besar. Menyala kehijauan. Dari balik tanah yang bergerak, muncul sosok yang membuat napasnya berhenti.
Seekor ular. Besar. Kepalanya botak licin. Taringnya panjang, meneteskan cairan hitam.
“J-jangan dekat-dekat!” teriaknya panik. “Aku orang baik! Aku tak pernah mencuri! Aku bantu tetangga!”
Ular itu mendesis pelan, lalu tertawa.
“Orang baik…? Lalu di mana salatmu?”
Ia terdiam.
“Aku… aku sibuk. Aku capek. Allah Maha Pengampun, kan?”
BUM!
Ekor ular itu menghantam dadanya. Tubuhnya remuk. Hancur. Seketika tersusun kembali.
Ia menjerit.
“AAARGH!! Cukup! Tolong! Aku janji mau salat! Aku mau berubah!”
Ular itu mendekat, wajahnya hanya sejengkal dari wajah lelaki itu.
“Terlambat.”
“Siapa… siapa kamu sebenarnya…?” isaknya.
Ular itu menjawab pelan, menusuk lebih tajam dari taringnya.
“Aku adalah salat Subuh yang kau tinggalkan karena tidur.”
“Aku adalah Zuhur yang kau anggap mengganggu pekerjaan.”
“Aku adalah Asar yang kau tunda sampai matahari jatuh.”
“Aku adalah Magrib yang kau tukar dengan obrolan.”
“Dan aku adalah Isya yang kau lupakan… setiap malam.”
“Tidak… tidak…!” Ia menangis, tubuhnya gemetar. “Bukankah aku masih puasa…?”
Ular itu tertawa keras, tanah kubur bergetar.
“Puasa tanpa salat hanyalah lapar tanpa taat.”
Lelaki itu menutup wajahnya.
“Aku mohon… beri aku satu kesempatan saja…”
Ular itu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi.
“Kesempatanmu bernama hidup.
Dan kau telah menghabiskannya.”
DUARR!!
Pukulan kembali menghantam. Jeritan memecah kesunyian kubur—namun tak ada satu pun makhluk yang mendengar. Tidak istri. Tidak anak. Tidak sahabat.
Hanya tanah.
Dan azab yang tak berhenti.
Kubur tak pernah berbohong.
Ia hanya mengulang apa yang dulu kita abaikan.
Karena di dunia kita bisa berdalih,
namun di kubur…
amal berbicara, dan mulut dikunci.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar