Laqadja akum rasulum


web stats

Kamis, 19 Februari 2026

Maksiat Menghilangkan Berkah Ibadah

Maksiat Menghilangkan Berkah Ibadah

Banyak orang masih beribadah, shalat tetap ada,
puasa tetap jalan,
namun hidup terasa berat,
hati cepat lelah,
dan kebaikan sulit bertahan.

Di sinilah kita perlu jujur bertanya:
apakah ibadah kita masih diberkahi?
Karena tidak semua ibadah otomatis membawa berkah,
dan tidak semua maksiat langsung terasa akibatnya.

Apa itu maksiat (secara sederhana)?
Maksiat adalah melanggar batas Allah,
baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
Bukan hanya zina dan mencuri,
tetapi juga:
melukai dengan lisan,
menyimpan dengki,
meremehkan kebenaran,
menunda kebaikan tanpa alasan.
Maksiat sering dianggap kecil,
padahal dampaknya pelan tapi dalam.
Allah ﷻ mengingatkan dalam
Al-Qur'an:
وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍۢ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
“Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah akibat dari perbuatan tangan kalian sendiri.”
(QS. Asy-Syura: 30)
Tidak semua musibah berbentuk bencana.
Ada musibah yang bernama:
hilangnya ketenangan,
putusnya istiqamah,
keringnya rasa dalam ibadah.
Itu sering kali jejak maksiat yang dibiarkan.
Bagaimana Maksiat Menggerogoti Berkah Ibadah
Pertama, maksiat mematikan rasa.
Bukan mematikan ibadahnya,
tetapi mematikan kenikmatannya.
Shalat masih dikerjakan,
namun hati tak lagi hadir.
Doa tetap dibaca,
namun terasa hampa.
Para ulama berkata:
“Dosa itu membuat ibadah terasa berat,
dan maksiat membuat ketaatan kehilangan cahaya.”
Kedua, maksiat merusak konsistensi.
Ibadah besar jarang runtuh tiba-tiba.
Ia runtuh perlahan.
Awalnya menunda,
lalu mengurangi,
lalu merasa biasa,
hingga akhirnya jauh.
Inilah mengapa maksiat sering tampak “kecil”,
karena efeknya bertahap.
Ketiga, maksiat mencabut keberkahan waktu.
Waktu terasa sempit,
niat baik sering tertunda,
energi cepat habis.
Padahal jamnya sama,
harinya sama.
Yang berbeda adalah berkahnya.
Apa Itu Berkah Ibadah?
Berkah ibadah bukan soal lamanya shalat,
banyaknya rakaat,
atau panjangnya doa.
Berkah ibadah adalah ketika ibadah:
menjaga dari maksiat,
melembutkan akhlak,
dan membuat kebaikan bertahan.
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)
Jika shalat tidak lagi mencegah,
bukan berarti shalatnya sia-sia,
tetapi berkahnya sedang menipis.
Mengapa Ibadah Ada tapi Maksiat Tetap Jalan?
Karena ibadahnya belum menyentuh pusat kendali:
hati.
Ibadah yang hanya sampai gerakan
tidak cukup kuat menahan dorongan.
Ibadah yang disertai taubat
akan membangun pagar.
Maka Nabi ﷺ mengingatkan:
“Banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.”
(HR. Ahmad)
Yang hilang bukan puasanya,
tetapi berkah puasanya.
Bagaimana Mengembalikan Berkah Ibadah
Pertama, taubat yang jujur dan spesifik.
Bukan taubat umum,
tetapi menyebut dosa yang disadari,
meski hanya di dalam hati.
Kedua, tinggalkan satu maksiat kecil yang paling sering.
Tidak harus semua sekaligus.
Satu maksiat yang ditinggalkan
sering membuka pintu berkah yang besar.
Ketiga, jaga ibadah kecil tapi konsisten.
Dua rakaat yang dijaga
lebih kuat melawan maksiat
daripada banyak amal yang putus-putus.
Keempat, minta berkah, bukan sekadar kuat.
Karena istiqamah bukan hasil otot iman,
tetapi pertolongan Allah.
Penutup Renungan
Maksiat tidak selalu membuat kita berhenti ibadah.
Sering kali ia hanya membuat ibadah
kehilangan daya hidupnya.
Dan ibadah yang diberkahi
tidak selalu membuat hidup mudah,
tetapi selalu membuat hidup terarah.
Ya Allah,
jangan Engkau cabut berkah dari ibadah kami
hanya karena dosa yang kami remehkan.
Tunjukkan kepada kami maksiat
yang diam-diam melemahkan kami,
dan kuatkan kami untuk meninggalkannya.
Karena ibadah tanpa berkah
adalah lelah,
dan maksiat tanpa taubat
adalah gelap.
Semoga Allah menjaga kita
dengan ibadah yang hidup
dan maksiat yang ditinggalkan. 

Tidak ada komentar: