Laqadja akum rasulum


web stats

Kamis, 19 Februari 2026

Saat Semangat Ibadah Menurun: Antara berkah, Ridha, dan Rahmat Allah

Saat Semangat Ibadah Menurun: Antara berkah, Ridha, dan Rahmat Allah

Tidak semua penurunan ibadah adalah tanda keburukan.
Kadang ia adalah cermin,
kadang peringatan halus,
dan sering kali justru pintu rahmat.
Pertama, dari sisi keberkahan.
Keberkahan bukan selalu tentang banyaknya amal,
tetapi seberapa lama kebaikan itu hidup.
Di bulan Ramadhan, amal kita banyak,
namun sering bergantung pada suasana.
Ketika Ramadhan pergi,
Allah seakan bertanya dengan lembut:
“Apakah ibadahmu bertahan
karena Aku…
atau karena Ramadhan?”
Maka ketika semangat menurun,
sebenarnya Allah sedang mengangkat penyangga eksternal,
agar kita belajar beribadah dengan daya tahan internal.
Amal yang sedikit tapi bertahan,
lebih berkah daripada amal besar yang cepat gugur.
Kedua, dari sisi ridha Allah.
Allah tidak mencari ibadah yang megah,
tetapi hati yang jujur.
Banyak orang rajin di Ramadhan,
lalu malu ketika menurun.
Padahal rasa sedih karena menurun itulah
sering kali tanda hati masih hidup.
Orang yang Allah ridai
bukan yang tidak pernah turun,
tetapi yang gelisah ketika jauh.
Allah ﷻ berfirman dalam
Al-Qur'an:
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang menyucikan diri.”
(QS. Al-Baqarah: 222)
Artinya,
turun lalu kembali
lebih dekat pada ridha Allah
daripada tinggi tapi sombong.
Ketiga, dari sisi rahmat Allah.
Rahmat Allah tidak diukur
dari konsistensi kita,
tetapi dari kesempatan untuk kembali.
Jika setelah Ramadhan
Allah masih memberi rasa rindu ke masjid,
meski langkah terasa berat,
itu bukan hukuman—
itu rahmat yang sedang memanggil.
Orang yang benar-benar ditinggalkan
adalah yang tidak merasa kehilangan
ketika jauh dari ibadah.
Penurunan semangat kadang
Allah izinkan
agar kita sadar:
selama ini kita bertahan bukan karena kuat,
tapi karena ditopang rahmat-Nya.
Maka ketika penopang itu dilepas,
kita belajar satu pelajaran mahal:
Tanpa Allah, kita bukan siapa-siapa.
Dan di situlah doa menjadi jujur:
“Ya Allah, aku lemah tanpa-Mu.”
Keempat, Allah sedang menguji kejujuran cinta.
Ramadhan adalah bulan hadiah.
Syawal dan seterusnya adalah bulan pembuktian.
Bukan seberapa banyak kita lakukan,
tetapi apakah kita tetap datang meski sendirian.
Satu rakaat yang dipertahankan
dengan berat hati
lebih dicintai
daripada dua puluh rakaat yang ditinggalkan selamanya.
Maka nasihat penutupnya, Pak Milit:
Jika engkau melihat semangat menurun,
jangan buru-buru menghakimi.
Tanya dengan lembut:
“Apa yang Allah ingin ajarkan padaku?”
Mungkin Allah sedang mengajari
tentang keberkahan yang bertahan, ridha yang jujur,
dan rahmat yang selalu membuka pintu pulang.
Karena Allah tidak pernah lelah menerima, kitalah yang sering lelah berjalan.
Dan selama hati masih ingin kembali, itu tanda rahmat Allah belum pergi. 

Tidak ada komentar: